Makan Daging-Ku dan Minum Darah-Ku

Kita melanjutkan unit terakhir dari perikop besar tentang pembicaraan “I Am The Bread of Life” (Roti Hidup). Meskipun ada banyak penafsiran tentang bagian ini, boleh dikatakan semua ahli Perjanjian baru sepakat ayat 52-59 ini merupakan pembicaraan mengarah kepada Perjamuan Kudus; Eucharistic language par excellence. Kalau Saudara membaca versi-versi lain seperti Lukas dan Surat Korintus, Saudara mendapati perkataan-perkataan yang berbeda, tapi bahasa Perjamuan Kudus yang mungkin paling mendekati atau paling representatif, diambil dari bagian ini. Ini memang ada kaitan dengan peristiwa Yesus memberi makan 5000 orang yang juga pakai Eucharistic language; dan dari penjelasan di ayat 52-59, kita mengerti yang dibahas di sini --sebagaimana semacam konsensus dari para komentator-- tentang Perjamuan Kudus (meski bukan berarti 100% hanya bicara Perjamuan Kudus).

Ayat 52 Orang-orang Yahudi bertengkar antara sesama mereka dan berkata: "Bagaimana Ia ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan."  Di sini Yohanes memberikan satu paralel yang sangat meyakinkan dengan peristiwa yang terjadi di padang gurun, yaitu orang-orang Yahudi bertengkar antara sesamanya. Di zaman Musa itu, mereka bukan cuma bersungut-sungut tapi juga bertengkar. Ini satu langkah yang lebih dalam lagi; dari keadaan yang tidak bisa percaya pemeliharaan Tuhan, lalu bersungut-sungut karena tidak puas, tidak bisa bersyukur, kemudian masuk ke dalam kemarahan/ bertengkar (strove/fight). Di sini mereka jadi jengkel sekali, marah kepada Yesus. Jadi, dari ketidak-percayaan, kemudian bersungut-sungut/ grumbling, dan akhirnya masuk ke dalam pertengkaran.
Dalam kehidupan kita, ada konflik yang tidak bisa dihindari, yaitu waktu kita tetap percaya kepada kebenaran ataukah kita merelativisasi kebenaran. Ada satu artikel, di Singapur ada kasus 2 pengkotbah Kristen yang tidak boleh masuk dengan alasan  menyinggung agama lain. Saya hanya membaca berdasarkan artikel itu, dan berkesimpulan bahwa yang dikatakan pengkotbah itu sebenarnya merefleksikan identitas Kekristenan; pertanyaannya, dia bicara di mana, di gereja atau di public square, kalau di public square tentu bisa jadi masalah waktu kita memberikan pernyataan tentang kepercayaan lain. Tapi hal ini memang makin lama makin sulit, sehingga sekarang ini ada “dewa” baru yang namanya “religious harmony”, yaitu dewa “tidak boleh menyinggung perasaan orang lain”. Kadang-kadang dalam kehidupan ada pertengkaran yang tidak bisa dihindari. Kalau Saudara baca bagian Yohanes ini dan bandingkan dengan bagian lain, waktu orang-orang Yahudi bersungut-sungut  di ayat 41 dan 42, di ayat 43 Yesus berkata kepada mereka: “Jangan kamu bersungut-sungut”. Kemudian waktu di ayat 52 orang-orang Yahudi bertengkar  "bagaimana Ia ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan", apakah Yesus menjawab “jangan kamu bertengkar, hidup rukun-rukun saja; kamu tidak percaya Saya tidak apa-apa yang penting religious harmony”? Tidak. Apakah ini berarti Yesus bilang “bertengkarlah sekalian”? Memang tidak; tapi betul seperti yang dikatakan, bahwa Yesus datang memang bukan membawa damai. Waktu berkaitan dengan komitmen seseorang terhadap kebenaran, memang betul Yesus datang tidak membawa damai tapi membawa pertengkaran. Ada pertengkaran yang perlu, yang kudus. Pendeta Stephen Tong pernah mengatakan, “Waktu Injil diberitakan, itu mengkutubkan orang jadi dua, orang yang percaya dan yang tidak percaya”. Bagian ini tidak bisa dihindari. Maka di bagian ini kita membaca bahwa mereka memang bertengkar --tidak dijelaskan antara siapa dengan siapa-- agaknya banyak orang yang kesulitan dengan kalimat Yesus yang seolah mengajarkan kanibalisme.

Istilah “daging” di dalam bagian ini bukanlah untuk dimengerti dalam pengertian daging yang dimakan secara fisik, apalagi ditafsir secara pandangan Transubstansiasi menurut Roma Katholik --roti berubah jadi daging Kristus--sehingga seperti membenarkan ajaran kanibalisme. Yohanes memakai istilah “daging” secara berbeda dari Paulus. Dalam tulisan Paulus, “daging” bicara tentang sifat kedagingan/ sinful desire, tapi Yohanes pakai istilah “daging” bukan dalam pengertian itu (oleh karena itu, waktu kita membaca suatu kitab, harap kita mengerti profil teologi kitab tersebut dan jangan menindasnya dengan profil teologi kitab yang lain; itu pembacaan firman yang tidak bertanggung-jawab). Pengertian “daging” menurut profil teologi Yohanes sangat berkaitan dengan pasal 1, yaitu firman yang menjadi daging, jadi mengacu kepada Christ incarnation (inkarnasi Kristus). Istilah “daging” dikaitkan juga dengan Christ's sacrificial death (kematian Kristus yang mengorbankan tubuh-Nya). Keduanya itu ada dalam spektrum konotasi “daging” dalam Injil Yohanes; “roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia” maksudnya Yesus mengorbankan tubuh-Nya untuk memberikan hidup bagi dunia.Tapi orang Yahudi di sini bertengkar; mereka kesulitan --bagaimana Ia ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan-- akhirnya mereka tidak mengerti.

Namun yang lebih perlu kita belajar dalam bagian ini adalah perkataan Tuhan Yesus, khususnya untuk mengerti Perjamuan Kudus menurut perspektif ini. Bagian ini menjadi kesempatan untuk kita sekali lagi mengoreksi pandangan tentang Perjamuan Kudus. Dalam gereja Protestan --apalagi gereja Reformed-- kita jelas tidak menganut pandangan transubstansiasi; tapi yang mungkin kita tidak terlalu jelas adalah bahwa kita tidak seharusnya menganut pandangan Zwingli yang memandang Perjamuan Kudus sekedar lambang/ simbol, dan penekanannya terhadap iman kita hanyalah sekedar mengingat saja. Kita musti belajar dari ayat-ayat yang diajarkan Yohanes, dan dalam hal ini kita bisa belajar dari seorang reformator, John Calvin, yang mengajarkan --menurut saya-- lebih tepat sesuai firman Tuhan daripada yang diajarkan Zwingli.

Mengapa ajaran Zwingli, Perjamuan Kudus sebagai simbol belaka, begitu populer? Karena ini suatu reaksi frontal terhadap transubstansiasi yang mengajarkan bahwa roti itu berubah menjadi tubuh/ daging Kristus. Zwingli kuatir kalau diajarkan seperti itu, akan terjadi penyembahan berhala; roti yang sebetulnya benda mati jadi dianggap tubuh Krsitus lalu kita memuja roti itu. Dalam hal ini kita share kekuatiran yang sama dengan Zwingli, hanya saja, Zwingli membedakan dengan tajam antara roti dan tubuh Kristus, sampai akhirnya --mungkin tanpa sadar--  memisahkan. Di sini kita tidak bisa lagi mengikuti Zwingli; setidaknya tendensi tersebut bukan tendensi yang bisa diterima, karena “tanda” harusnya membawa kita kepada realita yang dituju oleh tanda, bukan memisahkan kita dari realita yang dituju oleh tanda.

Tapi pandangan Zwingli ini sangat populer, bahkan orang-orang Reformed yang sangat diberkati Tuhan seperti Charles Hodge dari Old Princeton School (pendahulunya Wetsminster) berpendapat bahwa dalam hal Perjamuan Kudus otoritas tertinggi bukan Calvin tapi Zwingli. Di zaman Charles Hodge itu ada satu teolog Jerman yang tinggal di Amerika, yang mengeksplorasi tulisan tentang Perjamuan Kudus menurut perspektif Calvin tentang mystical presence, dsb. Waktu membaca tulisan itu, Charles Hodge kaget sekali, ini pandangan yang tidak bisa diterima menurut dia karena terlalu dekat dengan Roma Katholik. Memang Calvin teolog ekumenis, banyak pemikirannya yang dekat sekali dengan Roma Katholik, yang tanpa kita tahu banyak sekali kemiripan dan sudah sangat establish  (sekarang scholarship yang belakangan banyak sekali menyoroti kedekatan Thomas Aquinas dengan Calvin, dsb.). Saya sendiri ikut mengeksplorasi bagian itu supaya kita tidak berada di dalam ketegangan yang tidak perlu. Kalaupun musti  polemik, itu karena ada bagian yang kita tidak bisa setuju dan kita musti setia kepada firman Tuhan; tapi adakalanya juga ada bagian yang mungkin kita salah mengerti pikiran mereka. Charles Hodge akhirnya mengambil kesimpulan tentang Perjamuan Kudus, yaitu tidak bisa terima perkataannya Calvin tapi mengikuti Zwingli, dan karena itu --salah satunya-- pandangan low sacramentalism makin lama makin berkembang dalam Gereja Reformed, yaitu pengertian Perjamuan Kudus yang cuma sekedar lambang saja.

Waktu memimpin Perjamuan Kudus, saya seringkali mengutip perkataan Paulus “roti yang kita makan adalah persekutuan dengan tubuh Kristus, cawan yang kita minum adalah persekutuan dengan darah Kristus”. Paulus tidak mengatakan “roti yang kita makan adalah persekutuan dengan roti”, Paulus juga tidak mengatakan “cawan yang kamu minum adalah anggur biasa yang adalah anggur saja, dan kamu sedang bersekutu dengan anggur”. Yang Paulus katakan adalah waktu kamu makan roti itu kamu bersekutu dengan tubuh Kristus, waktu minum cawan itu kamu bersekutu dengan darah Kristus; ada kaitan antara roti dan tubuh, antara anggur dan darah. Yohanes lebih jelas lagi, dikatakan di ayat 53 Yesus menjawab mereka: “... sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu”.

Memang dalam doktrin Reformed kita mengajarkan bahwa ini adalah spiritual eating dan spiritual drinking, namun tetap real eating dan real drinking; bukan karena spiritual maka jadi tidak riil. Waktu Perjamuan Kudus, kita sungguh-sungguh memakan daging dan meminum darah Kristus in a spiritual manner; tapi bukan lalu jadi simbolik tidak ada fakta/ kenyataannya. Teologi Zwingli seperti ada kecenderungan ke sana, karena suatu ketakutan. Kita tidak bisa berteologi dengan berangkat dari paranoia. Paranoia itu diakibatkan dari teror; lalu kalau Saudara berteologi di dalam konteks kena teror, itu tidak Alkitabiah. Di dalam kasih tidak ada ketakutan. Kita mau mengembangkan teologi yang driven by love, bukan driven by fear. Kita bukan orang-orang yang diteror, kita ini seharusnya orang-orang yang dipenuhi cinta kasih, dan mari kita berteologi dari kasih, bukan dari ketakutan/ paranoia karena itu bukan berteologi dengan benar. Yesus tidak pernah mengajarkan “takutlah, setelah itu renungkanlah firman Tuhan dan tulis buku teologi”. Bahaya sekali kalau orang ketakutan lalu mengembangkan buku teologi. Kita membangun teologi dari konsep yang ada dalam firman Tuhan, karena kasih, bukan karena ketakutan. Maka teologi yang berkembang dari ketakutan, sama sekali tidak menjanjikan dan akan menyesatkan kita.

Waktu Yesus mengatakan kalimat ayat 53 tadi, maksudnya spiritual manner. Ilustrasi sederhana: Allah itu dikatakan adalah Roh, tidak ada fisik; tapi apakah karena Dia Roh lalu Dia jadi tidak riil? Tidak. Begitu juga malaikat itu roh, tidak ada badannya; tapi kalau karena itu malaikat jadi tidak riil, ini pemikiran yang tidak bisa diterima. Demikian juga waktu dikatakan kita makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya --in a spiritual matter-- apakah ini makan sungguhan atau tidak? Kalau Saudara jawab “tidak”, berarti Saudara tidak percaya dunia roh; itu pandangan naturalis. Oleh karena itu, Calvin dalam tulisan pertamanya tentang Perjamuan Kudus, “Short Treatise on the Holy Supper of our Lord Jesus Christ” (traktat kecil tentang Perjamuan Kudus), mengatakan bahwa waktu kita Perjamuan Kudus, kita betul-betul partake of the substance of the blood and body of Christ. Istilah ‘substansi’ di sini, menyatakan bahwa kalau kita berbagian di dalam Perjamuan Kudus, itu berarti kita memang berbagian di dalam tubuh dan darah Kristus, betul-betul makan dan minum tubuh dan darah Kristus. Bagian ini mungkin termasuk bagian yang Saudara sulit terima kalau terbiasa dengan tradisi Reformed Zwinglian. Tapi apakah bisa saya mengatakan Tuhan yang di surga itu cuma simbol? Itu tentu penghujatan. Kemudian kalau kita makan roti dan anggur dalam Perjamuan Kudus lalu mengatakan cuma simbol, apakah Saudara tidak merasa aneh? Itu sama dengan mengatakan Tuhan cuma simbol, surga simbol, persekutuan orang percaya simbol, semua simbol saja --lambang yang tidak ada realitanya karena cuma simbol saja. Itu bukan pandangan Alkitabiah.

Yesus mengatakan: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu”; supaya kita mempunyai hidup dalam diri kita, kita musti makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, dan ini terjadi dalam Perjamuan Kudus. Contoh sederhana: dalam kehidupan sehari-hari, physical realm, Saudara makan dan minum; kalau Saudara tidak makan dan minum, Saudara mati. Saudara juga punya spiritual realm, maka bisakah dalam spiritual realm ini Saudara tidak makan dan tidak minum namun tetap hidup? Kalau Saudara jawab “iya, karena ini dunia rohani”, berarti Saudara dis-integrasi antara kehidupan fisik dan kehidupan rohani. Yohanes justru mengaitkan kedua hal ini, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan. Sama seperti di dalam kehidupan sehari-hari kita perlu makan dan minum untuk menopang  kehidupan fisik kita, demikian juga dalam kehidupan rohani kita perlu makanan rohani dan minuman rohani, spiritual eating and spiritual drinking untuk menopang kehidupan rohani kita; dan itu melalui Perjamuan Kudus. Ini bahasa Perjamuan Kudus. Oleh sebab itu waktu orang kena disiplin tidak boleh ikut Perjamuan Kudus, ini adalah masalah besar karena seperti tidak diberi makan secara fisik berhari-hari. Tapi ada orang Kristen yang dengan enteng berpikir ‘saya tidak ikut Perjamuan Kudus tidak apa-apa, memang saya lagi kerja, lagi lembur, dsb. nanti bisa ikut lain kali’.

Yohanes menekankan dunia yang kelihatan supaya kita bisa mengerti realita dunia yang tidak kelihatan; bahwa yang kelihatan itu tidak sama dengan yang tidak kelihatan. Hal ini jelas. Kita, orang Reformed, juga sangat jelas mengerti bahwa roti dan anggur itu bukan tubuh dan darah Kristus. Tapi sebagaimana Katekismus Heidelberg mengajarkan, ini jembatan antara dunia yang kelihatan untuk kita masuk ke dalam dunia yang tidak kelihatan.

Yesus mengatakan “jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu”, inilah Perjamuan Kudus. Istilah ‘sola fide’ bukanlah tanpa partisipasi di dalam Perjamuan Kudus. Saudara jangan mengerti sola fide --‘saya diselamatkan karena iman’-- lalu hidup sembarangan tidak peduli hal-hal rohani, tetap hidup di dalam dosa. Itu pasti bukan iman yang sejati, melainkan iman yang menyesatkan. Joseph Ratzinger (Paus Benedict XVI) pernah mengatakan kalimat  seperti ini (dan saya setuju): “Luther betul waktu dia mengatakan ‘sola fide’ ketika sola fide  itu dikontraskan dengan perbuatan; tapi sola fide jadi tidak benar kalau dikontraskan dengan kasih”  (memang Luther tidak pernah mengajar seperti ini, tapi di sini kita bicara tentang resepsi sola fide yang benar). Sola Fide --soli by faith/ through faith alone-- itu betul kalau dikontraskan dengan perbuatan, karena kita memang diselamatkan hanya karena iman, bukan karena perbuatan kita. Tapi sola fide jadi keliru kalau dimengerti ‘iman saja, tanpa kasih juga tidak apa-apa’; ini bukan Alkitab. Dalam 1 Korintus 13 --iman, pengharapan, dan kasih-- Paulus bahkan mengatakan yang terbesar adalah kasih. Iman Kristen itu completed by Christian love; kasih menyempurnakan iman, tidak berhenti pada iman saja --ini Agustinian yang mengikuti Paulus. Waktu kita mengatakan “sola fide” --iman saja-- tapi kita tidak membiarkan iman itu bekerja dalam kehidupan kita menciptakan cinta kasih yang semakin dalam dan semakin dalam, itu bukan iman yang sejati, itu iman palsu, iman yang tidak riil. Iman yang sejati membawa orang semakin mencintai Tuhan dan mencintai sesama.

Demikian juga sama waktu kita terapkan dalam Perjamuan Kudus. Kita bukan diselamatkan karena ikut Perjamuan Kudus; kita diselamatkan karena tubuh dan darah Kristus. Ini jelas. Tapi tubuh dan darah Kristus itu kita memakan dan meminumnya secara rohani di dalam Perjamuan Kudus, menurut ajaran firman Tuhan, dan dirayakan demikian oleh Gereja mula-mula. Mereka mengakui di dalam Perjamuan Kudus truly spiritual eating and spiritual drinking.

Waktu kita makan secara rohani dan minum secara rohani --bukan secara fisik-- kita mengatakan bahwa itu betul-betul makan dan betul-betul minum tubuh dan darah Kristus, seperti diajarkan Yoh 6 ini karena Yesus mengatakan: “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman” (ayat 54). Dalam perikop sebelumnya Yesus sendiri mengatakan “barangsiapa makan roti yang dari surga --roti hidup-- maka ia tidak akan lapar lagi, tidak akan haus lagi” (ayat 35). Kalimat ini tentunya harus dimengerti secara rohani. Waktu Saudara ikut Perjamuan Kudus, Saudara makan roti minum anggur yang berarti makan tubuh minum darah Kristus; pertanyaannya: setelah itu lapar lagi tidak secara fisik? Tentu lapar lagi. Mengapa Yesus mengatakan “ia tidak akan lapar lagi, tidak akan haus lagi”? Karena perkataan Yesus itu harus dimengerti secara spiritual; kalau dimengerti secara fisik --sebagaimana yang dimengerti orang Yahudi-- berarti Yesus bohong karena nyatanya lapar lagi haus lagi. Orang yang tidak punya  spiritual appetite, dia tidak akan mengerti kalimat ini karena bagi dia ini perkataan omong kosong, baginya yang riil adalah yang kelihatan. Oleh sebab itu, mereka yang hidup dalam kedagingan (kedagingan menurut Paulus), hidup dalam dosa, dalam kegelapan, tidak bisa mengerti artinya ‘tidak lapar lagi, tidak haus lagi’ karena kalimat ini harusnya dimengerti secara spiritual.

Hal yang persis sama --karena ini satu kesatuan-- waktu Yesus mengatakan “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman”, ini pengertian spiritual bukan fisikal. Yesus bicara dari hal fisik masuk ke dalam hal rohani. Waktu kita Perjamuan Kudus, menurut ayat ini, kita sungguh-sungguh makan daging Kristus dan minum darah-Nya. Saudara tidak perlu terkejut pengajaran ini keluar dari mimbar Reformed; kita belajar dari Yohanes melalui Yohanes Calvin. Tapi kalau Saudara penganut Zwinglian, Saudara akan sulit mengerti kalimat ini. Adalah lebih sulit kalau Saudara menganut pengertian simbolis/ lambang, karena bagaimana tafsiran simbolis bisa menjelaskan ayat 55 “Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman” ? Buntu. Oleh karena itu, tafsiran simbolis saja --tafsiran yang melihat roti dan anggur cuma sekedar lambang saja-- adalah tafsiran yang tidak setia dengan Alkitab, tidak setia dengan Injil Yohanes.

Apa artinya “daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman” ? Ada yang menafsir transubstansiasi, waktu Perjamuan Kudus roti itu betul-betul berubah jadi daging Kristus dan anggur betul-betul berubah jadi darah Kristus. Kalau seperti ini, artinya kembali lagi ke tafsiran fisikal. Kita bisa mengerti mengapaThe Great Thomas Aquinas menjelaskan seperti itu; intinya, di sini ada perbedaan paradigma. Yang satu menjelaskan Perjamuan Kudus di dalam bahasa Aristotelian ala Thomas Aquinas --dan to certain extent Luther juga share dalam paradigma ini, dia dididik dalam aliran Via Moderna-- pembicaraan tersebut namanya aliran Nominalisme. Sedangkan orang-orang seperti Calvin dan Zwingli dididik dalam aliran Via Antiqua yang dekat sekali dengan ajaran Realisme, yang dekat sekali dengan pembahasaan/ vocabulary Platonis. Jadi memang tidak ketemu; ini pembicaraan di dalam konteks filsafat yang sama-sama relatif. Tapi kalau kita mau kembali ke Alkitab, kita tidak bisa menjelaskan kalimat “daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman” ini berdasarkan tafsiran fisik --entah penjelasannya Platonik ataupun Aristotelian kita kesampingkan hal itu-- karena kenyataannya kita lapar lagi dan haus lagi. Maka itu berarti kita musti mengerti kalimat ini di dalam pengertian rohani, tidak peduli Calvin atau Zwingli mengajarkan itu atau tidak. Dan yang rohani itu riil; bukan karena hal itu rohani/ ada dalam dunia yang tidak kelihatan maka jadi kurang riil. Mengatakan bahwa yang lebih riil itu yang di dalam dunia kelihatan dan yang di dalam dunia tidak kelihatan tidak riil, adalah pandangan yang sesat. Paling sedikit, yang di dalam dunia rohani itu sama-sama riil seperti yang dalam dunia yang kelihatan.
Yesus mengatakan ““daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman”. Ada satu commentary yang bisa membantu menjelaskan, waktu di sini dipakai istilah ‘real’ (‘benar-benar’ dalam bahasa Indonesia; ‘alethes’ dalam bahasa Yunani) penjelasannya begini: “ ‘Real’ denotes really are what flesh and blood should be, in fulfilling the ideal function of food and drink in giving eternal life” , bahwa kata ‘benar-benar’ ini menyatakan apa adanya/ sesungguhnya daging dan darah, termasuk juga fungsinya, yaitu di dalam memenuhi/ menggenapkan fungsi yang ideal dari makanan dan minuman, yaitu memberikan kehidupan --dalam hal ini kehidupan kekal-- karena Yesus itu roti hidup. Sama seperti dalam kehidupan fisik kita ditopang oleh makanan dan minuman supaya kita bisa hidup secara fisik, demikian juga di dalam kehidupan rohani kita perlu ditopang  oleh makanan dan minuman rohani, supaya kita bisa hidup secara rohani. Apakah makanan dan minuman rohani itu? Yaitu tubuh dan darah Kristus. Bagaimana kita menikmati makanan rohani yang adalah tubuh dan darah Kristus? Yaitu melalui makan rohani dan minum rohani di dalam Perjamuan Kudus.

Kalau Saudara low view terhadap Perjamuan Kudus, tidak merasa apa-apa terhadap Perjamuan Kudus, saya kuatir spiritual hunger and spiritual appetite Saudara sudah mati. Saya tidak tahu apakah ada orang yang tidak punya rasa lapar fisik, tapi kalau hal ini terjadi dalam hal spiritual, alangkah bahayanya. Inilah orang yang sebetulnya di dalam keadaan kelaparan dan kehausan rohani tapi dia tidak sadar dirinya tidak mendapat makan, karena baginya dunia yang ini tidak riil, yang riil adalah dunia yang kelihatan. Istilah yang dipakai Yesus untuk menggambarkan orang-orang seperti ini adalah “orang-orang yang tidak percaya”. Mereka tidak pernah ada kepekaan waktu lapar rohani tidak dikasih makan. Nothing missing menurut mereka; ikut Perjamuan Kudus atau tidak ikut Perjamuan Kudus bagi mereka sama saja, mungkin yang penting ‘saya bisa mengenang penderitaan Kristus’. Ini gambaran yang abstrak.

Mengenang penderitaan Kristus bukan satu-satunya yang terjadi dalam Perjamuan Kudus. Ini against Zwingli yang mereduksi Perjamuan Kudus jadi cuma pengenangan. Memang kita mengenang penderitaan Kristus waktu Perjamuan Kudus, tapi itu bukan satu-satunya yang terjadi; Alkitab mengajarkan --melalui Yohanes-- kita truly makan daging Kristus dan minum darah-Nya. Kalau Saudara sedang diam-diam di rumah --di toilet (maaf)-- lalu Saudara merenungkan penderitaan Kristus, itu Saudara tidak sedang makan tubuh dan minum darah Kristus. Seandainya itu sama saja, maka apa poinnya kita mengadakan Perjamuan Kudus karena Saudara bisa mengingat di mana saja. Contoh yang lebih halus, kalau Saudara saat teduh, tentu Saudara juga bisa secara pribadi merenungkan penderitaan Kristus yang mati bagiku, tapi itu tidak bicara soal makan daging dan minum darah Kristus. Seandainya perenungan dalam saat teduh juga berarti makan daging dan minum darah Kristus, ya, kita tidak perlu Perjamuan Kudus. Tapi itu konsep  sesat, bukan ajaran Alkitab. Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa kita melakukannya terutama di dalam Perjamuan Kudus, kita betul-betul makan in a spiritual manner, in a spiritual way, karena kita punya dimensi spiritual.
Orang yang excluded dari Perjamuan Kudus, dia tidak makan dan tidak minum tubuh dan darah Kristus, menurut Yoh 6. Dia membahayakan dirinya sendiri, mati kelaparan secara rohani, karena tidak mau berbagian di dalam tubuh dan darah Kristus. Ini persoalan serius sekali. Oleh sebab itu waktu di zaman Roma Katholik Martin Luther di-ekskomunikasi, itu urusan kebinasaan spiritual sebenarnya (tapi kita tahu konsep mereka tentang eklesiologi salah; orang bukan diselamatkan karena belong to the Roman Catholic Church melainkan belong to Christ, karena dia partisipasi di dalam tubuh dan darah-Nya). Tapi sekarang berkembang konsep Perjamuan Kudus ala Protestan yang sangat low, yang akhirnya  tidak ada kaitan sama sekali dengan truly eating dan truly drinking, padahal Yesus --bukan Calvin atau saya-- mengatakan: “daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman” (ayat 55).

Ayat 56 “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia”. Dalam hal ini Paulus memakai istilah koinonia (orang Injili pakai istilah fellowship/ persekutuan; orang Roma Katholik pakai istilah communion). Ada dimensi persekutuan di dalam Perjamuan Kudus. Waktu kita Perjamuan Kudus, kita musti mengakui tubuh Tuhan, artinya bukan cuma percaya Yesus Juruselamat pribadi tapi termasuk juga hidup dalam rekonsiliasi dengan saudara-saudara seiman di dalam Kristus. Kalau Saudara di dalam konflik lalu ikut Perjamuan Kudus, Yesus mengajar dalam kotbah di bukit untuk membereskan dulu dengan baru beribadah. Waktu Saudara tidak berdamai dengan saudara-saudara seiman, beribadah pun itu di hadapan Tuhan nol besar, kosong, tidak sampai kepada Tuhan. Hal ini sudah diantisipasi sedini kitab Kejadian; mengapa Kain akhirnya ditolak oleh Tuhan? Problemnya adalah problem brotherhood; ini sangat serius menurut Alkitab. Kalau kita tidak bisa berdamai dengan saudara-saudara seiman di dalam Kristus, mengapa Tuhan harus menerima persembahan kita?? Memang kitab Kejadian ada bagian-bagian yang tersembunyi yang kita tidak pahami, tapi yang selalu jadi pertanyaan adalah ‘mengapa ya, Kain ditolak persembahannya; apakah Tuhan itu mau-maunya sendiri atas nama kedaulatan Allah?’ (dalam hal ini ajaran kedaulatan Tuhan yang luar biasa ngawur dan sangat menyesatkan).  Sebenarnya kitab Kejadian mau bicara apa dengan korban dari Kain yang tidak diterima? Yang kita baca setelah itu, ternyata Kain tidak bisa akur dengan Habel. Itulah problem yang ada di sana. Dan Yesus mengafirmasi bagian ini waktu Dia mengatakan “kalau kamu ada  problem dengan saudaramu, berdamai dulu dengan dia baru datang kepada-Ku”. Kita seringkali mendengar kalimat yang menyatakan bahwa kita tidak bisa mengasihi orang, kalau hubungan kita secara vertikal dengan Tuhan tidak beres. Ini memang kalimat yang sangat Alkitabiah. Tapi sebaliknya juga betul, kalau kita tidak mengasihi saudara kita --relasi horisontal-- bagaimana membangun relasi vertikal dengan Allah yang tidak kelihatan?? Kalau kita tidak bisa menghampiri, berdamai, dengan saudara yang kelihatan, lalu Saudara menghampiri Yesus, pertanyaannya: itu Yesus yang mana??

Yesus yang cuma kepala tidak ada tubuh-Nya?? Yesus yang diajarkan Alkitab ada kepala dan tubuh; tubuh-Nya adalah Saudara dan saya. Yesus yang cuma kepala tidak ada tubuh, itu Yesus yang tidak pernah menebus manusia, yang tidak juga menjadikan orang percaya menjadi anggota tubuh-Nya, bukan Yesus Alkitab. Waktu dalam perjamuan Kudus kita mengingat Kristus, itu Kristus yang kepala dan tubuh-Nya. Itu sebabnya Saudara tidak bisa Perjamuan Kudus personal. Memang ada perkecualian ketika orang sakit tidak bisa datang ke gereja, tapi tetap ada baiknya kalau yang lain juga ikut makan dan minum sehingga tetap ada persekutuan. Makan minum sendiri, sebenarnya by definition bukan Perjamuan Kudus, karena tidak ada persekutuan/ communion/ fellowship.

Dalam caranya memang ada banyak praktek yang masing-masing punya keindahannya sendiri. Ada yang minum dari satu cawan, tapi ada yang cawannya sudah dibagi-bagi. Kalau minum dari satu cawan memang lebih terasa dimensi satu tubuh Kristus, termasuk dengan orang-orang yang sebenarnya kita tidak mau bersekutu dengannya karena ‘ini kayaknya bukan tubuh Kristus deh, temperamennya beda dengan saya, dsb.’ Kita hidup dalam communion yang campur aduk tidak karuan, tapi semuanya ini dipersatukan di dalam Kristus, lalu kita musti belajar berdamai dengan mereka. Inilah artinya mengakui tubuh Tuhan, satu aspek yang lain. Bukan cuma percaya Yesus Juruselamat pribadiku --memang itu juga mengakui tubuh Tuhan, dan sangat penting-- tapi hati-hati dengan reduksi Evangelical seperti ini, tidak peduli dengan gereja lain cuma peduli gereja sendiri, lalu kita tetap ikut Perjamuan Kudus. Itu artinya sambil tidak mengakui tubuh Tuhan, sambil ikut Perjamuan Kudus. Alangkah celakanya. Saudara dan saya tidak kebal dengan hal ini.

Hati-hati Perjamuan Kudus dengan tidak mengakui tubuh Tuhan. Di dalam pengertian iniTuhan itu sabar terhadap kita; orang Korintus ada yang sakit, ada yang mati, tapi kita tidak sakit apalagi mati karena Perjamuan Kudus. Mengapa Tuhan sabar? Kalau menurut prinsip Alkitab, Tuhan sabar karena Tuhan menunggu kita supaya kita bertobat. Kita ini in progress mengenal Tuhan, dan Tuhan sabar dengan progress kita mengenal firman Tuhan, tapi jangan take it for granted kesabaran Tuhan karena kesabaran Tuhan bukan berarti sabar selama-lamanya. Kesabaran Tuhan ada kairosnya, ada momennya, dan ada akhirnya; kalau kita terus tidak menghargai kesabaran Tuhan, suatu saat kita tidak diberi lagi kesempatan bertobat. Petrus menyesal, Yudas juga menyesal; sama-sama menyesal, tapi Yudas tidak diberikan anugerah lagi untuk bertobat, Petrus masih diberikan kesempatan; ini kedaulatan Tuhan. Dalam cerita “Lazarus dan Orang Kaya”, waktu di neraka orang kaya itu juga menyesal --semacam penyesalan-- tapi tidak ada anugerah Tuhan, tidak ada kesempatan lagi untuk bertobat. Oleh karena itu, jangan anggap sepi kesabaran Tuhan. Waktu kita kurang bisa menghargai Perjamuan Kudus, jangan anggap Tuhan akan sabar terus karena ‘sudah terbukti’ bertahun-tahun Dia sabar.
Marilah kita belajar menghayati Perjamuan Kudus seperti diajarkan Alkitab. Yesus mengatakan “barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia”. Ini bahasa perichoretic, seperti Anak di dalam Bapa, demikian juga kita di dalam Kristus dan Kristus di dalam kita, yaitu melalui tanda yang kelihatan, roti dan anggur. Roti dan anggur ini menunjuk kepada tubuh dan darah Kristus, lalu kita makan, roti dan anggur yang kelihatan itu menjadi satu dengan kita, kita juga menjadi satu dengannya. Sekarang kita buat “jembatan” ke spiritual realm: tubuh dan darah Kristus itu Saudara makan dan minum secara rohani, berarti tubuh dan darah Kristus itu di dalam kita, dan kita juga di dalam Dia. Persis seperti yang dikatakan di sini “barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia”, Saudara menjadi satu kesatuan organis, kesatuan mistik yang tidak terpisahkan, dengan tubuh dan darah Kristus.

Dalam Perjanjian Lama, darah dipercaya sebagaimana “darah adalah nyawa”, maka waktu darahnya mengalir berarti mati, nyawanya jadi tidak ada lagi. Dalam bahasa Inggris, ‘nyawa’ dipakai istilah ‘soul’; soul, jiwa, nyawa, sangat berkaitan. Waktu Yesus mengatakan kepada kita “barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku”, berarti dengan makan daging dan minum darah Kristus, kita mendapat kehidupan/ nyawa. Tanpa daging dan darah Kristus, kita tidak ada kehidupan rohani meski kita ada kehidupan biologis.

Ayat 57 “Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku”. Yesus pun bergantung sepenuhnya kepada Bapa. Bapa yang mengutus Anak, Anak ini hidup oleh Bapa. Perhatikan, Anak hidup bergantung sepenuhnya kepada/ oleh Bapa, lalu kita bergantung sepenuhnya kepada/ oleh Kristus. Dengan cara bagaimana? Dengan memakan Kristus menurut ayat ini, “demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku” Waktu kita Perjamuan Kudus, kita memakan Kristus. Kalau Saudara sulit mendengar kalimat ini, Saudara perlu koreksi paham Naturalisme-mu karena bagi Saudara dunia spiritual kurang riil. Hal ini dimengerti di dalam pengertian rohani, bukan pengertian jasmani. Kalau kita mengerti secara pengertian jasmani, akan menimbulkan banyak ekses. Orang-orang yang high-sacramentalis tidak bisa membedakan yang spiritual dan fisikal, akhirnya jadi penghayatan yang tidak karuan. Di sini maksudnya pengertian spiritual, bukan soal bagaimana cara makannya tapi bicara tentang sikap hati. Dalam hal ini Zwingli ada benarnya mengatakan bahwa yang penting penghayatan kita secara pribadi. Tapi kita tidak setuju dengan Zwingli, ketika kita mengatakan betul-betul makan dan minum tubuh dan darah Kristus.

Ayat 58 “Inilah roti yang telah turun dari sorga, bukan roti seperti yang dimakan nenek moyangmu dan mereka telah mati. Barangsiapa makan roti ini --yaitu Yesus yang adalah Roti Hidup-- ia akan hidup selama-lamanya." Ini bicara bahwa tetap ada pembedaan; Yesus adalah Roti Hidup, bukan roti fisik itu. Roti yang Saudara makan dalam Perjamuan Kudus akan membuat Saudara lapar lagi, kenyang pun tidak; sedangkan Yesus menjanjikan kalau kita memakan tubuh dan minum darah Kristus, kita tidak akan lapar dan haus lagi. Jadi berarti ini dalam pengertian rohani.

Akhirnya, waktu kita Perjamuan Kudus, marilah kita menghayati dengan benar. Ini tanda, roti dan anggur, kita mengecap dengan lidah secara fisik, tapi firman Tuhan mengatakan “Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya Tuhan itu”. Saudara mengecap roti dan anggur secara fisik, tapi dibawa mengecap the goodness of God. Sebaliknya, waktu kita mengecap dunia yang tidak kelihatan, bukanlah tanpa mengecap yang fisik. Waktu Saudara mengecap yang fisik, Saudara menegcap yang rohani; tapi mengecap yang rohani, bukan berarti tanpa mengecap yang fisik, karena kita bukan penganut Platonis, kita penganut Yesus, Logos yang berinkarnasi menjadi daging. Kenikmatan yang diberikan Tuhan itu both spiritual and physical, bukan spiritual without physical, dan juga bukan physical without spiritual.

Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah (MS)

Gereja Reformed Injili Indonesia Kelapa Gading

Download Ringkasan