Eksposisi Kehidupan Daud (14)

Kita melanjutkan eksposisi kehidupan Daud, masuk ke pasal-pasal terakhir kitab 1 Samuel yang berakhir dengan kematian Saul. Sebelumnya, pembahasan kita sampai pada satu antisipasi pertempuran besar yang terakhir antara Saul dengan orang Filistin di Lembah Yizreel. Saul ketakutan, dia pergi ke ahli tenung di En-Dor; sementara Daud ada di Afek, sebelah selatan Yizreel, bersama Raja Akhis. Daud sedang menghadapi problemnya sendiri, dia terlalu sukses menipu Akhis sehingga Akhis mau dia ikut maju bersama-sama orang Filistin melawan Israel. Tuhan lalu memakai kecurigaan raja-raja Filistin --bukan memakai bom meledak atau cara-cara yang spektakuler-- untuk menyelamatkan Daud dari tangan orang Filistin. Jadi, dari Afek, tempat orang Filistin berkumpul, pada saat yang sama ada 2 pergerakan, yaitu orang Filistin yang bergerak ke utara menuju Lembah Yizreel untuk berperang melawan Saul terakhir kalinya, dan Daud bersama pasukannya yang bergerak ke selatan, ke arah Ziklag, pulang ke kota mereka. Menariknya, jarak dari Afek ke Lembah Yizreel kira-kira hampir sama dengan jarak dari Afek ke Ziklag. Dengan demikian, di pasal-pasal terakhir ini kita melihat peristiwa yang dialami Daud maupun Saul terjadi dalam waktu relatif sama.

Ini sepertinya cara yang sengaja digunakan narator Alkitab untuk membuat kita melihat paralel dari cerita Daud dan cerita Saul, yang juga sudah dirajut sedemikian, selalu bersamaan sejak awal kisahnya, lalu pada masa-masa yang terakhir ini benar-benar diparalelkan, diperbandingkan, dikontraskan, sampai akhirnya narator menutup dengan kisah kematian Saul.  Kontras dan perbandingan yang mau dihadirkan antara Saul dengan Daud adalah: Saul itu raja yang seperti apa dan dia akan berakhir seperti apa (pasal 31), sedangkan Daud akan jadi raja yang seperti apa dan kerajaan seperti apa yang akan dia bawa. Hal ini yang jadi fokus pembahasan kita.

Pertama, kita membahas 1 Samuel 30 ayat 1-6, ketika Daud dan orang-orangnya sampai ke Ziklag. Perjalanan dari Afek ke Ziklag memakan waktu 3 hari lamanya. Bangsa Amalek yang selama ini jadi target Daud, akhirnya balas dendam. Mungkin mereka mendapat informasi bahwa Daud bersama pasukannya sedang bergerak ke Afek untuk melawan Israel di Yizreel, sehingga kota mereka, yaitu Ziklag, kosong. Maka Ziklag jadi sasaran empuk, bangsa Amalek masuk dan membakar habis kota itu; sementara itu, Daud dan pasukannya berjalan pulang dari Afek. Kita bisa bayangkan bagaimana perasaan mereka melihat Ziklag terbakar habis. Mereka baru saja menyaksikan kuasa Tuhan, bukan kuasa Tuhan yang meledak melainkan yang bekerja begitu halus; dan kuasa yang tersembunyi ini justru dampaknya lebih besar ketika kita menyadari bahwa Tuhan menyelamatkan mereka dari tangan orang Filistin lewat tangan orang Filistin sendiri. Mereka mungkin begitu senang karena tidak harus bertempur melawan bangsanya sendiri. Mereka berjalan pulang 3 hari 3 malam dengan hati yang lega karena lepas dari mulut harimau, tapi ternyata sekarang mereka masuk mulut buaya; Daud dan pasukannya sampai ke Ziklag, dan menemukan kota tempat tinggal mereka serta anak istrinya, terbakar habis.

Ayat 2 mengatakan bahwa orang Amalek tidak membunuh satupun dari keluarga mereka, tapi fakta ini jangan Saudara mengerti sebagai kabar baik. Orang Amalek tidak membunuh mereka bukan karena baik hati, melainkan karena anak-anak dan perempuan adalah komoditi yang sangat berharga untuk dijual sebagai budak. Narator memperlihatkan hal ini dengan jelas, karena di ayat 2 dalam kalimat ‘mereka menggiring sekaliannya’, dipakai istilah nahaq –istlah bahasa Ibrani yang biasa digunakan dalam pengertian menggiring ternak.

Namun yang lebih parah lagi, Daud dan pasukannya tidak tahu siapa yang melakukan kekejian ini. Kita sebagai pembaca diberitahu bahwa yang melakukan adalah orang Amalek, tapi dalam kejadian tersebut Daud dan pasukannya tidak ada petunjuk apapun siapa yang melakukan ini, mereka tidak tahu sudah berapa lama terjadinya, mereka tidak tahu harus mengejar berapa lama, dan bahkan tidak tahu dari arah mana orang-orang itu datang. Jalan buntu. Mereka menangis habis-habisan sampai tidak kuat lagi untuk menangis. Tragedi ini bisa dibilang tragedi dalam level Ayub, yaitu kehilangan semua harta, kehilangan anak istri (Ayub masih ada sisa istrinya), dikalikan 600 orang. Daud sendiri, istri pertamanya (Mikhal) sudah diambil Saul, dan sekarang dua istri berikutnya (Abigail dan Ahinoam) juga diambil.

Rakyat yang pedih hati dan marah, menemukan sasaran kemarahan mereka dalam diri Daud; mereka menganggap dia bertanggung jawab. Ini memang masuk akal karena Daud-lah yang bikin gara-gara. Enam belas  bulan Daud merampoki, bahkan membunuhi orang-orang di kota-kota itu sampai tidak menyisakan seorang pun karena takut ketahuan, sehingga tidak heran mereka mau balas dendam. Rakyat sudah siap untuk melempari Daud dengan batu, dan di ayat 6 dikatakan Daud terjepit. Dalam situasi seperti ini, mungkin orang mengatakan: ‘Siapa sangka ending-nya seperti ini --plot twist-- Daud yang selalu lolos dari tangan Saul seperti belut dan tidak pernah tertangkap, Daud yang begitu cerdik menipu Akhis dan lolos dari tangan Filistin, siapa sangka ujungnya Daud terjepit oleh pasukannya sendiri??’

Tapi yang menarik adalah kata yang digunakan narator waktu menyatakan Daud terjepit, yaitu kata tsarar. Ini adalah kata yang sama yang dipakai Saul waktu dia bertemu dengan Samuel. Dalam 1 Samuel 28: 15, waktu Saul memanggil Samuel lewat tukang tenung lalu Samuel bertanya mengapa Saul memanggil dirinya, Saul menjawab: “Aku sangat dalam keadaan terjepit” –memakai kata yang sama, tsarar. Ini adalah cara sang narator untuk membuat suatu paralel, yang tidak bisa lebih jelas lagi, antara kehidupan Saul dengan kehidupan Daud. Mereka sama-sama terjepit, dan kemungkinan besar juga terjadi pada waktu relatif bersamaan. Ketika Daud pergi dari Afek ke Ziklag dan menemukan Ziklag terbakar lalu menangis terjepit, itu saat yang sama dengan waktunya orang Filistin pergi menuju Lembah Yizreel, dan itu berarti Saul sedang mencari tukang tenung tadi. Jadi di sini narator memparalelkan dua orang ini –Saul dan Daud—yang mengalami keterjepitan yang sama. Apa tujuannya? Yaitu supaya kita melihat dengan jelas perbedaannya; bahwa setelah itu yang terjadi tidak bisa lebih berbeda lagi, Daud menemukan kekuatan yang tidak mungkin lagi tersedia bagi Saul. Saul dalam keadaan terjepitnya, pergi ke ahli tenung; sedangkan Daud, dalam keadaan terjepitnya, menguatkan dirinya dalam Yahweh, Allahnya.

Kita mungkin bertanya-tanya, bagaimana caranya menguatkan diri dalam Tuhan, apa persisnya arti menguatkan diri dalam Tuhan? Petunjuk pertama: gaya bahasa ini sebenarnya sudah muncul di pasal-pasal sebelumnya. Dalam 1 Sam. 23 ketika Yonatan bertemu Daud terakhir kalinya, dikatakan bahwa Yonatan menguatkan kepercayaan Daud kepada Allah --di sini menggunakan istilah Ibrani yang sama, yaitu chazag—yaitu dengan mengatakan kepada Daud “engkau pasti jadi raja”. Ini bukan nubuatan Yonatan melainkan janji Tuhan, bahwa Daud akan menjadi raja. Dengan kata lain, menguatkan orang atau menguatkan diri kita dalam Tuhan, maksudnya adalah dengan mengingat janji Tuhan. Ini bukan hal yang simpel, buktinya hal ini bukan cuma dikontraskan dengan Saul, tapi juga dengan Daud sendiri di pasal-pasal sebelumnya. Apa yang membuat Daud sampai kabur kepada Akhis? Apa yang membuat Daud sampai pergi kepada orang Filistin,  sampai dia harus menipu, sampai dia membunuh banyak orang, sampai dia harus diselamatkan dari bertempur melawan Israel sendiri, dsb.? Yaitu karena dia tidak mencari suara Tuhan, dia mendengarkan suara hatinya sendiri.

Dengan demikian ayat 6 ini adalah salah satu titik balik lagi dalam kehidupan Daud. Lebih jelas lagi ketika kita melihat di ayat selanjutnya, Daud menyuruh Abyatar mengambil efod; Daud menggunakan akses ini –akses kepada firman Tuhan. Tuhan lalu menjawab dengan satu janji lagi, bahwa dia akan berhasil memburu para perampok itu dan menyelamatkan semua jarahan. Coba Saudara kontraskan dengan Saul. Saul dalam pertemuannya dengan tukang tenung, Samuel memberikan dia janji Tuhan juga, bahwa esok hari dia serta anak-anaknya akan mati. Dan bukan kebetulan dicatat bahwa setelah Saul menerima janji itu, maka dia tidak ada lagi kekuatannya (1 Sam. 28: 20). Daud dan Saul sama-sama terjepit. Saul mencari tukang tenung yang jelas dilarang oleh Taurat; Daud mencari suara Tuhan melalui efod, yang diatur dalam Taurat. Hasilnya Saul kehilangan kekuatannya, Daud dikuatkan dalam Tuhan.

Satu hal yang perlu kita perhatikan, bagian ini bukan bermaksud menunjukkan cara-cara  untuk kita aplikasikan; penulis Alkitab di sini tidak tertarik untuk menjelaskan cara menggunakan efod –termasuk juga soal urim dan tumim, dsb.-- yang bahkan di seluruh Alkitab tidak pernah dijelaskan soal “how to”-nya. Alkitab tidak pernah tertarik memberikan petunjuk step-by-step cara menggunakan efod yang lalu bisa kita aplikasikan dengan membuat semacam “homemade efod” sama sekali. Bagi penulis Alkitab, yang penting adalah: bahwa Tuhan berfirman, dan isi firman-Nya. Itu lebih penting daripada cara Tuhan berfirman. Jadi bagian ini bukan supaya kita terfokus pada efod-nya, seperti juga sudah pernah dialami Saul di pasal 14, bahwa ada efod dan ada imam ternyata tidak menjamin Tuhan berbicara. Itu hanya salah satu metode yang Tuhan pakai. Poin dari bagian ini adalah Daud punya akses kepada Tuhan, yang Saul tidak lagi memilikinya. Dan kemungkinan besar, ketika Daud memanggil nama Tuhan ini, pada saat yang sama Saul sedang mengunjungi tukang tenung lalu mendapatkan janji Tuhan tadi.

Selanjutnya ayat 9-15. Dalam bagian ini, setelah mendapatkan janji Tuhan bahwa mereka akan mampu mengejar perampok-perampok itu, maka Daud beserta 600 pasukannya langsung berangkat. Tapi mereka itu baru saja berjalan dari Afek ke Ziklag yang jaraknya 104 km selama 3 hari 3 malam (setara dengan jarak Jakarta dengan Pelabuhan Merak), dan mereka juga baru saja menangis habis-habisan sampai tidak kuat menangis lagi, jadi mereka ini berangkat dengan hati yang pedih, mengejar sampai ke padang gurun. Sampai di Sungai Besor, Daud harus meninggalkan 200 orang dari 600 orang pasukannya (sepertiga), yang sudah tidak kuat lagi. Pada titik ini, mereka masih belum tahu siapa yang telah menyerang mereka. Mereka juga tidak tahu berapa banyak musuhnya itu, sementara dari 600 orang pasukan harus mereka tinggalkan 200 orang; bagaimana seandainya musuh lebih banyak?? Mereka juga tidak tahu di mana persisnya orang-orang itu berada. Tapi Daud menaati perintah Tuhan. Di sini kita bisa perhatikan satu hal, kita tidak perlu kepingin seperti Daud yang bisa pakai efod, karena kita lihat bahwa punya akses kepada efod bukan berarti hidup jadi lebih gampang. Daud punya efod, tapi itu tidak berarti Daud tidak perlu lagi membuat keputusan. Daud tetap harus membuat keputusan untuk meninggalkan 200 orang itu atau tidak. Mendapatkan petunjuk kehendak Tuhan yang sepasti efod itu, tetaplah menuntut ketaatan dari sisi Daud. Perintah Tuhan adalah pergi mengejar dan pasti bisa mendapatkan, tetapi tetap saja tidak tahu di mana orang-orang yang harus mereka kejar itu, berapa banyak, dsb.

Banyak orang ingin seperti Daud, bisa tahu kehendak Tuhan dari efod –atau urim dan tumim—tapi jangan pikir kalau Saudara mendapatkan kehendak Tuhan sejelas itu maka hidup Saudara lebih gampang. Sama sekali tidak. Kenyataannya, bukankah seluruh kesengsaraan yang Daud alami, seluruh problem yang dia alami dalam hidupnya, datangnya setelah kehendak Tuhan yang sangat jelas tiba dalam hidupnya, ketika nabi Tuhan mengurapi dia jadi raja?? Mulai sejak itulah hidupnya kacau berantakan. Pertama-tama, melawan Goliat, seorang raksasa. Itu belum apa-apa karena Goliat langung kalah, tapi selanjutnya dia dicurigai Saul, mau ditombak Saul, harus kabur ke padang belantara, dan seterusnya. Itulah yang terjadi pada Daud setelah dia mendapatkan kehendak Tuhan.

Jangan kita terlalu sombong, mengatakan “kalau saya tahu kehendak Tuhan dengan jelas, saya pasti akan jalankan”. Tidak tentu. Saya pernah pimpin satu retreat remaja; di situ ada seorang remaja datang kepada saya, dia punya pacar seorang wanita tapi wanita ini tidak beriman, begajulan, bukan orang Kristen. Lalu dia tanya: “Jadi saya harus putusin dia atau engga, karena katanya menikah harus dengan yang seiman? tapi ‘kan bisa juga karena saya pacaran dengan dia, maka dia jadi orang yang lebih baik, jadi orang Kristen; jadi bagaimana?” Saya lalu jawab seperti ini: “Kalau seandainya langit yang cerah ini tiba-tiba berubah jadi gelap, angin bertiup kencang, hujan lebat turun dengan luar biasa, halilintar menyambar-nyambar, lalu satu petir menghajar lapangan rumput di depan ini sampai terbakar dan membentuk tulisan ‘putusin pacarmu’, apakah kamu bakal putusin pacarmu?” Remaja itu senyum-senyum, bilang: “Tapi ‘kan 'gak tentu dari Tuhan.” Begitulah kita seringkali mau cari kambing hitam, bilang “kehendak Tuhan tidak jelas maka saya tidak ikuti”, tapi ternyata tidak seperti itu. Jangan pikir kalau kehendak Tuhan jelas pun, Saudara akan ikuti; kenyataannya tidak.

Ketika kehendak Tuhan dalam hidup kita jelas ada, jangan pikir hidup kita jadi lebih gampang. Jangan pikir karena kita hari ini tidak punya “teknologi iman” seperti Daud, lalu kita anggap kalau kita punya maka kita akan lebih gampang menaati Tuhan. Sama sekali tidak. Pikiran seperti itu seringkali merupakan satu hal yang tidak jujur dalam hidup kita. Memiliki kehendak Tuhan dalam hidup, itu tetap menuntut ketaatan, itu tetap memberikan kesulitan. Satu hal yang justru jadi penghiburan adalah: Marx mengatakan “agama itu opium  masyarakat” (opium berarti memabukkan kita dari realita kehidupan), tapi Kekristenan tidak mungkin dikategorikan seperti ini, Kekristenan tidak akan membatasi dirimu dari kesulitan-kesulitan yang besar dalam kehidupan –itulah penghiburannya. Itulah bukti keabsahannya.

Kembali ke cerita Daud, meskipun Daud menaati perintah yang Tuhan suruh, namun kunci keberhasilan Daud di sini bukan ketaatannya; kita kembali melihat tangan Tuhan, yang hampir tidak terlihat itu, beraksi di sini. Tangan Tuhan yang begitu halus, yang bukan seperti bom meledak, kembali beraksi di sini. Kali ini dengan secara tiba-tiba mereka menemukan seseorang yang hampir mati kelaparan di padang gurun. Singkat cerita, setelah Daud memberikan dia makan dan minum, orang ini ternyata seorang Mesir, salah seorang budak bangsa Amalek yang dibuang tuannya di tengah perjalanan karena sakit. Budak ini menceritakan bahwa orang Amalek baru saja melakukan perampasan besar-besaran di Tanah Negeb, daerah Israel, Yehuda, dan --yang menarik sekali di telinga Daud-- bahwa merekalah yang baru saja membakar Ziklag. Akhirnya secercah harapan muncul, ada titik terang. Daud segera minta orang ini mengantarkan mereka ke perkemahan orang Amalek itu.

Selanjutnya ayat 16-20. Ketika Daud dan pasukannya menemukan gerombolan ini, ternyata jumlah mereka sangat banyak; yang berhasil kabur saja 400 orang –sama dengan jumlah pasukan Daud—sehingga kemungkinan seluruhnya berjumlah sekitar 1000 atau 2000 orang. Yang pasti, pasukan Daud cuma 400 orang, dan mereka tentu sudah habis tenaga setelah marching dari Afek, lalu menangis habis-habisan di Ziklag, kemudian mengejar sekuat tenaga dari Ziklag sampai tempat ini; tapi ternyata orang-orang Amalek ini sedang pesta pora, mereka terpencar-pencar, tidak dalam satu formasi, sama sekali tidak siaga. Ini masuk akal karena sasaran dari rampasan mereka –yaitu tanah orang Israel, orang Yehuda, dan Ziklag—adalah tempat-tempat yang semua pasukannya sedang mengarah ke Lembah Yizreel untuk perang melawan orang Filistin; dan mereka tidak menyangka Daud akan kembali secepat itu. Siapa yang menyangka, Daud tidak jadi berperang dan kembali ke Ziklag?? Juga siapa sangka, satu majikan Amalek yang kejam meninggalkan budaknya untuk mati di tengah perjalanan, akhirnya jadi kunci penentu Daud untuk bisa menemukan mereka??

Orang Amalek ini tidak siaga sama sekali, lalu Daud menyerbu dan menghabisi mereka semua, kecuali 400 orang yang kabur menunggang unta. Daud kemudian menyelamatkan semua keluarga dan harta yang dirampas, dan juga mendapatkan hasil jarahan Amalek dari bangsa-bangsa yang lain. Satu lagi perbandingan antara Daud dan Saul yang sangat tersembunyi di sini: bahwa inilah bangsa Amalek yang sebenarnya Tuhan suruh Saul basmi. Filistin sebenarnya bukan musuh utama bangsa Israel, melainkan Amalek-lah musuh utamanya. Sejarahnya sudah lama; sejak Israel keluar dari Mesir, mereka diserang oleh Amalek. Itu sebabnya Tuhan menyuruh Saul membunuh bangsa Amalek sampai habis (1 Sam. 15), tapi Saul gagal melakukan hal itu, dan sekarang justru Daud yang memukul keras bangsa Amalek melalui kejadian ini, sehingga setelah kekalahan tersebut bangsa Amalek tidak pernah disebut lagi sepanjang Alkitab sebagai ancaman, hanya muncul satu kali di zaman Hizkia, dan dikatakan bahwa mereka dibabat habis sisa-sisanya.

Bagian terakhir, yaitu ayat 21-31. Bagian ini justru yang menjadi klimaks dari cerita tersebut, yaitu apa yang terjadi setelah pertempuran tadi. Setelah menghajar orang Amalek, mereka kembali ke Ziklag –asumsinya melalui jalan yang sama-- dan kembali berkumpul dengan 200 orang yang mereka tinggalkan di Sungai Besor karena kecapean. Gambaran awalnya sebuah reuni yang bahagia. Dua ratus orang ini menyongsong Daud, dan Daud juga memberi salam kepada mereka –secara hurufiah: ‘Daud memberi damai kepada mereka’. Daud tidak menegur karena mereka tidak ikut berperang, Daud tidak menghardik karena mereka kecapean. Tapi tidak semua pasukan setuju atas sikap Daud ini. Di antara mereka ada orang-orang yang dursila –istilah yang sama yang dikenakan pada Nabal dan anak-anak Imam Eli (Hofni dan Pinehas)—yang mengatakan: “Dua ratus orang yang tidak ikut berperang ini silakan giring anak istri masing-masing, tapi semua jarahan tidak boleh mereka ambil.” Kalimat mereka di sini pakai istilah nahaq (menggiring) yang dipakai waktu menggambarkan cara bangsa Amalek memperlakukan budak-budaknya; dengan kata lain, narator mau menggambarkan bahwa orang-orang ini tidak lebih baik daripada orang-orang Amalek.

Di sini yang mencengangkan adalah respons Daud. Daud bersikeras bahwa hasil perolehan perang mereka harus dilihat dengan kacamata anugerah; semua perolehan harus dibagi rata kepada mereka yang ikut berperang maupun yang tinggal menjaga barang. Ini manuver politik yang sangat riskan, karena baru di awal pasal tadi, Daud terjepit oleh orang-orang ini dan mereka sudah siap melempari dia dengan batu. Bagi kita ini logis, membuktikan bahwa Daud tahu aksi militer selalu adalah permainan tim, bahwa orang-orang yang menjaga barang sama pentingnya karena dengan begitu, 400 orang yang lain bisa mengejar dengan kecepatan tinggi. Daud mengerti, bahwa permainan bola bukan cuma urusan si pencetak gol, pemain yang bertahan pun sama krusialnya; dan ketika sebuah tim bola menang, yang mengangkat piala bukan cuma si pencetak gol melainkan seluruh timnya. Jadi logis sekali Daud membuat peraturan seperti ini.

Daud bisa peka akan hal ini, mungkin karena pengalamannya bagaimana Tuhan membentuk dia. Daud tahu rasanya jadi anak ke-delapan, anak yang terlupakan, anak yang ditinggal bersama barang-barang. Tetapi alasan utama yang Daud berikan kepada orang-orang dursila ini, bukanlah alasan logis tadi. Waktu orang-orang itu protes, Daud bukan mengatakan, “Tidak bisa, mereka juga ada andilnya”, dia justru mengatakan, “Memang kamu andilnya apa? Semua ini adalah pemberian dari Tuhan.” Alasan yang Daud berikan bukanlah alasan logis melainkan alasan teologis. Dia mengatakan, “Jangan kamu berbuat demikian dengan apa yang diberikan Tuhan kepada kita, baik kemenangan maupun semua jarahan ini.” Ini satu prinsip yang sudah berkali-kali diingatkan kepada Israel sejak zaman Musa, bahwa Israel selalu ada bahaya melupakan Allah dengan mengatakan “tangankulah dan usahakulah yang menghasilkan semua ini”.

Dalam kacamata Alkitab, orang yang melupakan Allah itu tidak harus orang ateis, orang yang melupakan Allah tidak berarti harus tidak percaya keberadaan Allah. Cukup dengan lupa melihat dalam kacamata anugerah, itulah artinya orang yang melupakan Allah. Maka tidak heran kalau penulis Perjanjian Baru berkali-kali menyajikan Allah sebagai Allah kasih karunia, misalnya di Kolose 1:6, 1 Petrus 5:10. Dan logika ini –teologi Alkitab ini—Paulus camkan kepada orang-orang Korintus: “Apa yang kamu punyai, yang kamu tidak menerimanya? Dan jika engkau memang menerimanya, mengapa engkau memegahkan diri seolah-olah engkau tidak menerimanya?” Dalam kacamata anugerah, tidak ada ruang bagi kemarahan, tidak ada ruang untuk keserakahan, hanya ada ruang untuk rasa syukur.

Teolog John Murray dari Skotlandia, pernah menceritakan tentang seorang John Murray yang lain, yang adalah seorang petani kentang di Skotlandia. Satu kali, semua kentang hasil pertanian mereka jelek karena kondisi cuaca yang tidak bagus. Suatu hari Petani John Murray ini sedang berbincang-bincang dengan temannya sambil makan kentang yang tidak terlalu bagus itu, lalu temannya mengatakan, “Kentang musim ini jelek ya.” John Murray, sang petani, mengatakan: “There’s not one of them, in which I do not see the beauty of the blood” –tidak ada satupun dari mereka ini yang saya tidak melihat keindahan dari darah. Mungkin maksudnya adalah: di antara semua kentang ini, yang baik maupun yang tidak baik, adalah satu pemberian yang dibeli oleh darah Kristus yang tercurah; semuanya adalah anugerah.

Inilah tantangan dari anugerah. Tantangan anugerah bukan hanya untuk bisa menghargai hal-hal yang baik dalam hidup kita. Tantangan anugerah bukan hanya untuk bisa menghargai hal-hal yang kecil dalam hidup kita. Tantangan anugerah adalah juga untuk menghargai hal-hal yang kurang baik dalam hidup kita sebagai satu pemberian yang kita tidak patut mendapatkannya. Ada level pertama yang cukup sulit untuk menghidupi anugerah, untuk kita tidak lupa melihat dengan kacamata anugerah, yaitu hasil tanah ini bagus bukan karena usahamu, ini karena pemberian Allah. Itu sering kita alami; dan itu pun cukup sulit bagi kita. Tapi ada level kedua yang lebih dalam, yaitu hasil tanah yang kurang bagus ini pun, adalah pemberian yang kamu sebenarnya tidak patut dapatkan. Jadi bukan cuma kentang yang baik, tapi juga yang kurang baik, tantangannya adalah untuk melihatnya sebagai anugerah. Bagi hamba Tuhan, yaitu untuk hamba Tuhan melihat sebagai anugerah bukan saja jemaat yang baik, tapi juga jemaat yang kurang baik. Bagi jemaat, yaitu untuk jemaat melihat sebagai anugerah bukan cuma hamba Tuhan yang baik, tapi juga hamba Tuhan yang kurang baik. Bagi kita semua, untuk melihat bukan cuma anak-anak yang baik sebagai anugerah, tapi juga anak-anak yang bandel; untuk dalam kacamata anugerah melihat pasangan hidup sebagai anugerah bukan cuma ketika dia baik dan mengasihi kita, tapi juga ketika dia mengkhianati kita; untuk melihat hal-hal yang kurang baik dalam hidup kita sebagai pemberian yang kita tidak patut dapatkan. Daud menyadari hal ini. Itu sebabnya dia bukan cuma bersikap sopan kepada 200 orang yang ditinggalkan dengan memberi salam kepada mereka dan tidak menghardik mereka karena tidak ikut perang, tapi bahkan kepada orang-orang dursila ini. Di ayat 23 Daud mengatakan kepada mereka ini: “Jangan kamu berbuat demikian, saudara-saudaraku” –dan ini bukan lip service seperti bahasa Indonesia mengatakan “saudara-saudara”.

Narator membingkai semua ini dengan kalimat dalam ayat 25: ‘Dan demikianlah halnya sejak hari itu dan seterusnya; hal itu ditentukannya menjadi ketetapan dan peraturan bagi orang Israel sampai sekarang.’ Di sini narator sedang menempatkan peristiwa tersebut, signifikansinya sebagai hukum yang pertama yang Daud institusikan kepada bangsa Israel. Dan itu adalah fungsi seorang raja. Daud di sini sedang melakukan fungsi seorang raja, meng-institusikan suatu hukum bagi seluruh kerajaan Israel; dan ini terjadi yang pertama kali, bahkan sebelum Daud menjabat sebagai raja.
Tidak berhenti pada orang-orangnya, Daud juga mengingat kaum sebangsanya dan mengirim sebagian jarahan itu kepada tua-tua di Yehuda, Betel, Aroer, Horma, Hebron, dan tempat-tempat yang jadi korban perampasan Amalek karena itu memang juga bagian mereka. Juga dikatakan bahwa dia memberikan kepada tempat-tempat yang Daud dan orang-orangnya mengembara, tempat-tempat yang mereka pernah pergi ke situ, pernah ditampung, pernah melewati. Di bagian ini, penyebutan Hebron sebagai kota yang terakhir, bukan satu kebetulan, karena Hebron adalah markas besar Yehuda, dan Hebron-lah kota tempat Daud akhirnya dinobatkan jadi raja.

Ada orang yang melihat hal ini sebagai manuver politik, Daud memberikan hadiah-hadiah untuk mengokohkan posisinya sebagai raja –yang lalu terbukti dinobatkan di Hebron. Interpretasi seperti ini tidak harus kita tolak, tapi adalah kesalahan kalau kita melihat tindakan Daud ini murni sebagai manuver politik. Mengapa? Pertama, karena pemberian yang dia salurkan itu, mengambil porsi dari jarahan Daud sendiri --di ayat 20 dikatakan “inilah jarahan Daud”—jadi dia bayar harga. Kedua, sudah terbukti bahwa Daud adalah orang yang hatinya bagi orang lain. Kita tahu hal ini bukan hanya dari pasal-pasal sebalumnya, tapi juga di pasal ini. Ketika dia bersama pasukannya sedang terburu-buru mengejar para perampok lalu mereka menemukan orang yang hampir mati kelaparan di tengah jalan, Daud masih menyempatkan diri untuk berhenti dan memberinya makan minum, meski waktu itu mereka tidak tahu orang ini siapa dan bisa mendapatkan apa dari dia. Bukan cuma itu, waktunya begitu genting, mereka harus secepat mungkin mengejar perampok itu sebelum anak istri mereka dijual. Dan satu lagi yang pasti, suasana hati mereka sedang pedih, sedang menderita, dan waktu kita menderita seringkali kita self-centered “gua lagi susah, jangan ganggu gua!” Tapi dalam situasi seperti ini Daud masih ada waktu untuk memberi makanan dan minuman yang secukupnya kepada orang tak dikenal yang sudah hampir mati ini. Inilah Daud, raja yang aneh.

Ketika orang Israel minta raja kepada Samuel, Tuhan memperingatkan mereka: “kalau kamu punya raja, raja itu akan mengambil dan merampas”. Daud ini adalah raja yang memberi. Semua ini menunjukkan kepada Israel, seperti apa Daud itu, akan jadi raja macam apa dia, bagaimana dia menggunakan kuasanya, kerajaan macam apa yang akan dibawanya. Mengutip Abraham Lincoln, dia mengatakan kalau mau menguji karakter seseorang, caranya bukan memberi dia penderitaan, tapi beri dia kuasa; dan dalam dunia ini kita sudah melihat begitu banyak orang yang menyalahgunakan kekuasaannya, sangat sulit menemukan orang yang menggunakan kuasanya untuk kebaikan. Waktu Daud kembali ke Ziklag, pada saat yang sama mungkin Saul sudah kalah di Gunung Gilboa, mungkin dia sudah mati. Dan pasal 30 ini menceritakan kepada kita, raja seperti apa yang akan menggantikan raja Saul, yaitu raja yang menemukan kekuatannya di dalam Tuhan, raja yang mencari suara Tuhan, raja yang taat kepada perintah Tuhan meskipun keadaan tidak mendukung, raja yang Tuhan berikan kemenangan atas musuh-musuhnya, raja yang memerintah dalam kacamata anugerah, buktinya raja itu tidak membuang orang-orang yang hanya tinggal menjaga barang dan bahkan punya ruang yang cukup luas dalam hatinya bagi orang-orang yang dursila. Terakhir, yang pasti, raja ini adalah raja yang memberi. Siapa yang Saudara teringat ketika melihat tokoh raja seperti ini?

Ketika kita melihat orang-orang dursila dalam pasukan Daud tadi yang ngedumel, mengatakan bahwa yang tinggal bersama barang-barang tidak pantas mendapatkan jarahan yang sama dengan dirinya, kita teringat pada satu perumpamaan yang Tuhan Yesus berikan. Dalam perumpamaan itu ada pekerja-pekerja yang protes karena mereka sudah kerja dari pagi, tapi pekerja-pekerja yang masuknya sore tetap diberikan upah yang sama dengan mereka. Matius 20:12 ‘katanya: “Mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas  terik matahari –tidak adil!” ‘ Memang benar, Saudara, karena anugerah bukan masalah keadilan; kalau Saudara bicara keadilan, maka tidak ada yang patut menerima apa-apa selain hukuman dan maut. Anugerah Tuhan yang radikal, juga menutut respons yang radikal. Respons yang radikal sebagaimana Tuhan Yesus mengatakan: “Orang yang terakhir akan jadi yang terdahulu, dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir.” Di bagian sebelumnya, dikatakan: ‘Tetapi tuan itu menjawab seorang dari mereka: Saudara,  aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari?  Ambillah bagianmu dan pergilah; aku mau memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu. Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?‘

Saya tadinya bingung, apa maksud perumpamaan tersebut, bagaimana mengaplikasikannya dalam hidup; kalau cuma melihat bagian perumpamaan ini sendirian, apakah aplikasinya berarti harus bayar gaji karyawan secara terbalik, yang masuk telat dibayar sama dengan yang datang awal?? Tentu tidak. Kita perlu menghentikan cara baca Alkitab yang terus-menerus mencari yang bukan Tuhan dalam lembaran-lembaran Alkitab melainkan mencari seperangkat pedoman hidup yang bisa dibawa pulang dan dilakukan. Itu bukanlah cara baca Alkitab. Kita akhirnya mencari prinsip-prinsip, dan bukan Pribadi Allah. Memang tidak ada yang salah dengan menemukan prinsip, tetapi pertanyaannya, mana yang terutama? Tujuan perumpamaan ini diberikan adalah sama seperti tujuan 1 Sam. 30, yaitu bukan untuk kita aplikasikan secara praktis, bukan untuk kita mendapatkan step-by-step tentang do-it-yoursef membuat homemade efod. Tidak sama sekali.

Tujuan 1 Sam. 30 adalah untuk mendeklarasikan klaim Daud atas takhta Israel, dengan memperlihatkan akan jadi raja yang seperti apakah dia, mengapa dia berbeda dengan Saul, bagaimana kerajaannya akan diatur. Dan tujuan Daud dideklarasikan seperti itu, supaya lewat perumpamaan dalam Matius ini, waktu saudara baca, Saudara ingat Daud. Melalui Daud mendeklarasikan kerajaannya, Kerajaan Kristus dinyatakan, bahwa seperti inilah Kerajaan Kristus, seperti inilah Raja yang adalah Yesus Kristus itu, bagaimana Dia akan berkuasa, manajemen macam apa yang akan Dia bawa dalam Kerajaan yang baru. Itulah tujuan bagian-bagian ini dituliskan.

Siapakah Raja yang menguatkan diri-Nya dalam firman Tuhan? Yesus. Yesus, yang dalam situasi kelaparan 40 hari 40 malam lalu digoda setan, yang keluar dari mulut-Nya adalah murni firman Tuhan. Yesus, yang ketika di atas kayu salib, dalam keadaan paling terjepit, yang keluar dari mulut-Nya adalah kutipan Mazmur 22, “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Dialah Raja yang memberikan kepada kita kemenangan atas musuh kita, yaitu dosa dan maut –bukan sekedar Amalek-- dan memberikannya bukan dengan membunuh musuhnya, seperti Daud, melainkan dengan memberikan diri-Nya terbunuh.  Dialah Raja yang memerintah dengan kacamata anugerah, Dia tidak menyepelekan dan melupakan yang terkecil dari antara kita, bahkan Dia memakai kita yang lemah dan kecil untuk menjalankan kuasa-Nya yang luar biasa.

Sama seperti Saudara lihat yang menjadi kunci penentu seluruh peristiwa Amalek tadi, datangnya lewat seorang budak yang tidak signifikan, yang sakit, yang tidak seorangpun peduli dan sampai hari ini kita tidak tahu siapa namanya, demikianlah cara kerja Tuhan. Tuhan tidak melupakan kita, orang-orang yang kecil, orang-orang yang sepele, orang-orang yang bawahan, karena Dia tahu apa rasanya menjadi orang yang dilupakan; Dia datang kepada milik kepunyaan-Nya tapi milik kepunyaan-Nya tidak mengakui Dia. Waktu Dia lahir, tidak ada tempat penginapan bagi kelahiran-Nya, cuma ada kandang binatang.

Dia adalah Raja yang memerintah dengan kacamata anugerah; bukan cuma karena Dia tidak melupakan yang terkecil dari antara kita, tapi juga karena Dia adalah Raja yang hati-Nya punya ruang amat sangat luas, bahkan paling luas, bagi orang-orang dursila seperti Saudara dan saya. Daud memanggil orang-orang dursila itu “saudara-saudaraku”; dalam Ibrani 2:11 dikatakan: ‘itulah sebabnya Ia tidak malu menyebut mereka saudara, kata-Nya: "Aku akan memberitakan nama-Mu kepada saudara-saudara-Ku”.

Tapi ada perbedaan antara Daud dengan Yesus. Daud bisa menyebut orang-orang dursila ini sebagai saudara-saudaranya karena dia tahu dirinya juga orang dursila; dia baru saja diselamatkan oleh Tuhan dengan luar biasa dalam kejadian di Afek bersama Akhis, padahal dia tidak patut mendapatkan itu sama sekali. Dia sendirilah orang dursila yang melupakan Tuhan, yang tidak melihat segala sesuatu lewat kacamata anugerah, yang mengatakan ‘kalau aku mau selamat, aku harus berjuang sendiri’, yang tidak mencari efod melainkan mendengarkan suara hatinya sehingga dia pergi kepada Akhis. Ketika Daud sadar akan semua ini –sama seperti dalam peristiwa dengan Saul di gua Adulam yang ketika dia menyadari kebobrokan dirinya maka ada ruang bagi kebobrokan Saul—maka dia ada ruang bagi orang-orang dursila. Itu hal yang wajar, itu adalah cara kita harus hidup. Itu sebabnya dalam Doa Bapa Kami, kalau kamu mau minta ampun, mintalah ampun sebagaimana kamu mengampuni orang lain, karena itulah kuncinya. Saya bisa bersimpati dengan orang lain yang berdosa, sejauh saya menyadari dosa saya sendiri; semakin saya menyadari dosa saya, semakin saya bisa bersimpati denga dosa orang lain. Itu benar bagi Saudara dan saya, itu benar bagi Daud. Tetapi Tuhan Yesus tidak berdosa!

Tuhan Yesus tidak berdosa, dan Dia yang punya ruang paling luas dalam hati-Nya untuk orang-orang yang berdosa seperti Saudara dan saya. Koq bisa?? Bagaimana bisa orang yang sinless justru yang paling punya simpati kepada orang yang sinful, sehingga Dia memanggil kita saudara-saudara-Nya? Karena Dia adalah Raja yang memberi. Dia menyerahkan kuasa-Nya, Dia menyerahkan keindahan-Nya, Dia memberikan nyawa-Nya. Jadikanlah Kristus Raja atas hidupmu.

Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah (MS)

Gereja Reformed Injili Indonesia Kelapa Gading

Download Ringkasan