Ringkasan Khotbah

09 Apr 2017 Yohanes 5: 1-18

Download Ringkasan
Penyembuhan di Kolam Betesda Pdt. Billy Kristanto

Bagian ini menurut terjemahan LAI tidak ada paralel sama sekali dengan injil lainnya, merupakan cerita yang khas Injil Yohanes, tapi dalam Synopsis of The Four Gospels, Nestle Aland meletakkan bagian ini paralel dengan 3 injil sinoptik yaitu cerita penyembuhan orang lumpuh yang diturunkan dari atap. Itu cerita yang sama sekali lain sebetulnya, setting-nya jelas berbeda, hanya sambungannya yang paralel.

Dalam bagian ini ada motif ‘air’ yang kita percaya bukan kebetulan, sebagaimana juga waktu Yesus mengubah air menjadi anggur --anggur menunjuk kepada darah-Nya sendiri yang akan dicurahkan-- di situ Yesus melakukannya bukan tanpa air. Yesus menekankan kontinuitas ‘purification by water’ yang diperintahkan dalam Perjanjian Lama. Di sini kita membaca ada kolam, ada air, ada purification, ada the coming of new era,  tapi hal itu tidak datang untuk orang ini, dan pergumulan orang ini adalah juga pergumulan Israel. Ada orang yang menafsir ayat 5 ‘Di situ ada seorang yang sudah tiga puluh delapan tahun lamanya sakit’ mengaitkannya dengan kitab Ulangan yang menyatakan bahwa Israel dalam pengembaraan selama 38 tahun. Orang ini juga seperti Israel yang mengembara tidak mendapatkan yang dijanjikan, karena kompetisi di dalam dunia manusia. Ini secara realistik digambarkan di ayat 6-7. Waktu Yesus tanya, “Maukah engkau sembuh?”, dia menjawab dengan jujur --dia tidak menjawab dari perspektif iman tapi seperti ratapan/keluhan, satu gambaran yang menggambarkan masyarakat kita sampai sekarang-- "Tuhan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu apabila airnya mulai goncang, dan sementara aku menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku". Suatu gambaran keadaan saya yang malang ini, yang tidak bisa bersaing dengan orang lain karena lumpuh.
Setiap orang memang punya pergumulannya sendiri-sendiri, tapi inilah gambaran riil Israel, dan juga masyarakat kita sekarang. Dan keadaan ketika kita tidak bisa bersaing dengan orang lain ini, termasuk keadaan yang di dalamnya Tuhan sendiri menghampiri kita. Kalau mau jujur dalam kehidupan kita, banyak orang tidak siap dengan globalisasi. Karena tidak sanggup berada dalam fair competition akhirnya orang lebih suka hidup seperti katak di bawah tempurung, jadi raja di dunianya sendiri; waktu orang lain masuk, baru kelihatan dirinya cuma kodok kecil. Keadaan seperti inilah yang digambarkan dalam bagian ini, ‘saya tidak pernah menang dalam keadaan seperti ini’. Penyembuhan melalui air yang digoncang malaikat, itu betul-betul dari Tuhan sendiri, tapi tetap saja tidak bisa menolong bagi orang ini. The water and it’s purification tidak bisa menjadi kabar baik --setidaknya untuk orang ini selama 38 tahun-- seperti Israel yang menanti 38 tahun untuk bisa bersaing dengan bangsa-bangsa Babilonia, Media-Persia, Mesopotamia, Romawi, dsb., mana mungkin? Jelas-jelas kalah. Dan dalam keadaan seperti ini, Yesus masuk ke dalam kehidupan kita, orang-orang yang tidak bisa bersaing ini. Mungkin Saudara termasuk orang yang cukup bisa bersaing, tapi kalau kita jujur, ada aspek yang kita sendiri looser. Orang mungkin berhasil dalam pekerjaannya, tapi tidak terlalu berhasil dalam keluarga; yang berhasil dalam keluarganya, mungkin kesehatannya tidak terlalu berhasil; yang berhasil dalam kesehatannya, mungkin tidak berhasil dalam pergaulan masyarakat, dst., karena memang banyak aspek dalam kehidupan manusia. Tapi dalam keadaan ketidak-sanggupan (helplessness) ini, Yesus hadir.

Kalau Saudara membandingkan bagian ini dengan cerita perikop sebelumnya “Yesus menyembuhkan anak pegawai istana”,  ada keunikan yang melengkapi. Waktu Yesus menyembuhkan anak pegawai istana, kita tahu bahwa pegawai istana ini betul-betul beriman, the role of faith kental sekali di situ. Di dalam Injil Yohanes, termasuk juga dalam Matius, apalagi Lukas, Yesus mengatakan: “Pergilah, anakmu hidup!”, lalu dikatakan ‘orang itu percaya akan perkataan yang dikatakan Yesus kepadanya, lalu pergi’. Tapi kalau membaca perikop hari ini, di mana the role of faith? Yesus tanya, “Maukah engkau sembuh?”, pertanyaan yang sering Dia tanyakan. Pertanyaan yang sepertinya konyol, tapi pertanyaan ini tidak take it for granted karena ada orang sakit yang tidak sadar kalau kebutuhannya adalah sembuh; dan Injil bukan cuma bicara kesembuhan fisik tapi juga kesembuhan rohani, keduanya langsung dihubungkan. Ada orang berdosa tidak sadar kalau kebutuhannya adalah pengampunan, maka dia tidak merasa perlu juruselamat. Oleh karena itu Yesus tanya “maukah engkau sembuh” paling tidak untuk membawa orang itu masuk ke dalam pengenalan diri, kamu itu sakit dan kamu perlu kesembuhan; itu satu aspek. Aspek yang lain, pertanyaan “maukah engkau sembuh” sekaligus menjadi ujian iman, maksudnya “percayakah engkau kepada-Ku yang sanggup menyembuhkan engkau?” Tapi jawaban orang ini di ayat 7 menunjukkan bahwa orang ini bahkan tidak melihat Yesus, dia melihat kepada persoalannya sendiri; dan memang kita bisa memaklumi juga karena sudah 38 tahun, waktu yang lama sekali. Kalau Saudara bandingkan dengan cerita perempuan Samaria, di situ paling tidak dia ada certain hope waktu mengatakan "aku tahu, bahwa Mesias akan datang”; ada Mesianic hope yang timbul dari pembicaraan dengan Kristus, meskipun itu menurut pengharapan Samaritan Pentateukh mereka. Tapi di bagian ini, hal itu tidak ada. Orang ini bicara tentang kesulitannya, penderitaannya, pergumulannya, dsb.; tidak ada kalimat iman di dalam bagian ini.

Lalu apa yang dilakukan Yesus? Yesus mengatakan: "Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah" (ayat 8).  Jawaban Yesus tidak tergantung keterpurukan orang ini. Saya tidak berani mengatakan kalimat yang radikal ‘orang yang tidak beriman/tidak percaya pun tetap disembuhkan Tuhan’, tapi betul juga kalau dikatakan bahwa di sini penekanannya memang bukan pada iman orang ini karena kalimat seperti itu memang tidak ada. Penekanannya adalah Bapa yang sedang berkarya, dan Anak mengikuti karya Bapa, yang berjalan terus despite ketidak-siapan orang ini, despite ketidak-mengertian orang yang akan disembuhkan ini, despite keadaan dia yang cuma bisa merintih, mengeluh, skeptis; Tuhan masuk ke dalam kehidupannya yang seperti itu dan mendemonstrasikan kekuasaan-Nya. Ini betul-betul good news dalam kehidupan kita, karena kalau mau jujur kita ini tidak selalu bisa beriman. Ada saat-saat untuk beriman pun kita sudah terlalu loyo, tidak ada yang bisa mengangkat kita, lumpuh. Orang ini lumpuh, tidak bisa berjalan, musti ada yang mengangkat dia. Kalau Saudara membaca Injil Sinoptik, ada orang lumpuh yang diturunkan dari atap oleh teman-temannya karena dia memang lumpuh, tidak bisa  berjalan, dan mungkin imannya juga lumpuh sampai ada orang-orang lain yang beriman, seperti mewakili dia, yang menurunkan dia. Tapi di perikop yang ini, orang-orang yang menurunkan pun tidak ada, sampai-sampai dia mengatakan kalimat di ayat 7 tadi. Kita tidak tahu kedalaman perkataannya, tapi mungkin saja dalam hati dia juga jengkel kepada Yesus, ‘gimana sih, Lu apa ‘gak tahu saya lumpuh? mana mungkin saya bisa menang lompat ke sana, pakai tanya lagi’. Tapi mungkin juga dia berharap kepada Yesus, ‘ayo dong, Lu ada di sini bukan kebetulan, gendong saya dong ke sana’. Dan Yesus betul-betul menggendong dia, bukan dengan cara yang seperti dia bayangkan. Yesus menggendong dia saat dia tidak bisa berjalan sendiri, saat dia tidak bisa beriman, saat dia tidak bisa berharap kepada Tuhan. Yesus menggendong dia dengan mengatakan “Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah". Lalu orang itu sembuh.

Saya tertarik waktu membandingkan bagian ini dengan Lukas. Kalau Lukas, dia kira-kira akan mencatat: Pada saat itu juga sembuhlah orang itu, lalu dia bersukacita, dia memuliakan Allah, dan dia mengikut Tuhan. Tapi di bagian ini hanya dicatat: ‘Dan pada saat itu juga sembuhlah orang itu lalu ia mengangkat tilamnya dan berjalan’ (ayat 9). Orang ini sepertinya betul-betul cuek. Sebelum disembuhkan, tidak ada ekspresi kalimat iman, yang ada ‘saya susah, saya susah’; memang terlalu susah, dan Tuhan maklum keadaan seperti itu. Setelah disembuhkan, juga tidak ada ucapan syukur, tidak ada catatan tentang excitement, yang ada hanya realita dia sembuh dan dia berjalan; setelah itu Yohanes tidak mencatat apa-apa, maka kita boleh katakan memang tidak ada apa-apa, sangat kontras dengan gambaran yang biasanya ada dalam catatan Lukas. Kabar baiknya, kita kadang-kadang dalam posisi seperti ini: sebelum Tuhan tolong, tidak ada ekspresi iman yang jelas, tapi Tuhan tolong juga saking terpuruknya kita; setelah keluar dari persoalan yang Tuhan telah menolong kita, kita juga bahkan tidak keburu mengucap syukur, atau mungkin tidak terpikir, dan Yesus sudah tidak ada.

Ini cerita mujizat yang agak berbeda dengan cerita mujizat yang lain. Tapi kemudian Yohanes menggerakkan isu-nya menjadi isu hari Sabat, ‘Tetapi hari itu hari Sabat’ (ayat 9b). Sedikit mengulang, dalam tradisi Reformed ada 2 school of thought, yang satu dari Reformed Confession atau katekismus yang non Westminster, dan satunya yang diwakili oleh Westminster. Westminster mewakili konsep Sabbath observance yang ketat cenderung ke arah legalistik --dalam pengertian positif-- misalnya orang-orang di Skotlandia dan Belanda tidak mau naik transportasi umum pada hari Minggu karena mengadopsi spirit ini. Tapi ini bukan satu-satunya di dalam Reformed, ada kelompok lain seperti Heidelberg Catechism, Second Helvetic, Belgic Confession yang mengatakan bahwa Sabat sudah ceased bagi orang Kristen, digantikan oleh Kristus; perhatikan kalimat akhir ini penting luar biasa. Tidak ada satu versi Reformed pun yang mengatakan ‘Sabat itu ceased jadi sekarang hari Minggu terserah gua mau ngapain’. Itu liberal, bukan Westminster, dan juga bukan yang lain. Kita tidak mengenal konsep Sabat seperti itu dalam teologi Reformed, itu pandangan liberal karena yang menggantikan bukan Kristus melainkan lu sendiri. Itu sama seperti mengatakan ‘perpuluhan sudah lewat, itu bayang-bayang Perjanjian Lama; Yesus sudah datang, jadi saya tidak usah persembahan’; atau ‘kita ke gereja tidak mempersembahkan domba sembelihan lagi, itu sudah ceased karena Yesus Domba Allah, puji Tuhan jadi murah dibandingkan orang Israel zaman dulu repot beli domba, tidak kasih persembahan juga tidak apa, karena Yesus sudah datang’. Itu artinya Yesus datang untuk mendukung saya punya kepelitan, saya punya keenganan memberi persembahan, saya punya liberalisme, dsb. Itu bukan ajaran Alkitab. Yesus adalah Domba Allah, artinya persembahan domba itu bukan digantikan tanpa Yesus, kita tidak mempersembahkan lagi karena Yesus sudah dipersembahkan, dan karena kita sendiri mempersembahkan hidup kita sebagai domba yang dipersembahkan di atas mezbah (fungsi imam mengikuti Kristus). Jadi ada gantinya. Baik yang dipahami dari perspektif  Westminster ataupun katekismus yang lain, tidak ada model Sabat yang jadi liberal ‘terserah saya karena kita tidak dikuasai hukum-hukum itu lagi’. Paulus mengatakan, kita memang tidak hidup di bawah hukum Taurat, tapi bukan di luar hukum Kristus; tetap ada hukum, hukum Kristus, hukum kasih, bukan tanpa hukum. Yang tanpa hukum itu liberal. Bicara tentang Sabat, kalau Saudara tanya posisi saya dalam hal ini, saya lebih cenderung menekankan konsep ‘Sabat ceased yang digantikan oleh Kristus’, maksudnya di dalam Kristus itu ada perhentian yang sesungguhnya. Orang Israel selama 38 tahun mengembara, dan Yesus di sini menyelesaikan, “selesai”. Ini semuanya paradoks. Lumpuh itu tidak bisa berjalan, kelihatannya istirahat, tapi justru tidak istirahat, mengembara, putar-putar tidak jelas. Justru orang yang disembuhkan Tuhan, bisa berjalan, lalu berjalan mengikut Tuhan, itulah Sabat yang sesungguhnya.

Waktu dikatakan ‘tetapi hari itu hari Sabat’, di situ ada orang-orang Yahudi penganut legalistik yang bahkan tidak cocok dengan Rabbinic Literature, yang memiliki resepsi yang salah terhadap Sabat. Dalam Rabbinic Literature, terdapat  prinsip yang menyatakan bahwa human needs ada prioritasnya di dalam Sabbath observance. Yesus sebetulnya tidak melawan Rabbinic Literature dalam hal ini, tapi resepsi orang-orang Yahudi itulah yang ngawur, dan makin lama makin kaku makin kaku, akhirnya menjadi ajaran manusia. Kita juga bukan tidak mungkin jatuh ke dalam persoalan seperti ini, entah itu dalam filosofi pelayanan atau strategi pelayanan, dsb. ketika itu jadi suatu formula yang begitu establish, tidak bisa ditawar lagi, dan akhirnya kita kehilangan perspektif belas kasihan, kehilangan perspektif  human needs. Yesus tergerak oleh belas kasihan, orang itu bahkan tidak sanggup beriman; atau mungkin ada iman juga karena dia kemudian mengangkat tilamnya dan berjalan, namun tekanannya lebih kepada otoritas Kristus, kedaulatan Bapa, kedaulatan Allah. Waktu  Yesus melakukan ini, Dia digerakkan oleh kebutuhan manusia; dan seolah-olah dari perspektif orang-orang Yahudi Yesus melanggar aturan tentang Sabat. Kalau kita aplikasikan hal ini dalam kehidupan kita, jangan sampai prinsip-prinsip Kekristenan yang kita terima itu menjauhkan kita dari berbelas-kasihan kepada manusia. Kita bisa mengikuti aturan tertentu yang kita pegang ketat, tapi akhirnya kita jadi kehilangan perspektif belas kasihan, jadi orang-orang yang dingin yang bersembunyi di balik peraturan-peraturan yang teguh itu, padahal sebenarnya kita tidak sanggup lagi mengasihi sesama kita. Itu kecelakaan di dalam Kekristenan.

Dan kalau boleh saya tambahkan perspektif sisi satunya yang penting supaya Saudara tidak salah mengerti perikop ini, yaitu bahwa bagaimanapun kita tidak bisa menuduh Yesus humanis, karena yang disembuhkan cuma 1 orang. Gereja tidak dipanggil untuk menyelesaikan semua penderitaan yang ada di dalam dunia. Itu bukan panggilannya Gereja, dan juga bukan panggilannya Yesus; dan kita mengikuti Yesus. Tapi memang kalimat ini rentan untuk disalah-gunakan menjadi: ‘Tuh ‘kan, bener yang saya bilang, memang saya ‘gak harus koq menolong orang miskin, itu bukan bagian saya. Saya kayaknya seumur hidup porsinya cuma kasih 5 sen itulah’. Kalau Saudara pelintir seperti itu, tanggung-jawab sendiri di hadapan Tuhan.  Yang saya maksud adalah waktu Yesus datang di situ, dikatakan di ayat 3 ‘di serambi-serambi itu berbaring sejumlah besar orang sakit’, maka kita boleh asumsikan anggaplah ada 20 orang di situ. Setiap kali air bergoncang mereka semua perlombaan lari, lompat ke air itu, yang juara tentu cuma 1 orang, yang 19 kalah. Jadi dari 20 orang itu yang sembuh cuma 1 orang, 19 orang lainnya tidak sembuh; tapi Yesus juga tidak menyembuhkan mereka, cuma 1 orang yang ditolong. Ini namanya kedaulatan Tuhan, karena Yesus hanya mengerjakan pekerjaan Bapa-Nya. Gereja ini dipanggil untuk mengerjakan pekerjaan Bapa, bukan semua pekerjaan yang bisa dipikirkan di dalam dunia ini. Bukan setiap ada kesulitan, kita harus take care, itu bukan panggilan Gereja, dan juga bukan panggilan orang Kristen. Yesus sendiri melewati sebagian orang yang menderita di sini, bahkan sebagian besar. Inilah pembedaan Yesus dengan ajaran humanisme. Jadi ini bukan tentang humanisme, karena ada kepekaan akan apa yang menjadi kepercayaan Bapa untuk dikerjakan dan apa yang bukan. Yesus tidak bersalah waktu Dia tidak menyembuhkan orang lain karena itu tidak dipercayakan Bapa kepada-Nya. Yesus hanya mengerjakan yang dipercayakan Bapa kepada-Nya, yaitu 1 orang ini.

Yang menarik, 1 orang ini tidak ada kualifikasi iman; setelah ditolong tidak ada ucapan syukur, orang itu tidak mengikut Dia, dan Yesus kena isu Sabat pula, salah satu isu yang paling kritikal (tidak ada satu injil pun yang tidak mencatat isu ini). Lalu waktu orang-orang itu keberatan/terganggu dalam hal peraturan yang sudah mapan yang mereka bangun, jawaban orang yang disembuhkan ini: "Orang yang telah menyembuhkan aku, dia yang mengatakan kepadaku: Angkatlah tilammu dan berjalanlah" (ayat 11). Waktu Saudara membaca kalimat ini, kira-kira apa respon Saudara? Saya pakai sedikit hermeneutika-nya Schleiermacher -- menempatkan psikologi kita di sana-- kalau kita jadi Yesus, kira-kira perasaan kita bagaimana? Saya spontan teringat kalimat dalam Kejadian 3, “perempuan yang Kau tempatkan itu, ... “. Orang ini tidak jelas imannya, sudah ditolong, lalu waktu sekarang ada kesulitan malah mengatakan, ‘Orang itu yang menyuruh, kalau ada problem, ya, problem sama Dia dong; persoalannya ada di Dia, bukan di saya, saya kan cuma ikutin doang’. Ini tidak jauh beda dengan Israel, dan mungkin tidak jauh beda juga dengan kita. Kualifikasi iman tidak terlalu menjanjikan, kualifikasi ucapan syukur dan pengikutan juga tidak jelas, dan sekarang kualifikasi responsibility juga tidak ada. Gambaran ini adalah gambaran yang negatif; gambaran yang dicatat dalam mujizat di sini memang tidak tipikal.

Lalu ayat 12 Mereka bertanya kepadanya: "Siapakah orang itu yang berkata kepadamu: Angkatlah tilammu dan berjalanlah?" Tetapi orang yang baru sembuh itu tidak tahu siapa orang itu. Mengapa tidak tahu? Kalau kita rekonstruksi kejadiannya kira-kira begini: orang itu sedang menunduk mau mengangkat tilamnya lalu tiba-tiba lho mana Orangnya? Yesus cepet-cepet menghilang juga sih, maunya berterima-kasih tapi Orangnya hilang, ya, salah Dia sendirilah; lagipula Yohanes mencatat ‘sebab Yesus telah menghilang ke tengah-tengah orang banyak di tempat itu’ (ayat 13). Bagian ini menarik, yaitu Yesus yang sengaja menghilang pastinya. Alkitab tidak mencatat ‘sebab orang itu tidak tahu berterima-kasih’. Alkitab juga tidak mencatat ‘sebab orang itu imannya tidak beres’ atau semacam itu. Yang ada adalah bahwa Yesus secara inisiatif dan aktif, dengan kedaulatan-Nya menghilang ke tengah-tengah orang banyak di tempat itu. Saya tertarik dengan kalimat bahasa Indonesia ini ‘Yesus menghilang’ (bagian ini tidak fit jika di-eksegese dalam bahasa Inggris apalagi bahasa aslinya). Yesus menghilang, tapi yang hilang sebetulnya siapa? Orang ini atau Yesus? Yesus sengaja menghilang tapi sebetulnya orang ini yang tidak ada kesempatan berjumpa secara pribadi dengan Yesus. Orang ini mengalami mujizat, tapi belum ada perjumpaan pribadi dengan Yesus; dan Yesus sendiri yang menahan dalam bagian ini.
Ada satu insight yang sangat bagus saya dapat dari commentary, waktu dikatakan di ayat 14 ‘Kemudian Yesus bertemu dengan dia di Bait Allah’ --bahasa Inggrisnya lebih kuat, ‘Jesus found him on the Temple’-- istilah ‘menemukan/found him’ di dalam bahasa Injil merupakan soteriological phrase, itu adalah statement tentang keselamatan. Yesus mencari dan menemukan dia. Orang ini mengalami mujizat, Yesus menyembuhkan dia --betul-betul pribadi Yesus bukan cuma kuasa Yesus-- tapi tidak ada perjumpaan dengan pribadi Yesus di situ. Ini berarti ada diferensiasi antara ‘mengalami mujizat’ dengan ‘perjumpaan pribadi dengan Yesus’; orang ini masih terhilang, meskipun sudah mengalami kesembuhan yang sejati dari Kristus. Orang ini masih dalam posisi terhilang, dan belum ditemukan oleh Yesus, waktu dia mengalami mujizat itu.

Jadi dalam Alkitab gambarannya itu kompleks. Ada orang yang mengalami mujizat lalu Yesus mengatakan “imanmu telah menyelamatkan engkau”, “dosamu diampuni”, berarti dalam peristiwa mujizat itu keselamatan juga terjadi, itu menjadi satu. Ada juga cerita Yesus melakukan mujizat, tapi yang mendapatkan mujizat tidak pernah diselamatkan seperti cerita 10 orang kusta, yang 9 orang tidak pernah kembali --tidak diselamatkan-- cuma 1 orang yang diselamatkan.  Ini satu variasi yang lain yaitu iman mengalami mujizat tapi tidak pernah mengalami keselamatan. Dan di bagian ini, mengalami mujizat tapi belum --bukan tidak-- diselamatkan; belum ada perjumpaan pribadi dengan Yesus. Siapa yang menunda? Yesus sendiri. Yesus telah menghilang di tengah-tengah orang banyak itu. Ada sesuatu yang Tuhan mau kita belajar dalam hal ini.

Saya kuatir sekali dengan orang yang membangun konsep keyakinan keselamatannya “hanya” karena doanya pernah  didengar Tuhan atau pernah ditolong Tuhan dalam kesulitan, lalu berpikir bahwa otomatis dirinya anak Allah. Itu bahaya sekali. Di bagian ini, orang itu mengalami pertolongan Tuhan yang bukan cuma secara general, Yesus sendiri yang datang ke kolam itu, tapi Yesus tidak ‘memperjumpakan’ diri-Nya dengan dia. Ini tidak biasa. Yang lebih biasa, terjadi percakapan lalu Yesus mengakhiri dengan “imanmu menyelamatkan engkau” (“your faith has made you well”) yang di dalam frasa bahasa Yunani adalah soteriological statement juga, tapi di bagian ini  tidak ada, berarti orang ini masih terhilang, pantasan saja responnya aneh. Waktu Yesus tanya, tidak ada ekspresi iman. Waktu sembuh juga tidak ada ekspresi pengikutan, tidak ada ekspresi pengucapan syukur. Waktu ditanya orang Yahudi, jawabannya juga enteng saja “Orang itu yang menyembuhkan”, tidak ada responsibility dari dirinya sendiri, tidak berani bersaksi bahwa ini adalah pengalaman dia bersama dengan Tuhan. Itu semua tidak ada, itu semua absent. Pantasan semuanya tidak ada, karena Yesus memang belum menemukan dia. Yang menyembuhkan kita waktu kita sakit, ya memang Yesus. Yang menyembuhkan orang tidak percaya waktu dia sakit, ya Yesus juga, siapa lagi kalau bukan Yesus, kita cuma mengenal satu Tuhan koq. Semuanya juga ditolong oleh Yesus, tidak ada yang bukan oleh Yesus. Yang memberikan hujan, ya Yesus, siapa lagi kalau bukan Yesus? Kita percaya Yesus satu-satunya Tuhan. Tapi apakah orang yang pernah ditolong oleh Yesus, otomatis dia adalah anak Allah? Tidak tentu, kecuali Yesus mencari dia dan menemukan dia.

Menemukan dia di mana? Di Bait Allah. Yohanes termasuk yang memiliki perspektif kritis terhadap Bait Allah, tidak seperti Lukas yang paling less critical terhadap Bait Allah. Tapi di bagian awal ini Yohanes mencatat Yesus menjumpai dia di Bait Allah, artinya bukan dari mulanya Yesus benci terhadap Bait Allah, namun pelan-pelan Yesus mau menyucikan Bait Allah tapi orang-orang yang ada di sana terus menerus menolak, akhirnya Bait Alah dikutuk. “Yesus menemukan dia di Bait Allah”, maka kita juga boleh berharap Yesus juga menemukan orang yang terhilang di dalam Gereja, yaitu Gereja yang ada kehadiran Tuhan.

Selanjutnya Yesus mengatakan kalimat ini (ayat 14): "Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk. " Saya pernah tafsir bagian ini; dalam konteks deuteronomistic deed-consequence, hukum tabur tuai, dsb. ini agak kompleks. Di dalam Alkitab, saya percaya ada bagian-bagian yang Yesus meng-afirmasi bahwa hukum tabur tuai tetap berjalan. Di sisi lain, Yesus me-relativisasi hukum tabur tuai, misalnya kepada orang buta waktu murid-murid-Nya bertanya ‘ini dosa dia atau dosa orangtuanya?’, Yesus menjawab “neither-nor”, bukan orangtuanya dan bukan dia tapi ada pekerjaan Tuhan yang mau dinyatakan di dalam dirinya. Namun mungkin di dalam bagian ini --dan juga masih ada di bagian yang lain-- meng-afirmasi deed-consequence.Waktu orang Israel ditimpa menara, Yesus mengatakan, “Sangkamu mereka dosanya lebih besar karena itu mereka mati dengan cara demikian?” Orang-orang yang darahnya dicampur dengan darah korban oleh Pilatus, Yesus mengatakan, “Kalau kamu tidak bertobat, kamu akan mati dengan cara yang sama”. Berarti ini meng-afirmasi deed-consequence theory.

Tapi ada tafsiran yang menarik dan sangat persuasif tentang “jangan terjadi yang lebih buruk”, yaitu bahwa kelumpuhan jasmani itu satu hal, kebinasaan rohani itu hal yang lain lagi. Jangan berbuat dosa lagi, Yesus menyembuhkan orang ini dari kelumpuhan jasmani sekaligus dari kelumpuhan rohaninya supaya dia bisa berjalan di dalam jalan Tuhan. Jangan berbuat dosa lagi, ini bukan ajaran perfeksionisme; kita tahu dalam bahasa Yohanes istilah ‘jangan/tidak berbuat dosa lagi’ bukan berarti tidak bisa jatuh lagi ke dalam dosa melainkan tidak continuously/terus menerus mencintai dosa. Jangan berbuat dosa lagi, jangan terus menerus mencintai dosa, kamu itu sudah diselamatkan. Jangan berbuat dosa lagi supaya jangan terjadi yang lebih buruk, yaitu penghukuman kekal, kebinasaan kekal; ini lebih menakutkan daripada kelumpuhan jasmani, bukan cuma kelumpuhan  rohani melainkan kematian kekal. Itulah hal yang lebih buruk yang akan terjadi, dan bukan cuma bagi orang tersebut, tapi juga untuk semua orang yang ada di sana yang mendengar perkataan Yesus. Sakit itu satu hal, sembuh dari sakit itu hal yang lain. Tapi waktu Tuhan menyembuhkan kita dari penyakit dosa kita, jangan berbuat dosa lagi, supaya kita tidak mati di dalam kebinasaan kekal akibat dosa. Ini betul-betul berita buruk kalau kita tidak mengerti.

Ayat 15 Orang itu keluar, lalu menceriterakan kepada orang-orang Yahudi, bahwa Yesuslah yang telah menyembuhkan dia. Yesus sudah menyatakan kuasa-Nya, orang itu mengalami mujizat betul-betul sembuh, tapi dia masih terhilang, lalu Yesus menemukan dia di Bait Allah. Setelah Yesus menemukan dia, Yesus mengatakan kalimat undangan ini: “Engkau telah sembuh, jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk. " Barulah setelah ini, orang itu bersaksi. Tadinya dia mengatakan ‘urusan sama Dia saja’, tapi sekarang orang ini diubahkan menjadi seseorang yang berani bersaksi. Berani bersaksi adalah tanda orang pilihan sejati. Saudara jangan meletakkan tanda orang pilihan sejati pada ‘saya berdoa didengarkan oleh Tuhan’. Itu bukan tanda orang pilihan. Ada orang yang doanya didengarkan, tapi tetap orang yang terhilang. Tanda orang pilihan sejati, salah satunya adalah bersaksi. Kalau kita sudah diselamatkan tapi tetap malu bersaksi, kita mengatakan ‘tanya saja orang itu’, artinya kita seperti orang terhilang bukan orang yang sudah diselamatkan. Kalau ditanya “mengapa percaya Yesus?”, lalu jawab “tanya saja pendeta saya; tanya saja mama saya, dia yang suruh saya katekisasi dan ini dan itu”, itu artinya orang yang terhilang, bukan yang sudah dijumpai oleh Yesus. Orang yang sudah dijumpai Yesus, dia bersaksi, ada keberanian untuk mengambil resiko. Dan karena itu orang-orang Yahudi berusaha menganiaya Yesus, karena Ia melakukan hal-hal itu pada hari Sabat (ayat 16). Masih isu Sabat lagi.

Tetapi kemudian Yesus menjawab mereka: "Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Akupun bekerja juga" (ayat 17).  Ini prinsip penting, Yesus itu The True Sabbath. Yesus menawarkan the true Sabbath yang mereka mengertinya bukan sekedar bayang-bayang tapi malah sudah terdistorsi, bahkan distorsi terhadap Rabinic Literature yang juga mereka tidak mengerti. Yesus menawarkan kelegaan, ini berarti Yesus itu resting point, Sabat yang sesungguhnya. Orang Israel 38 tahun berjalan tidak jelas mau ke mana, dan Yesus menyelesaikan itu, Dialah tempat perhentian, Dia adalah Sabat. Dan seperti orang Israel itu, orang ini pun diakhiri, untuk berhenti dari kegelisahannya masuk ke dalam Sabat sejati yaitu Yesus, waktu dia berhenti dari kelumpuhannya dan bisa berjalan. Paradoks. Orang yang lumpuh itu ngaso karena tidak berjalan, tidak bergerak, tapi itu justru gelisah; yang resting point adalah berjalan mengikut Yesus, itulah Sabat sejati. Tapi menurut dunia waktu lumpuh tidak bisa bergerak, itulah Sabat. Banyak orang ingin pensiun umur 40 atau paling telat 50 tahun, lalu bisa nganggur. Itu bukan nganggur, itu lumpuh. Ada orang tidak mendapatkan makna di dalam pekerjaannya, dia pikir pekerjaan itu siksaan, cicipan neraka, maka dia ingin masuk semacam cicipan surga yaitu nganggur, tidak bekerja lagi, taruh uang di sana sini lalu makan bunga yang datang terus; itu namanya Sabat yang saya nanti-nantikan. Hati-hati, nanti di surga Saudara kecewa karena di sana lumayan repot, membangun kota, beribadah, dsb. bukan silakan tidur sampai the prince charming mencium Saudara baru Saudara bangun kira-kira 3 milyar tahun lagi; mana ada gambaran surga seperti itu di dalam Alkitab.

Gambaran ini, orang yang dalam keadaan lumpuh tidak bergerak, sebetulnya justru dia mengembara; dan waktu disembuhkan, dia bisa berjalan, itulah the true resting point. Maksudnya apa? Yesus mengatakan "Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Akupun bekerja juga"; orang yang mengerjakan pekerjaan Bapa, dia itu menikmati Sabat yang sesungguhnya. Orang yang di luar pekerjaan Bapa, dia mengembara tidak selesai-selesai, hidupnya pasti gelisah; tidak peduli berapa banyak dia tidur, dia belum menikmati Sabat. Ini Sabat yang tidak dimengerti oleh orang Israel. Waktu seseorang berbagian dalam pekerjaan Tuhan, mengerjakan pekerjaan  Bapa, dia paling istirahat. Mengapa? Karena dia mengalami persekutuan dengan Allah. Orang yang mengalami persekutuan dengan Allah --Allah sendiri adalah resting point-- mana mungkin dia bisa tidak istirahat? Orang yang tidak istirahat adalah yang di luar Tuhan, yaitu yang tidak mau berbagian di dalam pekerjaan Tuhan. Menurut konsep Johaninne profile ini, Sabat adalah union with God, kita dipersekutukan dengan Tuhan. Ini bukan statis, semakin kita berbagian dalam pekerjaan Tuhan, semakin kita menikmati hari Sabat. Semakin  kita di luar dan tidak terlibat dalam pekerjaan Tuhan, semakin kita gelisah alias tidak ada perhentian, karena perhentian cuma ada di dalam Kristus, dan Kristus melakukan pekerjaan Bapa-Nya.

Kristus itu memberikan kelegaan, “Marilah kamu yang letih lesu, datanglah kepada-Ku, Aku akan memberikan kepadamu istirahat.” Siapakah Yesus yang menjanjikan istirahat?  Yaitu Yesus yang bekerja, melakukan pekerjaan Bapa-Nya, itulah Yesus yang sedang beristirahat, dan menawarkan peristirahatan kepada Saudara dan saya. Bukan istirahat ala dunia, nganggur-nganggur, tanam uang sini-sana, uang masuk terus tidak usah kerja, lalu atas nama agama mengatakan “saya jadi bisa bebas ikut KKR regional, “ dsb. dsb. Itu bahaya sekali. Kalau Saudara merasa kehidupan pelayanan di gereja sangat nyaman --nyaman dalam pengertian positif-- mengapa Saudara tidak jadi hamba Tuhan? Orang-orang yang hidup dalam dualisme, kerja tapi tidak bisa menikmati kehidupan dalam pekerjaannya, lalu ingin nganggur karena income sudah cukup “supaya saya bisa lebih pelayanan untuk Tuhan”, mengapa tidak jadi hamba Tuhan sekalian? Jangan menipu Tuhan pakai rasionalisasi yang tidak karuan seolah Tuhan itu goblok banget tidak mengetahui kedalaman hati kita sehingga bisa dipermainkan dengan kalimat-kalimat seperti itu. Yesus menawarkan Sabat; dan Sabat itu adalah perhentian ketika kita mengerjakan pekerjaan Bapa.
Lalu dalam bagian ini, poin yang terakhir,  orang-orang Yahudi lebih berusaha lagi untuk membunuh-Nya, bukan saja karena Ia meniadakan hari Sabat --di dalam ketidak mengertian mereka akan Kristus, the true resting point-- tetapi juga karena Ia mengatakan bahwa Allah adalah Bapa-Nya sendiri dan dengan demikian menyamakan diri-Nya dengan Allah (ayat 18). Tafsiran klasik dalam teologi Injili mengatakan, “Waktu Yesus menyebut Allah itu Bapa-Nya berarti Dia klaim consubstantiality dengan Bapa, dan hal itu dari perspektif orang Yahudi yang percaya monoteis adalah suatu penghujatan, menempatkan diri setara dengan Allah, sehingga harus dirajam”. Tapi saya membaca satu tafsiran lain, kalimat "Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga", penekanannya dalam Johaninne profile adalah union yang bisa di-share kepada setiap orang. Waktu kita berbagian di dalam pekerjaan Allah, kita juga menikmati persekutuan yang ada di dalam Kristus dan Bapa. Yesus mengatakan “Aku dan Bapa itu satu”, Dia berdoa kapada Bapa “supaya mereka juga menjadi satu, supaya mereka juga di dalam Kita”. Kesatuan Bapa dan Anak ini kesatuan yang terbuka, kesatuan yang mengundang orang supaya bisa masuk ke dalam Trinitarian relationship. Ini bukan kesatuan yang eksklusif, tapi kesatuan yang juga di-share. Waktu kita mengatakan yang Bapa mau katakan, kita menikmati persekutuan Trinitarian itu. Waktu kita mengerjakan yang mau dikerjakan Bapa, kita menikmati persekutuan Trinitarian itu. Maka kalau ditafsir seperti ini, artinya Yesus mau memulihkan cerita yang sudah ada. Israel itu disebut anak-anak Allah dalam Perjanjian Lama, Bapanya adalah Yahweh. Tapi Israel tidak menghidupi cerita anak-anak Allah, maka sekarang Yesus datang sebagai The True Son of God, merestorasi cerita anak-anak Allah itu. “Kalau kamu adalah anak, kamu akan mengerjakan pekerjaan Bapamu; sekarang Saya mengerjakan pekerjaan Bapa-Ku tapi kamu melawan pekerjaan Bapa. Katanya  Allah itu Bapamu, tapi koq kamu tidak seperti Bapamu, bapamu jadi sebetulnya siapa, Yahweh atau Iblis sebetulnya? Kalau kamu betul-betul anak Allah, kamu harusnya mendukung pekerjaan Tuhan bukan melawan pekerjaan Tuhan seperti ini, “ ini kita baca dalam pasal-pasal berikutnya. Lalu dalam cerita pemulihan tentang pekerjaan Allah dan tentang anak Allah itu, Israel malah salah mengerti, “O, Dia sedang meng-klaim diri-Nya ilahi”. Ini ironis sekali.

Mereka pikir Yesus sedang mengklaim diri-Nya sama dengan Allah --memang Yesus betul adalah Allah-- tapi sebetulnya Yesus bukan sedang mendemonstrasikan hal itu. Yang Yesus mau demonstrasikan adalah  bahwa Israel itu anak-anak Allah dalam Perjanjian Lama --bahkan disebut allah (Mazmur 82:6)-- yang total dependent dengan Bapanya, mengerjakan pekerjaan Bapa, menjadi seperti Allah. Inilah cerita anak Allah. “Kamulah allah-allah kecil”, yaitu waktu kita bersekutu dengan Allah, mengerjakan pekerjaan-Nya. Dalam Keluaran dicatat, Tuhan menjadikan Musa itu allah terhadap Firaun, karena Firaun merasa dirinya itu allah, allah palsu yang tidak ada hubungannya dengan Allah yang asli, allah yang created after the fall image of God. Tapi Musa yang mengajarkan true image of God, Tuhan katakan akan menjadi allah untuk Firaun. Ini bukan konsep yang baru, tapi orang Israel salah mengerti dan malah menuding Yesus, “Engkau pikir Engkau itu Anak Allah, Allah sendiri?”

Yesus datang untuk memulihkan cerita anak Allah. Kita adalah juga anak-anak Allah melalui adopsi, allah-allah kecil. Bukan berarti kita tidak ada perbedaan dengan Allah pencipta, tapi kita adalah anak-anak Allah, waktu kita bersekutu dengan Allah yang adalah Bapa kita di dalam partisipasi karya-Nya.

 

Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah (MS)

Gereja Reformed Injili Indonesia Kelapa Gading