Eksposisi Kitab Wahyu: Surat Kepada Jemaat di Pergamus

Kita melanjutkan eksposisi Kitab Wahyu yaitu surat kepada tujuh jemaat, dan hari ini masuk ke kota yang ketiga yaitu Pergamus. Mengapa  menyelidiki surat kepada jemaat-jemaat ini masih relevan buat kita? Salah satu alasannya, surat-surat kepada jemaat Korintus, Efesus, Tesalonika, dsb.dan bahkan surat personal dari Paulus kepada Timotius kita anggap untuk kita juga hari ini, sehingga demikian pula surat-surat kepada jemaat-jemaat dalam kitab Wahyu ini. Dan alasan yang lebih biblikal adalah yang kita baca di ayat terakhir: “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat... “; ada kata “jemaat-jemaat/ churches”, bentuk plural. Berarti bukan cuma untuk kita pada hari ini, tapi bahkan pada zaman itu masing-masing kota bukan cuma dipanggil untuk mendengarkan surat yang ditujukan kepada mereka saja, tapi juga yang ditujukan kepada jemaat lain. Tidak dikatakan “siapa bertelinga di Pergamus, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat Pergamus”, melainkan dikatakan “siapa bertelinga” --yang bertelinga adalah semua orang-- “hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat... “ --bukan jemaat Pergamus saja.

Pergamus tidak sekaya kota Efesus atau Smirna, tapi jauh lebih penting karena merupakan ibukota propinsi di Romawi, pusat budaya, seni, dan juga pusat penyembahan berhala. Sebelum masuk lebih dalam  melihat yang dihadapi jemaat Pergamus, saya ingin review sedikit back ground kota ini, di-compare sekaligus terhadap Smirna dan Efesus. Dengan review ini, kita mendapat 2 perspektif baru yang biblikal dalam melihat jemaat  di gereja-gereja ini. Perubahan perspektif yang pertama, kita akan punya penilaian yang lebih positif atas gereja-gereja ini, karena komentar yang lebih sering kita dengar adalah: “Inilah contoh-contoh gereja yang ‘hancur’, yang kacau balau, karena dari 7 gereja cuma 2 yang tidak ada kesalahannya yaitu Smirna dan Filadelfia.“  Tapi kalau melihat lebih jelas, kita mendapati bahwa gambarannya tidak seperti itu. Justru lebih fair mengatakan bahwa dari 7 gereja itu, ada 5 gereja Tuhan yang sejati, dan paling banyak cuma 2 yang gereja sampah, Sardis dan Laodikia (Sardis dikatakan “mati”, dan kepada Laodikia, Tuhan mengatakan, “Aku ingin memuntahkan kamu”). Di pasal 2:3, pujian Tuhan kepada gereja Efesus, “Aku tahu segala pekerjaanmu: baik jerih payahmu maupun ketekunanmu. Aku tahu, bahwa engkau tidak dapat sabar terhadap orang-orang jahat, bahwa engkau telah mencobai mereka yang menyebut dirinya rasul, tetapi yang sebenarnya tidak demikian, bahwa engkau telah mendapati mereka pendusta. Dan engkau tetap sabar dan menderita oleh karena nama-Ku; dan engkau tidak mengenal lelah.” Juga kepada jemaat Pergamus, ada pujian yang jelas sekali di ayat 13: “... dan engkau berpegang kepada nama-Ku, dan engkau tidak menyangkal imanmu kepada-Ku, juga tidak pada zaman Antipas, saksi-Ku, yang setia kepada-Ku, yang dibunuh di hadapan kamu, di mana Iblis diam.” Suatu pujian yang luar biasa, tapi kita seringkali lupa bagian pujian-pujian itu dan hanya ingat bagian kritikannya.  Jadi, kita bisa lihat 5 dari 7 gereja dipuji sebagai jemaat yang setia, artinya lebih dari 70% adalah gereja yang sejati. Reaksi kita atas hal itu harusnya bersukacita.

Hal kedua yang mengubah perspektif kita jadi positif, ketika kita menyadari situasi yang sedang mereka hadapi. Kita tahu strategi Rasul Paulus bukanlah masuk ke daerah-daerah the low lalu baru ke kota, melainkan masuk  ke pusat kota dulu baru menyebar ke daerah-daerah. Artinya, gereja-gereja yang disebut di sini adalah gereja-gereja di pusat kota, metropolitan, tempat-tempat paling gelap yang kejahatan dan penyembahan berhalanya  paling santer. Seandainya Saudara seorang insinyur tata kota, Saudara akan menempatkan lampu di jalan yang paling gelap sebab “di mana ada terang, perbuatan-perbuatan gelap akan hilang”. Maka “tidak heran” bahwa Tuhan Yesus menempatkan jemaat-Nya di tengah tempat-tempat yang begitu mengerikan ini, yang bisa kita lihat dari 3 perkataan “Aku tahu” kepada setiap gereja ini. Di Efesus, Tuhan Yesus mengatakan: “Aku tahu segala pekerjaanmu, baik jerih payahmu maupun ketekunanmu.” Di  Smirna: “Aku tahu kesusahanmu dan kemiskinanmu.” Lalu di Pergamus: “Aku tahu di mana kamu tinggal, tempat setan bertakhta.” Basically Tuhan mengatakan: Aku tahu, betapa sulit tempat yang di situ kamu dipanggil untuk memberikan kesaksian. Seperti kita melihat keadaan di Bagdad atau Suriah hari ini, dan di sana ada gereja, begitulah gereja Pergamus.  Mereka berada di tempat-tempat yang situasinya demikian parah, and yet, mereka bertahan. Pergamus merupakan kota dengan pelindung mythic yang mereka percayai adalah Athena dan Zeus, maka di tengah-tengah kota ada kuil Zeus, dan di belakang kota tersebut ada satu bukit penuh dengan kuil; kuil yang terbesar adalah kuil penyembahan kepada Kaisar Roma. Bayangkan kalau Saudara tinggal di kota seperti itu; seandainya pemerintah kota Jakarta mengganti Monas dengan patung Baal misalnya, bukankah di antara kita akan ada yang merasa “wah, Jakarta bahaya kalo kayak gini, kita pergi saja yuk”. Bukan itu saja, kita tahu bahwa menjadi Kristen di zaman itu adalah ilegal. Mereka akan dibawa ke istana Kaisar, disuruh menyangkal Kristus dengan membakar dupa menyembah patung Kaisar, mengutuk Tuhan Yesus. Jika tidak, mereka akan dibunuh seperti juga Antipas dimasukkan ke air mendidih dalam kuali besar di tengah kota sampai mati perlahan-lahan. Bagian teks ini menjelaskan sejelas-jelasnya, bahwa “makanan sehari-hari” di Pergamus adalah kejahatan manusia, yang di baliknya --seperti diakui sendiri oleh Tuhan Yesus-- adalah hasil orkestrasi kuasa gelap. Itulah situasi mereka, dan  menyadari hal itu, kita hanya akan mengatakan: “wow!”

Tetapi, tentu saja Alkitab sangat balance. Kalau tadi kesalahan perspektif  kita adalah terlalu mudah untuk tidak melihat keindahan gereja Tuhan, lebih melihat kejelekannya; maka kecenderungan sebaliknya yaitu melihat ketiga gereja ini begitu faithful, sejati, meski ada kesulitan dan kegagalannya, dan lihat situasi kondisinya, bukankah mereka tinggal di tengah-tengah jantung kejahatan?! Tapi, Tuhan Yesus tetap menuntut standar ketaatan yang luar biasa tinggi. Di Pergamus, kejahatan yang dilakukan itu minoritas, bukan dilakukan oleh seluruh gereja, terlihat di ayat 14 “di antaramu ada beberapa orang... ”, dan ayat 15 “demikian juga ada padamu ...”, jadi tidak semuanya jahat; dan apa yang Tuhan katakan? Tuhan mengatakan bahwa seluruh Gereja harus bertobat. Koq kayak gini ya? Ini kesalahan perspektif yang kedua, kita sekarang bukan lagi terlalu cepat mengkritik, tapi terlalu cepat bersimpati. “Aduh Tuhan.... , coba lihat situasi dan kondisinya dong. Mereka dapat 2 A dan 1 B-, dan Tuhan ‘gak sabar, harus tiga-tiganya A, kalau bisa A++,? Sampai ngomongnya sadis sekali ‘Sebab itu bertobatlah! Jika tidak demikian, Aku akan segera datang kepadamu dan Aku akan memerangi mereka dengan pedang yang di mulut-Ku ini’. Mengapa sih Tuhan begitu demanding seperti itu?” Jawabannya: karena bagi Tuhan, Gereja adalah biji mata-Nya; karena bagi Tuhan, Gereja adalah tempat  Dia akan tinggal dalam kekekalan.

Kita bisa cross reference dengan Wahyu 21:1-3, “Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru, sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu, dan laut pun tidak ada lagi. Dan aku melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari sorga, dari Allah, yang berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya. Lalu aku mendengar suara yang nyaring dari takhta itu berkata: "Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka.” Perhatikan, tidak dikatakan bahwa Allah akan hidup selama-lamanya di surga, tapi Dia akan tinggal selama-lamanya di sini. Tidak dikatakan bahwa kemah kita akan ada di tengah-tengah Tuhan, tapi kemah Tuhan akan ada di tengah-tengah kita. Bukankah hal yang luar biasa, bahwa kita akan menjadi tempat kediaman Allah? Mazmur 84 menyanyikan “betapa aku merindukan, betapa indahnya tempat kediaman-Mu, ya Tuhan”, tahukah Saudara, siapa yang di-antisipasi bani Korah, yang begitu indah itu? Kita. Maka tidak heran Tuhan Allah menuntut standar yang luar biasa tinggi atas Gereja-Nya. Kita seringkali berpikir “aduh Tuhan, mengapa hidup saya musti kayak gini? Mengapa saya musti dituntut sampai sebegitunya? Engkau seperti orang yang ‘gak pakai perasaan, ‘gak melihat situasi yang saya hadapi, Engkau ‘gak ngerti”, dsb., tapi Dia bukan tidak mengerti yang kita hadapi. Dia melakukan itu bukan karena tidak ada kasih, tapi justru karena kita adalah hal yang paling dikasihi-Nya. Itu sebabnya Dia menginginkan kita menjadi sempurna.

Problem dalam hidup kita juga seringkali banyak dalam hal ini; bukan cuma kita tidak bisa melihat hal ini pada Tuhan, tapi kita juga tidak bisa melihat hal ini pada sesama. Satu contoh: ada orang yang komplain karena saya suka mencela para pianis, song leader, liturgis, dari atas mimbar; orang itu mengatakan, “Itu Jethro jahat sekali. Tunggu dong sampai mereka turun, bicara personal.” Alasan saya melakukan itu di atas mimbar, karena kalau saya tunggu sampai nanti setelah selesai kebaktian, itu artinya saya mengorbankan jemaat, Saudara kehilangan berkatnya. Mengapa kita seringkali perlu mengkritik? Karena memang itu cara Tuhan kita. Satu hal yang seringkali terpikirkan, “bagaimana saya bisa yakin saya sudah diselamatkan?” Ada banyak cara, dan salah satunya ketika Saudara ditegur, dikoreksi;  karena Tuhan sendiri mengatakan: “Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegur dan Kuhajar”. Kakek nenek biasanya selalu memberi tapi tidak pernah mendisiplin, karena mereka ingin disukai cucu-cucunya; tapi orangtua yang mengasihi anaknya, tidak mau cuma berlaku baik kepada anak-anaknya tapi siap menyakiti perasaan anaknya ketika mereka berlaku tidak beres. Itulah cara kerja Tuhan kita. Jadi, mengapa Tuhan memberikan standar yang begitu tinggi bagi kita, bagi Gereja? Mengapa dalam situasi kondisi yang begitu mengerikan, Tuhan tetap menuntut sedemikian tinggi? Karena Dia mengasihi kita.  Itu pelajaran pertama dari bagian ini.

Sekarang kita masuk bagian berikutnya, yaitu apa persisnya problem dari kota Pergamus ini. Ayat 14-15 : “Tetapi Aku mempunyai beberapa keberatan terhadap engkau: di antaramu ada beberapa orang yang menganut ajaran Bileam, yang memberi nasihat kepada Balak untuk menyesatkan orang Israel, supaya mereka makan persembahan berhala dan berbuat zinah. Demikian juga ada padamu orang-orang yang berpegang kepada ajaran pengikut Nikolaus.” Sekali lagi, di sini ada sekelompok minoritas, tapi minoritas yang pada akhirnya akan berbahaya sekali, mengkontaminasi seluruh gereja. Maka pertanyaannya di sini adalah: seberapa jauh seorang Kristen bisa ikut masuk dalam kehidupan sosial, ekonomi, politik, dari sebuat kota yang kafir tanpa kompromi? Seberapa mungkin seorang Kristen bisa menjaga dirinya supaya tidak kompromi tapi juga masuk ke dalam kehidupan sosial, ekonomi, politik, kota yang kafir itu?

Ada beberapa alasan kita perlu memikirkan ini. Pertama, karena kita tidak  tahu persis Nicolaitans ini sekte yang melakukan apa, tapi pastinya bukan pengikut Nikolaus. Nicolaitans secara literal berarti “para penghancur jemaat”. Jadi ini suatu aliran/ gaya hidup yang akan menghancurkan jemaat.  Ini dikaitkan dengan Bileam, dan yang dibicarakan di sini adalah bagian ketika orang-orang Israel dirayu oleh makanan, penyembahan berhala, prostitusi, dsb. (ceritanya ada di kitab Bilangan). Karena Israel tidak bisa dikalahkan, maka raja musuh menyuruh Bileam  membawa para pelacur dari Moab ke Israel, lalu orang-orang Israel tertarik kepada mereka, kawin dengan mereka, dan akhirnya seluruh Israel “tercampur”, sampai kemudian 24.000 orang Israel dibunuh oleh Tuhan, dan bangsa Israel hampir hancur. Inti problematikanya adalah: orang-orang yang masuk ke kultur  berlainan lalu akhirnya kompromi.  Hal ini bisa juga make sense dengan gambaran jemaat di Pergamus pada abad pertama, karena setiap bidang pekerjaan ekonomi pada zaman itu di Romawi, memiliki dewanya sendiri. Katakanlah Saudara bertani, maka ada “dewa tani”, kalau Saudara seorang seniman, ada “dewa seni”, dsb. sehingga ada begitu banyak kuil sampai memenuhi  seluruh bukit. Kuil-kuil itu bukan cuma tempat agama, tapi juga tempat bisnis. Oleh karena  orang percaya dewa pertanian, maka waktu melakukan business deal, mereka bertemu di kuil dewa tersebut ,dan tentu saja masuk juga ke dalam penyembahannya. Dan sejarah menunjukkan bahwa penyembahan berhala pada zaman Romawi penuh dengan mabuk-mabukan dan orgy seksual, inilah yang jadi permasalahan. William Ramsay mengatakan bahwa orang-orang Nicolaitans ini, probably adalah orang-orang Kristen, tapi yang sudah siap memberi ruang dalam iman mereka demi berpartisipasi dalam kehidupan sosial, ekonomi, politik kultur Helenis pada waktu itu. Kita tahu, waktu kita memberi sedikit ruang, sooner or later itu akan menggerogoti iman kita, intinya mengenai kompromi.

Tapi yang menarik, kita bisa membuat hipotesa bahwa dosa kompromi yang dilakukan orang-orang di Pergamus bukan karena mereka lemah di bidang itu dan mudah dicobai, melainkan justru karena di situlah bagian iman mereka yang paling kuat. Kita bisa yakin dengan hal ini kalau kita melihat juga kota-kota yang lain, khususnya Efesus. Pujian yang diberikan kepada jemaat Efesus adalah mereka tidak toleransi terhadap pengajaran sesat, tidak toleransi terhadap rasul-rasul palsu, tidak dapat sabar terhadap orang-orang seperti itu, dan bisa membuktikan bahwa orang-orang itu pendusta. Jemaat Efesus adalah satu gereja yang berjuang demi kesucian, mempertahankan iman. Tapi kegagalan mereka yaitu kehilangan kasih yang mula-mula; dan banyak penafsir yang mengatakan bahwa itu maksudnya adalah penginjilan. Gereja yang begitu fixed  determinasi untuk menjaga kesucian, seringkali jatuh ke dalam isolasi, menarik diri dari dunia, tidak  mau lagi pergi menginjili karena takut terkontaminasi oleh penyembahan berhala dan kejahatan dunia. Mereka jatuh justru di dalam kekuatannya, bukan dalam kelemahannya. Ekuivalennya --yang mungkin juga tidak terlalu tepat-- yaitu orang-orang yang tidak mau membantu badan misi apapun kecuali stafnya semua orang Kristen. Atau yang lebih relevan, orang-orang mengkritik Pdt. Dr. Stephen Tong karena mendirikan orkestra yang mayoritas pemainnya bukan Kristen, dsb. Mereka membenci yang Tuhan benci, tapi akhirnya kehilangan kasih. Bagaimana dengan Pergamus? Apa kekuatan jemaat Pergamus?

Kita bisa melihatnya dari bagian yang Tuhan memuji mereka, dan ditekankan pada karakter Antipas sebagai “saksi yang setia”. Kata “saksi” adalah “marturia”, yang biasa dipakai dalam kata “martir”; dan memang Antipas mati martir. Tapi kata “bersaksi/ marturia” dalam kitab Wahyu bukan cuma dalam hal mati martir. Di pasal 1:2 dikatakan: “Yohanes telah bersaksi tentang firman Allah”, itu berarti kesaksiannya --atau marturia-- adalah dengan menulis surat kepada jemaat-jemaat, bukan dengan mati. Pasal 1:5: “dan dari Yesus Kristus, Saksi yang setia...”, memang kita tahu Kristus mati martir, tapi Dia dibawa ke salib oleh karena terlebih dulu Dia bersaksi dengan setia terhadap kebenaran. Di mana? Di ruang publik, ranah publik. Pasal 11:3: “Dan Aku akan memberi tugas kepada dua saksi-Ku, supaya mereka bernubuat sambil berkabung, seribu dua ratus enam puluh hari lamanya.” Tugas dari seorang saksi adalah untuk bernubuat. Maka marturia bisa ada banyak arti, kadang sepaket dengan kematian, tapi yang utama bahwa orang-orang yang bersaksi adalah orang-orang yang masuk ke dalam ranah publik, menyaksikan kebenaran dalam hidup mereka. Itulah kira-kira keunggulan jemaat Pergamus, mereka kebalikannya jemaat Efesus. Kalau jemaat Efesus adalah jemaat yang menarik diri karena concern dengan kesucian, maka jemaat Pergamus adalah  jemaat yang begitu ingin berdeterminasi untuk bersaksi, masuk ke dalam dunia, sehingga pencobaannya adalah kompromi dengan dunia.

Kata “kompromi” seringkali dilihat begitu negatif, apalagi di gerakan Reformed. Di dalam kamus, kata “kompromi” bisa berarti 2 hal, positif dan negatif. Positif waktu “kompromi” berarti kerjasama, give and take, bertemu di tengah, menjadi medium, keseimbangan; contoh penggunaan yang diberikan kamus: “Sebuah pernikahan yang baik, perlu kompromi”. Tapi kamus juga menyatakan arti kedua, yang kita lebih terbiasa, yaitu seperti dalam kalimat: “Tindakannya itu meng-kompromi-kan perusahaan”, yang artinya pasti  membahayakan atau menghancurkan. Tapi yang ingin  saya perlihatkan adalah: bahwa bahaya dari kompromi, bukanlah karena hal itu  kita sadari berbahaya; bahaya dari kompromi justru karena kita seringkali melihat hal itu sebagai hal yang positif. Seseorang yang ber-kompromi tidak akan melihat tindakannya sebagai suatu kompromi dalam arti  membahayakan dan negatif. Itulah bahayanya. Ketika mengatakan “kita ini gereja yang tidak ber-kompromi”, justru ada bahaya kompromi di sana. Kompromi itu bisa di-argumentasi-kan atau dibungkus dalam suatu terang yang sangat positif tapi secara praktis seringkali ujungnya membawa pada  ketidak setiaan pada Kristus, dsb. Contoh simpel: penggunaan teknologi dalam gereja.  O ya, sekarang zamannya WA dan facebook, jadi gereja juga musti up to date, musti isi bagian ini.  Tunggu dulu, Saudara mungkin musti tanya dulu, facebook dan WA itu struktur dasarnya apa? Nggak usah ngomong seperti itu, ini kan bagus, bertemu di tengah; ini namanya menjangkau orang;  koq kamu masih tidak mengerti ini yang harus kita lakukan? Tanpa mempertanyakan WA dan facebook itu apa sebenarnya, dan asumsi dasar apa yang dibangun dalam setiap teknologi tersebut, kita menggunakannya dan kita tidak menamakan itu kompromi; dan di situlah bahayanya. Banyak orang sekarang mau diskusi teologi lewat WA, semua orang boleh hajar masuk dari kiri kanan depan belakang, ngomongin apa yang mereka mau; bagaimana bisa? Ini mungkin kita bisa bicarakan kapan-kapan dalam seminar.
Intinya, Gereja Tuhan adalah Gereja yang harusnya bukan mundur dari dunia demi menjaga  agar tidak terkontaminasi; Gereja Tuhan adalah Gereja yang harus masuk ke dalam dunia, di dalam kegelapannya, karena memang Gereja adalah terang, and yet, Gereja bukan boleh dikalahkan oleh kegelapan dunia. Bagaimana caranya? Kita bisa membaca janji Tuhan di ayat 16-17, suatu janji negatif maupun positif: “Sebab itu bertobatlah! Jika tidak demikian, Aku akan segera datang kepadamu dan Aku akan memerangi mereka dengan pedang yang di mulut-Ku ini. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat: Barangsiapa menang, kepadanya akan Kuberikan dari manna yang tersembunyi; dan Aku akan mengaruniakan kepadanya batu putih, yang di atasnya tertulis nama baru, yang tidak diketahui oleh siapapun, selain oleh yang menerimanya."  Maksudnya apa?

Kita bahas satu per satu; negatifnya lebih dulu, kalimat penghakiman. Kalau kita mau menghindari kompromi, kita harus tahu, mengapa kita melakukannya? Dan di dalam bagian penghakiman ini, Tuhan memberitahukan dasarnya, yaitu semua penyelewengan/ kompromi pada dasarnya disebabkan oleh penyembahan berhala, pemberhalaan sesuatu, menaruh sesuatu yang bukan Tuhan di tempat Tuhan. Kita melihat penghakiman yang Tuhan berikan, yaitu gambaran Kristus yang dari mulut-Nya keluar sebilah pedang bermata dua; cross reference dengan pasal 19:15 yang dikatakan bahwa Kristus memakai pedang dari mulut-Nya untuk menghajar bangsa-bangsa. Mengapa Tuhan harus memberitahukan mengenai penghakiman? Karena ini adalah cara Alkitab “bertanya” kepada jemaat di Pergamus dan juga kita: Bagimu, penghakiman siapa yang lebih real? Bagimu, penghakiman mana yang lebih tinggi? Kalau engkau selama ini menyeleweng, kompromi dengan dunia,  itu karena engkau menempatkan penghakiman dunia terhadapmu lebih tinggi daripada penghakiman Kristus terhadapmu. Hal ini resonant  dengan yang dikatakan Pdt. Billy, bahwa tidak bisa kita hanya membicarakan kasih Allah, yang tentu merelatifisasi kasih yang lain, tapi kita harus juga mebicarakan takut akan Allah yang merelatifisasi ketakutan kita akan hal-hal yang lain, akan penghakiman-penghakiman dunia misalnya. Ortodoksi punya harga yang sangat mahal. Kalau Saudara tidak sadar hal ini, kita tidak bisa jadi orang Kristen yang beres. Ada saatnya kita menghadapi situasi-situasi ketika yang dunia hakimi sebagai benar bertabrakan dengan yang Kristus hakimi sebagai benar.

Tapi, pemberhalaan bukan cuma ditemukan dalam hal-hal yang kita lemah, itu juga ada dalam hal-hal yang kita kuat. Mengapa kita bisa kompromi? Mengapa saya pilih ini dan menempatkannya di tempat Tuhan, padahal saya tahu ini bukan Tuhan? Seringkali karena kita pikir: inilah yang akan memuaskan saya, inilah siapa diri saya, dan kalau saya kehilangan hal ini, saya tidak tahu saya siapa!  Itu sebabnya saya mengejarnya, mencarinya. Kalau saya tidak punya uang, saya tidak tahu saya siapa; kalau saya tidak punya uang, orangtua saya mengatakan “kamu bukan orang”; kalau saya tidak punya istri, semua akan melihat ada yang salah pada diri saya. Ketika mengatakan hal-hal seperti itu, kita sedang mengatakan: “saya perlu ini”, dan seringkali yang kita perlu adalah hal-hal yang bukan tidak kita punyai melainkan yang justru kita punya.

Contoh yang simpel, yang saya juga alami. Ada satu periode, beberapa orang datang mengatakan kepada saya: “Kotbah kamu bagus, saya merasa terberkati; saya lebih suka kotbahmu daripada kotbah Pdt. Billy, banyak ilustrasi, dsb.” Saya sendiri basically adalah orang yang tidak terlalu peduli omongan orang lain. Ada orang yang berhala-nya adalah pengakuan orang lain, penghakiman dunia terhadap dirinya; kalau dikatakan “bagus”, merasa naik sedikit, tapi waktu dikatakan “jelek”, merasa hancur. Saya bukan seperti itu, tapi tidak berarti saya tidak punya berhala. Saya baru sadar hal ini waktu satu kali mengisi PA dan sudah mempersiapkan baik-baik karena saya selalu ingin kalau kotbah ada flow yang jelas, berakhir pada “not” yang tinggi. Saya ingin kotbah itu perfect. Tapi dalam PA kali itu waktunya tidak cukup, saya harus potong di tengah-tengah, sehingga ending-nya seperti “to be continued”. Dan yang kesal bukan pendengar, tapi saya sendiri. Lalu pulangnya saya selalu evaluasi, dengarkan kembali rekamannya, dan ternyata tidak terlalu jelek. Juga ada orang-orang yang besoknya mengatakan “kemarin itu bagus sekali”, saya bingung. Lama-lama saya mulai sadar, memang saya tidak peduli dengan omongan orang lain --itu bukan berhala saya-- tapi saya sangat memberhalakan komentar diri saya sendiri terhadap diri saya. Yang menduduki kursi penghakiman paling tinggi dalam diri saya bukanlah dunia, juga bukan Tuhan, tapi diri saya sendiri ketika bisa mengatakan “kamu sudah cukup hebat.” Itulah kompromi. Jangan pikir kompromi itu suatu hal yang jauh dari kita; kompromi justru berbahaya karena kita tidak berpikir itu sesuatu itu jahat malah sebaliknya positif. Bukankah bagus membuat kotbah yang ada flow-nya, banyak ilustrasi, dan istilah-istilah yang bagus? Orang akan senang. Dan itulah bahayanya.

Semua pemberhalaan ini tidak akan pernah memuaskan kita, baik  penghakiman dunia maupun penghakiman diri sendiri. Kita tahu ini karena dua janji Tuhan di bagian ini: “Barangsiapa menang, kepadanya akan Kuberikan manna yang tersembunyi”. Ada satu legenda, yang kemungkinan besar Tuhan Yesus sedang mengacu pada legenda ini, yaitu ketika Nebukadnezar datang menghancurkan Yerusalem, Yeremia  masuk ke Bait Allah dan mengambil manna yang di situ lalu menyembunyikannya; dan legenda Yahudi mengatakan bahwa ketika Mesias datang, manna itu akan kembali muncul. Ini hanya legenda. Tapi kita tahu satu hal, manna adalah roti surga, dan Roti Surga itu adalah Kristus. Itulah satu-satunya yang akan memuaskan kita, oleh karena itu Dia mengatakan “jangan kompromi”. Roti Surga itulah satu-satunya “roti” yang terpecah-pecah dan tercerna. Apakah pengakuan orang lain dan penghakiman dunia mau mati bagimu? Apakah pengakuan diri sendiri mau mati bagi Saudara? Apakah uang, sesama manusia, dan semua hal di dunia ini ketika kita kejar, akan rela engkau “makan dan terpecah-pecah” supaya  engkau dapat kekuatan? Hanya satu yang rela, dan sudah pernah melakukannya, Manna yang tersembunyi.

Terakhir, ada batu putih yang di atasnya tertulis nama baru, yang tidak diketahui oleh siapa pun, selain oleh yang menerimanya (ayat 17b). Bagian ini banyak intepretasi, satu yang akan saya share buat Saudara. Bagaimanapun juga, kita tahu bahwa salah satu dosa yang ditegur adalah dosa seksual; dan penyelewengan seksual lahir karena ada keinginan akan keintiman yang tidak terpenuhi. Semua orang mencari keintiman itu, dan ketika tidak mendapatkannya dari suami atau istri, maka akhirnya menyeleweng secara seksual. Janji yang diberikan di sini, kalau engkau berjuang dan menang, adalah suatu gambaran keintiman: “ada satu nama yang Tuhan berikan kepadaku  yang tidak ada orang lain tahu, hanya aku dan Dia”. Dalam Wahyu 21 ada satu metafor “Yerusalem yang baru yang berhias seperti seorang pengantin wanita berdandan bagi suaminya”; seperti ketika kita masuk ke pernikahan, begitu banyak usaha, waktu, dan uang dihabiskan bagi si pengantin wanita untuk menghias dirinya sehingga pada hari itu ia kelihatan: sempurna. Itulah gambaran kita nanti.
Mengapa Tuhan mau kita sempurna? Mengapa Dia menuntut begitu tinggi? Mengapa Dia tidak  mau kita kompromi? Karena Dia mengasihi, dan Dia yang begitu indah telah rela turun menjadi buruk rupa, supaya kita yang buruk rupa boleh diangkat menjadi indah di mata-Nya, menjadi sempurna di mata-Nya.


Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah (MS).

Gereja Reformed Injili Indonesia Kelapa Gading

 

Download Ringkasan