Ambisi-ambisi Paulus bagi Salib Tuhan Yesus

Satu lukisan yang terkenal dari Caspar David Friedrich, seorang pelukis Jerman yang pernah belajar di Denmark dan seorang pelukis landscape contemplative, yaitu “Cross on the Mountains” --salib di atas gunung; dia suka sekali melukis salib di atas gunung. Ini sebenarnya sebuah lukisan untuk altar; dan pada waktu itu dia diprotes karena biasanya lukisan di altar adalah orang-orang suci, rasul-rasul, Maria, dsb. Dalam lukisan ini, di latar belakang ada cahaya yang mulai tenggelam, menggambarkan cara-cara lama kita bertemu dengan Tuhan.  Di Perjanjian Lama manusia bertemu dengan Tuhan melalui penglihatan, mimpi, dsb., tetapi sekarang sudah mulai hilang, sekarang kita mengenal Tuhan melalui Kristus, melalui salib-Nya. Kemudian dalam lukisan tadi ada gambar salib di atas gunung, dan juga pohon-pohon; gunung batu menggambarkan iman yang kuat kepada Yesus Kristus, pohon-pohon menggambarkan pengharapan kepada Tuhan yang disalibkan. Lukisan ini ingin mengarahkan kita kepada salib. Dan hari ini kita akan merenungkan satu tema, yaitu ambisi-ambisi Paulus bagi salib Tuhan Yesus, kiranya Tuhan juga menanamkan ambisi-ambisi itu di dalam hari kita.

1 Kor. 2: 2, “Sebab aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan.” Saudara-saudara, dalam konteks apa Paulus berbicara kepada jemaat Korintus di 1 Kor. 2: 2 ini? Kalau kita melihat pasal 2 ini, di awal-awal dia mengatakan, “Aku datang kepadamu dalam kelemahan, dalam takut dan gentar; aku datang bukan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, bukan dengan kata-kata indah, tapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh, supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia tapi kepada kekuatan Allah”. Jadi kira-kira begini konteksnya: Paulus datang untuk melayani dan menginjili orang Korintus, yang latar belakangnya memahami banyak pengetahuan (Paulus menjelaskan ini di 1 Kor. 1).

Seperti biasa kita punya asumsi bahwa kalau mau menginjili satu kelompok tertentu, kita harus mengenali mereka --kalau mau menginjili orang Hindu kita harus mengenali orang Hindu, kalau mau menginjili orang India kita harus mengenali orang India, kalau mau menginjili orang Tionghoa kita harus mengenali orang Tionghoa—paling sedikit bahasanya, lalu kebudayaannya. Dan lebih lanjut lagi, seperti dikatakan William Carey yang melayani India berpuluh-puluh tahun, salah satu prinsip penting bagi seorang misionaris adalah dia harus mengenali jebakan-jebakan yang menawan pikiran mereka yang dilayani, yang membuat mereka tidak mau atau  menolak atau sulit di-injili. Setelah kita mempelajari semua itu, lama-kelamaan timbul satu kepercayaan dalam diri kita, seolah-olah kita yakin pasti bisa memenangkan mereka. Inilah yang sedang dikritik oleh Paulus; waktu Paulus datang untuk memberitakan Injil kepada orang-orang di Korintus, dia “tidak mau mempelajari apapun” di antara mereka, selain Kristus yang disalibkan.

Paulus bukan tidak mengerti filsafat –dia sangat mengerti. Paulus mempunyai pemikiran-pemikiran yang berhubungan dengan orang-orang Yunani; dia ada kontak dengan orang-orang Yunani, dan dalam Kisah Para Rasul dia menginjili orang-orang Epikurian dan Stoikisme yang adalah 2 aliran filsafat. Jadi Paulus bukannya tidak mengerti, tapi Paulus tidak mau datang dengan jaminan ‘karena saya sudah mengerti filsafat Yunani maka saya akan datang dengan hal itu sebagai kekuatan saya untuk menginjili kalian’, melainkan ‘aku datang dengan takut dan gentar, dengan kelemahan, bukan dengan kata-kata indah, bukan dengan kata-kata meyakinkan; aku tidak mau tahu apapun selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan’.

Paulus dalam 13 suratnya mempunyai pemikiran-pemikiran, yang baik anak SD maupun oma-oma bisa mengerti, tetapi pemikir-pemikir dari zaman ke zaman --terutama belakangan ini-- sangat mengakui dia sebagai seorang filsuf yang luar biasa. Banyak buku yang ditulis berkaitan dengan Paulus dan filsafat. Ada satu buku kumpulan tulisan yang sangat sulit dari pemikir-pemikir Postmodern, berjudul “Saint Paul and Philosophy”. Saya mempelajari sedikit dari buku ini; dan ada seorang pemikir yang mengatakan bahwa Paulus –bukan Aristoteles, bukan Socrates, bukan Plato-- yang menemukan the faculty of will (fakultas kehendak) di dalam diri manusia –bahwa ada kehendak dalam diri manusia. Paulus seorang yang luar biasa. Tetapi ketika dia datang kepada orang Yunani, dia memutuskan untuk tidak mau tahu apapun di antara mereka, seolah-olah Paulus mau mengatakan, “Satu-satunya hal yang saya bawa kepadamu adalah salib Yesus; saya tidak datang membawa filsafat Yunani, saya tidak datang membawa pengetahuan saya, saya tidak datang membawa kata-kata saya, saya hanya datang membawa Kristus, yaitu Dia yang disalibkan”. Inilah yang Paulus andalkan.

Apa ambisi Paulus yang kita pelajari di sini? Kita akan fokus bukan berkaitan dengan penginjilannya tetapi pemikirannya, karena Paulus berkata “aku memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa selain Kristus, yaitu Dia yang disalibkan”. Di sini Paulus seolah-olah mengatakan ‘saya mengarahkan pikiran saya kepada Kristus yang disalibkan’; ini adalah ambisi Paulus, dan juga undangan bagi kita supaya pikiran kita terus-menerus diarahkan kepada Dia yang disalibkan. Bagian ini merupakan lawan dari ‘seteru salib Kristus’ sebagaimana dinyatakan dalam Filipi pasal 3. Di situ Paulus berkata bahwa ada orang-orang yang menjadi seteru salib Kristus, yaitu mereka yang pikirannya semata-mata tertuju kepada perkara-perkara duniawi.

Ambisi Paulus yang pertama adalah pikiran yang terus-menerus diarahkan kepada salib Kristus. Kita bukan memikirkan salib Kristus hanya pada waktu Jumat Agung, atau pada waktu Perjamuan Kudus. Seringkali kita memang melokalisasi pikiran akan salib Kristus hanya ketika mengikuti Perjamuan Kudus dan Jumat Agung, lalu sepanjang hidup tidak lagi berfokus/ memikirkan salib Kristus. Saya pernah menghadiri suatu pemberkatan nikah, dan pendeta yang memimpinnya memulai seluruh kebaktian itu dengan kalimat yang sangat indah: “Saudara-saudara sekalian, hari ini ketika kita datang ke pemberkatan nikah, saya minta Saudara jangan memfokuskan pikiran kepada pengantin, tetapi kepada Kristus yang tersalib.” Itu suatu re-orientasi yang begitu bagus, karena biasanya ketika kita datang ke pernikahan, pikiran kita terarah kepada pengantin.
Saudara-saudara, dalam perjalanan hidup kita, dalam seluruh pergumulan kita, seringkali pikiran kita mengalami distraksi sedemikian rupa sehingga kita kehilangan satu arah pandangan yang seharusnya ditujukan kepada Kristus yang disalibkan. Distraksi ini bisa dialami, baik pada anak muda maupun orang tua; kalau saya pakai istilah yang lebih gampang, ada 2 “jatuh” yang mengganggu manusia, anak muda terganggu oleh “jatuh cinta”, orang tua terganggu oleh “jatuh tempo”. Kalau anak muda jatuh cinta, begitu bangun dia memikirkan orang itu, waktu mau tidur juga memikirkan dia lagi; sedangkan orang tua kalau sudah jatuh tempo tagihan jadi tidak bisa tidur, belum lagi cek kosong, dsb., lalu di situ distraksi muncul sehingga kita kehilangan fokus kepada salib Kristus.

Lukisan Caspar David Friedrich yang lain, yaitu “Morning Mist on the Mountains”, sebuah lukisan yang sangat indah. Dia melukiskan kabut di atas gunung, sehingga kalau kita melihat lukisan ini, kesannya kita naik ke atas gunung untuk melihat pemandangan tapi ada kabut jadi tidak bisa melihat dengan jelas, dan kita menyesal karena datang pada waktu yang salah. Saya melihat lukisan ini di sebuah museum di kota Kroningen, Belanda. Waktu melihat, pertama-tama saya merasa biasa karena sudah pernah melihat lukisan-lukisan Caspar David Friedrich yang lain. Lalu saya membaca deskripsinya, dan saya percaya penulisnya seorang Kristen yang sungguh-sungguh; dia menulis begini: “The redemption of humankind only come from the crucifixion of Christ” (penebusan umat manusia hanya datang melalui salib Yesus Kristus) --saya berdoa kiranya ada orang yang diselamatkan melalui membaca kalimat ini. Kalau kita melihat lukisan ini, sepertinya tidak ada salib di situ, tapi ketika kita perhatikan betul-betul, di atas gunung itu ada salib kecil yang begitu samar-samar, tidak bisa terlihat dalam gambar di internet. Saudara-saudara, kapan salib itu bisa terlihat dengan jelas? Salib itu bisa terlihat jelas kalau awan-awan lenyap.

Mengapa kadang-kadang pandangan kita kepada salib kabur? Karena ada awan kesenangan, ada awan masalah, ada awan ini dan awan itu, yang menghalangi kita. Justru di dalam begitu banyaknya awan, seharusnya pandangan kita diarahkan kepada Kristus yang tersalib. Justru waktu kita bergumul mengalami masalah, waktu kita diberkati Tuhan, waktu kita berhadapan dengan keluarga, dengan sakit penyakit, dengan anak-anak, seharusnya pikiran kita terus menerus diarahkan kepada salib Kristus. Inilah yang menjadi ambisi Rasul Paulus. Pikiran kita harusnya terus-menerus diarahkan kepada salib. Bukan hanya waktu Jumat Agung, bukan hanya waktu Perjamuan Kudus, tapi dalam seluruh perjalanan hidup kita, kita terus-menerus pergi ke Golgota seakan suatu shelter [tempat perlindungan] bagi kita, yang kita selalu mampir ke situ.

Di dalam hidup ini kita mempunyai banyak shelter; bisa shelter jasmani, bisa langganan bakmi atau langganan soto yang kita tidak pernah bosan mampir, atau ada juga shelter yang lain misalnya teman main catur atau ikan hias di rumah yang kalau mati bisa mengganggu kita. Ada satu cerita tentang orang yang mau menikah, dan si perempuan tinggal di rumah yang laki-laki untuk mempersiapkan pernikahan mereka. Lalu ketika sudah dekat hari pernikahan, tiba-tiba si perempuan keluar sambil nangis-nangis kepada calon mertuanya, “papi meninggal!” Celaka, kalau mau menikah lalu calon besan meninggal, itu berat bagi orang Tionghoa, dan juga orang Timur. Lalu mama mertua ini memanggil anak laki-lakinya, “Mengapa ini? Papinya sakit apa koq mendadak meninggal begini, serangan jantung atau bagaimana?” Si anak laki-laki bilang, “Bukan, maksudnya puppy (anak anjing)”. Ternyata anak anjing, bukan papinya yang meninggal. Begitulah kita seringkali ada shelter-shelter, tapi shelter yang sejati adalah Kristus yang tersalib, yang kepadanya harusnya kita pergi.

Di dalam seluruh pergumulan kita, kita musti terus-menerus pergi lagi, pergi lagi, dan pergi lagi. Pergi ke mana? Pergi ke Golgota, untuk melihat kembali, memikirkan kembali, meditating the cross of Christ, sebagaimana judul buku dari Dietrich Bonhoeffer “Meditations on the Cross” (sebenarnya merupakan kumpulan dari berbagai tulisannya mengenai salib Kristus). Mustinya kita seperti itu, terus memikirkan, tidak henti-hentinya, dan tidak dilokalisasi oleh season. Kita memikirkan salib tidak dibatasi oleh ruang, artinya bukan cuma waktu ke Israel baru kita bisa memikirkan salib, tapi di mana saja, juga waktu ikut KKR atau acara-acara yang berkaitan dengan salib. Namun pemikiran kita mengenai salib masih dibatasi oleh waktu, biasanya kita memikirkan salib karena Perjamuan Kudus dan Jumat Agung. Itu sebabnya panggilan Paulus dalam ambisinya yang pertama adalah pikiran yang terus diarahkan kepada salib Kristus (1 Kor 2:2).

Yang kedua, dalam Gal. 6: 14 Paulus mengatakan “... aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus.” Paulus menuliskan Surat Galatia dan surat-surat lainnya dalam masa ketika penyaliban masih menjadi terror apparatus Romawi, dan pemerintah Romawi memakai penyaliban bukan untuk kematian. Ada banyak cara kematian yang lebih mudah sebelum adanya terorisme, kecelakaan pesawat, serangan bom, kebakaran, atau tsunami; alam juga bisa membunuh banyak orang. Dalam Perjanjian Lama di kitab Raja-raja, ketika Raja Amazia membunuh orang Seir, dikatakan ada 10.000 orang sudah dibunuh dan masih 10.000 orang lagi sisanya yang dia suruh pergi ke bukit lalu dijatuhkan dari bukit, maka 10.000 orang itu mati sekaligus. Tapi yang diinginkan oleh Romawi bukan kematian, melainkan siksaan; salib adalah terror apparatus –alat untuk menakut-nakuti warganya.

Orang yang disalib bisa bertahan tergantung sampai berminggu-minggu; dalam peristiwa penyaliban Tuhan Yesus Kristus, dua penjahat di kiri kanan-Nya belum juga mati ketika Yesus mati sehingga mereka harus dipatahkan kakinya. Oleh sebab itu Injil Markus mencatat hal ini 2 kali, bahwa ketika Yesus mati dikatakan: ‘Waktu kepala pasukan  yang berdiri berhadapan dengan Dia melihat mati-Nya demikian, berkatalah ia: "Sungguh, orang ini adalah Anak Allah!”; kemudian ketika mayat Yesus akan diturunkan dan ada orang yang datang kepada Pilatus mengabarkan bahwa Yesus sudah mati, Pilatus heran begitu cepatnya Yesus sudah mati padahal seharusnya belum mati. Salib itu sangat menyakitkan karena orang yang disalib akan tergantung dan tulang-tulangnya akan lepas, darah menetes pelan-pelan, belum lagi dehidrasi, dan seterusnya. Salib adalah salah satu ancient torture yang amat sangat menyakitkan, amat sangat menakutkan. Itu sebabnya orang Romawi tidak memperbolehkan anak-anak mereka menyaksikan penyaliban. Zaman sekarang pemerintah-pemerintah dunia ingin menghapus hukuman mati, dan kalaupun masih ada, hukuman mati itu dijalankan dengan cara sangat manusiawi. Kalau di Indonesia hukuman mati dengan ditembak, dan dari 20 orang polisi yang menembak hanya 1 senapan berisi peluru yang akan kena ke jantungnya. Sangat manusiawi. Tetapi pada zaman dulu sangat tidak manusiawi.

Cicero, seorang filsuf Romawi mengatakan: “The term ‘crux’ is unspeakable to every polite Romans”. Kata ‘crux’, yang artinya salib, tidak boleh diucapkan oleh orang Romawi yang beradab, yang bermartabat. Ketika Pilatus menjatuhkan hukuman mati, dia tidak mengatakan “this man must be crucified” melainkan “this man is sentenced to death” (orang ini dijatuhi hukuman mati). Dia tidak pakai kata ‘salib’ sebab salib itu sesuatu yang sangat menakutkan, sangat menajiskan, unspeakable shame. Itulah pandangan mereka. Kalau salib begitu buruk, najis, jelek, bagaimana mungkin Rasul Paulus berkata “tidak ada hal lain yang aku banggakan selain di dalam salib Tuhan kita, Yesus Kristus”? Itu berarti Paulus mempunyai pandangan yang luar biasa kepada salib, sehingga dia tidak ada yang dibanggakan selain salib Tuhan Yesus.

Ada banyak hal yang bisa kita bicarakan mengenai keluar-biasaan salib Kristus, dan nanti kita akan masuk ke 2 hal yang dibicarakan Paulus. Sebelumnya, kita akan melihat yang dikatakan Bonhoeffer; dia mengatakan: “Encountering the cross of Christ is encountering the extraordinary” –berhadapan dengan salib Yesus artinya kita berhadapan dengan sesuatu yang luar biasa. Apakah yang luar biasa itu? Bonhoeffer mengatakan: “The love of Christ that brings to the suffering obedience”, dengan kata lain “love as an obedience”. Kasih sebagai bentuk ketaatan, bukankah ini biasa kita dengar? Tapi kalau Saudara pikir dengan lebih mendalam, dengan lebih detail, maka kasih sebagai bentuk ketaatan itu sulit tulus dan sulit sungguh-sungguh. Kalau zaman dulu orang mau menikah cuma dikasih lihat foto calonnya, lalu langsung mau, dan cinta bertumbuh seiring dengan berjalannya waktu. Tapi orang zaman sekarang kalau ada cinta baru akan menikah. Cinta sebagai bentuk ketaatan itu sulit tulus, sulit sungguh-sungguh; kalau orang dipaksa menikah, jadinya ‘hari ini Selasa sebab kemarin Senin dan besok Rabu, ya, sudahlah, saya terimalah karena mau bagaimana lagi’. Tulus dan sungguh-sungguh jadi luar biasa sulit.

Dalam film Titanic dari James Cameron (1997), tokoh Rose disuruh ibunya menikah dengan laki-laki kaya itu karena kondisi keuangan keluarga Rose carut-marut, banyak utang; tetapi Rose jatuh cinta dengan Jack, penumpang kelas 3. Di film itu terlihat segregasi sosialnya kental sekali; ada tulisan di pagar kapal itu ‘penumpang kelas 3 tidak boleh datang ke kelas 1’, padahal mereka satu ras. Jack dan teman-temannya yang ada di kelas 3 juga satu ras dengan yang di kelas 1, sama-sama orang Eropa. Tapi keluarga Rose berpikir kalau anaknya itu tidak menikah dengan laki-laki kaya, maka selain banyak utang, mereka juga akan turun kelas sosialnya. Rose tidak pernah sungguh-sungguh mencintai laki-laki kaya itu, meski mereka pergi ke jamuan makan yang bagus dengan baju yang begitu mewah, dsb.; terlihat di sini bahwa cinta sebagai bentuk ketaatan itu sulit tulus, sulit sungguh-sungguh. Tetapi, cinta kasih Yesus kepada Saudara dan saya adalah bentuk ketaatan Dia kepada Bapa, dan dilakukan-Nya dengan tulus dan sungguh-sungguh. Itu hampir mustahil.

Orang kalau dipaksa menikah, berapa cantik pun perempuan itu, dia akan bilang “gak ada chemistry”, dan  mungkin yang dia cintai seorang perempuan yang sangat jelek sehingga seluruh dunia goncang, seperti kata Amsal. Yesus ketika mengasihi Saudara dan saya dengan cinta kasih yang tulus dan sungguh-sungguh, itu adalah an obedience to His Father --suatu bentuk ketaatan kepada Bapa-Nya. Betapa luar biasa. Dia mengasihi kita dengan tulus, dengan penuh pengorbanan, dengan setia, dengan sungguh-sungguh, tetapi kasih Yesus dilakukan di atas kayu salib itu adalah suffering obedience to His Father.

Kembali ke film Titanic, tuluskah cinta Jack kepada Rose? Jack rela berkorban sampai mati. Ketika kapal Titanic tenggelam, ada potongan kayu kecil yang ditumpangi Rose jadi semacam sampan untuk menyelamatkan diri, dan Jack berpegangan pada kayu itu sementara tubuhnya di air laut yang dingin. Mereka berpegangan tangan sampai akhirnya Jack mati beku. Kita mungkin mengatakan “Jack ini berkorban, dia rela mati supaya pacarnya bisa selamat”, tapi jangan lupa, Jack sebenarnya sudah get everything, dia sudah tidur dengan Rose. Kalau kita bandingkan dengan pengorbanan Yesus, Dia get nothing, sementara pengorbanan Jack bukan pengorbanan yang tulus karena dia sudah get everything. Memang film ini sangat bagus, sangat romantis, dan merupakan salah satu film paling laku sepanjang sejarah, sampai-sampai ada seorang perempuan nonton film ini 50 kali. Ini film yang luar biasa, tapi kalau kita pikir-pikir dengan jujur, kita harus mengatakan bahwa film ini ceritanya brengsek! Film yang indah tapi kalau kita pikir dari perspektif Kristen sangat menakutkan; tidak heran, karena James Cameron sendiri hidupnya tidak beres. Tidak ada sutradara yang begitu diberkati Tuhan seperti James Cameron; di antara semua film sepanjang sejarah, hanya ada 2 film yang omzetnya mencapai 2 milyar dolar yaitu Titanic (2,2 milyar dolar) dan Avatar (2,7 milyar dolar), dua-duanya dari James Cameron. James Cameron tadinya seorang supir truk, yang pinjam uang, sewa kamera, dan bikin film, sampai kemudian namanya meledak di seluruh dunia melalui film Terminator. Dari orang yang begitu miskin jadi orang yang begitu sukses. Tapi ternyata setiap kali James Cameron bikin film, artisnya dia kencani. Waktu bikin Titanic, istrinya –yang sudah istri ke-empat—menceraikan dia karena James mengencani aktris yang memerankan cucu Rose dalam adegan Rose tua yang di kursi roda. Seperti itulah James Cameron; maka kita mengerti sebagaimana orangnya yang asli, seperti itu jugalah filmnya.
Tetapi ketika kita melihat kepada salib Kristus, betapa Dia mengasihi kita dengan tulus, dengan tidak mencari apa-apa, dengan sungguh-sungguh berkorban, namun kasih Yesus kepada kita itu adalah ketaatan Dia kepada Bapa. Itu luar biasa. Kasih sebagai bentuk ketaatan, itu sulit tulus, sulit sungguh-sungguh, tetapi Yesus melakukan dengan tulus, dengan sungguh-sungguh.

Kembali ke Galatia 6, kita mau menemukan alasannya Paulus mengatakan bahwa salib Kristus adalah kemegahan bagi dia satu-satunya dan tidak ada yang lain. Ada 2 pemisahan yang dilakukan oleh salib Tuhan, yang Paulus nyatakan di ayat 14 dan 15. Pemisahan pertama, salib Kristus memisahkan Paulus dari dunia; Paulus berkata “oleh salib itu aku mati terhadap dunia dan dunia mati bagiku”. Yang kedua, salib memisahkan Paulus dari hidup yang lama; Paulus berkata “bersunat atau tidak bersunat tidak ada artinya, menjadi ciptaan baru itulah yang ada artinya”. Dua pemisahan ini hanya mungkin dilakukan oleh salib, tidak mungkin dilakukan oleh yang lan. Itu sebabnya Paulus berkata bahwa satu-satunya kemegahan dia hanyalah salib.

Salib memisahkan kita dari dunia, dan salib memisahkan kita dari hidup yang lama. Separasi hidup yang lama dengan hidup yang baru hanya bisa terjadi oleh salib Tuhan Yesus. Kalau tidak ada salib Yesus, kita akan dicengkeram oleh dunia, kita juga akan mencengkeram kuku kita ke dalam tanah kebun dunia. Tetapi salib Yesus menceraikan kita dari dunia, dan membuat kita berjarak dari dunia. Jarak itu bukan jarak geografis, tapi jarak etika; salib Kristus memisahkan kita dari hidup yang lama. Ini yang menjadi dasar Paulus bangga akan salib Yesus. Oleh sebab itu salib Yesus adalah kebanggan kita, kemegahan kita, citra diri kita, identitas kita yang kita syukuri. Apa yang membuat kita paling bersyukur? Salib Tuhan. Apa yang menjadi pegangan kita? Salib Tuhan.

Di bagian akhir film Titanic, ketika kapal Carpathia membawa mereka yang selamat masuk ke kota New York, Rose yang selamat itu matanya terus melihat kepada patung Liberty, seolah-olah mengatakan “I have reached my dream.” Waktu itu transportasi hanya melalui kapal. Di dalam kapal Titanic yang tenggelam itu ada orang yang sangat kaya, namanya John Jacob Astor IV; ketika istrinya, Mrs. Astor, selamat, beritanya menjadi headline news New York Times pada waktu itu karena mereka keluarga yang sangat kaya di New York. Mereka termasuk orang-orang yang tadinya pergi ke Inggris untuk jalan-jalan dan sedang dalam perjalanan kembali ke New York.  Di kapal itu juga ada orang-orang yang sangat kaya dari Eropa, banyak yang dari Jerman atau Italia, yang harus  ke Southhampton dulu baru bisa menuju Amerika. Tapi penumpang di kelas 3 –tempatnya Jack—adalah orang-orang yang pergi ke New York untuk mencari kerja, karena New York adalah the capital of the world (di kota New York sekarang ini ada 800 bahasa). Semua orang pergi cari makan di situ. Ada banyak orang terkenal pergi ke New York --Gustav Mahler, Yo-Yo Ma dari Paris, para pelukis, artist, pemain film, dsb.-- mereka pergi ke kota itu untuk mencari penghidupan. Maka ketika kapal itu masuk kota New York, mereka melihat patung Liberty, dan “I have reached my dream... ” –inilah impianku, kebangganku, aku boleh masuk ke kota New York; dan khususnya ini dirasakan oleh mereka yang di kelas 3.

Tetapi bagi kita, dream kita bukanlah di dunia ini, karena dunia ini begitu cepat pergi, begitu cepat berlalu. Sepanjang sejarah, orang-orang --khususnya dalam seni lukis dan musik klasik--  pergi ke London (Handel ke London tahun 1700-an) dan ke Paris (Van Gogh dari Belanda pergi ke Paris), kemudian belakangan orang-orang pergi ke New York, sekarang mungkin orang pergi ke Shanghai, Beijing, Singapura, dan akan bergeser terus. Kalau kita pergi ke kota-kota di Amerika, kita merasa itu seperti kota-kota tua, kota-kota lama, rumah-rumah dan gedung-gedung tahun 80-an yang membuat kesan lama; tapi kalau kita pergi ke kota-kota di Asia, wah, luar biasa –menunjukkan sudah bergeser lagi. Dream kita bukan di sini, kita melihat kepada salib Kristus --bukan ke patung Liberty-- lalu kita berkata “I have reached my dream”. Itulah kebanggaan kita. Itulah yang Paulus katakan. Itulah ambisi Paulus, itulah syukur dia, itulah kebanggaan dia.

Yang ketiga adalah bagian yang paling sulit dari kotbah ini, bukan sulit kita pahami melainkan sulit kita lakukan. Paulus berkata dalam Flp. 3: 10 “Yang kukehendaki ialah mengenal  Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya,  di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya.” Apa itu persekutuan dalam penderitaan-Nya? Persekutuan dalam penderitaan-Nya, yang paling sederhana adalah Perjamuan Kudus; waktu Perjamuan Kudus, kita bersekutu dengan Kristus yang menderita. Dalam 1 Kor. 11: 26 yang sering dibacakan waktu Perjamuan Kudus, dikatakan: “Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang.” Kalimat ini mengandung 3 dimensi waktu: ‘setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini’ adalah masa kini, ‘kamu memberitakan kematian Tuhan’ adalah masa lalu, ‘sampai Ia datang’ adalah masa depan. Ini menggambarkan betapa perjalanan waktu kita dengan Tuhan tercakup dalam momen Perjamuan Kudus. Perjamuan Kudus itu multi-dimensi, bukan sekedar lambang masa lalu. Pada waktu makan roti ini dan minum cawan ini, memang adalah masa kini, bahwa sekarang ini kita bersekutu dengan Tuhan; tapi juga memberitakan kematian Tuhan yang adalah masa lalu, sampai Dia datang yaitu sampai ada Perjamuan Anak Domba di surga bersama dengan Tuhan. Itu menggambarkan mulitidimensional of the Lord’s Supper; ada dimensi yang kaya, dari masa lalu sampai ke masa depan.

Tapi persekutuan dalam penderitaan Kristus tidak berhenti sampai di situ. Paulus melanjutkan dalam kalimat berikutnya, yaitu “menjadi serupa dengan kematian Dia”. Coba kita pikirkan hal ini pelan-pelan, ada lubang yang akan kita masuki di situ dengan indah. ‘Serupa’ berarti tidak sama. Paulus tidak berani mengatakan ‘aku ingin sama dengan kematian Yesus’, sebab dia tahu dirinya tidak mungkin mati seperti Yesus mati, yaitu mati menggantikan orang lain. Pertanyaannya, kalau Paulus ingin serupa dengan kematian Yesus, berarti dia ingin matinya sama dengan siapa? Inilah lubang yang akan kita masuki.

Saudara-saudara, pada waktu Stefanus mati, Paulus hadir –ini data pertama. Data kedua: pada waktu Stefanus mati, Lukas --yang menulis Kisah Para Rasul-- menggunakan 2 kalimat yang sama isinya, sama hakekatnya, dengan 2 kalimat yang hanya dicatat oleh Lukas dalam kematian Yesus; kalimat pertama, “Ya Bapa, ampunilah mereka”, yang kedua, “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.” Dua kalimat ini jadi satu dalam Injil Lukas, dan 2 kalimat ini di-copy dan ditulis lagi waktu Stefanus mati, bukan karena Lukas yang menaruhnya tapi karena Lukas menangkap yang dikatakan Stefanus dari banyak kata-kata yang dikatakannya, dan Lukas mencocokkan itu dengan kalimat dalam kematian Yesus. Kalimat pertama Stefanus adalah, “Ya Tuhan, ke dalam tangan-Mu kuserahkan rohku”, dan kalimat keduanya, “Jangan tanggungkan darahku ini kepada mereka.” Kematian Stefanus sudah serupa dengan kematian Yesus, dan sekarang Paulus ingin kematiannya serupa dengan kematian Yesus, jadi artinya Paulus ingin sama dengan kematian Stefanus. Inilah jalan keluar dari lubang tadi –serupa dengan kematian Yesus berarti sama dengan kematian Stefanus. Bayangan ini ada karena Paulus hadir waktu kematian Stefanus, dan Paulus mendengar kata-kata yang diucapkannya. Kita berani melangkah ke pemikiran ini karena kita punya data-data yang cukup untuk menggiring kita kepada penafsiran ini.
Apa yang menjadi ambisi Paulus di sini? Ini hal yang sulit, tapi herannya menjadi ambisi Paulus. Tidak semua dari kita beroleh kesempatan seperti Paulus atau Stefanus, tapi ada satu bagian yang kita bisa ikut di dalamnya. Paulus berkata dalam 2 Kor. 12 ‘aku senang dan rela dalam kesukaran, senang dan rela dalam penderitaan-penderitaan karena kebenaran, senang dan rela dalam penderitaan-penderitaan karena ketaatan kepada Tuhan’; di situlah kita bisa berbagian. Waktu kita senang dan rela dalam penderitaan-penderitaan karena kebenaran, --bisa banyak contoh di kantor atau juga dalam kehidupan keluarga-- kita tahu bahwa kita berbagian dengan ambisi Paulus terhadap salib Kristus.

Yang terakhir, Paulus berkata dalam 1 Kor. 1: 22-24, “Orang-orang Yahudi menghendaki tanda (mujizat) dan orang-orang Yunani mencari hikmat (filsafat),  tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan”. Paulus tidak mengikuti mereka, tidak mencari popularitas, tidak menyenangkan massa, tidak menyesuaikan dengan pendengar. Paulus tidak takut ditolak, dia konsisten terhadap berita yang dirinya tahu dari Tuhan, dan dia sampaikan itu kepada mereka –“kami memberitakan Kristus yang tersalib”. Dalam konteks kita, ada satu bagian yang bisa kita masuki pada poin ini, yaitu ambisi untuk terus memberitakan salib Tuhan. Ini bisa masuk ke pembicaraan mengenai penginjilan; tapi dalam kesempatan ini poin saya adalah bahwa kita sebagai orangtua perlu meyakinkan anak-anak akan penderitaan Yesus.

Sebagai orangtua, kadang-kadang kita ingin anak-anak memahami pengorbanan kita, tetapi harus kita pahami poin yang penting ini, bahwa pengorbanan manusia tidak berkuasa mengubah manusia. Seandainya pengorbanan manusia bisa mengubah manusia, maka tidak ada anak yang kurang ajar kepada orangtua. Tapi terbukti dalam sejarah, meski orangtua berkorban pun, ada anak yang kurang ajar kepadanya. Paulus ketika menulis surat-suratnya, juga berkali-kali dia menulis kepada jemaatnya “ingatlah akan belengguku”; saya sudah mati-matian, kamu jangan main-main; saya sudah setengah mati, kamu jangan sembarangan –kira-kira begitu. Tidak salah, dan memang perlu juga pada taraf-taraf tertentu dan bagian-bagian tertentu anak mengerti pengorbanan kita sebagai orangtua, tapi itu bukan jaminan yang bisa mengubah mereka.

Dulu saya pernah pelayanan di Malang, di sana ada banyak mahasiswa dari daerah-daerah dan kampung-kampung, yang orangtuanya petani, dsb. Lalu di sebuah tempat fotokopi, pemilik fotokopi itu menempelkan kertas besar bergambar seorang bapak tua tidak pakai baju sedang mencangkul, dan ada tulisan besar-besar  “NAK, INGAT BAPAKMU NYANGKUL”. Pemilik fotokopi itu ingin memberikan pesan kepada anak-anak mahasiswa, ‘ingat, lu kuliah di sini jangan main-main, bapakmu setengah mati di kampung’. Memang kalau anak sama sekali tidak mengerti perjuangan orangtuanya, itu bahaya. Mereka anggap semuanya serba gampang, beli HP baru sebulan sudah beli lagi yang baru. Kadang-kadang kita lihat saudara kita yang hidup pada zaman sebelumnya, mereka punya kesulitan yang lebih besar. Orang yang kuliah zaman dulu, menulis skripsi pakai mesin tik; bayangkan kalau salah satu lembar, maka depannya dibuang semua. Saya pernah masuk sebuah sekolah teologi di Hongkong, dan saya melihat disertasi doktor tahun 1930-an sebanyak 300 halaman pakai tulisan tangan! Itu luar biasa perjuangannya. Tapi sekarang gampang, asal ada file, atau kita taruh di icloud, yang kalau kecemplung got bisa kita print lagi. Sekarang kita pergi ke mana-mana tidak usah print dulu tulisan-tulisan itu, nanti sampai di sana langsung print, setelah baca bisa disobek, buang, lalu nanti print lagi. Jauh lebih mudah. Tetapi kita perlu membawa anak-anak untuk mengerti bahwa orangtua ada kesulitan, orangtua ada perjuangan, jangan pikir gampang; namun yang paling penting harus mereka ketahui adalah penderitaan Tuhan Yesus, sebab penderitaan Yesus-lah yang berkuasa mengubah mereka.

Inilah ambisi Paulus. Ambisi untuk terus-menerus memikirkan salib Tuhan. Ambisi untuk bermegah, berbangga,bersyukur hanya di dalam salib Tuhan. Ambisi untuk bersekutu dengan penderitaan Tuhan dan menjadi serupa dengan kematian-Nya. Dan ambisi untuk boleh terus-menerus memberitakan kematian Tuhan Yesus di atas kayu salib. Kiranya ini juga Tuhan tanamkan menjadi bagian dalam ambisi kita, dalam perjalanan hidup kita, bersama dengan Tuhan.


Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah (MS)

Gereja Reformed Injili Indonesia Kelapa Gading

Download Ringkasan