Ringkasan Khotbah

02 Jul 2017 Yohanes 13: 1- 17

Download Ringkasan
Yesus Membasuh Kaki Murid-murid Vik. Mercy Matakupan

Bagian yang kita baca adalah momen-momen terakhir sebelum Yesus masuk ke peristiwa kayu salib. Dalam bagian ini Yesus sudah menarik diri dari kumpulan orang banyak, kita tidak melihat lagi Yesus melakukan mujizat atau mengusir setan, berkotbah atau berdiskusi, dan Dia khusus memberi waktu untuk melayani murid-murid-Nya sebelum beberapa jam lagi iman mereka akan terkoyak dan mereka akan tercerai berai meninggalkan Tuhan. Di sini Yohanes memiliki keunikan dari Injil sinoptik yang lain, dia mencatat dengan detail bagaimana Tuhan mendemonstrasikan cinta kasih-Nya yang paling agung, yaitu Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya satu demi satu. Peristiwa ini begitu agung karena Alkitab memberikan gambaran kepada kita bahwa sebelum ini dimulai, Yesus telah tahu bahwa saat-Nya sudah tiba, yaitu saat Yesus menuju kayu salib.

Yohanes terkenal berkali-kali menulis “saat-Nya” (ada yang mengatakan 7x, tapi sebetulnya bisa ditemukan belasan kali). Dalam peristiwa mujizat pertama yang hanya dicatat oleh Yohanes, ketika Yesus mengubah air menjadi anggur Dia berkata kepada ibu-Nya: “Mau apakah engkau dengan Aku, Ibu? Saat-Ku belum tiba (untuk melakukan mujizat)”. Dalam Yoh 8:20 ketika mereka berdebat dengan Yesus soal Bapa, Alkitab mencatat: “tidak ada seorang pun yang berani menangkap Dia karena saat-Nya belum tiba”. Di pasal 12 Yesus berdoa dengan kegentaran, “Bapa permuliakanlah Anak-Mu”, dan suara Allah Bapa mengatakan, “Engkau sudah dimuliakan, dan sekali lagi akan dimuliakan”. Yesus dimuliakan ketika Dia mengatakan Dia akan mati di kayu salib: “Telah tiba saatnya Anak Manusia dimuliakan”. Yesus pernah berdoa, “Sekarang jiwa-Ku terharu dan apakah yang akan Kukatakan? Bapa, selamatkanlah Aku dari saat ini? Tidak, sebab untuk itulah Aku datang ke dalam saat ini” (Yoh 12:27). Segala sesuatu yang Yesus lakukan, fokus-Nya adalah kepada kayu salib.

Dan momen ketika Juruselamat kita mengambil rupa seorang budak yang hina , berlutut di bawah kaki manusia membasuh kaki mereka satu demi satu, itu bukanlah sekedar tindakan melayani atau merendahkan diri tapi adalah saatnya Yesus siap masuk ke dalam momen kayu salib --one moment atonement-- saat yang dinanti-nantikan. Kemudian beberapa jam lagi orang akan menarik Yesus, menggeret Dia ke kayu salib. Yesus memberikan teladan cinta kasih yang paling agung, yang di dalamnya termasuk Yudas berada di situ. Tuhan tahu Yudas akan menjual Dia, dan Yesus membasuh kaki Yudas. Pasal 13 ini adalah pembuka yang paling indah, bukan teori tentang kasih, bukan definisi tentang kerendahan hati, melainkan tindakan paling agung, sebelum kemudian Yudas diusir dan tidak layak mendengarkan bagian exclusive teaching of Christ. Ini penting, karena bahkan orang paling jahat pun (Yudas) tidak luput dari demonstrasi kasih Tuhan.  Saudara perhatikan, masuk ke ayat 31 Yudas disuruh pergi keluar, lalu kalimat Yesus: “Sekarang Anak Manusia dipermuliakan”, kemudian di ayat-ayat selanjutnya: “Aku memberikan perintah yang baru”.  Mengapa dikatakan ‘baru’? Musa pernah mencatat perintah untuk mengasihi, tapi kali ini mereka bukan mendapat teori, mereka melihat sendiri Tuhan mengambil rupa seorang budak yang membasuh kaki manusia.

Selanjutnya di pasal 14 pengajaran-pengajaran yang penting, yang juga konfirmasi bahwa dalam bagian itu Yudas tidak mendapatkan. Ini adalah bagian exclusive teaching of Christ, telinga Yudas tidak boleh mendengarnya. Kaki Yudas memang dibasuh oleh Yesus tapi dia tidak layak mendengar pengajaran-pengajaran yang eksklusif yang hanya bisa dimengerti orang-orang percaya --esensi Kristologi, konsep Allah Tritunggal, Roh Kudus (pasal 16), dan doa Yesus untuk 11 murid-Nya (pasal 17). Doa Kristus hanya diberikan untuk orang percaya, bukan untuk semua orang.

Yang menarik dalam bagian ini, Yohanes menunjukkan bahwa orang paling jahat pun, seperti Yudas, boleh mencicipi cinta kasih paling besar. Tidak ada tempat di dunia ini yang cinta kasih Allah tidak bisa mengejar Saudara dan saya. Tidak ada dosa terlalu besar sehingga kasih Tuhan tidak bisa menjangkau kita. Maka di tengah-tengah konsep yang sangat buruk --niat jahat Yudas, egoisme murid-murid dan jiwa penonton-- Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya. Zaman sekarang ini kita menonton film seolah itu sungguhan, emosi jiwa raga masuk sampai bisa menangis tersedu-sedu;  tapi dalam hidup yang riil yang butuh tindakan nyata praktek hidup kekristenan --kasih, pengampunan, penyangkalan diri-- kita menonton. Demikian juga murid-murid dengan jiwa penonton saling menunggu ketika Yesus mulai membasuh kaki demi kaki, kemudian satu orang --Petrus-- berdiri dan berkata: “Tuhan, Engkau hendak membasuh kakiku? ‘Gak bisa, Tuhan, jangan lakukan itu. “ Murid-murid yang lain mungkin berpikir  tadinya juga mau ngomong gitu, tapi keduluan Petrus, dia selalu selangkah lebih dulu, selalu tampil heroik; dan mungkin juga mereka berharap Yesus mengatakan ‘Petrus, engkau paling mengerti hati Gurumu’. Di tengah-tengah carut-marut ini kita melihat betapa peristiwa ini agung sekali.

Pembasuhan kaki sebetulnya budaya yang umum saat itu. Mereka selalu menyediakan pembantu dan tempayan berisi air untuk membasuh kaki setiap tamu. Waktu Yesus datang atas undangan Simon orang Farisi, Lukas 7 mencatat Yesus membandingkan dia dengan perempuan berdosa yang datang mencucurkan air mata membasuh kaki Tuhan dengan air matanya: "Engkau lihat perempuan ini? Aku masuk ke rumahmu, namun engkau tidak memberikan Aku air untuk membasuh kaki-Ku, tetapi dia membasahi kaki-Ku dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya.” Jadi membasuh kaki adalah hal yang umum, tapi yang Yesus lakukan menerobos semua budaya karena budaya yang umum adalah orang Yahudi pantang mengizinkan orang Yahudi lain --sekalipun itu pembantunya-- untuk membasuh kaki orang lain karena itu penghinaan. Dalam momen-momen ketika orang Israel begitu diberkati, Salomo telah mendidik agar orang Israel tidak boleh ada yang kerja, dan orang-orang dari bangsa-bangsa yang dia taklukkan harus bekerja bagi orang Israel. Itu sebabnya orang Yahudi pantang membasuh kaki orang lain.
Di tengah-tengah mentalitas penuntut, mentalitas menjaga harga diri, Yesus menerobos semua, Dia membasuh kaki mereka. Alkitab memberikan gambaran yang begitu indah dalam detail yang dicatat Yohanes: Yesus membuka jubah-Nya, meletakkan jubah-Nya, mengikat pinggang-Nya--gambaran seorang budak yang siap bekerja-- mengambil sebuah basi, lalu mulai merangkak di bawah kaki murid-murid-Nya membasuh kaki mereka. Ini membuat kita terngiang kalimat dalam Filipi 2: 5-8 “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.”  Maka kemudian Surat Filipi memberikan satu penghormatan: “Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama”, yaitu pada waktu Yesus merendahkan diri-Nya turun ke tempat yang begitu rendah.

Peristiwa yang begitu agung --perendahan diri-- dilakukan Yesus dalam 2 keadaan. Pertama, Alkitab mengatakan peristiwa itu dilakukan Yesus dalam seluruh kontrol dan kedaulatan Allah. Tindakan yang begitu menghinakan diri dilakukan-Nya bukan karena desakan, atau kondisi tidak ada pilihan, bukan juga dalam kondisi seperti ‘tirulah Saya, ya’, tapi dilakukan-Nya dalam keadaan ‘Yesus telah tahu’ (ini diulang 4 kali dalam perikop tsb.). Segala sesuatu di dalam kontrol Yesus. Yesus telah tahu, bahwa saat-Nya sudah tiba untuk beralih dari dunia ini kepada Bapa (13:1). Yesus tahu, bahwa Bapa-Nya telah menyerahkan segala kuasa ke dalam tangan-Nya (13:3). Yesus telah tahu bahwa di antara murid-murid-Nya ada yang akan menyerahkan Dia (13:11). Demikian juga ayat 18. Tidak ada sesuatu pun yang luput dari kemahatahuan Tuhan. Ini tidak mudah. Kalau kita tahu orang ingin menjatuhkan, ingin menipu, lalu kita masih menolong dia, orang akan berkata ‘kamu harus cerdik seperti ular, tulus sepeti merpati; jangan buang mutiara kepada babi’. Tapi di sini kita melihat keagungan kasih Tuhan; di tengah seluruh keberdosaan, seluruh keberadaan yang gelap menakutkan, Yesus telah tahu.

Poin yang kedua, Yesus tahu semua ini dalam keberadaan-Nya yang full mighty power; Yohanes mencatat di ayat 3  Yesus tahu bahwa Bapa-Nya telah menyerahkan segala kuasa ke dalam tangan-Nya. Oleh karena itu, tindakan Yesus menghinakan diri menjadi esensi yang paling dalam, karena Dia melakukannya di dalam kondisi tertinggi, seluruh kuasa di bumi ini diserahkan ke dalam tangan Yesus. Dan tangan yang menggenggam seluruh kuasa itu tidak dipakai-Nya untuk menunjuk dosa Petrus dan dosa Yudas, tidak untuk menjatuhkan musuh-musuhnya dan menyingkapkan aib mereka, tidak juga untuk showing miracle sehingga membuat kita semakin cinta kepada Tuhan, tapi Dia turun ke tempat yang begitu rendah, paling rendah sehingga tidak ada lagi yang lebih rendah.

Sekiranya kita mau meniru Kristus, misalnya membasuh kaki seperti dilakukan denominasi gereja tertentu, itu tidak mungkin kembali sampai kepada esensi yang Alkitab mau katakan. Ada orang bisa berlutut di bawah kaki orang lain dengan jiwa yang sombong. Ada orang bisa membasuh kaki dengan hati ‘please take a picture, lihat saya’. Orang bisa melakukan tindakan kerendahan hati dengan jiwa yang sangat  menjijikkan sekali, ‘saya baik sama kamu saya ampuni kamu; kalau Tuhan tidak tolong saya, kamu jelek sekali, jangan lupa ya, itu karena saya’. Banyak tindakan kerendahan hati yang bisa memuakkan kita dan pasti menyakiti hati Tuhan. Tapi yang Yesus lakukan berbeda sekali. Jikalau seandainya saya berlutut di bawah kaki Saudara dan berlaku seperti seekor anjing menjilati kaki Saudara, betapa itu merendahkan diri saya, saya turun takhta menghinakan gambar dan rupa Allah, saya manusia turun jadi seperti binatang. Tapi, sekalipun tindakan itu begitu di luar logika kita, itu tetap saja tidak bisa mewakili keindahan perjalanan Tuhan kita yang turun takhta dari surga mulia ke tempat hina, dari Pencipta turun kualitas menjadi ciptaan. Mengapa? Karena waktu saya menghinakan diri turun kualitas jadi anjing, toh tetap ada persamaan, yaitu sama-sama ciptaan. Itu tidak mungkin memberikan satu gambaran yang memadai untuk membayangkan betapa Pencipta turun jadi ciptaan. Tidak ada satu ilustrasi di dunia ini yang cukup bisa mewakili kegentaran hati kita membayangkan peristiwa kayu salib. Sebelum peristiwa kayu salib itu Dia diperlakukan seperti badut oleh orang-orang yang haus hiburan, dijadikan tontonan, hampir telanjang, di-bully secara fisik dan emosi. Maka ketika Tuhan menunjukkan kasih-Nya yang begitu besar dengan membasuh kaki murid-murid-Nya, tindakan ini luar biasa dramatis karena Dia di dalam keadaan-Nya yang full mighty power.

Kuasa itu sesuatu yang tidak mudah. Dari orang yang belum kenal Tuhan sampai orang yang kenal Tuhan, jika kuasa itu diberikan kepadanya, kuasa itu dapat berbalik merusak. Orang bisa awalnya kelihatan rendah hati, tidak sombong, baik sekali, tapi sejalan dengan pengalaman yang bertambah, posisi yang mulai naik, lalu mulai memiliki jabatan dan kuasa, maka tidak mudah menjaga hati tetap lurus di hadapan Tuhan. Tidak mudah menjaga hati tetap bersandar. Tidak mudah menjaga hati tetap di posisi paling rendah/di bawah. Kita selalu tertarik mendengar kotbah-kotbah yang mengatakan ‘saya dulu miskin, sekarang kaya. Saya dulu sudah sebelum punya mal segini besar, saya mulainya dari bawah’, kita sangat menikmati ilustrasi-ilustrasi yang menggambarkan keadaan di bawah lalu terus makin naik dan makin naik ke atas, kita terpesona akan hal itu. Tapi, setelah kita ada di atas, kita sulit sekali berjalan ke bawah.

Saul memulai perjalanan hidupnya dengan kondisi yang membuat kita mudah jatuh cinta pada orang seperti itu. Dia rendah hati, waktu dipilih jadi raja dia sembunyi di belakang tumpukan kotak, dan dia mengatakan ‘siapa saya, saya suku Benyamin, suku yang paling kecil yang sudah dihukum oleh 11 suku yang lain’; tapi dia dipilih jadi raja. Dan bersamaan dengan jalannya waktu, raja ini naik dan naik ke atas lalu cuma punya  1 ide: “saya satu-satunya raja, tidak boleh ada pembanding yang lain”. Waktu orang sampai di atas, sulit sekali untuk turun ke bawah, mau selama-lamanya di atas. Menemukan orang yang cinta Tuhan seperti Daud, sangatlah sulit. Daud terkenal sebagai orang yang begitu saleh, hatinya selaras dengan  Tuhan, begitu peka akan dosa berbeda dengan Saul yang seringkali membenarkan diri dan mati rasa terhadap dosa. Tapi Daud toh tidak kebal terhadap godaan ‘kuasa’. Di usia tuanya, kitab Raja-raja dan Tawarikh mencatat, Daud tergoda untuk menikmati berapa besar kerajaannya, berapa hebat kekuatan kerajaannya, maka dia perintahkan untuk menghitung jumlah pasukannya. Hal ini merupakan kekejian di mata Tuhan. Tuhan marah dan menghukum seluruh Israel kena tulah, oleh karena raja ingin menghitung ‘berapa hebat saya; dulu saya mulai dari anak gembala domba yang tidak diperhitungkan oleh papa, oleh Samuel, oleh kakak-kakak, tapi sekarang saya di atas dan saya mau hitung berapa banyak kekuatan saya!’ Kita perlu mendoakan keluarga kita, suami kita, yang mungkin kita tahu dalam banyak hal Tuhan memberkati dia, karena makin naik ke atas dan makin naik ke atas, kita bisa kehilangan keseimbangan sampai Tuhan hukum dan jatuhnya sakit sekali.

Dalam segala kondisi yang Tuhan sudah tahu, dalam kondisi segala kuasa ada di tangan-Nya, Tuhan menunjukkan cinta kasih yang luar biasa. Alkitab mengatakan: ‘Ia senantiasa mengasihi murid-murid-Nya demikianlah sekarang Ia mengasihi mereka sampai kepada kesudahannya’ (Yoh 13:1). Bahasa aslinya memakai kata ‘eis telos’ (completely, sempurna), suatu keberadaan kasih itu sekarang dan juga menuju bayang-bayang yang masih di depan, kasih yang terus dan terus menjangkau murid-murid-Nya.

Tuhan menyentuh kehidupan kita dengan kasih. Tuhan mengubahkan kita dengan kasih. Ini yang membedakan cara kerja Tuhan dan cara kerja setan. Ada satu ibu umur 67 tahun yang waktu kecil pernah diserahkan papanya kepada kuasa kegelapan, tapi ironis papanya itu sendiri seorang penatua yang berkotbah di mimbar. Ibu ini ada satu kesedihan dan kegelisahan ‘apakah saya betul-betul milik Tuhan atau tidak?’ Maka dengan sederhana beberapa hamba Tuhan mencoba meyakinkan dia, intinya bahwa cara Tuhan itu berbeda, Tuhan menjangkau hati kita dengan cinta kasih tapi Iblis mengambil hati kita dengan teror, ketakutan, dan kebohongan. Iblis adalah bapa pendusta. Alkitab mengatakan dalam Surat Kolose, ketika kita percaya, kita bukan cuma ditebus tapi dipindahkan. Status kita dipindahkan, Iblis tidak akan mungkin bisa menyentuh kita, dan itulah sebabnya dia tidak punya cara lain --dia tidak mungkin menunjukkan cinta kasih-- dia akan memberikan teror, ketakutan, dan penipuan. Makin kita takut, makin kita memberikan ruang kepada cara Iblis bekerja. Maka saya katakan kepada ibu tadi, “Stop, berhenti memikirkan hal itu; Tuhan menjangkau kita dengan kasih”. Ada lagi seorang ibu janda dengan dua anak, tinggal di satu kompleks yang masih baru dan di situ beredar cerita-cerita bahwa tempat itu bekas kuburan, dia juga merasa pohon di depan rumahnya setiap sore tiba-tiba jadi besar, dsb. Dia ketakutan. Saya cuma menyuruh dia menuliskan semua sifat Allah yang dia ingat, karena saya mau dia menguras otaknya untuk memikirkan siapa Tuhan bukan siapa yang ada di balik pohon. Akhirnya dengan menangis ibu itu mengatakan bahwa dia sudah menuliskan 2 lembar bolak-balik tentang ‘siapa Tuhan saya’, mulai dari bahasa Indonesia sampai bahasa Jawa, Mandarin, Inggris. “Makin memikirkan tentang Tuhan, daya tarik setan makin berkurang”, demikian katanya. Maka Saudara lihat. Iblis bekerja dengan teror, tapi Tuhan bekerja dengan menyentuh satu demi satu, bahkan orang yang paling jahat, dengan cinta kasih.

Saudara- saudara, di mana ada cinta kasih yang paling tulus, maka pasti ada respon dari si jahat. Di mana ada pekerjaan Tuhan yang keluar dari kelimpahan kasih, ketulusan, pengorbanan, pasti Iblis main di sana. Dalam Yoh 13 ini dikatakan: Sementara itu sebelum hari raya Paskah mulai, Yesus telah tahu, bahwa saat-Nya sudah tiba untuk beralih dari dunia ini kepada Bapa. Sama seperti Ia senantiasa mengasihi murid-murid-Nya demikianlah sekarang Ia mengasihi mereka sampai kepada kesudahannya (ayat 1). Mereka sedang makan bersama, dan Iblis telah membisikkan rencana dalam hati Yudas Iskariot, anak Simon, untuk mengkhianati Dia (ayat 2). Yesus tahu, bahwa Bapa-Nya telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya dan bahwa Ia datang dari Allah dan kembali kepada Allah (ayat 3). Ayat 1 bersifat sangat positif, Yesus senantiasa mengasihi murid-murid-Nya. Tapi kemudian di ayat 2 kita menemukan evil power  masuk di sana, menunjukkan niat yang jahat. Maka poin ketiga, Yesus tahu bahwa Bapa telah menyerahkan segala kuasa ke dalam tangan-Nya; segala keberadaan si jahat boleh ada, tapi tidak akan melampaui kasih Allah dan kemahakuasaan Allah. Iblis bisa sejahat-jahatnya tapi tidak akan membatalkan kasih Tuhan. Tidak ada tempat terlalu hina dan terlalu jahat yang kasih Tuhan tidak bisa menghancurkan kejahatan tersebut.

Model seperti itu sebetulnya ada berulang kali, seperti dalam peristiwa sebelumnya ketika Maria membasuh kaki Tuhan Yesus (pasal 12). Maria memecahkan buli-buli berisi setengah kati minyak narwastu seharga 300 dinar --upah kerja setahun-- yang begitu harum itu, karena tidak ada hal yang terlalu besar, tidak ada pengorbanan yang terlalu berat, kalau keluar dari cinta kasih. Di tengah-tengah cinta kasih yang tulus itu, Yudas berespon: "Mengapa minyak narwastu ini tidak dijual tiga ratus dinar dan uangnya diberikan kepada orang-orang miskin?" (ayat 5). Kemudian Saudara akan melihat konfirmasi Tuhan atas pekerjaan Maria: "Biarkanlah dia melakukan hal ini mengingat hari penguburan-Ku” (ayat 7), silakan berbuat jahat, itu tidak akan menghalangi kasih Allah, tidak akan menghalangi kedaulatan Allah yang menopang. Saudara juga menemukan dalam Lukas 7:39, Simon orang Farisi yang berusaha jadi hakim. Dia naik ke atas mengamat-amati Yesus, menganalisa, lalu berpikir ‘celaka ini Orang, jikalau Dia nabi, pasti Dia tahu siapa perempuan ini’. Lalu tepat di bawahnya, ayat 40 Tuhan Yesus mengatakan: "Simon, ada yang hendak Kukatakan kepadamu." Dan langsung berubah, Simon langsung menyebut Yesus ‘guru’: "Katakanlah, Guru." Bagi Simon, Yesus ‘gak level lagi jadi nabi, turun kelas jadi guru. Mentalitas seperti ini ada di mana-mana, ketika kita melihat cinta kasih Tuhan lalu langsung mau naik ke atas menganalisa, menganggap tidak benar, bahkan kalau boleh Tuhan pun dianalisa.

Simon orang Farisi menganalisa, Yudas penuh kepalsuan dan kemunafikan berdiri di balik pelayanan, tapi kita melihat semua itu tidak menghalangi cinta kasih Tuhan, bahkan kejahatan hati manusia di satu sisi bisa menggenapkan rencana Tuhan. Di tengah-tengah pelayanan, ketika pengabaran Injil diberikan dengan sungguh-sungguh tulus, pasti ada penolakan. Waktu kita mengasihi anak memberikan yang terbaik, kadangkala dia menolak kita. Waktu kita sungguh-sungguh menyatakan kasih, pasti ada penolakan, ada penistaan, ada salah mengerti, bahkan fitnah. Itulah pelayanan. Tapi ketika kita melayani santai-santai apa adanya, tebar pesona ‘look at me’ sepertinya jalannya begitu mulus namun akhirnya ada kehancuran. Di mana ada pelayanan dengan motivasi jujur dan tulus di hadapan Tuhan, pasti Iblis main di situ.

Tapi di sisi lain kadang orang merasa kalau dalam pelayanan makin turun ke bawah, makin menderita, itu makin mirip dengan Yesus. Tidak, Saudara. Mengapa? Karena metode yang Yesus pakai waktu turun ke bawah, kualitasnya berbeda. Kita ini punya jiwa yang selalu dari bawah mau naik ke atas, lalu setelah di atas bangga, saya di atas, sekarang saya turun ya, ke bawah; saya mau bersusah-susah menengok jemaat yang rumahnya di gang becek, dst. Kita pamer hal itu, oh, betapa rendah hatinya saya, dari takhta menara gading turun ke bawah... Tapi betulkah demikian? Tidak. Kerendahan hati Yesus yang Dia lakukan kepada murid-murid adalah kerendahan hati yang luar biasa agung, karena hanya Yesus-lah yang dari atas turun ke bawah. Dialah yang kata Paulus: ‘yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan’. Allah turun jadi manusia. Cukup? Tidak. Dia turun jadi manusia hamba. Cukup? Tidak. Dia turun jadi orang yang mati tidak punya tempat di atas kayu salib, begitu rendah. Lalu kita merasa juga sudah turun seperti Yesus waktu dia tidak menyapa tapi saya menyapa duluan?? Tidak, saudara. Kualitas penyangkalan diri Yesus berbeda dengan kita, dan itu menutup mulut kita sehingga tidak ada satu di antara kita yang boleh membanggakan diri “I am good enough”.

Ayat 13-14 “Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu”. Menarik bahwa di sini ada kata-kata yang ditata berbeda. Ayat 13 dikatakan ‘kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan’ tapi di ayat 14 Yesus menempatkan dengan benar ‘Aku yang adalah Tuhan (Kurios) dan  Gurumu’. Ini bukan sekedar pengulangan kata yang sama ‘Guru, Tuhan’ dan ‘Tuhan, Guru’, tapi di sini Tuhan mau mengatakan, ‘lihat, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, Kurios, Pemilik hidupmu, berdiri di depan kamu membasuh kakimu, maka tidak ada yang terlalu berat yang kamu lakukan’. Tuhan dari atas turun ke bawah. Dia pencipta, maka waktu dikatakan “Allah merendahkan diri” itu cuma Tuhan yang bisa, tapi waktu Saudara dan saya merendahkan diri sebenarnya kita tidak rendah ke mana-mana, kita tidak turun ke mana-mana. Definisi kita merendahkan diri adalah kita memperlakukan sesama kita selayaknya sebagai sama-sama orang berdosa, orang-orang sampah yang diterima karena anugerah yang menopang hidup kita, kita save and live by grace, bukan hanya diselamatkan oleh anugerah tapi seluruh hidup kita sampai bertemu dengan Tuhan adalah only by grace. Kita menikmati diterima bukan karena kita baik tapi karena kabar baik itu menghidupi hidup kita. Maka di sini kita melihat, waktu kita mengatakan ‘saya menyangkal diri merendahkan diri’ itu berarti Saudara sombong. Waktu orang rendah hati dan dia sadar dia rendah hati, dia sudah jatuh. Orang rendah hati yang sebenarnya, dia tidak sadar kalau dia rendah hati. Bicara tentang rendah hati sulit, itu seperti bicara tentang pemandangan yang indah sekali, tapi cuma kita temukan di kalender-kalender. Kerendahan hati seperti sesuatu yang indah tapi kita belum ke sana, bahkan belum tentu juga bisa ke sana.

Kerendahan hati itu sesuatu yang indah sekali ketika kita menempatkan posisi Kristus menjadi center di sana, yaitu waktu kita mengampuni orang yang bersalah kepada kita. Di situ kita tidak turun ke mana-mana, kita memperlakukan dia selayaknya karena kita juga menerima itu only by grace. Kalau Tuhan melihat muka kita, pasti Dia membuang kita, tapi hanya karena melihat Kristus maka Allah menerima kita. Waktu kita berkata “saya merendahkan diri mengampunimu”, mungkin kita sedang ge-er seolah kita tuhan dan yang lain manusia, atau kita manusia dan yang lain binatang. Saudara, waktu kita merendahkan diri, kita tidak turun ke mana-mana, karena sudah ada Tuhan yang turun. Maka yang boleh mengatakan ‘merendahkan diri’ cuma Kristus karena Dia memang turun dari atas ke bawah.
Ada seorang jemaat yang sudah 7 tahun bermusuhan dengan kakaknya karena urusan rebutan harta warisan keluarga. Mereka sampai sewa pengacara, dan anak-anaknya pun dididik untuk saling bermusuhan. Singkat cerita, karena satu hari terjebak bertemu di toilet mal, akhirnya mereka saling menyapa dan dan berbaikan. Lalu dia katakan kepada saya, “Memang Tuhan bekerja, tapi coba bayangkan, kalau tidak saya menyapa dia lebih dulu, pasti tidak ada pemulihan”. Perkataan itu berulangkali dia katakan setiap bertemu dengan saya, lalu saya katakan, “Kalau Tuhan tidak intervensi, kalian berdua sampai mati penuh dengan dendam”. Tapi dia jawab, “Ya, tapi itu karena saya menyapa dia duluan”. Saya, saya, saya; betapa sulit meng-‘klik’-an otaknya. Saudara, tidak ada yang terlalu besar yang kita lakukan untuk sesama kita. Dan Kristus sudah kerjakan itu lebih dulu bagi kita.

Kiranya Tuhan memberkati kehidupan kita, makin memperkaya hidup kita. Satu-satunya tanda yang Tuhan jaga sampai kita bertemu muka dengan muka dengan Tuhan, adalah tanda kerendahan hati, tanda bayang-bayang salib. Tanda itulah yang dikenali Tomas ketika dalam keraguannya, Yesus mendekati Dia. Tanda paku di tangan, tanda lubang di lambung, tanda itulah yang dikenali Tomas, dan dia berkata: “Tuhanku dan Allahku”. Tanda itu yang dipelihara Tuhan, tanda kerendahan hati, tanda pengorbanan, sehingga Wahyu mengatakan: “The Lamb who was slain”, dan semua --para kerubim, serafim, dan para saleh-- memberikan pujian kepada Anak Domba yang disembelih. Tanda kehinaan itu yang dipelihara Tuhan. Tidak ada juruselamat yang terluka seperti Tuhan kita. Tapi Juruselamat kita memelihara satu tanda yang nanti muka dengan muka akan kita kenali bahwa itulah Juruselamat kita yang paling agung, yaitu tanda kehinaan, tanda cinta kasih, tanda pengorbanan, tanda Dia pernah turun ke tempat  yang paling rendah. Dan tanda itulah yang dihormati para malaikat, yang dipuji di surga.

Saudara, bolehkah seumur hidup kita mengejar hak, mengejar uang, mengejar kuasa? Alkitab katakan “serahkan”, Alkitab mengajar penyangkalan diri, Alkitab mengajar kehilangan hak. Dan heran, sambil berkorban, kita tidak rasa berkorban; sambil menyangkal diri, kita tidak rasa itu beban yang menyakiti kita; sambil menyangkal diri dalam kesulitan, ada sukacita besar yang Tuhan berikan. Banyak kali kesulitan dalam keluarga ketika orang menuntut hak, ketika orang saling egois menuntut satu dengan yang lain. Kebenaran Firman Tuhan set us free dengan melepaskan hak kita, karena Kristus sudah mengerjakan yang lebih mulia, lebih agung, dalam hidup kita.

 

Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah (MS)

Gereja Reformed Injili Indonesia Kelapa Gading