Discipleship

Minggu lalu kita sudah bicara mengenai peran Tuhan yang membawa kita masuk dalam anugerah; Tuhan yang kasih-Nya agresif, Tuhan yang kasih-Nya “mulai lebih dulu”,  Tuhan yang kasih-Nya mulai sebelum dunia dijadikan. Tapi dalam kehidupan Kristen tentu bukan itu saja,  bukan cuma ada peran Tuhan namun juga respon manusia, bagian dari kita. Kalau kita sudah mempunyai Allah  yang amazing seperti itu, apa yang kira-kira jadi  proper response kita? Kalau kita sudah melihat karya Tuhan yang luar biasa, lalu berikutnya apa? Jawabannya adalah: kita harus menjadi  murid-murid-Nya, karena respon yang tepat bukanlah  “kita percaya”.  Dalam amanat agung, Tuhan Yesus bukan mengatakan “Murid-murid-Ku, yakinkanlah semua orang bahwa Aku adalah Allah”, melainkan: “jadikanlah segala bangsa murid-Ku”.  Ini hal yang sangat penting, karena objektif dari “bertemu dengan Kristus, bertemu dengan Allah yang kasih-Nya demikian amazing” itu bukanlah untuk sekedar percaya tapi  untuk mengikut Dia. Kita hari ini ingin discuss mengenai : apa itu mengikut Tuhan?

Bagian yang baru kita baca, kita melihat Tuhan Yesus memanggil murid-murid-Nya, dan mereka itu, Andreas dan Yohanes, sudah percaya kepada-Nya sebelum mereka  dipanggil untuk mengikut. Yohanes memberitakan “Inilah Domba Allah, ikutlah Dia”; dan mereka sudah mengikuti. Tapi itu tidak cukup bagi Tuhan Yesus, ada satu poin ketika Tuhan Yesus berpaling ke belakang, dan memanggil mereka untuk mengikut. Tidak cukup menjadi  orang-orang yang nongkrongin Tuhan Yesus, ada di sekitar Tuhan Yesus. Kalau ada orang yang seperti itu, kita lihat bahwa Kristus dengan sangat cepat menantang mereka untuk bukan cuma nongkrong dan ngiter-ngiter, tapi untuk mengikut Dia. Kristus “takut” -- kalau kita mau pakai istilah ini -- kalau melihat orang-orang nongkrong dan ngiter-ngiter di sekitar Dia tapi tidak mau berkomitmen. Buktinya apa? Buktinya antara lain dalam Mat 8:19-22, ada ahli Taurat yang professing publicly bahwa dia mau mengikut Yesus, tapi Tuhan Yesus menjawab, “Serigala mempunyai liang, burung mempunyai sarang, tapi Anak Manusia tidak punya tempat untuk meletakkan kepala-Nya”. Wah, congratulation to Jesus, pasti banyak pengikut-Nya kalau berkata seperti ini. Seorang yang lain berkata kepada-Nya, “Tuhan izinkan aku terlebih dahulu menguburkan ayahku”, tapi Tuhan Yesus berkata kepada dia, “Ikut Aku. Biarlah orang-orang mati menguburkan orang mati mereka”. Luar biasa ya, mengapa tidak bisa pakai cara yang lebih lembut sedikit, yang lebih mengayomi sedikit, waktu bicara pada orang yang  seperti ini, bukankah mereka sudah percaya? Sekali lagi, jawabannya adalah karena Tuhan Yesus tidak tertarik untuk dapat fans club, tidak tertarik untuk sekedar dapat orang-orang yang percaya, Dia hanya mau dapat satu tipe orang, yaitu: murid. Murid yang berkomitmen kepada Dia habis-habisan. Maka waktu kita membahas bagian  ini, ada satu pertanyaan yang bisa kita pikirkan: bagaimana  dengan kita? Siapa kita di hadapan Tuhan Yesus? Kita murid-Nya-kah, atau selama ini kita cuma nongkrongin Dia, ngiterin dekat Dia? Kita pemerhati Tuhan  Yesus, kita fan, atau kita murid-Nya?  Mungkin Saudara katakan, “Bukankah kami ada di sini, di gereja, tentu kami adalah murid.” Tidak tentu, Saudara. Pada  saat itu, ada banyak orang nongkrongin Tuhan Yesus karena simpel saja: orang senang keramaian, dan di dekat Kristus selalu ada keramaian. Manusia sangat mudah  tertarik pada kerumunan orang banyak, ingin tahu apa yang terjadi. Dan  waktu mereka melihat orang yang personality-nya kuat sekali, bisa membuat mujizat, mereka  tertarik. Tapi mereka tidak tertarik pada ide-Nya, tidak tertarik pada “Tuhan”-nya, personality  yang kuat itu.

Dikatakan dalam Yohanes 2:23-24 “di Yerusalem selama Hari Raya Paskah banyak orang yang tertarik kepada-Nya” , mengapa? Karena mereka melihat tanda-tanda.  Menarik waktu dikatakan “di Yerusalem selama Hari Raya Paskah”, karena Yerusalem di hari biasa penduduknya sekitar 80.000-an tapi waktu  hari raya, apalagi Hari Raya Paskah yang paling sentral, jumlahnya membengkak jadi sekitar 500 ribu. “Banyak” harus dilihat dari konteksnya, “banyak” dari berapa? Kalau kita mengatakan “banyak dari Saudara di ruang ini” mungkin artinya sekitar 80-an, tapi kalau dikatakan “banyak orang di Jakarta” itu artinya banyak dari  15 juta. Dikatakan “banyak di Yerusalem pada Hari Raya Paskah”  artinya “banyak” dalam arti  dari 500 ribu, betul-betul banyak, bisa ribuan, mungkin ratusan ribu,  tapi harusnya itu membuat kita gentar karena kalimat berikutnya di ayat 24 dikatakan, “Tetapi Yesus sendiri tidak mempercayakan diri-Nya kepada mereka, karena Ia mengenal mereka semua, dan karena tidak perlu seorang pun memberi kesaksian kepada-Nya tentang manusia, sebab Ia tahu apa yang ada di dalam hati manusia.” Betapa menggentarkan, ada begitu banyak orang percaya, ribuan atau ratusan ribu, tapi pada hari Pentakosta yang tersisa cuma 120 orang. Ini langsung mengajarkan kepada kita, bahwa semua hati manusia  memang mencintai kuasa, mencintai spectacle, mencintai orang-orang yang kuat, mencintai figur yang luar biasa itu, tapi kemungkinan besar tidak mencintai kebenaran.

Mengapa selama ini kita datang kepada Kristus? Mengapa kita ada di ruangan ini? Saudara pikir, karena berada dalam ruangan ini lalu kita otomatis jadi murid? Tidak tentu.  Mungkin kita sekedar nongkrong di sini, ngiter-ngiter di sini karena ikut crowd, ingin lihat spectacle, mau pertolongan atas problem-problem dalam hidup kita. Atau kita mungkin tidak cari tanda-tanda mujizat, tapi kita tetap ingin kuasa, kuasa untuk bisa meraih  agenda kita, goal dalam hidup kita. Tapi, mengatur ulang hidup kita supaya kita hidup bagi Dia? Tidak. Tidak yang itu. Bahkan dalam zaman Kristus pun, ada banyak orang  mau Kristus jadi Raja atas dunia, tapi not necessarily jadi Raja atas hidup mereka.  O ya, kami mau Engkau jadi Raja atas kami, silakan jadi Raja, gulingkan pemerintah Romawi, buatlah sistem ekonomi yang bagus, yang reformed kalau perlu. Atau paling tidak buka  klinik, sembuhkan orang. Amazing apa yang Tuhan bisa lakukan, amazing apa yang  Teologi Reformed bisa lakukan buat hidup kita, membuat sistem ini dan itu, filsafat ini dan itu. Jadilah Tuhan Raja atas dunia ini, tapi kami tidak mau Tuhan jadi Raja atas hidup kami. Mengapa? Karena itu artinya kami jadi murid. Itu dua hal yang berbeda. Pertanyaannya, kita yang mana? 

Untuk menjawab ini, maka kita harus memikirkan apa arti sesungguhnya menjadi murid Tuhan? Paling  tidak ada 2 hal yang bisa kita bahas di sini. Pertama, apa arti “ikutlah Aku” dalam ayat 43; apa arti kata “ikut”? Mengikut Dia  berarti menjadikan Kristus  prioritas yang utama, nomor satu dalam hidup kita. Mengikut berarti Saudara harus pergi;  mengikut berarti Saudara harus berubah; mengikut berarti Saudara tidak bisa bertahan di tempat Saudara hari ini. Mengikut berarti satu-satunya yang tidak berubah adalah jarak Saudara dengan Tuhan Yesus, ini tidak boleh berubah tapi yang lain boleh. Jarak Saudara terhadap pekerjaan, jarak Saudara terhadap pelayanan, jarak Saudara terhadap segala sesuatu boleh berubah, tapi bukan “jarak saya dengan Kristus”.  Itu artinya mengikut. Saudara dan panggilan, basically seperti ini harusnya. Saya melihat sebuah iklan di luar negri memperlihatkan seorang pria di tempat tidurnya. Lalu alarm menyala jam 4 pagi; dia bangun, bukan dengan malas-malasan tapi melompat dengan mata terbuka lebar, lalu langsung turun ke bawah. Dia sikat gigi, makan sarapannya,  pakai baju, lalu cepat-cepat dengan senyuman yang begitu cerah, padahal masih jam 4 pagi, keluar dan angkat telepon. Dia mengatakan tentang bagaimana hari ini stock, keuangan, dsb.  Iklan apa itu? Iklan bank. Message-nya simpel: bank itu mau mengatakan “staf kami seperti ini”, staf kami punya satu panggilan yang khusus yaitu membuat Saudara lebih kaya, sehingga dia rela mengubah hidupnya demi goal itu; staf kami begitu berkomitmen terhadap uang Saudara sehingga dia rela bangun jam 4 pagi dengan mata begitu terbuka untuk itu; maka, silakan invest di kami. Itulah namanya panggilan.

Panggilan “mengikut” berarti memperoleh satu center of gravity. Memperoleh satu poin dalam hidup kita yang kemudian seluruh hidup kita di-orientasi terhadap itu. Semua arti dari hidup kita, dari kegiatan kita, didapatkan dari barang itu. Ini  mulai mengerikan, Saudara. Tapi ada yang lebih mengerikan kalau Saudara memikirkan “masa sih kita harus hidup seperti itu?”, yaitu bahwa Saudara  tidak bisa hidup tanpa itu. Saudara tidak bisa hidup tanpa ada poin gravitasi dalam hidup Saudara, tidak bisa. Kita mengambil satu very interesting analogy: astronot hidup beberapa bulan di luar angkasa, kedaan tanpa center gravitasi, zero gravity, suatu keadaan yang  tidak ada arah. Waktu mereka hidup dalam situasi seperti itu, lingkungan yang tidak ada gravitasi, keadaan yang tidak ada satu poin pun menguasai hidup, apa yang terjadi? Yang terjadi adalah, kalau kita lihat dari film dokumenter, hal-hal yang biasanya secara normal sangat mudah dilakukan menjadi amat sangat sulit. Di bumi ini, tempat yang ada gravitasi, kalau kita menuang air, itu mudah sekali karena ada gravitasinya. Ada satu poin dalam hidup di bumi ini, yang semuanya relatif terhadap poin tersebut. Tapi kalau di ruang angkasa, menuang air itu pekerjaan yang setengah mati. Satu hal lagi, yaitu memutar sekrup pakai obeng. Kalau kita di bumi dengan gravitasi seperti ini, kita putar sekrup, yang terputar ya sekrupnya. Tapi di luar angkasa, kalau Saudara putar sekrup, maka yang berputar adalah Saudara! Karena sekrupnya berada di tempatnya, tapi Saudara tidak ada gravitasinya, tidak ada referensinya, jadi Saudara yang berputar. Maka betapa mengerikan kalau harus menjadikan Kristus sebagai center of gravity dalam hidup kita, tapi actually lebih mengerikan kalau Saudara menjadi orang yang tidak punya center of gravity. Kalau Saudara adalah orang yang kehidupannya tidak diatur oleh satu center of  gravity itu, Saudara akan jadi hampa udara secara spiritual, tidak  berbobot, tidak ada arahnya. Itulah hal pertama tentang mengikut Tuhan yakni menjadikan Dia prioritas, menjadikan Dia “Yang tidak negotiable” sedangkan  yang lain boleh berubah.

Yang kedua, bukan cuma menjadikan Dia prioritas dalam hidup kita, tapi memberikan kepada-Nya ketaatan yang mutlak. Waktu Andreas dan Yohanes bertemu Tuhan, hal pertama yang mereka tanya adalah: “Di mana Rabi tinggal?” Mereka sudah memanggil Dia “Rabi”, berarti mereka mau menjadi murid, tapi pertanyaan pertama mereka adalah “di mana Engkau tinggal”, ini bukan pertanyaan basa-basi, ini  suatu yang very important karena arti kata “murid” dalam hidup kita hari ini dan dalam zaman Tuhan Yesus sangat berbeda. Bagi kita hari ini, kalau murid full time artinya seminggu mungkin ada beberapa kelas, satu  semester mengambil di atas 30 SKS, tiap hari kuliah mungkin kecuali Sabtu dan Minggu, lalu kalau malam kita tentu juga pulang. Dan waktu berhubungan dengan guru atau dosen, relasinya sebatas intelektual saja. Tapi Andreas dan Yohanes menanyakan ”di mana Engkau tinggal”, karena menjadi “murid” waktu itu berarti tinggal bersama rabinya 24 jam, 7 hari seminggu, 365 hari setahun. Ini tidak perlu dianggap hal yang aneh,  karena relasi murid dan guru yang cuma sebatas intelektual adalah produk zaman modern yang baru beberapa puluh tahun ke belakang ini saja, tapi awalnya tidak seperti itu. Pada zaman Bach pun, orang kalau belajar musik  pada Bach, ia harus tinggal di rumahnya Bach. Itu standarnya, normalnya seperti itu, relasi antara murid dengan guru bukan cuma intelektual tapi keseluruhannya. Si Rabi atau si Guru akan mengatur ulang, mendobrak ulang, meng-aransemen ulang seluruh hidup mereka sebagai murid; itu juga artinya menjadi disciple pada zaman Kristus, dan kita sangat benci pada ide seperti itu. Mungkin Saudara berkata, “Oh tidak, saya tidak benci, saya ingin jadi murid yang seperti itu”, benarkah?  Kalau kita mengerti arti “seluruh hidup kita diserahkan kepada Kristus” , saya rasa respon yang wajar adalah: menolak; karena ini berarti hubungan saya dengan Dia bukan sebatas intelektual tapi hubungan yang personal.

Apa bedanya berhubungan dengan barang secara impersonal  dan berhubungan dengan orang secara personal? Barang, misalkan handphone (HP), tidak berpribadi, sedangkan saya berpribadi. Berarti saya bisa seenak jidat memakai HP ini, barang ini ada untuk saya, untuk kemauan saya dan memenuhi kebutuhan saya. Kalau pun barang ini menuntut saya, harus dengan persetujuan saya dulu, mungkin HP bisa saja menuntut kita “benerin saya karena saya rusak”, tapi tetap saja kita bisa berkata “saya tidak mau benerin, saya mau buang saja”. Dan HP itu tidak bisa menuntut kita apa-apa; yang kita lakukan padanya semua sesuai kemauan kita. Tapi kalau berelasi secara personal, artinya apa? Itu berarti ada “berikan”, ada “ambil”; ada dua belah pihak. Berelasi secara personal artinya kita harus menaklukkan kehendak kita, tanpa ada give and take dalam suatu relasi, itu tidak bisa berjalan.  Mengapa Saudara tidak bisa mempertahankan relasi?  Mengapa saya pacaran selalu gagal? Mengapa saya selalu cekcok habis-habisan dengan pasangan? Karena seringkali yang terjadi kita tidak rela menaklukkan kehendak kita di bawah kehendak dia, dan  itu tidak bisa dalam relasi yang personal. Relasi yang personal berarti ada certain asset dalam hidup yang kita harus serahkan, harus rela kehendak kita di  bawah kehendak dia, tidak bisa tidak.

Itu tadi mengenai  relasi yang impersonal  dan yang personal. Sekarang kita naik satu level lagi, bagaimana hubungan dengan Tuhan? Tuhan itu personal, tapi bukan cuma Orang yang personal, Dia TUHAN yang personal. Ini relasi yang ultimate, relasi yang paling tinggi. Kita lihat: relasi yang paling rendah -- yaitu relasi impersonal -- tidak menuntut apa-apa; naik sedikit adalah relasi dengan orang/ pribadi, itu menuntut Saudara sebagian; tapi relasi dengan Allah, relasi yang ultimate itu, adalah berarti Saudara dituntut MUTLAK. Saudara dituntut berelasi dengan Dia secara ultimate. Saya pernah mengatakan suatu analogi, sbb.: dikatakan bahwa Kristus memegang seluruh dunia dengan kata-kata firman-Nya; lalu seandainya setipis kertas adalah jarak matahari ke bumi, berarti  jarak matahari ke bintang terdekat adalah sekitar 70 meter kertas ditumpuk, jarak antara bumi dengan tepi galaksi kita jadi sekitar 9 km kertas ditumpuk; danTuhan kita, Kristus, mempertahankan semua itu dengan kata-kata firman-Nya, bukan dengan tangan-Nya! Maka Saudara bisa bayangkan seberapa besarnya Dia? Mazmur 8 mengatakan  bahwa seluruhnya  ini adalah buatan “jari-Mu”. Itulah Tuhan, Tuhan yang luar biasa seperti itu.

Bagaimanakah Saudara mau berelasi dengan Tuhan yang seperti itu? Apakah Saudara akan berelasi dengan Tuhan yang seperti ini dengan menjadikan Dia asisten Saudara? Apakah Saudara akan mengundang Dia masuk dalam  hidup Saudara dengan mengatakan, “Ya, aplikasi Tuhan lumayan bagus dibandingkan dewa-dewi yang lain, jadi saya pegang  dulu berkasnya, ya Tuhan. Nanti Tuhan jangan  telpon saya, jangan hubungi saya dulu, saya yang akan telpon Tuhan kalau saya perlu. Tuhan santai saja, saya akan simpan berkas ini, saya akan pikirkan baik-baik, membandingkan dengan kompetitor-kompetitor  yang lain, dan kalau tertarik nanti saya akan telpon Tuhan, tapi Tuhan jangan telpon saya. Saya akan telpon Tuhan kalau saya perlu Tuhan.” Apakah kita  akan berelasi dengan Dia seperti itu? Relasi dengan Dia adalah ultimate relation dan berarti ultimate submission! Tidak ada satu kemungkinan pun untuk bisa mendekati Tuhan dan berhubungan dengan Dia kecuali kita memberikan kepada Dia ketaatan mutlak. Itu realita menjadi murid, mengikut Tuhan. Itu realita memberikan kepada  Dia absolut obedience, ketaatan mutlak. Ini mengerikan sebenarnya, dan kalau Saudara berpikir ini tidak mengerikan, Saudara sedang menipu diri.

Kemarin dalam PA, kita membahas bedanya Perintah ke-1 dan Perintah ke-2? Perintah ke-1 adalah Saudara jangan menyembah Allah yang salah, dan Perintah  ke-2 bukan cuma menyembah Allah yang benar, tapi harus menyembah Dia dengan cara yang benar juga. Kalau Saudara mau mengenal Dia, tidak boleh mengenal Dia dengan cara yang salah, dengan gambar-gambar dan patung yang Saudara buat; tidak boleh membayangkan Dia seperti  yang kamu mau. Tidak cukup menyembah Objek yang benar, kamu harus memikirkan Dia dengan cara yang benar; kamu harus mengenal Dia dengan cara yang benar, tidak boleh melalui imajinasimu, tidak boleh berdasarkan apa yang kamu mau, yang kamu lihat, yang kamu bisa bentuk, tapi seperti  Dia sendiri berada. Tidak boleh meng-imajinasikan Tuhan itu seperti apa, tapi harus membiarkan Tuhan yang mengontrol imajinasi kita. Itu make sense, tapi ironisnya kita tidak mau melakukan itu. Lebih ironis lagi, bukan saja kita tidak mau melakukan itu terhadap Tuhan, sebaliknya  kita melakukan itu terhadap hal-hal yang lain. Satu contoh: kalau Saudara sedang menyetir mobil di jalan yang berkelok-kelok, lalu Saudara mengatakan, “O, saya tidak mau melihat jalan ini sebagai jalan yang berkelok-kelok, saya mau pakai gambaran sendiri, pemikiran sendiri. Saya mau melihat jalan ini lurus.” Maka apa yang akan terjadi? Saudara bakal jadi cat buat pohon, mejret di situ. Kita sudah tahu itu, kita tidak akan memaksa meng-imajinasikan jalan sesuai apa yang kita mau. Contoh kedua mengenai nafsu makan: kalau mengikuti nafsu makan Saudara, percaya mutlak pada nafsu makan Saudara, maka cepat atau lambat Saudara akan sakit. Mengapa kita tidak sakit ini atau itu? Karena kita sudah belajar untuk tidak mempercayai  nafsu makan kita.

Itu mengenai jalanan, makan, dan yang ketiga mengenai relasi. Kita sudah tahu bahwa berelasi dengan orang tidak boleh atas dasar like and dislike, senang dan tidak senang. Kesenangan atau ketidak senangan kita itu tidak bisa dipercaya. Kalau kita memaksakan selalu pakai like and dislike waktu berelasi, maka akan ada distorsi, diskriminasi, rasisme; karena waktu kita memikirkan apa yang kita mau secara relasional, kita hanya akan menyukai yang familiar dan membenci yang tidak familiar. Kita tahu bahwa kita tidak boleh menuruti hal itu, tidak boleh bersandarkan yang kita mau. Tapi bagaimana dengan pelayanan, ketika kita deal dengan Tuhan? Satu contoh kalau mendengar orang mundur dari pelayanan, apa alasannya? Kalimatnya banyak variasi  tapi salah satu yang muncul terus berulang kali adalah: “Saya mundur, saya kecewa, karena Gereja, atau Hamba Tuhan, atau bahkan Tuhan sendiri, tidak  sesuai harapan saya.  Tidak sesuai gambaran saya, tidak sesuai apa yang saya inginkan. Tidak sesuai dengan cara saya meng-imajinasi Dia.” Mungkin kalimatnya tidak seperti itu, tapi maksudnya  koq Gereja kayak begini?  koq Hamba Tuhan kayak begini? koq TUHAN kayak begini???  Tidak berarti mundur pelayanan selalu salah, kalau Saudara pindah ke Afrika, ya sudah pasti mundur dari Kelapa Gading. Tapi Saudara bisa selidiki hati sendiri, apa yang selama ini menggerakkan  Saudara bertindak dalam relasi dengan Tuhan. Kalau urusan nafsu makan saja kita belajar untuk tidak mempercayai nafsu makan kita,  dalam relasi belajar tidak mempercayai like and dislike kita, waktu jalan pun kita sudah tahu untuk tidak mempercayai apa yang kita inginkan, tapi mengapa ketika kita deal dengan Tuhan, ketika kita berelasi dengan Dia, justru memaksakan apa yang kita mau, memaksakan gambaran yang ada di kepala kita? Betapa absurd-nya kalau orang mengatakan “saya mau berhenti dari pelayanan karena tidak sesuai dengan gambaran saya”. Betapa mengerikan.  Maka kita tidak mau jadi murid Tuhan, kita lebih suka ngiter-ngiter di sekitar Tuhan karena menjadi murid Tuhan artinya pasti Dia akan menyuruh  kita melakukan hal-hal yang kita tidak mau lakukan. Jadi kabar baiknya apa?

Kabar baiknya adalah Tuhan  sendiri buka cuma mengatakan  ”datang/ marilah” kepada Yohanes, Andreas, dan juga kita, tapi  Dia mengatakan, “marilah dan lihatlah”.  Maksudnya apa? Kalau cuma datang karena mendengar panggilan “mari”, Saudara akan stres; itu sebabnya Tuhan mengatakan “mari dan lihatlah”. Ada keajaiban, ada sukacita yang kita belum bisa lihat sekarang, itu sebabnya Dia mengatakan “mari dan lihatlah”. Itu  yang menjadi kunci. Sekali lagi, hidup kita pada hari ini hampir  tidak ada lagi satu aspek  yang masih  memakai pola discipleship, pemuridan yang total, kecuali satu yaitu relasi seorang atlet dengan pelatihnya. Waktu seorang atlet ikut pelatihnya, si pelatih ada di situ seringkali  bukan  karena ia lebih jago kungfu-nya, atau tinju-nya -- pelatih Mike Tyson mungkin tidak tahan beberapa menit menghadapi Mike Tyson di dalam ring -- tapi tujuan ada pelatih sebenarnya adalah sebagai atlet sebenarnya kita tidak akan mau melakukan ini dan itu dan kita perlu orang yang tegas mengatakan “lakukan”. Mengapa pelatih melakukan itu semua? Karena ia mau mengatakan, “kamu belum lihat keindahan  yang akan datang kalau kamu menjalankan semua peraturan ini”.
Kembali pada contoh kesehatan. Kita tidak senang makan harus diatur, diet, tapi kita melakukannya karena melihat ada keindahan yang akan datang kalau menuruti peraturan yang kita tidak senang itu. Mengapa orang bisa terus mau mendalami musik, latihan bertahun-tahun?  Ada banyak hal yang harus dikorbankan; ketika teman-teman pergi ke mall, pergi pacaran, Saudara harus di rumah berlatih,  seakan-akan tidak bebas. Tapi mengapa kita melakukannya? Karena ada orang yang mengatakan, “Ini lho, kamu lihat joy-nya. Kalau kamu bertahan di situ, kamu akan masuk ke dalam kebebasan yang seperti ini.” Disiplin bukan akan mematikan, tapi membawa kita masuk ke dalam joy yang luar biasa, itu sebabnya Tuhan mengatakan bukan cuma “mari” tapi “mari dan lihatlah”. Kalau dalam latihan piano saja kita mengerti hal ini, dalam olah raga kita juga mengerti, lalu apakah aturannya berbeda untuk spiritualitas?  Apakah kita tidak perlu menyangkal diri? Tidak perlu ikut ke dalam semua ini? Tentu bukan itu. Kita dibuat, diciptakan untuk taat pada Tuhan. Kita diciptakan untuk punya center of gravity yang ini. Kita diciptakan  untuk ini dan kalau tidak ada, hidup kita justru kacau. Itulah sebenarnya. Mungkin Saudara mengatakan, “Ya, it’s logical, benar, tapi tidak cukup, karena saya bisa mengatakan di kepala saya sendiri ‘ya, saya tahu ini semua benar’, tapi hati saya tidak mengatakan demikian. Akan ada  datang saatnya saya mungkin tidak cukup kuat untuk memilih taat pada Tuhan.”  Memang benar  Saudara, karena Saudara cuma melihat “mari” dan Saudara tidak melihat “lihatlah”.
Dalam suatu hubungan, kita sulit untuk jadi  yang pertama; kita sulit jadi yang mulai duluan. Kalau Saudara merasa hubungan Saudara dengan Tuhan itu sulit, kemungkinan  besar karena Saudara tidak pernah melihat satu hal atau Saudara salah melihat: Saudara pikir harus mulai duluan,  harus  berinisiatif; sangat sulit untuk mulai duluan taat pada Tuhan. Tapi itu sebabnya  dikatakan”lihat”; apa yang harus kita lihat? Yaitu Dia sudah mulai duluan. Kita sangat sulit mulai duluan, tapi sangat mudah meresponi. Kalau berantem  dengan pasangan, sangat sulit mulai duluan minta maaf; tapi kalau dia mengatakan “aku minta maaf kemarin aku salah”, maka sangat mudah untuk meresponi, kita langsung mengatakan “aku juga minta maaf”. Mengapa? Karena Saudara sudah melihat ada yang mulai duluan. Saudara meresponi bukan berinisiatif. Inilah yang Saudara harus lihat.

Tadi kita mengatakan,  artinya “mengikut”  yang pertama adalah menjadikan Dia prioritas kita;  tapi  lihatlah Saudara, Dia sudah menjadikan Saudara prioritas-Nya. Di Alkitab ada satu tema yang muncul berkali-kali  yaitu  dosa telah mebuat manusia terkucil, exiled, terbuang. Adam dan Hawa karena dosa, dibuang dari Taman Eden, bangsa Israel dibuang ke  Babel, dan bahkan sekarang pun setiap kita ada sense seperti itu bahwa kita orang yang terbuang, bahwa kita orang yang harus selalu mencari rumah. Mengapa kita sedih waktu pulang kampung mendapati  sawah seberang rumah yang dulu tempat kita bermain waktu kecil, sekarang  sudah jadi  jalan tol atau mall? Mengapa hati kita  ada kesedihan seperti itu? Mengapa kita di sini setiap Minggu di gereja  berusaha  menempati kursi yang sama? Mengapa? Karena kita ada sense “kita terbuang”, “kita terkucil”, “kita harus mencari suatu rumah”. Kita ingin pulang. Tema itu sangat jelas dalam Alkitab, dan juga dalam hidup kita. Tapi sekali lagi, mengikut itu berarti pergi, dan coba lihat apa yang Tuhan lakukan untuk Saudara: Dia mengatakan, “Serigala mempunyai liang, burung mempunyai sarang, tapi Aku tidak punya tempat untuk meletakkan kepala-Ku -- Aku tidak punya rumah”. Ini bukan cuma perkataan-Nya, ini tema seluruh hidup-Nya. Di mana  Dia lahir? Di rumah-Nya? Di pangkuan ibu-Nya di tempat yang begitu enak? Dia lahir di palungan. Waktu  Dia lahir, tidak ada tempat; waktu Dia mati, kuburan harus pinjam. Tidak ada tempat untuk Dia. Tidak ada rumah untuk Dia. Dia pergi . Dia yang punya rumah yang sejati, Dia pergi dari rumah itu supaya Saudara dan saya yang terkucil, terbuang, bisa finally pulang. Maka Saudara kesulitan untuk meberikan Tuhan prioritas?  Mari dan lihatlah, Tuhan sudah menjadikan Saudara prioritas-Nya.

Tidak selesai di sini. Yang kedua,  mengikut berarti kita menyerahkan, menaklukkan kehendak kita  di bawah Orang itu. Ini mengerikan  meskipun kita tahu itu benar, meskipun kita tahu bahwa tidak masuk akal kita akan selalu mendapati kehendak-Nya masuk akal. Bahwa kehendak Allah selalu masuk akal dalam hidup kita, adalah sesuatu yang tidak masuk akal, karena Ia Tuhan dan kita manusia. Kita tahu itu, dan kita  takut. Kita tahu bahwa menjadi anak Tuhan berarti harus menyerahkan kehendak saya di bawah Dia, “nanti bisa-bisa saya harus jadi misionari...harus rela korbankan nyawa untuk Tuhan... .” Saudara pikirkan, pertama tidak semua bahkan sedikit orang yang dipanggil jadi misionari, tapi seandainya Dia menyuruh Saudara menjadi misionari dan harus mati bagi Dia, ya memang kita manusia yang fana  harus mati, hidup ini tidak bisa kita pegang, jadi daripada mati konyol mengapa kita tidak  berikan nyawa kita ke Dia? Logis, tapi itu tidak akan menggerakkan hati Saudara. Apa yang akan menggerakkan hati Saudara? Ketika melihat satu hal, bahwa sejauh-jauhnya Saudara mau berkorban bagi Dia, tidak akan bisa menyaingi pengorbanan yang sudah Dia lakukan terlebih dahulu. Tidak terlalu masalah kalau kita harus memberikan nyawa kita karena kita memang harus mati, tapi Dia? Dia adalah Allah yang kekal, Dia tidak  harus mati, dan Dia memberikan nyawanya buat kita, supaya kita yang akan mati, bisa hidup kekal. Itulah sebabnya ini adalah center of gravity yang Saudara bisa percaya, bisa pegang.  Memang tidak semua hal dalam hidup ada jawabannya, tapi kita bisa percaya center of gravity yang ini, Tuhan yang ini, karena Tuhan yang ini tidak menyuruh  Saudara melakukan sesuatu yang Dia belum lakukan lebih dulu bagi Saudara.

     
Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah (MS)

Download Ringkasan