Abraham, Sarai, Hagar, dan Malaikat TUHAN

Kita membahas bagian ini dengan melihat drama kisahnya lebih dahulu, kemudian sedikit demi sedikit masuk ke beberapa karakternya. Di sini ada karakter Sara, ada karakter Abraham, ada karakter Hagar, dan ada karakter yang misterius yaitu Malaikat Tuhan.

Di bagian awal cerita ini, kita melihat ada satu ketegangan yang langsung disajikan penulisnya, karena di ayat 3 dikatakan bahwa mereka sudah 10 tahun tinggal di tanah Kanaan, sementara kita tahu di pasal sebelumnya (Kej. 15) Tuhan telah berjanji kepada Abraham akan membuat dia menjadi bangsa yang besar. Bukan saja berjanji, Tuhan menyatakan itu dengan satu cara yang spektakuler, Dia menyuruh Abraham membelah binatang-binatang lalu suluh berapi lewat di antara potongan-potongan itu, yang pada dasarnya menyatakan ‘jikalau Aku tidak menepati janji-Ku kepadamu, biarlah Aku terbelah seperti binatang-binatang ini’ –biarlah Allah yang kekal menjadi fana, biarlah Allah yang tidak bisa mati menjadi terbelah-belah dan dipecah-pecahkan. Janji yang begitu besar ini ada di pasal sebelumnya, tapi pasal ini mengatakan bahwa telah 10 tahun berlalu dan anak yang dijanjikan itu tidak datang juga.

Sara lalu mengusulkan kepada Abraham, ‘sudahlah, yuk kita cari jalan lain’. Di bagian ini nuansanya bukan seperti orang yang belum juga punya anak lalu mulai memikirkan cara lain seperti inseminasi buatan dsb. –itu hal yang wajar—tetapi di sini Sara menggunakan kata ‘atsar’ ketika mengatakan “TUHAN tidak memberikan aku melahirkan anak”. Di sini terjemahan bahasa Indonesia terlalu halus, karena kata ‘atsar’ berarti menempatkan Allah dalam peran aktif yang menghalangi atau mencegah dirinya melahirkan anak. Suatu luapan emosi Sara, waktu dia mengatakan, “Tuhan itu sengaja menghalangi aku punya anak, jadi mari kita cari cara lain!” Ini bukan bagian yang menunjukkan Alkitab mengkritisi soal inseminasi buatan, melainkan menunjukkan tentang arah hati Sara, yang mencari jalan alternatif karena tidak mau menyerah kepada Allah, karena merasa Allah menghalanginya.

Selanjutnya diberikanlah satu usul oleh Sara, agar Abraham tidur dengan hamba wanitanya. Ide semacam ini bukan ide orisinal Sara, karena budaya mereka menganggap satu hal yang normal kalau memberikan budaknya untuk dihamili suaminya, lalu anak yang lahir itu dianggap anaknya sendiri. Belakangan dalam kisah Rahel dan Lea juga terjadi yang seperti itu. Dalam Kode Hammurabi –yang tentunya sebelum Musa—sudah ada bagian yang memuat secara detail perjanjian antara pasangan yang mau menikah (semacam prenuptial agreement), yang isinya mengenai keturunan, bahwa kalau si istri tidak bisa memberi keturunan, maka dia harus memberikan hambanya untuk dihamili oleh suaminya supaya mendapat keturunan, karena begitu pentingnya keturunan pada zaman itu. Dan lucunya, dalam Kode Hammurabi bukan cuma ada bagian yang mengatakan hal itu boleh dilakukan, tapi ada juga bagian yang menyatakan konsekuensinya dalam kehidupan keluarga jika hal itu sampai terjadi; dan bagian mengenai konsekuensi ini justru lebih banyak proporsinya. Bagaimanapun, dalam kultur zaman itu, memberikan hamba untuk dihamili suaminya adalah sesuatu yang wajar. Tidak heran karena di zaman itu budak dianggap properti, yang sama saja seperti ternak. Kalau sapi punya anak tentu saja anak sapi itu milik si majikan yang empunya sapi, demikian juga anak Hagar akan jadi anak Sara, propertinya Sara.

Setelah si budak ini dihamili, muncullah konsekuensinya, yaitu dia mulai belagu, mulai menghina Sara, mungkin mulai berani menatap matanya, dsb. Sebelumnya, power Sara di atas Hagar adalah karena Sara punya hal-hal yang Hagar tidak punyai, yaitu harta, nama, status. Tapi sekarang Hagar punya sesuatu, dan itu adalah hal yang Sara tidak punyai, bahkan  mungkin sekali tidak akan pernah mempunyainya; maka keadaan jadi terbalik, lalu Hagar mulai memandang rendah Sara.
Di ayat 5-6, akhirnya berkatalah Sara kepada Abraham: "Penghinaan yang kuderita ini adalah tanggung jawabmu; akulah yang memberikan hambaku ke pangkuanmu, tetapi baru saja ia tahu, bahwa ia mengandung, ia memandang rendah akan aku; TUHAN kiranya yang menjadi Hakim antara aku  dan engkau." Bagian ini biasanya akan membagi pendengar kotbah menjadi dua; pernah ada seorang hamba Tuhan waktu mengkotbahkan bagian ini dan membacakan kalimat Sara tersebut, seorang ibu langsung nyeletuk, “benar, Pak!”; sedangkan kaum pria biasanya mengatakan tidak fair Sara nyalah-nyalahin Abraham untuk sesuatu yang dia sendiri suruh lakukan. Tetapi kembali ke kalimat Sara ini, kita harus membacanya dengan tepat. Kalimat ini bukan terutama mau mengatakan siapa yang salah, tapi ini adalah kalimat yang terutama mau menyatakan isi hati Sara. Alkitab bukan mau memperlihatkan Sara sedang mendudukkan masalah, bahwa ini salahnya Abraham karena begini dan begitu, melainkan Sara yang sedang meluapkan emosinya, dan mengatakan kalimat-kalimat yang menyatakan perasaannya. Di bagian ini para pria boleh belajar, kadang-kadang pria tidak peka akan hal seperti ini, cuma mau mendegar logikanya, argumennya, dsb., tapi menolak untuk melihat perasaan di balik kalimat si wanita tersebut. Inilah yang seringkali membuat terjadinya miskomunikasi.

Kalimat yang Sara pakai di sini, “akulah yang memberikan hambaku ke pangkuanmu”. Di sini kata ‘pangkuan’ itu sebenarnya suatu istilah vulgar. Terjemahan bahasa Indonesia terlalu halus, tapi terjemahan yang lebih jelas kira-kira seperti ini: “Aku memberikan kepadamu hambaku di tengah pahamu, lalu ini yang aku terima, penghinaan, penderitaan!” Dia bukan sedang bicara baik-baik masalahnya begini begitu, siapa yang salah, dsb. tapi sedang menyatakan emosinya. Kalau kita cuma mau tahu siapa yang salah, kita meleset di sini. Tentunya saya bukan mengatakan Sara tidak salah di bagian ini –tentu dia salah—tapi saya cuma mau memperlihatkan bagaimana Alkitab pun menyajikan kalimat Sara ini dengan faithful, dan kita harus membacanya juga dengan cara baca yang tepat, bahwa ini suatu emosi yang mentah, suatu teriakan dari penderitaan.

Bagaimana Abraham menjawab? Ayat 6: "Hambamu itu di bawah kekuasaanmu; perbuatlah kepadanya apa yang kaupandang baik." Jawaban Abraham ini merupakan jawaban yang boleh dikata betul-betul kacau, karena jawaban ini adalah suatu pengunduran diri. Ini persis menunjukkan kesalahan dia, yaitu menolak untuk jadi pemimpin. Dia menolak untuk memimpin Sara. Tindakannya persis sama dengan yang terjadi di bagian awal; ketika Sara mengajukan ide jeniusnya supaya Abraham menghamili Hagar,  di situ tidak dikatakan Abraham mengatakan apapun. Dan sekarang ketika di-konfrontasi dengan outcome-nya, yang Abraham lakukan adalah mengundurkan diri lagi. Dia mengatakan, ‘ya sudahlah, itu ‘kan hamba lu, properti lu, ternak lu, lu urus aja sendiri; mau ngapain sih ribut-ribut, dia itu budak, dia itu barang, perlakukan saja seperti barang’; dan ini kalimat yang keluar dari bapa orang beriman! Di bagian ini para pria musti mengerti mengapa ada ibu-ibu yang setuju dengan kalimat Sara tadi, karena di balik kalimat tersebut sebenarnya mau mengatakan, ‘Kamu itu di mana? Di mana otoritasmu? Kamu ‘kan suami, kamu ‘kan yang mau jadi pemimpin, kamu ‘kan selalu menuntut untuk pegang otoritas, dan ini situasi yang harusnya kamu pakai otoritasmu, tapi kamu tidak melakukannya. Kamu yang harusnya jadi penjaga supaya hal-hal seperti ini tidak terjadi, tapi di mana kamu? Apa yang kamu kerjakan? Kamu hilang. Lalu setelah semuanya sudah terjadi dan saya komplain atas yang kamu lakukan, kamu hilang lagi’. Kira-kira seperti itulah  miskomunikasi yang terjadi. Dan ini terjadi pada pahlawan iman, pada keluarga orang beriman.

Setelah itu Sara menindas Hagar. Waktu bagian ini mengatakan ‘Sara menindas Hagar’, orang Israel yang mendengar kisah ini ikut meringis, karena kata yang dipakai adalah ‘anah’, kata yang persis sama yang dipakai untuk menggambarkan tindakan orang Mesir di kitab Keluaran, waktu dikatakan ‘orang Mesir menindas bangsa Israel’. Kita tahu, kitab Kejadian ini diberitakan kepada orang-orang di zaman kitab Keluaran ketika mereka keluar dari Mesir berada di padang gurun, orang-orang yang sudah pernah merasakan penindasan Mesir; dan sekarang mereka melihat Sara menindas Hagar. Kita mungkin tidak bisa membayangkan berapa sadisnya Sara menindas Hagar sehingga Hagar sampai kabur. Kita mungkin pikir, bukankah pembantu kabur itu biasa, kadang-kadang mereka juga sensi, ‘gak diapa-apain kabur. Tapi zaman kita beda dengan zaman mereka itu. Pertama, kita harus ingat bahwa Hagar sedang hamil. Kedua, Hagar itu sendirian karena dia seorang Mesir di tengah-tengah orang Abrahamic, sehingga kalau dia kabur, dia tidak ada komunitas, tidak ada harapan. Orang seperti ini, --yang hamil, sendirian, apalagi budak yang kalau kabur berarti jadi buronan, dan kalau tertangkap tidak akan cuma dihukum tapi juga dijadikan “contoh” bagi budak-budak lain—memilih untuk kabur dibandingkan tetap tinggal di bawah penindasan Sara, bisa dibayangkan betapa parah penindasan yang dialaminya.
Sekarang kita coba perhatikan karakter Sara. Waktu kita melihat karakter Sara, yang paling ironis adalah bagian ini membuktikan sebenarnya bukan cuma Hagar yang jadi budak, tapi juga Sara. Mengapa? Karena Sara itu mandul, dan dia berada dalam satu budaya yang mengatakan ‘kalau kamu tidak bisa punya anak, kamu tidak ada harganya, kamu gagal, kamu sampah masyarakat’. Saking diperbudak oleh budaya seperti ini, Sara sampai mengatakan ‘saya mau kendalikan kemudi hidupku sendiri, saya tidak mau menunggu waktu Tuhan’. 

Sara adalah budak dari budayanya. Di bagian ini kita bisa refleksi sedikit. Mungkin kita mengatakan ‘untung zaman sekarang tidak seperti itu, tidak sebegitu beratnya menempatkan wanita harus punya anak; wanita dalam kultur kita sekarang sudah lebih bebas, boleh punya anak, boleh tidak punya anak, boleh menikah dengan siapapun yang dia mau, boleh tidak menikah, boleh kerja, dsb., kita sudah lebih baik’, tapi apa benar begitu? Dalam kultur tradisional seperti Sara, memang dia dalam perbudakan nilai-nilai kekeluargaan oleh karena kebahagiaan dan kelangsungan hidup sebuah keluarga adalah yang paling tinggi nilainya, tetapi bukankah sebenarnya dalam kebudayaan modern juga seperti itu? Sama saja. Kalau dalam kultur tradisional para wanita sepertinya ditindas, zaman sekarang pun sama. Buktinya, zaman dulu --bahkan juga dalam kultur tradisional yang masih ada di beberapa tempat terpencil hari ini-- tidak ada bulimia dan anoreksia. Itu justru muncul dalam kultur modern yang katanya wanita bebas, mau jadi apapun boleh. Dan waktu dikatakan bahwa wanita di kultur modern bebas untuk menikahi siapa saja, apakah  benar begitu? Para wanita tahu, dia bebas untuk menikah dengan orang yang tertarik padanya –tertarik dengan wajahnya, dengan hartanya, dengan kepintarannya, dengan kelebihan-keebihannya. Artinya, dia bebas untuk menikahi orang yang dia bisa tarik, dan itu sama saja tidak bebas sebenarnya. Akhirnya, meski di lubuk hati terdalamnya wanita tahu bahwa pakai make-up, celana ketat, hak tinggi, itu tidak terlalu nyaman, dia tetap memakai itu semua karena tetap ada ke-terpenjara-an ini.  Tetap ada garis yang dibentuk oleh budaya tersebut. Dalam budaya tradisional, garisnya adalah keluarga –punya anak, dsb.; sementara dalam budaya modern garisnya adalah ‘kalau kamu punya ini --sukses, cantik, pintar-- kamu oke, kalau kamu tidak punya ini, kamu gagal, kamu sampah masyarakat’. Jadi Sara dalam perbudakan, tapi kita juga dalam situasi yang sama seperti Sara. Ini mengerikan.

Problem Sara yang paling besar bukanlah dia itu mandul secara fisik. Problem Sara yang paling besar –yang mungkin juga problem kita meski kita tidak mandul—adalah kemandulan secara rohani. Ada sesuatu yang bolong di dalam hati kita, yang kita ingin diisi, yang kita ingin cari, sehingga akhirnya kita diperbudak oleh hal-hal  tersebut, karena kita tidak dimiliki oleh Tuhan, karena kita tidak memiliki Tuhan. Saudara musti mempertanyakan ini pada diri sendiri ketika melihat Sara, bukan cuma merasa kasihan kepada Sara yang diperbudak. Waktu melihat Sara, kita bisa bercermin, karena kita semua juga diperbudak oleh sesuatu. Hagar budak secara literal, Sara budak dari budayanya, kita diperbudak apa? Kalau kita tidak merasa diperbudak, sebenarnya itu indikasi bahwa kita sedang diperbudak.

Sekarang kita akan melihat Abraham. Di bagian ini kita melihat sinyal dari Alkitab yang menyatakan memang Sara ada salahnya, tapi Abraham juga salah besar. Ini jelas sekali di ayat 3, ‘Abraham mendengarkan perkataan Sara’. Di sini bukan berarti para suami tidak boleh mendengarkan perkataan Sara, karena tadi kita juga sudah membahas bahwa bukan saja perlu mendengarkan perkataannya, tapi terutama juga perasaan di balik perkataan itu. Alkitab bukan secara hurufiah menyalahkan para suami yang mendengarkan perkataan istrinya, tetapi di sini ada arti yang lebih dalam --ini adalah kutipan dari kejadian Adam dan Hawa. Adam dan Hawa jatuh dalam dosa karena Adam mendengarkan perkataan Hawa. Inilah yang mau dinyatakan di bagian ini; bukan soal mendengarkan secara hurufiah melainkan yang terjadi di balik itu, yaitu pria ini tidak mau mengambil posisi kepemimpinan, menolak untuk jadi pemimpin. Ini satu hal yang bisa langsung kita refleksikan sebagai problem kita semua, karena Abraham itu di satu sisi menolak untuk jadi pemimpin atas Sara, tapi dia mau jadi pemimpin atas hidupnya.

Kita tahu bahwa dua wanita ini mewakili 2 jalan kehidupan. Yang satu adalah Sara, yaitu mewakili jalan anugerah. Menerima anugerah Allah, bagi Abraham itu berarti menunggu Allah, bergantung total kepada Allah, dan konsekuensinya dia harus menunggu mujizat, dia tidak bisa mengerjakan apa-apa. Berada dalam posisi seperti ini sangat tidak enak. Jangan pikir menerima anugerah itu gampang; menerima anugerah itu sulit sekali, maka dikatakan “kalau bukan karena anugerah, tidak mungkin bisa menerima anugerah”. Di sisi lain, ada jalan Hagar. Kalau misalnya dalam hal keselamatan, jalan yang tadi  berarti keselamatan oleh karena anugerah, mujizat, pekerjaan Allah; sementara jalan yang ini berarti keselamatan lewat pekerjaan manusia, yaitu ‘saya bisa mengerjakan sesuatu, saya punya kuasa untuk mengubah arah sejarah, saya bisa berdampak, dan itu akan membawa kepada apa yang saya mau’.

Kita selalu berpikir, koq susah sekali orang mengerti Kekristenan; bukankah orang agama lain bekerja, bekerja, bekerja, dan tidak tentu selamat, sedangkan Kekristenan tinggal terima anugerah lalu selamat?? Waktu melihat Abraham, kita jadi mendapatkan perspektif mengapa menerima anugerah begitu sulit, yaitu karena manusia ingin menjadi raja, manusia ingin memilih sendiri. Menerima anugerah berarti bergantung total kepada Allah, harus tunggu mujizat, tidak tahu kapan akan dikasih –dan itu tidak enak. Sedangkan keselamatan oleh karena tangan sendiri itu enak, itu sesuatu yang kita inginkan karena ‘ada sesuatu yang saya bisa kerjakan, ada sesuatu yang saya bisa lakukan, ada berkat yang saya bisa raih, di dalam waktu saya’. Itulah yang menarik bagi kita; maka di dunia ada ucapan “if you wanna do something right, you gotta do it yourself” (kalau kamu mau mengerjakan sesuatu dengan benar, kerjakan sendiri). Kita tahu ini kebohongan, ini suatu perbudakan juga, karena kalau kita berpikir bahwa diri kita bisa mengerjakan sendiri, bahwa kita bisa berdampak atas sejarah secara sendiri, bahwa kita bisa melakukan sesuatu dengan tangan kita sendiri, itu cuma membuktikan visi kita terlalu sempit. Contohnya, kalau Pendeta Billy meminta Saudara mengecat kantornya, Saudara akan langsung bilang, “Siap, Pak, akan saya kerjakan.” Tapi kalau disuruh mengecat satu gereja ini, Saudara akan mengatakan, “Wah, saya tidak sanggup sendiri, Pak, saya butuh orang lain.”

Ketika dalam hidup ini kita mengatakan “saya bisa kerjakan sendiri, saya bisa berdampak, saya bisa melakukan”, itu cuma membuktikan visi kita terlalu sempit. Saudara pikir pekerjaannya cuma mengecat kantor, tetapi Allah minta kita untuk mendatangkan kerajaan Allah! Itu hal yang tidak bisa dikerjakan sendirian. Dalam hal keselamatan mungkin Saudara memang mengatakan “saya menerima anugerah, saya tidak seperti Abraham”, tapi bagaimana dalam hal kerohanian sebagai seorang yang bergereja? Kalau Saudara tidak mau ikut KTB, tidak mau bergabung dengan persekutuan bersama komunitas orang-orang yang menyebalkan itu, bukankah Saudara sedang mengatakan ‘saya bisa mengerjakan kerohanian saya sendiri’?? Dan itu sesuatu yang tidak mungkin; itu bukti bahwa visi Saudara terlalu sempit, Saudara tidak mengerti yang Tuhan mau kita kerjakan. Ini hal yang perlu kita refleksikan, karena seringkali seperti itulah kita.

Kita sudah melihat bagian ini mengenai apa ceritanya, kita sudah melihat Hagar yang ditindas, Sara yang diperbudak meski dia majikan, Abraham yang harusnya memimpin tapi tidak mau memimpin dan mungkin malah mau memimpin Tuhan; lalu apa inti dari seluruh cerita ini? Mungkin kita baru sadar, koq pahlawan-pahlwan iman ini hidupnya hancur; bukankah Alkitab itu buku keagamaan yang harusnya berisi contoh-contoh hidup orang yang dekat dengan Tuhan dan kita harus teladani sebagai satu pedoman?? Seperti cerita Unyil, setiap kali selesai satu kisahnya, selalu muncul Semar yang akan mengatakan, “Jadi, anak-anak, begini, begini, begini, ya ... “, dan kita pikir Alkitab seperti itu, lalu kita jadi keberatan waktu Alkitab isinya orang-orang yang hancur seperti di bagian ini. Hal ini mengingatkan kita kembali, bahwa Alkitab itu bukan buku moral. Alkitab adalah buku Injil.
Kalau Alkitab adalah buku Injil, itu berarti isinya bukanlah contoh-contoh moral melainkan catatan anugerah-anugerah Allah yang masuk ke dalam hidup orang-orang yang tidak patut, yang tidak mencari Tuhan, yang seringkali ngeyel, bahkan yang tidak bisa menghargai anugerah Tuhan meski sudah menerima. Jika Saudara melihat dan mengetahui ini dengan jelas, Saudara tidak akan keberatan dengan adanya cerita-cerita yang hancur dan tokoh-tokohnya yang seperti ini. Saudara tidak akan geleng-geleng kepala koq bisa-bisanya pahlawan iman seperti itu, karena pahlawannya memang bukan mereka. Cerita Alkitab bukan terutama mengenai mereka. Cerita Alkitab bagian ini bukan mengenai Abraham yang selalu sanggup untuk melakukan apa yang benar; tidak sama sekali. Memang ada juga cerita-cerita seperti itu juga; kalau kita mundur sedikit ke awal, kita melihat Abraham yang bisa melampaui keterbatasan budaya. Waktu itu budaya senioritas kental sekali, tapi terhadap Lot dia tidak mengatakan ‘Lot, lu ke sana yang jauh, gua ambil yang enak sebelah sini’, sebaliknya dia mengatakan, ‘silakan lu pilih dulu’ –yang junior pilih dulu, lalu yang tua dapat sisanya-- ini melampaui kebudayaan manusia. Tapi sebagaimana manusia pada umumnya, adakalanya di atas, adakalanya di bawah, hidupnya hancur; demikian juga Kejadian15 baru saja membicarakan janji Tuhan yang luar biasa, tapi cerita berikutnya adalah Abraham jatuh, Abraham melakukan dosa, Abraham main hakim sendiri. Kalau Saudara menyadari Alkitab adalah buku Injil, Saudara tidak akan keberatan dengan itu semua, karena tahu bahwa Alkitab bukanlah buku mengenai manusia, tetapi buku mengenai yang Allah lakukan bagi manusia-manusia ini, tentang bagaimana Allah terus-menerus datang dan berbicara kepada orang-orang ini, melindungi mereka, menolong mereka, menyelamatkan mereka, lagi, lagi, dan lagi.

Mungkin Saudara memang mengatakan, “Ya, saya tahu Alkitab itu bukan terutama mengenai siapa kita dan apa yang kita harus lakukan, tetapi mengenai Allah dan apa yang Dia telah lakukan”, tapi apakah Saudara menghidupinya? Justru inilah problemnya. Saudara mungkin sudah datang ke Alkitab dengan konsep yang benar, bahwa ini buku mengenai wahyu Allah dan jangan cari contoh moral kehidupan manusianya, tetapi waktu Saudara datang ke gereja, cerita apa yang Saudara pikir ada di Gereja? Datang ke Alkitab, Saudara tahu bahwa cerita Alkitab bukanlah tentang manusianya, bukan pahlawan-pahlawan iman yang adalah manusia, tapi tentang Allah yang beranugerah meskipun manusia-manusianya ngeyel dan bodoh; sedangkan ketika datang ke Gereja, Saudara mengatakan “Orang Kristen koq gitu, ya?? Majelis koq gitu, ya?? Diaken koq gitu, ya?? Hamba Tuhan koq gitu, ya??”

Saudara, cerita Alkitab itu juga cerita Gereja. Cerita Gereja bukanlah cerita tentang kumpulan orang-orang elit, pahlawan-pahlawan iman, contoh-contoh moral, yang hidupnya bisa kita teladani. Cerita Gereja –sama seperti Alkitab—adalah cerita Allah berkali-kali mencari, melindungi, memberkati, menjaga, menegur, mendidik, dan terlebih dahulu memberikan anugerah-Nya kepada orang-orang yang ngeyel, yang bodoh, yang ke sana ke sini, yang tidak mau mendengarkan Dia, yang terus-menerus tidak belajar menghargai anugerah-Nya meski sudah diberikan. Itulah cerita Alkitab. Itu juga cerita Gereja. Jadi mengapa kita harus kaget ketika kita datang ke gereja dan menemukan Gereja dengan segala kekurangannya? Inilah poin dari bagian Alkitab yang kita baca, yaitu mengajak kita melihat cerita apa yang kita percaya, dan cerita apa yang sesungguhnya ada dalam Gereja. Bukan berarti dalam Gereja tidak ada standar. Kita melihat di dalam Gereja ada banyak orang yang ‘koq kayak gitu’, dan itulah standarnya, yaitu menyadari bahwa cerita Gereja bukanlah mengenai orang-orang yang di gereja melainkan mengenai Allah yang bekerja bagi mereka. Ketika kita datang ke gereja dan kita menyadari hal ini, bahwa Gereja bukanlah aksi panggung para manusia tetapi Gereja adalah aksi panggung Tuhan Allah, maka justru itu yang akan menghasilkan Gereja yang menarik bagi dunia.

Pendeta Ronald Oroh pernah cerita, waktu menginjili, dia bertemu teman lamanya yang kenal busuk-busuknya semua, lalu si teman mengatakan, “Hah, lu jadi pendeta??” dan Pak Ronald jawab, “Iya, gua juga ‘gak nyangka jadi pendeta.” Seandainya certa Gereja adalah cerita moral, tentu Pak Ronald akan marah, ‘kamu jangan sembarangan, ya, menghina Gereja Tuhan; Gereja Tuhan adalah orang-orang yang dipilih, orang-orang yang hebat, orang-orang yang di atas, fokus perhatian Tuhan, kamu tidak boleh hina!’ Tapi tidak seperti itu; jika seperti itu, tidak ada juga orang yang mau datang ke gereja. Yang dikatakan Pak Ronald justru adalah: “Kamu ‘gak nyangka saya jadi hamba Tuhan, saya juga ‘gak nyangka” --saya juga tidak menyangka, saya begitu hancur, begitu busuk, kamu cuma tahu sebagian, dan Tuhan paling tahu sepenuhnya, tapi koq bisa Tuhan pilih saya jadi hamba Tuhan, koq bisa saya jadi orang Kristen sementara orang lain yang lebih baik daripada saya justru tidak datang ke gereja; mengapa saya bisa ada di sini? saya juga tidak menyangka bisa jadi orang Kristen, maukah kamu mengenal Allah saya yang seperti ini? Itulah justru Allah yang menarik. Itulah justru Gereja yang menarik di mata dunia. Mengapa? Karena mereka menyadari bahwa cerita Gereja bukanlah mengenai diri mereka tetapi mengenai Allah. Ini paradoks, tapi inilah yang terjadi.

Sekarang kita masuk lebih jelas lagi, jadi siapa tokoh utamanya di dalam certa ini? Korbannya jelas Hagar, penjahatnya Sara dan Abraham. Pahlawannya jelas bukan mereka itu, karena kita sudah melihat mereka tidak ada positifnya sama sekali dalam cerita ini. Pahlawannya kita temukan dalam tokoh keempat, karena di akhir cerita, Hagar kabur lalu datanglah seseorang yang menyetop semua kehancuran ini dan memutar balik arah ceritanya, yaitu Malaikat Tuhan. Perhatikan yang dikatakan Malaikat Tuhan kepada Hagar di ayat 9: "Kembalilah kepada nyonyamu,  biarkanlah engkau ditindas di bawah kekuasaannya." Malaikat Tuhan itu mengatakan kepada Hagar untuk meberikan dirinya kembali ditindas nyonyanya; dan di sini kata ‘ditindas’ kembali memakai ‘anah’ --aneh sekali. Dan lebih aneh lagi lanjutannya di ayat 10 yang mengatakan: "Aku akan membuat sangat banyak keturunanmu, sehingga tidak dapat dihitung karena banyaknya" --‘Aku akan membuatmu menjadi bangsa yang besar’-- apa-apaan ini??

Menjadi bangsa yang besar adalah mimpi semua orang pada zaman itu, tetapi yang dikatakan Malaikat Tuhan ini bahwa jalan untuk menjadi bangsa yang besar, adalah dengan cara kamu kembali masuk ke bawah penindasan nyonyamu itu. Sebagai pembaca, kita menyadari dua hal ini tidak bertabrakan karena kita melihatnya dengan perspektif pembaca yang sudah tahu ending-nya. Kita juga sudah melihat bahwa Hagar yang kabur, yang sedang hamil, sendirian dari suku lain di tengah-tengah zaman  yang sangat rasis, lagipula dia seorang budak yang sedang buron, jadi kalau dia terus-menerus kabur maka dia pasti mati. Satu-satunya cara untuk dia bisa hidup, memang dengan kembali kepada Sara. Kita juga tahu --di pasal 21-- suatu hari nanti Sara memang tidak berhenti kesal kepadanya, dan saking kesalnya dia bukan hanya menindas tapi akhirnya akan mengusir Hagar. Maka pada saat itu, hal yang pertama, Hagar pergi dalam keadaan tidak hamil karena anaknya sudah lahir. Kedua, dia bukan lagi buronan, dia sungguh bebas karena dia diusir, bukan kabur, sehingga tidak ada bahaya mengancam dari segi dirinya akan ditangkap. Akhirnya, ketika dia benar-benar kehausan, kelaparan, dan anaknya sudah mau mati, Tuhan menyediakan sumur sehingga mereka bisa hidup di padang gurun. Dan kita benar-benar tahu bahwa hari ini, bangsa mereka itu menjadi bangsa yang teramat sangat besar. Jadi semua yang Tuhan katakan itu terjadi, tapi terjadinya lewat cara yang aneh bagi Hagar, meski bagi kita yang sudah melihat keseluruhannya itu masuk akal. Pertanyaannya, kalau Saudara berada di posisi Hagar,  Saudara berespons seperti apa?

Bukankah dalam kehidupan kita juga ceritanya seperti ini? Kita berada dalam perspektif yang terbatas; lalu Tuhan mengatakan kepada kita, “Tetap stay di dalam ketertindasanmu; ini yang harus kamu lakukan dalam ketertindasanmu, dalam keadaan yang tidak enak, yang sulit, yang menderita, karena lewat inilah Aku mau menyatakan berkat-Ku“; dan kita tidak mau. Tetapi waktu kita melihat bagian ini, satu hal yang langsung nyata, kita harusnya sadar bahwa kita adalah orang-orang yang tidak punya pandangan yang lengkap. Allah itu kadang-kadang memang menyuruh kita melakukan hal-hal yang seperti berlawanan dengan akal kita, dengan  ide kita, dengan apa yang kita anggap baik, dengan yang kita anggap pasti benar; tetapi mengapa kemudian ternyata hal-hal itu benar-benar berhasil? Karena kita tidak bisa melihat sebagaimana Allah melihat. Pertanyaannya, bisakah kita hidup dengan iman kepada Allah yang seperti ini?

Satu hal yang pasti, Allah akan memberikan kepada Saudara semua yang Saudara minta, kalau Saudara tahu semua yang Dia tahu. Seandainya Saudara benar-benar tahu semua yang Dia tahu, maka hal yang menjadi permintaan Saudara dengan hal yang Tuhan berikan, pasti tidak ada bedanya sama sekali; masalahnya, kita tidak benar-benar tahu. Kalau begitu, kasih tahu dong, Tuhan! Coba Saudara pikir, seandainya Tuhan datang kepada Hagar lalu mengatakan, “Jadi begini Hagar, nanti beberapa tahun lagi, ... “, maka Hagar akan langsung jawab, “Tidak mau Tuhan! Tidak peduli apa yang akan terjadi beberapa tahun lagi, saya sudah ‘gak tahan!” –itulah yang akan terjadi. Dikasih tahu pun tidak mungkin bisa mengerti, karena kita terbatas; oleh sebab itu harus trust.
Kita pakai contoh seorang anak kecil. Anak itu tangannya mengarah ke sebuah botol kaca, lalu kita bilang, “Tidak boleh!” dan anak itu jawab, “Mengapa tidak boleh?!” Lalu kalau kita jawab, “Karena itu racun”, dia balas lagi, “Mengapa racun tidak boleh?!” Lalu kalau kita menjelaskan mengenai nutrisi dan cara kerjanya masuk ke dalam tubuh, dan sebagainya, dia juga tetap tidak bisa mengerti, jadi ujungnya harus ‘sudahlah, lu percaya gua’. Mengapa? Karena pengetahuanmu dan pengetahuan saya itu beda jauh. Begitulah juga yang terjadi antara kita dengan Tuhan; gap antara pengetahuan kita dengan Tuhan berbeda jauh, bahkan jauh lebih besar skalanya dibandingkan beda seorang anak dengan orangtuanya. Inilah hal penting yang kita perlu pelajari di bagian ini.  Momen ketika kita pikir sudah melihat semuanya, adalah momen kita paling buta. Tetapi momen ketika kita mulai melihat bahwa kita tidak melihat semuanya, justru adalah momen kita mulai sembuh dari kebutaan. Kalimat yang terkenal dari Elisabeth Elliot: “Tidak masuk akal untuk segala sesuatu yang Tuhan lakukan dan rencanakan, itu masuk akal buat saya, karena Dia Tuhan dan saya bukan Tuhan”.

Pertanyaan berikutnya, bagaimana bisa Hagar mau disuruh kembali ke dalam penindasan Sara; apa yang terjadi dalam diri Hagar? Jika kita di posisi Hagar, kita bakal tidak mau. Jadi kalau begitu, berarti Hagar superhero-nya dong, karena dia yang berhasil berbalik. Tidak. Ini bukan karena Hagar-nya melainkan karena Malaikat Tuhan. Coba Saudara perhatikan, ada satu hal yang aneh waktu kita merenungkan identitas Malaikat Tuhan ini kalau kita bandingkan dengan bagian-bagian lain yang mencatat mengenai malaikat Tuhan. Misalnya ketika  kelahiran Yesus diberitakan, atau ketika kebangkitan Tuhan Yesus diberitakan, atau ketika Yohanes menerima wahyu dari Tuhan di Pulau Patmos, di situ ada malaikat, tapi malaikat-malaikat tersebut tidak menempatkan dirinya seperti Malaikat Tuhan yang ini. Dalam Why. 22 Yohanes mengatakan ‘aku tersungkur di depan kaki malaikat, yang telah menunjukkan semuanya itu kepadaku, untuk menyembahnya.  Tetapi ia berkata kepadaku: "Jangan berbuat demikian! Aku adalah hamba, sama seperti engkau dan saudara-saudaramu, para nabi dan semua mereka yang menuruti segala perkataan kitab ini. Sembahlah Allah! " Malaikat-malaikat itu selalu mengatakan ‘jangan takut, aku bukan Allah, jangan sembah saya’, tetapi Malaikat Tuhan yang bertemu dengan Hagar itu berbicara dan bertindak seakan-akan Dia adalah Allah sendiri. Malaikat-malaikat yang lain mengatakan “Allah berfirman ... ”, tetapi Malaikat Tuhan ini mengatakan “Aku akan melakukan ... . “ Itu sebabnya para komentator mengatakan bahwa ini bukan sekedar malaikat melainkan Allah yang sedang menunjukkan diri-Nya kepada Hagar. Dan Hagar pun sepertinya mulai sadar akan hal ini, kita melihat di bagian akhir dia mengatakan “Sungguhkan ini Dia yang aku lihat? Sungguhkah aku melihat Dia, yang telah melihat aku ini?” --Hagar mulai bingung, siapa ini sebenarnya.

Kalau memang itu Allah, mengapa Dia tidak menyatakan saja diri-Nya Allah? Itulah yang membingungkan. Kalau Saudara lihat penampakan Allah dalam pasal-pasal sebelum Kejadian 16, Allah selalu muncul dengan kehadiran-Nya yang mengerikan, yang traumatis bagi manusia. Di pasal 15 ketika Allah menyatakan diri kepada Abraham, caranya misterius sekali. Abraham ditaruh dalam keadaan deep sleep, lalu ada kegelapan, asap, api, binatang yang terbelah-belah, dsb., yang mengerikan sekali. Ini juga mirip dengan gambaran waktu Allah turun di Gunung Sinai, ketika itu ada horor, ada teror, bangsa Israel tidak berani mendekat dan harus Musa yang me-mediasi. Waktu Yesaya melihat Allah, ujung jubah-Nya saja memenuhi seluruh Bait Suci. Tetapi yang menjumpai Hagar ini, tidak ada geledek, tidak ada petir, tidak ada asap, tidak ada api, tidak ada manifestasi yang luar biasa apapun sampai-sampai Hagar sendiri tidak yakin apakah ini benar-benar Tuhan atau bukan, sehingga kalimat yang muncul dari mulutnya berupa pertanyaan –“sungguhkan aku telah melihat Dia yang telah melihat aku?”-- bukan pernyataan “aku telah melihat Allah yang telah melihat aku”. Ini suatu penampakan yang sangat ordinary, sangat accessible, sangat wajar, sangat biasa-biasa; dan inilah justru poinnya. Inilah yang membuat Hagar berubah. Hagar akhirnya menamakan Allah ini, “Engkaulah El-Roi”. El-Roi artinya ‘the God who sees’, inilah yang mengubah Hagar karena dia menyadari keindahan Allah yang bukan cuma Allah yang kuat, hebat, dsb., tetapi lebih daripada itu.

Kita sudah melihat Hagar, budak, dia memandang rendah nyonyanya, kabur, bodoh, tidak bisa membuat keputusan sampai meresikokan bayinya sendiri. Kita juga melihat Sara, penindas, tapi sendirinya juga diperbudak oleh budayanya, lagipula tidak berpikir logis malah menyalah-nyalahkan suaminya. Selanjutnya  Abraham, yang harusnya jadi pemimpin malah tidak mau memimpin karena dia mau main hakim sendiri. Semuanya hancur, dan mengapa mereka semua tetap mendapat anugerah? Mengapa cerita Alkitab adalah berisi orang-orang yang tidak pantas, tidak ada bagus-bagusnya, tidak ada apa-apanya, tapi Allah terus-menerus mau datang, mau datang, lagi, lagi, dan lagi? Apa jawabannya?

Di ayat 11 pasal 16, Malaikat Tuhan itu mengatakan: "Engkau mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan akan menamainya Ismael,  sebab TUHAN telah mendengar tentang penindasan atasmu itu.” Di sini ada tema yang mirip dengan pasal 21 waktu Malaikat Tuhan mebali mengatakan: "Apakah yang engkau susahkan, Hagar? Janganlah takut, sebab Allah telah mendengar suara anak itu dari tempat ia terbaring.” Kita tahu, sebagaimana orang Israel meringis ketika mendengar kalimat ‘Sara menindas Hagar’, demikian juga waktu mereka mendengar kalimat ini, mereka bisa menangis karena inilah yang terjadi di kitab Keluaran, bangsa Israel ditindas, mereka berteriak kepada Allah, lalu Allah mendengar suara mereka. Mengapa anugerah yang begitu besar ini bisa terjadi? Karena suatu hari nanti ada lagi seorang Anak Laki-laki yang akan dilahirkan, dan Dia lahir untuk masuk ke dalam penindasan. Lalu ketika akhirnya Dia berteriak, “Allah-Ku, Allah-Ku,” Tuhan menutup telinga-Nya.

Mengapa kita yang tidak sepatutnya menerima berkat, bisa mendapatkan anugerah? Mengapa cerita Alkitab penuh dengan orang-orang yang begitu hancur tapi Tuhan terus-menerus beranugerah kepada mereka? Karena Dia menerima hukuman yang sepatutnya harus kita terima. Inilah caranya Saudara dan saya bisa bebas; bebas dari perbudakan budaya, bebas dari keinginan untuk main hakim sendiri, bahkan bebas untuk masuk kembali ke dalam ketertindasan. Bukan karena apa yang bisa kita lakukan, bukan karena kebaikan kita, bukan karena kita hero-nya, tapi karena kita melihat Allah yang telah melihat kita itu. Melihat karya Allah bagi kita, inilah yang akan membebaskan kita.

Hagar itu begitu tersentuh, dia mengatakan “Allah ini koq mau melihatku??” Hagar itu budak, buron, orang Mesir, berdosa kabur dari nyonyanya, dsb., tapi kemudian dialah orang pertama yang mendapatkan teofani secara personal seperti ini. Ini seperti misalnya ada seorang yang begitu hebat yang Saudara kagumi habis-habisan, dia sedang dikelilingi beberapa orang penting yang mengobrol dengannya, sementara Saudara nyempil di belakang. Dan selagi orang ini berbicara dengan mereka, dia melihat kepada Saudara dan berbicara dengan Saudara juga, dia mengikutsertakan Saudara; bisa dibayangkan seperti apa rasanya --siapa saya sampai Allah mau melihat aku, bahkan aku yang seperti ini?? Itulah Hagar, dan dia kembali ke bawah penindasan.
Saudara, apa yang menjadi kalimat Kristus kepada kita? Kristus tidak hanya mengatakan ‘Aku melihatmu lho’, Dia mengatakan, “Aku telah mati bagimu. Supaya engkau boleh didengar, Aku telah berteriak, dan Allah menutup telinga-Nya, agar Dia boleh membuka telinga-Nya terhadap engkau.“ Kalau Hagar saja bisa diubah sedemikian rupa sampai mau masuk kembali ke dalam penindasan, bagaimana dengan Saudara dan saya ketika kita menghadapi penindasan-penindasan kecil dalam hidup kita?

Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah (MS)

Gereja Reformed Injili Indonesia Kelapa Gading

Download Ringkasan