Kasih dan Pengampunan

 Kita sudah membahas dalam perikop sebelumnya, kontras antara Yohanes Pembaptis dan Yesus Kristus, tapi keduanya sama-sama dipakai oleh Bapa; sama-sama berasal dari Bapa tapi sama-sama ditolak oleh dunia. Ada  diversitas di situ, yang satu suka berpuasa, hidup dalam ascetic life;  yang satunya suka makan dan table fellowship dengan semua orang. Dalam gambaran seperti itu, dunia menganggap dua-duanya melakukan tindakan yang ekstrim, tidak sesuai yang mereka harapkan. Dan berbahagia mereka yang menerima hikmat, yang dari Tuhan bukan dari manusia, karena hikmat itu akan membuat mereka bisa menerima Yesus maupun Yohanes Pembaptis. Dalam pembahasan itu kita menekankan bahwa Yesus bersekutu -- melakukan table fellowship -- dengan semua orang, termasuk  juga dengan orang-orang Farisi.

Dalam perikop ini, satu contoh Yesus bukan hanya  bersahabat dengan orang-orang berdosa yang ditolak oleh orang-orang Farisi dan ahli Taurat, tapi Yesus  juga bersahabat  dengan orang Farisi. Ini menarik, karena  kalau tidak berhati-hati kita akan punya  kecenderungan ke “kiri”, makin lama makin ke kiri, suatu kedekatan dengan orang-orang yang dianggap marjinal, miskin, berdosa -- sedikit mirip dengan gerakan Liberation Theology -- lalu membenci orang-orang yang tidak bisa menerima mereka, dalam hal ini orang Farisi dan ahli Taurat. Itu prejudice terhadap orang yang prejudice, jadi dalam level yang sama saja. Seperti  orang Farisi tidak bisa menerima pemungut cukai dan orang-orang berdosa,  mungkin kita juga tidak bisa menerima orang-orang Farisi lalu kita mencela mereka, tidak mau table fellowship dengan mereka, maunya dengan orang-orang berdosa. Akhirnya kita sama seperti  orang Farisi. Yesus bukan seperti itu; itu bukan Injil. Yesus bersekutu dengan semua jenis orang, termasuk orang-orang yang menganggap diri lebih righteous daripada yang lain, karena Yesus juga mencintai mereka, Yesus juga mau mengubahkan orang-orang seperti itu. Waktu saya mengatakan: “orang ini self righteous”, maksudnya kita mau bilang: “saya tidak self righteous seperti dia”, dan itu sebetulnya saya sedang self righteous, jadi putar-putar dalam  persoalan yang sama lagi.

Yesus di sini membiarkan diri-Nya diundang -- lagi-lagi pembalikan yang menarik, sebetulnya bukan orang Farisi yang mengundang Yesus tapi Yesus memberikan diri-Nya untuk diundang orang Farisi, Yesus yang mengundang orang Farisi ini -- untuk  table fellowship dengan Dia. Otoritasnya ada pada Yesus, bukan pada orang Farisi itu; prinsip ini sudah  pernah kita bahas waktu mebicarakan tentang Zakheus. Memang dalam kalimat pertama dikatakan “orang Farisi mengundang Yesus”, tapi Yesus bukan dalam  posisi yang tidak berinisiatif/ posisi pasif menunggu diundang. Yesus justru yang memberikan kesempatan kepada orang Farisi itu untuk mengundang Dia makan di rumahnya. Yesus tidak menolak persekutuan meja  dengan  orang Farisi sebagaimana Dia juga tidak menolak  persekutuan meja dengan pemungut cukai, pelacur, orang-orang berdosa.  Dalam gambaran ini, intinya adalah  hospitality, tema penting spiritualitas dari gereja mula-mula, yaitu tentang menerima orang di rumah, table fellowship, membiarkan orang menumpang, dsb. Dalam konteks  penganiayaan, hospitality merupakan virtue yang sangat penting, apakah menerima orang yang dianiaya, atau  kita justru merasa terancam dengan kehadiran orang asing. Sekarang di Eropa, khususnya Jerman, sedang struggling dalam hal ini. Baru-baru ini ada insiden di Koeln, pada Malam Silvester ada wanita-wanita yang di-molest orang asing, lalu pembicaraan di mana-mana menjadi panas lagi, PM Merkel  dimaki-maki karena menerima orang-orang asing ini. Kita cepat atau lambat pasti berurusan dengan hospitality -- mungkin dalam takaran yang lebih sederhana -- apakah kita  membiarkan orang lain yang dalam keadaan pergumulan/ krisis masuk ke dalam rumah kita, atau  kita membiarkan rumah kita aman, tidak menerima mereka karena resiko terlalu banyak. Kekristenan tidak bisa dipisahkan dari virtue ini, hospitality. Orang Kristen sendiri adalah orang-orang yang dianiaya, orang asing. Israel selalu diingatkan cara mereka memperlakukan bangsa asing waktu sudah masuk Kanaan: “Kamu jangan lupa, dulu di Mesir kamu orang asing,  orang numpang, bukan penduduk asli. Sekarang kamu sudah diberikan tanah oleh Yahweh, bagaimana kamu bersikap terhadap orang asing?”

Dalam gambaran ini, orang Farisi adalah orang asing menurut Yesus, dalam pengertian karena mereka tidak mengerti ajaran-Nya. Dari perspektif orang Farisi, Yesus mirip dengan mereka, suka diskusi teologi, membicarakan Taurat, Alkitab, dsb. Kesamaan itu membuat mereka sedikit nyaman dengan Tuhan Yesus, tapi  kalau kita melihat ke dalam, apakah betul mereka mengerti ajaran Yesus? Jawabannya: belum. Tetapi Yesus yang penuh dengan  kesabaran, datang, makan di rumah orang Farisi itu. Dalam budaya Israel,  pentingnya arti table fellowship yaitu kalau kita duduk makan dengan “siapa” artinya kita bersekutu dengan dia. Itu  suatu identity marker, kalau zaman sekarang  mungkin seperti  kita berfoto dengan “siapa”. Yesus waktu itu mungkin termasuk favorit, sedikit mirip selebriti, sehingga kabar tersiar bahwa “Yesus itu mau diundang makan bersama saya”. Kalau kita bandingkan dengan paranoia orang modern, kadang  kita pikir dulu makan dengan siapa; kita takut disoroti,  lalu kita cenderung memilih karena tidak mau dituduh  yang bukan-bukan, “Kalau saya makan dengan orang lalu ternyata orang itu kriminal dan sedang bermasalah, lebih baik saya tidak makan dengan dia”. Kalau menurut kategori ini, Yesus seperti “agak bodoh” karena mau-maunya diundang orang Farisi, nanti  bisa kehilangan pengikut pemungut cukai dan orang berdosa yang  sudah telanjur kagum dengan Dia.  Resiko itu ada, tapi Yesus  tidak  pernah berusaha untuk menyenangkan manusia, itu bukan panggilan Dia. Waktu Dia makan dengan pemungut  cukai dan pelacur, orang Farisi bisa mengatakan, “Mengapa Orang ini makan dengan orang-orang seperti itu, seperti pelahap, peminum?” Resiko sebaliknya waktu Dia makan dengan orang Farisi, orang-orang berdosa bisa mengatakan, “Mengapa Dia makan dengan orang-orang yang membenci kita, yang tidak pernah mengundang kita?” Tapi Yesus   tidak berada dalam pressure itu. Kadang happiness ada pada orang yang sedikit naif, yang tidak terlalu pikir banyak, hidup seperti santai sekali; kalau orang terlalu banyak pikir, nanti kalau begini bagaimana, kalau begitu bagaimana, hidup jadi rumit sekali tapi ternyata belum tentu terjadi seperti yang dipikirkan. Yesus memang bukan naif atau konyol  tidak menjaga kredibilitas-Nya, bukan dalam pengertian itu. Yesus justru mau mengajarkan arti integritas yang sesungguhnya, yaitu table fellowship bukan hanya dengan sekelompok orang tertentu, tapi juga dengan orang-orang yang dibenci yang lain. Sama seperti pemungut cukai dan orang berdosa punya musuh yaitu orang Farisi, orang-orang Farisi juga punya musuh yaitu pemungut cukai, pelacur, dan orang berdosa tadi. Dan Yesus tetap makan dengan mereka.

Bagian ini dalam Alkitab LAI, tidak dicatat paralelnya, padahal kemiripan cerita ini dicatat juga  dalam 3 Injil yang lain (Matius, Markus, Yohanes). Itu tepat, karena memang banyak perbedaannya,  dan tidak harus dimengerti bahwa itu satu kejadian yang sama. Di dalam Yohanes, Saudara membaca bahwa perempuan itu mengurapi kaki Yesus, sementara Injil yang lain mencatat tentang mengurapi kepala. Yang pasti, memang ada beda kaki dan  kepala. Waktu dikatakan kepala diurapi, itu seperti pengurapan raja; dan dalam Injil yang lain mengaitkannya dengan kematian Kristus. Lukas tidak membicarakan pengurapan kepala, tapi  mencium kaki dan mengurapi kaki dengan minyak wangi. Kaki  itu bagian yang paling bawah, paling rendah dalam tubuh manusia, paling kotor. Jadi waktu dikatakan mencium kaki-Nya, meminyaki dengan minyak wangi, menyeka dengan rambut, bisa kita interpretasikan suatu gambaran kerendah-hatian  perempuan ini, ia even dare not to touch kepala Yesus, tapi kaki-Nya, yang paling bawah. Bagian lain dalam Alkitab waktu  dikatakan menyentuh kaki, itu suatu ekspresi  penyembahan.  Gambaran dalam dunia militer, berlutut di kaki menyatakan kekalahan; pemenangnya berdiri dengan gagah dan orang yang ditaklukkan berada di tumpuan kakinya. Kaki mempunyai metafor sendiri yang berbeda dengan kepala; tapi tentu kita tidak perlu interpretasi  bahwa mengurapi kepala jadi seperti kurang ajar, karena dua-duanya gambaran yang positif. Gambaran positif yang ada pada “kaki” adalah ekspresi kerendahan hati seperti Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya dalam Injil Yohanes.

Tapi perempuan ini dikatakan “terkenal sebagai seorang berdosa”, jadi di sini menunjukkan table  fellowship dengan semua orang, seperti dalam Perjamuan Kudus kita table fellowship dengan semua jenis orang. Saudara jangan berpikir orang lain yang bermasalah, kita sendiri mungkin mengganggu table fellowship-nya orang lain. Kita cenderung berpikir, “saya musti ber-fellowship dengan orang yang congkak, dengan orang yang agak berdosa, dsb.”, sepertinya kita sendiri yang netral. Padahal kita dalam pandangan orang lain, dan pandangan Tuhan, adalah orang yang sama, orang yang problematis, yang seharusnya tidak layak untuk berbagian dalam table fellowship itu. Yesus menerima orang  Farisi, tapi juga membiarkan perempuan itu, yang terkenal sebagai orang berdosa, untuk bergabung dalam table fellowship ini. Kita bisa mempertanyakan, “Koq berani-beraninya perempuan ini datang dan masuk?” Kita tidak pernah datang ke satu restoran lalu langsung join dengan orang yang sedang makan, tapi perempuan ini aneh, ada satu kelebihan pada perempuan ini yang tidak ada pada orang lain, beraninya ia masuk dan bergabung dalam table fellowship itu. Ia mendengar, bahwa Yesus sedang makan di rumah orang Farisi dan ia datang membawa buli-buli pualam berisi minyak wangi, kemudian menangis, berdiri di belakang Yesus, membasahi kaki-Nya dengan air mata dan menyeka dengan rambutnya, mencium kaki-Nya kemudian meminyaki dengan minyak wangi.  Satu tindakan yang spontan, tindakan yang bukan dibikin-bikin, bukan tindakan teatrikal dan bukan juga  tindakan dramatis untuk cari perhatian;  Alkitab mencatat tindakannya mengalir begitu saja kepada Yesus. Lukas tidak mencatat perempuan ini siapa, Injil yang lain misalnya Yohanes  mencatat nama Maria, saudara Lazarus; tapi memang tidak harus ini kejadian yang sama. Waktu dikatakan perempuan ini “terkenal” (tapi kita tidak tahu namanya) -- dalam bahasa Inggris istilahnya “infamous” bukan famous -- sebagai apa? Sebagai orang berdosa. Namanya kita tidak  tahu, kecuali bahwa ke-terkenal-annya adalah dalam hal yang negatif, infamous bukan famous. Kita juga tidak perlu punya imajinasi yang tidak keruan sepertinya ini perempuan masuk ke bawah meja pegang kaki Yesus ke arah sexually oriented, karena  meja pada waktu itu bukan tinggi seperti sekarang lalu orang bisa masuk ke bawah meja, tapi meja yang rendah sekali, sedikit mirip dengan lesehan; jadi ini bukan tindakan asusila melainkan tindakan tulus.

Lalu bagaimana reaksi orang Farisi? Orang Farisi cuma mengundang Yesus tapi tidak mengundang perempuan ini; sedangkan dari sisi Yesus, Yesus bukan cuma mengundang orang Farisi tapi juga mengundang perempuan ini. Perempuan ini dengan tulus ber-fellowship, sebenarnya bukan cuma dengan Yesus tapi juga dengan orang Farisi itu, karena bagaimana pun juga orang Farisi itulah yang punya rumah. Ironinya di sini. Orang Farisi yang punya rumah, ia cuma mengundang Yesus, tapi tidak mengundang perempuan ini dan memang nampaknya juga tidak mau; tapi Yesus mengundang baik orang Farisi dan juga perempuan ini; dan perempuan ini, seperti Yesus, ia mengundang Yesus dan juga mengundang orang Farisi ini dalam pengertian rela ber-fellowship bukan hanya dengan Yesus  tapi juga dengan orang-orang Farisi. Ini spiritualitas yang menarik. Tidak cukup hanya mengatakan: “Hei! Jangan jadi orang Farisi! Jangan seperti orang Farisi!”, yang kita baca dalam Alkitab adalah: pemungut cukai, pelacur, orang-orang berdosa itu ber-table fellowship juga dengan orang-orang Farisi, musuh mereka. Masuk ke bagian ini ada kesulitannya sendiri dan bukan tanpa penyangkalan diri. Kita bisa melihat diri sebagai victim, orang-orang yang dibenci dan dianggap berdosa, lalu “ya, sudahlah tidak usah bergaul  dengan orang-orang seperti mereka, yang self righteous, tidak  tahu diri, sombong”, dan akhirnya kita mirip dengan orang-orang  Farisi cuma ber-fellowship dengan Yesus, tidak mau ber-fellowship dengan orang-orang yang menurut kita seperti orang Farisi.

Perhatikan dalam bagian ini, tidak ada sama sekali Lukas mencatat perempuan itu berpikir negatif dalam benaknya tentang orang Farisi. Yang ada adalah orang Farisi berpikir negatif tentang perempuan itu, bahkan juga tentang Yesus. Kapan perempuan ini berpikir negatif: “Yesus ini, koq mau-maunya table fellowship dengan orang self righteous kayak gini, orang-orang yang sebenarnya benci kepada orang-orang miskin”? Pikiran itu tidak ada sama sekali pada perempuan berdosa ini. Di sini kita melihat gambaran ironi: orang-orang yang merasa dirinya kudus tidak mau bersekutu dengan orang-orang yang dianggap berdosa, tapi orang-orang yang berdosa ini justru bisa bersekutu dengan orang-orang yang  menganggap diri kudus; itu menyatakan bahwa mereka lebih kudus  daripada yang merasa diri kudus. Mereka ini orang-orang yang betul-betul rendah hati, dan bukan rendah hati terhadap Yesus saja. Kesulitan evangelical spirituality kalau tidak berhati-hati -- false evangelical spirituality pastinya -- yaitu gambaran  yang cuma vertikal, mau rendah hati kepada Yesus, jujur kepada Yesus, tapi dengan orang lain penuh pertimbangan, kelicikan, strategi, dst. Saya taat kepada Yesus, OK! Tapi kepada manusia, bukankah ada ayat yang mengatakan “taatlah kepada Tuhan lebih daripada kepada manusia”? Jadi macam-macam justification-nya. Orang yang kehidupan  spiritualitasnya cuma vertikal di hadapan Tuhan tapi waktu secara  horisontal  tidak melakukan hal yang sama, itu sebenarnya  disintegrated  spirituality. 

Ayat 39, orang Farisi ini berkata dalam hatinya, “Jika Ia ini nabi, tentu Ia tahu siapakah dan orang apakah perempuan yang menjamah-Nya ini; tentu Ia tahu, bahwa perempuan itu adalah orang berdosa”. Inilah gambaran yang dihadirkan Alkitab: Yesus bukan orang berdosa; bersamaan dengan Yesus yang bukan orang berdosa, saya juga bukan orang berdosa, makanya kita satu table fellowship; tapi perempuan ini tidak  harusnya ada di sini, dia orang berdosa! Ini adalah table fellowship orang-orang kudus, orang-orang suci, pencinta Taurat seperti yang digambarkan dalam Mazmur 1 “berbahagialah orang yang kecintaannya adalah Taurat Tuhan, yang  tidak bergaul dengan orang-orang fasik dan orang berdosa”, Yesus harusnya tahu! Tapi sebenarnya tafsiran mereka terhadap Mazmur 1 yang persoalan, mereka  menafsir secara salah. Waktu orang Farisi itu berkata dalam hatinya “tentu Dia tahu bahwa ia orang berdosa”, memang tidak salah, Yesus memang betul-betul tahu bahwa perempuan ini orang berdosa, dan  Yesus juga tahu bahwa yang berpikir, orang Farisi ini, adalah juga orang berdosa. Persoalannya: orang Farisi ini tidak tahu, tidak sadar kalau dirinya orang berdosa. Tapi Yesus dengan penuh kesabaran dan cinta kasih mengatakan, “Simon ada yang hendak Kukatakan kepadamu ...”.  Kita bisa membayangkan, intonasi-Nya pasti bukan intonasi kejengkelan atau murka, tapi intonasi penuh kelemah-lembutan, sabar sekali. Kita punya kecenderungan bisa sabar kepada orang yang susah, menderita, miskin, sengsara, kelompok marjinal; sedangkan kepada orang kaya, yang sombong, suka menghina orang lain, kita tidak bisa sabar. Yesus betul-betul sabar  kepada kedua golongan, bukan hanya kepada kelompok yang dianggap marjinal, tapi kaum kapitalis juga (maksudnya di sini dalam penerjemahan modern, bukan maksudnya orang Farisi kapitalis). Yesus bukan hanya sabar kepada para penganut Marxis tapi Yesus juga bisa sabar kepada penganut Kapitalis, karena Yesus mau mengubah mereka, dua-duanya. Yesus bukan cenderung ke kiri anti kanan atau cenderung ke kanan anti kiri, tidak. Alkitab ini center, bukan kanan, bukan kiri, dan dua-duanya perlu belajar. 
Lalu Yesus membicarakan perumpamaan sederhana, dua orang berhutang, yang satu lebih besar, yang satu lebih kecil, dan akhirnya dua-duanya dihapuskan. Siapa yang akan lebih mengasihi si penghutang? Pasti yang hutangnya lebih besar, message-nya tidak bisa kabur lagi. Jadi orang Farisi ini persoalannya di mana? Mengapa ia tidak bisa punya tindakan seperti perempuan berdosa itu? Jawabannya sederhana: karena ia tidak merasa hutangnya terlalu besar. Mengapa orang tidak bisa mengampuni orang lain? Karena ia tidak merasa  diri  terlalu berdosa. Mengapa orang sulit punya hati yang luas? Karena ia pikir Tuhan hati-Nya juga sempit terhadap dirinya. Mengapa seseorang tidak bisa menerima siapa saja? Karena ia pikir dirinya juga tidak diterima oleh banyak orang, ia sendiri suka disakiti, ditolak kanan kiri. Ini bukan sekedar bicara tentang pengalaman -- memang ada aspek pengalaman -- tapi  pemahaman kita secara vertikal di hadapan Tuhan sangat mempengaruhi cara  kita bersikap secara horisontal. Kekristenan bukan mengajarkan: “Kamu tidak bisa mengasihi? Ayo mengasihi! Harus mengasihi lebih dalam, itu  perintah Tuhan!” atau contoh lainnya: “Kamu kurang menginjili, ayo musti menginjili! Kalau tidak menginjili berarti tidak taat pada perintah Tuhan, ayo harus menginjili!”  Itu pemahaman spiritualitas yang sangat lucu. Alkitab tidak mengajarkan seperti itu. Alkitab bukan mengajarkan “terorisme”, baik terorisme menginjili, atau terorisme mengasihi, atau terorisme mengampuni. Tidak. Alkitab mengajak kita berpikir: kamu sendiri siapa? How do you understand your own life before God? Di hadapan Tuhan kamu melihat dirimu siapa sebenarnya? Itu sebenarnya yang mengubah seseorang, bukan soal bagaimana ia jadi lebih luas hatinya, “Mbok ya lain kali diundang, ini kan orang  susah, susah cari makan, sekali-sekali diundang dong supaya bisa menikmati berkat”,  itu etika moral belaka. Kekristenan tidak tertarik mengajarkan  hanya dalam level itu, Yesus juga tidak memberikan perumpamaan yang mengarah ke etika moral belaka.
Yesus membawa kepada pemahaman orang Farisi terhadap dirinya, dan bagaimana ia melihat dirinya di hadapan Tuhan.  Pertama, gambaran seorang penghutang, ilustrasi yang sering dipakai dalam Alkitab. Orang yang melihat diri berhutang, akan berbeda dengan orang yang tidak melihat dirinya sebagai orang yang berhutang; apalagi orang yang melihat dirinya sebagai penghutang, lebih hopeless lagi. Kita  musti hati-hati kalau Tuhan memberkati kita dengan uang yang cukup, kita bisa masuk dalam spiritualitas “penghutang”, itu paling hopeless. Maka  Alkitab berkali-kali menegur “Celakalah kamu orang kaya”, bukan karena Alkitab benci dengan kesuksesan orang, atau dasar Lukas iri hati dengan orang kaya dan selidik punya selidik, eh, ternyata ia sendiri miskin, makanya benci kepada orang kaya. Bukan itu, itu tafsiran Marxis. Kalau tidak hati-hati, orang kaya  bisa menempatkan diri sebagai penghutang, tapi sulit melihat diri sebagai orang yang berhutang. Memang tidak berhutang, saya hutang kepada siapa? Saya selalu menolong orang lain.  Saya ditolong siapa? Tidak ada. Saya ini penolong bukan orang yang ditolong! Bagaimana memahami spiritualitas yang diajarkan Yesus dalam keadaan seperti ini? Memang hopeless, tidak ada pengharapan, kecuali Tuhan mengubah sikap hati yang ada di dalam.

Kita ini orang-orang yang berhutang, berhutang kepada Tuhan. Tapi bukan cuma vertikal saja, tidak cukup. Kita musti belajar melihat bahwa kita juga berhutang kepada orang lain. Ini sulit.  “Saudara berhutang kepada Tuhan.” Amin! Memang saya berhutang kepada Tuhan. Tapi, “Saudara juga berhutang kepada orang lain.” Nanti dulu, saya berhutang kepada siapa ya? Saya suka menghutangi bukan berhutang kepada  orang lain. Kalau berhutang kepada Tuhan, memang benar. “Dosamu diampuni.” Amin! Saya memang orang berdosa dan saya diampuni oleh Tuhan. Tapi kalau, “Saudara juga berdosa terhadap orang lain.” Nanti dulu, saya berdosa kepada siapa? Saya  suka mengampuni, saya tidak perlu pengampunan dari orang lain. Pengampunan dari Tuhan, iya, tapi saya tidak perlu pengampunan dari orang lain, saya salah apa?  Sulit. Meng-integrasikan yang vertikal dengan horisontal  itu sulit sekali.  Tapi kalau spiritualitas kita cuma sampai pada pemahaman vertikal saja, itu belum dalam ajaran Alkitab. Kita  bukan cuma berhutang kepada Tuhan, kita literally berhutang kepada sesama.  Tuhan mau kita membayar hutang, bukan cuma kepada Tuhan tapi juga kepada sesama. Orang yang terus berpikir “saya berhutang” pasti  punya spiritualitas berbeda dengan orang yang tidak merasa diri berhutang, atau yang cuma merasa  berhutang kepada Tuhan dan tidak berhutang kepada siapa pun; lebih celaka lagi orang yang merasa diri “saya adalah penghutang”.

Tapi Yesus  mengajarkan perumpamaan ini  bukan hanya secara teori, ada satu gambaran yang sederhana: “sambil berpaling kepada perempuan itu”. Yesus berpaling, menyinarkan wajah-Nya kepada perempuan itu. Dalam Alkitab itu urusan besar, bukan sekedar lihat sini lihat situ, kanan kiri, atas bawah, tapi waktu Yesus berpaling, Dia melihat kepada perempuan itu, approval sight, dan Dia juga mau mengajar Simon, “Kamu juga lihat perempuan itu, kamu pikir siapa yang jadi center di sini? kamu pikir kamu karena yang mengundang?”  Yesus di sini mengganti center-nya dari orang Farisi yang mengundang, si penghutang ini, lalu mengarahkan kepada perempuan  itu, sambil berkata, “Engkau lihat perempuan ini ...” Lihat apa? Lihat dengan mata hatimu, lihat dengan mata spiritualmu, jangan lihat dengan perspektifmu sendiri, perspektif orang Farisi yang self rigtheous yang melihat orang berdosa tidak seharusnya table fellowship bersama. Itu melihat dengan kacamatamu sendiri, sekarang Saya kasih kacamata Saya, lihat perempuan ini. Apa penglihatan-Nya? “Ini: Aku masuk ke rumahmu, engkau tidak memberi Aku air untuk membasuh kaki-Ku, tapi ia membasuh kaki-Ku dengan air mata dan menyeka dengan rambutnya. Engkau tidak mencium Aku, tapi  sejak Aku masuk, ia tidak henti-hentinya mencium kaki-Ku. Engkau tidak  meminyaki kepala-Ku dengan minyak tapi ia meminyaki kaki-Ku  dengan  minyak wangi. Kamu lihat nggak?” Yesus berkata, “Lihat perempuan ini”, dan itu sebenarnya “Lihat dirimu juga! Sudah lihat sekarang? Jadi siapa yang orang berdosa di sini?” Kalimat ini memang tidak dikatakan Yesus, Yesus penuh dengan kelemah-lembutan, cinta kasih, tapi tetap bukan tidak menegur.  Bukan menegur dengan kedagingan karena jengkel sekali, sangat tidak sabar, tapi dalam kelemah-lembutan. Kelemah-lembutan bukan berarti tidak ada teguran. Teguran  juga bukan berarti tidak ada kelemah-lembutan.

Lalu Dia mengatakan, “Aku berkata kepadamu, dosanya yang banyak itu telah diampuni sebab ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga berbuat kasih.” Kalimat ini kadang membingungkan terutama untuk orang Reformed, seperti cenderung berbau Armenian pada kalimat yang pertama; jadi saya diampuni karena berbuat kasih? Pasti bukan begitu.  Meski ada kata “sebab”, ini bukan dalam pengertian Aristotelian cause and effect, yang kalau dibaca seperti itu jelas sekali bahwa penyebabnya adalah berbuat kasih (cause) dan kamu diampuni adalah effect. Justru sebaliknya, “sebab” di sini bukan berarti “penyebab” tapi dalam pengertian konfirmasi bahwa ia telah diampuni,  yaitu dengan ia banyak berbuat kasih. Terjemahan lain yang agak bebas menerjemahkan sbb. : “... and  so I tell you, her great love proved that her many  sins had been forgiven”. Ia banyak berbuat kasih adalah testimoni, bukti, kesaksian, bahwa ia telah diampuni. Kalau “orang ini banyak  berbuat kasih maka Saya mengampuni “, ini bentur dengan semua prinsip firman Tuhan yang lain seperti Matius mengatakan “Tuhan menerbitkan matahari bagi semua orang .” Kasih Tuhan itu unconditional love bukan conditional love. Tuhan mengasihi bahkan  yang belum bisa mengasihi Dia. Lagipula dalam kalimat berikutnya jelas prinsipnya: orang yang sedikit diampuni, sedikit berbuat kasih.  Mengapa seorang sedikit berbuat kasih? Karena merasa diri sedikit diampuni. Yang hutang banyak waktu diampuni, akan berusaha membalas sebanyak hutangnya , tapi yang hutangnya sedikit akan berterima kasih sedikit juga sesuai hutangnya. Pemahaman yang sangat logis. Persoalannya, orang Farisi merasa diri sedikit diampuni.
Kalau dalam kehidupan kita tidak mempunyai pemahaman banyak diampuni, kita pasti banyak bermasalah dalam mengasihi dan mengampuni orang lain. Karena kita  merasa, dosa kita meskipun ada tapi  sedikit, tidak terlalu membebani pengorbanan Kristus di atas kayu salib. Saya memang bersumbangsih dalam kematian  Kristus, tapi dosa saya mungkin cuma satu duri kecil yang nempel di tangan, sedangkan yang paku, mahkota duri, itu dosa orang lain bukan saya. Cinta kasih Kristus memang besar, itu objektif. Tapi pemahaman secara subjektif besar kecilnya kasih Kristus tergantung bagaimana kita memahami diri kita, orang berdosa atau orang agak  berdosa, atau lumayan berdosa, atau tidak terlalu berdosa, atau sedikit sekali berdosa, atau luar biasa berdosa, atau di antara orang berdosa aku yang paling berdosa?

Yesus berkata kepada perempuan itu, “Dosamu telah diampuni.” Ini suatu preaching, waktu kita mendengar kalimat ini, harusnya kita reflect, dosa kita diampuni Tuhan juga atau tidak? Kita tidak boleh tafsir Yesus cuma mengampuni perempuan itu, tapi ini  dibuka juga untuk Simon, “dosamu telah diampuni”. Simon mendengar kalimat yang sama, dosamu juga diampuni, kalau kamu merasa dirimu berdosa. Tapi sebaliknya kita melihat dalam ayat 49, tidak jelas apakah Simon termasuk atau tidak, Alkitab mencatat: Mereka yang duduk makan bersama Dia, berpikir “siapa ini sehingga Dia dapat mengampuni dosa?”  Orang yang normal seharusnya sadar, saya ternyata tidak kalah berdosa, saya bersyukur Yesus ada di sini datang juga untuk mengampuni saya, tapi malah berpikir “siapa Dia bisa mengampuni dosa”, kacau luar biasa. Harusnya mereka melihat diri mereka yang tidak kalah berdosa dengan perempuan yang sudah menyambut Yesus, mereka malah melihat Yesus  dalam pengertian yang salah, masih dalam kacamata yang salah, “mengapa Dia bisa mengampuni dosa, Dia siapa?” Tapi Yesus tidak menjawab mereka. Ia berkata kepada perempuan, “Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat.” Ini kalimat yang mengerikan, kalimat keras, kalimat pembuangan sebenarnya. Dalam ayat 48  kita masih bisa tafsir bahwa Yesus membuka pengampunan untuk semua yang hadir di sana, tapi  sekarang Yesus tidak menjawab mereka. Waktu kita tanya kepada seseorang, orang itu tidak jawab, itu sudah jawaban yang keras. Waktu Simon berpikir dalam hati di ayat 39, Yesus memberikan pengajaran; tapi waktu orang ini berpikir dalam hati juga “siapa Dia ini bisa mengampuni dosa?”, sudah selesai, tidak ada jawaban,  tidak ada lagi kesempatan, Yesus cuma berbicara kepada perempuan “imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat”. Bagaimana nasib orang-orang ini? Terhilang. Mereka bukan tidak ada kesempatan, mereka bukan tidak mendengar pengajaran Tuhan, karena firman Tuhan diberitakan kepada mereka juga,  pengampunan dosa dibuka kepada mereka; tapi mereka bukan melihat diri sebagai orang yang bisa dan perlu diampuni oleh Tuhan, mereka malah mempermasalahkan Yesus “siapa Dia ini bisa mengampuni dosa?”

Berbahagia kalau kita seperti perempuan ini, beriman. Apa itu iman? Iman itu pertama adalah menyadari keadaan yang begitu berdosa, lalu tahu Tuhan mengampuni. Tapi tidak berhenti di situ, ia menyatakan  tindakan kasih. Itu iman yang sejati. Bukan cuma melihat saya berdosa, lalu saya diampuni, lalu tetap hidup dalam  dosa, hidup seperti orang Ateis, independen; itu bukan iman. Iman yang sejati dalam Alkitab digambarkan seperti perempuan ini, menyadari dia berdosa, menerima pengampunan Tuhan, lalu ia mengekspresikannya dengan perbuatan kasih.  Perbuatan kasih justru menyatakan bahwa ia orang yang menerima pengampunan yang sejati. Kiranya Tuhan menolong  dan memberkati kita.

Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah (MS).

Download Ringkasan