Kebenaran Yang Memerdekakan

Bagian ini dalam terjemahan LAI diberi judul “Kebenaran yang Memerdekakan”, satu judul yang sangat tepat yang memang adalah pusat pembicaraan dari perikop ini, bahwa ada kaitan antara truth (kebenaran) dengan freedom (kemerdekaan/ kebebasan).

Kita seringkali memikirkan ‘kebebasan’ di dalam pengertian yang sangat naif, yaitu mengenai bagaimana seseorang bisa mengekspresikan dengan bebas keinginannya, bisa punya ruang untuk menyalurkan aspirasinya sendiri, dsb., gambaran-gambaran yang sangat diwarnai paham individualisme. Alkitab tidak terlalu tertarik mengajarkan yang seperti itu, meskipun tentu ada benarnya bahwa Tuhan sendiri memang menciptakan manusia dengan memberikannya ruang bergerak, bahkan termasuk bergerak untuk melawan Tuhan, untuk tidak percaya, untuk tidak mempedulikan Tuhan. Manusia memang bukan robot, dia punya free will (kehendak bebas); dan dari kehendak bebasnya, manusia menentukan kehidupannya. Namun, waktu kita membaca Alkitab, gambaran kemerdekaan itu, tidak bisa tidak, harus dikaitkan dengan pengenalan/ penerimaan akan kebenaran; jika tidak, kita sebenarnya adalah orang-orang yang terpenjara, bukan orang-orang yang merdeka.

Ayat 30 Setelah Yesus mengatakan semuanya itu –yaitu yang di perikop sebelumnya, bahwa Yesus bukan dari dunia ini, Yesus datang dari atas bukan dari bawah-- banyak orang percaya kepada-Nya. Dikatakan di sini ‘banyak orang yang percaya kepadanya’, dan Alkitab tidak memberikan keterangan apa-apa tentang kata ‘percaya’ di sini, tapi waktu kita membaca sampai selesai ceritanya, dikatakan di ayat terakhir pasal 8 ini:  Lalu mereka mengambil batu untuk melempari Dia; tetapi Yesus menghilang dan meninggalkan Bait Allah. Jadi akhirnya mereka mau merajam Yesus dengan batu, sementara di ayat 30 dikatakan ‘banyak orang yang percaya kepada-Nya’. Kita sulit untuk menafsir bagian ini, dan di dalam banyak commentary juga ada perbedaan-perbedaan penafsiran. Ada yang menafsir bahwa ini dua kelompok orang yang berbeda; satu kelompok yang percaya, dan satu kelompok lain yang mau melempari Yesus. Memang di perikop lainnya ada bagian yang seperti itu; waktu Yesus mengatakan “mengapa engkau mau membunuh Aku”, itu ditujukan bukan kepada pendengar yang ini tapi pendengar yang lain. Tapi ada juga yang menafsir bahwa ini tidak harus dimengerti sebagai 2 kelompok yang berbeda, bisa saja mereka itu kelompok yang sama, orang-orang yang sama, tapi ada suatu kualifikasi, sehingga kita perlu membedakan antara kepercayaan yang dimaksud dalam ayat 30 dengan arti ‘percaya’ yang diajarkan Alkitab. Dalam hal ini Schnackenburg dan WBC tidak sependapat.

Kita tidak perlu terlalu curiga waktu di ayat 30 ini dikatakan ‘banyak orang yang percaya’, karena memang Alkitab mengatakan demikian. Tapi kemudian ada kualifikasi; di ayat berikutnya (31) Yesus mengatakan kepada orang-orang Yahudi yang percaya –berarti orang yang sama—“Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku,  kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu." Jadi tampaknya ada perbedaan antara orang yang percaya dengan murid. Banyak sekali orang yang percaya Tuhan. Orang Kristen juga banyak sekali, sekitar sepertiga jumlah penduduk dunia; mereka ini semua, entah bagaimana, adalah orang yang percaya. Tapi di ayat 31, Yesus bikin kualifikasi yang lain akan hal ini. Dia berkata kepada yang percaya kepada-Nya --bukan kepada yang tidak percaya, bukan kepada yang menolak-- “jikalau kamu tetap dalam firman-Ku”. Dalam pembacaan sederhana, ini berarti ada kemungkinan orang itu percaya, namun tidak tinggal tetap di dalam firman-Nya.

Kita takut waktu membaca ayat yang mengatakan “banyak yang dipanggil, sedikit yang dipilih”, tapi itu realita. Di bagian ini, kalau kita membacanya seperti ayat tersebut, boleh dikatakan “banyak yang percaya, tapi sedikit yang tinggal tetap dalam firman-Nya”. Percaya adalah satu hal, tetap tinggal di dalam firman adalah hal yang lain. Orang Kristen yang sejati, yang betul-betul lahir baru, dia punya kerinduan mempelajari firman Tuhan. Ada orang yang sama sekali tidak tertarik menggali dan belajar firman Tuhan, mereka pikir kalau tertarik itu jadi seperti hamba Tuhan. Tapi Alkitab tidak pernah mengajarkan bahwa yang tertarik belajar firman Tuhan adalah hamba Tuhan. Alkitab mengatakan, “Berbahagialah orang yang kesukaannya adalah taurat Tuhan”, dan di situ dibedakannya antara orang benar dan orang fasik, bukan bahwa yang suka firman Tuhan adalah imam-imam dan nabi-nabi, sedangkan yang tidak terlalu suka taurat Tuhan adalah jemaat awam. Orang yang kesukaannya  firman Tuhan, merekalah orang-orang benar yang hidup benar, sedangkan orang yang fasik tidak memiliki kesukaan akan firman Tuhan; tidak ada pembedaan yang lain.

“Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku”. Kata ‘tetap’ bahasa aslinya memakai istilah meno. Ini adalah istilah yang sama yang dipakai dalam inkarnasi; Firman itu diam/ meno/ abide di antara manusia, Yesus tinggal/ tetap/ abide/ remain di tengah-tengah umat-Nya. Dengan pengertian yang sama, inilah yang dimaksud waktu dikatakan “kamu tetap dalam firman-Ku”, yaitu kita tinggal/ tetap di dalam firman atau firman tinggal/ tetap di dalam kita (ini bisa dibolak-balik dalam Injil Yohanes, seperti ‘Bapa di dalam Anak’ dan ‘ Anak di dalam Bapa’, ‘kita di dalam Kristus’ dan ‘Kristus di dalam kita’). Ini berarti ada ketekunan (perseverance), ada konsistensi, ada komitmen, ada terus-menerus; bukan percaya dengan segera, kagum, tertarik, tapi setelah itu berguguran, hilang, tidak tertarik lagi –seperti dalam perumpamaan penabur. Orang-orang yang kerohaniannya kerohanian “ala retreat” atau “ala KKR”, waktu retreat/ KKR menggebu-gebu, tapi setelah itu tidak berapa lama, langsung hilang satu per satu, tidak jelas efeknya. Mungkin bukan salah KKR-nya, tapi orang itu yang tidak menjaga di dalam ketekunan.

“Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku,  kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran”. Menjadi murid adalah urusan progressive, sesuatu yang terus-menerus bertumbuh, bukan belajar sekali lalu selesai; sekolah pun tidak seperti itu. Waktu sekolah, kita datang lagi, datang lagi, datang lagi, dan ulang, ulang, ulang; bertahun-tahun seperti begitu, itulah murid. Tidak mungkin ada murid yang dalam setahun cuma datang sekali lalu sudah tahu semua pelajaran setahun. Kalau jemaat seperti kelihatan banyak tapi tidak tertarik datang persekutuan doa, tidak tertarik juga datang pemahaman Alkitab, ini tidak jelas pertumbuhan apa, cuma orang yang ngumpul-ngumpul saja. Kita mengetahui kebenaran dengan progressive, dengan diulang-ulang, dengan cara kita dimuridkan. Orang yang merasa diri sudah tahu, tidak perlu belajar lagi, dia pasti bukan murid. Seorang murid ada keinginan untuk terus belajar, kemudian kita disebut murid, lalu kita akan mengetahui kebenaran. Jadi, kita akan mengetahui kebenaran setelah kita dimuridkan, dan sebelum kita disebut murid, kita punya tanggung jawab untuk tetap di dalam firman Allah. Ada pemuridan, dan di dalam pemuridan kita mengetahui kebenaran.

“Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku,  kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu." Apa artinya mengetahui kebenaran? Kalau menurut ayat ini, yaitu kemerdekaan. Ini bahasa yang jelas sekali bagi pembaca pada saat itu, bahwa maksudnya mengacu pada Exodus (Keluaran); di situ ada bondage (perbudakan), dan kemudian freedom (kemerdekaan). Tapi agaknya, mereka menutupi pengalaman tentang perbudakan Mesir itu (ayat 37 dan seterusnya), namun kaitan hal ini dengan cerita Exodus sangat jelas. Kita, orang Injili, sangat terbiasa dengan pemikiran bahwa perbudakan di Mesir menjadi tipologi dari perbudakan dosa, dan peristiwa Exodus menjadi seperti orang yang diselamatkan. Dalam hal ini, salah satu ayat yang penting adalah ayat di bagian ini, Yesus sendiri yang menafsir demikian; perbudakan Mesir adalah seperti perbudakan manusia yang di dalam dosa yang tidak ada kemerdekaan, lalu setelah dikeluarkan dari Mesir, mereka bisa memiliki kebebasan. Tetapi dunia yang berada dalam dosa tidak mengerti konsep seperti ini; mereka membacanya terbalik. Mereka hidup di dalam keterpenjaraan, dan mereka mengatakan itu adalah kemerdekaan, mereka merasa bisa mengekspresikan kebebasan diri, tidak dihalang-halangi orang lain, sepanjang itu tidak membahayakan orang lain maka terserah dia mau melakukan apapun, dst.  Inilah konsep kemerdekaan mereka, cerita individual human rights yang tidak tentu Alkitabiah.

Di dunia ini ada 2 macam negara, negara yang dipengaruhi Samaritan Law dan negara yang tidak dipengaruhi Samaritan Law. Di negara yang dipegaruhi Judeo-Christian tradition yang menerapkan Samaritan Law, waktu kita melihat orang jatuh di jalan dan kita tidak menolong, maka kita bisa kena masalah karena kita ada di sana tapi tidak menolong. Sedangkan di negara yang tidak dipengaruhi Samaritan Law, kalau ada orang jatuh di jalan dan Saudara lewat saja, Saudara tidak bisa dituntut karena memang bukan kewajiban menolong dia (kecuali Saudara yang menabrak). Poin yang saya mau katakan di sini, waktu kita bicara kebebasan, maksudnya kebebasan apa? Kebebasan untuk tidak menolong orang lainkah? Kebebasan untuk hanya mengurusi diri sendirikah? Atau kebebasan melayani, kebebasan berbelas-kasihan, kebebasan untuk menolong orang lain. Atau seperti di dalam Keluaran, kebebasan untuk beribadah, karena di Mesir tidak bisa beribadah, tidak ada perjumpaan dengan Tuhan. Atau seperti dalam Yohanes 8, kebebasan untuk tetap tinggal dalam firman, dan untuk kita terus menggali firman Tuhan, kalau kita sungguh-sungguh murid Kristus.
Ayat 32 “dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kami.” Zwingli menafsir bagian ini secara agak unik; dalam bahasa Jermannya dikatakan: “Die Wahrheit hat ein froehliches Angesicht” (bahasa Inggrisnya dikatakan: “The truth wears a happy face”; atau terjemahan literalnya: “The truth has a joyful face” –kebenaran punya wajah sukacita). Zwingli mengaitkan kebenaran dengan sukacita. Logikanya sederhana, orang yang dipenjara tidak mungkin bahagia, waktu dibebaskan dari penjara, dia ada sukacita karena memiliki kemerdekaan. Kemerdekaan dikaitkan dengan kehidupan yang penuh dengan sukacita, sedangkan orang yang terpenjara kehidupannya (bukan harus penjara fisik), yang hidup dalam ketersesakan, dia tidak mungkin bahagia, bisa depresi, tidak bisa menikmati sukacita yang sesungguhnya. Dalam gambaran seperti ini, kita tahu bahwa orang-orang yang dalam kehidupannya dikuasai oleh dosa, nafsu, keinginan sendiri, pride, kelaliman, dsb., tidak mungkin ada sukacita –kalau menurut ayat ini di dalam tafsiran Zwingli-- karena kemerdekaan berarti kebebasan, sukacita, sedangkan keterpenjaraan berarti kehidupan yang tidak ada/ kurang sukacita.

Dalam konteks Zwingli, ketika itu dia beurusan dengan keagamaan Roman Catholicism yang sepertinya membuat muka suram, hidup berat sekali, musti pikul salib, asketik, tidak boleh ini dan itu. Salah satu yang menggerakkan reformasi di Swis oleh Zwingli ini adalah urusan puasa, dan orang-orang berpuasanya seperti dalam keadaan perkabungan. Orang-orang seperti Zwingli mengatakan itu keagamaan yang penuh dengan kemunafikan, tidak benar-benar dikerjakan dengan tulus dari dalam hati, akhirnya jadi semacam kebiasaan ritual belaka. Akhirnya mereka tidak puasa, mereka sengaja makan sosis di bulan-bulan puasa. Ini mau menyatakan bahwa kehidupan Kristen bukanlah suatu kehidupan yang dikekang, tidak boleh ini, tidak boleh itu, tidak boleh makan, dsb., yang semuanya jadi seperti penjara, seperti kehidupan yang suram sekali, seperti tidak bisa menikmati kehidupan.

Zwingli mengatakan, kalau kita mengenal kebenaran, kebenaran itu membuat kita berbahagia, membuat kita bisa bersukacita, karena kebenaran itu memerdekakan kita, bukan memenjarakan kita. Gambaran Kekristenan yang terkurung/ terpenjara, memang tidak terlalu menjanjikan. Gambaran kebenaran yang seperti ini, menjadikan orang-orang dingin, tidak bisa lagi berbelas-kasihan, tambahan lagi self righteous, dsb.; dan itu memang bukan gambaran sukacita tapi gambaran yang redup, gambaran kebenaran yang tidak memerdekakan.  Membicarakan kalimat seperti ini memang kompleks, kita musti mengetahui apa sebetulnya yang memenjarakan kehidupan manusia, yang membuat manusia tidak merdeka.

Ayat 33, orang-orang Yahudi menanggapi perkataan Yesus ini, mereka menjawab: "Kami adalah keturunan Abraham dan tidak pernah menjadi hamba siapapun. Bagaimana Engkau dapat berkata: Kamu akan merdeka?" Kalimat ini betul atau tidak? Kalau diterapkan dalam kehidupan mereka sendiri pun kurang tepat, karena pada waktu itu bangsa Israel, termasuk orang-orang Yahudi, sebenarnya di dalam penjajahan Romawi. Mereka berani bilang “kami adalah keturunan Abraham dan tidak pernah menjadi hamba siapapun”, padahal --kalau mau bicara secara fisik-- buktinya mereka tidak merdeka. Dan kalau ditarik terus sampai ke zaman Abraham, jadi lebih tidak benar lagi, karena bagaimana dengan perbudakan Mesir, apa mereka lupa?? Masakan mereka tidak tahu cerita Exodus?? Pasti tahu, karena mereka benar-benar jadi budak pada waktu itu. Maka kalimat mereka “kami tidak pernah jadi hamba siapapun”, bukan saja kalimat arogan tapi juga kalimat penolakan fakta. Kalimat yang menunjukkan tidak bisa menerima realita, tidak bisa menerima sejarah, tidak berdamai dengan masa lampau, dan karena itu akhirnya tidak bisa juga menerima perkataan Kristus. Sedang orang yang bisa menerima fakta sejarah yang lampau saja belum tentu bisa menerima perkataan Kristus pada hari ini, apalagi yang tidak bisa menerima kenyataan masa lampau, dan termasuk juga saat itu, karena mereka sebetulnya juga sedang dijajah pemerintah Romawi.

Mereka bilang “tidak pernah jadi hamba”, lalu bagaimana dengan pembuangan di Babel?? Bagaimana dengan perbudakan Mesir?? Bagaimana dengan ketika mereka di bawah raja-raja besar itu?? Lupa?? Apakah itu bukan kenyataan, cuma fiksi dalam kitab sejarah saat itu?? Jadi ini berarti mereka menolak perkataan Yesus “kamu akan merdeka”, mereka mengklaim diri mereka sudah merdeka. Tawaran itu tidak relevan buat mereka, karena mereka berpikir dirinya sudah merdeka. Jelas di sini, mereka mengatakan kalimat tadi karena mereka tidak menyukai kebenaran. Orang yang tidak menyukai kebenaran, tawaran yang diberikan bersama dengan kebenaran --entah itu sukacita maupun kemerdekaan-- mereka juga tidak tertarik. Sebetulnya yang mereka tolak bukan kemerdekaan, yang mereka tolak adalah kebenaran. Mereka menolak kebenaran, mereka mengatakan ‘Kamu bilang kalau orang mengenal kebenaran katanya merdeka, tapi kita ini sudah merdeka, jadi kita ‘gak usah lagi. Kamu menawarkan kalau orang mengenal kebenaran akan merdeka, berarti kita ini ‘gak merdeka dong sehingga Kamu datang dengan penawaran kebenaran supaya kita merdeka. Tapi kita rasa, kita sih merdeka, kehidupan kita ini bebas-bebas saja, tidak ada keterpenjaraan, tidak jadi budak siapapun, tidak ada perbudakan di sini, jadi yang Kamu ngomong itu percuma. Kamu bicara tentang kebenaran, kemerdekaan, hal-hal itu kita tidak tertarik, oleh sebab itu kita tidak tertarik juga dengan tawaran-Mu’.

Tapi ayat 34 Yesus mengatakan kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa.”  Siapa di antara kita yang tidak berbuat dosa? Tidak ada, termasuk juga saya. Kita semua adalah orang yang berbuat dosa. Kalau kita berbuat dosa, berarti kita sebetulnya belum ada kemerdekaan. Kita perlu terus-menerus tetap tinggal di dalam firman Kristus, supaya kita boleh terus menikmati kemerdekaan di dalam hidup kudus, hidup suci, hidup tidak berbuat dosa. Ini bukan masalah ‘sudah’ atau ‘belum’, sebagaimana orang Injili seringkali bicara –sudah merdeka atau belum merdeka, masih di dalam dosa atau sudah keluar dari dosa. Pemikiran seperti itu terlalu simpel. Ini seperti kalau saya pakai kategori yang sama, menanyakan ‘Saudara sudah baca Alkitab atau belum baca Alkitab?’ Pertanyaan seperti itu tidak cukup dan membingungkan. Kalau Saudara jawab “sudah”, apa memang betul demikian karena buktinya kita masih banyak yang tidak mengerti; jadi berarti tidak bisa dijawab ‘sudah’. Tapi kalau dijawab “belum”, apa berarti belum pernah baca sama sekali, satu kalimat pun belum?? Jadi salah juga.

Ini pertanyaan yang tidak bisa dijawab dengan ‘sudah’ atau ‘belum’, karena ada belum-nya, ada sudah-nya. Oleh sebab itu Yesus bilang “jikalau kamu tetap di dalam firman-Ku”; Yesus tidak pernah bilang ““jikalau kamu sudah baca firman-Ku” atau “jikalau kamu belum baca firman-Ku”. Ini bukan masalah sudah PA atau belum PA, sudah bible study atau belum bible study, tapi ini masalah konsistensi untuk terus mempelajari firman. Bukan urusan either or antara sudah atau belum --sudah selamat atau belum selamat, sudah kudus atau belum kudus, sudah keluar dari dosa atau masih di dalam dosa. Alangkah tidak cukupnya kategori seperti ini, juga alangkah membingungkan, bahkan menyesatkan, karena membuat orang karena merasa sudah –saya sudah diselamatkan, sudah  ikut Perjamuan Kudus,  sudah percaya, sudah beriman, sudah datang ke gereja— akhirnya jadi merasa ‘kalau begitu, saya bukan orang yang berbuat dosa dong’. Tapi apa betul kita bukan orang yang berbuat dosa karena kita sudah diselamatkan?? Sulit mengatakan kalimat seperti itu, karena kita yang sudah diselamatkan pun, kenyataannya masih bisa jatuh di dalam dosa. Lalu bagaimana menjawab kalimat ini: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa”; kita ini hamba dosa atau tidak? Kita bilang bahwa kita ini bukan hamba dosa karena sudah diselamatkan di dalam Yesus Kristus. Lalu ditanya lagi, kalau begitu mengapa masih bisa berbuat dosa? Jadi sulit.

Dalam teologi sistematika Reformed, hal itu dibereskan dengan satu klarifikasi sederhana: Secara status, kita memang bukan hamba dosa, kita bukan orang-orang yang menikmati dosa, karena kita sudah diselamatkan; tapi secara kondisi, kita adalah orang yang terus-menerus perlu dikuduskan. Di sini ada pembedaan antara status dan kondisi. Secara status, kita bisa bicara ‘sudah’ dan ‘belum’. Tapi secara kondisi, manusia itu jatuh bangun; bahkan orang-orang yang sudah dikeluarkan dari perbudakan dosa pun, masih bisa jatuh di dalam perbuatan dosa, maka itu perlu terus-menerus dikuduskan. Bagaimana caranya terus-menerus dikuduskan? Yaitu dengan tetap di dalam firman Kristus.

Sebelum ada go-food, go-jek, dsb. sudah ada “go-worship” sejak dulu, yaitu orang-orang yang tidak pernah mau datang ke gereja tapi pendetanya yang ditelpon disuruh datang ke rumahnya. Ini seperti go-food, ‘gua ‘gak usah datang ke restoran, restoran yang ke sini bawa makanannya’. Orang-orang Kristen yang sifatnya seperti itu, sudah lama ada. Jadi bagaimana? Tentu boleh saja pembesukan, tapi bagaimana kalau dibesuk, sementara orangnya sendiri tidak ada usaha untuk mempelajari firman Tuhan?? Padahal kita tahu, waktu orang tidak tetap tinggal di dalam firman Tuhan, kehidupannya pasti berantakan. Yang paling berantakan adalah kalau dirinya sudah berantakan tapi masih tidak sadar dirinya berantakan. Ada orang yang tidak belajar firman Tuhan dan tetap merasa hidupnya oke; dia inilah orang yang paling sakit. Tapi orang yang sakit dan sadar kalau dirinya sakit, dia lebih ada harapan.

Kembali ke bagian ini, Yesus mengatakan: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa.” Kalimat ini sulit kita mengerti. Secara status memang kita bukan hamba dosa, kita tidak menikmati hidup berbuat dosa, tapi di sisi lain kita mengetahui secara kondisi diri kita masih jatuh di dalam dosa. Jadi bagaimana? Itulah sebabnya, tawaran untuk mengerti  kebenaran selalu relevan, tidak bisa ditanggapi dengan “saya sudah mengetahui kebenaran”. Ini bukan masalah sudah atau belum, bukan masalah sudah Kristen atau belum Kristen, melainkan masalah apakah kita yang mengaku Kristen, tetap tinggal di dalam firman, dan dengan demikian kita betul-betul adalah murid. Murid tetap tinggal di dalam firman, dia terus mempelajari firman Tuhan; sedangkan orang yang tidak terus mempelajari firman Tuhan, tentu saja dia bukan murid, dia termasuk orang-orang yang dikatakan di ayat 30 tadi ‘banyak orang yang percaya kepada-Nya’. Jangan senang dulu waktu dikatakan ‘percaya’ karena akhirnya orang-orang ini mau merajam Yesus. Jadi sejauh ini, untuk kepercayaan yang tidak mau tetap tinggal di dalam firman, akhirnya cuma sampai di situ saja; setelah diselidiki oleh Yesus, setelah bicara dan bicara, akhir-akhirnya mau merajam Dia, itukah yang namanya percaya?? Percaya apa??

Yohanes memang menulis ‘percaya’ di bagian ini, bahkan sampai 2 kali, di ayat 30 dan 31. Ayat 30 ‘banyak orang yang percaya kepada-Nya’, ayat 31 ‘maka kata-Nya kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya’. Inilah orang-orang yang percaya, jadi mau bilang apa?? Percaya yang tidak tetap tinggal di dalam firman, itu sama sekali tidak cukup, menurut Yohanes. Itu bukan murid sebentulnya. Boleh saja percaya dan percaya, tapi berakhir dengan lemparan batu. Orang yang betul-betul murid, sudah pasti dia percaya, sedangkan orang yang percaya, tidak tentu dia murid --menurut ayat ini.

Siapa itu murid? Yaitu mereka yang tetap tinggal di dalam firman Kristus, yang bisa menikmati kemerdekaan untuk tidak berbuat dosa, yang bisa terus-menerus menikmati artinya sukacita hidup mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama, dan bukan diperbudak oleh dosa. Dalam Roma pasal 7 kita bisa melihat bahwa hal ini bahkan juga menjadi pergumulan seseorang yang dewasa rohaninya seperti Paulus; dia bergumul dengan power of sin. Orang yang sungguh-sungguh mengerti firman Tuhan, dia tidak terjebak dengan gambaran ‘saya sudah merdeka, saya bukan hamba dosa’, dsb. Memang secara status bukan hamba dosa, kita ini ciptaan baru sebagaimana perkataan Paulus, tapi di dalam kondisi, kita sebetulnya bergumul setiap hari bagaimana menikmati kemerdekaan yang dikaruniakan Kristus bagi Gereja-Nya, yaitu kita, orang percaya, waktu kita tetap tinggal di dalam firman Tuhan.

Ayat 35-36 “Dan hamba tidak tetap tinggal dalam rumah, tetapi anak tetap tinggal dalam rumah. Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka." Di sini Yesus melibatkan diri-Nya sebagai Sang Anak Tunggal dari Bapa, bahwa anak itu merdeka. Dalam gambaran dunia perbudakan saat itu, orang yang merdeka punya budak, anaknya orang merdeka pasti adalah orang merdeka juga. Lalu di sini ada  metafor memakai istilah ‘tinggal’ –hamba tidak tetap tinggal dalam rumah, tetapi anak tetap tinggal dalam rumah. Ayat 31 tadi berbunyi “jikalau kamu tetap”, dan kata ‘tetap’ di sini memakai istilah ‘tinggal’ juga, itu dua istilah yang sama –“jikalau kamu tinggal dalam firman-Ku, jikalau kamu tetap dalam firman-Ku”. Kemudian di ayat ini Yesus mengatakan “hamba tidak tetap tinggal dalam rumah, tetapi anak tetap tinggal dalam rumah”; maksudnya mau bicara bahwa seseorang yang statusnya hamba, dia tidak bisa tetap tinggal di dalam firman karena dia budak, bukan anak. Mentalitas budak adalah mentalitas yang tidak pernah bisa tinggal tetap di dalam firman. Ini berarti menyatakan dia belum betul-betul merdeka.

Kalau kita di dalam menjalankan keagamaan –keagamaan dalam pengertian positif—kita merasa berat, menyangkal diri, dsb., mungkin kita bukan anak. Kalau kita berdoa merasa sebagai sesuatu yang berat sekali, diajak datang PA seperti sesuatu yang menyangkal diri sekali, begitu juga ikut kebaktian seperti berat sekali, maka sepertinya kita memang budak, karena bagi kita semuanya kewajiban. Seorang anak tidak seperti itu. Saya bukan mengatakan bahwa anak selalu enjoyable dalam melakukan itu, kita tahu dalam kehidupan memang ada saat-saatnya penyangkalan diri. Anak juga tidak selalu sukacita di dalam rumah, tetapi orang yang terus-menerus tidak sukacita dalam hal-hal seperti itu, namanya budak. Budak tidak pernah mengerti kesenangan dari taat, mereka taat karena harus, itu sesuatu yang kategori kewajiban. Waktu kita makan makanan yang kita suka, kita tidak mengatakan itu kewajiban, kita tidak perlu harus suka karena memang suka, tidak disuruh pun kita kejar sendiri. Alkitab mengatakan, “berbahagialah orang yang kesukaannya ialah taurat Tuhan”, bukan “berbahagialah orang yang disuruh-suruh senang taurat Tuhan dan akhirnya mau juga” atau “berbahagialah orang yang tanggung-jawabnya ialah menyelidiki firman Tuhan”. Di sini tidak membicarakan kewajiban tetapi  kesenangan dan kesukaan (delight).

Kesenangan dan kesukaan ini bisa dinikmati oleh orang yang mempunyai jiwa seorang anak, sedangkan budak itu bekerja dengan paksa. Lihatlah orang-orang Israel di Mesir, apakah mereka senang seperti itu? Pasti tidak. Mereka bisa senang akan fasilitas makanan daging tapi mereka tidak mungkin menikmati, mereka tidak bisa beribadah, diperbudak, kehidupannya terpaksa dan dipaksa, banyak tekanan. Jadi, kalau seseorang melihat kehidupan beragama itu justru kehidupan yang seperti tekanan, seperti dipenjara, sementara kehidupan yang bebas adalah waktu dia tidak usah menjalankan itu semua, maka dia inilah orang yang betul-betul budak, karena seorang anak tidak berpikir seperti itu. Seorang anak itu menikmati waktu dia taat kepada orangtuanya karena ada sukacita di dalam hatinya; sedangkan seorang budak melakukan semuanya karena terpaksa dan harus.

Waktu kita bertumbuh dewasa, kita meninggalkan sifat ke-perbudakan ini, lalu bertumbuh menjadi sifat seorang anak yang bisa menikmati keagamaan dan pengikutan kita kepada Kristus. Hamba tidak tetap tinggal di dalam rumah, kalau dipaksa pun, suatu saat akan keluar juga karena memang tidak bisa dan tidak mungkin. Yang bisa tetap tinggal dalam rumah adalah anak. Di sini yang penting adalah kata ‘tinggal’, bukan kata ‘rumah’, karena yang Yesus maksudkan adalah tinggal di dalam firman, itulah yang dimaksud dengan ‘rumah’. Dalam konteks ini, hamba tidak bisa tetap tinggal di dalam firman, dia tidak tahan, kalau bisa pun hanya basa-basi sekedar kesantunan tapi tidak betul-betul dari dalam hati. Sebaliknya, anak tetap tinggal di dalam firman, di dalam Kristus, di dalam Allah.

Terakhir, ayat 36 Yesus sendiri mengatakan, “Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamu pun benar-benar merdeka." Yesus bukan asal bicara sementara Dia sendiri juga terpaksa taat kepada Bapa. Yesus memberi diri-Nya sendiri sebagai Sang Anak yang menikmati artinya kemerdekaan. Dia adalah Firman itu sendiri, Dia adalah Logos. Dia mengatakan “Anak itu memerdekakan kamu”, karena yang merdeka adalah anak, yang bisa tetap tinggal di dalam rumah adalah anak. Dan sekarang Yesus, Anak ini, memerdekakan kita, dan Dia sendiri menyatakan dalam diri-Nya apa artinya hidup di dalam kemerdekaan –“kamu pun benar-benar merdeka”. Kata ‘merdeka’ ini apa pengertiannya? Yaitu merdeka untuk tetap tinggal di dalam rumah –tinggal di dalam firman.

Kalau kita mau pakai metafor ‘rumah’, meminjam perumpamaan dalam Injil Lukas yaitu ada dua anak yang keluar rumah, dua anak yang sama-sama terhilang tidak bisa menikmati rumah, tidak bisa tinggal di dalam rumah, padahal ada bapanya di situ. Yang satu tidak bisa menikmati rumah, dia ingin dapat individual human rights, dia pergi ke kota yang lain, mau independen dari bapanya. Sedangkan si kakak sulung juga tidak bisa tinggal di dalam rumah sebetulnya, buktinya ketika ada pesta, fellowship, persekutuan meja –yang terjadi di dalam rumah—dia tidak mau masuk. Dia ini orang yang dekat dengan rumah tapi juga jauh dari rumah. Waktu di rumah, dia melakukan segala sesuatu seperti seorang budak; mau pesta, tidak berani, merasa ayahnya koq tidak pernah suruh dia pesta. Padahal dia mau pesta tinggal pesta saja karena dia itu anak, semua barang  milik bersama; tapi dia menempatkan dirinya sebagai budak, sebagai orang yang disuruh-suruh meski memang ini budak yang baik, taat, menjalankan kewajibannya.

Ada orang-orang Kristen yang seperti ini, yang menjalankan kewajibannya, taat, dsb., mereka orang-orang yang tidak menimbulkan banyak masalah, tapi kalau diselidiki dan Tuhan melihat dalam hatinya, ternyata jiwanya budak bukan anak, seperti anak sulung ini. Ciri khasnya mirip seperti Marta. Waktu pelayanan dia merasa dia sendiri yang pelayanan, dia ngamuk ‘mengapa orang-orang lain tidak pelayanan seperti saya’. Waktu memberikan perpuluhan, dia ngamuk ‘mengapa orang-orang lain tidak perpuluhan seperti saya, enak saja saya musti perpuluhan, kamu tidak perpuluhan’, dsb. Dia rasa orang yang tidak memberikan perpuluhan itu enak dan orang yang memberikan perpuluhan itu tidak enak. Dia rasa orang yang tidak pelayanan itu enak dan orang yang tidak pelayanan itu enak. Ini berarti dia tidak betul-betul menikmati kemerdekaan, dia melakukan segala sesuatu dalam keterpaksaan, siksaan. Tapi dia taat, dia melakukan semua kewajibannya, seperti anak sulung itu yang dicatat bahwa semua kewajibannya dia lakukan, tidak pernah berontak kepada bapanya,  tapi di dalam hati tidak pernah setuju dengan bapanya, dia tidak ada kasih, tidak ada perasaan dikasihi dan juga tidak mengasihi. Maka akhirnya waktu terjadi sesuatu yang seharusnya normal terjadi di rumah, yaitu makan dan pesta, anak sulung ini tidak mau masuk karena jiwanya memang tidak pernah di rumah. Dia memang jiwanya budak, tidak pernah bisa tinggal di dalam rumah. Kalaupun tinggal, dia tinggal karena terpaksa, tidak benar-benar bisa menikmati, tidak ada feeling at home bersama dengan bapanya. Dia lebih senang tinggal di luar, karena di rumah merasa disiksa oleh bapanya, dia rasa kehidupannya siksaan.
Alangkah kacaunya kalau orang-orang Kristen dalam kehidupan keagamaannya –datang ke seminar, PA, persekutuan doa—melihatnya sebagai siksaan; saya jadi ragu-ragu orang ini sebetulnya anak atau budak. Kalau kita melihat dari Alkitab, itu sepertinya lebih mirip budak daripada anak. Saudara mungkin sudah lama jadi Kristen, bahkan mungkin sudah ikut pelayanan, tapi tetap saja Saudara budak karena tidak mengerti sukacitanya tinggal di dalam rumah. Seorang anak tetap tinggal di dalam rumah, hamba tidak tetap tinggal di dalam rumah.

Waktu Yesus inkarnasi, Dia rela –bukan terpaksa—tinggal bersama umat-Nya. Itu sinkron dengan Bapa-Nya, kehendak Bapa adalah kehendak Yesus juga, kehendak Sang Anak adalah kehendak Bapa, kehendak Ilahi yang satu. Yesus tinggal di antara umat-Nya, bukan sebagai budak tapi sebagai anak. Tempat di mana Yesus tinggal, di situ Dia menjadikannya rumah karena Dia adalah Firman. Saudara dan saya diundang untuk tinggal di dalam Kristus. Semoga kalimat ini tidak menjadi kalimat yang tidak jelas artinya, yang mengawang-awang, dan kita tidak tahu apa aplikasinya. Semoga waktu kita mengatakan ‘kita tinggal di dalam Allah, dan Allah di dalam kita’, ini tidak jadi kalimat yang Saudara jawab “Amin! Amin!”, tapi tidak mengerti artinya apa; berkata ‘amin’ tapi jiwanya tetap jiwa budak, yang berarti tidak mengerti.

Waktu Anak, Firman itu, memerdekakan kita, kita benar-benar merdeka. Kekristenan tidak pernah jadi agama yang sifatnya fenomenal belaka, yang cuma melihat orang secara fenomenal. Tuhan tidak tertarik melihat itu. Kalau melihat orang secara fenomenal, dalam perumpamaan tadi si anak bungsu fenomenanya betul-betul tidak di dalam rumah, dia jelas terhilang, sedangkan si anak sulung fenomenanya ada di dalam rumah. Tapi waktu Tuhan melihat, si anak sulung ini tidak betul-betul di rumah, dia di ladang, dia tidak mau masuk. Terakhirnya dia dibujuk oleh bapanya, tapi apakah lalu masuk? Tidak juga, dia tetap tinggal di ladang;  dan ceritanya berhenti di situ. Itu menggambarkan orang-orang Farisi; apakah mereka ini akhirnya masuk di dalam table fellowship bersama dengan Yesus? Tidak tahu, ceritanya berhenti di sana. Kita tidak tahu orang-orang ini akhirnya masuk atau tidak, tapi cerita perumpamaan tadi berakhir dengan gambaran anak sulung itu ada di ladang sampai bapanya pergi membujuk untuk masuk.

Apa artinya benar-benar merdeka? Pasti bukan dalam pengertian fenomenal, melainkan sikap hati sebenarnya yang dilihat Tuhan sampai ke dalam. Dan cuma Tuhan yang bisa melihat seperti itu. Kiranya Tuhan menolong kita untuk bisa mengenal diri kita, dan bertekun tetap tinggal di dalam Dia.

Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah (MS)

Gereja Reformed Injili Indonesia Kelapa Gading

Download Ringkasan