EKSPOSISI MAZMUR 90

Kita bisa membagi Mazmur ini jadi 3 bagian, tapi satu yang paling besar dalam perenungan Mazmur ini yaitu ayat 3-12, suatu refleksi terhadap kesementaraan, kesingkatan hidup manusia. Ada satu struggle di sini bahwa seluruh kebaikan dari hidup,  sukacita yang ada dalam hidup, semuanya cuma seperti debu. Ini bukan perkataan dari orang-orang yang pesimis tapi ada sebabnya mengapa  Mazmur ini disebut sebagai doa Musa. Ada orang-orang yang pada naturnya memang orang pesimis, lalu kalau ditanya “hidup itu seperti apa?” tentu jawabnya seperti begini: “hidup itu hancur”, dan segala jawaban negatif lainnya. Tapi saya yakin, pemazmur di sini bukan orang seperti itu, lalu mengapa ia yang sepertinya dalam hidupnya sudah melihat segala keindahan, segala kebaikan dalam hidup manusia, bisa sampai mengatakan bahwa semua itu seperti debu, seperti hari kemarin yang berlalu, seperti mimpi, seperti rumput yang bertumbuh? Mengapa? Mungkin karena Musa adalah orang yang diberikan secara langsung dari Tuhan wahyu tentang dunia diciptakan, bagaimana dari kekekalan Tuhan lahir kesementaraan dunia dan manusia. Ia mendapat revelation itu sehingga bisa menulis kitab Kejadian dan seterusnya. Dan kalau orang bertemu Tuhan secara langsung, Tuhan bicara dengan dia langsung, ia mendapatkan pengetahuan-pengetahuan luar biasa, apa yang bakal terjadi? Yang terjadi mungkin ini,  Mazmur ini. Mazmur ini kemungkinan adalah suatu doa yang keluar karena Musa overwhelmed dalam wahyu yang diberikan Tuhan kepadanya. Musa telah melihat bagaimana hidup manusia itu, bagaimana penciptaan itu dibandingkan kekekalan, dia melihatnya lalu mengatakan, “Yah, hidup manusia cuma seperti mimpi...” Waktu Saudara mimpi, kadang itu terasanya sangat real, sangat logis, tapi waktu bangun, mimpi itu terasa sangat tidak make sense bahkan kadang sulit diingat.  Seperti rumput di gurun yang pagi tumbuh dan petang sudah layu karena panas terik, seperti itulah hidup manusia yang kebanggaannya, yang tahun-tahun terbaiknya -- yang cuma beberapa puluh tahun itu -- hanyalah penderitaan dan kesukaran.

Jadi, yang struggle dari Mazmur ini sejak awal adalah bagaimana kita bisa  rekonsiliasi fakta bahwa hidup ini, dengan segala kemuliaannya, cuma debu.  Kedengarannya pembahasan ini sangat melelahkan, rumit banget, ini baru awal tahun, kebaktian pertama, lalu ngomong kayak gini?  Tapi ada alasannya mengapa pemazmur mengajak  kita merenungkan bagian ini, merenungkan mortalitas kita, dan tidak langsung ke bagian yang menyenangkan. Kritikan yang sering ditujukan pada lagu-lagu kontemporer zaman sekarang yaitu kalau mereka langsung ke bagian-bagian yang menyenangkan, bagian pengharapannya, tapi tidak ada bagian-bagian yang mengerikan itu yang membuat kita bergidik, bagian itu dilewatkan begitu saja. Mengapa ada bagusnya kita memikirkan semua yang tidak enak ini? Jawabannya sederhana, di ayat 12 ia mengatakan, “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami,” -- menghitung hari-hari yang bisa dihitung itu, yang begitu terbatas -- “... sehingga kami beroleh hati yang bijaksana”.

Pemazmur basically mengatakan bahwa hidup yang bijaksana justru muncul jika Saudara bisa memperhitungkan kematian yang akan datang. Kalau kematian itu sesuatu yang pasti akan datang, maka kehidupan  yang baik dimulai jika kita memikirkan akhir daripada hidup itu. Tema ini muncul dalam seluruh Alkitab, misalnya Hizkia (Yes 38). Tuhan memesankan kepada Hizkia waktu sakit untuk menyampaikan pesan terakhir, “Sampaikanlah pesan terakhir kepada keluargamu, sebab engkau akan mati, tidak akan sembuh lagi.” Dalam bahasa Inggris kalimatnya bagus sekali, bukan cuma  “sampaikan pesan terakhir” melainkan “set your house in order for... ”. Ada hubungan yang jelas antara kepekaan akan kematian dengan hidup yang teratur, set your house in order. Kalau kita sadar akan kematian yang akan datang suatu hari, itu justru menjadi mulainya hidup yang teratur. Memikirkan kematian bagi seorang Kristen, bukan untuk kabur dari kehidupan,  bukan eskapisme duniawi “saya sudah bosan dengan kehidupan, saya sudah bosan dengan  segala kesulitan lebih baik saya mati saja!” Jelas  itu bukan paradigma yang dipakai Musa dalam bagian ini. Musa sedang mengatakan, “Kalau kamu bisa meninggal dengan baik, itu yang akan menyebabkan kamu hidup dengan baik”. Pemazmur basically mengatakan, mari sekarang kita melihat dengan berani pada kematian kita, karena dengan melakukan itu, justru membuat lebih jelas bagi kita apa artinya hidup. Ini memang paradigma yang sangat sulit  kita meresapinya, khususnya di kultur timur yang pembicaraan kematian sangat dihindari, kalau bisa tidak  disebut sama sekali. Kalau saudara pergi ke pemakaman, tempat  itu bisa sangat indah, luar biasa indah rumah buat orang mati,bahkan  sebisa mungkin lebih bagus daripada rumah buat orang hidup. Mengapa?  Karena mereka sebisa mungkin  menghilangkan segala macam hal yang tidak nyaman dari kematian. Ada satu asumsi yang kacau di situ bahwa memikirkan mengenai kematian itu tidak berguna untuk kehidupan.

Di internet ada satu artikel, seseorang mengatakan bahwa ia melihat satu website yang bernama DeathClock.com, suatu website iseng untuk memberitahu kepada Saudara, kira-kira hidup Saudara akan bertahan berapa lama lagi. Di situ Saudara harus isi kuesioner lahir tanggal berapa, jenis kelamin, merokok/ tidak, dsb. dan terakhir ada pertanyaan apakah Saudara mau death clock-nya itu pakai mood optimistik atau pesimistik atau normal, lalu algoritma dalam website itu akan menghitung. Orang ini lalu menggunakan  website tersebut dan mendapati bahwa sisa hidupnya 18 tahun. Tapi DeathClock.com ini bukan cuma memberitahu jumlah tahunnya, tapi juga dikonversikan dalam detik, jadi ada 563.037.386 detik. Tidak tahu apakah orang ini percaya sepenuhnya atau tidak, tapi setelah itu ia menelpon dokternya. Dokter memperkirakan ia bisa hidup 20 tahun lagi (waktu itu ia berumur 50 tahun), tidak terlalu beda dengan yang ia lihat di internet; lalu dokter mengakhiri pembicaraan dengan mengatakan, “Good luck!”. Orang ini begitu tergoyah dengan  “pengetahuan” ini, kepekaan akan kematian yang segera datang, sehingga ia  langsung membuang pekerjaannya dan mencari pekerjaan yang ia sungguh merasa ada panggilan di situ. Ia tidak mau menghabiskan sisa hidupnya hanya untuk mengerjakan hal-hal yang akan terbakar itu. Ia jadi peka akan hidupnya.  Yang interesting adalah paragraf terakhir dari artikel tersebut yang mengatakan waktu ia sudah selesai menulis artikel ini, ia kembali masuk website tadi dan website itu secara konsisten menampilkan  bahwa waktunya sudah berkurang jadi sekian juta detik sejak  ia mulai pertama kali. Lalu pada kalimat terakhir orang ini menulis, “Kamu  boleh mengatakan saya gila, tapi saya harus mengatakan satu hal: saya mencintai, saya sangat menyukai dan sangat menikmati tik-tok dari the Death Clock. Mengapa? Karena tanpa tik-tok dari jam kematian saya, saya hari ini tidak hidup -- Without it, I might not be living.”

In that sense, inilah yang pemazmur mau memberitahukan kepada  kita, bahwa waktu kita melihat pada kesementaraan hidup manusia, itu bukan sesuatu yang harus dilihat sebagai hal negatif. Itu sesuatu yang justru membuat kita lebih mengerti apa yang namanya: hidup. Itu sebabnya kita mau belajar hal itu pada hari ini; kalau kematian adalah sesuatu yang akan datang, kita tidak bisa hidup tanpa memikirkan apa itu kematian. Kehidupan yang bijaksana dimulai dengan kita merenungkan akhir dari hidup itu.

Yang kedua, mengapa pemazmur bukan cuma membahas mengapa kematian bukan sesuatu yang bisa dihindari, bahwa kematian justru yang akan membuat kita hidup lebih bijaksana, tapi pemazmur juga mengatakan “mengapa orang harus mati?”. Mengapa bayang-bayang maut harus menghantui setiap aspek hidup manusia bahkan bagian-bagian dari hidup manusia yang paling indah, paling glorious? Mengapa hidup pada akhirnya harus di-finalisasi-kan? Mengapa harus ada akhirnya? Mengapa harus pada akhirnya secara tidak-bisa-balik-lagi akan dimatikan? Mengapa semua kemuliaan manusia akan hilang seperti hanya cuma satu giliran jaga malam? Baru tumbuh seperti rumput di pagi hari, mengapa siang sudah harus mati? Mengapa kita harus kembali ke dalam debu? Mengapa?

Jawabannya bisa kita temukan di ayat 7-9,  jawaban klasik yang sama yang sudah diberikan dalam Alkitab: “kami habis lenyap adalah karena murka-Mu”. Kematian itu  sesuatu yang datang karena kemarahan Allah terhadap dosa-dosa kita. Wah, kotbahnya sekarang makin mengerikan lagi. Tapi tidak, Saudara harus melihat kembali yang tadi, justru premisnya menyatakan bahwa dengan belajar  mengenai kematian, kita akan belajar mengenai kehidupan.”Mengapa saya harus mati?”, “Tuhan marah sama kamu karena kamu berdosa”. Mengapa jawaban ini bukan jawaban yang negatif? Mengapa jawaban ini justru  jawaban yang sangat positif? Sederhana, karena  Saudara tinggal consider, tinggal pikirkan jawaban alternatifnya apa? Dunia zaman sekarang  memberikan jawaban dari mengapa harus ada kematian; modern scientific answer adalah: kematian itu natural. Kalau Saudara percaya evolusi, evolusi berkembang karena kematian, seleksi alam; seleksi alam itu kematian, tanpa itu tidak bakal ada evolusi,  tanpa kematian tidak ada kehidupan. Itu jawaban dunia; ada siklus karbon yang  harus berjalan, ada Hukum Termodinamika II, semua di dunia ini memang pasti akan mati.

Memang benar pertanyaan “mengapa harus mati” ketika dikaitkan dengan ada Tuhan, itu jawabannya sepertinya akan sangat mengerikan; tapi ketika Saudara memperhitungkan pertanyaan “mengapa harus mati” di luar Tuhan,  tanpa Tuhan, pertanyaan tersebut menjadi pertanyaan nonsense. Tanpa Tuhan, kematian menjadi suatu yang sangat, sangat natural, biasa, tidak usah kaget, harusnya tidak merasa aneh karena memang natural koq. Maka waktu pemazmur bertanya “mengapa harus ada kematian” dan jawabannya “karena Tuhan marah”, itu adalah kabar baik. Mengapa kabar baik? Kabar baiknya adalah itu berarti setiap dari kita, yang menyandang image of God, kematian itu tidak natural sama seperti dosa itu tidak natural. Itu kabar baik. Kalau kita percaya bahwa kematian itu bukan sesuatu yang natural, bukan sesuatu yang ada pada dirinya, melainkan sesuatu yang masuk ke dalam dunia oleh sebab Allah marah karena dosa, maka kematian itu sesuatu yang tidak natural. Dan itu klop dengan intuisi kita.

Ada satu buku “Lament for a Son”  tulisan dari Nicholas Wolterstorff, seorang filsuf Kristen yang anaknya, Eric, meninggal  umur 25 tahun karena kecelakaan. Dalam tulisan itu, ia memberikan refleksi dirinya mengenai kematian anaknya, suatu ekspresi jiwanya dalam menghadapi kematian anaknya. Satu hal yang selalu muncul dalam buku itu adalah intuisi kita mengatakan bahwa kematian itu tidak natural. Hati kita merasa begitu asing, begitu jijik dengan kematian. Namun kita harus menyadari bahwa tanpa konsep  kematian itu datang karena murka Allah dan kematian itu tidak natural, maka perasaan tersebut tidak ada dasarnya. Dalam bagian awal buku ini, waktu Wolterstorff menguburkan anaknya, ia berkata, “Apakah itu sungguh dia yang dibaringkan di situ? Aku memegang pipinya dan terasa dingin dan keras, itu seperti mendorong tanganku pergi. Kematian, aku tahu, adalah sesuatu yang dingin, tapi tidak ada yang pernah memberitahuku bahwa kematian juga  keras. Jiwanya telah pergi dan membawa serta semua kehangatan, tapi juga kelembutan. Ia telah pergi, tapi aku belum sanggup memisahkan antara orangnya dengan tubuhnya. Rambut itu rambut  Eric, nyawa itu nyawa Eric, orang itu adalah Eric.”  Apa yang Wolterstorff sedang katakan dalam bagian ini? Yaitu bahwa kematian itu sangat tidak natural. Kalau kita bicara kematian secara abstrak, secara filosofi,  scientific, Saudara bisa mengatakan  bahwa kematian itu natural; tapi kalau Saudara pernah bersentuhan langsung  dengan kematian, apalagi kematian seseorang yang  Saudara cintai, atau Saudara sendiri merasakan pengalaman hampir mati, apa yang akan langsung membekas dalam hati Saudara? Yaitu bahwa kematian itu sesuatu yang sangat tidak natural. Ada sesuatu yang hilang yang seharusnya ada di situ, missing, padahal harusnya ada di situ. Ini bukan argumen mengapa manusia tidak seharusnya mati, tapi suatu intuisi, dan ini intuisi yang bertahan seluruh zaman. Setiap kali ada seseorang yang mati, ada perasaan, intuisi, bahwa itu tidak natural. Dan melihat jawaban dari pemazmur, kematian itu tidak natural, kematian datang karena murka Tuhan.

Kita bisa lihat sekarang keseluruhannya.  Seorang bernama Walter Brueggemann, memberikan suatu model sebagai kunci untuk kita mengerti Mazmur.  Ia mengatakan, bahwa semua Mazmur dalam Alkitab terdiri dari 3 bagian, dan kalau kita bisa identify “bagian mana adalah yang mana”, akan sangat berguna bagi kita untuk mengerti Mazmur ini mau bicara apa. Bagian pertama, biasanya pemazmur mulai dengan suatu “orientasi” terhadap kehidupan: “Saya mengerti apa itu kehidupan. Saya bersentuhan dengan hidup dan saya mengerti bagaimana hidup itu bekerja. Hidup itu make sense, Allah itu make sense.” Ini biasanya adalah bagian-bagian yang mengatakan seperti “Tuhan menghukum orang-orang fasik dan menghadiahi orang-orang benar”. Orientasi yang dasar, kalau kamu melakukan hal-hal yang baik, kamu akan hidup baik; kalau kamu melakukan yang jelek, kamu akan dikutuk. Inilah bagaimana hidup bekerja. Inilah orientasi yang awal. Inilah hidup yang make sense buat saya, Tuhan  itu make sense buat saya ketika Dia melakukan hal ini. Tapi kemudian Brueggemann mengatakan bahwa pandangan-pandangan orientasi awal ini seringkali tempatnya dalam  Mazmur justru sebagai sesuatu yang naif, terlalu simplistic, tidak pernah di-tes benar atau tidak, pandangan moralistik, pokoknya kalau kamu baik kamu akan hidup baik, kalau kamu jahat kamu akan dijahati. 

Kemudian bagian kedua Mazmur adalah ketika ada sesuatu yang terjadi yang menghantam si pemazmur ini, yang menghancurkan orientasi awalnya. Bagian kedua ini  adalah “dis-orientasi”, ada sesuatu yang terjadi dalam hidupnya sehingga semua penjelasan yang ia pegang selama ini menjadi klise, gagal, tidak terbukti lagi. Ini bagian-bagian yang Saudara bisa lihat dalam Mazmur ketika pemazmur mengatakan “Aku tenggelam di sungai yang dalam; kegelapan melingkupi aku; berapa lama lagi Tuhan? mengapa Engkau meninggalkan aku? apa yang Engkau lakukan?”, bagian-bagian yang basically pemazmur mau mengatakan”saya tidak tahu bagaimana caranya keluar dari sini”. Ada dis-orientasi yang luar biasa, kehidupan menjadi tidak make sense, Allah juga jadi tidak make sense buat saya.  Mengapa Engkau melakukan ini? Mengapa Engkau melakukan itu? Mengapa Engkau tidak melakukan ini dan itu?

Tapi tentu ada bagian yang ketiga, “re-orientasi”,  yaitu ketika si pemazmur meninggalkan orientasi lamanya dan ia mendapatkan orientasi yang baru. Di dalam kegelapan dan ketenggelamannya, ia  maju, berpegang kepada Tuhan. Sama seperti dis-orientasi itu mengejutkan, ia mendapat orientasi baru juga mengagetkan, anugerah yang tidak terduga, yang membuatnya bangkit kembali.

Kalau kita memakai model ini waktu membaca Mazmur 90, orientasi yang awal ada di ayat 1 dan 2, “Engkaulah tempat perteduhan kami turun temurun. Sebelum gunung-gunung dilahirkan dan bumi dan dunia diperanakkan, bahkan dari selama-lamanya sampai selama-lamanya Engkaulah Allah.” Itu orientasi awalnya. Ini kabar baik, kehidupan jadi make sense bahwa Allah adalah tempat perteduhan kita turun temurun, sesuatu yang oke, yang bagus. Tapi tiba di ayat 3, dis-orientasi, pemazmur ditabrak dengan kematian manusia, kefanaan manusia, singkatnya kehidupan manusia. Mengapa dis-orientasi terjadi? Karena tadi dalam bagian yang pertama, Allah yang kekal itu tadinya good news buat kita, tapi sekarang bad news. Mengapa? Sederhana, kalau Allah itu kekal dan saya cuma satu giliran jaga malam, cuma mimpi di waktu malam, bagaimana mungkin Allah tersebut bisa sayang pada saya? Bagaimana mungkin Allah tersebut bisa mau saya?  Kekekalan Allah di sini menjadi problemnya, tadinya itu good news, tapi kalau sekarang saya memikirkan bahwa ternyata hidup manusia begitu mengerikan, singkat, fana, bagaimana  mungkin Allah itu care pada saya? Bagaimana  mungkin Dia bisa jadi tempat perteduhan saya turun temurun? Siapa saya dibandingkan Dia? Tapi ada bagian yang ketiga, ayat 14 dst., re-orientasi ketika si pemazmur berusaha untuk memegang sesuatu dalam kegelapan, dan ia mengatakan suatu doa. Doa tersebut mengatakan, “Buatlah kami bersukacita seimbang dengan hari-hari Engkau menindas kami, seimbang dengan tahun-tahun kami mengalami celaka. Biarlah kelihatan kepada hamba-hamba-Mu perbuatan-Mu, dan semarak-Mu kepada anak-anak mereka. Kiranya kemurahan  Tuhan, Allah kami, atas kami, dan teguhkanlah perbuatan tangan kami, ya, perbuatan tangan kami, teguhkanlah itu.” Apa yang sedang ia minta di ayat terakhir ini? Doa itu adalah doa untuk mendapatkan arti dalam hidup, “Tuhan, saya  tidak bisa tidak, saya harus percaya bahwa pekerjaan tangan saya itu ada artinya. Saya minta itu, Tuhan.” Minta re-orientasi. Bagaimana bisa mendapatkan peneguhan itu?

Jawaban dunia macam-macam dalam hal seperti ini, hal arti hidup. Albert Camus, seorang filsuf menulis novel mengenai satu kota yang terjangkiti wabah penyakit, kota ini akhirnya di-isolasi. Novel ini membahas bagaimana situasi kota yang sedang di-isolasi itu. Basically, dalam novel ini Camus meng-evaluasi semua aspek kehidupan manusia yang sedang berada di bawah bayang-bayang maut;  apa yang bisa memberikan meaning dalam hidup manusia kalau bayang-bayang maut itu sangat real? Hari-hari awalnya, wabah tersebut cuma seperti suatu berita, orang-orang di situ masih tetap masuk kerja, ngobrol tentang wabah seperti membicarakan cuaca. Mereka berusaha mencari stabilitas dalam hal-hal yang rutin. Tapi setelah berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan dan wabah itu tidak kunjung hilang, semua orang mulai tidak masuk kerja, tidak mem-produksi ini dan itu, dan ada beberapa exception-nya pada tahap kedua ini, yaitu tempat jual alkohol dan nonton film laku keras karena orang mulai tidak bisa menemukan lagi meaning dalam pekerjaan sehingga berusaha mencarinya dalam hiburan. Tapi itu juga tidak bertahan lama.  Pada  akhirnya, yaitu cerita bagian terakhir, yang Camus perlihatkan adalah cerita tentang relasi dalam hidup manusia; ada suami yang berada di luar kota sedang istrinya di dalam kota dan ia berusaha sebisanya untuk masuk ke kota;  juga cerita-cerita tentang relasi si Ini dan si Itu. Sepertinya ini adalah jawaban dari Camus, bahwa  yang bertahan di bawah bayang-bayang kematian hanyalah mengenai relasi dan cinta. Di bagian paling belakang, dokter yang menemukan serum untuk penyakit tersebut, mengatakan, “Ya, saya mendengar sorak-sorak bahagia seluruh kota, tapi saya juga ingat satu hal, bahwa sorak-sorak tersebut, itu sukacita yang tidak akan bertahan lama, sukacita yang selalu terancam. Mengapa? Karena sebagai dokter saya tahu yang mereka tidak tahu, bahwa wabah penyakit itu tidak pernah mati, tidak pernah akan hilang. Yang terjadi adalah wabah tersebut dormant, bakteri-bakterinya bisa tinggal dormant, di furnitur, di laci-laci sprei, menunggu waktu yang tepat di kamar-kamar tidur orang, di gudang, di tas-tas mereka, di rak buku mereka, dan satu hari akan datang ketika bakteri-bakteri itu  bangkit dan kembali membuat orang di kota yang hari ini bahagia, akan meninggal.” Absurd! Novel ini dikatakan sebagai studi tentang absurdity of human life. Relasi  manusia pun tidak ada artinya di bawah bayang-bayang kematian. Ada satu komentator yang mengatakan bahwa Camus ini sedang berbalik kepada kita dan mengatakan: “Kamu sadar tidak, setiap dari kita membawa wabah ini, yaitu wabah kematian, dan di dalam wabah tersebut tidak ada satu pun  di dunia ini yang ada artinya.”

Inilah tension yang dihadapi pemazmur. Kalau kita hanyalah debu, hanyalah mimpi di waktu malam, maka kita  lebih perlu lagi Allah yang kekal tidak berubah itu. Lebih perlu lagi Dia supaya kita bisa mendapatkan Dia sebagai tempat perlindungan  karena kita begitu fana, karena hidup kita begitu singkat, karena kita begitu tidak ada artinya. Kita lebih perlu Dia sekarang ketika kita mengerti apa itu kematian. Di tengah -tengah hidup yang begitu singkat dan selalu berubah-ubah, hidup yang tidak ada artinya di bawah bayang-bayang kematian, kita perlu jangkar, kita perlu center of gravity. Tapi di sinilah problemnya yang begitu kuat diberitakan pemazmur: kalau Dia sungguh Allah yang kekal dan tidak berubah, yang bagi-Nya 1000 tahun cuma lewat malam, mengapa Dia harus peduli pada kita yang cuma rumput yang mati, lisut, dan layu? Inilah problemnya, bahwa Allah yang kekal itu bukan kabar baik, kecuali jika kita bisa tahu bahwa Dia cinta kita, kecuali kita bisa tahu  bahwa Dia peduli dengan kita.  Pertanyaannya, bagaimana tahu?

Jawabannya di sini juga, pemazmur memberikan clue, petunjuk, di ayat 16. Ia mengatakan: “Biarlah kelihatan kepada hamba-hamba-Mu perbuatan-Mu, dan semarak-Mu kepada anak-anak mereka” dalam doanya untuk minta meneguhkan tangannya. Basically ia sedang mengatakan, kalau ada satu-satunya cara kita bisa tahu bahwa Allah yang kekal itu peduli pada kita yang cuma rumput ini, adalah kalau Allah tersebut melakukan sesuatu untuk menujukkan  glory-Nya, semarak-Nya, melakukan sesuatu untuk mengenyangkan kita, melakukan sesuatu untuk kita! Dan apa itu, apa jawabannya?  Di Mazmur ini tidak ada karena pemazmur belum melihat jawabannya apa. Kita bisa bayangkan ia menebak-nebak, apakah mujizat supaya mata kita bisa lihat? atau nabi-nabi yang datang supaya telinga kita bisa mendengar? atau hukum supaya kita bisa tahu apa yang baik dan benar? atau seorang pembebas supaya kita dibebaskan dari segala penindasan? Atau apa ya, yang akan Tuhan lakukan?
Ada satu hal yang pemazmur tidak bisa mebayangkan, tidak cukup berani meng-imajinasikan apa  yang Tuhan akan lakukan. Tapi kita tahu, Saudara, dan kita sudah pernah lihat, karena waktu kita membuka Perjanjian Baru kita  melihat Allah. Allah yang bukan cuma mengirimkan mujizat lagi, Allah yang bukan cuma mengirimkan hukum lagi, Allah yang bukan cuma mendatangkan nabi-nabi lagi, tetapi Allah yang datang sendiri bagi kita. Allah yang kekal tadi, yang bagi-Nya 1000 tahun sama seperti  satu malam yang lewat, Allah itu rela masuk ke dalam waktu untuk kita. Ia rela masuk ke dalam mimpi itu. Ia rela masuk ke dalam debu itu untuk kita. Dan kalau itu tidak cukup buat Saudara, Allah yang kekal itu yang masuk ke dalam waktu kita untuk melangkah masuk ke dalam kubur kita. Dan kalau itu tidak cukup buat Saudara, Allah yang kekal  itu yang masuk ke dalam kesementaraan kita, yang masuk ke dalam waktu kita, yang masuk ke dalam kubur kita, adalah untuk apa? Supaya Dia bisa masuk ke bawah kutukan murka-Nya. Saudara ingat, mengapa kita mati? Karena murka Allah. Dan Allah yang kekal itu memberikan diri-Nya di bawah murka-Nya sendiri untuk kita supaya kita yang hanyalah debu, hanyalah mimpi, hanyalah rumput yang lisut dan layu, bisa  suatu hari hidup kekal. Bukan cuma itu, di ayat 14 pemazmur mengatakan, “Kenyangkanlah kami di waktu pagi dengan kasih setia-Mu supaya kami bersorak-sorai dan bersukacita semasa hari-hari kami”, dan ayat 15, “Buatlah kami bersukacita seimbang dengan hari-hari Engkau menindas kami, seimbang dengan tahun-tahun kami mengalami celaka.”  Pemazmur sedang mencari suatu  pagi yang ia bisa melihat semua hal ini, suatu pagi yang akan mengenyangkan bolong di dalam hatinya itu yang ia tidak tahu apa, tapi ia minta itu. Itulah re-orientasi-nya. Dan ia tidak punya jawabannya, tapi kita punya, karena pagi yang ia katakan itu adalah pagi ketika Kristus bangkit; ketika kematian dimatikan; ketika kutukan Allah, keadilan Allah itu pada akhirnya dipenuhi secara mutlak. Apa yang Alkitab katakan mengenai pagi tersebut? Paulus mengatakan di Roma 8:18, “Oleh karena hari itu, pagi itu, aku yakin penderitaan zaman sekarang  ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.” Saudara mengerti apa yang terjadi di sini? Tuhan memberikan lebih daripada apa yang pemazmur berani minta. Ia hanya minta penyeimbangan “seimbangkan Tuhan hari bersukacita sebanyak hari menderita”, tapi  apa yang Tuhan lakukan ketika Ia memberikan pagi itu? Dia membuat penderitaan kita hari ini tidak bisa dibandingkan dengan kemuliaan yang akan datang. In that sense, Dia membuat hari-hari kita tertindas menjadi seperti mimpi, seperti debu, sesuatu yang seperti rumput yang tumbuh di pagi hari tapi waktu siang akan hilang, ketika dibandingkan dengan kemuliaan yang akan datang. Mengapa? Karena Allah yang kekal tersebut adalah Allah yang mau masuk ke dalam kesementaraan buat kita. Saudara lihat, good news jadi bad news, tapi bad news di dalam Tuhan menjadi good news lagi, itu re-orientasi.

Kita baru memasuki tahun baru, merenungkan mengenai waktu dsb. Saudara mau tahu apa yang bisa menjadikan hidup Saudara ada arti? Apa yang bisa menjadikan hidup Saudara signifikan? Apa yang bisa meneguhkan pekerjaan tangan Saudara? Bukan dirimu, bukan seberapa baik seberapa cakap kita,  tapi karena Allah kita, Sang Kekal itu, mau masuk ke dalam kesementaraan untuk kita, meskipun kita cuma debu. Tadinya Allah yang kekal  yang good news itu menjadi bad news ketika kita menyadari diri kita debu. Tapi ketika kita memikirkan lebih lagi yang Mazmur katakan, justru bad news itu akhirnya menjadi good news lagi, karena  Allah tersebut mau datang ke dalam kesementaraan untuk debu seperti saya. Itu berarti Dia mencintai saya sesungguhnya, bukan karena apa yang saya bisa berikan, tapi karena diri saya, karena saya, Dia mau saya!  Kalau Saudara memegang teguh hal ini, tidak ada satu pun dalam dunia ini yang bisa menabrak Saudara dan mengguncang Saudara. Sungguh Tuhan yang kekal itu menjadi tempat perlindungan kita turun temurun.

     
Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah (MS).

Gereja Reformed Injili Indonesia Kelapa Gading

Download Ringkasan