Song of The Servant

Hari ini kita merenungkan satu bagian dari Kitab Yesaya, yang biasanya disebut dengan istilah “the servant songs”. Ini merupakan suatu syair/ lagu yang dituliskan mengenai seorang figur hamba Allah, sebuah  nubuatan akan datangnya seorang Hamba Allah, seperti apakah Dia dan apa yang Dia lakukan. Sepanjang kitab Yesaya ada 4 atau 5 servant songs (ada perdebatan dalam hal ini, mana yang termasuk dan mana yang tidak), dan salah satu yang mungkin Saudara tahu adalah lagu yang menyatakan hamba Allah itu seorang yang tidak akan mematahkan buluh yang terkulai, tidak akan memadamkan sumbu yang pudar, dst. Tapi kita akan membahas satu servant song yang paling terkenal di antara semuanya, yaitu yang ada di Yesaya 52-53. Dalam lagu ini ada 5 stanza/ bait, dari pasal 52:13 sampai  53:12, per bait ada 3 ayat. Hari ini kita akan membahas sampai bait ke-3 saja.

Waktu kita membaca 5 bait ini, sudah pasti kita langsung tahu siapakah Hamba Allah yang dimaksud, karena penulis-penulis Perjanjian Baru berkali-kali merujuk pada ayat-ayat servant songs ini untuk mengidentifikasi siapa sebenarnya diri Yesus Kristus. Tapi kita bukan hanya bisa membahas lapis yang pertama tersebut –deskripsi tentang siapa Kristus-- kita juga bisa membahasnya sampai lapis yang kedua, yaitu siapa dan seperti apa itu Gereja, yang adalah tubuh Kristus. Kita semua adalah hamba-hamba Allah, orang-orang yang mengikut Tuhan; jika demikian, deskripsi ini bukan cuma benar bagi diri Yesus melainkan juga bagi diri Gereja. Itu yang akan kita jadikan pola pembahasan secara terus-menerus dalam bagian ini.

BAIT 1, Yesaya 52: 13-15
Kalau Saudara perhatikan, ayat 13 dan 14 ini dua ayat yang ‘gak nyambung sama sekali. Di ayat 13 dikatakan “hamba-Ku berhasil, ditinggikan, disanjung, dimuliakan”, tapi ayat 14 dikatakan “buruk rupanya, bukan seperti manusia lagi, tampaknya bukan seperti anak manusia lagi”; betapa kelihatan tabrakan. Dan lebih tabrakan lagi kalau Saudara perhatikan ada kata “tertegun” di ayat 14; ini terjemahan yang terlalu lembut dari kata aslinya, yaitu shamem yang artinya desolate. Istilah desolate biasa digunakan untuk mendeskripsikan keadaan satu kota yang habis diserang musuh, dibakar, diratakan dengan tanah, dibunuh semua penduduknya, sampai semuanya habis dan hancur, lalu ketika tentara musuh sudah pergi, yang sisa hanyalah kesunyian yang mencekam. Istilah inilah yang dipakai di bagian ini, menggambarkan orang-orang –bukan cuma tanah-- yang tertegun, diam, bengong, tidak bisa berkata-kata lagi, kesunyian yang benar-benar menyakitkan. Akhir-akhir ini kita baru saja menyaksikan adanya gempa, taifun, tornado, dsb.; dan mungkin kita pernah melihat di media, foto seorang bapak yang kembali ke tempat tinggalnya setelah bencana, lalu dia lihat rumahnya sudah hancur-lebur, mungkin ada mayat istrinya dan anaknya juga ada di antara reruntuhan itu, dan orang seperti ini sudah tidak ada kekuatan untuk menangis lagi, cuma berdiri mematung, tertegun, diam, sunyi --kesunyian yang datang setelah penderitaan penyiksaan habis-habisan. Inilah kata shamem yang dipakai di ayat 14.

Apa yang menyebabkan orang sampai bereaksi seperti ini? Yaitu karena mereka melihat si hamba Allah ini, yang awalnya dikatakan disanjung, ditinggikan, berhasil, dsb. (ayat 13), tapi kemudian di ayat 14 dikatakan hancur oleh penderitaan dan penyiksaan, dan saking hancurnya sampai-sampai bentuknya sudah tidak seperti manusia lagi, sampai-sampai orang yang melihat tidak bisa berkata-kata lagi hanya tutup mulut. Ini dua hal yang aneh, bertabrakan sama sekali; dan deskripsi ini bukan cuma berlaku bagi diri Yesus, namun juga bagi tubuh Kristus, yaitu diri kita. Jadi, dalam bagian pertama ini Alkitab mau mengajak kita menyadari bahwa dalam hidup seseorang yang mengikut Tuhan –hidup Gereja, hidup hamba-hambanya Tuhan—akan selalu ada percampuran antara dua hal yang bertabrakan ini, dua hal yang ada ketegangan satu dengan lainnya ini.

Banyak orang hari ini undur iman karena mengalami kesengsaraan yang menggoncang, lalu mereka mengatakan “katanya Tuhan itu penuh cinta, koq hidup saya seperti ini”. Atau mungkin versi yang lebih halus: “Ya, saya tahu Tuhan penuh cinta, tapi koq antara pengetahuan itu dengan pengalaman saya bertabrakan, ya? Saya tahu Tuhan mengasihi saya, tapi pengalaman saya berbeda, saya justru merasa Tuhan meninggalkan di saat saya paling membutuhkan Dia”. Itulah yang mungkin kita rasakan. Mengapa bisa ada ketegangan seperti ini? Jawabannya sederhana, lihatlah Tuhan Yesus, Hamba Allah itu. Coba lihat hidup-Nya, lihat hidup pengikut-pengikut-Nya, maka Saudara akan menemukan bahwa percampuran antara 2 hal itu adalah hal yang normal, yang selalu ada. Dalam kehidupan selalu ada saatnya matahari bersinar terang, tapi kemudian esoknya badai, topan, tsunami; selalu ada sukacita, tapi kemudian esoknya sengsara. Bagi kita itu 2 hal yang tabrakan, dan kita tidak bisa terima. Tapi mungkin kita tidak bisa terima karena kita hanya punya sudut pandang yang terbatas, temporer, dan sempit sekali.

Kalau Saudara membaca Kitab Habakuk, pada dasarnya di situ Habakuk sedang complain, ngomel, terhadap Tuhan: “Tuhan, koq seperti ini? Janji-Mu Israel jadi sumber keselamatan bangsa-bangsa lain, tapi sekarang lihat, Israel hancur, penuh kelaliman, penuh ketidak-adilan, banyak orang yang korup, bagaimana ini Tuhan?” Lalu Tuhan menjawab: “Oke, Aku akan bertindak; dan Aku akan mengerjakan ini di zamanmu.” Sampai di sini, tentunya Habakuk senang Tuhan akhirnya bertindak, dan antusias karena dia akan melihatnya sendiri –tidak seperti Abraham yang memang dijanjikan tapi tidak di zaman hidupnya. Selanjutnya Tuhan juga mengatakan: “Aku akan mengerjakan pekerjaan yang membuatmu tercengang-cengang, sampai-sampai kalau diceritakan, kamu tidak akan percaya, kamu tidak akan bisa mengerti.” Betapa luar biasa. Lalu apakah yang dikerjakan Tuhan? “Aku akan membangkitkan bangsa Babel  yang haus darah itu, dan Aku akan membiarkan mereka menyapu bersih bangsamu, dan membuang kamu ke Babel.” Habakuk bengong. “Maksudnya apa Tuhan? Koq kayak gitu? Bukankah keselamatan datang dari Israel??” Habakuk baru saja mengatakan bahwa Israel hancur, lalu solusi Tuhan adalah mendatangkan bangsa yang lalim juga; jadi sekarang bukan cuma internal kerusakannya tapi juga eksternal yang akan datang menyapu bersih bangsa Israel. “Bagaimana bisa menjalankan janji Tuhan --keselamatan datang dari bangsa Israel—kalau seperti ini, kalau kami dikalahkan dan dibuang?” Habakuk tidak bisa mengerti, dan Tuhan memang sudah mengatakannya.

Habakuk tidak bisa mengerti semua itu, tapi kita bisa. Kita tidak melihat ketegangan sama sekali karena kita punya sudut pandang yang berbeda. Kita sudah berada ribuan tahun setelah Habakuk, dan ketika kita melihat ke belakang, ke peristiwa pembuangan, kita tahu bahwa yang terjadi adalah melalui pembuangan, orang Yahudi menyebar ke mana-mana. Ketika Ezra dan Nehemia membawa mereka kembali dari pembuangan, memang ada yang kembali ke Yerusalem tapi tidak semua, ada yang disebut kaum Yahudi diaspora, mereka ini tetap di perantauan. Di perantauan ini, mereka menyembah Tuhan dengan mendirikan sinagoga (sygnagoge) –karena mereka tidak punya Bait Allah— dan di situlah mulainya budaya sinagoga. Berhubung sinagoga-sinagoga ini ada di wilayah-wilayah non Yahudi, maka orang-orang kafir (non Yahudi) mulai mendengar tentang Allah Yahweh. Mereka mulai tertarik mempelajari Perjanjian Lama, mulai masuk ke sinagoga. Orang-orang ini dinamakan oleh orang Yahudi sebagai “the gentiles God-fearers”, yaitu orang-orang yang takut akan Allah meski mereka non Yahudi. Dan ketika akhirnya Injil diberitakan setelah Yesus mati dan bangkit, Kisah Para Rasul dan sejarah dunia memberitahukan kepada kita, bahwa orang yang paling awal reseptif serta terbuka terhadap berita Injil bukanlah orang Yahudi murni –mereka benci Injil--, bukan orang Yunani murni –mereka menganggap Injiil suatu kebodohan—melainkan orang-orang Yunani/ non Yahudi yang telah mengenal Tuhan melalui sinagoga-sinagoga ini. Ada Kornelius yang sudah menyembah Allah sebelum dia mendengar Injil, ada sida-sida Etiopia yang entah bagaimana memiliki gulungan kitab Yesaya, ada orang-orang seperti Lidia, dst. Ini adalah orang-orang hasil dari adanya sinagoga-sinagoga, yang terbentuk karena orang-orang Yahudi tersebar. Jikalau tidak ada pembuangan, maka Injil tidak akan menyebar sebegitu luasnya –atau mungkin pakai cara lain yang kita tidak tahu.

Jadi, janji “keselamatan datang dari bangsa Israel” terpenuhi, tapi apakah Habakuk bisa melihat ini? Tidak bisa. Habakuk tidak bisa mengerti ini, bahkan seandainya diceritakan pun tidak mungkin percaya. Tapi Saudara bisa melihat tidak ada pertentangan sama sekali pada akhirnya, karena sudut pandang kita berbeda. Itu sebabnya ada Alkitab. Alkitab melatih kita untuk mengetahui sudut pandang yang dari Tuhan. Kalau hari ini kita mengalami kesengsaraan, penderitaan, kita mengatakan ‘koq, seperti ini Tuhan??’ –ada ketegangan. Ketegangannya di mana? Ketegangannya hanya di sudut pandang diri kita. Poinnya adalah: sebagai manusia, adalah satu hal yang tidak mungkin, untuk bisa meresolusikan semua ketegangan yang terjadi dalam hidup kita hari ini, selama kita masih hidup, karena sudut pandang kita sempit, terbatas, dan temporer sekali. Tetapi, fakta kita tidak bisa meresolusikan 2 ketengangan ini, tidak berarti bahwa ketegangan tersebut riil; dalam sudut pandang Tuhan semuanya jelas.

Dari stanza pertama ini, pertanyaannya apakah Saudara dan saya mau menerima, bahwa dalam hidup kita sebagai orang-orang yang mengikut Tuhan, sebagai Gereja, sebagai tubuh Kristus, selalu ada percampuran antara keadaan terang dan gelap, cerah dan berawan? Apakah kita mau menerima, bahwa kasih Allah kepada kita sangat kompatibel dengan semua penderitaan dan kesengsaraan dalam hidup kita?

BAIT 2, Yesaya 53: 1-3
Di bagian kedua kita melihat deskripsi hidup si hamba Allah ini, yaitu bahwa hamba Allah ini hidupnya diwarnai dengan ordinariness (istilah dalam KBBI: ‘kemurbaan’; murbawan/ jelata lawan katanya adalah hartawan). Hamba Allah ini sama sekali tidak impresif, tidak ganteng, tidak semarak, tidak menarik, tidak powerful. Dalam kata ‘dihina’ di ayat 3 --‘Ia dihina dan dihindari orang’-- bahasa aslinya bazah (Ingg.: despise), yang artinya dianggap enteng; menganggap enteng lebih parah daripada menghina. Tuhan Yesus jelas ‘gak ada power, ‘gak ada koneksi, ‘gak ada backing-an, dan juga ‘gak ada tampang. Dalam Markus 3 ketika Tuhan Yesus kembali ke Nazaret, orang-orang di sana mengatakan, “Emang Lu siapa? Lu orang biasa, sama dengan kita”, mereka menganggap enteng. Ada satu rock opera, “Jesus Christ Superstar”, karya Andrew Llyod Webber, yang  dalam adegan pertemuan tokoh Yesus dengan tokoh Pilatus, tokoh Pilatus ini mengatakan, “You look so small, not a king at all” --Kamu ini kecil banget, ‘gak ada raja yang modelnya kayak gini. Itulah Tuhan Yesus. Dan ini juga mendeskripsikan kita, Gereja.

Di bait pertama tadi, problemnya adalah ada orang-orang yang tidak bisa menerima bahwa Tuhan itu  bekerja lewat penderitaan, kesengsaraan, dsb. Di bait kedua problemnya lain, yaitu banyak orang yang juga tidak bisa menerima ketika Tuhan bekerja lewat hal yang biasa-biasa. Kita tidak mau cara kerja Tuhan yang seperti itu.

Contoh pertama, banyak dari kita yang mau dipimpin Tuhan, mau cari kehendak Tuhan, tapi seringkali lupa atau gagal untuk mempertanyakan konsep pimpinan Tuhan seperti apa yang ada dalam otak kita. Seringkali kita mau pimpinan Tuhan yang bersifat nyata, yang kelihatan, yang berasa. Tidak perlu yang spektakuler seperti terdengar suara dari langit, tapi paling tidak menimbulkan perasaan yang dalam, yang bikin mudeng, yang rhema, yang saya bisa mengatakan “saya yakin ini jalan yang Tuhan pimpin, karena Tuhan memberikan saya damai sejahtera yang sejati”. Itu yang kita inginkan, karena kalau tidak jelas, bagaimana tahu itu pimpinan Tuhan atau bukan??

Tetapi, seperti yang sudah berkali-kali diberitakan di mimbar ini, cara Tuhan memimpin kita, umat-Nya, yaitu melalui membaca firman Tuhan, melalui belajar Akitab tiap hari, melalui membaca bagian yang sudah pernah kita baca lalu kita baca lagi, baca lagi, dan baca lagi. Itulah caranya Tuhan memimpin kita, dengan sebuah disiplin. Bukankah ini yang justru mengubah kita? Orang yang membaca Alkitab terus-menerus seperti ini, mungkin dia tidak ingat pasal dan ayatnya ada di mana, tapi lama-kelamaan  tema-tema dan benang merah-benang merah dari Alkitab itu meresap dalam hidupnya, sehingga ketika dia bertindak, bukan cuma tindakannya yang dipengaruhi, reaksinya dan refleksnya pun dipengaruhi oleh firman Tuhan. Itulah perubahan yang sejati. Datangnya dari mana? Dari hal yang lagi dan lagi, yang rutin, yang biasa-biasa.

Kalau Saudara membeli mobil Jerman atau Amerika, mobil-mobil itu tombol lampu sein-nya di sebelah kiri; sedangkan mobil-mobil Jepang seperti Nissan, Toyota, Suzuki, Honda, semua di sebelah kanan. Saya punya 2 mobil, yang satu Suzuki, lainnya Ford, dipakai bergantian. Dulu setiap ganti mobil, selalu salah, mau menyalakan sein malah pencet tombol wiper, dan sebaliknya. Tapi lama-kelamaan, karena terus-menerus dibiasakan, secara natural setiap kali masuk mobil Suzuki  saya pencet yang kanan, dan setiap kali masuk Ford saya pencet yang kiri, karena sudah terlatih. Dan itu adalah perubahan, bahkan perubahan yang sejati, karena saking berubahnya sampai-sampai saya tidak sadar kalau saya sudah berubah. Darimana datangnya? Justru bukan dari hal-hal spektakuler tapi dari hal yang biasa-biasa.

Waktu dengar kotbah, dengar PA atau bahan-bahan KTB, kita ingin hal-hal yang baru, yang segar, yang kita belum pernah dengar. Tapi yang mana sebenarnya yang mengubah diri Saudara? Hal-hal yang baru sama sekali, yang Saudara baru dengar minggu itu, atau justru hal-hal yang sudah berulang-ulang dan berulang-ulang kali Saudara dengar? Kalau kita dengar hal-hal yang baru dalam kotbah, mungkin waktu pulang kita bisa ceritakan ke orang-orang, tapi minggu depannya sudah lupa. Tapi kalau ditanya apa yang kira-kira muncul terus dalam kotbahnya Pak Billy, atau Pak Tong, atau Jethro, Saudara bisa ingat karena hal itu selalu diulang-ulang lagi, dan itulah yang mengubah hidup Saudara. Namun seringkali kita tidak mau yang seperti ini.

Banyak orang masih ngarep Tuhan bekerjanya tidak lewat hal-hal seperti ini. Banyak orang masih ngarep Tuhan bekerjanya lewat hal-hal spektakuler, bukan hal-hal yang biasa-biasa. Maunya selalu yang kelihatan, spektakuler, dramatis, tiba-tiba, instan. Padahal, kalau Saudara bertumbuh [fisik], apakah Saudara berasa sedang bertumbuh? Tentu tidak, tapi ketika Saudara bertemu dengan orang yang sudah lama tidak melihat Saudara, dia mungkin bilang “eh, kamu sudah besar ya, sekarang”, sementara Saudara merasa biasa-biasa saja. Kemudian waktu Saudara melihat garis yang dicoret di tembok sebagai penanda tinggi Saudara tahun lalu, dan dibandingkan dengan sekarang, baru tahu ternyata memang sudah bertambah tinggi; ‘koq ‘gak berasa ya??’ Itulah pertumbuhan yang sejati; pertumbuhan sejati justru tidak berasa.

Pertumbuhan sejati itu biasa-biasa, sedikit-sedikit, hari demi hari, tidak berasa. Saudara tahu, pertumbuhan apa yang berasa? Yaitu pertumbuhan jerawat, pertumbuhan kutil, atau –yang lebih mengerikan—ketika ‘koq ada benjolan di perut saya??’ Itu berasa, itu tumor, itu kanker. Itu bahaya. Seringkali kita salah kaprah, kita minta pimpinan Tuhan, tapi pimpinan yang seperti apa?? Jangan-jangan Saudara yang sedang mau memimpin Tuhan untuk bagaimana caranya Dia memimpin Saudara.

Contoh yang kedua, kita mau Tuhan mengubah sifat kita yang jelek, mengubah kebiasaan-kebiasaan kita yang buruk, tapi di sini kita pikir caranya lewat apa? Paulus dalam 2 Korintus 12 berkali-kali minta supaya duri dalam dagingnya dibuang. Metafor yang dipakai menarik, yaitu duri di dalam daging, bukan peluru di dalam jantung. Kalau peluru di dalam jantung, memang harus dibereskan; sedangkan duri dalam daging tidak mematikan, hanya problem yang menyebalkan karena setiap kali Saudara bergerak, akan sakit. Duri dalam daging itu tidak fatal, tapi terus ada. Paulus minta kepada Tuhan untuk buang duri dalam dagingnya itu, dan Tuhan jawab: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu” –ini biasanya kita ingat—tapi kalimat berikutnya sangat penting: “dalam kelemahanlah, kuasa-Ku menjadi sempurna”. Dengan kata lain, Tuhan mengatakan kepada Paulus, ‘Paulus, kamu minta kuasa-Ku, tapi kamu tidak tahu kuasa-Ku itu cara kerjanya seperti apa. Kalau kamu benar-benar mau kuasa-Ku dalam hidupmu, waktu kuasa-Ku datang, itu bukan menghasilkan sesuatu yang spektakuler, bukan kelihatan, bukan berasa enak, segar, dramatis, sama sekali tidak; kuasa-Ku itu datang dalam kelemahanmu. Buktinya, kelemahanmu itu mengajarkan dirimu untuk sabar, rendah hati; dan kelemahanmu itu menguatkanmu karena dengan dirimu lemah, kamu lebih bergantung pada Saya, di situ justru kamu dikuatkan’. Apakah Saudara mau kuasa Tuhan yang mengubah diri kita?

Dalam stanza kedua ini, ayat pertama pasal 53 dikatakan: “Kepada siapakah tangan kekuasaan TUHAN dinyatakan?” –dari siapa kuasa Tuhan itu dinyatakan? Yaitu lewat si hamba Allah ini. Hamba Allah yang tidak ada kuasa, tidak ada power, tidak ada backing-an, tidak ada uang, tidak ada koneksi, tidak ada tampang –itulah kuasa Tuhan. Mengerikan, bahwa kuasa Tuhan itu datang dalam hal-hal yang menyebalkan seperti duri dalam daging, datang dalam kelemahan. Bagi seorang hamba Tuhan, mungkin ini berarti bahwa kuasa Allah datang kepada dia melalui Allah memberikan jemaat yang menyebalkan. Bagi seorang jemaat, mungkin ini berarti bahwa kuasa Allah datang kepada dia melalui Allah memberikan hamba Tuhan yang menyebalkan. Itu datang ketika Allah memberikan kepada kita kolega kerja yang menyebalkan. Itu juga datang ketika Allah memberikan kepada kita keluarga yang seperti duri dalam daging.

Saya sedang baca buku dari seorang puritan, Richard Sibbes, mengenai servant song yang pertama, yaitu bagian tentang buluh terkulai, sumbu yang pudar, dst. Saudara tentu senang mendengar bahwa Tuhan kita adalah Tuhan yang tidak mematahkan kita si buluh yang terkulai, tidak memadamkan kita si sumbu yang pudar, tapi Richard Sibbes punya kacamata yang lain; dia membahas sisi yang sebaliknya. Dia mengatakan, kalau kita meng-amini bahwa Tuhan kita itu Tuhan yang tidak mematahkan buluh terkulai, Tuhan yang tidak memadamkan sumbu yang pudar, berarti kita harus rela menempatkan diri kita sebagai buluh yang terkulai, sebagai sumbu yang pudar. Apa maksudnya? Kelemahan. Saudara melihat diri seperti itu atau tidak?

“Kita ini buluh, bukan pohon”, kata Sibbes –lagipula buluh yang sudah terkulai. Buluh bisa terkulai biasanya karena robek, atau terpotong, atau ada lubang. Itu berarti buluh yang terkulai adalah buluh yang tidak utuh, buluh yang kekurangan; itulah kita. Dan yang paling mengerikan, Sibbes mengatakan bahwa Gereja bukan buluh yang terkulai cuma sebelum bertobat, tapi juga buluh yang terkulai setelah bertobat. Status itu tidak dibuang dari diri kita. Buktinya, bukankah dalam Alkitab dari depan sampai belakang berkali-kali Gereja/ tubuh Kristus/ umat Allah selalu digambarkan dengan metafor barang yang lemah, yaitu sebagai buluh bukan pohon, merpati bukan elang, domba di tengah-tengah serigala, pokok anggur bukan pohon kayu jati. Pokok anggur itu tanaman yang menjalar dan mudah sekali hancur, harus ada tonggak-tonggak yang mengarahkan supaya bisa menjalar; seperti itulah Gereja. Gereja juga digambarkan sebagai wanita, dan Alkitab jelas mengatakan wanita itu ‘kaum yang lebih lemah’. Itulah Gereja, itulah kita semua.

Saya dan istri saat ini mulai serius untuk punya anak, dan kami memutuskan pergi ke dokter inseminasi. Waktu kunjungan yang pertama, saya sedang dalam situasi bergumul, dongkol habis-habisan karena ada satu hal tidak adil yang saya alami; saking kesalnya, saya tidak cerita kepada siapapun, juga pada istri. Hari itu menunggu dokter juga setengah mati lamanya, datang jam setengah enam dan baru bertemu dia setengah sepuluh. Jadi selama 3 jam lebih di klinik itu saya mendongkol terus-menerus. Tapi aneh, setelah bertemu dengan dokter, konsultasi, lalu pulang, dalam diri saya terbersit ‘kamu harus sadar lho, kamu ada kemungkinan jadi papa, kamu akan dapat tanggung jawab untuk mendidik seorang anak, dan kalau kamu jadi papa maka urusan seperti dongkolmu itu tidak bisa jadi urusan besar’, dan setelah itu urusan dongkol tadi benar-benar langsung masuk tong sampah. Tidak ada resolusi, tidak ada perdamaian, dsb., semata-mata cuma masuk tong sampah, tanpa usaha, hilang begitu saja karena ada hal lebih besar yang datang.
Saudara mungkin pikir saya menceritakan ini untuk menunjukkan sesuatu yang positif, tapi tidak begitu maksudnya. Dalam kerohanian, kita juga ingin pengalaman seperti ini, ada sesuatu yang terjadi sehingga segala sesuatu dalam hidup kita langsung beres. Kita ingin seperti itu, yang spektakuler, yang instan, yang langsung, tanpa pergumulan. Waktu pertama kali kita bertobat, seringkali seperti itu; ada sesuatu yang datang yang mengubah arah hidup kita, tanpa usaha, tidak bergumul, langsung terbawa begitu saja. Lalu perasaan itu tidak bertahan lama. Setelah dua puluh tahun, tiga puluh tahun jadi orang Kristen, ke mana perasaan yang dulu itu ya?? --kita ingin seperti itu lagi.

Sama seperti itu juga dalam hal menjadi orangtua. Ada teman yang mengatakan bahwa punya anak itu betul-betul mengubah hidup. Dia bilang, ‘anak gua sekarang masih kecil, bandel, tapi imut; meskipun dia bandel, pecahin kaca, dsb., tapi waktu dia tidur, kelihatan imut, cium jidatnya, kebayar deh semuanya’. Kita ingin selalu seperti itu; dan waktu anak kita remaja, sudah tidak imut lagi, mau dicium malah bilang “Papa apaan sih!”, kita tidak ingin yang seperti ini. Kita ingin yang seperti tadi itu, perasaan yang dalam itu, yang spektakuler itu. Tapi Tuhan sedang mengatakan: “Tidak, bukan seperti itu cara-Ku bekerja, cara-Ku bekerja adalah lewat hal yang biasa-biasa, yang rutin, yang tidak tentu berasa, lewat kelemahan”. Bagi yang sudah punya anak remaja, saya ingin tanya, pengalaman mendidik yang mana yang lebih membentuk karakter Saudara sebagai seorang manusia, pengalaman cium anak yang imut-imut tadi atau pengalaman mendidik seorang anak remaja? Kita tahu yang benar yang mana, tapi selalu kita kembali dan kembali lagi tidak mau yang itu.

Contoh yang ketiga, kita seringkali juga tidak bisa menerima bahwa Tuhan bekerja lewat orang-orang Kristen lain yang biasa-biasa. Mungkin kita tidak mengatakan secara lugas, tapi mungkin kita berpikir, kalau Kekristenan itu sungguh adalah jawaban bagi semua problematika dunia, mengapa ada begitu banyak orang Kristen yang amat sangat tidak impresif, yang tidak ada semaraknya, yang tidak atraktif, yang tidak memberikan kesaksian dalam hidupnya sehingga orang-orang menginginkan mereka? Ordinariness orang Kristen inilah problem besar dalam hidup kita. Orang Kristen itu terlalu normal, sama saja dengan orang lain, sama rusaknya, sama tidak konsistennya, sama malasnya, sama penyakitnya –lelet, lamban, malas mikir, sombong—tidak ada penyakit orang dunia yang orang Kristen tidak mengidapnya. Ini membuat kita berpikir, ‘koq Tuhan bekerja lewat orang-orang kayak begini ya, sama saja ini’.

Ada satu buku yang menarik dari C. S. Lewis, “The Screwtape Letters”. Buku ini isinya surat-surat fiktif dari setan senior yang sedang mengajari setan junior. Screwtape, si Paman Setan in, satu kali sedang membimbing setan junior untuk mencobai targetnya –yang mereka sebut klien—yang justru malah bertobat. Di sini si Paman Setan menegur setan junior: “Kamu ini bagaimana sih? Tapi sudahlah, tetap ada pengharapan bagi kita –para setan—meskipun dia sudah bertobat, karena setelah bertobat dia akan datang ke gereja, dia akan bertemu orang-orang Kristen yang lain, dan itulah kesempatan buat kita.” Mengapa bisa begitu? Selanjutnya si setan senior mengatakan: “Ordinariness orang-orang Kristen lain ini adalah sesuatu yang bisa kamu pakai, karena cepat atau lambat klienmu ini akan punya perasaan kecewa, perasaan anti klimaks dalam dirinya, ketika dia duduk di gereja, melihat ke kiri-kanan, ke depan-belakangnya, dan mendengar orang-orang bernyanyi fals, melihat orang-orang di sebelahnya pakai baju aneh-aneh, mencium bau badan orang-orang di sekitarnya, menyaksikan tingkah laku konyol orang-orang Kristen itu. Pada saat seperti itu, klienmu akan mudah untuk percaya bahwa tentunya agama mereka sekonyol tingkah laku mereka.” Screwtape melanjutkan, “Musuh kita –maksudnya Yesus— mengizinkan kekecewaan dan perasaan anti klimaks ini datang di hampir seluruh aspek hidup manusia, entah mengapa. Musuh kita memberikan hal ini di mana-mana; kekecewaan yang sama terjadi ketika seorang anak kecil yang terpesona dengan mitologi Yunani –Hermes, Odisseus, dsb.—mau belajar bahasa Yunani, kekecewaan ini juga terjadi ketika pasangan yang tergila-gila satu sama lain akhirnya menikah dan baru belajar artinya hidup bersama-sama. Entah bagaimana, Musuh kita mengizinkan kekecewaaan ini terjadi di setiap level hidup manusia; dan itulah kesempatan kita. Mengapa Dia melakukan itu? Entah mengapa Musuh kita ambil resiko ini, tapi Dia punya fantasi yang aneh, Dia menginginkan untuk membentuk manusia-manusia menjijikkan itu jadi orang-orang yang sungguh mengasihi Dia secara sejati, bukan mengasihi Dia sekedar karena ada perasaan saja. Tapi inilah kesempatan kita.” Saudara, kita ingin yang spektakuler, dramatis, klimaks, instan; Tuhan menggunakan yang ordinary, yang biasa-biasa, orang-orang yang tidak ada semaraknya, justru untuk membangun Saudara. Bisakah kita hidup dengan hal ini?

Satu contoh lagi, mungkin Saudara mengatakan, “Saya tidak seperti itu; saya sepertinya justru terbalik. Saya tidak minta yang spektakuler, saya cuma minta kotbah yang sederhana, yang mendarat.” Mari kita pikirkan apa arti sebenarnya kotbah yang sederhana dan mendarat. Tentu maksudnya bukan kotbah yang dangkal. Saudara mau kotbah yang dalam tapi bisa mendarat, simpel, mudah dimengerti, langsung kelihatan, langsung bisa nangkep. Tapi itu semua justru berarti yang spektakuler, bukan yang mendarat. Ini ironinya. Banyak orang minta kotbah yang benar-benar mendarat; tapi coba lihat, bahan yang super dalam, super insightful, super berguna, super ini dan itu, tetapi juga langsung bisa diterima, langsung bisa ditangkap, langsung mengena, langsung masuk ke semua aspek hidup, langsung bisa dipraktekkan, itu adalah bahan yang spektakuler, dan itu justru kotbah yang mengawang-awang. Ini fantasi di awang-awang, bukan mendarat. Tuhan justru mengatakan ‘sini turun, di darat, lihat bagaimana Aku bekerja di darat’. Apakah yang di darat itu? Yang biasa-biasa itu, itulah yang di darat.

BAIT 3, Yesaya 53: 4-6
Satu catatan mengenai bahasa dalam bagian ini, ayat 4 di sini berupa kalimat pasif –“penyakit kita yang ditanggung-Nya, kesengsaraan kita yang dipikul-Nya”-- sedangkan bahasa aslinya bukan bentuk pasif melainkan aktif. Dalam bahasa Inggris dikatakan: “Surely he hath borne our griefs, and carried our sorrows”, maka terjemahan bahasa Indonesia yang lebih tepat adalah: “Sesungguhnya Dialah yang menanggung penyakit kita, Dialah yang memikul kesengsaraan kita”. Jadi ada perbedaannya, antara bentuk pasif dan bentuk aktif.

Itu berarti, dosa kita dan kesengsaraan kita bukan jatuh ke Dia, yang Dia tiba-tiba tertimpa lalu Dia menerimanya, melainkan sesuatu yang Dia ambil, sesuatu yang Dia taruh di pundak-Nya sendiri. Ini sesuatu yang Dia secara aktif melakukannya, bukan sesuatu yang diletakkan kepada Dia, yang ternyata begitu berat. Ini adalah sesuatu yang merupakan voluntary act (tindakan sukarela) dalam diri Tuhan Yesus. Itu berarti kematian Tuhan Yesus juga kematian yang sukarela; Yohanes 10:18 mengkonfirmasi hal ini, Tuhan Yesus mengatakan: “Tidak seorang pun mengambil nyawa-Ku daripada-Ku, melainkan Aku memberikan menurut kehendak-Ku sendiri”. Waktu Tuhan Yesus di atas kayu salib, di situ bukan Bapa membunuh Dia melainkan Dia menyerahkan nyawa-Nya kepada Bapa. Ini satu tindakan yang sukerela.

Hal ini penting sekali, karena kematian Tuhan Yesus adalah satu-satunya kematian yang secara sukarela sepenuh hati. Kita sering mendengar tentang orang-orang yang rela memberikan nyawanya demi menyelamatkan orang lain, orang-orang yang tidak seharusnya mati tapi dia rela dirinya ditabrak truk supaya orang lain selamat, dsb. Tapi pengorbanan Tuhan Yesus ini lain sama sekali dengan semua pengorbanan manusia, meskipun sama-sama rela. Manusia memang bisa memilih bagaimana caranya mati, bisa memilih untuk mati bagi orang lain –yang jelas berarti rela—tapi Saudara dan saya tidak bisa memilih untuk mati karena kita pasti mati; dan kalau kita pasti mati, memang lebih baik kalau kematian itu kita gunakan bagi orang lain. Tetapi Tuhan Yesus tidak harus mati. Tidak ada hak dari kuasa maut untuk meng-klaim jiwa-Nya. Dia menghidupi hidup yang sempurna; sebagai manusia pun, upah-Nya adalah hidup yang kekal. Maka pertanyaannya, apa yang mengikat tangan dan kaki Pencipta alam semesta di atas sana? Apa yang bisa cukup kuat untuk menahan tubuh Sang Penopang alam semesta di sana? Ada syair lagu yang mengatakan: “Tuhan apakah paku yang menyalibkan-Mu?”; apakah paku yang menahan Tuhan di atas sana? Tidak. Jawaban di lagu itu: “Hanya karena kasih-Mu, Engkau menggantikanku”.

Namun yang lebih dari itu, jika kita lompat ke stanza kelima, ayat 10-11 mengatakan: “Apabila ia menyerahkan dirinya sebagai korban penebus salah, ia akan melihat keturunannya –maksudnya Saudara dan saya--, umurnya akan lanjut, dan kehendak TUHAN akan terlaksana olehnya. Sesudah kesusahan  jiwanyaia akan melihat terang  dan menjadi puas” --Hamba Tuhan ini akan melihat keturunan-Nya, hasil dari penderitaan-Nya, dan Dia menjadi puas. Apa maksudnya? Penderitaan-Nya adalah kehilangan segalanya, diremukkan sampai bentuknya tidak seperti manusia lagi, kehilangan Bapa-Nya, kehilangan kemuliaan-Nya, kehilangan kuasa-Nya, kehilangan keindahan-Nya. Tapi kemudian Dia memandang Saudara dan saya, dan Dia mengatakan seperti teman saya tadi ketika mencium anaknya yang tidur, “kebayar, kebayar”. Perbedaannya, Saudara dan saya bukan anak kecil yang imut-imut, Saudara dan saya adalah pembunuh-pembunuh-Nya. Dan waktu Dia melihat kita, Dia mengatakan “kebayar; it was worth it”. Itu berarti Tuhan mengatakan “Aku kehilangan semua itu tapi Aku mendapatkan kamu, dan kamu worth it”. Itu berarti Dia mencintai kita lebih dari dunia, lebih dari kemuliaan-Nya, lebih dari kuasa-Nya, lebih dari keindahan-Nya.

Ketakutan apa yang paling utama bagi seorang pria dan wanita? Mimpi buruk seorang wanita salah satunya adalah menjadi ugly (ugliness), dianggap cacat, dianggap jelek, dianggap rusak, dianggap tidak indah. Seorang pria mungkin tidak terlalu masalah kalau dianggap jelek, tapi paling masalah kalau dia impoten; bukan cuma berarti secara seksual tapi misalnya secara finansial tidak bisa menghidupi keluarganya. Para pria sangat takut dengan impotence, dan para wanita sangat takut dengan ugliness. Yang saya mau tanya, sadarkah Saudara bahwa Tuhan kita di atas kayu salib menerima kedua-duanya? Dia yang tadinya powerful, kini menyerahkan segala kuasa-Nya. Dia yang tadinya sumber segala keindahan, menjadi buruk rupa, supaya Saudara dan saya yang betul-betul buruk rupa menjadi beautiful. Dalam cerita “Beauty and The Beast”, si cantik mencium si buruk rupa sehingga si buruk rupa jadi pangeran tampan. Cerita Tuhan Yesus adalah Si Cantik menjadi buruk rupa, supaya Saudara dan saya yang buruk rupa menjadi beautiful.

Apakah Saudara sekedar tahu bahwa Allah mengasihimu, ataukah kasih Allah melelehkan hatimu? Apakah Saudara sungguh hidup dalam realita kasih Tuhan? Apakah Saudara menghirup kasih Tuhan ini, merasakannya di lidah Saudara? Sadarkah Saudara betapa hidupmu akan berbeda jikalau Saudara menyadari skala dari kasih Tuhan? Inilah poin dari bait ketiga ini ketika diaplikasikan pada diri kita; kita tidak akan hanya jadi orang-orang yang kepada-Nya ditanggungkan penderitaan, orang-orang yang kepada-Nya dipikulkan kesengsaraan. Kalau kita benar-benar melihat seperti apa Kristus, Saudara dan saya akan jadi orang-orang yang secara aktif seperti Sang Hamba Allah ini, memikul penderitaan, mengangkat beban, menanggung kesengsaraan, seperti Hamba Allah itu.

Kekristenan tidak mengubah hidupmu dari ada penderitaan menjadi tidak ada penderitaan. Kekristenan akan mengubahmu; mengubah bagaimana Saudara melihat dan menjalani penderitaan, mengubah bagaimana melihat pergumulan, mengubah bagaimana melihat ordinariness, mengubah bagaimana meresponi sesama orang Kristen yang menyebalkan itu. Apakah Kekristenan seperti ini worth it bagimu atau tidak, apapun jawabanmu, ketahuilah satu hal: bagi Tuhan jawabannya adalah worth it, bagi Tuhan engkau itu kebayar.

Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah (MS)

Gereja Reformed Injili Indonesia Kelapa Gading

Download Ringkasan