Ringkasan Khotbah

07 May 2017 1 Korintus 11: 17-34

Download Ringkasan
Perjamuan Kudus Pdt. Billy Kristanto

Hari ini kita merenungkan tentang Perjamuan Kudus, dari 1 Kor 11: 17-34; LAI memberi judul “Kebiasaan-kebiasaan yang salah dalam perjamuan malam”. Dalam kepercayaan iman Protestan, waktu para reformator membicarakan Gereja yang sejati, mereka memberikan tanda-tanda (the true marks of the church/notae ecclesiae), biasanya 2 yang disebut (mengikuti Gereja mula-mula), yaitu pertama: Firman (pemberitaan Firman yang benar), kedua: Sakramen (menjalankan sakramen dengan benar). Memang dalam hal ini masing-masing denominasi ada perbedaan pengertian sakramen, misalnya Roma Katholik percaya lebih dari 2 sakramen sedangkan kita mengakui 2 sakramen; dalam konteks zamannya Luther dan Calvin.Sekarang kita punya konteks yang lain lagi dalam mengerti makna Perjamuan Kudus. Pengertian yang salah tentang Perjamuan Kudus mengakibatkan waktu menjalankan juga secara salah; dan pengertian yang salah ini bagi para reformator menunjukkan bahwa itu bukan Gereja yang sejati/benar. Saya tidak akan membahas pandangan para reformator --yang mereka sendiri juga ada perbedaan-perbedaan-- tapi kita akan membahas dari Alkitab.

Dalam bagian ini, kita tertarik dengan cara Paulus merelasikan urusan sehari-hari yang sepele --“cuma soal makan saja”-- yang kemudian dengan begitu serius dikaitkan dengan Perjamuan Kudus, teologi salib, Kristologi, dsb.  Paulus bukan hamba Tuhan yang over sensitive, yang segala sesuatu dibawa ke dalam urusan teologi, tapi justru memberikan teladan. Kalau kita bisa berpikir seperti Paulus ini, maka kemungkinan dualisme dalam kehidupan orang Kristen kecil sekali karena segala sesuatu di-integrasikan secara teologis. Orang kadang-kadang complain bahwa membahas doktrin itu kurang relevan dan kurang bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari,  lebih suka mendengar kotbah-kotbah yang praktis, wejangan tentang kehidupan, dst. yang sepertinya lebih bisa dicerna. Mungkin pertimbangannya bukan mereka tidak bisa mencerna atau waktu diajarkan doktrin tidak mengerti,  tapi bahwa bagaimanapun seperti ada gap, doktrin ini bagus, tapi lalu apa hubungannya dengan kehidupan saya?? Keadaan seperti ini bermasalah, karena kalau kita baca Alkitab, penulis-penulis itu bisa dengan lincah bergerak dari soal hidup sehari-hari ke peninjauan secara teologis, lalu kembali lagi ke kehidupan sehari-hari; inilah integrasi. Tapi kita tidak berpikir secara integrasi, kehidupan kita mungkin agak fragmented juga, dan akhirnya kita tidak bisa mendapatkan manfaat atau keuntungan waktu mendengarkan pembahasan-pembahasan doktrinal karena menurut kita tidak ada hubungannya dengan kehidupan. Padahal dalam hal ini yang gagal adalah kita; kita tidak bisa merelasikan doktrin dengan kehidupan sehari-hari. Pembahasan Allah Tritunggal, ya, Allah Tritunggal, tapi kalau Allah Tritunggal dikaitkan dengan cara saya shopping, apa urusannya??Apa ya ada Trinitarian Theology of shopping?? Lalu bagi kita jadinya nonsense ngomong begini, Allah Tritunggal kita tahu rumusannya, tapi shopping itu urusan yang lain lagi; padahal harusnya ada kaitannya. Hal yang lain lagi, kita percaya dua natur Kristus --natur manusia sepenuhnya, natur Ilahi sepenuhnya, tidak bercampur, tidak berbaur, dst.-- tapi lalu apa hubungannya dengan cara saya bekerja? Kalau penghayatannya seperti ini: ‘ya, tidak ada hubungannya, itu cuma sekedar pengakuan tentang Kristologi yang jangan sampai salah’, maka pantasan saja orang merasa sia-sia belajar doktrin karena tidak bisa dijalankan dalam kehidupan sehari-hari. Tapi kalau kita membaca perikop di bagian ini, bagi Paulus urusan makan adalah urusan Kristologi, urusan makan sendiri tidak menunggu orang lain adalah pelanggaran terhadap spirit Perjamuan Kudus.

Waktu kita membahas Perjamuan Kudus, memang poinnya bukan cuma yang dicatat dalam perikop ini, tapi khususnya kita akan konsentrasi pada yang dibahas di sini. Pergumulan dari jemaat Korintus adalah adanya perpecahan. Dan perpecahan akhirnya ini turut mewarnai sikap mereka makan dan juga pengertian mereka tentang Perjamuan Kudus. Perpecahan tersebut sudah ada sejak di pasal 1 yaitu adanya favoritisme; mereka terpecah-pecah, ada yang mengaku kelompok Paulus, kelompok Apolos, kelompok Kefas, bahkan yang paling arogan menyebut dirinya kelompok Kristus. Mereka tidak bersekutu satu dengan yang lain, tidak menceriminkan satu tubuh Kristus melainkan seperti tubuh yang terpecah-pecah.

Demikian di ayat 17-18 kita membaca bahwa Paulus mendengar, dan sedikit banyak dia percaya, ‘ada perpecahan di antara kamu’.  Tapi ini perpecahan yang lain lagi. Kalau kita rekonstruksi konteks pada saat itu, sepertinya ada kelompok jemaat yang sederhana --mungkin budak-budak yang harus bekerja berat  dan tidak terlalu punya banyak uang-- dan kelompok orang-orang merdeka, bos-bos itu. Lalu mereka berkumpul untuk makan perjamuan Tuhan, mereka bawa makanan, makan bersama-sama, kemudian mereka juga melakukan Perjamuan Kudus (kalau kita sekarang agak detached, Perjamuan Kudus itu highly liturgical dan tidak bercampur dengan acara makan biasa). Table fellowship memang penting sekali dalam budaya Israel; waktu orang makan semeja, itu menyatakan persekutuan (oleh sebab itu orang-orang Farisi tidak pernah mau makan dengan orang-orang berdosa). Jadi di sini mereka mau mengikuti Yesus, yang melakukan table fellowship dengan semua orang, tapi kenyataannya orang-orang kaya yang bawa makanan ini makan lebih dulu makanannya sendiri. Memang betul itu makanan yang mereka bawa sendiri, tapi harusnya untuk di-share sehingga yang lain juga bisa ikut makan. Budak-budak mungkin tidak bisa datang tepat waktu bukan karena sengaja telat, tapi bisa jadi karena pekerjaannya, sedangkan bos-bos ini bisa datang kapan saja. Budak-budak juga mungkin tidak bisa bawa makanan karena tidak punya cukup resources, yang bawa makanan selalu orang-orang yang kaya. Paulus tidak mempersoalkan hal ini, tidak ada isu itu sama sekali karena ‘yang diberi banyak dituntut banyak, yang diberi sedikit dituntut sedikit’ --itu prinsip Firman Tuhan-- dan dalam bagian ini soal makanan. Yang jadi masalah adalah orang-orang ini datang lalu makan tanpa menunggu mereka yang belum bisa datang.

Waktu saya kuliah di Heidelberg, saya pernah membaca artikel khusus tentang pasal 11 ini yang menjelaskan konteks pada saat itu. Lauk yang dibawa terutama ikan, dan tentu ada roti. Mereka makan dan makan sampai semua ikannya habis, dan yang tersisa roti saja waktu budak-budak itu datang. Itu kira-kira seperti Saudara diundang makan lalu telat datang, dan sisa makanan tinggal nasi, sambal, dan acar. Memang waktu budak-budak itu datang masih ada makanan, tapi tinggal roti, semua ikannya habis dimakan oleh mereka yang memang membawa ikan itu. Kalau dihitung secara perspektif individual, memang itu ikan mereka, dan mereka makan ikan yang mereka bawa sendiri itu, mereka tidak mencuri atau memeras orang lain, tapi tujuan makan di sini sebenarnya ‘sharing’. Kalau dalam Perjamuan Kudus, Yesus share tubuh-Nya sendiri yang dipecah-pecahkan/dibagi-bagikan untuk mengenyangkan banyak orang, sedangkan mereka ini katanya ikut Perjamuan Kudus, tapi hidupnya tidak bisa sharing; bukankah ini artinya tidak mengakui tubuh Tuhan? Dalam kehidupan sehari-hari tidak bisa sharing tapi ikut Perjamuan Kudus, itu dua hal yang tidak compatible.

Paulus mengatakan untuk kita menguji diri sendiri sebelum ikut Perjamuan Kudus. Pengertian ‘menguji diri’ bisa macam-macam interpretasinya. Misalnya, setelah diumumkan satu minggu sebelumnya, kita jaga diri jangan sampai melakukan dosa yang fatal, lalu banyak doa, dsb.; itu memang bagus juga dan tidak melawan Alkitab. Tapi kalau Saudara ketat dengan konteksnya, bukan hal itu yang dimaksud Paulus di sini. Ini bukan pelanggaran terhadap one of the seven deadly sins atau Sepuluh Perintah Allah atau lainnya, di sini konteksnya adalah pengkhianatan terhadap spirit Perjamuan Kudus itu sendiri. Di satu sisi, kita seperti mengakui tubuh Kristus yang dipecah-pecahkan, dibagi-bagikan, tapi kita sendiri menghidupi kehidupan yang tidak mau dipecah-pecahkan dan tidak mau dibagi-bagikan, kita makan sendiri makanan kita. Ini orang yang ikut Perjamuan Kudus tapi tidak menguji dirinya, hanya ikut-ikut saja. Kalau begini, Perjamuan Kudus jadi ritual kosong; Paulus mengatakan “akan mendatangkan hukuman dalam kehidupanmu”. Kita musti balik ke Alkitab waktu melihat Perjamuan Kudus. Perjamuan Kudus sama sekali bukan ritual kosong, bukan cuma sekedar simbol/lambang seperti diajarkan Zwingli, tapi sesuatu sedang terjadi di sini dan orang perlu menguji diri.

Di ayat 19 ada perkataan yang menakutkan waktu Paulus bicara tentang perpecahan, ‘memang harus ada perpecahan, supaya nyata nanti siapakah di antara kamu yang tahan uji’.  Perpecahan pertama adalah perpecahan yang carnal, karena favoritisme, gap orang kaya - orang miskin; ini perpecahan yang akan dibereskan Paulus satu per satu karena tidak sehat. Tapi di ayat 19 tiba-tiba dibelokkan ke hal lain, bahwa bagaimanapun juga akan ada perpecahan karena ada orang-orang yang tidak tahan uji; ada kelompok yang pasti akan berpisah dari jemaat yang sejati --orang-orang pilihan itu-- karena mereka tidak tahan uji. Namun kalau Saudara membaca keseluruhan tone perikop ini, Paulus sangat berpengharapan bahwa jemaat yang dilayaninya tidak seperti itu. Perpecahan tidak bisa dihindari, tapi itu bagi orang-orang yang tidak tahan uji sampai pada akhirnya, tidak ada perseverance, tidak ada kesetiaan kepada Tuhan. Itu tidak bisa diselamatkan dan juga tidak perlu diselamatkan karena bagaimana mungkin bisa mempertahankan orang pilihan - orang bukan pilihan.

Tapi Paulus bukan mau menekankan soal itu di bagian ini.Yang dia mau ajarkan adalah kalau kita menghayati Perjamuan Kudus, kita musti melihat apa yang kita lakukan sebelumnya, bukan sesudahnya; ayat 28 “Karena itu hendaklah tiap-tiap orang menguji dirinya sendiri dan baru sesudah itu ia makan roti dan minum dari cawan itu”. Menguji diri terlebih dahulu, baru sesudah itu ikut Perjamuan Kudus; bukan ikut Perjamuan Kudus dulu baru sesudah itu cek hidup saya sesuai ‘gak ya dengan Perjamuan Kudus. Itu terbalik, karena kita bukan orang yang belum percaya lalu baru percaya waktu Perjamuan Kudus, kita orang yang sudah percaya seperti jemaat di Korintus ini juga orang-orang yang sudah mengerti. Tapi mereka ternyata tidak mengerti juga di dalam hal-hal yang kelihatan sepele ini, orang bawa makanan lalu makan sampai habis sehingga yang datang terlambat tidak bisa makan; Paulus mengatakan ‘yang satu kelaparan , yang lain mabuk, kekenyangan, puas sekali’.  Paulus mengatakan di ayat 22 ‘apakah kamu tidak mempunyai rumah sendiri untuk makan dan minum?’, di sini bukan Paulus encourage orang, lu mabuk sih ‘gak masalah,  tapi poinnya adalah ini persekutuan tapi kamu hidup seperti hidup sendiri, maksudnya apa? Apakah maksudnya kamu sengaja bawa makanan untuk menunjukkan ini lho gua bisa bawa makanan, kamu ‘gak bisa kan, membawa makanan untuk menghina yang tidak bisa bawa makanan? Kalau di zaman sekarang, yang seperti itu sangat diakomodasi oleh Facebook, jeprat-jepret makanan, posting sana-sini, sampai-sampai ada orang bikin videro sindiran yang di-share di Facebook seperti ini: konteksnya abad 17-18, orang-orang di kerajaan-kerajaan waktu mau makan panggil pelukis dulu, semua makanan dilukis sampai berjam-jam, lalu kirim ke kerajaan sebelah ‘tunjukin kita makan apa!’; lalu kerajaan sebelah itu lihat makanan mereka lebih mewah, maka bikin yang lebih mewah lagi, panggil pelukis lagi, kirim  balik, dst. dst. Facebook kita sekarang isinya seperti itu, pameran makanan, siapa yang lebih mewah, siapa yang lebih punya kekayaan pengalaman kuliner, bahkan sampai ada orang yang posting breakfast-nya, lunch-nya, dinner-nya, dst. dst. setiap hari.

Kembali ke ayat 22 ‘Atau maukah kamu menghinakan Jemaat Allah dan memalukan orang-orang yang tidak mempunyai apa-apa? Apakah yang kukatakan kepada kamu? Memuji kamu? Dalam hal ini aku tidak memuji’.  Setelah itu baru Paulus masuk ke dalam perkataan-perkataan yang setiap kali Perjamuan Kudus kita baca, baik dari versi Korintus ataupun versi Lukas. Saudara perhatikan perpindahan ini, dari keseharian lalu masuk ke dalam isu Kristologis --teologi salib, Perjamuan Kudus-- yang langsung masuk begitu saja seperti tidak ada persiapan; inilah artinya orang-orang yang integrated. Kalau Saudara baca pengakuan-pengakuan dari Agustinus, dia bisa membahas doktrin dari sangat filosofis teologis lalu mendadak belok ke kalimat-kalimat pujian/doksologi, lalu masuk lagi ke percakapan teologis, dan kemudian doa. Bagi kita orang modern mungkin bingung, ini buku doctrinal, sistematic theology, atau devotional, buku pujian, atau buku doa, atau buku apa sebetulnya?? Kita terganggu sekali karena dalam our modern compartmentalization semuanya terpecah-pecah. Sistematic theology ya, sistematic theology, tidak usah ada doksologi, doa, dsb. Belajar teologi ya, belajar teologi tidak ada urusannya dengan berlutut; berlutut ya, berlutut, tidak ada urusannya dengan teologi.  Kerja ya, kerja, tidak ada urusannya dengan teologi, teologi tidak ada urusannya dengan belanja. Tapi kita tidak baca itu di dalam Alkitab. Yang kita baca justru Paulus bisa mondar-mandir dengan gampang seperti di bagian ini karena semuanya inter-connected.  Paulus membahas tentang Yesus Kristus yang pada malam waktu Ia diserahkan, Ia mengambil roti --mereka memang sedang makan-- Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata: "Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu”. Yesus memecah-mecah roti, ini menujuk kepada tubuh-Nya sendiri yang diserahkan bagi jemaat di Korintus, lalu mereka membawa makanan mereka sendiri dan mereka makan sendiri, tidak memecah-mecahkan. Kalau begini, apa hubungannya dengan Perjamuan Kudus? Bawa makanan sendiri lalu makan sendiri, tidak ada pemecah-mecahan, tidak ada distribusi, yang lain tidak dikenyangkan karena tidak dibagi juga, and yet orang-orang ini kemudian datang ke Perjamuan Kudus bersama orang-orang yang kelaparan; ini apa-apaan? Ini hidup yang schizophrenia; di satu sisi Perjamuan Kudus, tapi di sisi lain hidup seperti itu.

Mengakui tubuh Tuhan itu bukan sekedar percaya Yesus adalah Tuhan, Juruselamat, Dia mati dan bangkit pada hari ketiga, --itu semua pengakuan yang penting-- tapi Paulus masuk lebih dalam daripada itu. Bukan hanya percaya, angkat tangan menerima Yesus, tapi kemudian dalam kehidupan tidak ada life of sharing; bagi Paulus itu adalah orang-orang yang tidak mengakui tubuh Tuhan karena tubuh Tuhan yang kita percaya tidak seperti itu. Tubuh Tuhan yang dikatakan di sini adalah tubuh yang dipecah-pecah lalu dibagikan-bagikan dan mengenyangkan banyak orang. Ini tidak terjadi dalam jemaat Korintus. Orang-orang kaya yang bisa bawa makanan ini pasti bukan orang tidak percaya; kalau mereka orang belum percaya, pasti Paulus tidak bicara seperti ini. Mereka ini pastinya sudah kenal Tuhan, sudah bergereja juga, tapi tetap Paulus mengatakan kepada mereka ‘inikah cara kamu merayakan Perjamuan Kudus?’
Ayat 27 ‘barangsiapa dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan’. Dalam konteks apa mereka berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan? Yaitu dalam discrepancy --atau bahkan kontradiksi--  ini; kontradiksi bahwa kita mengakui tubuh Kristus tapi sebetulnya kita tidak bisa bersatu dengan sesama orang percaya, ada gap, ada keterpisahan, yang mungkin tidak harus berupa  sengaja menghina tapi cukup hanya dengan tidak peka. Kita tidak tahu apakah ada orang-orang dalam jemaat Korintus yang sengaja menghina atau tidak; yang ada, Paulus hanya mengeluarkan kalimat peringatan bukan kalimat judgmental. Mungkin juga waktu ditegur itu, mereka tidak sadar bahwa dengan berlaku seperti itu mereka sedang mengucilkan sebagian orang. Mereka mungkin bukan sengaja meng-exclude orang-orang itu ‘yuk kita makan sekarang mumpung mereka belum datang’, tapi simply tidak peka bahwa harusnya makanan itu dibagi-bagi. Mungkin mereka tidak sadar juga bahwa ada yang telat, belum datang, dsb. dan bahwa tidak semua orang adalah orang merdeka seperti mereka melainkan budak-budak yang tidak bisa datang sesuai jam mereka. Mereka simply tidak peka, tapi itu sudah cukup untuk merusak kesatuan tubuh Kristus. Bagi Paulus, itu artinya makan roti dan minum cawan Tuhan dengan cara yang tidak layak, berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan, karena ada kontradiksi antara Perjamuan Kudus dengan yang dihidupi sehari-hari. Maka Paulus menganjurkan ‘hendaklah tiap-tiap orang menguji dirinya sendiri dan baru sesudah itu ia makan roti dan minum dari cawan itu’ (ayat 28).

Apa artinya menguji diri sendiri sebelum kita mengikuti Perjamuan Kudus? Terutama adalah kita merenungkan, apakah dalam kehidupan kita, kita mengakui message yang mau kita sampaikan dalam Perjamuan Kudus ini, karena menurut ayat-ayat di sini waktu kita ikut Perjamuan Kudus, itu adalah pemberitaan ‘Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang’ (ayat 26). Berarti di sini ada proklamasi, bukan sekedar tindakan ikut partisipasi tapi suatu tindakan pemberitaan Firman Tuhan di dalam Perjamuan Kudus. Karena itu kita perlu menguji diri kita sendiri, yaitu kehidupan kita.

Saya pinjam perkataan Paulus yang lain waktu dia menulis kepada Timotius, “Awasilah dirimu dan awasilah ajaranmu”. Saya tertarik dengan urutan  ini, Paulus tidak mengatakan ‘awasilah ajaranmu, dan awasilah dirimu’. Saya mau sedikit menekankan urutannya, ‘bukan awasilah ajaranmu lalu coba atur juga dirimu supaya cocok juga denga  ajaranmu’, kalau seperti ini mungkin sudah terlambat, banyak tidak cocoknya. Awasilah dirimu, awasilah  ajaranmu; mengawasi diri kita, lalu dengan kehidupan yang benar kita dipercayakan Tuhan untuk bisa memberitahu orang lain. Saya bukan mengatakan bahwa kehidupan yang benar itu kehidupan yang sempurna tidak ada dosa lagi, spiritualitas Reformed tidak mengajarkan perfeksionisme, itu tidak realistis untuk dihidupi. Despite kita punya kekurangan, kelemahan, kegagalan, dsb. namun dengan kejujuran untuk menghidupi jalan Tuhan --awasilah dirimu-- baru setelah itu awasilah ajaranmu. Prinsip ini mirip sekali, dan yang menulis juga Paulus yang sama, ‘hendaklah tiap-tiap orang menguji dirinya sendiri dan baru sesudah itu ia makan roti dan minum dari cawan itu’ yang adalah kotbah, baru setelah itu memberitakan kematian Tuhan.

Kita menghidupi Perjamuan Kudus atau tidak? Yesus makan bersama orang berdosa tapi juga dengan orang-orang Farisi. Bisakah kita semeja dengan semua orang tanpa membeda-bedakan? Kita complain keadaan pasca Pilkada, kita meratap ‘koq tahun segini masih bisa dimainkan isu rasis dsb.?’, kita anggap ini tidak benar, tapi di Gereja pun sebetulnya tidak kebal dengan persoalan ini. Mungkin bukan rasis secara jelas, hanya merasa ‘saya nyaman dengan grup ini, saya tidak nyaman dengan grup itu’, apa bedanya ini dengan rasis? Memang tidak tentu pertimbangan ras atau suku, bisa saja pertimbangan hobi atau yang lain, tapi intinya tidak ada persekutuan dengan semua orang. Orang Yunani dengan orang Yunani, orang Yahudi dengan orang Yahudi, budak dengan budak, bos dengan bos, orang merdeka dengan orang merdeka. Orang merdeka tidak sadar kalau budak-budak belum datang karena memang bukan kelompoknya, tapi kalau ada orang merdeka lain yang belum datang, dia langsung peka, dst. dst. Menurut Paulus  itu adalah ‘kamu makan roti dan minum cawan Tuhan dengan cara yang tidak layak’, itu bukan mengakui tubuh dan darah Tuhan. Karena itu setiap orang musti menguji dirinya sendiri, baru sesudah itu ia makan roti dan minum dari cawan itu (ayat 27-28).

Perjamuan Kudus adalah satu pengakuan kehidupan kita. Tentu saja waktu Perjamuan Kudus Yesus mengajarkan ‘ini peringatan akan Aku’, dan mungkin ini salah satu poin yang ditekankan oleh Zwingli (dalam hal ini dia betul) yaitu kita mengingat karya Kristus. Tapi ini juga sekaligus pengakuan kita karena waktu Perjamuan Kudus kita jadi ‘semeja’, meski memang tiap gereja caranya berbeda-beda. Ada gereja yang waktu perjamuan Kudus caranya dengan jemaat maju ke depan, dan keindahannya adalah lebih ada perasaan satu lingkaran persekutuan , waktu maju ke depan itu seperti diundang. Tapi ada juga yang dibagi-bagi, dan tetap ada poin teologis yang indah karena setelah dipecah-pecahkan memang dibagi-bagi (distribute), ada yang diutus untuk membagi-bagikan, hanya saja aspek persekutuan semeja jadi kurang terakomodasi, kita jadi kurang pemahaman artinya menjadi satu meja dengan orang-orang lain yang menerima roti dan cawan itu. Kita tidak bisa menekankan semua poin dari A sampai Z komplit, karena itu sulit juga. Itu sebabnya ada yang model seperti ini dan seperti itu, masing-masing ada keindahannya asal kita mengerti keindahan apa yang mau ditekankan. Semeja berarti satu persekutuan, seperti Pengakuan Iman Rasuli “aku percaya Gereja yang kudus dan am, persekutuan orang-orang kudus (communio sanctorum/holy communion)”.  The holy communion yaitu persekutuan orang-orang kudus; persekutuan itu sendiri adalah kudus karena itu adalah persekutuan dengan Kristus, tapi juga persekutuan dengan orang-orang kudus yang lain, orang-orang pilihan.  Itu namanya mengakui tubuh Tuhan. Kalau kita bisa bebas bergaul, hati luas tidak memilih-milih, itu artinya kita mengakui tubuh Tuhan.
Karena barangsiapa makan dan minum tanpa mengakui tubuh Tuhan, ia mendatangkan hukuman atas dirinya (ayat 29). Sangat serius, dan dikatakan di sini ‘banyak di antara kamu yang lemah dan sakit, dan tidak sedikit yang meninggal’ (ayat 30). Saudara bisa bayangkan kalau Saudara undang orang makan, lalu orang itu datang telat dan Saudara makan dulu, setelah itu Saudara mati. Menakutkan sekali ikut agama seperti ini, cuma urusan saya sudah lapar, makan duluan, lalu setelah itu mati. Seperti juga waktu kita membaca Kisah Para Rasul, ada orang yang janji iman katanya memberi sekian tapi ternyata bukan segitu, apapun alasannya, lalu orang itu mati (Ananias dan Safira). Di bagian ini juga disebutkan ‘ada yang lemah, ada yang sakit’, tapi penghiburannya adalah Paulus mengatakan: ‘Kalau kita menguji diri kita sendiri, hukuman tidak menimpa kita’ (ayat 31). Kalaupun ternyata toh menerima hukuman bersyukurlah karena Tuhan mengasihi orang-orang yang dihajar dan didik-Nya, daripada tidak menerima hukuman, tidak di-disiplin, dibiarkan, lalu akhirnya dihukum selama-lamanya bersama-sama dengan dunia masuk ke dalam kebinasaan kekal. Ini mirip seperti Yohanes mengatakan kepada orang yang lumpuh ‘kamu sudah disembuhkan jangan berbuat dosa lagi supaya yang lebih buruk jangan terjadi padamu’ (maksudnya kelumpuhan kekal, kebinasaan kekal).

Menguji diri yaitu apakah kita menghidupi spirit Perjamuan Kudus atau tidak dalam kehidupan kita. Bukan cuma mengikuti Perjamuan Kudus saja, tapi menghidupi secara komunal, karena peringatannya juga peringatan bersama/komunal. Salah satu jemaat dulu berjemaat di gereja lain; gereja tersebut membagi-bagikan roti dan anggur untuk bisa dibawa pulang, sehingga setiap orang bisa Perjamuan Kudus sendiri-sendiri di rumah. Itu bukan commemoration, karena bagaimana mungkin bisa menghayati ‘tubuh Kristus’ secara sendirian? Perjamuan Kudus itu persekutuan meja; Yesus pun waktu bersekutu, Dia table fellowship with the sinners, artinya harus ada orang-orang yang dengannya Yesus bersekutu, orang-orang berdosa itu. Memang kita bersekutu dengan Yesus, tapi Paulus juga mengatakan ‘kita anggota tubuh Kristus’ berarti harus ada anggota yang lain karena jika tidak, kita bersekutu dengan siapa? Hanya dengan Yesus, Sang Kepala? Itu bukan konsep Perjamuan Kudus yang sesuai dengan Alkitab, karena Perjamuan Kudus selalu adalah a commemoration, peringatan bersama; kita tidak bisa Perjamuan Kudus sendiri. Perjamuan Kudus bukan cuma mengingat penderitaan Kristus. Kita bisa mengingat penderitaan Kristus secara pribadi, tapi kita tidak bisa Perjamuan Kudus sendiri. Itu tidak ada.

Teologi Luther sangat menekankan teologi pemberian/gift/grace; di dalam scholarship tentang teologi Luther belakangan orang mengembangkan satu pendekatan yang cukup fresh, bahwa bicara soal gift itu bukan hanya harus ada pemberinya (giver) tapi juga penerimanya (receiver). Sesuatu tidak akan jadi pemberian jika tidak ada yang menerima. Kita biasanya menekankan ‘jadilah pemberi, bukan penerima’, tapi supaya kita bisa jadi pemberi, perlu ada penerima. (Saya bukan mengatakan bahwa Tuhan sebagai pemberi sangat membutuhkan kita sebagai penerima, jika tidak Dia tidak bisa memberi. Tidak begitu; Allah itu Tritunggal, Dia bisa memberi satu dengan yang lain tanpa perlu kita). Yang mau ditekankan di sini bukan betapa signifikannya orang yang jadi penerima, melainkan prinsip relasi; ini bukan resiprokal, bukan juga one sided/ satu arah. Sama seperti itu, waktu Perjamuan Kudus  kita membutuhkan orang lain. Waktu kita mau melayani, harus ada yang dilayani juga; bagaimana jadi pelayan jika tidak ada yang dilayani? Sekali lagi, poinnya bukan betapa signifikannya orang-orang yang dilayani, tapi bahwa pada dasarnya kita tidak bisa keluar dari relasi.Tuhan pun berelasi dengan kita; the fellowship with the sinners bukanlah tanpa the sinners itu. Oleh karena itu, kembali dalam konteks ini, Yesus memecah-mecahkan tubuh-Nya kemudian dibagi-bagi, ada Giver ada receiver. Lalu kita sama-sama sebagai receiver menerima tubuh dan darah Kristus --di dalam pengertian rohani-- secara bersama, bukan ‘saya sendiri’ melainkan sebagai ‘anggota tubuh Kristus’, dan Yesus sendiri yang menjamu kita.

Terakhir, Paulus kembali lagi ke wejangan praktis, yang bisa kita gali secara dalam juga. Ayat 33 dengan tepat LAI meletakkan dalam alinea baru setelah dia bicara ayat 23-31 yang highly theological, ‘Karena itu, saudara-saudaraku, jika kamu berkumpul untuk makan, nantikanlah olehmu seorang akan yang lain. Nantikanlah, tunggu yang lain; tidak bisa menunggu adalah penyangkalan terhadap tubuh Tuhan. Gagal menanti, adalah pelanggaran terhadap teologi salib. Mereka harusnya menunggu, sederhana sekali. Kita hidup di dunia yang gerakannya cepat sekali ini, ‘seni menunggu’ makin lama makin tidak ada tempatnya, yang ada adalah ‘seni bagaimana bisa lebih cepat lagi’. Dunia kita mengajarkan seperti itu; orang yang menunggu itu pasti orang yang tidak penting, yang penting adalah yang ditunggu. Tuhan itu menunggu kita. Apakah Dia tidak penting dan kita lebih penting karena kita yang ditunggu? Kalau seperti itu, kita orang yang tidak tahu diri.

Paulus itu menunggu jemaat Korintus. Dia salah satu orang yang paling dewasa rohani, tapi dia dipercayakan jemaat yang sangat tidak dewasa seperti jemaat Korintus ini; dan Paulus menunggu. Paulus sangat layak jadi guru orang-orang seperti John Calvin, Jonathan Edwards, dan pembesar-pembesar lainnya yang mungkin lebih potensial. Tapi yang Tuhan serahkan kepada Paulus bukan orang-orang itu, bukan Polycarpus, Agustinus, dsb. juga, melainkan jemaat Korintus; jemaat yang ada anak tidur dengan ibu tirinya, jemaat yang orang-orangnya makan sampai seperti di perikop ini. Yang saya mau katakan adalah: Paulus menunggu. Paulus menunggu jemaat Korintus dengan sabar, kadang-kadang juga tidak sabar (ada teori yang mengatakan bahwa Paulus menulis 4 surat Korintus  bukan 2 surat, dan 2 surat yang lain mungkin hilang atau dia bicara terlalu keras sampai tidak bisa masuk dalam Firman Tuhan, tidak diizinkan Tuhan). Tapi Paulus menunggu pertumbuhan jemaat Korintus, karena di dalam cinta ada penantian, ada sikap menunggu. Kita ini sekarang waktu menunggu pun tidak betul-betul menunggu; waktu Saudara janjian dengan orang dan dia telat, Saudara pasti main gadget, tidak mungkin Saudara diam di pintu menanti-nanti, itu seperti goblok banget, emangnya lu nganggur? Baca itu WA sudah masuk 1200 messages, telpon sana-sini, cek Facebook, email, dsb., itu artinya kita sebetulnya tidak menunggu. Kita malas menunggu karena menunggu itu menyakitkan, itu jalan salib bukan jalan yang lebar. Tapi Paulus bilang ‘nantikan seorang akan yang lain’; your brother itu penting, kita tidak bisa Perjamuan Kudus tanpa mereka. Kita tidak bisa Perjamuan Kudus tanpa orang-orang yang dianggap tidak penting ini, karena mereka juga bagian dari tubuh Kristus. Tubuh Kristus tidak komplit di sini tanpa mereka. Kita musti menunggu mereka.
Satu poin lagi, menanti itu adalah menanti ‘pribadi’. Yang kita tunggu itu ‘pribadi’, bukan ‘waktu’. Menanti ‘waktu’ itu sangat impersonal, bukan pribadi. Jam berapa ini, tidak selesai-selesai, 5 menit lagi, 10 menit lagi, 3 tahun lagi saya menikah, itu menanti apa? Menanti ‘waktu’ itu tidak sedang berelasi karena waktu bukan manusia, juga bukan Tuhan, bukan person; lalu kalau orang menanti waktu, ya, sudah pasti siksaan. Kita tidak diminta berelasi dengan yang bukan pribadi; tidak ada relasi cinta dengan yang bukan pribadi, kita tidak bisa berelasi dengan yang bukan pribadi. Maka waktu kita menanti, kita menanti pribadi, bukan waktu. Orang jadi tidak sabar karena dia mungkin menanti waktu. Waktu orang menanti waktu --meminjam bahasa mitos-- tekanan dari dewa kronos itu terasa sekali; waktu seperti berjalan pelan-pelan, energi seperti terkuras habis oleh si dewa kronos yang kerjanya menguras energi orang itu. Salah satu film menggambarkan waktu Zeus disiksa oleh Chronos, Chronos tidak melakukan apa-apa, hanya diam saja, dan Zeus dikuras tenaganya dengan berjalannya kronos. Kita memang tidak percaya ini, ini hanya suatu wawasan saja, bukan Firman Tuhan, tapi ada semacam bijaksana di dalamnya ketika orang-orang Gerika berurusan dengan dunia ini di dalam imajinasi mereka.

Paulus mengajak jemaat Korintus untuk belajar menunggu --hal yang paling sederhana yaitu menunggu makan-- tapi juga menunggu dalam pengertian yang lebih luas. Menunggu anak-anak kita untuk bertumbuh lebih dewasa, menunggu orang-orang lain bertumbuh di dalam Tuhan, dan termasuk juga menunggu Tuhan sendiri. Menunggu kedatangan Tuhan/eskatologi, karena waktu kita perjamuan kudus juga ada aspek antisipasi eskatologi ini ketika Paulus mengatakan di ayat 26 ‘setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang’. Ada yang dinantikan; ini belum selesai, tapi ini membangkitkan kerinduan kita akan Perjamuan Besar itu, yang akan kita nikmati bersama-sama. Sikap yang benar waktu Tuhan  memberkati kita dalam kehidupan ini -- waktu kita sukses, lancar, sehat-- kalau mengikuti prinsip ini, seharusnya adalah kita lebih merindukan perjumpaan dengan Tuhan karena kebaikan Tuhan yang diberikan-Nya di sini. Ini cicipan; cicipan jangan ditukar dengan yang utama, appetizer itu hidangan pembuka untuk merangsang kita nantinya menikmati hidangan utama. Tapi waktu orang mengacaukan, dia pikir ini sudah hidangan utama lalu akhirnya tidak sadar lagi bahwa sebenarnya cuma cicipan. Kebaikan yang Tuhan berikan kepada kita seharusnya tidak membuat kita sudah merasa di surga kemudian jadi lupa Tuhan, lalu kecewa lagi waktu sadar masih di dunia, dan waktu dalam penderitaan tidak realistik menganggap seperti neraka. Ini orang yang seperti mondar-mandir surga - neraka, karena dalam kehidupannya tidak beres waktu menghadapi kebaikan Tuhan. Kebaikan Tuhan itu tidak menjadikan dunia jadi surga. Kebaikan Tuhan yang kita alami mengingatkan kita akan yang lebih besar lagi kelak.

Kita makan Perjamuan Kudus, ini antisipasi; tapi ini juga riil, kita betul-betul makan bukan cuma bayang-bayang. Kristus hadir di tengah-tengah kita, itu juga riil (Calvin insist hal ini), tapi kita belum bisa memahami dan menghayatinya secara sempurna seperti kelak waktu kita makan semeja dengan Kristus, Sang Anak Domba itu. Ini harusnya mengantisipasi kita ke sana, membangkitkan kerinduan kita untuk ke sana. Salah satu kutipan yang bagus dari C. S. Lewis mengatakan hal yang sama (yang saya parafrasa-kan): Kita jangan salah, ini cicipan adalah cicipan, echo, bukan bunyi aslinya. Kebaikan-kebaikan Tuhan yang kita alami di sini, seperti juga kesempatan kita bisa beribadah, adalah echo, bukan the thing itself, bukan klimaksnya, jangan pikir sudah suara aslinya, ini hanya echo.  Tapi echo itu riil juga, dan echo itu mendorong kita untuk mencari suara aslinya, yaitu di surga.

Kita seharusnya mencari kepenuhannya di surga. Saya percaya, orang Kristen yang berpikir seperti ini, waktu dia beribadah, berbagian dalam Perjamuan Kudus, dan juga dalam kehidupan sehari-hari mengalami kebaikan Tuhan, itu tidak akan bergeser dia punya visi eskatologis.  Kiranya Tuhan memberkati kita.

 

Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah (MS)