Perhatikanlah Cara Kamu Mendengar

Perikop ini masih ada kaitan dengan perikop sebelumnya, Perumpamaan tentang penabur, sampai ayat 18. Di sini ada satu aspek yang lain yaitu bahwa orang yang telah mendengar, ada implikasi atau konsekuensi. Ini berkaitan dengan perumpamaan sebelumnya, terutama jelas sekali dalam ayat 18 “Karena itu perhatikanlah cara kamu mendengar”,  dan perumpamaan sebelumnya berbicara tentang satu hal yaitu sikap orang yang mendengar firman. Kalau seseorang mendengar dengan benar, maka akan seperti pelita (ayat 16) yang tidak mungkin ditutup, karena tidak ada orang yang menyalakan pelita lalu ditaruh di bawah tempat tidur sehingga cahayanya sia-sia. Ini menggambarkan the nature of The Kingdom of God. Natur dari Kerajaan Allah yang tidak mungkin tersembunyi, tapi juga tidak di-show off, tidak dipamer-pamerkan. Karena dalam natur yang tersembunyi, yang hidden itu, pasti akan terpancar keluar.

Waktu membaca ayat 17, “Tidak ada yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan”, secara sepintas kita mungkin menganggap hal-hal yang negatif, yang dilakukan sembunyi-sembunyi, yang berdosa, itu akan dinyatakan. Tapi kalau kita baca dalam konteksnya yang berbicara tentang pelita, kaitannya adalah dengan “terang”, jadi yang tersembunyi itu, the hidden nature of the Kingdom of  God akan ter-nyata juga, dinyatakan oleh Tuhan. Ini bukan berarti suatu ajakan memamerkan pekerjaan Kerajaan Allah, berusaha mengesankan dunia.  Itu lebih mengarah ke theologia gloriae, bukan theologia crucis. Theology of glory itu menyatakan kemuliaan dengan cara dunia, tapi Luther mengatakan, theology of the cross adalah kemuliaan Allah seringkali dinyatakan dengan cara yang hidden, tersembunyi, dan di dalam ketersembunyian itu tidak akan tidak dinyatakan karena Tuhan yang bekerja.

“Tidak akan ada satu rahasia yang tidak akan diketahui dan diumumkan”, sekali lagi secara sepintas seperti rahasia-rahasia,  yang digosipin orang, dsb. tapi jangan lupa, Paulus juga pakai istilah ini yaitu “rahasia Injil”, the mystery of the Gospel. Jadi konteksnya bukan membicarakan sesuatu yang negatif tapi yang positif. Di bagian yang lain dalam tulisan Paulus tentang larangan menghakimi, di akhir dari perikopnya dikatakan bahwa perbuatan seseorang nanti akan dinyatakan pada akhir zaman; di situ yang dimaksud juga sesuatu yang positif karena selanjutnya kita membaca: “dan setiap orang akan menerima pujian dari Tuhan”. Waktu membaca “yang tersembunyi akan dinyatakan”, “yang rahasia akan diumumkan”, kita otomatis membaca dalam gambaran negatif,  akan dibongkar, righteousness, justice, dsb., tapi mungkin itu justru sebaliknya menggambarkan how self righteouss kita ini. Kita bukan mengatakan bahwa akan luput dalam pemandangan Tuhan kejahatan yang ada dalam dunia ini, Alkitab memberi prinsip yang tegas bahwa itu akan dihakimi; tapi bagian ini khususnya mengajak kita berpikir secara positif yaitu melihat di dalam anugerah Tuhan, anugerah yang selalu cukup untuk membawa terang di dalam dunia yang gelap ini. Bagaimanapun Kingdom of God itu hidden, akan dinyatakan juga oleh Tuhan. Hari ini secara statistik ada kira-kira sepertiga penduduk dunia yang Kristen, meski  kita tidak tahu seberapa yang sudah sungguh-sungguh lahir baru. Karena ada janji ini, kita tidak perlu sibuk advertising the Kingdom of God, tidak perlu bikin iklan,karena itu urusan Tuhan bukan kita. Urusan kita adalah mengerjakan dalam the hidden nature, bukan untuk menggembor-gemborkan karena itu theology of glory ala dunia bukan ala Alkitab.

Kalimat tadi menulis “dinyatakan”, “diumumkan”, bentuk pasif; siapa yang menyatakan? Siapa yang mengumumkan? Tuhan pasti. Tuhan sendiri yang akan mengatur, bagian kita adalah menabur, bukan teriak-teriak, tapi menabur dan menabur. Waktu menabur, ada yang menolak, ada yang tidak terima, ada yang mengeraskan hati, dst. Maka ayat 18 “Karena itu perhatikan bagaimana cara kamu mendengar”, inilah bagian kita, cara kamu mendengar bukan cara kamu advertising Christianity; karena “cara kamu mendengar” adalah urusan kamu, dan “yang tersembunyi akan dinyatakan” itu adalah urusan Tuhan. Yang terpancar itu urusan Tuhan dan pasti akan terpancar karena ini terang yang asli, bukan yang palsu; tapi kamu sebaiknya mengetahui cara kamu mendengar, yaitu mendengar firman Tuhan.

“Siapa mempunyai, kepadanya akan diberi, siapa tidak mempunyai, daripadanya akan diambil, juga apa yang ia anggap ada padanya”, dalam konteks ini maksudnya benih firman Tuhan itu. Kita membaca dalam perumpamaan penabur, memang ada yang diambil (“datanglah Iblis lalu mengambil firman itu dari dalam hati mereka” – ayat 12). Mendengar firman Tuhan itu sifatnya repetitif, bukan sekali lalu selesai. Orang yang mendengar firman Tuhan lalu pikir sudah cukup, ada kemungkinan itu akan diambil karena siapa yang tidak mempunyai, daripadanya akan diambil. Penerimaan kita akan firman Tuhan itu sesuatu yang progresif, bukan mandeg, bukan status quo, tapi terus menerus diberikan oleh Tuhan; itulah artinya “siapa yang mempunyai kepadanya akan diberi”. Orang yang berespon dengan benar terhadap firman Tuhan yang diberitakan, Tuhan akan terus memberi, lalu berespon dengan benar, diberi lagi, dst. Tapi orang yang tidak berespon dengan benar, Alkitab mengatakan, bahwa orang yang tidak mempunyai seperti itu, “daripadanya akan diambil juga apa yang ia anggap ada padanya”. Ada kata “anggap”, yang ia anggap ada padanya, tapi apa betul-betul ada? Mungkin tidak. Merasa mempunyai banyak pengetahuan firman Tuhan, merasa cukup, merasa tidak perlu mendengar lagi, ternyata dari sisi Tuhan tidak cukup, diambil saja apa yang ia anggap ada padanya.

Pemandangan positif ini harus kita teruskan waktu baca ayat 19-21 tentang ibu dan saudara-saudara Yesus. Dalam pembacaan Lukas, berbeda dengan Injil lain, tidak ada gambaran negatif/  “ketegangan” antara Yesus dan keluarganya waktu ibu dan saudara-saudara Yesus datang. Waktu orang memberitahu, “Ibu-Mu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan ingin bertemu dengan Engkau” dan Yesus menjawab, “ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka yang mendengar firman Allah dan melakukannya”, mungkin kita terbiasa membacanya seolah Yesus berkata “Lu jangan kamu pikir meskipun lu keluarga secara darah daging, tapi yang sebetulnya betul-betul keluarga ialah yang mendengarkan firman Tuhan”. Tapi, kalau kita membaca profil Lukas, tidak ada gambaran Maria seorang yang tidak taat firman Tuhan. Dalam Lukas 1:38 Maria berkata, ”Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu“, menunjukkan seorang perempuan yang fully submit kepada perkataan Tuhan; lalu ayat 45: “dan berbahagialah ia,  yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan Tuhan, akan terlaksana”, menunjukkan ia seorang yang percaya, beriman, yang mengalami apa yang Tuhan katakan. Lalu pasal 2 ayat 21 dst., peristiwa Yesus waktu disunatkan, di situ the whole family pergi ke Bait Allah, model keluarga yang percaya, beribadah, dan taat kepada Tuhan. Tidak ada gambaran tension dalam profil Lukas di sini, meski itu ada dalam Injil Yohanes. Kita harus membaca Lukas menurut perspektif Lukas. Yesus tidak sedang mengatakan bahwa keluarganya ini sesuatu yang percuma karena meski keluarga darah daging tapi mereka tidak tertarik mendengar firman Tuhan. Gambaran itu absent dalam Lukas, sama seperti gambaran Yohanes Pembaptis yang ragu-ragu waktu dalam penjara, juga absent dalam Injil Lukas. Membaca Injil Lukas dalam perspektif Injil yang lain, itu adalah totalitarianism. Alkitab itu divers, ada perspektif masing-masing, ada message yang mau ditekankan. Maka meski Injil yang lain menggambarkan tension antara Yesus dan keluarganya sehingga Yesus mengeluarkan kalimat tadi, dalam bagian Lukas ini tidak ada sedikit pun indikasi bahwa keluarganya digambarkan secara negatif sebagai orang-orang yang tidak tertarik mendengarkan firman Allah.

Lalu kalau begitu, jadi apa message-nya? Mengapa Yesus mangatakan demikian? Yaitu bahwa Yesus mau merangkul lebih banyak orang lagi. Keluarga-Ku bukan hanya mereka, ibu dan saudara-saudara-Ku itu saja, tapi kamu semua juga bisa menjadi keluarga-Ku di dalam sikap mendengar firman Allah, karena itu perhatikan cara kamu mendengar. Cara kamu mendengar akan menentukan apakah kamu belongs to the family of Jesus atau tidak. Lukisan-lukisan dalam tradisi Roma Katholik menggambarkan The Holy Family yang ada Maria, Yusuf, Yesus, dan biasanya juga Yohanes Pembaptis dan Elisabet, gambaran eksklusif the holy family. Tapi dalam perspektif Lukas, semua orang yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya, belongs to the holy family. Tekanannya, seperti dalam prinsip table fellowship yang mau merangkul semua orang yaitu inclusion, tapi bukan tanpa kriteria. Kriterianya yaitu: perhatikan cara kamu mendengar. Mereka yang mendengar firman Allah dan melakukannya, merekalah keluarga Kristus, keluarga Kerajaan Allah.

Selanjutnya kita masuk ke dalam perikop Angin ribut diredakan. Waktu membaca cerita  tentang mujizat, meski sekarang tahun 2016 sudah sedikit bergeser, tapi masih ada pengaruh pembacaan Modern juga yang tertarik membawa pembahasan ke arah yang rather scientific; di satu sisi  ada nature, the law of nature, dan di sisi lain ada mujizat, yang bekerja melampaui the law of nature. Gambaran ini asing bagi kosmologi Alkitab, suatu pembicaraan tentang nature yang rather independent ala Newton dan Post Newtonian Paradigm. Sebenarnya dalam Alkitab, itu dilihat sebagai satu kesatuan dan tidak bisa dipisahkan dari providensia Allah. Oleh karena itu Teologi Reformed terus menerus menekankan tentang providensia Allah, meng-antisipasi secara prophetic beberapa ratus tahun kemudian akan munculnya Deism, yang mengajarkan bahwa Tuhan menciptakan, lalu nature ini diberikan seperangkat hukum dan kemudian bergerak sendiri, punya eksistensi yang quite sovereign dan Tuhan tidak campur apa-apa kecuali mau intervensi-intervensi.

Istilah intervensi, seringkali juga kita mendengar dalam doa minta “Tuhan campur tangan/ intervensi”, paham di baliknya sebenarnya adalah Deism, karena Tuhan itu di atas dulu, dan kemudian Tuhan baru campur tangan, baru intervensi, baru merombak law of nature (bagian ini bukan dimaksudkan untuk kita jadi judgemental atau over critical sehingga kehilngan kerendahan hati). Poin-nya adalah bahwa Tuhan tidak intervensi dan tidak campur tangan karena Tuhan selalu campur tangan. Tidak ada istilah intervensi dari sisi Tuhan. Kalau dalam gambaran Deism, contohnya dikatakan: It rains (bahasa Indonesia memang kurang jelas), jadi inside of “God sent the rain”  tapi “it  rains” -- impersonal, nature maksudnya – alam memberikan hujan. Ada certain Deistic paradigm di baliknya, yaitu Tuhan menciptakan, lalu memberikan law of nature, lalu itu berjalan sendiri, toh sudah ditetapkan Tuhan, toh Tuhan sudah ciptakan, Tuhan tetap mencipta tapi ada certain sovereignity di dalam nature. Gambaran ini asing untuk Alkitab karena Alkitab melihat alam bukan in contrast dengan providensia Allah atau intervensi/ campur tangan yang Tuhan datang lalu membengkokkan the law of nature, dst. Lukas mungkin akan kaget kalau mendengar penjelasan ala scientific oleh pengkotbah-pengkotbah di zaman modern yang berusaha menjelaskan bahwa Tuhan tetap masuk akal waktu Dia membelokkan the law of nature, karena cara mereka berpikir bukan seperti itu.  Lalu bagaimana cara penulis Alkitab berpikir?

Kita musti lihat dari Kejadian sampai Wahyu, bahwa air, danau, the sea, itu menggambarkan chaotic power, evil power yang diperangi Tuhan sendiri. Juga dalam pembacaan kita hari ini, bahasa yang dipakai adalah bahasa exorcism “lalu menghardik air dan angin yang mengamuk itu”. Kata “rebuke” adalah bahasa exorcism. Ini bukan satu mujizat yang mendemonstrasikan betapa besar divine power over nature ala pembahasan modern science, tapi sedang membicarakan dalam kosmologi Alkitab bahwa sejak semula air itu membawa masalah. Waktu menciptakan, Tuhan memberikan batas pada air, memisahkan daratan dari air/ lautan, “kamu tidak boleh melewati batas ini”, Tuhan memberikan order. Lalu dalam cerita Air Bah, Tuhan seperti membalik kembali ke dalam chaotic state -- cancellation of  creation -- karena Tuhan sedih, Tuhan menyesal, Tuhan marah atas tingkah laku orang-orang berdosa dan menyelamatkan sekelompok kecil orang yaitu Nuh dan keluarganya. Sampai sekarang, meskipun teknologi sudah canggih sekali, kita membaca bahwa bencana Fukushima tidak bisa dikendalikan lagi, yang terjadi beberapa tahun ke depan pancaran radiasinya sudah masuk ke laut, tidak bisa pencet tombol lalu reverse kembali lagi. Sama seperti di atas, ini bicara tentang chaotic power yang manusia tidak bisa taklukkan sepenuhnya, meski ia adalah mahkota ciptaan, ada keterbatasan. Maka waktu membaca perikop ini, kita mendapatkan message yang jauh lebih indah jika kita mengaitkan dengan kosmologi Alkitab ketimbang mengertinya di dalam konteks Modern Science.

Alkitab tidak memberikan gambaran independensi dari nature seperti gambaran Deisme lalu Tuhan ongkang-ongkang kaki di sorga; kalau manusia kewalahan baru Dia intervensi, tapi Tuhan selalu menopang ciptaan. Kalau Tuhan berhenti menopang ciptaan, maka akan ciptaan collapse langsung; bukan waktu akan collapse baru Tuhan cepat-cepat membereskan; itu lebih mirip cerita Superman daripada cerita Tuhan dalam Alkitab. Tuhan adalah Tuhan yang senantiasa menopang ciptaan, segala sesuatu dilihat dari perspektif kedaulatan Tuhan. Dalam kisah Ayub, waktu orang Kasdim melakukan kejahatan kepada Ayub, Ayub mengertinya sebagai “dari tangan Tuhan”. Semuanya dari Tuhan, karena di dalam segala sesuatu Tuhan sedang bekerja. Orang yang berpikir seperti ini, hidupnya pasti introspektif, ia mengaitkan selalu dengan Tuhan; dan pengertian tentang Tuhan ada kaitan dengan pengertian akan diri. Jadi, sebagaimana bagian ini bahasanya pakai bahasa exorcism, maka ini lebih dekat kepada cerita exorcism secara genre, mujizat dalam genre exorcism,  daripada demonstrasi power over nature yang bagaimanapun pembicaraan seperti itu agak asing untuk  Alkitab. Lalu apa yang bisa kita pelajari?

Kita musti ingat, bahwa cerita yang dicatat oleh Lukas ini dibaca oleh jemaatnya Lukas, kemudian dibaca oleh kita sebagai jemaat juga. Jadi waktu menulis, pertama-tama ia pasti ingat the historical itself, dan audience yang mau ia tuju. Ada dua audience, yaitu audience Yesus dan murid-murid-Nya yang ada di situ, kemudian Lukas dan audiencenya. Maksudnya, Lukas menghendaki jemaat yang kepadanya ia menulis, belajar dan menerapkan dari cerita angin ribut yang diredakan Yesus. Jemaat itu ditaruh dalam posisi seperti murid-murid Yesus. Kalau melihat secara flow, Lukas 8 perikop berikutnya Yesus mengusir roh jahat dari orang Gerasa, Yesus membangkitkan anak perempuan Yairus, Yesus menyembuhkan seorang  perempuan yang sakit pendarahan, lalu pasal 9 Yesus mengutus kedua belas murid. Sekali lagi, di dalam Alkitab, the flow is message, bukan cuma content-nya. Urutan itu sendiri sudah merupakan berita. Artinya, peristiwa-peristiwa mujizat ini mempersiapkan untuk pengutusan kedua belas murid. Terlebih dahulu Yesus menyatakan di dalam diri-Nya dan disaksikan oleh murid-murid-Nya, kemudian setelah itu murid-murid-Nya participate dalam kuasa yang ada pada Yesus (pasal 9 dst.).  Mereka akan diutus, melakukan pengusiran setan, dsb., ada empowerment, power and authority daripada Yesus. Mereka terlebih dulu dilibatkan, berbagian secara pasif, Yesus yang melakukan dan mereka dalam posisi penerima. Ini poin yang penting sekali, juga untuk Gereja.

Sedikit mirip dengan paradigma Martha dan Maria, poin yang sama yaitu kalau kita tidak ada fase dalam kehidupan yang menerima kuasa Tuhan, membiarkan Yesus bekerja di tengah-tengah kita sebelum Yesus mengutus dan memperlengkapi kita di dalam kuasa yang sama, maka Gereja yang seperti itu mau aktif seperti apa pun, sesibuk apa pun, tidak akan efektif dalam pelayanan. Martha tokoh yang luar biasa sibuk, tapi ia tidak membiarkan dirinya dilayani terlebih dahulu oleh Kristus. Sibuk melayani tanpa dilayani. Maka bagian pasal 8 ini penting sekali,  ini anticipate bagaimana nantinya Yesus mengutus murid-murid-Nya yang akan di-empower dengan power and authority; murid-murid di sini menggambarkan Gereja yang menjadi recipient/ penerima dari Yesus yang sedang melayani. Ini saling berkaitan. Bagaimana mereka menerima Yesus yang melayani akan berkaitan dengan bagaimana mereka melayani. Karena itu perhatikan cara kamu mendengar, saya modifikasi sedikit: karena itu perhatikan cara kamu menerima, karena mendengar juga menerima. Bagaimana kamu bersaksi, sangat bergantung dengan bagaimana firman Tuhan yang kamu dengar. Bagaimana kamu melayani, sangat bergantung dengan bagaimana kamu menerima pelayanan Kristus. Tidak bisa cuma melayani-melayani saja, kelihatan aktif tapi apa sebenarnya yang diberikan? Pelayanan yang kita lakukan yang bukan kita terima dari Tuhan, bukan perbendaraan yang kudus, lalu kita kasih ke orang lain, apakah layak pelayanan seperti itu?  Saya berkali-kali kutip satu kalimat – yang sebenarnya paling aplicable untuk hamba Tuhan seperti saya – yang atributed untuk Plato kalau tidak salah, yaitu bedanya wise man dan a fool. A wise man waktu berbicara karena: he has something to say; a fool waktu berbicara karena: he has to say something.
Perhatikan cara kamu mendengar, perhatikan cara kamu menerima, perhatikan cara kamu belajar, dst., karena itu yang nantinya akan kamu sampaikan kepada orang lain. Kalau kita tidak menerima, lalu mau sampaikan apa? Akhirnya sampaikan penyakit diri kita sendiri, uneg-uneg, hal-hal yang negatif yang keluar, karena memang tidak ada penerimaan apa-apa dari Tuhan dan tidak tertarik untuk menerima dari Tuhan, semua yang keluar cuma hal-hal trauma, kepahitan, kejengkelan, kekecewaan, yang di-share kepada orang lain.

Sekali lagi, cerita ini diberikan supaya Gereja belajar seperti murid-murid: mengalami kuasa pelayanan Kristus. Karena tanpa itu, Gereja berapa pun canggih organisasinya, berapa pun mewah gedungnya, berapa pun rapi perencanaan, berapa pun sibuk aktifitasnya, pelan-pelan akan masuk kepada establishment, masuk ke institutionalism, menjadi Gereja yang established tapi tidak mengalami kuasa pelayanan Kristus. Bahaya sekali kalau Gereja cuma jadi one among others institution sementara kuasa Kristus sudah tidak bekerja lagi, lalu pelan-pelan menjadi gereja yang tradisional, masih konservatif tapi mulai tidak bisa dibedakan dengan adat istiadat atau kebiasaan. “Ya, orang Kristen memang begini harus ke gereja dong. Dari dulu keluarga saya tiap Minggu ke gereja, maka saya lanjutkan adat istiadat ini”, tapi sebenarnya tidak ada pengalaman dikuduskan oleh kuasa pelayanan Kristus.
Selanjutnya, kita melihat bagian yang paling penting dari perikop ini. Di bagian akhir, setelah Yesus meredakan danau, Dia tanya, “Di manakah kepercayaanmu?” Kalimat ini, bagaimana kita harus mengertinya? Bisa macam-macam mengertinya. Apakah maksudnya Yesus mau mengatakan, “seandainya saja kamu memiliki iman, maka seharusnya angin ribut ini tidak akan terjadi”, seperti itu misalnya? Apakah itu tafsirannya, bahwa kalau memiliki iman tidak pernah akan ada badai dalam kehidupan mereka? Unlikely. Lagipula kalau ada badai pun, juga tidak apa-apa karena toh Yesus ada di situ. Jadi kalau kita terjemahkan “seandainya saja mereka memiliki iman, niscaya tidak akan ada badai”, sepertinya tidak bisa diterima tafsiran itu. Atau mungkin tafsiran yang lebih masuk akal, yaitu bahwa Yesus mau mengatakan “seandainya saja kamu punya iman, maka kamu tidak harus bangunin Saya yang kemarin kurang tidur, kamu langsung teriak sendiri juga badai akan berhenti karena kamu punya iman. Asal saja kamu percaya kamu bisa menenangkan sendiri badai itu”, apakah begitu? Jawabannya: belum. Ini baru pasal 8, Yesus belum mengutus kedua belas murid. Sekali lagi, flow itu penting. Mereka diutus baru pada pasal berikutnya (pasal 9). Pasal 8 adalah bagaimana mereka melihat dan mengenal Yesus. Maka tafsiran waktu Yesus menanyakan “di mana kepercayaanmu”, artinya adalah: setelah selama ini kamu melihat Aku dan sudah menyaksikan -- karena ini bukan mujizat pertama -- di mana kepercayaanmu terhadap Aku yang sedang ada di sini? Bukan “di mana imanmu, harusnya kamu bisa tenangkan sendiri”, Yesus tidak tuntut itu, belum waktunya. Demikian juga dalam kehidupan kita, tidak selalu waktunya sudah sampai. Ada saat kita masih perlu belajar, ada saat kita masih perlu menerima, masih perlu diperkaya di dalam pelayanan yang kita terima dari Yesus Kristus, sehingga Tuhan tidak tuntut kita meredakan sendiri badai ini, memang belum. Yang dituntut di sini adalah: kepercayaanmu kepada-Ku.

Maka sangat menarik respon mereka, yang dicatat: “maka takutlah mereka dan heran”. Bagian ini seringkali hilang dalam Gereja Tuhan. Respon mereka adalah takut, tidak bisa lebih proper lagi. Ada fear, takut dan heran. Mengapa? Karena kita ini sudah takut akan badai yang demikian ganas dan akan membinasakan kita, lalu di sini ada “Yang lebih ganas” daripada badai. Mereka takut. Mereka bukannya kegirangan lalu, “Aduh thank you ya, kita senang lho ada Kamu di sini, kalau enggak, kita pasti sudah mati”, lalu peluk-pelukan, bakar ikan, dsb. Mereka takut; very proper response.  Kita boleh tanya dalam kehidupan kita sendiri, apa kita masih ada perasaan takut atau tidak kepada Tuhan? Takut dalam pengertian “Ada Yang lebih menakutkan daripada kekuatan alam yang menakutkan” karena kuasa-Nya di atas kuasa danau itu, Dia ini lebih besar.
Mereka takut, mereka heran lalu bertanya satu sama lain, “Siapa gerangan Orang ini sehingga Ia memberi perintah kepada angin dan air dan mereka taat kepada-Nya?”. Ada satu fase lagi yang mereka pelajari, yaitu the trancendence of Jesus, trancendence of God, bukan cuma immanent. Gereja terus menerus menekankan immanent akhirnya kehilangan aspek ketakutan ini. Ketakutan ini bukan melawan iman tapi justru menyatakan iman yang sejati setelah melihat Yesus di dalam kekuasaan-Nya yang melampaui “alam”, melampaui danau yang sedang mengamuk. Di dalam Mazmur ada kalimat yang mirip, yaitu waktu Daud mengaku dosa, di situ ada kalimat: Engkau mengampuni supaya Engkau ditakuti orang. “Pengampunan” dan “ditakuti” seperti tidak nyambung. Kita biasa baca pengampunan, berarti imanen, berarti comfort, consolation, ketenangan; sedangkan “pengampunan” dan “ditakuti” seperti salah kategori. Tapi sama seperti itu, di perikop ini mereka meresponi dengan ketakutan. 

Kita musti berhati-hati dengan model kekristenan yang cuma menggambarkan sentimentalism dalam pengikutan akan Tuhan. Kita ikut Tuhan, kita aman, badai apa pun tidak akan mengganggu karena kita ada dalam pelukan Tuhan, kita biji mata Tuhan. Kalimat-kalimat seperti ini memang ada poin-nya, tapi tidak dilengkapi dengan perspektif  ketakutan ini. Kalau bicara tentang ketakutan, itu juga creating certain contrast: ketakutan mereka terhadap danau, dan ketakutan mereka terhadap Yesus karena Yesus melampaui danau. Maka ketakutan terhadap danau seharusnya di-relativize oleh ketakutan mereka kepada Kristus. Saya tidak mengatakan “ketakutan mereka terhadap danau harusnya di-relativize oleh pemeliharaan Kristus yang merangkul dan memeluk”, bukan itu, melainkan “ketakutan mereka terhadap danau seharusnya di-relativize oleh ketakutan mereka terhadap Kristus”. Ketakutan versus ketakutan. Kita jarang mendengar kalimat ini. Biasanya ketakutan di-relativized oleh keamanan yang Yesus berikan, memang ada poin-nya juga, tapi yang mau ditekankan di sini bukan ketakutan yang relativized by security provided by Jesus, tapi ketakutan yang relativized by ketakutan kepada Yesus. Inilah true worship, pengikutan yang sejati yang melihat Yesus yang menakutkan.

Poin seperti ini hampir tidak pernah dibahas, karena kekristenan tertarik sekali pada imanensi Allah, tidak tertarik membicarakan transendensi Allah. Tapi kalau Saudara baca kitab Wahyu, gambaran tentang sorga, dan Raja itu yang duduk di sana gambarannya mengerikan. Kita baca Wahyu 4:3 dst. “Dan Dia yang duduk di takhta itu nampaknya bagaikan permata yaspis dan permata sardis; dan suatu pelangi melingkungi takhta itu gilang gemilang bagaikan zamrud rupanya. Dan sekeliling taktha itu ada dua puluh empat takhta, dan di takhta-takhta itu duduk dua puluh empat tua-tua, yang memakai pakaian putih dan mahkota emas di kepala mereka. Dan dari takhta itu keluar kilat dan bunyi guruh yang menderu, dan tujuh obor menyala-nyala di hadapan takhta itu: itulah ketujuh Roh Allah”, dst. Ini bukan gambaran yang comfortable, pleasant, apalagi sentimentalism, tapi gambaran yang terrible, menakutkan.  And yet, Yang Menakutkan itu sekaligus adalah Yang mati bagi kita di atas kayu salib. That is precisely the beauty, karena Yang Menakutkan itu adalah Sahabat kita. Tapi kalau langsung jump kepada “sahabat”, tidak ada aspek menakutkan, bagaimana bisa memberikan tempat untuk ketakutan terhadap Tuhan? Maka tidak jarang orang sulit mempunyai hati yang takut kepada Tuhan karena selalu diwarnai sentimentalisme dalam keagamaan mereka, atau kita.

Terakhir, “siapa gerangan Orang ini?” Pertanyaan yang mirip dengan pertanyaan yang dilontarkan dua orang utusan Yohanes Pembaptis.  Ketakutan membawa kepada pengenalan. Sama sekali tidak ada indikasi mereka kemudian tertarik akan gejala  danau itu menjadi tenang, apalagi lalu diselidiki secara scientific. Fokusnya, the whole story, adalah membawa kepada pengenalan akan Yesus Kristus, siapa Orang ini. Seandainya mereka tanya kepada Yesus seperti pertanyaan Yohanes Pembaptis yang mengutus dua orang, mungkin jawaban Yesus akan sama: “orang buta melihat, orang lumpuh berjalan”, jadi klise. Tapi kita tahu dalam Alkitab, Yesus membalikkan pertanyaan ini: “Menurut kamu, siapakah Aku?” Bukan mereka cuma tanya, tapi mereka harus memutuskan ketika Yesus di bagian berikutnya mengatakan: “menurut kamu, siapakah Aku?”, pertanyaan yang paling penting ini, pertanyaan yang harus dijawab oleh Gereja.


Kiranya Tuhan memberkati kita.

Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah (MS)

Download Ringkasan