Ringkasan Khotbah

02 Apr 2017 Mazmur 43

Download Ringkasan
Iudica Pdt. Billy Kristanto

Kalimat pertama Mazmur ini dalam terjemahan bahasa Indonesia dikatakan: “Berilah keadilan kepadaku”, dalam bahasa Latinnya memakai kata “iudica” (terjemahan yang lebih langsung dalam hal ini) yang maksudnya: “Hakimilah aku ya, Allah”, kalimatnya jauh lebih kuat, “judge me”. Orang yang mengatakan kalimat seperti ini, ada 2 kemungkinan.  Kemungkinan pertama adalah orang yang tidak tahu diri, sudah salah tapi beraninya menantang hakim, orang yang tidak mengenal diri, menghakimi terhadap orang lain tapi tidak sadar bahwa dirinya banyak kelemahan, self righteous (merasa benar sendiri);  dia belum tahu kalau Tuhan menghakimi pasti dirinya akan hancur. Kemungkinan kedua adalah orang yang saleh, hidup benar di hadapan Allah; ini orang yang sudah introspeksi, sudah merenungkan keadaan dirinya dalam relasi dengan Tuhannya dan dia berani mengatakan kalimat ini.

Saya ingin sedikit komentar bagian ini, khususnya dari perspektif teologi reformatoris. Tentu Saudara sering mendengar, dalam perspektif ini orang mengatakan, siapa sih di dunia ini yang saleh, yang saleh cuma satu yaitu Yesus Kristus, semua orang berdosa, Yesaya katakan ‘kesalehan kita seperti kain kotor di hadapan Tuhan’. Hal ini tentu saja kita terima; ini poin klasik dalam teologi reformatoris, tapi kita akan kehilangan kelimpahan di dalam banyak ayat dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru kalau kita terus-menerus melihat dengan kacamata seperti ini, dan akhirnya bisa menjadi semacam excuse (dalih). Dalam Perjanjian Lama, ada kaitan antara orang yang hidup benar/saleh dengan doa yang dijawab Tuhan. Tidak bisa kita membacanya dengan perspektif begini: ‘kan Luther bilang tidak ada orang saleh, semua berdosa, kalau begitu semua orang tidak bisa didengar doanya. Kalau kita membaca seperti itu, kita bisa kehilangan banyak hal, jika tidak hati-hati. Jangankan Perjanjian Lama, Perjanjian Baru pun, misalnya Surat Yakobus, mengatakan: “Doa orang benar, besar kuasanya”. Kita tidak bisa lalu mengomentari ayat ini dengan ‘siapa di dunia ini yang benar?!’, karena kalau begitu nanti ayat ini jadinya cuma untuk Yesus Kristus karena yang benar cuma Yesus Kristus, maka kalau begitu Yakobus menulis surat ini kepada Yesus Kristus; tentu tidak masuk akal. “Doa orang benar besar kuasanya”, ayat ini harus kita gali tanpa harus bentur dengan teologi reformatoris. Memang betul bahwa semua orang berdosa, tapi bukan berarti hidup jadi random (acak) seolah mau benar/saleh atau apapun pokoknya semua doa tidak didengar Tuhan; atau sebaliknya, mau hidup tidak saleh pun pokoknya berdoa di dalam nama Yesus Kristus otomatis pasti akan di dengar. Tentu tidak begitu. Itu konsep yang akan bentur dengan banyak sekali ayat Firman Tuhan. Memang kita didengar doanya, adalah karena jasa Kristus, bukan karena kesalehan kita; kita musti jelas hal ini supaya jangan sombong. Doa kita didengar Bapa bukan karena kesalehan kita sendiri melainkan kesempurnaan kesalehan Kristus. Di sisi lain, kita juga musti menekankan bahwa Tuhan bukan mendengar secara indifferent atau ‘semau gue’ sehingga siapapun bisa didengar Tuhan bisa dan bisa tidak didengar Tuhan. Kalau seperti itu, kita tidak ada pijakan apa-apa di dalam kehidupan mengikut Tuhan.

Intinya, kalau Saudara membaca di dalam kitab Mazmur, di situ jelas sekali bahwa Tuhan memihak kepada orang yang benar dan membenci orang fasik. Saudara jangan lalu katakan ‘di dunia tidak ada yang benar, semua fasik’; jangan ditafsir ke situ. Dalam kaitan ini, waktu pemazmur dalam ayat 1 mengatakan “berilah keadilan kepadaku ya, Allah” atau “hakimilah aku” atau “ujilah aku”, tentu seharusnya dia adalah orang yang sudah menguji dirinya sendiri sejauh pengetahuan yang ada dalam hati nuraninya. Tapi kita juga tahu waktu kita menguji diri, betapa pun dalamnya kita menguji, akan masih ada yang luput, ada blind spot dalam kehidupan kita yang kita tidak bisa lihat kelemahan/kekurangan diri sendiri. Oleh karena itulah, pemazmur dengan rendah hati minta kepada Tuhan “ujilah aku”; saya sudah menguji diri saya sendiri, dan kalau ternyata masih kurang juga, tolong Tuhan, ujilah aku.

Kalimat “Berilah keadilan kepadaku, ya Allah” ini, atau dalam terjemahan lain “Vindicate me, O God” --belalah perkaraku, Tuhan-- cuma bisa dikatakan oleh orang yang hidup benar; dan kita baca di sini, kalimat selanjutnya memang mendukung, “...perjuangkan perkaraku terhadap kaum yang tidak saleh”. Di sini tidak ada urusannya dengan self righteousness; bukan berarti mengatakan, ‘saya sudah hidup saleh lho, Tuhan tapi dia tidak saleh; jadi belalah aku yang hidup lebih saleh daripada dia’. Bagian ini bukan bicara soal komparasi. Dia bukan sedang membandingkan bahwa kaum ini tidak saleh dibandingkan dengan saya yang jauh lebih saleh (karena kalau seperti itu artinya self righteousness), melainkan urusan vertikal di hadapan Tuhan. Dia mengamati orang lain itu tidak saleh karena tidak takut akan Tuhan; urusan vertikal. Pembedaan seperti ini termasuk bagian dari kedewasaan rohani. Kita seringkali hanya berpikir hitam-putih, kita takut melakukan komparasi supaya tidak jadi self righteous tapi akhirnya tidak bisa membedakan orang yang takut akan Tuhan, cinta Tuhan, mencintai pekerjaan Tuhan, dengan orang yang tidak cinta kepada Tuhan, dsb., lalu menurut kita semuanya sama, semua orang berdosa di hadapan Tuhan. Kenyataannya Tuhan sudah pasti tidak melihatnya seperti itu.

Waktu pemazmur katakan “perjuangkan perkaraku terhadap kaum yang tidak saleh”, kita mengharapkan kalimat berikutnya ‘supaya saya dibebaskan dari perseteruan dengan musuh ini, supaya saya menang’, sebagaimana selanjutnya dikatakan “Luputkanlah aku dari orang penipu dan orang curang”; dan ini jadi berarti mereka itu penipu, saya korban yang ditipu. Tapi waktu kita baca bagian-bagian berikutnya, ternyata pergumulan sebenarnya lebih dalam daripada itu. Ada pergumulan dalam kehidupan pemazmur waktu ia mendapati dirinya seperti dalam keadaan yang berkabung di bawah impitan musuh, dia merasa seperti dibuang Tuhan. Urusan vertikal lagi. Pengertian pemazmur, ‘orang yang hidup saleh maka Tuhan memberkati, orang yang hidup fasik tidak takut akan Tuhan mengalami murka Tuhan, malapetaka, dsb. (deuteronomistic deed-consequence connection atau hukum tabur tuai), tapi mengapa di sini saya yang mengalami malapetaka?  mengapa saya hidup berkabung di bawah impitan musuh? bukankah mereka yang hidup fasik yang harusnya diimpit?’  Namun,  dia merefleksikan kesulitan ini di hadapan Tuhan (ayat 2), bukan di hadapan musuhnya. Memang betul ada kalimat “mengapa aku harus hidup berkabung di bawah impitan musuh?”, tapi perhatikan kalimat sebelumnya: “mengapa Engkau membuang aku?”; urusan vertikal. Yang ada di dalam visi pemazmur adalah Tuhan, bukan musuh itu.

Kita tidak bertumbuh di dalam kehidupan kita, kalau waktu dalam pergumulan --mengalami sakit penyakit, atau bangkrut, atau disakiti-- kita lalu berespon terhadap keadaan itu sendiri bukan berespon di hadapan Tuhan. Kita jadi tidak bertumbuh ke mana-mana, hanya putar-putar di situ terus. Hitler adalah orang yang berespon terhadap penderitaan yang pernah dialaminya di masa kecil, tapi bukan berespon di hadapan Tuhan melainkan terhadap kesulitan-kesulitannya, maka akhirnya dia jadi orang seperti itu. Siapa dari kita yang tidak mengalami kesulitan, tidak punya pergumulan, tidak pernah sakit, tidak pernah ditipu, dsb. dsb.? Semua mengalami itu. Tapi yang membedakan orang yang bertumbuh dewasa di hadapan Tuhan adalah waktu dia merelasikan itu di hadapan Tuhan, “Mengapa Engkau membuang aku? Engkaulah Allah tempat pengungsianku. “ Dia berlari kepada Allah, Allah adalah tempat pengungsiannya. Ini bukan soal dia menang atau kalah terhadap orang-orang yang tidak saleh dan para musuh, tapi ini persoalan vertikal antara pemazmur dengan Allah. Kalau Saudara terus-menerus responsif terhadap kesulitan-kesulitan akibat manusia atau keadaan, itu tidak akan selesai-selesai, tidak ada pertumbuhan. Mungkin bisa saja kita nantinya mengatasi kesulitan itu, tapi paling banter kita jadi orang yang lebih sombong, ‘saya berhasil mengalahkan penderitaan ini!’ tapi tetap tidak ada Tuhan di sana, kita tidak bertumbuh. Kebergantungan kepada Tuhan tidak bertumbuh, kerendahan hati juga tidak bertumbuh, doa kita juga tidak bertumbuh; yang bertumbuh mungkin hanya kematangan menghadapi kesulitan.

Saya kutip kalimat Abraham Lincoln: “Nearly all men can stand adversity, but if you want to test a man's character, give him power.”  Hampir semua orang bisa menghadapi kesulitan, itu gampang sekali menurut Lincoln (bagian pertama dari kalimat tersebut). Menghadapi kesulitan itu basic untuk humanity; kalau kita dalam kehidupan tidak bisa menghadapi kesulitan, artinya kita orang yang lemah sekali menurut standar Lincoln. Saya pikir ada kebenarannya di dalam bagian ini, memang semua orang mau tidak mau harus berurusan dengan kesulitan dalam kehidupannya; tapi siapa yang dalam keadaan seperti ini berespon kepada Tuhan, itulah yang membedakan. “Sebab Engkaulah Allah tempat pengungsianku.”

Lalu apa pengharapannya? Yaitu ayat 3: “Suruhlah terang-Mu dan kesetiaan-Mu datang, supaya aku dituntun dan dibawa ke gunung-Mu yang kudus dan ke tempat kediaman-Mu!” Luar biasa, ini ayat yang sangat mengagumkan; minta dibebaskan dari impitan musuh bukan menjadi doa dia yang terutama. Siapa yang tidak terganggu dengan impitan musuh? dengan penganiayaan? dengan kebangkrutan, sakit penyakit, dsb? Tapi perhatikan ayat ini, di dalam keadaan diimpit oleh musuh, yang menjadi concern pemazmur bukan kesejahteraan/well-being dirinya, bukan kualitas hidupnya; yang terganggu adalah ibadahnya kepada TUHAN, yang diharapkan adalah “supaya aku dituntun dan dibawa ke gunung-Mu yang kudus, ke tempat kediaman-Mu”. Inilah concern-nya pemazmur. Kalau pun dia bebas dari impitan musuh, itu adalah “supaya aku bisa meribadah kepada-Mu, Tuhan, supaya aku bisa menyembah Engkau, supaya aku boleh dibawa ke gunung-Mu yang kudus, ke tempat kediaman-Mu”. Ini bukan urusan musuh tapi urusan ibadah kepada Tuhan.

Perkataan “suruhlah terang-Mu dan kesetiaan-Mu” dalam bahasa Inggris: “send out Thy light and Thy truth”. Bahasa Indonesia pakai istilah ‘kesetiaan’, bahasa Inggris pakai istilah ‘truth’. Ini menarik. Ada spectrum of meaning di dalam bahasa aslinya yang bisa diterjemahkan ‘kesetiaan’ dan bisa diterjemahkan ‘kebenaran’. Dua hal ini tidak bisa dipisahkan. Kalau kita mendengar istilah ‘truth/kebenaran’, bagaimanapun juga sedikit berkesan dingin. Tapi ‘truth’ di dalam bahasa asli tidak bisa dipisahkan dari kesetiaannya Tuhan; sebaliknya, kesetiaan Tuhan tidak mungkin berpisah dengan kebenaran-Nya. Kita maunya kesetiaan, kesetiaan, dan kesetiaan, Tuhan setia terhadap kita, tapi Dia tidak usah bicara kebenaran; itu tidak ada di dalam Alkitab. Sebaliknya, konsep kebenaran yang tidak dikaitkan dengan kesetiaan Tuhan, juga kebenaran yang abstrak. Waktu Tuhan memberikan kepada kita kebenaran, itu juga sekaligus menyatakan kesetiaan-Nya kepada kita.

Ada teolog menggambarkan seperti ini: “Tuhan itu bukan seperti kamera CCTV yang mengamati kita dengan dingin’. Ilustrasi yang menarik. Seandainya Saudara masuk supermarket malam-malam mau mencuri, lalu ada kamera CCTV, maka Saudara akan tertangkap basah apa adanya, tidak ada belas kasihan sama sekali dari kamera CCTV tersebut. Apa yang Saudara kerjakan, ya, sudah, as it is yang terekam; Saudara mencuri, ya, sudah, kamera CCTV itu akan memperlihatkan diri kita setelanjang-telanjangnya. Itulah the truth of CCTV camera. Tuhan bukan kamera CCTV seperti itu yang mengatakan ‘nah, lu kayak gitu ya, Saya ‘gak tambahin apa-apa, Saya ‘gak tafsir apa-apa, memang kenyataannya kayak begitu, nyolong’. Tuhan bukan kamera CCTV yang waktu bicara kebenaran kemudian menelanjangi kita apa adanya ‘lihat kan, keadaan lu bobrok kayak gitu’. Waktu Tuhan memberikan kepada kita kebenaran-Nya, juga di situ termasuk (include) kesetiaan-Nya. Kebenaran dan kesetiaan. Terang yang juga mengundang kita meninggalkan kegelapan untuk hidup di dalam terang, bukanlah terang yang sekedar menyelidiki kebobrokan manusia, memperlihatkan apa adanya,  dan mempermalukan; itu bukan Tuhan yang kita kenal di dalam Alkitab. Di dalam terang-Nya juga ada kesetiaan, di dalam kesetiaan juga ada kebenaran.

Concern dari pemazmur adalah “suruhlah terang-Mu dan kesetiaan-Mu datang, supaya aku dituntun”, dan tadi dia bicara “berilah keadilan, perjuangkanlah perkaraku dari kaum yang tidak saleh”. Dalam hal ini, bisa saja dia maksudkan: suruhlah terang-Mu dan kebenaran-Mu datang, supaya aku mengalami keadilan Allah, dibinasakan dan dilenyapkan orang fasik untuk selama-lamanya; dan kenyataannya memang ada juga mazmur-mazmur yang bicara tentang permintaan pembalasan Tuhan atas orang-orang fasik. Tapi dalam Mazmur 43 ini, kata yang sangat kuat adalah “judica --hakimilah-- aku”, bukan ‘hakimilah dia’, lalu “berilah keadilan kepadaku --vindicate-- supaya aku bisa beribadah kepada-Mu”. Maka waktu pemazmur bicara “suruhlah terang-Mu dan kesetiaan-Mu datang”, artinya dia masih memberikan ruang ‘kalau toh seandainya masih ada yang salah juga, koreksilah aku’, meski dia sudah menguji diri sehingga berani mengatakan “berilah keadilan kepadaku”. Ini kematangan spiritual, yaitu waktu kita cukup rendah hati, tidak menjadi over sensitive, untuk terus dikoreksi oleh kebenaran Firman Tuhan, dibersihkan oleh kuasa Firman Tuhan.

Manusia harusnya tidak ada kesulitan waktu dia dikoreksi, tapi mengapa manusia cenderung jadi sensitif waktu dikoreksi, ditegur? Anak kecil pun begitu, ditegur jadi sensitif, tanpa ada yang mengajari. Anak saya yang kecil, waktu saya marahi, belum sampai saya pukul dia tapi dia sudah pukul saya duluan. Anak kecil sudah tahu bahwa ditegur itu menyakitkan, tidak menyenangkan, pahit, dsb. Di mana persoalannya? Mengapa orang tidak mau diterangi? Yaitu karena dunia ini lebih mirip kamera CCTV daripada mirip Tuhan. Gereja mungkin juga lebih mirip kamera CCTV daripada mirip Yesus. Orang tidak mau ditegur karena teguran itu kejam dan tidak ada cinta kasih, tapi itu bukan teguran Tuhan yang kita kenal. Tuhan yang kita kenal, menegur dalam kesetiaan-Nya. Kalau bagian ini kita tidak bisa tangkap, setiap kali ditegur Tuhan kita tidak melihat kesetiaan-Nya dan hanya seperti kamera CCTV, maka itu adalah problem kita sendiri, bukan problemnya Tuhan karena Tuhan tidak seperti manusia, Tuhan bukan dunia ini. Kita ini mengenal Tuhan yang dibicarakan dalam Alkitab, ataukah terus menerus menghidupi berdasarkan cara pandang paranoia dunia? Kalau kita memproyeksikan pengalaman kita atas dunia ini kepada Tuhan, maka kita berpikir: ‘kalau ada orang menegur saya, dia pasti benci;  jadi waktu Tuhan menegur, pasti juga Tuhan benci’.Padahal Tuhan tidak seperti itu.

Pemazmur mengajarkan kepada kita untuk tidak jadi paranoia, tidak bisa ditegur dan diterangi. Dia bahkan minta “suruhlah terang-Mu dan kesetiaan-Mu”, dia berani mengatakan “hakimilah aku, Tuhan, vindicate me, ujilah aku”, karena dia tahu waktu Tuhan menghakimi dan mengoreksi dia, itu di dalam cinta kasih dan  kesetiaan-Nya, bukan untuk membinasakan dia. Ini seharusnya jadi perbedaan pandangan orang saleh dan orang fasik. Orang fasik paranoia terhadap Tuhan, bukan saja perbuatan mereka jahat secara moral. Kekristenan memang termasuk moralitas, tapi harus melampaui moralitas. Kalau kita menilai orang saleh sebagai orang yang berbuat baik, tidak menipu, dsb. berarti kita berhenti dalam gambaran moralitas saja. Orang tidak saleh bukanlah hanya karena dia berbuat jahat, tapi pikirannya jahat terhadap Tuhan. Hamba yang ketiga dalam perumpamaan talenta, pikirannya jahat terhadap Tuhan bahkan lebih jahat daripada perbuatannya. Dia tidak melakukan apa-apa, dia cuma malas “doang”, dia tidak merampok, tidak korupsi. Dia menyimpan uangnya baik-baik dan mengembalikan utuh. Seandainya Saudara melihat kejahatan di dalam perbuatannya, rasanya lebih maklum waktu dia dihukum; tapi dia ini cuma malas, lalu di mana kejahatannya? Yaitu terutama karena pikirannya jahat terhadap Tuhan. Itu yang menghancurkan dia dan membuat dia akhirnya tidak terlibat sama sekali dalam pekerjaan Tuhan.

Pemazmur bergumul di dalam keterimpitannya, penganiayaan yang dialaminya, dan dia minta Tuhan koreksi lagi, “supaya aku dituntun, dibawa ke gunung-Mu yang kudus, ke tempat kediaman-Mu”. Ini concern yang tertinggi dalam kehidupannya, yaitu kehadiran Tuhan, bukan keadaan dirinya. Bukankah ini juga gambaran eskatologi? Kita mempersiapkan diri untuk masuk ke surga, tempat kediaman Tuhan yang Tuhan berada secara sempurna. Bukan tidak boleh berdoa untuk persoalan sehari-hari, tapi jangan lupa tujuan (goal) yang sesungguhnya yang tertinggi, yaitu bukan soal kita bebas dari pergumulan kita, hal itu bagaimanapun memang dijanjikanTuhan suatu saat nanti seperti musim pun selalu akan berganti tanpa Saudara berdoa. Pengkotbah 3 menyatakan kehidupan manusia juga seperti itu, kita kadang di atas kadang di bawah, kadang sakit kadang sehat, seperti musim. Kita tidak usah berdoa untuk hal-hal yang pasti diatur oleh Tuhan, doalah untuk hal-hal lain yang lebih penting seperti pemazmur, yaitu supaya kita boleh dibawa ke gunung-Nya yang kudus, tempat kediaman Tuhan. Doalah hal ini karena ini tidak otomatis seperti musim. Ada orang yang hidup jauh dari hadirat Tuhan dan dia tidak sadar.

Ayat 4 “Maka aku dapat pergi ke mezbah Allah, menghadap Allah, yang adalah sukacitaku dan kegembiraanku, dan bersyukur kepada-Mu dengan kecapi, ya Allah, ya Allahku!” Apakah Saudara melihat visi ini? Dalam gambaran ini tidak ada lagi soal kesulitan dengan musuh, soal orang-orang yang tidak saleh itu, yang dia bicarakan malah soal mezbah, soal korban, Allah yang adalah sukacita dan kegembiraannya. Kegembiraan dan  sukacitanya bukanlah soal dia luput dari penipu dan orang curang itu yang disebut di ayat 1; itu bukan subsatnsinya. Boleh saja Saudara berdoa ‘luputkanlah aku dari penipu dan orang curang’ (pemazmur sendiri berdoa seperti itu di ayat 1), tapi ada the highest goal dalam kehidupannya. Kita bisa luput dari penipu dan orang curang tapi jangan-jangan kita sendiri orang curangnya. Dalam permintaan pemazmur di ayat 1 tadi, highest goal-nya adalah ‘jangan sampai sukacitaku yang adalah Engkau, Allah, dirampas dari padaku’. Kalau Saudara sakit, lalu terhalang di dalam kenikmatan hadirat Tuhan, silakan berdoa minta kesembuhan. Kalau Saudara kekurangan/miskin, dan Saudara sulit menikmati kehadiran Tuhan, mintalah supaya keadaan itu diubah supaya Saudara bisa menikmati Tuhan (bukan menikmati uang). Tapi tentu Saudara musti jujur, tidak bisa doa main-main, ‘Tuhan saya tidak bisa menikmati Engkau, saya musti punya 30 milyar baru bisa menikmati Engkau’. Betul begitu? Nanti kalau Tuhan kasih 30 milyar, betulkah dia menikmati Tuhan? Jangan-jangan dia menikmati 30 milyarnya, bukan Tuhan. Tapi kalau seorang jujur, ‘saya tidak bisa beribadah Tuhan, relasi saya dengan-Mu terganggu karena urusan ini’, mintalah Tuhan bebaskan dari itu semua, persis seperti di Mazmur ini. “Saya terhalang pergi ke mezbah karena ada musuh yang mengimpit aku, bebaskanlah aku dari penipu dan orang curang, supaya aku bisa datang ke mezbah mempersembahkan korban bagi-Mu. Engkau sukacitaku dan kegembiraanku”. Sukacita pemazmur bukan keadaan tidak ada musuh, melainkan Allah. Allah yang kepada-Nya dia bisa mempersembahkan kehidupannya, yang dia bisa bersyukur dengan kecapi, memuji Tuhan.

Kita diberikan cicipan-cicipan kebahagiaan ini dalam kehidupan kita, terutama waktu hari Minggu kita beribadah kepada Tuhan. Orang yang suka sekali shopping, waktu di gereja tidak ada kenikmatan belanja, tidak ada toko di sini; orang yang suka sekali travelling, waktu di gereja tidak ada kenikmatan itu. Waktu datang ke gereja di hari Minggu, kita ini dikuduskan/disucikan, datang ke tempat seperti ini adalah  terutama mau menikmati kehadiran Allah. Tidak ada travel experience di sini, tidak ada culinary experience di sini, tidak ada shopping di sini. Kalau di perusahaan Saudara biasa dihormati, di gereja tidak ada itu, yang ada adalah Saudara harus tunduk kepada Tuhan. Semua dilucuti di sini, dan hanya ada satu yaitu kehadiran Tuhan. Kalau orang gagal menikmati bagian ini, ya, sudah, berarti memang gagal. Tidak ada lagi yang bisa ditawarkan, karena inilah bagian yang paling penting, yang paling limpah, Tuhan Allah yang adalah sukacitaku dan kegembiraanku. Di dalam kaitan ini, center-nya adalah ayat 3-4.

Di ayat 5 seperti kembali lagi ke persoalan, “Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku?” Ada halangan. Halangan untuk menyembah Tuhan, halangan untuk meletakkan korban di mezbah, halangan untuk menikmati Allah. Lalu kalimat selanjutnya: “Berharaplah kepada Allah! Sebab aku bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!” Ini seperti lagu keempat kita hari ini “Sandar pada Tuhan, menangkan seteru”, tapi apakah soal menang atas seteru saja? Bagian refrainnya mengatakan: “S’lalu dekat Yesus, s’panjang hidupmu, s’lalu dekat Yesus, hati senanglah”, bukan ‘selalu menang terhadap seteru’ tapi ‘selalu dekat Yesus’. Berharap kepada Allah, mendekatkan diri kepada Tuhan, maka di situ kita bisa bersyukur. Ini kalimat iman.

Waktu bagian ini ditulis, apakah pemazmur masih dalam keadaan diimpit musuh, ditipu, dicurangi oleh orang-orang penipu dan orang-orang curang itu? Atau Mazmur ini dicatat setelah hal itu lewat dan pemazmur melihat ke belakang? Jawabannya bisa kedua-duanya. Kalau ditulis sesudah semua itu lewat, berarti dulu dia pernah mengalami diimpit musuh, penipu dan orang-orang curang, tapi sekarang Tuhan sudah bebaskan lalu pemazmur mengingat itu. Tapi kalau ditafsir dalam perspektif satunya, pemazmur masih dalam keadaan yang belum jadi baik tapi dia bisa mengatakan “sebab aku bersyukur lagi kepada-Nya”, maka ini adalah kalimat iman, dia sendiri belum juga dilepaskan; karena center-nya memang bukan hal itu. Dia sudah bisa bersyukur dalam keadaan diimpit musuh, itulah cicipan ibadah. Ibadah yang di situ kita ditelanjangi dari semua kenikmatan --bukan berarti kenikmatan-kenikmatan tadi berdosa, kecuali berkelebihan-- adalah pengalaman padang gurun, tidak ada kenikmatan apa-apa cuma ada satu yaitu kenikmatan kehadiran Tuhan. Bangsa Israel juga dipanggil keluar ke padang gurun untuk bisa beribadah, dan di padang gurun itu tidak ada apa-apa, kecuali satu: kehadiran Tuhan. Waktu kita bisa bersyukur kepada Tuhan selagi keadaan belum membaik, itulah cicipan ibadah. Saya bukan bersyukur kepada Tuhan karena saya bisa travelling, bisa makan enak; semua itu tidak harus ada untuk kita bisa bersyukur kepada Tuhan, “Berharap kepada Allah, bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku”.

Hal terakhir, kita musti bisa melakukan self therapy. Ayat 5 ini bukan orang gila yang bicara pada diri sendiri, melainkan kewarasan yang Alkitabiah. Waktu kita dalam kehidupan mengalami persoalan, mungkin tidak selalu ada orang yang mengingatkan kita. Mungkin orang lain juga kurang peka, tapi kita bisa mengingatkan diri kita sendiri supaya tidak semakin terpuruk ke dalam depresi dan kesulitan kita. Kita menjadi konselor buat diri sendiri. “Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku?” di sini konselornya adalah pemazmur, dan yang di-counsel juga dirinya sendiri. Dalam sejarah teologi, ada satu genre yang disebut pembicaraan dengan diri sendiri (soliloquy).  Agustinus pernah menulis pembicaraan terhadap diri sendiri ini. Itu seperti merenung, ada pertanyaan lalu dijawab lagi sendiri, seperti sedang berbicara kepada diri sendiri untuk masuk ke dalam kedalaman jiwa, dan hopefully dalam terang Firman Tuhan (Agustinus tentu melakukannya dalam terang Firman Tuhan). Itu self therapy yang baik, tapi dalam gambaran dunia modern dianggap sinting (memang tentu ada juga orang yang bentul-betul agak aneh). Kita bisa counsel diri sendiri, tentu bukan narsisistik maksudnya. Ada orang yang sudah di-counsel orang lain, dia justru menarik konselornya untuk mengerti kesusahannya dan akhirnya bukan cuma dia yang depresi tapi konselornya juga. Ini orang yang mengasihani diri sendiri (self pity), seluruh dunia harus jadi susah gara-gara dia susah, ‘saya susah, seluruh dunia harus jadi gelap bersama dengan saya’; betapa egoisnya. Pemazmur ini bukan terlalu sombong sehingga tidak mau di-councel orang lain, tapi dia adalah orang yang matang, bisa men-counsel dirinya sendiri. Bukan berarti kita tidak boleh sama sekali di-councel orang lain, tapi ada saat ketika kita tidak memiliki orang lain; yang ada hanya musuh, penipu, orang curang, yang mustahil menjalankan peran itu. Maka dalam saat seperti ini, kita counsel diri sendiri.  “Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku?” , pemazmur mengingatkan diri dari perspektif terang Firman Tuhan akan kesetiaan Tuhan, ‘bener ‘gak ya saya hidup terus mengasihani diri kayak begini? Terus putar dengan persoalan saya?’.

Dalam kehidupan Kristus, yang sangat punya alasan untuk self pity, kita melihat  gambaran Pribadi yang tidak mengasihani diri. Waktu Dia ditangisi, Dia berbicara: “Hai puteri Sion, tangisilah dirimu sendiri”. Ini bukan gambaran orang sombong yang sudah susah tidak mau dikasihani, melainkan dalam pengertian bahwa Dia betul-betul bersih dari self pity. Dia bukan saja tidak mengasihani diri-Nya sendiri, tapi Dia counsel orang lain di atas kayu salib. Di tengah-tengah penderitaan yang paling puncak, Dia memikirkan Maria, Dia mengatakan kepada Yohanes “inilah ibumu, inilah anakmu”, lalu Dia berkata kalimat penghiburan kepada yang diselamatkan itu “sesungguhnya engkau bersama dengan Aku di Firdaus hari ini”.

Kita dipanggil untuk menjadi seperti Kristus di dalam kesulitan kita. Tidak ada orang yang tidak mengalami kesulitan. Minggu ini, Iudica Sunday, “hakimilah aku Tuhan, berilah keadilan kepadaku”, jangan ditafsir secara self centered. Ini bukan tentang saya, ini tentang Tuhan, yang kepada-Nya saya seharusnya beribadah dan mempersembahkan korban. Di dalam kaitan ini, kita bisa mengatakan: “Iudica me”, hakimilah aku, Tuhan.
Kiranya Tuhan memberkati kita.

 

Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah (MS)

Gereja Reformed Injili Indonesia Kelapa Gading