Ringkasan Khotbah

14 May 2017 Yohanes 21: 4-17

Download Ringkasan
Tabib Yang Agung Vik. Jethro Rachmadi

Kita melanjutkan rangkaian pembahasan mini mengenai momen-momen sebelum Yesus terangkat ke surga, antara Paskah sampai Kenaikan; dan hari ini tentang yang terjadi ketika Yesus bersentuhan dengan Petrus. Saya ingin mengangkat dari bagian ini tentang “seperti apakah pertobatan Kristen”. Dalam 95 tesis Luther, yang pertama adalah: All life is repentance, bukan The start of the Christian life is repentance; seluruh kehidupan Kristen itu penuh dengan pertobatan, maka pertobatan merupakan satu tema yang harus terus-menerus kita renungkan.

Petrus adalah tokoh yang sangat unik dibandingkan tokoh-tokoh dalam Alkitab. Ketika Saudara berhadapan dengan tokoh-tokoh Alkitab --Abraham, dan orang-orang besar itu-- biasanya Saudara merasa ciut, kecil, dan tidak ada apa-apanya; sedangkan Petrus mungkin salah satu tokoh dalam Alkitab yang paling gampang kita hina; kita tidak terlalu merasa tertusuk-tusuk waktu bicara tentang dia bahkan kita bisa identify diri kita dengan dia, ternyata murid Tuhan nomer satu itu ada banyak juga sifat yang mirip dengan diri kita.

Salah satu yang di-konfrontasi Kristus di bagian ini adalah penyangkalan; dan yang mengerikan mengenai penyangkalan Petrus bukanlah penyangkalannya saja tapi hal yang terjadi sebelum itu. Waktu Tuhan Yesus pertama kali mengatakan “nanti kamu akan menyangkal Aku”, respon  Petrus di Mat 26 “Biarpun mereka semua --maksudnya murid-murid yang lain-- tergoncang imannya karena Engkau, aku sekali-kali”. Yesus berkata kepadanya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya malam ini, sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali." Kata Petrus kepada-Nya: "Sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau, aku takkan menyangkal Engkau."  Pada momen Petrus menyangkal ke-3 kali, Yesus sedang digiring keluar pekarangan tempat Petrus berada, mereka bertatapan, dan ayam berkokok ketiga kalinya, lalu Petrus menangis dengan begitu pahit  (Lukas 22). Apa yang terjadi di sini? Petrus melukai dirinya sendiri dengan luka yang paling parah yang bisa manusia lakukan.

Kita bisa mencoba mengerti hal ini dari psikologi janji yang disangkal. Kita berpikir ingkar janji pasti mengakibatkan dampak eksternal, misalnya orang dirugikan, orang tidak mempercayai lagi, dst.; tapi sebetulnya yang paling terluka justru pelakunya karena seorang yang ingkar janji sesungguhnya kehilangan jati dirinya. Klaim Petrus adalah ‘saya ini orang yang berintegritas, setia, berani mati, lebih daripada orang-orang lain’. Petrus mendefinisikan dirinya di atas keyakinan bahwa dia adalah orang yang begini begini begini; lalu dalam tekanan yang tinggi kelihatanlah aslinya, seorang pengecut yang hanya mau cari selamat lewat segala cara, termasuk melanggar integritasnya sendiri. Orang yang melakukan penabrakan antara 2 hal ini --yang dia klaim dan realita-- dialah yang paling terluka ketika itu terjadi karena dia kehilangan jati dirinya, tidak tahu lagi siapa dirinya sekarang. Petrus bisa menangis begitu pahit, apa artinya hidup saya kalau saya bahkan tidak sesuai dengan klaim-klaim saya?  Penyebab bunuh diri  bukan karir yang hancur, kehilangan uang, kehilangan pasangan hidup; orang yang bunuh diri adalah orang yang kehilangan sense of self, mereka mengatakan “hidup tidak ada artinya” maksudnya saya tidak bisa menemukan arti hidup saya lagi.

Ditengah-tengah semua ini, setelah bangkit Tuhan Yesus menyempatkan diri datang kepada Petrus serta menyembuhkan dia. Bagaimana caranya? Kita tahu Dia adalah Tabib yang Agung/The Great Physician. Tapi tidak cukup hanya mengetahui hal itu, Saudara perlu melihat Dia tabib yang seperti apa, bagaimana cara kerja-Nya, agar kita dapat peka. Melalui bagian ini kita akan melihat bahwa Tuhan Yesus adalah seorang dokter spesialis yang bukan sembarang spesialis tapi yang paling menakutkan yaitu dokter bedah, dokter yang akan memotong Saudara, mengobok-obok ke dalam badan Saudara. Yesus Kristus adalah tabib yang agung, tabib yang menyembuhkan dengan melukai. Dengan cara apa?

Yang pertama, pisau bedah; Tuhan Yesus menuntut pengakuan dosa dari Petrus. Tuhan Yesus tanya kepada Petrus ‘apakah engkau mengasihi Aku’ sebanyak 3 kali karena Petrus juga menyangkal Dia 3 kali. Ini sangat menusuk.  Berikutnya, kalau kita memperhatikan di ayat 15 pertanyaan Tuhan Yesus yang pertama adalah "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?" Ini detail yang sangat penting karena pada dasarnya itulah klaim yang Petrus katakan di Matius 26 ‘biarpun mereka ini tergoncang imannya karena Engkau, aku sekali-kali tidak’. Maka Tuhan Yesus bukan sekedar bertanya 3 kali ‘apakah engkau mengasihi Aku’ tapi ‘apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada mereka ini’. Itu tusukan yang tidak main-main.  Saudara juga perlu memperhatikan setting ketika Tuhan Yesus melakukan ini, katakanlah itu seusai sarapan. Dan sebelumnya, ketika mereka tiba di darat, mereka melihat api arang dan di atasnya ikan dan roti (Yoh 21:9). Yang sangat menarik, ketika Petrus menyangkal, dalam Yoh 18:17-18 konteksnya: Sementara itu hamba-hamba dan penjaga-penjaga Bait Allah telah memasang api arang, sebab hawa dingin waktu itu, dan mereka berdiri berdiang di situ. Juga Petrus berdiri berdiang bersama-sama dengan mereka. Kata ‘api arang’ ini sangat tepat karena istilah bahasa Yunaninya persis sama, baik di Yoh 18 maupun Yoh 21, yaitu anthrakia. Apakah Saudara melihat yang terjadi di sini?

Di sini Tuhan Yesus itu mencecar Petrus. Kita seringkali tidak siap menghadapi Tuhan Yesus yang seperti ini, Tuhan Yesus yang kadang-kadang agak lain dari yang kita pikirkan. Dalam budaya kita, mencecar itu sudah pasti salah, kejam, dan kalau orang sudah tahu dirinya salah --ada guilty feeling-- janganlah dicecar lagi. Ini juga yang membuat orang sering bertanya-tanya mengapa ketika Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa di Kej 3 dan bersembunyi dari Tuhan, respon Tuhan yang Mahatahu itu adalah bertanya ‘Di mana engkau?’, ‘Siapa yang memberitahukan kepadamu bahwa engkau telanjang? Apakah engkau makan dari buah pohon yang Kularang engkau makan itu?’ Kita berpikir, aduh, Tuhan kan sudah mahatahu juga, mengapa harus tanya-tanya?! Jangan-jangan Dia sebenarnya ‘gak mahatahu; kalau Dia mahatahu berarti ini nyecer... ini kan Kekristenan, harusnya kalau orang sudah tahu bersalah, sudah bersembunyi, sudah ada perasaan guilty feeling, ya, langsung masuk ke penghiburan, jangan lagi nyecer-nyecer menuntut pengakuan kayak gini, gunanya apa?! TapiTuhan Yesus bukan cuma  tidak sensitif, Dia juga begitu kejam, sengaja bertanya-nya 3 kali, sengaja pakai kalimat Petrus sendiri yang dibalikkan kembali kepada dia, dan sengaja cari tempat yang langsung mengingatkan Petrus ke dalam malam yang pahit itu. Saya jadi ingat ketika kecil, mama saya mendidik anjing kami yang suka buang kotoran di tempat yang bukan seharusnya, caranya dengan memegang leher anjing itu dan menjorokkan moncongnya ke kotoran tersebut. Sejak itu anjing tadi tidak pernah buang kotoran di situ lagi. Yang dilakukan Tuhan Yesus seolah mirip seperti itu. Tuhan Yesus seperti memegang leher Petrus lalu mengarahkan dengan paksa untuk melihat dosanya, ‘lihat itu, lihat dengan jelas! dan sekarang akui kesalahanmu, hadapi dan terima kenyataan’. Ini mengerikan. Dan ini bertabrakan dengan konsep kita --khususnya orang Timur-- yang punya bayangan kalau Tuhan Yesus menegur, itu pasti dengan lemah lembut. Tapi mungkin kita yang salah baca, karena Tuhan Yesus itu Singa dari Yehuda.

Dan kalau Saudara maju ke ayat 17, dikatakan waktu Petrus diperlihatkan seperti itu oleh Tuhan, reaksinya menjadi ‘sedih hatinya’. Ini terjemahan yang kurang tepat karena kata bahasa Yunaninya ‘lupeo’ bukan sekedar berarti kesedihan tapi merujuk pada suatu duka yang sangat intens, sampai-sampai kata lupeo itu dipakai dalam Alkitab Perjanjian Lama bahasa Yunani (Septuaginta) untuk ‘sakit bersalin’ (Kej 3). Itulah respon Petrus; sakit yang luar biasa. Cara Tuhan menyembuhkan itu tidak pernah tanpa pertobatan. Pertobatan bukan sesuatu yang cuma kelihatan manis. Pertobatan tidak pernah tanpa pertanggungjawaban, tanpa pengakuan dosa. Saudara tidak akan bisa bertobat kecuali Saudara menanggung penuh kesalahan Saudara. Pertobatan baru ada kemungkinan terjadi ketika Saudara berhenti melempar tanggung jawab, ketika Saudara menghadapi realita, menerima kenyataan, dan berani mengakuinya di hadapan orang lain.
Satu ilustrasi yang bagus, jika Saudara mau memindahkan batang kayu yang besar dan panjang, dan cuma pegang satu ujungnya sementara ujung lainnya tetap di tanah, Saudara tidak akan bisa. Saudara hanya bisa menjatuhkan batang kayu itu sedikit bergeser dari tempat semula, tidak bisa melemparkannya karena masih ada ‘kakinya’ yang menempel di tanah. Satu-satunya cara untuk bisa “menguasai” batang kayu tersebut adalah dengan mengangkat semuanya, menanggung keseluruhan berat batang memakai seluruh dirimu, baru Saudara bisa melemparnya. Sama seperti itu juga dalam hal kesalahan manusia. Ketika menghadapi kesalahan kita cuma mau setengah-setengah saja, “Ya, saya tahu saya salah, tapi coba kalau kamu di posisi saya”, atau “Memang saya salah, tapi coba kamu tahu perasaan saya waktu itu”, atau “tapi dia itu memang begini begitu”, atau orang Timur biasanya mengatakan, “Ya, saya tahu saya ada salahnya, tapi dia ‘kan lebih muda daripada saya”. Kata ‘tetapi’ itu artinya Saudara hanya angkat batang kayu tadi sebagian, dan Saudara tidak akan kuat untuk melemparkannya. Pertobatan baru mulai justru ketika Saudara mengatakan sebaliknya. Bukan ‘ya, saya memang salah tapi dia jahat’, melainkan ‘ya, dia memang jahat sama saya, tapi semua kerusakan bukan datang karena perlakuannya melainkan datang dari cara saya berespon terhadap perlakuannya’. Orang yang mau menghadapi realita secara begini barulah ada kemungkinan untuk bertobat. Dia tidak ada kemungkinan itu jika tidak mau mengaku habis-habisan semua kesalahannya, menanggung sendiri semua kesalahannya, malah setiap kali mengatakan ‘tetapi’ yang terbalik tadi.

Ini hal yang bertabrakan dengan konsep kita. Hari ini kita menghibur orang dengan cara yang sebenarnya sangat berbahaya, dengan mengambil hak mereka untuk bertanggungjawab: “Sudahlah, tidak apa-apa, ini bukan salah kamu; memang kamu ada salahnya tapi semua orang kalau digituin pasti reaksinya sama seperti kamu juga, it’s OK- lah.” Itu bukan cara menghibur yang membawa orang kepada pertobatan, karena sesungguhnya itu adalah cara-cara yang Saudara pakai justru ketika berhadapan dengan orang-orang yang Saudara anggap cacat. Contoh yang paling gampang, kalau ada anak kecil ngamuk-ngamuk, kita akan mengatakan, “Ya, sudahlah, ‘kan masih anak-anak, memang belum bertumbuh dewasa, kita harus maklum dong.” Atau ketika berhadapan dengan orang-orang usia lanjut yang mulai pikun, kita mengatakan, “Ya, sudahlah, ini ‘kan orang tua.” Atau contoh yang lebih parah kalau ada mobil memberi sein kiri tapi belok kanan, kita mengatakan, “Ya, sudahlah, ini pasti cewek.” Seringkali orang senangnya diperlakukan seperti ini, dimengerti, diayomi, dan tidak sadar bahwa itu sebenarnya sedang dianggap rendahan.

Jadi, alasannya Tuhan Yesus mencecar Petrus, menuntut sampai Petrus mengakui dosanya --dan sama seperti itu juga Tuhan Allah mencecar Adam dan Hawa-- yaitu karena belas kasihan, karena tujuannya Allah membawa mereka ke dalam pertobatan dan tidak ada pertobatan tanpa pengakuan dosa. Tanpa orang mau menghadapi realita, tidak ada kemungkinan untuk bertobat. Waktu Adam dan Hawa dikonfrontasi oleh Tuhan, mereka bukan cuma dijatuhi vonis. Tuhan bukan cuma mengatakan ‘oke, kamu melanggar pasal sekian-sekian, hukumannya sekian tahun penjara’, tapi mereka diajak bicara, ‘mengapa bisa begini, kamu melakukan ini dan ini, dst.’, yang mungkin Saudara anggap sebagai mencecar. Siapa yang tidak dicecar Tuhan di Kejadian 3? Ular. Ular cuma mendapat vonis. Kepada Adam, Tuhan berkata ‘Adam kamu begini begini, ya?’ lalu Adam jawab ‘enggak Tuhan, itu Hawa’; lalu kepada Hawa ‘Hawa kamu begini begini, ya? lalu Hawa jawab ‘enggak Tuhan, itu ular’; dan setelah itu langsung vonis kepada ular, tidak ada ‘ular, kamu begini begini, ya?’ Kita seringkali merasa interogasi Tuhan seperti ini sadis sekali, mencecar, dst., padahal itu belas kasihan; danTuhan tidak memberikan anugerah yang sama kepada ular. Tujuan Tuhan adalah membawa mereka ke dalam pertobatan, tapi kita dalam kemalangan dosa bahkan tidak bisa melihat seperti itu. Pertobatan membuat kita berhenti mencari kambing hitam. Ketika kita berani menghadapi kenyataan, mengakui di hadapan orang lain, itu sakit sekali, and yet, kesembuhan tidak datang tanpa itu.
Mungkin Saudara berkata, kami ngerti koq bahwa pertobatan itu harus ada pengakuan, tanpa ada tanggung jawab tidak ada kemungkinan untuk orang bertobat; masalahnya kami juga tahu bahwa orang yang mengaku habis-habisan kesalahan mereka,  pada akhirnya bukan saja tidak bertobat tapi malah hancur berkeping-keping, ‘Memang problemnya di saya, saya ini biang keroknya, suatu hari pasti saya akan melakukan yang sama lagi atau lebih parah, apa harapan saya?? Tidak ada, matilah saya’. Memang bisa saja Saudara, tapi kita baru membicarakan poin pertama. Tuhan Yesus bukan cuma tukang bongkar yang tidak terima servis pasang;  dokter bedah yang cuma bisa memotong tentunya tidak bakal lulus jadi dokter bedah. Penyembuhan yang Tuhan kerjakan tentu bukan cuma aspek tuntutan/mencecar/memaksa orang untuk menghadapi kenyataan, mengaku dan bertanggungjawab sepenuhnya, tapi poin yang ditekankan dalam bagian pertama ini adalah dalam Kekristenan, pertobatan tidak pernah tanpa pengakuan. Kalau ‘kasih’ dan ‘menuntut pengakuan’ dalam pikiran Saudara merupakan 2 hal yang tidak kompatibel, itu artinya Saudara tidak mengerti konsep pertobatan Alkitab. Dalam Alkitab, Kristus/Allah menuntut Petrus menghadapi mimpi buruknya karena tanpa itu dia tidak ada kemungkinan bertobat, sehingga hal ini adalah belas kasihan Allah, bukan karena Dia jahat. Itu poin yang pertama.

Yang kedua, sedikit melanjutkan metafor bedah. Setelah membuat luka/incision, seorang dokter bedah akan masuk sampai sejauh akar permasalahannya dan menghabiskan tumor tersebut. Saudara bukan cuma perlu mengakui dosa, tapi juga mengungkap akar dosa tersebut, mengungkap sisi dosa yang tersembunyi yang tidak muncul di permukaan, karena jika tidak, itu sudah pasti akan kembali lagi. Tuhan Yesus tidak tertarik untuk membicarakan dosa Petrus dalam level tindakan. Kita coba analisa kasus Petrus, sebenarnya yang jadi masalah dalam perbuatannya itu apa? Dia menyangkal; itu dosa berbohong, dosa ketidakjujuran, dan juga ada dosa kepengecutan. Tapi waktu Tuhan Yesus mencecar Perus, Dia sama sekali tidak pernah menyebut  hal-hal ini. Inilah bedanya Tuhan Yesus dengan orang yang cuma bisa mencecar. Orang yang mencecar (dalam arti negatif) selalu dalam level tindakan, dan ini yang membuat orang frustrasi. Tapi Tuhan Yesus tidak begitu, Dia masuk sampai ke dalam, Dia tidak terlalu peduli dengan yang di permukaan karena tujuan-Nya mencecar bukan untuk melukai melainkan menyembuhkan. Dia tidak datang dengan mengatakan, “Ayo Petrus, habis ini kamu masih mau bohong lagi?! Mau terus jadi pengecut?!” lalu Petrus jawab, “Tidak, tidak, Tuhan, saya sudah kena batunya, sudah kapok, ‘gak akan bohong dan pengecut lagi’, lalu Tuhan Yesus bilang “good boy”. Itu cara yang mungkin Saudara dan saya sering diperlakukan dan juga memperlakukan orang lain. Dan itu bukan pertobatan, karena pertobatan bukan melihat yang di permukaan.

Kita sering mendengar bahwa etika Kristen bukan cuma dalam level tindakan tapi masuk ke motivasi dan arah hati; lalu apakah akar dosa dalam motivasi dan arah hati itu? Seringkali ini abstrak buat kita, tapiTuhan Yesus tidak ada kebingungan itu. Dia langsung tahu masalah yang di dalam, yang menjadi akar semuanya, maka Dia langsung mengatakan: “Petrus, apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada mereka ini?” Itulah akarnya. Lewat kalimat ini kita mengerti bahwa problem utama Petrus bukan soal dia berbohong, melainkan yang menyebabkan dia bisa berbohong, yaitu karena Kristus bukan pondasi hidupnya. Petrus mengasihi sesuatu yang lain yang bukan Kristus, dia menaruh sesuatu yang lain yang bukan Kristus sebagai pondasi hidupnya, sebagai jati dirinya. Pada dasarnya Tuhan Yesus mengatakan ‘lihat Petrus, pondasi hidupmu bukan Aku melainkan daya saingmu’; kamu menilai  dirimu berharga/bermakna ketika bisa mengatakan ‘saya setia lho, saya berani mati lho, lebih daripada mereka ini’; pondasi hidupmu bukan Aku melainkan dirimu di hadapan orang lain. Dengan satu kalimat yang begitu singkat namun menusuk sampai ke dalam, Tuhan Yesus menunjukkan kepada Petrus bahwa pada akarnya, dosanya bukan masalah perbuatannya melainkan keinginan menempatkan diri di tempat Allah dan mendorong Tuhan ke pinggir. Inilah satu poin yang sering kita dengar tapi tidak kita hidupi, yaitu bahwa dosa sesungguhnya adalah penyangkalan terhadap Tuhan, karena setiap kali berdosa yang kita lakukan adalah mengatakan ’Tuhan kembalikan takhta itu ke tangan saya, saya mau mengambil alih, Tuhan minggir; Tuhan jangan pergi dari hidupku tapi minggir saja dan tunggu telpon dari saya’.
Waktu kita --khususnya orang Kristen-- berdosa, itu bukan karena kita tidak mengetahui kebenaran tapi karena kebenaran tidak menarik buat kita, kita tidak menaruh kebenaran sebagai pondasi hidup. Siapa dari kita yang tidak tahu dosa itu salah?? Sedikit sekali dosa yang kita tidak sadar. Problemnya adalah kita tidak mau Tuhan yang duduk di takhta; ya, memang Tuhan bilang ini salah, tapi menurut saya begitu indah, dan itu sebabnya saya lakukan. Oleh karena itu setiap kali berdosa, Saudara bukan sedang melakukannya dalam level tindakan tapi pada dasarnya sedang meng-kudeta posisi Allah, hidup bagi kemuliaanmu, bagi kenikmatanmu, bukan bagi kemuliaan Allah atau kenikmatan Allah. Ada satu contoh konkrit dari kesaksian seorang pendeta yang meng-konseling seorang wanita. Wanita ini marah kepada bos yang memecatnya. Dalam pertemuan-pertemuan konseling, si pendeta terfokus pada level tindakan yang di permukaan, begitu juga si wanita. Mereka sepakat bahwa problemnya adalah soal tidak mau mengampuni; dan orang Kristen harusnya rela mengampuni. Itu benar, tapi baru permukaan, sehingga setiap kali si pendeta menunjukkan dosanya, itu hanya jadi cecaran yang tidak menyenangkan dan tidak menyembuhkan, membuat orang makin terpuruk. Suatu hari, lewat pertolongan Tuhan mereka disadarkan bahwa ada yang lebih dalam dari sekedar ketidak-relaan mengampuni. Wanita ini sadar bahwa kemarahan terhadap bosnya ini, yang melampaui semua kemarahan dalam hidupnya, adalah karena bagi dia karirnya jauh lebih penting daripada Allahnya.

Kita sering mendengar hubungan kita dengan Tuhan di-analogikan pernikahan, Kristus sebagai suami kita. Tapi yang sering tidak kita sadari dalam pernikahan adalah bahwa pasangan kita memiliki kuasa yang sangat besar untuk mengubah total cara kita melihat diri. Tidak masalah seluruh dunia menganggap Saudara jelek atau bodoh, kalau pasangan Saudara --orang yang kaucintai itu-- mengatakan ‘di mataku engkau orang tercantik, tergagah, terpintar’, maka pendapat ini menghabisi, meng-overwrite, semua pendapat yang lain. Dan tentu saja sebaliknya juga sama, kalau seluruh dunia menganggap Saudara cantik, pintar, hebat, gagah, tapi pasangan Saudara mengatakan ‘di mataku engkau orang paling brengsek’, Saudara tidak akan bisa merasa cantik, pintar, hebat, gagah. Saya sering merasa agak bingung mengenai satu hal: waktu bicara dengan istri, saya berbicara sangat berbeda dibandingkan bicara dengan orang lain; atau orang yang sejak SMA bicara antar teman ‘lu-gua’, begitu pacaran langsung berubah jadi ‘aku-kamu’. Ada sesuatu yang beda. Apakah ini berarti kita tidak jujur, pasang topeng, tidak menunjukkan diri kita sesungguhnya ketika berelasi dengan pasangan, biasanya kasar lalu terhadap pasangan begitu baik? Di satu sisi bisa saja itu benar. Tapi di sisi lain, kalau Saudara bicara dengan pasanganmu dalam cara yang totally sama seperti bicara kepada dunia, itu juga kebahayaan yang sangat besar. Kita biasa bicara kasar dengan teman-teman, dan mereka bisa terima; lalu waktu kita pakai bahasa yang sama bicara dengan pasangan dan kita pikir tidak masalah, itu artinya Saudara pikir cuma pakai pistol air tapi waktu ditembakkan ke pasangan, ternyata bukan pistol air melainkan senapan mesin, bom atom. Orang seringkali berpikir ‘pasanganku tidak mau nurut sama aku, saya tidak tahu lagi harus bagaimana terhadap dia, segala sesuatu yang saya lakukan terhadap dia tidak pernah berhasil, saya tidak punya kuasa atas dia’. Padahal, masalahan dalam hidup pernikahan itu justru muncul karena kita tidak sadar bahwa kita sangat berpengaruh, dan kita tidak sadar sebesar apa pengaruh kita itu, kepada pasangan kita. Kita pikir cuma menepuk-nepuk kepalanya sedikit, padahal lehernya sudah patah. Kalimat dari seorang pasangan memiliki power yang sangat besar untuk meng-overwrite semua pendapat orang lain. Itulah kekuatan dalam pernikahan. Oleh karena itulah hubungan kita dengan Tuhan dianalogikan dengan hubungan pernikahan. Ketika kita menjadi mempelai Allah, itu harusnya berarti bahwa kasih Allah, pendapat Allah akan diri kita, yang Dia katakan kepada kita, perlakuan-Nya kepada kita, menjadi hal yang paling utama di atas segala sesuatu, yang overwrite semua yang lain. Artinya, ketika Saudara lahir baru, pondasi hidup Saudara beralih menjadi Kristus, dan bagaimana Kristus memandangmu akan mengesampingkan semua pandangan orang lain.

Wanita tadi sadar, problemnya bukanlah dia tidak bisa mengampuni bosnya --itu cuma yang di permukaan-- melainkan bahwa pendapat bosnya itu jauh lebih berpengaruh dalam hidupnya daripada pendapat Kristus terhadap dirinya. Ini yang sering kita tidak sadari. Kita mengatakan mau menjadikan Kristus pusat dalam hidup, tapi kita tidak sadar implikasinya sampai sejauh ini. Bagi wanita ini, yang dilakukan bos terhadapnya, yang terjadi dalam karirnya, jauh lebih penting daripada yang Yesus telah lakukan dalam hidupnya. Ini seperti seorang wanita yang lebih peka terhadap perkataan bosnya daripada perkataan suaminya. Yang menjadi  pondasi hidupnya bukan Allah tapi karir. Itu sebabnya ketika karirnya macet gara-gara si bos, wanita ini menjadi begitu marah, lebih marah daripada kemarahan kepada siapapun sebelumnya. Dan akhirnya wanita ini mengatakan, “Memang saya ada kepahitan, tapi lebih dalam daripada itu, ini adalah karena saya seorang penzinah, karena saya telah menyeleweng dari Tuhan, karena saya telah menempatkan sesuatu yang bukan Dia dalam pusat hidupku; saya tidak ingin Dia jadi Juruselamatku, saya ingin menyelamatkan diriku sendiri lewat karirku. Itu sebabnya ketika karir saya mandek, saya begitu membenci bos saya.” Yang indah dari semua ini, momen ketika wanita ini akhirnya menyadari semuanya, itulah saat dia bisa mengampuni bosnya. Inilah pekerjaan dari Sang Tabib Agung yang telah memotong sampai ke dasarnya.

Poin kedua ini sangat penting. Kalau Saudara berkutat dengan dosa hanya dalam level yang supervisial, Saudara tidak ada kekuatan untuk menanggulangi dosa karena dosa dalam level permukaan sangat menarik hati. Tapi ketika Saudara sampai ke akarnya, melihat tindakan itu sebenarnya berasal dari keinginan untuk menyeleweng dari seorang ‘suami’ yang sudah memberikan diri-Nya mati bagimu yang artinya Saudara berzinah, maka dosa mulai terlihat jijik dan kehilangan daya tariknya, dan Saudara ada kekuatan untuk menanggulangi dosa. Jadi pertanyaan pertobatan Kristen bukan ‘apa yang saya lakukan’ tapi ’dalam hal apa dosa yang saya lakukan ini adalah bentuk dari usahaku melengserkan Tuhan dari kehidupanku’.

Yang terakhir, bukan cuma diri kita dibuka sampai ke akar-akarnya, tapi penyakitnya harus diangkat dan dibuang. Bagaimana caranya? Kembali ke Alkitab bagian ini, kita melihat kuasa itu datang lewat yang disebut duka yang rohani/ilahi (godly sorrow). Ayat 17 ‘Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: "Apakah engkau mengasihi Aku?" Lupeo bukan sekedar sedih tapi kedukaan yang sangat intens. Ini bertabrakan dengan budaya kita yang sangat anti perasaan tidak enak, sebisa mungkin menghindarinya, tapi itu bukan sesuatu yang Alkitabiah.

Tidak semua perasaan tidak enak atau ketegangan itu jelek. Kata lupeo ini muncul kembali di 2 Kor 7:10 ‘Sebab dukacita menurut kehendak Allah --godly sorrow-- menghasilkan pertobatan yang membawa keselamatan dan yang tidak akan disesalkan, tetapi dukacita yang dari dunia --worldly sorrow/ungodly sorrow--  ini menghasilkan kematian’. Ada 2 jenis lupeo di sini; ungodly sorrow membawa kepada kematian, tapi godly sorrow  membawa kepada keselamatan dan tidak akan ada penyesalan. Waktu kita ada ketegangan, biasanya kita bikin lelucon untuk ice breaking karena kita terbiasa melihat ungodly sorrow --ketegangan menghasilkan kepahitan, kepahitan menghasilkan ngomong di belakang, lalu akhirnya berantem terbuka atau mundur. Kita ingin menghindari ungodly sorrow seperti ini karena sudah cukup banyak pengalaman bahwa kedukaan-kedukaan seperti ini akhirnya membunuh kita perlahan-lahan. Waktu menangisi dosa kita, ujungnya malah membuat kita merasa tambah marah, makin tidak mau bertobat, makin membuat kita merasa diri begitu hancur dan membenci diri; itu artinya membawa kepada kematian. Dari sini kita bisa mengerti, bahwa problemnya bukan di sorrow-nya, tapi karena sorrow tersebut masuk dalam kategori ungodly sorrow yang membawa kepada kematian. Bukan kita boleh berduka atau tidak, tapi berduka yang macam apa? Kalau duka Saudara adalah godly sorrow, Paulus mengatakan itu berujung pada keselamatan, kebebasan dari penyesalan.

Seandainya Saudara melupakan semua kotbah hari ini, saya ingin Saudara mengingat kalimat ini: Either Saudara meratapi dirimu ketika engkau berdosa, atau Saudara bisa meratapi Juruselamatmu ketika engkau melihat dosamu. Kalau Saudara meratapi diri, itu akan berubah sebentar --temporer-- dan ujungnya kematian. Tapi jika Saudara meratapi Juruselamatmu, itu akan membawa pada kehidupan, keselamatan, dan kebebasan dari penyesalan. Orang-orang yang tidak mengenal Allah bukanlah orang-orang yang tidak bisa meratapi dosa mereka, tapi fokusnya meratapi diri, ‘lihat akibat dosaku, lihat penghukuman yang aku harus terima’. Ratapan orang Kristen lebih daripada itu. Ketika orang Kristen meratap, mereka mengatakan, ‘lihat akibat dosaku kepada Kristus, lihat penghukuman yang harus Dia terima karena diriku, lihat betapa luka yang disebabkan dosa ini telah melukai-Nya’. Meratap saja tidak cukup, ada perbedaan sangat drastis antara godly sorrow dengan worldly sorrow, sama drastisnya dengan perbedaan surga dan neraka. Seorang moralis jalan agama akan membawa dosanya kepada Gunung Sinai dan mengatakan, “Lihat penghukuman yang akan datang” ; tapi seorang Kristen membawa dosanya ke kayu salib dan bertanya, “Apakah seperti ini aku membalas pemberian Juruselamatku??” Yang satu melihat ke depan dan melihat kepada diri --penghukuman yang akan datang-- yang satu melihat ke belakang dan melihat kepada Yesus. Seorang moralis yang hidup dengan jalan agama, bertobat karena takut tertolak; seorang Kristen bertobat justru karena tahu dirinya telah diterima. Saya telah dikasihi dengan kasih yang ada sebelum pohon-pohon tumbuh di atas bumi, sebelum ikan-ikan berenang di laut, sebelum burung-burung terbang di udara, sebelum dunia dijadikan Dia telah mengasihi aku dan memilih aku. Dan karena kasih-Nya itu tidak bersyarat, tidak bisa berubah, Dia memberikan diri-Nya untuk aku. Sekarang lihat, dengan inikah cara aku memperlakukan-Nya sekarang? Itulah pertobatan yang sejati, dan hanya pertobatan seperti inilah yang akan sungguh mengubah Saudara. Kalau Saudara bertanya, ‘mengapa saya menyesali dosa-dosa saya tapi tidak pernah membawa perubahan?’, jawabannya sederhana: karena selama ini hadapi kenyataan, lihat realitanya, kepada  siapa engkau memandang ketika menyesali dosa-dosamu; ketika engkau meratap, siapa yang engkau ratapi.

Dalam seminar kemarin Pendeta Billy menyinggung hal yang terjadi di negara kita, dan beliau mengatakan bahwa orang Kristen harus meratap karena jangankan bicara mengenai diversitas/keragaman dalam negara kalau dalam  Kekristenan/Gereja saja tidak bisa menerima diversitas. Tapi saya ingin menambahkan satu poin: ratapanmu itu meratapi apa? Kristus memberi diri-Nya dipecah-pecahkan supaya kita yang tercerai berai boleh disatukan; dan setelah kita dipersatukan oleh tubuh dan darah Kristus, kita malah kembali memecah-mecahkan atas dasar level ekonomi, suku, ras, keyakinan politik, dsb. Apakah dengan cara ini kita membalas perbuatan-Nya? Jika kita tidak pernah meratap seperti itu, tidak heran pertobatan kita tidak ada kuasanya, bahkan malah membawa kita kepada kematian.

Apa tandanya kita sungguh mengalami godly sorrow? Dalam hidup Petrus ada 2 hal yang bertolak belakang, di Lukas 5 dan di Yohanes 21, yang kira-kira sama peristiwanya, murid-murid tidak mendapat ikan, Tuhan Yesus datang menyuruh tebarkan jala lalu mereka mendapat ikan sangat banyak.Yang berbeda adalah reaksi Petrus. Di Lukas 5 setelah ada ikan begitu banyak, reaksi Petrus adalah mengatakan kepada Tuhan Yesus: “pergi daripadaku”. Keberadaan Allah yang besar, yang suci itu, membuat Petrus jadi ciut dan sadar akan kebobrokannya, dan dia ingin kabur. Tapi di Yoh 21 tentu Petrus merasa kecil juga waktu mujizat terjadi, namun reaksinya adalah Petrus lompat ke danau, dia tidak mau tunggu perahu sampai di tepi, dia berenang seperti orang gila mencari Tuhan. Petrus di Lukas 5 dan Petrus di Yoh 21 bukanlah Petrus yang sama. Petrus di Lukas 5 mirip dengan banyak dari kita yang mendasarkan dirinya di atas performa rohani, saya ini oke karena saya bisa perform sesuatu, lalu ketika ada orang yang menunjukkan sesungguhnya dia kecil dan bobrok, maka dia kabur, tidak tahan menghadapi realita. Tapi Petrus di Yoh 21 sadar bahwa Tuhannya datang bukan hanya Guru melainkan juga Juruselamat, itu hal yang berbeda. Bukan hanya datang untuk menunjukkan bagaimana kita harus hidup, tapi datang untuk menyelamatkan kita lewat kehidupan dan kematian-Nya; itu yang akan membuat pengakuan dosa meski begitu sakit tapi menjadi sukacita yang tidak akan mendatangkan penyesalan.

Saudara ingin tahu dirimu seorang Kristen atau seorang moralis? Caranya ketika Saudara dikritik, gagal, apakah itu membuatmu ingin datang kepada Tuhan atau justru ingin kabur dari-Nya? Ketika Saudara bertobat, apakah itu membunuhmu perlahan-lahan atau justru membuat hidupmu lebih hidup? Bagi Petrus itu membuatnya lebih hidup, dia justru mencari itu, lari, dan datang mendapatkannya, karena dalam pertobatan Kristen semakin melihat diri bobrok di hadapan Tuhan, semakin melihat kasih Tuhan lebih nyata. Kisah penyangkalan Petrus ada beberapa versi dan yang paling parah di Markus 14, karena di situ satu-satunya dikatakan bahwa ia bersumpah dan mengutuk. Petrus bukan cuma menyangkal, ‘aku tidak kenal Dia’, tapi kira-kira dia mengatakan: “Terkutuklah aku jika aku sesungguhnya mengenal Orang ini”. Mengapa hanya muncul di  Markus 14? Karena Markus adalah sekretarisnya Petrus, artinya Injil Markus adalah catatan dari mata Petrus sendiri, maka bagian ini hanya Petrus yang tahu. Mengapa Petrus mau itu ditulis padahal orang lain juga tidak tahu hal yang begitu memalukan ini? Bukan karena dia tabah dsb. tapi hal itu membuat dia sukacita karena menunjukkan anugerah Tuhan yang lebih besar lagi. Mana yang lebih menunjukkan kasih Allah kepada Petrus: Allah beranugerah meski dia menyangkal, atau Allah beranugerah meskipun dia menyangkal sambil bersumpah dan mengutuk? Inilah tandanya orang yang sungguh disembuhkan Sang Tabib Agung: mereka melihat kesempatan untuk bertobat sebagai sesuatu yang mendatangkan sukacita. Bagaimana dengan Saudara dan saya?

David Martyn Llyod Jones mengatakan caranya mengetahui seseorang Kristen atau bukan adalah bertanya: “Apakah kamu orang Kristen atau bukan?” Orang non Kristen mungkin menjawab: “Tentu saja saya orang Kristen” atau “Ya, saya berusaha jadi orang Kristen”. Bagi David Martyn Llyod Jones, orang Kristen akan menjawab: “Lu gak nyangka ‘kan, gua juga gak nyangka lho, koq bisa ya gua jadi orang Kristen??” Seorang Kristen tidak akan menganggap statusnya sebagai orang Kristen itu sesuatu yang normal, setiap kali ditanya ada senyum yang tersungging ‘koq bisa ya, saya jadi orang Kristen; koq bisa ya, gua yang hancur ini bahkan lebih hancur dari yang kamu tahu, bisa jadi orang Kristen’. Itulah justru yang paling menarik di mata dunia, yang membuat orang mau mendengar kabar Injil. Dan itu sebabnya seringkali kita tidak berhasil menginjili, karena kita adalah orang-orang yang tidak bertobat. Mari kita minta kepada Tuhan godly sorrow.


Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah (MS)

Gereja Reformed Injili Indonesia Kelapa Gading