Lima Roti Dan Dua Ikan

Kita sudah pernah mengkotbahkan bagian ini dari perspektif Injil yang lain, yang tidak terlalu banyak juga perbedaan, kecuali dari perspektif Injil Yohanes yang lebih panjang.

Mengacu pada perikop sebelumnya yaitu Herodes yang mengatakan pertanyaan yang sama  secara konten --tapi dengan motivasi dan tentu juga intonasi yang sangat berbeda-- yaitu: “Siapa gerangan Dia ini?” maka dalam bagian ini, ayat 18-21,  kita membaca Yesus sendiri menantang murid-murid-Nya untuk menjawab pertanyaan yang begitu penting ini, yang diwakili oleh Petrus. Herodes boleh tanya, boleh  ingin tahu, tapi Yesus tidak memberi kesempatan kepada Herodes untuk menjawab pertanyaan yang begitu penting ini, karena memang juga tidak ada motivasi untuk betul-betul ingin mengetahui. Herodes bukan bertanya untuk mencari tahu. Sama seperti kejadian  ketika dia tanya “di mana Raja yang baru lahir itu” bukan dengan motivasi mau datang dan menyembah-Nya melainkan membunuh-Nya, di sini waktu Herodes bertanya: “Siapa gerangan Dia ini, yang kabarnya melakukan hal-hal demikian”,  tidak ada ketertarikan sama sekali untuk mau mengenal Yesus, mengasihi Dia, dan taat kepada-Nya. Dan Yesus kemudian memberikan pertanyaan ini untuk dijawab murid-murid-Nya sendiri.

Menarik bahwa  dalam bagian ini, dalam 2 koneksi motif yang sangat penting yaitu pertanyaan “siapa Yesus itu”, ada “insertion” cerita Yesus yang memberi makan 5000 orang. Cerita ini adalah bagian yang tidak bisa dipisahkan dari pertanyaan “siapa Yesus itu” karena  itu adalah dua perikop yang mengapit cerita yang di tengahnya.  Injil Yohanes yang paling jelas membahas bagian ini. Dalam Yoh 6, selain ada pengakuan Petrus, di situ Yesus bukan hanya memberi makan 5000 orang, tapi Dia juga memperkenalkan diri-Nya sebagai Roti Hidup. Sama seperti roti yang mengenyangkan orang-orang itu secara fisik, demikian juga Yesus adalah Roti Hidup yang mengenyangkan secara spiritual; tapi kemudian statement itu ditolak, orang tidak terlalu tertarik dengan urusan rohani, lebih tertarik urusan kenyang secara fisik saja, lalu satu per satu mengundurkan diri meninggalkan Yesus, sampai Yesus juga mengatakan kepada murid-murid-Nya, “Apakah engkau tidak pergi juga bersama dengan mereka?” Bagian ini, Yohanes mungkin yang paling jelas menyatakannya, tapi Lukas juga bukan tidak ada prinsip ini karena kita melihat ada kaitan secara frame; karena itu alur (urutan) dalam penulisan Injil penting sekali, bukan cuma konten tiap perikop dan dilihat secara fragmented karena memang tidak pernah fragmented, seperti juga yang kita baca di pasal 9 ini. Herodes bertanya “siapa gerangan orang ini” lalu 2 perikop berikutnya Petrus menjawab “siapa Yesus itu”, yang ditanyakan oleh Yesus sendiri kepada murid-murid-Nya; dan di tengah-tengahnya  “Yesus memberi makan 5000 orang”, yang pasti sangat berkaitan dengan “WHO JESUS IS”.

Kalau kita menanyakan, “Who ..... is?” atau “..... itu siapa”, lalu berusaha mengerti, maka kita cenderung memberikan suatu gambaran, definisi, atau atribut yang akan muncul dari pertanyaan itu. Misalnya kalau Saudara ditanya: “Anda ini siapa?”, kita akan memperkenalkan diri dengan suatu cara seperti: tinggal di daerah mana (supaya orang tahu kira-kira lokasinya di bawah jembatan atau penthouse), atau pekerjaannya apa, atau kalau beda generasi kadang menjelaskan sebagai “papanya siapa”. Kita bisa pakai bermacam-macam koneksi waktu memperkenalkan diri kita --papanya si ini, anaknya si itu, tinggal di mana, dsb.-- tapi waktu membaca dalam Alkitab, pengakuan Petrus itu bukan tanpa karya yang dikerjakan oleh Kristus. Petrus mengatakan dengan tepat, Yesus adalah “Mesias yang dari Allah”, tapi itu bukan tanpa disertai dengan catatan tentang yang dilakukan oleh Kristus, yaitu Dia memberi makan 5000 orang. Ini bukan sekedar social action belaka, tapi membawa orang kepada pengertian “who Jesus is” sebetulnya. Yang dikerjakan Yesus itu seperti semacam diakonia, menolong orang, tapi dalam prinsip Injil itu tidak bisa tidak dikaitkan dengan “who Jesus is”.

Kita melihat, selalu ada 2 kecenderungan yang sama-sama salah. Satu sisi, memperkenalkan Yesus itu “siapa” tapi tidak pernah ada kepedulian sosial, menganggap itu belongs to the social gospel, bukan kita, urusan kita adalah “pure Injil”. Kalau begitu, pertanyaannya: mengapa di dalam Alkitab dicatat banyak sekali Yesus menyembuhkan penyakit, memberi makan, membangkitkan orang, dst., jika itu berpotensi men-distraksi orang mengenal “siapa Yesus”? Di sisi lain, ada kelompok yang melakukan kepedulian sosial --bakti sosial, dsb.-- tapi tidak ada aspek “who Jesus is”. Dua-duanya bukan  christianity, bukan kekristenan yang kita terima dari Alkitab karena dalam Alkitab kita mendapati keduanya, Yesus memberi makan 5000 orang, dan juga, Yesus memperkenalkan diri-Nya. “Siapa diri-Nya” meskipun terselubung, tidak direct dalam bagian Injil Lukas, tapi jelas sekali menunjuk pada Yesus itu “siapa”.

Dalam kaitan ini, waktu Yesus memberi makan 5000 orang, bahasa yang dipakai dekat sekali dengan bahasa “Perjamuan Kudus” yaitu pada ayat 16 yang dikatakan: “Yesus mengambil 5 roti dan 2 ikan itu,  menengadah ke langit, mengucap berkat, memecah-mecahkan roti, dan membagi-bagikan”. Ini bahasa yang dekat sekali dengan Perjamuan Kudus, Yesus yang mengambil roti, mengucap  syukur, memecah-mecahkan, dan membagi-bagikannya kepada murid-murid-Nya. Di sini jelas sekali kaitan dengan “pribadi Yesus” yaitu Yesus sedang menunjuk kepada diri-Nya yang juga dipecah-pecahkan tubuh-Nya untuk menjadi makanan rohani bagi banyak orang. Dalam peristiwa itu, Yesus bukan sekedar mengenyangkan mereka secara fisik saja, tapi membawa mereka kepada persiapan untuk penderitaan yang akan dialami Mesias. Konsep Mesias yang dipecah-pecahkan, yang diperkenalkan Yesus  ini, mendahului pengakuan Petrus bahwa  Yesus adalah “Mesias dari Allah”. Jadi di sini ditutup kemungkinan gambaran mesias yang lain, karena melalui memberi makan 5000 orang itu Yesus sudah memberitakan diri-Nya sebetulnya siapa, dan  konsep diri-Nya yang seperti inilah yang diperkenalkan Yesus sendiri.

Ada beberapa prinsip lain yang bisa kita pelajari dari bagian perikop ini, tapi sebagian yang sudah pernah dibahas --perikop yang sama dari Injil Matius atau Yohanes--  tidak akan saya ulangi. Di ayat 12, kita membaca bahwa hari sudah mulai malam, murid-murid sudah menyelesaikan yang harus mereka kerjakan, lalu mengatakan supaya Yesus menyuruh orang-orang itu pergi karena sudah melayani mereka dan sudah selesai. Kita bisa assume murid-murid sudah melayani baik-baik sepanjang hari itu. Tapi di ayat 13 Yesus berkata, “Kamu harus memberi mereka makan”; seperti  ditarik lagi. Ini konsep penyangkalan diri yang kita semua perlu belajar. Seringkali kita berada dalam konsep dualisme: melayani, lalu setelah melayani ya, sudah, jangan ganggu saya lagi, saya masuk kehidupan privat, dan toh saya sudah menjalankan kewajiban saya, semua sudah beres, dan sekarang saya mau menikmati diri sendiri bersama dengan keluarga saya, hobby saya, dsb. Memang tidak salah punya hobby dan menikmati waktu bersama keluarga, critical-nya bukan di situ, melainkan gambaran dualisme seperti peribahasa Indonesia mengatakan “bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian”.  Melayani orang lain dilihat sebagai kewajiban, yang musti susah payah pikul salib, itu artinya “bersakit-sakit dahulu”; lalu “bersenang-senang kemudian” yaitu menikmati  waktu saya seenak saya, semau saya, dan tidak usah diganggu orang lain, ini waktu saya sendiri, dst. dst. tapi besok saya akan menjalankan lagi kewajiban saya melayani orang lain. Pikul salib susah payah melayani orang lain, lalu setelah itu menyenangkan diri sendiri. Itu dualisme. Dalam cerita Alkitab ini, tidak ada dualisme. Tidak terlalu jelas di bagian ini  apakah murid-murid exhausted dalam pelayanannya, seperti halnya di bagian lain dalam cerita “Marta dan Maria” diceritakan bahwa Marta exhausted. Tidak terlalu jelas juga apakah mereka memulai pelayanannya dengan sukacita sekali atau penyangkalan diri yang berat sekali sehingga setelah selesai merasa legaaa... sekali... sekarang waktunya tidur; tapi kemudian Yesus menyuruh memberi orang-orang makan. 

Kalau membandingkan profil “Lukas” dengan profil “Markus”, memang ada sedikit perbedaan. Secara general, Markus lebih kritikal terhadap sikap murid-murid, sedangkan Lukas tidak terlalu mengangkat model profil murid-murid yang seperti itu. Ini tidak harus menggelisahkan kita karena ini perspektif yang berbeda.  Seperti halnya orang sering memakai ilustrasi gelas yang terisi setengah, bisa dikatakan “setengah kosong” ataupun “setengah penuh”, dua-duanya betul, tidak berbenturan, yang satu lihat dari perspektif  “ada”-nya dan satunya lagi  lihat dari perspektif  “kurang”-nya. Lukas, waktu melihat gambaran murid-murid, tidak terlalu tertarik untuk melihatnya secara kritikal meski bukan berarti mereka tidak ada dosa dan kelemahan; sedangkan Markus tampaknya yang mengakomodasi gambaran kelemahan murid-murid. Dua-duanya betul, karena dua-duanya mewakili gambaran dari murid-murid. Tapi, at least dalam profil Lukas, kita mendapati gambaran yang tdiak terlalu kritikal, sehingga kita perlu hati-hati agar tidak membaca Lukas berdasarkan Markus, dan sebaliknya. Dalam Lukas di bagian, tidak ada catatan murid-murid mengerjakan dengan tidak rela, exhausted, dsb. Dan waktu mereka menjawab: "Yang ada pada kami tidak lebih dari pada lima roti dan dua ikan, kecuali kalau kami pergi membeli makanan untuk semua orang banyak ini", mungkin tidak harus kita baca secara sinis, karena tidak terlalu jelas apakah ini jawaban sinis yang ditujukan kepada Yesus atau tidak, kenyataannya memang betul seperti itu, bahwa kecuali pergi beli makanan untuk semua orang banyak tersebut, barulah mereka bisa makan kenyang. Ada satu commentary yang mencatat: bagaimanapun murid-murid membantu juga, waktu Yesus mengatakan kepada mereka untuk menyuruh orang banyak itu duduk berkelompok dst., mereka melakukannya.

Regardless positif atau negatif di bagian ini, satu prinsip yang penting adalah kita tidak bisa melayani dengan konsep dualisme. Bukan hanya pelayanan, dalam pekerjaan kita juga bisa terjadi dualisme; bekerja seperti menjalankan kewajiban, kemudian setelah lewat jam kerja, waktu sendiri, boleh menikmati, bebas dari tanggung jawab kerja. Istilah “tanggung jawab” dan istilah “menikmati” saja bisa berpotensi jadi semacam dualisme. Ada jam-jam yang saya harus “bertanggung-jawab”, setelah tanggung jawab selesai, sekarang saya “menikmati”. Memang kita  tidak sempurna dalam menghayati pekerjaan kita, tapi salah satu berita penebusan bukankah bahwa kita jadi bisa menikmati pekerjaan kita? Adam dan Hawa diusir keluar dari Taman Eden, lalu  sejak masuknya dosa itu, dikatakan mereka mencari makanan dengan keringat, banyak  persoalan, karena dunia ini tidak bersahabat seperti dulu lagi. Tapi dengan datangnya Kristus, Dia merestorasi original creation, dan at the same time transcending the original creation. Dalam kitab Wahyu, dikatakan mereka berhenti dari jerih lelah mereka, mereka beristirahat dari jerih lelahnya. Terjemahan Indonesia sangat menarik, “berhenti dari jerih lelah” bukan “berhenti dari pekerjaan”. Jadi berhentinya adalah dari “jerih lelah” bukan dari “pekerjaan”, karena di surga manusia tidak berhenti bekerja dan cuma tidur forever and ever; itu bukan cerita Alkitab. Yang ada dalam gambaran  Alkitab, kita dipercayakan membangun kota dsb., tapi betul waktu dikatakan seperti terjemahan bahasa Indonesia: “berhenti dari jerih lelah”. Setelah manusia jatuh dalam dosa, sulit untuk menikmati pekerjaan. Yesus datang, memulihkan, menebus. Selain menebus jiwa kita, menebus kita sendiri, Yesus juga menebus yang kita kerjakan sehingga yang kita kerjakan itu harusnya jadi meaningful. Memang tidak mungkin sama sekali tanpa peluh, keringat, dan tanpa keluh kesah; karena kita belum di surga, masih ada bagian itu. Dunia masih  tidak sempurna dan kita sendiri juga tidak sempurna, masih dalam pergumulan melawan kuasa dosa, tapi at least trasformasi itu sudah terjadi di sini dan sekarang. Tanggung jawab memang akan selalu ada, kita tidak mungkin hidup sepenuhnya tidak ada tanggung jawab, tapi tanggung jawab yang ditransformasi lambat laun jadi kenikmatan.

Seseorang yang melakukan sesuatu dengan cinta, ada kenikmatan. Pekerjaan itu sesuatu yang impersonal, bukan person; kita tidak mungkin mencintai yang impersonal, it’s simply not possible karena mencintai cuma bisa  mencintai pribadi, tidak mungkin bisa mencintai yang bukan pribadi, tidak ada istilah itu. Waktu kita mencintai yang bukan pribadi,  tidak mungkin ada relasi, relasinya sangat sepihak. Saya mencintai barang itu, tapi barang itu tidak pernah bisa mencintai saya, jadi ini relasi yang garing. Orang yang mencintai uang, dia cuma mencintai sepihak karena uang yang non personal itu tidak mungkin balas mencintai dia, tidak mungkin. Maka bagaimana kita bisa “mencintai pekerjaan” sedangkan pekerjaan adalah non personal? Jawabannya adalah hanya kalau kita punya visi pekerjaan tersebut melayani siapa, berguna untuk siapa, barulah kita bisa punya konsep mencintai yang benar.  Yang dicintai sebenarnya bukan direct pekerjaannya melainkan orang yang mendapat manfaat dari pekerjaan yang kita kerjakan itu, di sini barulah kita bisa bicara  cinta terhadap karier atau vocation, calling, panggilan Tuhan dalam hidup kita.

Kembali ke prinsip dualisme. Yesus mengatakan: “Kamu harus memberi mereka makan”. Kalau orang mengerjakan sesuatu bukan dari perspektif tanggung jawab saja, tapi juga ada kenikmatan, maka di-extend tentu juga tidak terlalu ada persoalan, regardless memang bisa ada keletihan fisik; dan Yesus betul-betul extend bagian ini. Murid-murid juga melakukannya meskipun tidak ada kekuatan dari diri mereka sendiri; mereka mengatakan, “kita tidak punya selain 5 roti dan 2 ikan, atau kalau mau, ya musti pergi dulu membeli, minta uang dulu kepada Yudas si bendahara, baru kita bisa beli makanan dan orang-orang ini bisa makan”. Di dalam cerita ini, Yesus yang memberikan kepada mereka kemungkinan untuk melanjutkan pelayanan, exhausted atau tidak  kita tidak tahu pasti, tapi yang pasti Yesus memampukan mereka melanjutkan pelayanan ini. Lalu Dia mengambil 5 roti dan 2 ikan itu, menengadah ke langit, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti, memberikannya kepada murid-murid-Nya supaya dibagi-bagikannya kepada orang banyak. Yesus sebetulnya membagi-bagikan diri-Nya sendiri. Tubuh-Nya  itu yang dipecah-pecahkan, yang sanggup mengenyangkan orang banyak, bukan sekedar roti yang setelah dimakan habis dan kemudian akan lapar lagi. Yesus tidak tertarik mengulang-ulang cerita 5 roti dan 2 ikan itu, tapi Yesus tertarik membawa mereka untuk dikenyangkan oleh Roti Hidup --meminjam perspektif Yohanes yang lebih jelas--  yaitu diri-Nya sendiri yang dipecah-pecahkan lalu kemudian dibagi-bagikan kepada banyak orang, table fellowship, Lord’s Supper, Eucharist. 

Setelah bagian ini selesai, seperti biasa dicatat Yesus berdoa seorang diri, lalu kemudian Dia menantang murid-murid-Nya: "Kata orang banyak, siapakah Aku ini?" Yesus berdoa, lalu sesuatu yang penting terjadi; hal ini khususnya kita baca dalam perspektif Lukas lebih dari semua Injil yang lain. Saudara membaca Yesus berdoa pada saat inaugurasi/ pentahbisan, Roh Kudus yang tampak dalam bentuk burung merpati. Dalam catatan lain, Yesus berdoa lalu keesokan harinya Dia memilih murid-murid-Nya. Ada peristiwa penting setelah Yesus berdoa, bukannya terbalik ada peristiwa penting baru berdoa, itu bukan Yesus. Yesus berdoa dan keluar visi tertentu dari pergumulan doa, termasuk juga di bagian ini. Pada suatu kali ketika Yesus berdoa seorang diri, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya, lalu Yesus menantang mereka: "Kata orang banyak, siapakah Aku ini?" Kepentingan pertanyaan ini adalah menyadarkan murid-murid-Nya dan menantang mereka untuk menjawab pertanyaan yang paling penting: “Siapa Yesus itu sebenarnya?”.

Yesus mulai dengan pertanyaan “menurut orang banyak,the crowd, semua orang, siapakah Aku ini?”, lalu “menurut kamu, yang adalah murid-murid-Ku, siapakah Aku ini?” Waktu membaca jawaban yang ada dalam perikop ini, Saudara akan mendapati bahwa kekeliruannya sangat khas. Ada yang menjawab “Yohanes Pembaptis”, ada juga yang mengatakan “Elia”, dan ada juga “seorang dari nabi-nabi yang dahulu telah bangkit”.  Mesias dalam gambaran penantian orang-orang Israel, sebelum datang, akan ada seorang pendahulu yang mempersiapkan; satu contoh yang paling jelas, ketika dikatakan “Yohanes Pembaptis”. Kalau dari perspektif  kita, Yohanes Pembaptis adalah pendahulu, yang mempersiapkan kedatangan Yesus yang adalah Mesias. Tapi orang-orang ini menempatkan Yesus dalam Yohanes Pembaptis, maksudnya apa? Orang lebih suka untuk menyebut Yesus sebagai the Forerunner of Messiah, pendahulu dari Mesias, sehingga mereka masih bisa mengembangkan imajinasinya tentang Mesias itu karena toh belum datang, baru pendahulunya. Yang menjadi berita buruk adalah kalau “ternyata” Yesus itu betul  Mesias, yang berarti semua imajinasi harus berhenti. Orang lebih suka dikasih tahu “ini lho pendahulu Mesias”, lalu berharap dan berharap. Salah satu kebahayaan dalam berharap --bukan maksudnya berharap itu bahaya, karena tidak berharap pasti lebih bahaya-- adalah karena belum terjadi, sehingga kita bisa mengembangkan semua jenis imajinasi yang ada pada kita, lalu diproyeksikan kepada pengharapan itu, dan merasa nggak apa-apa juga, karena memang masih belum pasti kan, nggak tentu tertolak kan pengharapan saya, jadi saya berharap saja. Contoh orang yang sakit, ia berharap sembuh karena belum tahu juga, tidak tentu mati, bisa juga sembuh, maka berharap saja. Berharap memang menarik karena bisa membawa kita kepada all kinds of pengharapan, kontennya bisa apa saja. Tapi di sini, persoalannya adalah Yesus itu sudah  ada di sana, bukan diharapkan lagi, namun orang-orang lebih suka untuk mengatakan Dia itu Yohanes Pembaptis, atau Elia, atau nabi-nabi, yang semuanya sama yaitu yang mempersiapkan Mesias, mereka masih tidak tahu Yesus itu Mesias. Bagi mereka, Yesus kotbah-kotbah tentang Mesias, tentang Kerajaan Allah akan datang --dan mereka senang mendengarnya-- maka inilah orang yang mempersiapkan Mesias. Lalu setelah itu apa? Setelah itu, ya, saya masih boleh berada dalam pengembangan fantasi saya tentang Mesias yang saya harapkan,  yang akan melepaskan dari penjajahan Romawi lah, pemulihan Davidic Kingdom, Salomonic Kingdom, the Golden Age akan kembali lagi seperti dulu, semua bangsa akan datang ke Yerusalem untuk mempelajari Torah kita ,dan beribadah di Bait Allah kita, ini Mesias yang kita mau. Masalahnya, Yesus sudah ada di sana dan Dia memberitakan  konsep Mesias yng sama sekali lain dengan yang ada pada mereka. Sulit sekali bisa terima bagian ini. Demikian juga kekristenan, kalau kita tidak berhati-hati, kita bisa masuk dalam persoalan seperti ini. Saudara jangan berpikir itu kelompok lain, karena bisa juga terjadi dalam kehidupan kita.

Kita mau gambaran Tuhan yang kita harapkan, yang tidak betul-betul sudah dinyatakan. Kita tidak mau tahu itu. Bahkan kita lebih suka, kalau bisa, semua Alkitab ini sekedar pendahuluan/ forerunner yang menunjuk kepada Tuhan “yang lebih benar lagi”; Alkitab cuma cicipan saja, dan isi sesungguhnya adalah yang saya mau, yang saya bayangkan tentang Tuhan, itulah “Tuhan” yang sejati; Alkitab cuma menunjuk, menujuk, dan menunjuk saja. Tapi Alkitab adalah pernyataan yang sudah selesai, sudah dikanonisasi, dan sudah dinyatakan kepada kita. wWktu dikatakan “sudah”, itu berarti Mesias tidak bisa diubah-ubah supaya bisa adjust  dengan kita punya imajinasi. Tidak bisa. Saya punya imajinasi yang harus takluk kepada The Real Messiah. Dan inilah kekristenan. Kekristenan adalah: saya seumur hidup bergumul, mencocokkan imajinasi saya yang ngawur dan liar itu, untuk betul-betul mengenal “Who Truly Jesus is”, Yesus itu sebetulnya siapa.  Bukan saya mem-proyeksikan pandangan  saya tentang Tuhan lalu dikaitkan kepada Yesus Kristus, padahal itu sebetulnya adalah imajinasi saya sendiri. 
Kalau kita tidak  hati-hati, kita juga bisa membaca Alkitab dan bukan mendapati isi Alkitab, melainkan mendapati diri kita sendiri di dalam Alkitab; karena memang kita orangnya begitu, lalu kita mem-proyeksikan kepribadian kita, akhirnya kita cuma menemui ayat-ayat yang cocok dengan kepribadian kita instead of kepribadian kita yang ditransformasi oleh kekayaan Alkitab. Karena kita “autis” dan “narcissistic” dalam membaca Alkitab, maka kita selalu ketemu kepribadian kita sendiri dalam diri Alkitab; waktu kita membaca Yesus, bukan Yesus yang kita baca melainkan proyeksi ”personalitas saya” di dalam diri Yesus, dan akhirnya bolak balik ketemu poin yang itu lagi. Itu bukan “saya mengenal Yesus”, tapi saya menemukan bayangan saya sendiri, lalu saya terapkan di dalam diri Yesus. Bahaya sekali mengenal Alkitab dan mengenal Yesus seperti itu. Dalam perikop ini, problem yang persis sama dengan itu. Saya pernah share dalam satu bagian yang agak kritikal, bahkan the Great Calvin pun tidak bebas dari kelemahan ini. Ada satu scholar yang mencoba menafsir, menyatakan bahwa Calvin waktu membaca Mazmur atau Daud, dia banyak sekali membaca dirinya sendiri di situ karena memang dia sedang bergumul, bergumul terlalu berat sampai akhirnya membaca semua kalimat di dalam Mazmur cocok dengan pergumulannya. Memang keuntungannya adalah sangat menghibur, tapi kerugiannya adalah Calvin kurang mendapati kekayaan dari kitab Mazmur  yang juga ada mazmur sukacita dan celebration, yang kurang ada tempat baginya. Kehidupan Calvin kurang celebrate sehingga dia susah untuk mengerti bagian ini. Ada bagian-bagian yang Calvin sendiri mengkritik Daud karena dia anggap kurang tahan banting karena mungkin masa kecilnya “kurang susah”. Kalimat dari mana tafsiran seperti ini? The Great Calvin bisa bikin commentary seperti ini yang membuat kita geleng-geleng kepala, dari mana dia tahu masa kecil Daud, dsb.? Maksud Calvin, dia mau mengatakan bahwa Daud tidak seperti dirinya yang waktu kecil susah sekali, sehingga Daud kurang bisa susah, tapi Alkitab tidak pernah kasih komentar itu sama sekali. Di sini saya cuma mau mengatakan, bahwa orang seperti Calvin, yang diberkati Tuhan luar biasa, pun bisa punya kelemahan seperti ini, apalagi Saudara dan saya. Waktu kita membaca Alkitab, pasti ada kecenderungan untuk melihat diri kita sendiri.

Maka, kembali pada prinsip ini, Yesus bukan the forerunner Yesus bukan pendahulu yang memberikan kita kemungkinan untuk terus mengembangkan imajinasi kita, terserah seperti apa, narcissistic terus menerus, “karena Yesus cuma forerunner, jadi terus saja kamu mengembangkan imajinasi Mesias yang kamu suka, bebas terserah kepadamu, karena toh belum datang”. Kenyataannya, the bad news untuk orang-orang seperti ini, Yesus sudah datang. Yesus yang sudah datang harusnya adalah good news, tapi untuk orang-orang yang suka imajinasi sendiri, menjadi bad news. Mengapa? Ya, karena Yesus sudah datang. Alkitab ini bad news bagi orang yang suka memproyeksikan fantasinya sendiri tentang Tuhan.  Tapi Alkitab adalah good news bagi orang-orang yang mau diubah,  mau dengan rendah hati membiarkan Alkitab berbicara kepada saya, bukan sesuai dengan personalitas saya saja meski kadang-kadang kita tahu bisa cocok dengan personalitas saya. Tapi kalau tidak cocok pun, ya silahkan Alkitab mengoreksi karena saya memang perlu dikoreksi.  Kalau Alkitab tidak boleh mengoreksi saya, saya yang musti mengoreksi Alkitab, itu tidak ada pertanggung jawabannya. Waktu kita dengan rendah hati membiarkan Alkitab mengoreksi kita, di situ ada pengharapan untuk kita bisa mengenal “who Jesus is”.

Alkitab sebenarnya mengajarkan apa? Yesus yang saya kenal itu “siapa”? Setelah Yesus bertanya, “Menurut kamu, Saya siapa?” Petrus menjawab, “Mesias dari Allah”. Lukas sangat tertarik memakai istilah “dari Allah”; pertama Yesus adalah Mesias, berarti sudah datang, dan kedua adalah dari Allah. Jadi di sini ada tension, ada benturan antara konsep yang dari Allah dan yang bukan dari Allah. Ada pekerjaan yang dari Allah, tapi ada pekerjaan “menara Babel” yang dibangun oleh manusia sendiri yang bukan dari Allah. Selalu ada kontras seperti ini, dari-Allah dan bukan-dari-Allah. Dalam  terminologi Lukas khususnya, baik Injil maupun Kisah Para rasul, Saudara akan mendapati yang dari Allah dan yang bukan dari Allah. Mesias yang dari Allah, bukan mesias yang hasil proyeksi bangsa Yahudi,  yang dalam hal ini cukup kompak mengharapkan mesias politis yang akan menggulingkan penjajahan Romawi, dsb. Tapi di sini dikatakan “Mesias dari Allah”, inilah yang dari Allah, yang kita musti kembali kepada konsep yang diberikan, karena ini dari Allah.

Sepanjang kehidupan kita,  kita bergumul hal ini, bergumul untuk synchronize semua aspek kehidupan, baik keluarga, pekerjaan, hobby, pelayanan, dan semuanya, dengan terus menanyakan kalimat ini: Ini dari Allah, atau dari saya sendiri; dari Allah atau bukan dari Allah? Yang  dari Allah, akan dipelihara sampai kekekalan; yang bukan dari Allah, akan gugur sendiri, itu menabur dalam kesia-siaan. Kiranya Tuhan memberkati kita, kiranya Tuhan menolong kita, kiranya Tuhan menguduskan kita.

Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah (MS).

Download Ringkasan