Ringkasan Khotbah

16 Apr 2017 1 Korintus 15: 1-10; 47-58

Download Ringkasan
Pengharapan Paskah Vik. Jethro Rachmadi

Hari ini saya akan berkotbah tema “Kebangkitan”, tapi lebih spesifik mengenai pengharapan Kristen yang timbul karena kebangkitan Kristus. Saudara bukan cuma perlu mengerti ‘apa itu pengharapan’, tapi lebih perlu lagi mengerti ‘apa artinya pengharapan yang dibangun oleh kebangkitan Kristus bagi hidup Saudara dan saya’. Mengapa ini penting? Kalau ada 2 orang bekerja dalam pekerjaan yang persis sama --suatu pekerjaan yang tidak enak misalnya cuci WC-- dan bos mereka sama-sama jahat, jam kerjanya sama-sama panjang sekali, lalu orang yang satu dijanjikan uang 10 juta setelah 10 tahun sedangkan yang satunya lagi dijanjikan 10 M, maka Saudara akan langsung ngeh betapa akan berbedanya dua orang ini waktu bekerja. Yang satu mungkin tidak tahan setelah 3 bulan, satunya lagi mungkin siul-siul sambil kerja. Mengapa bisa yang satu mendekati pekerjaannya dengan begitu putus asa, sementara satunya lagi dengan optimisme? Yaitu karena ada masa depan, ada pengharapan.

Kita sering terlalu meremehkan berapa besar pengaruh dari apa yang kita percaya sebagai masa depan kita, bagi hidup kita hari ini. Manusia bukan makhluk yang tidak memperhitungkan masa depan. Kita senantiasa melihat ke depan. Hidup kita di masa sekarang sangat dipengaruhi oleh apa yang kita percaya sebagai masa depan kita. Vikaris Heru pernah memberi contoh yang sangat bagus. Anaknya, yang masih kecil itu, dia beri roti. Tapi kemudian dia meminta supaya roti itu diberikan ke temannya, dan tak disangka anak itu lansgung memberikan. Lalu Vikaris Heru tanya, “Mengapa kamu mau berikan roti itu?” Anaknya jawab, “Karena nanti Papa pasti belikan aku yang baru.“  Itulah pengharapan. Pengharapan yang Saudara miliki akan menentukan sekali bagaimana Saudara hidup hari ini.

Orang-orang Kristen di abad pertama penuh dengan pengharapan. Mereka orang-orang yang dianiaya, tapi kita tidak pernah mendengar cerita orang-orang Kristen di abad pertama melakukan terorisme. Mengapa? Apakah semata karena mereka orang-orang yang lebih kalem, tidak beringas? Tentu tidak. Salah satu faktornya karena mereka menyembah Allah yang bukan allah pembalas dendam, melainkan Allah yang mati di kayu salib bagi musuh-musuh-Nya. Faktor yang tidak kalah pentingnya adalah karena mereka memiliki pengharapan. Pengharapan akan penghakiman terakhir, bahwa pada akhirnya ada Hakim yang agung itu yang akan menghakimi seluruh ciptaan-Nya, yang akan meluruskan segala ketidak-adilan, maka hari ini saya tidak perlu jadi hakim. Kalau Saudara hari ini memendam dendam, ingin balas dendam, tidak bisa mengampuni, mungkin itu tanda Saudara tidak sedang menghidupi pengharapan Kristen. Kita perlu mempelajari pengharapan yang dibawa oleh kebangkitan Kristus ini. Jemaat mula-mula bisa yakin akan masa depan mereka dan segala sesuatu yang jadi pengharapan mereka, adalah karena kebangkitan Yesus Kristus.

Kita akan membahas 2 bagian --bagian awal dan bagian akhir-- dari 1 Korintus pasal 15 yang pada dasarnya seluruhnya membahas mengenai kebangkitan. Kalau Saudara mau punya pengharapan, Saudara perlu tahu 2 hal: pengharapannya apa,  tapi sebelumnya Saudara perlu tahu juga bagaimana bisa yakin bahwa pengharapan ini riil. Dalam 1 Kor 15 ini Paulus men-struktur-kan tulisannya secara demikian: di bagian akhir, Paulus memberitahukan kalau kamu orang yang punya pengharapan, hidupmu akan seperti ini; dan di bagian awal, Paulus memberitahukan bahwa kamu bisa percaya kepada pengharapan ini, bisa percaya bahwa Kristus telah bangkit, dan inilah alasan-alasannya.  Dan kita akan melihat hal itu hari ini: “apa alasannya”, “bagaimana Saudara dan saya bisa yakin akan kebangkitan Yesus dari Nazaret”. Dua tahun lalu kita sudah membahas pertanyaan ini, tapi hari ini saya akan bicarakan 2 argumen yang belum dibicarakan.

Hal yang sering dikemukakan sebagai sanggahan di abad 21 untuk menolak kebangkitan Yesus, kira-kira sbb.: ‘Orang-orang di abad pertama bisa percaya akan kebangkitan karena memang pada waktu itu world view mereka terbuka akan hal-hal  berbau mistik seperti ini. Mereka itu hidup di zaman yang percaya dewa-dewi, jadi tidak terlalu jauh untuk percaya orang bisa bangkit dari kubur. Sedangkan kita hari ini sudah hidup di zaman scientific, sudah lebih maju dalam pengetahuan, dan  kita tahu orang mati itu tidak bangkit.’ Bagaimana kita meresponi keberatan seperti ini?

Jawabannya sederhana: Argumen ini sepertinya peka terhadap situasi kondisi abad pertama, apa yang mereka percayai atau tidak percayai, tapi sesungguhnya argumen ini memperlihatkan ketidak-tahuan kita akan konteks zaman itu. World view di abad pertama yang mendominasi adalah dari Yunani yang dibawa oleh Kerajaan Romawi. Mereka ini memandang tubuh sebagai sesuatu yang kotor, dan kematian adalah terbebasnya jiwa dari penjaranya yaitu tubuh. Oleh karena itu, kebangkitan badani tidak mungkin dimengerti sebagai sesuatu yang positif yang kita inginkan, karena bangkit dari mati itu ibarat  sudah berhasil keluar dari penjara lalu dijebloskan lagi ke dalam penjara. Itulah world view Yunani pada waktu itu; tidak ada orang Yunani yang akan menganggap kebangkitan tubuh sebagai sesuatu yang positif.

Memang betul orang Yahudi tentunya tidak seperti itu, mereka percaya bahwa Allah mereka bukan allah yang anti materi, kitab suci mereka mengatakan bahwa Allah-lah pencipta materi, dan Allah itu adalah Allah yang bekerja dengan tangan-Nya di tanah. Dan karenanya mereka percaya suatu hari Allah akan datang merestorasi semua ciptaan, oleh karena itu satu-satunya cara adalah dengan menghancurkan kematian, yang berarti membangkitkan semua  orang yang mati. Tapi, konsep kebangkitan orang Yahudi ini adalah kebangkitan pada akhir zaman, kebangkitan yang universal, berbarengan, bukan bangkit sendiri-sendiri di tengah sejarah lalu mati lagi. Itu jugalah sebabnya waktu Yesus bicara tentang Lazarus akan bangkit, Marta mengatakan, ‘aku tahu Tuhan, dia akan bangkit di akhir zaman’. Seorang rabi Yahudi yang diwawancara di TV, waktu ditanya ‘mengapa engkau tidak percaya Yesus dari Nazaret itu adalah Mesias’, jawabannya adalah sesuatu yang exactly menunjukkan alasan orang Yahudi tidak percaya kebangkitan Yesus. Dia menjawab: “Ya, tidak mungkinlah Yesus itu Mesias, karena bukankah hari ini kematian tidak berhenti? Hari ini masih ada penyakit, hari ini ketidak-adilan masih tetap berlangsung, maka mana mungkin Yesus itu bangkit? Mana mungkin Dia sungguh-sungguh Mesias?“ Itulah kira-kira alasannya. Bukan orang Yahudi tidak percaya kebangkitan, tapi  yang mereka percaya adalah kebangkitan di akhir zaman. Sedangkan kebangkitan satu orang di tengah-tengah sejarah tanpa dibarengi restorasi seluruh ciptaan, itu tidak masuk dalam   konsep mereka.

Selain itu, dari beberapa sejarawan seperti Josephus,  kita tahu bahwa pada abad pertama itu ada cukup banyak sekte lain yang mengaku pimpinan mereka adalah Mesias; dan semua sekte ini berakhir dengan kematian pemimpinnya di tangan Romawi, karena dianggap pemberontak. Yang aneh, seandainya orang pada waktu itu sangat terbuka akan kebangkitan, bagaimana bisa tidak satupun dari sekte-sekte ini yang mengklaim pemimpin mereka bangkit dari kubur. Mengapa? Karena mereka sudah tahu, tidak akan ada yang percaya.

Intinya, pada waktu itu orang tidak lebih terbuka terhadap kebangkitan daripada kita sekarang; mereka sama tertutupnya. Jangan lupa, waktu Yesus bangkit dan menampakkan diri kepada murid-murid, dikatakan bahwa mereka itu terkejut, tidak menyangka. Lukas mencatat, pikiran pertama mereka waktu melihat Yesus, mereka menyangka sedang melihat hantu. Tidak ada  dari mereka yang percaya bahwa ada kebangkitan seperti itu. Tidak ada yang respon pertamanya adalah “horee..!!” lalu tepuk-tepuk bahu Yesus sambil berkata ‘gua tahu Lu pasti bisa, welcome back’.  Mengapa? Karena kebangkitan orang mati adalah sesuatu yang sama mustahilnya dalam world view mereka pada waktu itu, seperti kita juga di zaman scientific ini.

Hal kedua yang kita bisa mention dari ayat-ayat 4-8, kita melihat bahwa Paulus mengatakan tentang adanya saksi mata kebangkitan Kristus. Ada yang pengalamannya one-on-one, ada yang berbarengan, ada juga dalam kelompok cukup besar sekitar 500 orang. Paulus juga menambahkan catatan kecil di ayat 6, bahwa waktu dia menulis surat ini, kebanyakan orang-orang dalam kelompok 500 itu masih hidup meskipun beberapa telah meninggal. Mengapa perlu catatan ini? Karena kalau Saudara mau menipu dengan mengklaim suatu kejadian historis padahal sebenarnya tidak pernah terjadi, itu berarti Saudara harus menunggu sampai semua saksi mata meninggal. Kalau ada saksi mata yang masih hidup, tipuan itu akan dengan sangat mudah dicek. Dan juga, pada zaman itu seandainya Saudara mau membuat kisah palsu mengenai satu kejadian sejarah, Saudara tidak akan memilih 3 wanita untuk menjadi saksi pertama karena wanita pada zaman itu tidak diperbolehkan jadi saksi dalam pengadilan. Jadi, bagaimana orang-orang di abad pertama bisa yakin akan kebangkitan Yesus; apakah karena mereka lebih terbuka terhadap kebangkitan orang mati daripada kita? Tidak. Apakah karena mereka tertipu? Jelas juga tidak.
Mereka rela mati bagi hal ini. Mungkin Saudara pikir para teroris juga rela mati. Tapi, teroris rela mati karena kematiannya akan mematikan banyak musuh mereka dan menebar teror di dalam lebih banyak orang lagi; mereka itu bukan rela mati melainkan rela membunuh orang lain. Sedangkan sejarah mencatat orang Kristen mati untuk hal apa; mereka tidak melakukan terorisme, mereka tidak melakukan perang gerilya. Ada catatan sejarah dari seorang saksi mata yang melihat wabah penyakit menyerang kota tempat orang Kristen tinggal. Orang-orang itu merawat bukan hanya sesama orang Kristen yang sakit, tapi juga yang non Kristen, sampai sembuh. Dan selama dirawat, mereka ini menulari orang-orang Kristen yang merawat sehingga orang-orang Kristen itu yang akhirnya mati. Mengapa mereka rela mati bagi hal ini jika ini bukan kebenaran? Ini hal yang sangat praktis.

Maukah Saudara memiliki apa yang mereka punyai? Maukah Saudara jadi orang yang punya pengharapan  dalam hidupmu? Hari ini kita tidak menghadapi singa dan aniaya, tapi ketika dokter mengatakan ada tumor dalam tubuh Saudara, bagaimana Saudara menghadapi hal ini? Bagaimana Saudara bisa kuat menghadapi penderitaan? Saudara perlu pengharapan. Inilah poin-nya: orang-orang Kristen di abad pertama mendapatkan pengharapan ini bukan lewat hal-hal mistik, bukan melalui bertapa, bukan dengan buta terhadap fakta, tapi justru dengan membiarkan fakta menantang world view mereka, menantang apa yang mereka percayai. Orang-orang Kristen di abad pertama percaya akan kebangkitan Kristus justru lewat berpikir.

Satu lagu berjudul “He Lives” --lagu yang bagus-- di bagian akhirnya ada kalimat “Kamu tanya bagaimana saya tahu Dia hidup? Dia hidup dalamku!” Memang itu positif, dalam arti salah satu bukti terbesar bahwa Kristus sungguh bangkit adalah Saudara menghidupi kehidupan yang Kristiani. Itu jelas. Tapi seringkali akhirnya lagu itu seolah mengatakan, ‘aku ‘gak tahu jawabannya kenapa, gua ‘gak bisa kasih tahu alasan rasionalnya kenapa percaya Yesus bangkit, pokoknya Dia hidup dalam diriku, pokoknya Dia bangkit dalam hatiku’. Itu yang harus kita hindari karena iman Kristen bukan seperti itu, iman Kristen bukan iman yang unreasonable. Waktu Saudara menghadapi orang yang tidak percaya kebangkitan Kristus, dan Saudara menceritakan alasan-alasan yang dikatakan Alkitab tadi, akan ada yang mengatakan, “Yah, yang kamu katakan sangat meyakinkan, tapi saya tetap memilih untuk percaya bahwa ada penjelasan lain bagi semua ini, yang hari ini belum saya temukan”. Orang yang mengatakan seperti ini, justru mungkin dia yang punya iman buta. Iman Kristen tidak pernah tanpa alasannya. Jangan pernah berpikir bahwa iman yang percaya Kristus bangkit adalah iman yang tanpa alasan. Kita justru mengerti hal ini, karena kita berpikir. Itu bagian yang pertama.

Bagian yang kedua, dari pasal yang sama ayat 47-58, khususnya akan kita soroti ayat 54-58. Dua tahun lalu kita sudah membahas makna dari pengharapan kebangkitan Kristus, Kristus yang akan merestorasi seluruh alam. Hari ini kita akan bicara 2 hal yang lain.

Yang pertama bahwa kebangkitan Kristus itu membawa pengharapan, pengharapan bahwa sengatan maut telah tumpul, “Hai maut, di manakah sengatmu?” (ayat 55). Waktu Paulus menggunakan kata ‘sengat’ --bukan ‘gigitan’-- ini bukan sekedar supaya lebih puitis tapi istilah yang sangat tepat. Sengat tentu datangnya dari gigitan. Tapi yang berbahaya dalam sengatan, bukanlah gigitannya melainkan racun yang dibawa oleh gigitan tersebut. Oleh karena itu yang mengerikan dari kematian bukanlah kematiannya, melainkan sengatan dari kematian; dan sengatan dari kematian ini adalah dosa; dan kuasa dari sengatan tersebut (dosa tersebut) adalah hukum Taurat. Apa artinya ini? Kira-kira kita bisa menjelaskannya seperti ini: coba Saudara pikir, sesungguhnya apa sih yang membuat manusia takut, jijik, dan sebisa mungkin menghindar dari kematian? Epicurus, seorang filsuf Yunani, mengatakan bahwa seandainya Saudara sungguh-sungguh tahu kematian itu benar-benar pasti adalah akhir dari hidup --maksudnya setelah itu tidak ada apa-apa lagi-- maka tidak ada alasan untuk takut kematian. Karena waktu saudara hidup berarti Saudara tidak sedang berada dalam maut, sehingga apa yang perlu ditakutkan; dan ketika Saudara mati/habis lenyap/punah, Saudara juga tidak akan takut karena tidak ada diri Saudara lagi yang akan merasa takut itu. Jadi tidak ada problem sebenarnya jikalau kematian itu benar-benar akhir dari segala sesuatu. Maka menurut Epicurus, problem dari kematian --kita begitu takut akan kematian-- bukan disebabkan karena kita berpikir kematian itu akan mengakhiri kita, tapi kita takut kematian justru karena kita tidak yakin bahwa kematian adalah akhir dari segala sesuat. Maksudnya, kematiannya sendiri bukanlah hal yang paling mengerikan jikalau itu hanya mati, yang berarti hanya gigitan tanpa sengat. Tapi sengatan dari maut --racun yang mematikan itu-- adalah yang justru akan datang setelah kematian, yaitu tuntutan hukum Taurat, menurut Paulus.

Ada kalimat klise yang sering diulang di film-film: ‘Sebelum Saudara mati, Saudara melihat kilasan seluruh hidupmu lewat di depanmu’. Hal itu sepertinya begitu universal, tapi apakah benar otak kita punya mekanisme otomatis yang waktu kita sudah hampir mati akan me-review seluruh hidup kita seperti itu? Saya tidak merasa hal itu benar, tapi saya baca satu hal yang cukup menjelaskan alasan adanya kalimat seperti itu yaitu bahwa kalimat tersebut adalah kalimat kiasan. Kalimat itu secara sederhana berarti ketika manusia berhadapan dengan situasi yang dia rasa ‘mungkin dia akan mati’, maka secara refleks kita akan sadar bahwa kita belum hidup sebagaimana mestinya, hidup kita selama ini masih belum cukup baik. Dari pengalaman, Saudara tentu tahu bahwa jika Saudara sadar akan dihakimi --entah itu oleh hakim, atau orangtua, atau pacar, dsb.-- maka sebelum Saudara masuk ke dalam penghakiman itu, Saudara sudah menghakimi diri sendiri berkali-kali. Kesaksian orang-orang yang hampir mati tapi tidak jadi, mereka mengatakan adanya hal seperti ini; ada suatu sense penghakiman, yang mungkin manifestasinya berupa ingatan momen-momen dalam hidup yang mebuat malu, yang selama ini ditutupi. Itulah mungkin sebabnya orang mengatakan: “Before you die, your whole life flashes before your eyes”. Dari perenungan itu, kita tahu artinya ketakutan akan kematian. Itu bukan ketakutan akan kematiannya, karena itu hanya gigitan; yang mengerikan adalah secara insting kita semua tahu hal yang akan datang setelah gigitan tersebut, yaitu racun yang bernama dosa, yang mendapatkan kuasanya lewat tuntutan hukum Taurat. Maka, waktu Paulus mengatakan bahwa kematian bagi mereka yang percaya kepada Kristus yang mati dan bangkit, kini hanyalah gigitan tanpa sengat karena memang ada penghakiman namun Yesus telah menerimanya bagimu, apakah Saudara bisa melihat bobot perkataan Paulus ini? Apakah Saudara melihat dampaknya kepada hidupmu jika engkau sungguh-sungguh berpengharapan seperti ini?

Di Taman Getsemani Petrus menghunus pedang menetakkan telinga seorang hamba, lalu Yesus berkata, “Sarungkan pedangmu itu, bukankah Aku harus minum cawan yang diberikan Bapa kepadaku. “ Apa artinya? Yaitu bahwa Yesus sedang mengatakan ‘Aku datang bukan untuk membawa penghakiman tapi menanggung penghakiman; Aku datang bukan untuk membawa pedang tapi menerima tusukan pedang’. Lalu apa hubungannya dengan kebangkitan? Kebangkitan adalah satu hal yang seringkali kita tidak mengerti. Kita mengatakan, yah, kematian Yesus bagi saya, saya ngertilah artinya apa, tapi kebangkitan Yesus saya tidak terlalu ngerti apa efeknya, ya, pokoknya Dia akan merestorasi seluruh alam. Sesungguhnya artinya lebih personal daripada cuma itu; kebangkitan adalah ‘bon/bukti pembayaran’. Contohnya, seseorang masuk penjara dihukum 10 tahun karena kejahatannya. Lalu ppa yang akan jadi bukti bahwa dia telah selesai/lunas membayar kejahatannya? Maka ‘bon’-nya adalah ketika dia keluar dari penjara; itu adalah bukti bahwa dia sudah membayar lunas hutangnya/tanggungannya, dan bahwa penjara tidak lagi punya kuasa atas dirinya. Saudara, apa upah dosa kita? Yaitu maut. Maka ketika Kristus turun ke dalam alam maut, Dia membayar dosa kita; lalu ketika Dia bangkit keluar dari alam maut, itu berarti Dia telag membayarnya secara lunas. Kebangkitan Yesus itu membuktikan bahwa Dia telah membayar lunas seluruh dosa-dosa kita. Itu sebabnya Paulus bisa mengatakan “hai maut, di manakah sengatmu?”. Itu sebabnya dia bisa mengatakan, “Bagiku hidup adalah Kristus, dan mati adalah keuntungan.” Dia bisa mengatakan seperti itu karena dia menyimpan ‘bon’ itu. Mengapa Saudara menyimpan bon waktu belanja? Karena jika Saudara dicurigai waktu keluar dari toko, bon itu jadi bukti bahwa Saudara sudah membayar lunas belanjaan tersebut. Inilah cara Paulus mengatakan bahwa kematian tidak lagi bisa mematikanmu, racunnya sudah dibuang, kematian memang akan menggigitmu, tapi kematian tidak lagi berkuasa mematikanmu; faktanya bagi orang Kristen kematian hanya akan membuat engkau jadi lebih agung. Itu pengharapan yang pertama, jika Saudara berpengharapan kepada Kristus yang telah bangkit. Jikalau Dia tidak bangkit, imanmu sungguh sia-sia karena itu berarti sampai sekarang Dia masih membayar dosamu yang tidak lunas-lunas itu. Maka ketika Dia bangkit, peganglah ‘bon’ itu.

Yang kedua, "Maut telah ditelan dalam kemenangan” (ayat 54). Perhatikan kata yang digunakan, ini bukan sekedar kata-kata yang puitis tapi Saudara perlu melihat persis artinya. Paulus tidak mengatakan bahwa kemenangan Yesus itu menghapus atau meniadakan maut, tapi bahwa kemenangan Yesus itu menelan maut. Ini penggambaran yang berbeda. Misalkan Saudara sedang makan malam, makanannya cukup banyak dan enak. Saudara makan sampai kenyang, lalu masih ada sepotong daging sisa, sayang jika tidak dimakan tapi sudah kenyang. Maka ada 2 kemungkinan: Saudara membuang atau memakan daging itu. Waktu akhirnya Saudara menelan daging itu, daging itu akan jadi bagian dari tubuhmu dan akhirnya memperkuat, meski tadinya waktu menghabiskan terasa seprti siksaan, tidak enak. Itulah gambaran yang diberikan di sini. Kemenangan Yesus atas kematian --yaitu kebangkitan-Nya-- itu tidak pernah dijanjikan hanya sekedar penghapusan maut. Kebangkitan tidak pernah dijanjikan hanya sekedar  terhiburnya Saudara atas penderitaan atau terhapusnya penderitaan dalam hidup Saudara. Kebangkitan adalah kemenangan yang mengatakan bahwa penderitaan maut itu ditelan! Dan itu berarti waktu Saudara  mengalami penderitaan dalam hidup ini, waktu Saudara mengalami maut, pada akhirnya malah maut dan penderitaan itu menjadi bagian dalam hidupmu yang menghidupkanmu, yang memperkuat dirimu.

Dalam Alkitab tentu kita menemukan kisah-kisah orang dlepaskan dari penderitaan; tapi  itu biasanya juga cuma temporer. Yang Saudara akan temukan terus-menerus, lagi dan lagi, adalah kisah-kisah ketika bukan hanya Allah menyelamatkan umat-Nya dari penderitaan tapi Allah menyelamatkan umat-Nya justru melalui  penderitaan. Pernah dalam hidup papa saya ada satu momen krisis, yang terjadi bukan karena kesalahannya. Dia minta Tuhan melepaskan dari krisis tersebut, dan mengajak keluarganya mendoakan. Setelah berkali-kali doa dan krisis tidak lewat-lewat, suatu malam waktu giliran saya mendoakan, saya ingat Yusuf yang di Alkitab (karena papa saya namanya Yusuf Rachmadi). Kisah Yusuf bukanlah kisah dia dilepaskan dari penderitaan, tapi justru keselamatan bagi sebuah bangsa --dan Yusuf sendiri tentunya--  yang datang melalui penderitaannya. Maka saya berdoa minta Tuhan memimpin Yusuf Rachmadi sama seperti Dia telah memimpin Yusuf anak Yakub; bukan lepas dari penderitaan, jika itu bukan kehendak Tuhan, tapi justru boleh diselamatkan melalui penderitaan. Selesai berdoa, wajah papa saya tetap berkerut --penderitaannya tidak hilang begitu saja-- tapi ada semacam cahaya yang lain. Setelah itu dia masih menderita, tapi menderita dengan pengharapan. Saya rasa beginilah harusnya kita berdoa. Selama ini waktu mendoakan orang sakit, mungkin Saudara hanya terpaku pada 2 pilihan: kita ngotot minta kesembuhan (lalu merasa tidak enak sendiri)  atau kita jadi orang yang ‘segala sesuatu terserah kehendak Tuhan, sembuh bagus, tidak sembuh juga bagus’ (lalu merasa tidak enak terhadap orang yang kita doakan). Tapi, kebangkitan Yesus itu merombak pengotak-ngotakan ini. Kebangkitan Yesus membuktikan kepada kita bahwa Allah sungguh mengalahkan maut dan penderitaan, dan caranya bukan dengan menghapuskan tapi menelan maut dan penderitaan; karena itu berarti Dia berkuasa bukan hanya ketika penderitaan dibuang ke tong sampah melainkan Dia tetap berkuasa meskipun maut dan penderitaan masuk ke dalam tubuh-Nya.

Di STT, beberapa dari kami suka main bola di komputer (game FIFA, dsb.). Permainannya cukup kompetitif, kadang-kadang saya menang, kadang-kadang dia yang menang, jadi mainnya seru bisa sampai teriak-teriak. Dari pengalaman-pengalaman ini kami belajar satu hal: pada akhirnya, kalaupun kami yang menang setelah lawan dapat kartu merah dan kena penalti, itu tidak terlalu bangga rasanya; justru ketika lawan kena kartu merah, kami jadi ketar-ketir bagaimana jika kami yang kalah, muka mau taruh di mana. Dan memang ada saat-saat yang justru kita kena kartu merah, kena penalti, tapi menang. Rasa bangganya luar biasa. Mengapa kita lebih bangga waktu menangnya 10 lawan 11 dibandingkan kalau menang 11 lawan 11? Karena ini kemenangan yang lebih total, membuktikan bahwa kemenangan kita itu lebih asli, bukan karena kita lepas dari segala kesulitan, bukan karena posisi kita menangnya 11 lawan 1, bukan karena kiper-nya dihilangkan, tapi justru karena kita berhasil menelan dia, kita lebih besar daripada dia; yang tadinya adalah kesulitan bagi kita malah akhirnya memperkuat kita, menjadikan kita lebih agung, lebih besar. Dan Saudara bisa percaya ini bukan cuma berlaku di game FIFA  tapi juga di hidupmu. Mengapa Saudara bisa percaya itu? Karena  mujizat terbesar yang keluar dalam diri Kristus bukanlah keluar pada waktu Dia sehat walafiat, melainkan justru ketika Dia menderita dan mati di atas kayu salib.

Satu komentar sederhana dan saya harap kontekstual, yaitu soal Pilkada. Semua orang kirim WA “berdoa bagi Pilkada”. Saya tidak masalah dengan itu, tapi pertanyaanya: Apa yang Saudara doakan dalam Pilkada ini? Kita semua sering berdoa seperti ini: ‘kiranya Tuhan memilih orang yang jujur, kiranya Tuhan memakai orang yang adil, kiranya Tuhan memenangkan orang yang bekerja untuk melayani masyarakat, membawa keadilan, menjauhkan korupsi, membawa manfaat bagi bangsa dan negara’. Saya mau tanya, jikalau Saudara hanya berdoa seperti itu, apa yang akan terjadi dalam hidupmu  jika yang terpilih ternyata yang menurut Saudara tidak seperti yang didoakan tadi? Saudara tentu akan merasa Allah tidak peduli, Allah meninggalkan, meski mungkin juga Saudara tidak sadar merasa seperti itu. Tapi akuilah, banyak dari kita hari ini bahkan tidak ingin berdoa untuk Pilkada, mengapa? Bukankah itu disebabkan oleh karena doa-doa Saudara di masa lampau adalah doa-doa yang seperti tadi, ‘Tuhan tolong supaya ada keadilan, ada kejujuran, kebaikan bagi bangsa negara ini’, lalu sepertinya Tuhan tidak pernah menjawab, penderitaan dan ketidak-adilan tetap berjalan, sehingga Saudara mulai merasa tidak ada gunanya berdoa. Itu tidak heran, karena Saudara berdoanya salah. Saudara tidak  berdoa dengan pengharapan yang diberikan Tuhan lewat kebangkitan-Nya. Kalau Saudara berdoa dengan pengharapan itu, Saudara akan berdoa seperti ini: “Tuhan, Bapa di surga, oleh karena kebangkitan Kristus aku sekarang tahu, yakin, dan aku melihat sendiri ‘bon’-nya, bahwa Engkau adalah Allah yang mampu untuk membawa keindahan yang terbesar keluar justru dari kejahatan yang paling keji. Bahwa Engkau adalah Allah yang mengerjakan pekerjaan terbesar-Mu bukan ketika Engkau membuka langit dan mendeklarasikan ‘inilah Anak-Ku yang Kukasihi’ tapi justru ketika Yesus berteriak ke langit yang gelap gulita ‘AllahKu, AllahKu, mengapa Engkau meninggalkan Aku’. Oleh karena itu, aku percaya dan aku sekarang berdoa bukan untuk Engkau memberikan yang terbaik --aku tahu Engkau akan memberikan yang terbaik karena Engkau lebih tahu apa yang aku perlu dibandingkan aku sendiri-- tapi aku percaya dan berdoa, apapun yang terjadi berikutnya, kemuliaan-Mu boleh dinyatakan, dan jikalau kemuliaan-Mu dinyatakan lebih jelas, lebih besar, lebih agung, lewat paslon yang bukan pilihanku, jadilah kehendak-Mu”.

Sama seperti Yusuf anak Yakub, sama seperti Yusuf Rachmadi papa Jethro, sama seperti Kristus Yesus, sama seperti orang-orang lain, dan sama seperti pengalaman hidup Saudara, maut /penderitaan telah ditelan oleh karena kemenangan Yesus; dan oleh karena itu meskipun hari ini Saudara dan saya mengalami penderitaan, penderitaan akan tertelan dan malah akhirnya menjadikan engkau lebih kuat, lebih bertumbuh, lebih agung. Itulah  harapannya. Sekarang, pergilah dan hidupilah pengharapan itu, karena Kristus Yesus telah bangkit.

 

Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah (MS)

Gereja Reformed Injili Indonesia Kelapa Gading