Minggu Palem: Kristus Sebagai Raja

Hari ini kita merayakan Minggu Palem, dan kita akan membahas mengenai sifat “rajawi” Tuhan Yesus. Satu hal yang particular dalam pembahasan Minggu Palem dari Injil Yohanes, Kristus bukan hanya diceritakan bahwa Dia seorang Raja, tapi juga mengapa Dia Raja, seperti apa sifat rajawi-Nya, dan apa yang menjadikan Dia rajawi. Jawaban yang Yohanes berikan, sifat rajawi Kristus kita temukan dalam persatuan hal-hal yang tidak bisa disatukan, persatuan dari 2 kutub yang bagi kita tidak mungkin berada dalam satu pribadi. Itu keunikan pembahasan Yohanin yang akan kita telusuri.

Di satu sisi, pada bagian awal perikop yang kita baca, kita melihat keagungan Kristus sebagai Raja; dan di bagian akhir ada pengakuan dari musuh-musuh-Nya --orang-orang Farisi-- yang melihat Tuhan Yesus masuk Yerusalem lalu  mengatakan: "Kamu lihat sendiri, bahwa kamu sama sekali tidak berhasil, lihatlah, seluruh dunia datang mengikuti Dia." Itu tema mesianik, Mesias yang datang sebagai Raja.  Di sisi lain, dalam perikop ini juga diperlihatkan kerendahan, kelemah lembutan, kelemahan dari Sang Raja. Kita sering kali berpikir bahwa sifat raja pastinya  perkasa, sedangkan kelemah lembutan dan kerendah hatian lebih tepat sebagai sifat keimaman dari Kristus. Tapi tidak harus demikian. Perikop ini yang memperlihatkan Kristus sebagai Raja, justru keunikan sifat rajawi-Nya terlihat dalam penggabungan 2 kutub itu; bukan cuma grandeur-nya seperti kita lihat dari perkataan orang Farisi “lihat, seluruh dunia datang mengikuti Dia”, tapi juga dari dari ayat Alkitab yang dikutip Yohanes “Rajamu datang, duduk di atas seekor anak keledai".  Dan itulah yang Tuhan Yesus lakukan ketika masuk Yerusalem, duduk  di atas seekor anak keledai.

Dua kutub inilah yang membuat “Kristus sebagai Raja” memiliki kebesaran yang unik yang tidak ada pada siapa pun. Hal ini kedengarannya mungkin klise, kita sudah pernah dengar, sudah tahu. Tapi respon kita harusnya bukan cuma “O, oke”  karena hal ini memberikan implikasi yang sangat besar: kalau kita mengerti Kristus sebagai Raja yang menggabungkan 2 kutub -- kekuatan-dan-kelemahan, keberanian-dan-kelemah lembutan --  artinya selama ini kita mencari Dia. Apa maksudnya “kita selama ini mencari Dia”? Bukankah dalam Alkitab dikatakan “tidak ada yang mencari Tuhan”? Ya, memang kita tidak sadar kalau kita mencari Yesus, Tuhan, tapi sesungguhnya semua yang kita lakukan dalam hidup ini mencari Orang Itu, orang yang bisa seperti itu.

Kita bisa pakai analogi “appetizer dan  main course”. Kalau kita makan di restoran fine dining, biasa ada appetizer  / hidangan pembuka dan main course / hidangan utama. Appetizer biasanya rasanya kuat, misalnya kacang yang diberi garam kalau di restoran Chinese, yang rasa asinnya membuat ingin makan dan makan lagi. Tapi bukan cuma itu, appetizer  juga disajikan dalam porsi sedikit, karena tujuan appetizer adalah membuat kita mengharapkan (mengantisipasi) hidangan utamanya. Dalam dunia ini --dan yang menjadi tesis kita pada hari ini-- setiap kita mencari seorang kekasih, seorang pemimpin. Dan orang-orang yang merasa menemukan pemimpin seperti itu akan bisa melakukan banyak hal yang gila-gilaan. Kita sudah sering dengar orang-orang seperti ini bukan hanya bisa maju perang dan  bunuh  orang, tapi mereka juga bisa bunuh diri demi pemimpin itu, melakukan mass suicide, dan sebagainya. Orang juga bisa melakukan hal-hal yang gila untuk mendapatkan seorang kekasih.  Seorang “kekasih” dan seorang “pemimpin” adalah appetizer, sesuatu yang  menarik bagi kita, yang membuat kita terinspirasi, tapi sesungguhnya yang kita cari tidak akan dapat kita temukan di dalam mereka. Bukankah cerita lama ketika seorang menemukan kekasih, ia merasa inilah arti hidupnya, tapi ketika sudah menikah ia mulai melihat bahwa si kekasih itu ternyata terbatas sekali, mengecewakan, cuma segitu aja. Pemimpin juga sama. Kita mendapatkan seorang pemimpin yang hebat, luar biasa, tapi setelah sekian lama lagi-lagi ternyata  cuma segitu aja. Tapi apakah Saudara mengerti mengapa terjadi seperti ini? Mungkin kita berpikir bahwa  memang pemimpin itu yang tidak beres maka cari lagi yang lain, atau kekasih ini tidak beres  maka cari lagi kekasih lain. Tapi tidak, Saudara. Problematikanya bukan pada diri si pemimpin atau si kekasih, tapi pada kita, karena pemimpin atau kekasih yang hari ini meng-inspirasi kita tidak lebih dari appetizer yang menunjuk/ mengantisipasi hidangan utamanya.  Ini yang dimaksudkan waktu kita menyatakan bahwa arti dari semua ini adalah: sesungguhnya kita mencari apa yang ada di dalam diri Kristus,  Seorang Raja yang sesungguhnya yang bisa menginspirasi Saudara, Raja yang membuat Saudara mengatakan “saya mau ikut Dia”, tapi juga Raja yang Saudara tahu begitu mengasihi, lemah lembut, dan rendah hati.

Lalu apa artinya sifat rajawi yang sejati? Raja seperti apa yang cocok jadi “raja”? Hari ini kita tidak lagi ada raja, tapi kita bisa mengambil contoh yang paling dekat sebagai analogi, misalnya Ahok (gubernur DKI).  Mengapa Ahok sangat populer?  Menurut kita, Ahok seorang pemimpin yang baik dan bagus karena dia cocok dengan suatu ideal yang ada di dalam otak kita, suatu pattern yang membuat kita excited. Pattern ini yang ingin kita telaah.

Pattern tersebut, basically adalah sebuah kombinasi yang agak “aneh” antara seseorang yang sangat tegas, keras, berani, tapi juga sangat lembut, rendah hati. Itu kriteria yang kita inginkan. Itu ideal pemimpin yang selalu kita cari pada orang-orang tapi jarang temukan. Bukan setengah-gahar-setengah-lembut tapi sungguh gahar, bisa memimpin, bisa menyerang, bisa membunuh kalau diperlukan --membunuh musuh-- tapi di sisi lain sungguh lembut. Ideal seperti itu bukan hanya ada di dalam kita, warga Jakarta hari ini, tapi mundur jauh ke belakang ke zaman Medieval di Barat juga ada ide chevalier seperti itu. Ide chevalier dari seorang ksatria pada zaman Middle Ages adalah suatu kombinasi antara maskulinitas dan femininitas. Kombinasi antara sifat keras dan sifat lembut. Seorang ksatria diharapkan adalah seorang yang tidak takut pergi berperang, seorang yang begitu terbiasa melihat darah, kematian, pedang. Tapi di sisi lain ada yang membuat dia berbeda dari serdadu bawahan; seorang ksatria juga diharapkan sebagai seorang pujangga, seniman, yang bisa mengapresiasi seni. Demikian juga ideal-ideal mengenai raja yang kita lihat  sepanjang zaman; di satu sisi tidak terkalahkan di medan perang, tapi di sisi lain hatinya lembut, rendah hati, selalu tahu bahwa  dia ada di atas tapi bukan di atas sendirian. Ada satu kutipan yang bagus: A true king is someone whose eyes are the first to flash in anger at evil, but also the first one to cry in the presence of sorrow. Raja yang sejati adalah dia yang matanya paling pertama menyala ketika melihat kejahatan dan ketidak adilan, tapi juga seseorang yang matanya paling pertama menangis ketika melihat kesengsaraan. Berani tapi juga rendah hati dan lembut.
Dalam seminar WRF yang baru lalu, Ahok cerita bahwa orang sering bertanya kepada dia, mengapa sebagai orang Kristen masuk ke dunia politik karena seharusnya orang Kristen mengasihi, sedangkan politik kotor, dsb. Lalu ia menjawab, bahwa menurut dia justru para pelayan masyarakat yang terbaik adalah para pelayan gereja yang terbaik; kalau mau melayani di masyarakat dengan baik, mau memimpin masyarakat dengan baik, maka kriteria paling bagus adalah sudah pernah melayani di gereja. Dan ia mengatakan, “Saya sudah jadi pelayan di gereja bertahun-tahun, saya bukan main-main, dan itu yang menyebabkan saya ‘fit’ menjadi gubernur”. Saudara lihat, ada 2 sisi pada dirinya. Satu sisi ada keredahan, kelemah lembutan, seorang pelayan publik; tapi di sisi lain ada ketegasan “saya fit untuk itu dan saya akan memimpin”. Bukankah itu yang kita inginkan, dua hal ini menjadi satu?

Tapi pertanyaannya, mengapa kita punya ideal ini? Dari mana  ideal tersebut? Dari mana kita mendapatkan konsep bahwa raja yang agung, pemimpin yang baik, adalah pemimpin yang memiliki dua hal itu yang bersatu dalam dirinya? Di mana kita menemukannya, sedang realitanya tidak pernah ada seorang pemimpin yang seperti itu? Bahkan Ahok pun meski kita mengakui ia pemimpin yang lain daripada yang lain, tapi kritikan terhadap dia juga banyak dan salah satunya adalah “kurang lembut”. Bagaimanapun juga --kalau Saudara mau menilai dia-- dia akan condong ke salah satu sisi. Dia tidak sempurna dalam peggabungan dua kutub tersebut, dia lebih condong ke sisi yang kasar, tegas, bicaranya bablas, dan bukan sisi satunya. Dan bukan cuma Ahok, dalam sejarah tidak ada  satu pun orang yang bisa sempurna. Shakespeare pernah membuat satu drama mengenai Raja Henry V dari Inggris. Dalam dramanya tersebut, Shakesperare menggambarkan Henry V sebagai raja yang ideal, yang di satu sisi bisa begitu mengerikan bagi para pengkhianat tapi di sisi lain bisa bermain-main dengan anak-anak. Tapi kalau Saudara baca buku sejarah, akan menemukan bahwa Raja Henry V yang asli sama sekali tidak demikian. Salah satunya dalam sejarah dicatat bahwa ia pernah membantai habis-habisan satu pasukan musuh yang sudah tertangkap dan menyerah. Jadi kita di satu sisi menginginkan raja yang ideal, tapi di sisi lain pertanyaannya adalah ideal tersebut datangnya dari mana, karena kenyataannya catatan tentang raja-raja dunia sepanjang sejarah sungguh mengerikan. Setiap  kali ada raja yang diangkat, ujungnya mengecewakan --raja yang terlalu lemah atau sebaliknya terlalu barbar-- tapi tidak lama kemudian muncul kembali cerita yang merindukan raja ideal itu, yang modelnya cukup universal baik di Barat maupun di Timur.
Bukan cuma sejarah mencatat bahwa tidak pernah ditemukan raja yang seperti itu, tapi secara logis pun kita tahu bahwa tidak masuk akal ada raja yang seperti itu, karena kita tahu dalam politik, absolute power  itu corrupt, absolutely. Kita sadar bagaimanapun ideal ini,  tidak seorang manusia pun yang sanggup, tidak ada seorang pun yang begitu berani tapi begitu lembut, pastinya condong ke salah satu. Kita bisa menemukan pemimpin yang super berani tapi kurang berpikir panjang, kurang tenang dan sabar; di sisi lain ada pemimpin yang sabar tapi untuk mengambil keputusan harus bergumul berbulan-bulan. Kita sebenarnya tidak bisa memilih mana yang lebih baik. Jadi ide dari mana bahwa kita bisa menemukan raja yang ideal itu?

Dalam Wahyu 5, ada  gulungan  kitab yang tidak bisa dibuka oleh siapa pun, lalu Yohanes menangis. Tapi kemudian tua-tua itu berkata kepadanya:  "Jangan engkau menangis! Sesungguhnya, singa dari suku Yehuda, yaitu tunas Daud, telah menang, sehingga Ia dapat membuka gulungan kitab itu dan membuka ketujuh meterainya." Maka aku melihat di tengah-tengah takhta dan keempat makhluk itu dan di tengah-tengah tua-tua itu berdiri seekor Anak Domba seperti telah disembelih, bertanduk tujuh dan bermata tujuh: itulah ketujuh Roh Allah yang diutus ke seluruh bumi (Why 4:5-6). Yohanes dijanjikan seekor singa, tapi yang dia lihat adalah seekor Anak Domba. Dan kita tahu yang dimaksudkan bahwa itu adalah “orang” yang sama, seekor Singa yang juga adalah seekor Domba, seekor Domba yang juga adalah seekor Singa. Hal ini bukan muncul dari Gerika atau Romawi. Tradisi Yunani mengemukakan 4 virtue dari Plato, yaitu: prudence, justice, temperance, courage; tidak ada tempat untuk love, meekness. Saudara tentu tidak bisa membayangkan pahlawan-pahlawan Yunani, seperti Hercules, yang berotot tapi kerjanya mengelus-elus kepala bayi; atau Pangeran Diponegoro mengatakan “biarkan anak-anak itu datang kepadaku”;  atau Kaisar Qin Shi Huang masuk ke Forbidden City mengendarai keledai seekor muda. Itu tidak ada sama sekali. Saudara hanya menemukan  ideal gila ini  --bahwa yang terkuat dan terberani adalah juga yang terlemah dan terlembut-- di dalam kekristenan. Mengapa ideal ini bisa muncul dalam kekristenan meskipun sejarah dan logika tidak mengatakan hal itu ada? Karena dalam kekristenan, hal ini bukan cuma ideal tapi sungguhan, sungguh ada raja yang seperti itu dan itulah Yesus Kristus. Maka kalimat “Kristus yang datang menggabungkan dua kutub” tadi, bukan kalimat yang Saudara bisa lewatkan begitu saja tapi kalimat itu menyadarkan, bahwa selama ini --dalam seluruh hidup kita-- kita sedang mencari Dia, hanya kita tidak pernah sadari bahwa itu adalah Dia.

Sekali lagi, bagian ini menceritakan the lowness of Jesus, the weakness of Jesus, tapi juga the highness and the majesty of Christ. Mengapa Yesus mengendarai anak keledai?  Anak keledai bukan cuma sekedar  dikontraskan dengan kuda karena di Palestina jarang sekali ada kuda --meski juga ada pengertian itu-- tapi khususnya di bagian ini Yohanes sengaja mengatakan bahwa Dia naik anak keledai karena Tuhan Yesus mau  menggenapi nubuatan  seperti ada tertulis di Zak 9:9. Kutipan aslinya jauh lebih jelas: Bersorak-soraklah dengan nyaring, hai puteri Sion, bersorak-sorailah, hai puteri Yerusalem! Lihat, rajamu datang kepadamu; ia adil dan jaya. Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda. Ini jelas sekali, dan Yohanes menyebutkan kutipan ini supaya orang sadar bahwa inilah konsep ke-rajawi-an Yesus Kristus. Hal ini jugalah yang membuat orang-orang pada zamannya tidak bisa menerima Yesus Kristus; apa maksudnya Mesias datang naik keledai muda? kalau Ia datang sebagai pembebas dari segala sesuatu yang memperbudak kita, bagaimana mungkin Dia itu seorang yang juga lemah lembut? Tapi dengan masuk Yerusalem mengendarai seekor keledai muda, sebenarnya Kristus sedang mengatakan, “Apa gunanya kalau Saya datang membebaskanmu dari perbudakan Romawi doang? Kamu akan tetap mati, mati dalam dosa. Kamu perlu dibebaskan dari perbudakan politik, memang benar, tapi bagaimana dengan perbudakan dosa? Itu sebabnya Aku datang membebaskanmu dari hal yang jauh lebih besar yaitu kematian. Itu sebabnya Aku tidak datang dengan kuasa politik tapi dengan kerendahan dan kelemahan, karena Aku datang untuk mati. Aku datang untuk mengambil tempatmu, dosamu, dan akibat dosamu, yaitu kematian. Aku datang memang untuk dilemahkan, datang bukan dengan ke-singa-an tapi datang dengan ke-anak domba-an.”

Satu contoh, pada tahun 1964 ada seorang wanita yang ditusuk penjahat dan berteriak minta tolong. Menurut investigasi, ada 38 orang yang mendengar teriakannya dan cuma 1 orang yang menelpon polisi, sisanya 37 orang tidak berbuat apa-apa (belakangan angka itu diralat jadi 12 orang yang mendengar, tapi kemudian diralat lagi jadi 46 orang). Intinya ada banyak orang yang melihat kejadian ini dan tidak melakukan apa-apa. Hanya satu orang itu, dari apartemennya di lantai atas berteriak kepada si penjahat supaya ia pergi dan mengancam akan turun. Penjahat itu pergi, tapi tidak lama kemudian kembali lagi karena tidak ada seorang pun yang turun, lalu memperkosa dan membunuh wanita sekarat tadi. Kisah ini digunakan seorang pendeta sebagai ilustrasi untuk melukiskan Tuhan Yesus yang turun ke dunia. Mengapa orang-orang di dalam apartemen itu tidak mau turun, dan mengapa mereka tidak dipersalahkan atas hal itu? Karena jika mereka turun, itu mengancam nyawa mereka. Belakangan setelah si penjahat pergi kedua kalinya meninggalkan wanita sekarat tadi, ada seorang  ibu yang turun menghampiri wanita tadi yang kemudian mati di pangkuannya dalam perjalanan dengan ambulans. Ibu ini, meski ia turun terlambat, tapi sangat dikagumi masyarakat, mengapa? Karena dia turun meskipun dia tidak tahu pembunuh itu masih ada atau sungguh sudah pergi; dia turun mengancam nyawanya sendiri. Itulah yang Tuhan kita lakukan.

Mengapa Tuhan tidak datang sebagai seorang pembebas dengan kuda dan kereta perang, tapi mengendarai keledai, datang dengan lemah lembut? Karena Dia datang untuk dibunuh. Kalau Dia datang dengan segala kemuliaan-Nya sebagai Allah, Dia tidak bisa mati. Dia datang menjadikan diri-Nya rentan, lembut, supaya pisau bisa menusuk lambung-Nya, paku bisa menusuk tangan-Nya. Dia datang untuk mati. Dia datang untuk dijadikan terancam. Tapi Kristus juga mengatakan sisi sebaliknya: “LIhatlah kemenangan-Ku di dalam kekalahan-Ku, Aku adalah Singa, kuat, begitu kuatnya sehingga Aku yang menaruh kepala-Ku untuk dipenggal ganti kepalamu. Itulah kekuatan-Ku di dalam kelemahan tersebut.” Inilah ke-rajawi-an Kristus.
Sebuah kalimat dari John Stott : “Esensi dosa adalah manusia menukar Allah dengan dirinya, mau menjadi Allah; esensi dari keselamatan adalah Allah menukar diri-Nya bagi manusia. “ Kristus basically mengatakan, “Aku datang dalam kelemahan supaya umat-Ku bisa dibebaskan untuk melayani Raja mereka yang asli.” Inilah maksudnya karena pada ayat 16 dikatakan: Mula-mula murid-murid Yesus tidak mengerti akan hal itu, tetapi sesudah Yesus dimuliakan, teringatlah mereka, bahwa nas itu mengenai Dia, dan bahwa mereka telah melakukannya juga untuk Dia. Dan kita tahu dalam teologi Yohanin, pemuliaan Kristus adalah jam kematian-Nya, yang disebut “saat-Ku”, saat murid-murid merasakan kegelapan yang paling gelap, Kristus dalam kelemahan-Nya yang paling parah, tidak bisa lebih lemah lagi, Dia MATI. Tapi di saat itulah dikatakan mereka sadar akan kebijaksanaan Ilahi, bahwa  kelemahan Kristus adalah justru kekuatan-Nya, Anak Domba itu adalah sungguh Singa dari Yehuda. Itu hal pertama mengenai kerendahan Kristus dan juga ketinggian-Nya.

Sisi yang lain, teks ini juga menggambarkan keagungan, ke-majesty-an Kristus, yaitu dalam lambaian-lambaian daun palma ketika orang-orang menyongsong Yesus. Bagi orang yang melambai-lambaikan daun palma tersebut tentu hanya sekedar tradisi sebagaimana mereka menyambut pahlawan yang kembali. Tapi bagi Kristus, dan bagi orang  Kristen tentu saja, mempunyai arti lebih dari sekedar itu. Dalam nubuat-nubuat  mengenai kedatangan Tuhan di akhir zaman, Allah disambut dengan daun-daun palem yang bukan dilambai-lambaikan manusia tapi yang masih berupa pohon-pohon palem. Mazmur 96: 12-13 melukiskan, “biarlah beria-ria padang dan segala yang di atasnya, maka segala pohon di hutan bersorak-sorai di hadapan TUHAN, sebab Ia datang, sebab Ia datang untuk menghakimi bumi” dan Yesaya 55:12 lebih jelas lagi, “Sungguh, kamu akan berangkat dengan sukacita dan akan dihantarkan dengan damai; gunung-gunung serta bukit-bukit akan bergembira dan bersorak-sorai di depanmu, dan segala pohon-pohonan di padang akan bertepuk tangan.” 
Bagian penggambaran pohon palem ini merujuk pada nubuatan Perjanjian Lama ketika Raja yang sejati datang menghakimi bumi, yang terjadi adalah seluruh ciptaan akan mekar, mencapai keadaan optimalnya, menjadi begitu flourish di hadapan Tuhan. Ini bukan sebagai hal yang gaib/ supranatural saja  --Tuhan datang maka miraculously Kali Ciliwung yang kuning tanah jadi kuning emas-- bukan cuma itu, tapi juga sisi natural yang bisa kita lihat hari ini. Mengapa kita sering berdoa minta pemimpin yang baik? Karena pemimpin yang baik akan membuat sebuah kota atau negara menjadi beres. Seorang pemimpin yang baik akan membuat yang tadinya potensial menjadi suatu realita. Seorang pemimpin yang baik akan membuat pohon yang tadinya diam menjadi  bersorak-sorai, membuat seluruh alam ciptaan jadi mekar. Ketika The True King, Kristus, datang kembali sebagai Raja ke dalam dunia ini maka seluruh dunia jadi under His management , dan itu berarti semua potensi yang ada dalam ciptaan hari ini akan “meledak”, pohon-pohon akan bersorak-sorai. Pertanyaannya adalah: apakah kita masih mempunyai pengharapan untuk hal ini? Atau  kita adalah orang-orang yang skeptis karena sudah belajar untuk tahu dan kecewa, dan merasa perlu untuk manage our expectations,  “Yah, Ahok itu of course is a great guy, Jokowi juga, tapi mereka cuma manusia, nanti juga mereka ketahuan belangnya. Hidup memang seperti itu,  jangan terlalu idealis jadi orang. Masa-masa yang indah cuma lewat begitu saja... ”?

Hari Kamis kemarin seperti biasa para hamba Tuhan di tempat ini ada KTB, dan yang langsung terasa dalam KTB tersebut adalah kenyataan bahwa Ardian sudah tidak ada lagi dan kami kangen. Ardian is not necessarily the greatest person, biasa saja, tapi kami punya persahabatan dengan dia dan itu hilang. Baru sebentar kami menikmati kehadirannya dan dia menikmati kehadiran kami, lalu dia pergi. Saudara sementara ini bisa menikmati kotbah Pak Billy atau kotbah saya, tapi sooner or later kita akan berpisah. Itulah kehidupan. Seluruh tubuh dan kesehatan kita sedang rusak dan makin lama makin rusak, maka sebagai orang dunia seringkali harapan untuk mencari tempat yang lebih meaningful adalah berbahaya sekali. Ada satu contoh tentang seorang yang sedang diwawancara.  Interviewer itu bertanya, “Anda sudah menyelidiki mengenai ISIS, saya ingin tanya satu hal, mengapa ISIS bisa secara konsisten merekrut orang-orang dari negara-negara Barat yang sudah  mapan?” Lalu jawaban orang tadi adalah: “Salah satu cara rekrutmen yang terjadi di negara-negara Barat adalah mereka mendeskripsikan kehidupan orang secara umum di kota-kota besar seperti London atau Birmingham, dan menanyakan ‘kamu besok mau kembali lagi ke toko swalayan itu (atau nonton bola lagi, atau makan fish ‘n chips di situ lagi, dsb)? Cuma itu saja? Cuma sejauh itukah arti hidupmu? Atau kamu mau pindah ke tempat yang penuh dengan arti, di situ kamu bukan cuma satu pion tapi jadi bagian dari perang apokaliptik yang kamu akan menang, karena nubuatan sudah terjadi dan kalaupun mati, kamu akan disambut 7 bidadari!’ begitulah, dan saya bisa mengerti bahwa itu menarik bagi beberapa orang. ” Maksud dia di balik kalimat terakhirnya adalah: “Tapi itu bukan saya, saya sudah enlighten, saya sudah sadar dunia itu bagaimana sesungguhnya, sedangkan orang-orang yang mau masuk itu karena mereka tidak puas dengan realita yang memang jelek ini, harapan yang tinggi, ingin cerita yang luar biasa indah, happy ending!” Saya juga pernah konseling satu pasangan yang mau menikah, cukup lama, dan setelah pergumulan yang panjang akhirnya mereka memutuskan untuk  bertunangan. Lalu si pria mengatakan, “Ya, saya sudah sadar realita itu seperti apa. Realitanya bukan cerita Snow White, tidak ada yang namanya happy ending di atas dunia ini.”  Bagaimana perasaan Saudara mendengar kedua cerita ini?

Memang benar, keinginan seseorang untuk punya meaning, untuk punya kehidupan ala fairy tale yang happy ending, adalah  sesuatu yang membahayakan di atas dunia yang rusak ini; tapi di sisi lain, orang yang telah mematikan harapannya untuk dunia di bawah Raja yang Sejati, adalah orang yang juga telah mematikan kemanusiaannya. Mengapa kita patah semangat, skeptis, dan seringkali sinis terhadap banyak pemimpin dunia dan pemimpin Gereja? Adalah karena kita secara tidak sadar sedang mencari Dia tapi terpaku pada appetizer-appetizer yang di depan mata. Kristus adalah Dia yang luar biasa glorious tapi juga humble, Dia yang dikatakan Alkitab kedatangan-Nya membuat bumi bergetar dan bukit-bukit meleleh, Dia yang juga begitu lembut sehingga anak-anak diundang datang kepada-Nya, pelacur-pelacur dan pengemis-pengemis mendapat penghiburan di bawah kaki-Nya. Dan Raja itu bukan hanya memperhatikan kita, tapi Raja ini mau menjadi teman kita dan “menikahi” kita. Dia juga Raja yang rela dihina dan diludahi bagi kita. Itulah Rajamu, adil dan jaya, tapi lemah lembut dan datang menunggang anak keledai.

Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah (MS).

Gereja Reformed Injili Indonesia Kelapa Gading

Download Ringkasan