Doa Hana

Kita akan memulai satu seri mengenai Daud karena kalau kita mau mengerti mengenai Kristus, kita harus mengerti mengenai Daud. Dalam narasi yang berhubungan dengan Kristus, hampir selalu Daud ada di latar belakangnya; waktu Yesus lahir, malaikat mengatakan “hari ini telah lahir bagimu Juruselamat di kota Daud”. Jadi kita akan mempelajari kehidupan Daud dari beberapa bagian 1 dan 2 Samuel yang berhubungan dengan dia, yang sebenarnya bukan dimulai dengan kisah Daud sendiri. Kedua kitab ini tentu saja kitabnya Samuel, tapi sering dikatakan sebagai kitabnya Daud karena ceritanya berakhir dengan kematian Daud (kisah tentang kematian Samuel sendiri hanya sampai di1 Samuel), maka waktu bagian awal menceritakan kelahiran Samuel, sebenarnya bukan bicara mengenai Samuel melainkan mengantisipasi Daud yang akan datang tersebut.

Kita mulai dengan cerita pertama, yaitu tentang Hana, ibu Samuel. Di bagian ini, kata “gusar” dalam pasal 1: 6 (Tetapi madunya selalu menyakiti hatinya supaya ia gusar, karena TUHAN telah menutup kandungannya), bahasa aslinya adalah raam yang artinya mengguntur, kata yang persis sama yang dipakai di pasal 2:10 (Orang yang berbantah dengan TUHAN akan dihancurkan; atas mereka Ia mengguntur di langit). Dari 13x kata ‘raam’ di Alkitab, 11x benar-benar mengacu pada guntur yang sebenarnya, dan hanya 2x digunakan untuk menggambarkan perasaan yang di dalam (yang satunya adalah di Yehezkiel). Ini berarti pada dasarnya seakan ada badai yang menyerbu hati Hana, karena dia tidak punya anak. Kita perlu mengerti bagian ini --mengapa punya anak sangat penting-- dengan kembali pada konteks zaman tersebut.

Prospek setiap keluarga, bahkan setiap bangsa, pada waktu itu sangat tergantung dari jumlah anak yang dilahirkan seorang ibu. Kalau hari ini orang menganggap tambah satu anak lagi berarti “another mouth to feed”, pada waktu itu justru berarti dapat income tambahan, karena dapat anak satu lagi berarti tambah lagi tangan yang bisa bekerja, yang bisa bertani, beternak, menjaga rumah, dsb. Semakin banyak anak, pada dasarnya company Saudara semakin besar. Tidak heran pada zaman itu ‘anak banyak’ sangat dekat hubungannya dengan wealth dan status; semakin punya banyak anak berarti semakin kaya dan semakin tinggi statusnya di masyarakat. Lebih dari itu, punya banyak anak sangat penting karena tingkat kematian bayi sangat besar pada zaman tersebut; dari 10 anak paling sedikit 3-4 anak meninggal, tidak survive sampai dewasa (bahkan Bach yang cuma 300-400 tahun lalu, dari 20 anaknya hanya 10 yang survive sampai dewasa). Oleh sebab itu anak juga menentukan kesuksesan dalam lingkup yang lebih besar, yaitu masyarakat, bangsa dan negara. Secara ekonomi jelas karena ekonomi suatu bangsa ditentukan dari ekonomi keluarga-keluarga; tapi yang paling penting adalah kekuatan militer, bisa mempunyai tentara lebih banyak kalau rakyatnya punya anak lebih banyak. Kalau ada negara lain punya anak lebih banyak, itu berarti militer mereka akan lebih kuat. Hubungan antara ‘punya anak banyak’ dengan ‘kekuatan dari sebuah keluarga atau bangsa’, bukanlah hal yang aneh untuk dipelajari; bahkan hari ini beberapa negara di Eropa mulai memberikan insentif kepada rakyatnya untuk punya anak, karena tanpa anak kultur mereka akan mulai terkikis, kebangsaan mereka akan mulai hilang. Intinya, punya anak adalah masalah hidup mati, bukan cuma hidup mati Saudara melainkan hidup mati sebuah bangsa.

Dari sini Saudara bisa mendapatkan gambaran alasannya wanita yang punya anak banyak statusnya tinggi sekali, punya kuasa yang besar, dan orang sangat menghormati. Jadi bisa dimengerti bahwa wanita yang tidak bisa punya anak akan dianggap tidak berguna, bahkan mereka sendiri pun menganggap dirinya tidak berguna. Inilah sebabnya waktu Saudara melihat bahasa-bahasa yang digunakan Alkitab, kemandulan tidak pernah cuma dimengerti dalam level kegagalan personal; kemandulan harus dimengerti sebagai tidak adanya masa depan. Walter Brueggemann mengatakan barrenness itu hopelessness dalam Alkitab. Oleh karenanya, kultur ini sangat mempengaruhi wanita pada zaman itu, bukan cuma Hana tapi sangat luas lingkupnya. Rahel dalam Kej 30 bahkan sampai mengatakan “berilah kepadaku anak, kalau tidak aku kan mati”.

Sedikit kontekstualisasi dengan kita hari ini, janganlah kita terlalu cepat condemn kultur tersebut dengan mengatakan ‘untung hari ini kita tidak seperti itu lagi’. Justru ketika kita hari ini melihat betapa mereka berbeda, harusnya itu menyadarkan bahwa kita pada dasarnya sama saja. Memang tekanan untuk punya anak pada hari ini tidak sekuat zaman Hana, tapi di zaman Hana --menurut para sejarawan-- juga tidak ada bulimia dan anoreksia. Adalah satu penipuan kalau kita berpikir wanita-wanita hari ini sudah emansipasi dan bebas mencari harga diri mereka sendiri sebagaimana feminisme katakan, karena bagaimanapun juga di zaman ini manusia --khususnya wanita -- senantiasa melakukan hal yang budaya suruh mereka lakukan. Semua budaya --bukan cuma budaya di zaman Hana-- mengatakan “kalau kamu tidak punya ini atau itu, kamu tidak ada artinya”. Hari ini masyarakat kita memang tidak menuntut wanita jadi ibu yang ber-anak banyak, tapi menuntut wanita untuk berpenampilan menarik misalnya, sebagaimana para selebriti di TV yang dinilai atraktif. Atau juga hari ini kita ekspektasi wanita untuk punya karir, punya income sendiri, sehingga betapa menyedihkan banyak wanita merasa harga dirinya hancur ketika tidak mempunyai kecantikan atau karir. Dengan kata lain, sama seperti Hana, wanita zaman ini mengatakan “aku mau cantik, aku mau karir”, dsb., padahal ironisnya itu bukan kemauan mereka melainkan kemauan budaya mereka. Sama seperti Hana, mereka tidak menyadari yang keluar dari mulutnya bukanlah yang mereka mau melainkan yang budaya  taruh di pundak mereka sebagai beban. Tentu ini bukan cuma merasuki wanita, pria juga punya ekuivalennya.

Intinya, tidak ada manusia yang tidak terpengaruh budaya sekitarnya. Dalam budaya manusia, entah orang jadi pengejek --seperti Penina-- atau jadi yang diejek dan menangis, seperti Hana. Inilah sebabnya Tuhan menciptakan Gereja. Satu-satunya yang bisa membuat Saudara keluar dari budaya yang memperbudak secara tidak sadar ini, adalah jika saudara mempunyai budaya alternatif. Bagaimana bisa punya budaya alternatif, kalau Saudara tidak punya komunitas? Saudara tidak bisa menciptakan budayamu sendiri, karena Saudara akan jadi orang eksentrik. Itu sebabnya Saudara harus punya komunitas, yang di dalamnya ada budaya alternatif; itulah fungsi  Gereja. Itu sebabnya Saudara perlu ikut KTB, Saudara belum betul-betul masuk Gereja kalau hanya datang kebaktian Minggu. Seorang hamba Tuhan menulis artikel menceritakan pengalamannya menginjili seorang anggota geng. Orang yang jadi anggota geng (gang member), hidupnya 24 jam 7 hari seminggu dipenuhi dengan geng-nya, pergi ke mana pun, melakukan apa pun, selalu bersama geng-nya. Orang ini lalu bertobat dan mempunyai iman yang sungguh-sungguh. Tapi tidak lama kemudian dia undur iman, dia kecewa dengan Kekristenan, dan kekecewaannya adalah: ‘saya pikir, setelah saya bertobat Gereja akan masuk ke dalam hidup saya sedalam anggota-anggota geng itu masuk ke dalam hidup saya; saya berharap Gereja bisa memberikan satu komunitas yang bisa mengganti keberadaan gang member yang 24 jam 7 hari itu, dan ternyata tidak’. Lalu hamba Tuhan tadi menulis dalam artikelnya, bahwa dia belajar satu hal tentang “apa itu Gereja” justru dari gang member. Dan itulah sebenarnya panggilan Gereja. Saudara dipanggil untuk terlepas/ keluar dari dunia, tapi seringkali Saudara cuma mau sedikit saja yaitu kebaktian Minggu. Itu tidak cukup. Meskipun Saudara tidak bisa melihat, dampak dari Saudara ikut kebaktian yang cuma1 kali seminggu saja sudah membuat Saudara jadi orang yang berbeda. Tahukah Saudara budaya yang kita ciptakan di Gereja yang counter terhadap budaya dunia --meskipun cuma seminggu sekali-- ? Yaitu budaya mendengar. Coba bayangkan kalau Saudara tidak dibiasakan tiap Minggu datang dan mendengar, Saudara jadi orang seperti apa? Paling tidak, orang-orang yang di gereja hari ini --dengan segala keterbatasan kita-- sudah terbiasa untuk memberikan kesempatan orang lain berbicara dan dia mendengar. Itu saja sudah berpengaruh banyak, hanya kita tidak sadar. Tapi kita tidak dipanggil cuma sampai situ, kita dipanggil lebih daripada itu, hanya saja kita seringkali tidak mau dan tidak merasa penting. Kita tidak bisa hidup sebagai orang Kristen sendirian di dunia ini, kita perlu komunitas.

Sekarang kita sudah melihat apa persisnya problem Hana, dan kita akan melihat solusi yang ditawarkan oleh dunia --solusi yang palsu itu-- kepada Hana. Solusi pertama datang dari Elkana, suaminya. Ayat 8 Lalu Elkana, suaminya, berkata kepadanya: "Hana, mengapa engkau menangis dan mengapa engkau tidak mau makan? Mengapa hatimu sedih? Bukankah aku lebih berharga bagimu dari pada sepuluh anak laki-laki?" Ini bukan solusi yang baik sama sekali. Ada sisi yang Saudara bisa kagumi dari Elkana, yaitu menolak ikut budaya dunia; dia  berdiri di tengah budaya dunia dan mengatakan ‘aku tidak menilaimu berdasarkan kacamata budaya ini --subur atau tidak’. Dia berani counter culture di mata masyarakat. Mengapa? Di ayat 5 Saudara menemukan terjemahan bahasa Indonesia (yang terpengaruh pembacaan Septuaginta) versus  terjemahan bahasa Inggris, yang semuanya setuju mengatakan yang sebaliknya dan bertabrakan dengan terjemahan bahasa Indonesia. Di dalam terjemahan bahasa Inggris kalimatnya: ‘But to Hannah, he gave a double portion because he loved her’; dalam bahasa Indonesia dikatakan:  ‘Meskipun ia mengasihi Hana, ia memberikan kepada Hana hanya satu bagian, sebab TUHAN telah menutup kandungannya’. Satu bagian/ satu porsi ini, kata asli dalam bahasa Ibraninya adalah faces yang literally artinya satu porsi untuk dua muka; istilah yang biasa kita mengerti untuk ‘double portion’. Dalam hal ini saya lebih pegang pembacaan bahasa Inggris karena lebih mendekati pengertian Ibrani-nya, sedangkan terjemahan bahasa Indonesia lebih terpengaruh pembacaan Septuaginta.

Hal yang menarik, di manakah Elkana memberikan kepada Hana double portion tersebut? Dikatakan bahwa itu dilakukan dalam jamuan makan setelah mempersembahkan korban. Ini bukan seperti kita pulang dari gereja cari makan di Yoshinoya, tapi suatu pesta besar setelah ibadah yang diikuti oleh semua yang beribadah. Ini sesuatu yang terjadi di mata orang banyak. Dan di mata publik ini Elkana berani menyatakan “meskipun istriku ini tidak punya anak, aku mencintai dia lebih”. Betapa tindakan yang mengagumkan. Tapi masalahnya, tindakan ini dilakukan dalam situasi yang tidak tepat dan akhirnya jadi satu tindakan yang sangat bodoh, yaitu karena Elkana poligami. Seandainya Hana hanya satu-satunya istrinya, ini tindakan yang sangat tepat, sebagaimana pujian Adam kepada Hawa yang semata-mata mengenai companionship/ persekutuan yang dia dapat bersama istrinya itu dan tidak ada pembicaraan mengenai punya anak sama sekali. Itulah gambaran pernikahan ideal yang pertama kali sebelum manusia jatuh dalam dosa, fokusnya adalah dalam hal companionship dan bukan soal punya anak. Masalahnya di dalam poligami, ketika memuji istri yang satu lebih dari yang lain, tidaklah heran kalau yang terjadi adalah Penina senantiasa mengejek Hana, bahkan mungkin inilah sebab utamanya.

Kebodohan Elkana yang kedua adalah alternatif yang ia tawarkan tidak lebih baik; di ayat 8: “ ... bukankah aku lebih berharga daripada sepuluh anak laki-laki?" Apa maksudnya? Elkana mau mengatakan, ‘kamu selama ini mencari harga dirimu dari anak yang kamu tidak punya, tidak heran kamu sedih begitu, lebih baik kamu mencari harga dirimu dari seorang suami yang kamumemang punya dan mencintai kamu’ Kita bersyukur bahwa baik kepada Penina, maupun kepada Elkana, tidak pernah dicatat Hana berespon secara kalimat langsung. Ini semacam cara narasi Alkitab menunjukkan bahwa Hana tidak mengikuti yang Elkana mau, dan itu sangat tepat. Jika Hana mengikuti keinginan Elkana, yang bakal terjadi kira-kira dia berubah jadi Penina, dia yang akan datang ke Penina dan mengatakan “Huh, kamu mungkin punya banyak anak, tapi cintanya Elkana ada di siapa?? Paling dia cuma menidurimu kalau mau punya anak satu lagi.. “, seperti tokoh dalam sinetron. Dalam hal ini, yang Elkana lakukan adalah semata mengganti satu tipe berhala kepada tipe berhala yang lain, jangan ikuti yang budaya katakan, ikuti yang aku katakan. Penina mewakili idolatry dari budaya kuno, tradisional, kesukuan, carilah harga dirimu dari keluargamu, seberapa engkau berkontribusi kepada masyarakat. Elkana sangat di depan, mewakili  idolatry dari budaya modern, individualistik, jangan cari harga dirimu dari seberapa engkau berkontribusi kepada masyarakat, carilah harga dirimu dari seberapa engkau merasa diterima, dicintai, kepuasan personalmu. Berhala yang satu bersifat eksternal, yang lain bersifat internal.

Sedikit intermezo, salah satu bukti bahwa meski Alkitab mendeskripsikan kisah-kisah poligami, Saudara sama sekali tidak bisa mengatakan Alkitab mendukung poligami. Buktinya, semua cerita poligami di Alkitab selalu destruktif, seperti juga kisah ini. Ada banyak orang menuduh Alkitab mendukung poligami, mereka ini tidak mengerti cara baca literatur, karena kalau di koran ada berita terorisme, apakah berarti koran tersebut mendukung terorisme?? Tentu tidak.
Jadi, kita sudah melihat ada 2 alternatif berhala. Mana yang Hana pilih? Bukan dua-duanya. Kita bisa melihatnya di ayat 9, yang pada dasarnya merupakan turning point dari seluruh narasinya: ‘Pada suatu kali, setelah mereka habis makan dan minum di Silo, berdirilah Hana... ‘. Kata yang dipakai di situ ‘berdirilah’, sebenarnya istilahnya lebih signifikan yaitu ‘bangkitlah’; ini bukan cuma menyatakan postur tubuh melainkan tindakan yang menandakan satu turning point (dalam bagian Alkitab yang lain misalnya: ‘kemudian Abraham bangkit... ’, ‘kemudian Allah bangkit... ‘). Perhatikan sekali lagi bahwa tidak pernah dituliskan Hana berbicara kepada Penina maupun  Elkana dengan kalimat langsung, satu-satunya kalimat langsung yang Hana katakan yang dicatat di Alkitab adalah ketika ia berdoa kepada Tuhan. Inilah titik baliknya. Ini cara narasi menyatakan bahwa Hana tidak meresponi dalam arti mengikuti cara Penina maupun cara Elkana. Hana tidak pergi kepada berhala family ataupun berhala personal fulfillment, dia pergi kepada Allah. Dan apa yang dilakukannya kepada Tuhan?

Ayat 10-11 ‘... dan dengan hati pedih ia berdoa kepada TUHAN sambil menangis tersedu-sedu. Kemudian bernazarlah ia, katanya: "TUHAN semesta alam, jika sungguh-sungguh Engkau memperhatikan sengsara hamba-Mu ini dan mengingat kepadaku dan tidak melupakan hamba-Mu ini, tetapi memberikan kepada hamba-Mu ini seorang anak laki-laki, maka aku akan memberikan dia kepada TUHAN untuk seumur hidupnya dan pisau cukur tidak akan menyentuh kepalanya." ‘  Apakah ini berarti Hana main negosiasi, yang selalu kita ingat untuk tidak melakukannya dengan Tuhan? Kesan pertama kita mungkin demikian, tapi ini bukanlah main negosiasi dengan Tuhan. Kita bisa tahu dari reaksi setelahnya, yaitu di ayat 18-20 ‘Lalu keluarlah perempuan itu, ia mau makan dan mukanya tidak muram lagi. ... Ketika Elkana bersetubuh dengan Hana, isterinya, TUHAN ingat kepadanya. Maka setahun kemudian mengandunglah Hana dan melahirkan seorang anak laki-laki. Ia menamai anak itu Samuel, sebab katanya: "Aku telah memintanya dari pada TUHAN." ‘  Seandainya Hana main negosiasi/ bargaining dengan Tuhan, urutan harusnya adalah: doa - hamil - lalu damai/ ada sukacita. Tapi di sini kita lihat urutannya bukan begitu melainkan: doa - damai - baru hamil. Setelah  berdoa, Hana mengangkat mukanya dan mau makan, baru setelah itu dia hamil. Ini berarti Hana menyerahkan urusannya kepada Tuhan, dan bagi Hana urusannya sudah selesai. Hana bukan sedang menggunakan Tuhan untuk memenuhi kebutuhannya. Hana, lewat karunia Tuhan, justru sedang melepaskan dirinya dari kebutuhan itu. Bagaimana bisa? Perhatikan, anak yang dimintanya adalah anak yang dikatakan “aku akan memberikan dia kepada TUHAN untuk seumur hidupnya dan pisau cukur tidak akan menyentuh kepalanya." Apa maksudnya? Kalau Saudara cuma mengatakan “aku akan memberikan anakku kepada Tuhan”, artinya bisa banyak macam misalnya: “aku akan memberikan dia jadi pengusaha yang sangat kaya tapi kemuliaannya untuk Engkau”. Tapi di sini ada kalimat belakangnya yaitu “... dan pisau cukur tidak akan menyentuh kepalanya”, yang berarti ini satu sumpah orang yang bernazar kepada Tuhan.

Pada waktu itu orang tidak bisa menyerahkan anak untuk jadi hamba Tuhan karena tidak ada STT-nya.  Pada waktu itu bekerja jadi imam tidak terbuka bagi semua orang, itu adalah jabatan herediter yang hanya boleh bagi kaum Lewi. Kaum Lewi tidak punya tanah milik pusaka, mereka tidak ada option lain selain menjadi imam, kerja dan hidup di Bait Allah. Lalu bagaimana kalau ada orang non-Lewi mau melayani Tuhan? Ada celah masuknya, yaitu melalui bernazar, mengucapkan sumpah di hadapan Tuhan untuk melayani Tuhan, dan tandanya adalah pisau cukur tidak menyentuh kepalanya, seperti Simson. Apa artinya implikasinya bagi Hana? Untuk apa Hana meminta anak; apakah untuk melayani harga dirinya supaya sekarang dia akhirnya bisa merasa termasuk dalam masyarakat dan budaya setempatnya --sekarang saya ada anak, saya bisa ajak dia ke pasar, bisa pamerin dia di depan ibu-ibu yang lain dan juga Penina-- ? Tidak; karena kalau anak ini seorang yang telah di-nazar-kan, berarti dia akan tinggal di kemah pertemuan, tidak bersama-sama ibunya; di ayat 24 Hana membawa Samuel kepada Imam Eli ketika Samuel cerai susu (disapih) dan dikatakan ‘Waktu itu masih kecil betul kanak-kanak itu’. Ini berarti tidak mungkin Hana meminta Samuel itu bagi dirinya sendiri. Anak ini tidak bisa jadi ahli waris. Anak ini bahkan tidak akan bisa mengisi kebutuhan emosional seorang ibu, malah mungkin merusaknya karena ia harus menyerahkan anak satu-satunya waktu masih begitu kecil. Saudara mungkin kalau dalam posisi itu akan mengatakan “lebih baik tidak punya anak sekalian karena lebih sehat bagi kehidupan emosional saya”.

Jadi, apa yang Hana lakukan di sini? Mengapa dia meminta seorang anak jika ujungnya seperti ini? Cara yang paling sederhana untuk mengerti yang Hana lakukan adalah bahwa Hana pada dasarnya mengatakan demikian: “Tuhan, selama ini saya ingin mendapatkan seorang anak untuk aku; sekarang aku minta seorang anak untuk Engkau. Dulu aku ingin seorang anak demi memenuhi kebutuhanku untuk diterima masyarakat, dicintai suami, atau mendapatkan cinta anak tersebut. Dan untung tidak dapat, Tuhan, karena kalaupun dapat pastinya anak itu jadi rusak, entah karena aku jadi sangat keras ‘ini anak harus dididik!’  ataupun terlalu lembek ‘oh, ini anakku, tidak boleh kena apapun’. Sekarang, aku tetap minta anak, tapi bukan untukku melainkan untuk-Mu, demi Engkau”. Oleh karena itu, Hana mendapatkan kedamaian sebelum dia hamil; yaitu karena tidak jadi masalah bagaimana Tuhan meresponi berikutnya, terserah Tuhan. Ironisnya, barulah sekarang aman bagi Hana untuk mendapatkan seorang anak, justru ketika dia berani melepaskan kebutuhannya akan seorang anak. Dan Tuhan memberikan dia seorang anak.

Bagaimana caranya bisa mendapatkan kebebasan dari perbudakan seperti ini? Bisa Saudara lihat sedikit petunjuk dari nyanyian Hana di pasal 2:6-10. Ada sebuah prinsip/ pola tapi juga seorang pribadi, dalam nyanyian ini. Yang pertama, Hana berhasil mengenali prinsip/ pola keselamatan yang Tuhan berikan: “Busur pada pahlawan telah patah, tetapi orang-orang yang terhuyung-huyung, pinggangnya berikatkan kekuatan. Siapa yang kenyang dahulu, sekarang menyewakan dirinya karena makanan, tetapi orang yang lapar dahulu, sekarang boleh beristirahat. Bahkan orang yang mandul melahirkan tujuh anak, tetapi orang yang banyak anaknya, menjadi layu. ... Ia menegakkan orang yang hina dari dalam debu, dan mengangkat orang yang miskin dari lumpur, untuk mendudukkan dia bersama-sama dengan para bangsawan, dan membuat dia memiliki kursi kehormatan. Sebab TUHAN mempunyai alas bumi; dan di atasnya Ia menaruh daratan. Langkah kaki orang-orang yang dikasihi-Nya dilindungi-Nya, tetapi orang-orang fasik akan mati binasa dalam kegelapan, sebab bukan oleh karena kekuatannya sendiri seseorang berkuasa” (ayat 4-5, 8-9). Hana sedang mengatakan ‘aku telah melihat polanya Tuhan, yaitu bahwaTuhan Allah bekerja lewat kelemahan bukan kekuatan, Tuhan Allah bekerja lewat keterpurukan dan bukan kehormatan’.

Ini lebih jelas lagi diproklamirkan oleh Yesaya di Yes 54:1 “Bersorak-sorailah, hai si mandul yang tidak pernah melahirkan! Bergembiralah dengan sorak-sorai dan memekiklah, hai engkau yang tidak pernah menderita sakit bersalin! Sebab yang ditinggalkan suaminya akan mempunyai lebih banyak anak dari pada yang bersuami, firman TUHAN.”  Saudara bisa melihat Ishak, Simson, Samuel, dan juga Yohanes Pembaptis; berulang kali dalam sejarah keselamatan ketika umat Allah membutuhkan penyelamatan, ketika umat Allah masuk dalam kesulitan, di situ Allah tidak memilih untuk memberikan keselamatan melalui yang cantik atau yang subur atau yang dihormati. Tuhan memilih wanita atau pria yang tidak diinginkan, yang mandul, yang terhina. Tuhan membuka rahim wanita yang demikian, dan dari situ keluar pemimpin yang dibangkitkan Tuhan.

Tapi Hana bukan cuma melihat prinsip ini, dia melihat seorang Pribadi. Di ayat 10 dikatakan : “Ia memberi kekuatan kepada raja yang diangkat-Nya dan meninggikan tanduk kekuatan orang yang diurapi-Nya."  Istilah ‘yang diurapi/ the annointed one’ bahasa Ibraninya adalah mesias. Kita perlu mengerti, bahwa di zaman Hana belum pernah ada seorang raja atas Israel; lalu mengapa dia bisa berdoa seperti itu? Kita percaya ini inspirasi Roh Kudus, bahwa dia membuat satu nubuatan akan kelahiran Daud, “progenitor” Mesias, karena Daud adalah ‘yang diurapi’ dan anak Hana yaitu Samuel adalah yang mengurapi raja. Ini sebabnya kisah tentang Daud, dimulai dari doanya Hana. Namun sama seperti Samuel ada bukan hanya untuk dirinya melainkan untuk memperlihatkan Daud kepada kita, Daud juga ada bukan untuk dirinya tapi untuk memperlihatkan kepada kita Seseorang yang lain. Suatu hari kemudian ada lagi seorang wanita yang mustahil hamil, akhirnya hamil. Hanya saja ini bukan karena kemandulan tapi karena dia belum menikah. Wanita tersebut juga dikucilkan masyarakat, dikucilkan budaya setempat, karena hal ini. Dan setelah wanita ini mengerti maksud Tuhan di balik itu semua, dia juga menulis sebuah nyanyian, yang biasa disebut magnificat: “Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah; Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa” (Luk 1: 52-53).

Nyanyiannya begitu mirip dengan nyanyian Hana, sehingga kita bisa mengatakan bahwa pada dasarnya Maria sedang memproklamirkan ‘Hana adalah nenek moyangku dalam garis keselamatan ini, aku adalah cucu rohaninya’. Dan bukan cuma mirip, tapi anak dari Maria adalah klimaks dari pola ini. Ishak, Simson, Samuel, Yohanes Pembaptis dilahirkan lewat kuasa Tuhan dari perempuan mandul, tapi Kristus dilahirkan lewat kuasa Tuhan dari seorang perawan. Allah sedang mengatakan dalam pola ini bahwa keselamatan itu tidak pernah lewat kekuatanmu. Yesus juga klimaks dari pola ini karena waktu Ishak, Simson, Samuel, Yohanes Pembaptis melayani Tuhan, mereka mendapatkan kuasa dan lewat kuasa itu menyelamatkan umat Tuhan dari penindasan politik ataupun rohani; tapi Tuhan Yesus justru melayani Tuhan lewat kehilangan kuasa, kehilangan kemuliaan-Nya. Dan seperti Hana dan Maria, Tuhan Yesus dikucilkan dari masyarakat. Bukan cuma dikucilkan dari masyarakat, tapi dibuang dari dunia orang hidup bahkan dikucilkan dari mata Bapa-Nya. Dan lewat itulah Tuhan Yesus menyelamatkan umat Tuhan, bukan sekedar dari penindasan tapi kebiasaan. Lewat kekalahan, Dia menang. Lewat kelemahan, Dia sungguh berkuasa. Itulah Sang Mesias.

Apa aplikasinya buat hidup kita? YANG PERTAMA, ketika Saudara menginginkan sesuatu dalam hidup hari ini, tantangan Kekristenan bukanlah Saudara menyerahkan keinginan tersebut dan mengatakan “saya tidak mau hal ini lagi”, tantangannya bukan menyangkal diri serendah itu. Jadi orang Kristen bukan berarti tidak lagi bisa rekreasi, tidak lagi bisa main game, tidak lagi bisa makan makanan enak, tidak lagi bisa cari uang, dsb., karena hidup dikuasai/ diperbudak oleh sesuatu tidaklah berarti Saudara harus mempunyai barangnya, cukup dengan ‘mupeng’ (muka pengen) saja sudah bisa berarti Saudara dikuasai. Oleh sebab itu, tantangan Kekristenan bukan sekedar menyerahkan keinginanmu, melainkan menyerahkan keinginanmu kepada Tuhan. Itu yang lebih sulit. Contohnya soal uang: ada seorang pengusaha besar di Amerika mengumpulkan beberapa hamba Tuhan dan mendiskusikan bagaimana berbisnis secara Kristen. Mungkin Saudara pikir bisnis secara Kristen artinya ke arah yang non profit atau minimal profit semacam itu, tapi pengusaha tadi dengan bijaksana mengatakan begini: “profit dalam bisnis adalah seperti bernapas; memang harus bernapas untuk bisa hidup, tapi sungguh tolol jika hidup hanya untuk bernapas”. Pengusaha ini bukan mau cari tahu apakah boleh mencari profit atau tidak --karena bisnis pasti harus cari profit sebagaimana halnya bernapas untuk bisa hidup-- tapi yang mau dia tanyakan adalah alasan mengapa mencari profit dan ujungnya profit tersebut mau digunakan untuk tujuan apa. Dan ketika saudara memikirkan hal ini, pastinya akan mempengaruhi cara bagaimana Saudara mencari profit. Pertanyaan ‘bagaimana mencari profit’ tidak bisa diselesaikan kalau Saudara tidak pernah memikirkan apa dan mengapa mencari profit. Banyak orang menanyakan ‘bagaimana’ tapi ujungnya hanya supaya ‘saya bisa merasa lebih jadi orang Kristen’, bukan untuk Tuhan. Yang perlu dibereskan terutama adalah yang di belakang, yaitu apa pengharapan ke depannya, maka hal itu pasti akan membereskan soal bagaimana caranya.

Sama halnya dengan aspek-aspek lain dalam hidup ini. Ketika ada badai yang mengguntur dalam hidup Saudara karena keinginan-keinginan yang tidak terpenuhi, adakalanya Tuhan berurusan dengan hal-hal tersebut dengan mengusirnya seperti mengusir badai, tapi adakalanya juga kepada orang-orang yang lebih dewasa Dia bukan mengusir badainya melainkan mengajak dengan iman melangkah ke atas air dan berjalan di atas badai. Seandainya Saudara sedang memperilah pernikahan karena sudah jomblo begitu lama dan ingin sekali menikah, bisa jadi Tuhan mengatakan ‘tidak’; tapi tantangan seorang Kristen terutama bukanlah untuk mengatakan  ‘tidak’, melainkan mengatakan ‘ya’, kepada Tuhan. Kalau  Saudara berhadapan dengan keinginan yang tidak terpenuhi, entah Saudara terus mengatakan ‘ya, ya, ya’, atau Saudara mengatakan ‘ya sudahlah, tidak usah’ dan Saudara tetap terpengaruh dengan hal tersebut. Satu-satunya cara untuk keluar dari lingkaran ini hanyalah dengan mengatakan ‘ya’, kepada Tuhan; memberikan pernikahan itu kepada Tuhan, memberikan profit itu kepada Tuhan. Kalau Saudara merasa hal ini sulit, cobalah saudara pikirkan alternatifnya, yang pastinya hanyalah perbudakan. Kalau Saudara tidak melakukan seperti yang Hana lakukan, Abraham lakukan, yaitu menaruh harta mereka di atas mezbah Tuhan, maka Saudara akan diperbudak oleh harta tersebut. Harga diri dan arti hidup Saudara akan demikian terikat erat dengan hal tersebut, sehingga kalau hal itu rusak atau hilang Saudara akan merasa tidak ada harga diri, hidup tidak berarti, badai menguasai hatimu, dan sama seperti Hana pada awalnya Saudara tidak mau makan! Dan itu artinya Saudara menuju kepada kematian.

Tapi bagaimana kalau hal tersebut justru berkelimpahan? Bagaimana kalau saya ingin ini itu dan ternyata Tuhan memang memberi banyak dan berkelimpahan? Kalau Saudara berkelimpahan dengan yang Saudara inginkan, Saudara juga celaka karena hanya akan punya kehausan yang tidak bisa terpenuhi, Saudara hanya akan merasa kelimpahan ini tidak pernah cukup, Saudara akan cepat atau lambat mendapati diri dalam posisi yang aneh --mengapa uang sudah cukup untuk 7 generasi ke bawah tapi tidak pernah cukup untuk saya sendiri, mengapa pernikahanku dengan orang yang memang baik-baik dibandingkan orang-orang lain tapi tetap ingin selingkuh.

Saya membaca artikel yang membahas mengapa orang yang pernikahannya baik-baik pun bisa selingkuh. Menurut artikel tersebut, ada banyak orang yang berselingkuh biasanya menyalahkan pernikahan mereka. Itu satu hal yang tidak benar. Dalam psikologi ada yang disebut ‘searchlight theory’; misalnya orang mabuk pulang dari bar dan dia kehilangan kunci mobil, dia tidak akan mencarinya di tempat yang paling mungkin seperti di kursi barnya atau di dalam bar tadi, dia justru akan mencari di bawah tempat yang terang. Dan searchlight theory ini bukan cuma benar bagi orang mabuk, tapi juga benar bagi semua orang berdosa; kita seringkali mencari problemnya bukan di tempat problem tersebut paling mungkin berada melainkan di tempat-tempat lain yang lebih terang, lebih kelihatan. Itu sebabnya banyak orang yang berselingkuh lalu mengatakan: “Ya, problemnya di pernikahan saya yang tidak fulfilling ini”. Menurut psikologi, itulah searchlight theory, sebab dalam pernikahan problem pasti ada sehingga mudah kita mengatakannya, tapi yang lebih sulit --menurut artikel tersebut-- adalah menghadapi bahwa problem utamanya sebenarnya kehausan dalam jiwa kita yang tak kunjung terpenuhi itu. Kita tidak mau melakukan itu, maka kita mencarinya di tempat yang terang saja.

Satu-satunya cara untuk bisa keluar dari hal ini adalah melihat Allah yang telah menyerahkan kelimpahan-Nya bagimu dan menemukan dirimu di dalamnya; melihat Allah yang bukan hanya mau bekerja lewat orang-orang yang lemah tapi Allah yang sendirinya mau menjadi lemah supaya Saudara dan saya dikuatkan. Pertanyaannya: apakah Allah yang seperti ini sungguh beautiful di matamu, atau tidak? Kalau tidak, Saudara akan terpikat dengan budaya yang dunia tawarkan.
APLIKASI YANG KEDUA: bagaimana saya tahu bahwa saya adalah orang yang melihat keindahan Allah? Yaitu dengan Saudara menjadi seperti Allah. Saudara akan bekerja dengan orang-orang yang lemah, seperti Allah bekerja dengan orang-orang yang lemah. Saudara akan memenuhi hidupmu dengan orang-orang yang miskin dan terbuang, seperti Allah memenuhi hidup-Nya dengan orang-orang yang miskin dan terbuang. Saudara akan melihat orang-orang yang lemah dan terbuang di mata dunia ini sebagai orang-orang yang berharga di mata Saudara, karena Allahmu melihat kepada orang-orang demikian dengan perasaan yang begitu kasih. Saudara berdiri bersama Allah yang mengatakan “Akulah pelindung para janda dan anak yatim” . Itulah tandanya Saudara melihat Allah itu beautiful. Pertanyaannya: berapa banyak uang kita, waktu kita, yang kita berikan kepada orang-orang miskin? Apakah kita memberi sampai mepengaruhi gaya hidup kita atau tidak? Tuhan bukan cuma memberi kelimpahan kepada kita, Tuhan bukan hanya memberi untuk mengubah hidup orang, Tuhan kita memberi sampai harus mengubah hidup-Nya. Itu standar pemberian orang Kristen. Standar pemberian kita bukan 5%, 10%, 20%, 30%, dst., itu Perjanjian Lama; standar Perjanjian Baru lebih tinggi, karena karunia yang Tuhan berikan kepada kita juga lebih tinggi. Pernahkah anak Saudara bertanya ‘mengapa papaku banyak sekali bantu anak orang lain padahal aku sendiri masih banyak kebutuhan yang tidak terpenuhi’? Itulah pertanyaan saya waktu kecil; dan hari ini kalau Saudara mendapat berkat melalui pelayanan saya di tempat ini, itu adalah berkat karena ada orangtua yang dalam karunia Tuhan telah menyerahkan anak-anaknya di atas mezbah.

Kita tidak suka ketika tidak bisa melihat berkat yang Tuhan kerjakan lewat kita, sama seperti Ayub. Penderitaan kita mungkin dipakai Tuhan, tapi tidak tentu kita bisa melihat ujungnya seperti apa. Namun itulah justru kesukacitaan orang Kristen, yaitu bahwa kita tidak bisa melihat seberapa Tuhan bekerja lewat penderitaan dan pergumulan dan kelemahan kita, seperti Hana tidak pernah tahu bahwa lewat penderitaan, pergumulaan, dan penyerahannya, ribuan tahun kemudian ada 300-an orang di Kelapa Gading yang mendapat berkat dari hal itu. Ini bukanlah kesedihan melainkan kesukacitaan. Hana tidak bisa melihat semuanya bukanlah karena tidak ada melainkan karena terlalu banyak. Saudara mau memilih jadi orang yang melihat berkat dalam masa hidupmu, atau tidak bisa melihat berkat dari cara Tuhan memakai Saudara justru karena terlalu banyak? Tidak heran Tuhan Yesus mengatakan bahwa mereka yang dibinasakan itu sudah mendapatkan --melihat-- upahnya. Saudara tidak dipanggil untuk seperti itu, Saudara dipanggil untuk menjadi Hana. Dan Saudara bisa melakukannya kalau Saudara melihat kepada Kristus. Itulah panggilan yang diberikan Tuhan kepada kita, tidak kurang dari itu.


Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah (MS)

Gereja Reformed Injili Indonesia Kelapa Gading

Download Ringkasan