Bagaimana, di mana, kapan, atau siapa?

Bagian ini tampak seperti suatu percakapan yang sederhana, tapi kita bisa melihat prinsip/ kebenaran apa yang dapat kita pelajari dari percakapan yang tampaknya sangat sederhana ini.
Kita mulai dari ayat yang pertama yang kita baca (ayat 8), ketika dikatakan: Tetapi tetangga-tetangganya dan mereka, yang dahulu mengenalnya sebagai pengemis, berkata: "Bukankah dia ini yang selalu mengemis?”, di sini ada kesulitan untuk menerima suatu perubahan. Untuk melihat, mempercayai, menerima satu perubahan, itu sulit, orang cenderung hidup dengan satu stempel –lebih tepatnya, stempel terhadap orang lain. Waktu kita melihat orang itu buta dan pengemis, kita maunya melihat dia seperti itu terus. Kita kaget, tidak bisa percaya, atau mungkin sulit setuju, kalau melihat orang yang tadinya miskin lalu menjadi kaya, atau orang yang tadinya buta lalu jadi melihat --seperti di bagian ini-- atau juga orang yang tadinya diperbudak lalu menjadi orang merdeka. Manusia itu kompleks sekali. Kalau diri kita sendiri mengalami perubahan ke arah yang lebih baik, kita tidak mempertanyakan itu; tapi waktu orang lain mengalami perubahan ke arah yang lebih baik, kita sulit menerima itu. Dalam konteks Gereja pun bisa terjadi seperti ini. Ada orang-orang yang mungkin sudah lama melayani atau sudah lama di gereja tertentu, lalu waktu Tuhan pakai orang-orang yang lebih muda dari mereka, ini bisa tidak diterima. Tidak otomatis orang mempunyai hati luas “asal pekerjaan Tuhan, kita juga bahagia”; orang yang berpikir seperti ini, dia orang yang matang. Tetapi di bagian ini, orang-orang tersebut sulit untuk menerima pengemis ini, mereka mengatakan, “Bukankah dia ini, yang selalu mengemis?” Mereka sepertinya kelompok yang percaya bahwa ini memang dia, tapi koq sekarang tidak begitu lagi??

Ayat 9, Ada yang berkata: "Benar, dialah ini." Ada pula yang berkata: "Bukan, tetapi ia serupa dengan dia" –inilah kelompok yang paling tidak bisa menerima. Di tengah-tengah keadaan seperti ini, penghiburannya adalah bahwa ada juga orang yang bisa menerima keadaan yang diubahkan seperti ini, tidak semuanya menolak, tidak semuanya mencurigai. Akhirnya orang itu sendiri berkata: "Benar, akulah itu" –seperti mengakhiri semua perdebatan. Ada kesaksian di sini.
Dalam Teologi Reformed, kita tidak terlalu pakai istilah ‘bukti’, karena dalam apologetika, dalam teologi tentang kesaksian, dsb., kita itu share/ membagi apa yang kita terima dari Tuhan. Ini bukan satu demonstrasi logical coherent atau logical strength sampai orang tersebut terpojok dan bagaimanapun tidak bisa tidak menerima karena terlalu kuat argumentasinya. Kesaksian Reformed bukan seperti itu. Kita bukan mengesankan orang, apalagi membuat orang merasa tidak berdaya lalu akhirnya menyerah pada kekuatan argumentasi kita. Itu bukanlah apologetika yang baik dalam hal ini. Apologetika yang baik adalah memberi kesaksian apa yang betul-betul Tuhan kerjakan dalam kehidupan kita. Ini satu kesaksian kebenaran, kesaksian pengenalan kita akan Tuhan, sebagaimana orang buta tadi mengatakan “benar, akulah itu” –jawaban pendek sekali.

Di situ mereka ragu-ragu, apa betul ini orang yang sama. Sepertinya betul memang dia, tapi ada orang lain yang bilang tidak mungkin, asumsinya karena tidak mungkin orang yang buta sejak lahir lalu tiba-tiba bisa melihat --kejadian seperti itu tidak pernah ada—jadi itu pasti orang lain. Sampai kemudian orang ini sendiri mengatakan, “Benar, akulah itu”. Kesaksian ini seperti membungkam mereka --baik orang yang ragu-ragu, orang-orang yang bisa menerima, maupun orang-orang yang sulit percaya—mulai dari ayat 10 mereka tidak mempersoalkan lagi hal ini. Dengan demikian, dalam pengertian tertentu kita bisa mengatakan bahwa setelah dia bersaksi, tidak ada lagi perdebatan soal masa lampaunya dengan keadaan dia sekarang yang sudah dicelikkan. Mereka semua mau tidak mau musti menerima hal itu; namun yang sekarang ada yaitu pergeseran menuju kepada pertanyaan: “Bagaimana matamu menjadi melek?” (ayat 10).

Kita bisa mengumpulkan berbagai kata tanya, yaitu ‘bagaimana’, ‘kapan’, ‘di mana’, ‘mengapa’, ‘apa’, dan ‘siapa’. Di sini mereka tanya ‘bagaimana’ –“bagaimana matamu menjadi melek?” Pertanyaan pakai ‘bagaimana’, adalah urusan metode, urusan prosesnya bagaimana. Orang bergumul dalam dunia pekerjaan atau juga dalam mendidik anak, suka sekali bertanya ‘bagaimana/ how to?’ Tentu kita bukan mau meniadakan pertanyaan ‘bagaimana’ --bukan sesuatu yang berdosa kalau tanya ‘bagaimana’-- tetapi pertanyaan ‘bagaimana’ bisa mendistraksi orang dari pertanyaan yang lebih penting, dalam hal ini yaitu ‘siapa’. Suatu perubahan bisa dijelaskan dalam perspektif ‘bagaimana’ –kiat-kiat suksesnya bagaimana sih, coba kasih tahu saya-- tapi kehidupan Kekristenan bukan masalah ‘bagaimana’. Kehidupan Kekristenan adalah masalah perjumpaan dengan ‘siapa’. Perjumpaan dengan ‘siapa’ itulah yang mengubah kehidupan kita. Gereja juga bukan urusan ‘bagaimana’. Kalau Saudara tanya “bagaimana berdoa?”, “bagamana berpuasa?”, boleh saja kita jelaskan metodenya. Atau Saudara tanya “bagaimana mengikut Tuhan?”, “bagaimana menginjili?”, boleh saja. Tapi yang lebih penting daripada ‘bagaimana’, sebenarnya adalah ‘siapa’ atau ‘dengan siapa’ kita melakukan itu; bersekutu dengan siapa sebetulnya waktu kita mengalami kejadian itu.

Menarik jawaban dari orang ini di ayat 11: "Orang yang disebut Yesus itu mengaduk tanah, mengoleskannya pada mataku dan berkata kepadaku: Pergilah ke Siloam dan basuhlah dirimu. Lalu aku pergi dan setelah aku membasuh diriku, aku dapat melihat. " Ini jawaban sepertinya sederhana sekali, tapi kalau Saudara perhatikan pertanyaannya, yang agak ngawur dan tidak tepat, maka di sini dijawab dengan sangat tepat. Inilah orang yang diubahkan Tuhan. Dia bukan tertarik dengan masalah ‘iya lho,tadi itu ada tanah ajaib dan ludah ajaib, lalu bisa dioles-oleskan ke mata, lalu pergi ke kolam Siloam’, dan akhirnya perjumpaannya jadi perjumpaan impersonal, perjumpaan dengan tanah, dengan ludah, dengan kolam, dsb.; orang ini mengatakan, "Orang yang disebut Yesus itu ... .“ Mungkin mereka tidak terlalu tertarik soal siapa orangnya, mereka lebih tertarik bagaimana caranya bisa mengalami kesembuhan seperti ini. Bisa jadi mereka juga punya anggota keluarga yang sakit, lalu mereka ingin juga seperti dia disembuhkan. Adalah wajar kalau berpikir seperti ini. Orang lebih tertarik dengan pertanyaan ‘bagaimana’ dan ‘bagaimana’; pertanyaan seperti ini kalau diterus-teruskan, bisa mengakibatkan kita jadi tidak tertarik untuk berelasi secara personal. Memang tidak selalu pasti jadi seperti ini, tetapi itu bisa mengalihkan perhatian kita dari sesuatu yang lebih penting, yaitu Yesus.

Seluruh cerita ini bukanlah cerita metode kesembuhan. Alkitab tidak terlalu tertarik membicarakan hal seperti itu. Yohanes tidak tertarik membicarakan metode bagaimana orang disembuhkan. Yohanes, dan juga penulis-penulis yang lain, tertarik membicarakan Kristus, baik dengan mujizat –seperti di sini-- ataupun tanpa mujizat. Yesus-lah yang menjadi pusatnya. Bahkan waktu Saudara membaca pasal 9 ini diberi judul “Orang yang buta sejak lahir” –yang ceritanya memang tentang orang buta sejak lahir—namun yang menjadi pusat  adalah Yesus, bukan orang yang buta sejak lahir ini. Tentu saja penerbit Alkitab memberikan judul yang berbeda-beda --tidak semua diberi judul “Yesus”-- misalnya judul “Orang yang buta sejak lahir’, “Sepuluh orang kusta”, dsb., tapi pusat ceritanya selalu adalah Kristus.

Ayat tadi mengatakan: "Orang yang disebut Yesus itu mengaduk tanah, mengoleskannya pada mataku dan berkata kepadaku ... .“ Yesus ini ada karya-Nya, ada tindakan-Nya, ada pekerjaan-Nya --“mengaduk tanah, dan mengoleskannya pada mataku” --di sini juga ada hubungan, ada sentuhan; dan Yesus ini berfirman. Yesus, yang adalah Pribadi yang hidup ini, berkarya dan berkata-kata. Dia berfirman, mengutus, “Pergilah ke Siloam dan basuhlah dirimu. Lalu aku pergi dan setelah aku membasuh diriku, aku dapat melihat " –ada kata ‘aku’ di sini. Waktu kita membicarakan tentang pribadi Kristus, bukan berarti si aku jadi tenggelam. Orang salah mengerti Kekristenan, kalau bagi dia itu berarti terus-menerus membicarakan Tuhan dan tidak ada ‘saya’ sama sekali. Yang pasti, Kekristenan memang tidak memelihara ego kita. Alkitab, Kekristenan, Yesus  Tuhan yang kita percaya, tidak tertarik memelihara ego kita atau membesar-besarkan kita jadi orang yang penting sekali. Dia sama sekali tidak tertarik, itu jalan menuju neraka, bukan menuju surga. Tetapi ini bukan berarti jadi tidak ada tempat untuk ‘aku’; orang ini tadi  bisa bicara dengan bebas waktu mengatakan kalimat-kalimat ini, karena diutus pergi jadi harus ada yang pergi.

Saya beberapa waktu lalu mempelajari kembali tulisan recent scholarship tentang Teologi Luther. Di situ ditekankan gambaran yang resiprokal waktu membahas tentang Tuhan. Luther itu banyak bicara tentang theology of gift (teologi pemberian), bahwa Allah adalah sang Pemberi;  lalu dalam recent scholarship, khususnya school of thought yang dari Skandinavia, Finlandia, dsb., mengatakan bahwa sebenarnya ‘memberi’ juga tindakan resiprokal, untuk bisa memberi berarti harus ada yang menerima, jika tidak, yang memberi bukanlah memberi. Ada yang memberi, ada yang menerima; kalau kita memberi, tapi tidak ada yang menerima, apakah itu bisa disebut pemberi? Ini kedengaran seperti ‘Tuhan tergantung pada kita yang mau menerima atau tidak, baru Dia bisa jadi pemberi’, tapi bukan di situ poinnya. Namun demikian, waktu Tuhan mau memberi, Dia mau melibatkan kita untuk menerima, karena jika tidak, jadinya memberi apa? Apa bisa tetap disebut memberi? Memberi kepada yang tidak menerima? Jadi bukan memberi; atau memberi tapi ditolak/ ditidak-pedulikan.

Prinsip tersebut bisa diterapkan di bagian ini. Yesus mengutus, “pergilah”, maka di sini ada yang diutus, yaitu si ‘aku’ ini. Kalimat yang sama, juga Saudara dapati waktu Yesus bertanya kepada Yesaya, “Siapa yang mau Kuutus pergi?”, lalu dijawab dengan “aku” di situ. Yesaya bukan sungkan, takut dikatakan egonya terlalu besar, diam-diam saja tunggu ditunjuk pokoknya siap dalam hati, dsb. Sama sekali tidak seperti itu. Menjawab “aku, Tuhan; inilah aku, utuslah aku”, bukanlah kesombongan. Saudara salah mengerti Kekristenan kalau berpikir Kekristenan itu menekan ‘aku’, menekan sampai tidak boleh bicara sama sekali, sampai tidak sadar sama sekali adanya ‘aku’ yang sedang eksis. Kekristenan bukan itu. Waktu Saudara baca di bagian ini, orang buta ini bersaksi “lalu aku pergi  --tapi bukan aku yang mau pergi sendiri, dari usahaku sendiri, dari inspirasiku, dari rencanaku, melainkan pergi karena Yesus yang mengutus aku untuk pergi-- lalu setelah aku membasuh diriku, aku dapat melihat. Dia mengatakan: ‘basuhlah dirimu”, lalu aku membasuh diriku --bukan aku hebat mau membasuh diriku, aku membasuh diriku karena Dia memerintahkannya.” Saudara lihat di sini, ketaatan sama sekali tidak menghancurkan pribadi. Yang terjadi bukanlah orang ini kemudian jadi impersonal. Dan akhirnya di sini dikatakan: “... aku dapat melihat”. Dia, yang tadinya buta, sekarang dapat melihat.

Ayat 12, Lalu mereka berkata kepadanya: "Di manakah Dia?" Kalau kita memperhatikan kata tanya yang dipakai, pertanyaannya adalah ‘di mana’. Tadi mereka tanya ‘bagaimana’, lalu orang ini menjawab tentang ‘siapa’; dia bicara tentang Yesus, Yesus yang berkarya, berkata, mengutus, dst. Tapi setelah mendengar jawaban ini, mereka bertanya ‘di manakah Dia’, mereka tidak bertanya ‘siapakah Dia’ dengan bertujuan menggali lebih dalam, hal itu sepertinya tidak menarik bagi mereka. Pertanyaan ‘siapa’, itu tidak menarik; kita lebih suka tanya ‘bagaimana’, ‘di mana’, ‘kapan’, dst. Waktu kita menyelidiki, mengapa kita lebih suka pertanyaan-pertanyaan seperti itu, mungkin jawabannya karena kita tidak mau berjumpa secara pribadi. Perjumpaan pribadi itu paling menakutkan; itulah perjumpaan dengan Tuhan. Bahkan mungkin juga perjumpaan dengan sesama, apalagi dengan sesama yang tidak terlalu baik kepada kita. Perjumpaan seperti itu tidak terlalu menyenangkan, maka kita lebih suka soal ‘kapan’, ‘di mana’, ‘bagaimana’ –bagaimana menghindari dia; kapan orang itu tidak ada di sini supaya saya tidak ketemu dia; di mana dia, kalau dia di situ, saya di sana, dst.

Pertanyaan ‘di mana’ bukanlah pertanyaan yang baru. Sebelum cerita ini juga sudah ada pertanyaan ‘di mana’ –“di mana orang menyembah Tuhan, di gunung ini atau di gunung itu?” Pertanyaan ‘di mana’, bisa merupakan satu pertanyaan yang mengalihkan kita dari perjumpaan pribadi –yaitu pertanyaan ‘siapa’. Kalau ditanya ‘di mana’, memang orang ini sendiri tidak tahu, dia menjawab: “Aku tidak tahu”; tapi dia tahu Yesus itu ‘siapa’ --setidaknya dalam pengertian parsial. Pertanyaan ‘di mana’ bukan lebih penting daripada ‘siapa’. Memang, ‘di mana’ bukan tidak ada tempatnya; dalam konteks keseluruhan Yohanes, ‘di mana’ itu penting juga. Setelah kita tahu ‘siapa Yesus’, kita juga musti tahu Dia ada di mana, Dia bergerak ke mana; itu artinya kita mengikut Tuhan. Dalam hal ini, ‘di mana’ menyatakan dinamika pimpinan Tuhan, pergerakan Tuhan, lalu kita mengikut. Tetapi tanya ‘di mana’, yang merupakan ekspresi ketidak-tertarikan kepada pertanyaan ‘siapa’, inilah kecelakaan; terus-menerus tanya ‘di mana’ –di mana menyembah, di mana beribadah—tapi tidak pernah tanya tentang siapa itu Tuhan.

Ayat 13, Lalu mereka membawa orang yang tadinya buta itu kepada orang-orang Farisi. Di sini ada perbedaan penafsiran. Tafsiran-tafsiran modern, misalnya WBC, mengatakan kita tidak boleh menganggap orang-orang ini terlalu bermusuhan, dengan berpikir terlalu jahat bahwa inilah orang-orang yang sengaja mau menjatuhkan, karena mungkin mereka semata-mata berpikir secara natural saja dalam kejadian penting seperti itu. Orang-orang Farisi itu pemimpin dalam keagamaan, maka tentu perlu memberitahu mereka, supaya nanti mereka yang melakukan penilaian. Jadi menurut tafsiran ini, tidak harus melihatnya dalam perspektif orang-orang ini mau menyeret ke pengadilan, karena bisa saja melihat dalam pengertian mereka ini begitu excited atas suatu kejadian yang tidak pernah terjadi ini, sehingga orang-orang Farisi musti tahu. Ini tafsiran dari commentary modern. Sedangkan waktu saya membaca tafsiran dari Calvin, dia cenderung melihatnya negatif, bahwa ini orang-orang yang hatinya kurang baik. Ini perbedaan dalam tafsiran. Tapi kalau mengikuti alur tadi, ketidak-tepatan mereka dalam kalimat-kalimat pertanyaan-pertanyaan tersebut --meski kita tidak mau menghakimi mereka orang yang jahat--  setidaknya menunjukkan bahwa mereka tidak betul-betul mengerti apa yang seharusnya mereka tanyakan. Mereka kurang tertarik dengan ‘siapa itu Yesus’, mereka malah tanya ‘bagaimana’, ‘di mana’, tapi setelah dijawab dengan ‘siapa’ pun, mereka tidak menggali lebih dalam tentang ‘siapa’ tersebut. Karena ketidak-tertarikan mereka pada ‘siapa’ itu –yaitu Yesus-- maka mereka membawa orang ini kepada ‘siapa’ yang lain, yaitu orang-orang Farisi.

Saudara perhatikan kegagalan berjumpa dengan Pribadi Tuhan, itu menggeser kita untuk berjumpa dengan pribadi-pribadi yang lain. Bukan hal yang salah, perjumpaan dengan pribadi-pribadi yang lain; kita hidup juga ada aspek horisontal. Tapi perjumpaan dengan pribadi-pribadi yang lain itu, tidak mematangkan kerohanian kita. Ada orang yang sangat humanis, sangat baik hubungannya secara horisontal, tapi mungkin hubungan secara vertikal tidak mengatakan apa-apa –waktu Tuhan melihat, tidak ada hubungan.

Catatan dari Yohanes, orang ini kemudian dibawa kepada orang-orang Farisi. Dia ini orang yang mendapatkan first hand experience antara dirinya dengan Yesus, dan di sini dia bersaksi. Gambaran sederhana yang bisa kita harapkan selanjutnya adalah orang-orang yang kepadanya dia bersaksi, juga jadi ada hubungan pribadi dengan Yesus. Jadi ada orang buta, yang dihampiri Yesus --ada personal encounter—kemudian dia bersaksi, dan gambaran yang kita harapkan adalah bahwa orang-orang yang mendengar itu juga jadi melihat Yesus, berhubungan dengan Yesus. Orang ini bukannya tidak bisa menjawab, dia telah menjawab pertanyaan yang paling penting, yaitu ‘siapa’, tetapi penanya-penanya tersebut lebih tertarik dengan pertanyaan ‘di mana’, pertanyaan tentang ‘tempat’. Dan orang ini belum bisa menjawab soal ‘tempat’ karena memang belum mengikut Tuhan, maka okelah, kita pergi ke ‘tempat’ yaitu tempatnya orang Farisi.

Ada orang, yang dalam kesulitan dia bukan bicara dengan Tuhan, melainkan angkat telpon, bicara kanan kiri menjelaskan kesulitannya, minta orang lain mengerti kesulitannya, dsb. Itu orang yang tidak pernah bertumbuh dalam kehidupannya. Dia terus menyelesaikan urusannya secara horisontal. Dia pikir penghiburan horisontal lebih penting daripada penghiburan dari Tuhan. Tuhan bagi dia agak abstrak, soalnya Tuhan tidak kelihatan. Waktu dalam keadaan kekecewaan, terluka, dsb., dia bukan datang kepada Tuhan melainkan cari pembenaran/ pengertian dari manusia. Ini orang-orang yang selalu horisontal, orang-orang yang selalu pergi ‘ke mana’, orang-orang yang selalu ingin tahu ‘bagaimana’, dan bisa jadi juga tertarik dengan ‘siapa’ tapi yang secara horisontal bukan vertikal. Tidak ada perjumpaan dengan Tuhan. Tidak usah heran bahwa orang-orang seperti ini tidak bertumbuh. Yang mempertumbuhkan kita bukanlah soal bagaimana Saudara berelasi dengan barang-barang, bahkan juga bukan bagaimana Saudara berelasi dengan penderitaan. Saudara mungkin pernah mendengar kalimat “berurusan dengan banyak penderitaan dan kesulitan, itu membuat Saudara matang”; itu mungkin saja, tapi matangnya cuma matang menghadapi penderitaan dan kesulitan. Lalu apakah otomatis jadi matang dan orangnya lebih mirip Kristus? Sama sekali tidak tentu.

Berhubungan dengan Kristus, itu yang membuat kita bertumbuh; bukan soal berhubungan dengan kesulitan-kesulitan. Kesulitan tidak mengasah kita jadi orang yang lebih mirip Kristus. Pertama, kesulitan itu hubungan horisontal. Kedua, kesulitan itu bahkan bukan pribadi. Saudara berhubungan dengan sesuatu yang impersonal, lalu Saudara mengharapkan ada satu pembentukan yang personal, apa tidak ajaib pengharapan seperti ini?? Cuma hubungan dengan Kristus yang membuat kita makin menyerupai Kristus; dan kalau ini tidak terjadi dalam kehidupan orang Kristen, maka tidak ada pertumbuhan sebetulnya. Saudara bisa bertumbuh menjadi orang yang makin mahir menghadapi kesulitan, Saudara bisa bertumbuh menjadi orang yang punya ahli menangani begitu banyak orang, tapi itu bukan pertumbuhan Kristen. Tidak harus berarti berdosa juga, tapi pertumbuhan yang seperti ini adalah pertumbuhan yang ada dalam dunia, pertumbuhan dalam kematangan psikologis, namun tidak bicara tentang pertumbuhan yang makin lama makin menyerupai Kristus; sekedar pertumbuhan humanis.

Kembali ke cerita tadi; mereka membawa orang ini kepada orang-orang Farisi. Selanjutnya di ayat 14 dikatakan: Adapun hari waktu Yesus mengaduk tanah dan memelekkan mata orang itu, adalah hari Sabat. Inilah introduksi satu kategori baru. Pertama tadi tentang ‘bagaimana’, urusan metode. Lalu ‘di mana’, urusan tempat. Dan sekarang kategori baru, yaitu kategori waktu --'kapan'. Saudara lihat, putar-putarnya dunia ini soal ‘bagaimana’, ‘di mana’, ‘kapan’, tidak tertarik tanya ‘siapa’. Memang dalam keberdosaan kita, sulit sekali --kalau tidak Tuhan yang tarik kita—kita tertarik untuk mempelajari Tuhan itu siapa. Itu sama sekali tidak mungkin. Alkitab mengatakan, manusia yang jatuh dalam dosa itu bukan cuma sakit, tapi mati –mati rohani. Orang mati tidak mungkin tertarik untuk mempelajari Tuhan, untuk berelasi dengan Tuhan. Tapi saya kuatir kalau orang sudah mengaku Kristen, dan tetap tidak tertarik juga. Kalau orang itu adalah orang yang datang ke gereja dan setiap Minggu ketemu, tapi dia tidak tertarik untuk tanya ‘Tuhan itu siapa’, ini sangat mengkuatirkan. Dia lebih tertarik pertanyaan-pertanyaan yang tidak lebih penting daripada pertanyaan ‘siapa’.

Jadi di bagian ini, di-introduksi satu kategori yang lain lagi oleh Yohanes, yaitu kategori ‘kapan’. Dan ini jadi penting bagi orang-orang Farisi, yaitu soal ‘kapan’ bukan soal ‘siapa yang melakukan’. Sebetulnya yang melakukan itu Allah, tapi mereka sibuk dengan urusan legalisme ‘kapan’. Memang, sama dengan ‘di mana’, urusan ‘kapan’ bukan tidak ada tempatnya sama sekali. Saudara ‘kapan’ mengatakan ‘apa’, betul itu penting juga; jangan salah bicara di saat ‘kapan’, karena itu bisa jadi kurang bijaksana. Tuhan itu Tuhan yang paling tahu kairos-nya kapan; konsep seperti ini jelas dalam Alkitab. Saya bukan mengatakan urusan ‘kapan’, ‘di mana’, ‘bagaimana’, semuanya sama sekali tidak penting dan yang penting cuma ‘siapa’. Yang mau kita katakan adalah, bahwa ada orang yang terus-menerus mementingkan ‘kapan’ tapi tidak peduli dengan ‘siapa’. Dia tidak peduli dengan perjumpaan pribadi, yang penting cuma ‘kapan’-nya. Seperti halnya dengan orang yang mau menyembah Tuhan, yang penting itu ‘di mana’-nya, --“di Yerusalem bukan di tempat yang didirikan orang Samaria di gunung itu, itu ngawur, tidak sesuai dengan perintah Tuhan; kita ini menyembahnya benar, di Yerusalem, tempatnya ada di sini”. Oke, kamu tempatnya lebih betul, tapi betulkah kamu sedang menyembah Siapa, jangan-jangan tidak ada Siapa juga di situ; lalu soal ‘tempat’ jadi untuk apa di sini?? Sama juga kalau kita bilang soal ‘kapan’, Saudara bisa tepat sekali menyebutkan waktunya, manajemen waktunya luar biasa rapi –itu bagus—tapi pertanyaannya, Saudara mengenal atau tidak Tuhan itu siapa. Bukan cuma urusan Sabat atau bukan Sabat, melainkan siapa yang melakukan ini?

Ayat 15, Karena itu orang-orang Farisi pun bertanya kepadanya, bagaimana matanya menjadi melek –kembali mutar di urusan ini, tanya ‘bagaimana matanya jadi melek’, bukan tanya ‘siapa’. Inikah orang-orang yang mengenal Tuhan, inikah yang namanya ahli-ahli Taurat, orang-orang Farisi?? Pasti bukan. Bukan pemimpin agama yang seperti ini. Kalau agama dipimpin orang-orang seperti ini, pasti kacau, karena urusannya bukan urusan dengan ‘siapa’ melainkan urusan yang tidak lebih penting, yaitu urusan ‘bagaimana’, ‘di mana’, ‘kapan’, dsb.

Selanjutnya: Jawabnya: "Ia mengoleskan adukan tanah pada mataku, lalu aku membasuh diriku, dan sekarang aku dapat melihat." Saudara perhatikan jawabannya: “Ia mengoleskan adukan tanah ... “; pakai kata “Ia”. Sekarang coba saya jawab sesuai dengan pertanyaannya orang Farisi, mereka tanya bagaimana matanya menjadi melek, maka jawabannya: “Begini, jadi tadi ada tanah yang dioles-oleskan, lalu musti pergi ke Siloam” –ini jawaban soal metode. Tapi dia tidak menjawab soal ‘bagaimana’, dia menjawab soal ‘siapa’: “Ia mengoleskan adukan tanah pada mataku, lalu aku membasuh diriku, dan sekarang aku dapat melihat" –kesaksian yang sangat personal. Ini bukan kesaksian tentang ‘bagaimana’, bukan kesaksian tentang ‘di mana’, bukan kesaksian tentang ‘kapan’; ini kesaksian tentang ‘siapa’, tentang Yesus dan saya. "Ia mengoleskan adukan tanah pada mataku, lalu aku membasuh diriku –semua ini seperti yang diperintahkan oleh Dia itu-- dan sekarang aku dapat melihat; aku yang tadinya buta, sekarang dapat melihat." Inilah gambaran Saudara dan saya, kita yang tadinya buta, sekarang dapat melihat. Melihat siapa? Apa yang Saudara mau lihat setelah Saudara melihat?

Saudara dan saya tadinya buta, lalu Tuhan mencelikkan kita. Setelah kita melihat, lalu Saudara mau melihat apa? Pertanyaan ‘melihat apa’ juga sudah salah. Ada orang mau melihat ‘bagaimana’, ada orang mau melihat ‘di mana’, ada orang mau melihat ‘kapan’; tetapi siapakah yang mau melihat ‘Siapa’? ‘Siapa’ itu maksudnya adalah Tuhan. Setelah kita dicelikkan, pertama adalah supaya kita bisa melihat Tuhan, supaya kita bisa melihat Kristus --Kristus dan kemuliaan-Nya—dan baru setelah itu kita boleh membicarakan urusan ‘bagaimana’, ‘di mana’, ‘kapan’. Tetapi orang-orang ini, yang katanya pemimpin-pemimpin agama,  tidak tanya ‘Siapa’; mereka tidak tertarik.

Ayat 16, Maka kata sebagian orang-orang Farisi itu: "Orang ini –berarti urusan ‘siapa’-- tidak datang dari Allah, sebab Ia tidak memelihara hari Sabat." Di sini bukannya ‘siapa’ yang kemudian memimpin kepada pertanyaan ‘kapan’, melainkan ‘kapan’ yang memimpin/ menentukan ‘siapa’ itu siapa. Tadi ada istilah ‘di mana’, lalu di sini bicara Sabat, berarti bicara soal waktunya. Waktu itu lebih penting menurut orang-orang Farisi ini, daripada Siapa yang melakukan ini; mereka mengatakan: "Orang ini tidak datang dari Allah sebab Ia tidak memelihara hari Sabat." Saudara lihat di sini, Yesus –the Who of Jesus-- diprofil oleh mereka berdasarkan waktu, berdasarkan Sabat atau bukan Sabat. Karena Dia melakukan pada hari Sabat –dan tuntutan waktu ini mutlak—maka Orang ini, menurut konsep “waktu yang benar”, tidak bisa datang dari Allah. Mungkin kita bisa sedikit berargumentasi membantu mereka seperti ini: “ya, mereka ini ‘kan masih tidak tahu bahwa Yesus itu Anak Allah, jadi jangan terlalu kejam begitu kepada orang Farisi”. Boleh saja Saudara mengatakan kalimat seperti itu --dan memang betul Yesus tidak nyata-nyata sekali menunjukkan diri-Nya Anak Allah-- tetapi waktu Yesus datang sebagai Pribadi, Dia sendiri membongkar persoalan kehidupan manusia, persoalan prioritas yang salah, kekacauan dalam melihat orang dst. dst.

Sangat bisa untuk kita melihat orang bukan berdasarkan siapa dirinya, tapi berdasarkan tempatnya di mana. Kalau Saudara pergi ke daerah-daerah yang memang tempatnya orang kaya belanja –ini bicara ‘tempat’-- lalu Saudara di situ sebagai ‘siapa’-nya, jadi mengikuti ‘tempat’ sebetulnya. Juga sangat bisa melihat orang berdasarkan ‘kapan’. Contohnya: “Inilah orang-orang yang beribadah pada hari Minggu”; lalu Saudara melihat inilah profil orang-orang yang beribadah di hari Minggu, sedangkan yang tidak beribadah hari Minggu, itu termasuk ‘siapa’ yang lain. Itu berarti Saudara memprofil orang berdasarkan ‘kapan’. Saudara jadi memprofil orang berdasarkan ‘tempat’ dan berdasarkan ‘waktu’. Rumit. Membicarakan Kekristenan jadi rumit. Tapi Yesus datang mau mengurai kerumitan yang kacau ini dalam kehidupan manusia yang memprofil orang berdasarkan ‘tempat’, berdasarkan ‘waktu’, bahkan Anak Allah sendiri diprofil seperti ini hanya gara-gara Dia melakukan pada waktu yang salah menurut mereka, yaitu pada hari Sabat. Seandainya Yesus tidak melakukan pada hari Sabat, ceritanya bisa lain lagi. Saya percaya, bagaimanapun juga mereka akan membenci Yesus, tetap akan iri dan tidak senang kepada Dia, namun urusan Sabat ini memperkeruh persoalan pada diri Yesus.

Yesus datang, Yesus menyembuhkan pada hari Sabat, Dia mau menebus konsep waktu/ kairos ini, untuk  bukan dimengerti secara legalistik tetapi dimengerti dalam perjumpaan dengan ‘siapa’ sebetulnya pada hari Sabat itu. Apakah itu perjumpaan dengan hukum-hukum yang tidak boleh ini tidak boleh itu?? Itukah yang namanya Sabat?? Itu bukan Sabat. Sabat bukanlah perjumpaan dengan seperangat formula. Orang-orang Farisi ini tidak ada perjumpaan dengan Tuhan, mereka berjumpa dengan aturan-aturan Sabat. Orang Kristen yang berjumpa dengan aturan-aturan, apa masih bisa disebut Kristen sebetulnya? Atau dia sebetulnya tidak ada pergaulan/ persekutuan dengan Tuhan? Orang seperti ini sebetulnya orang-orang yang terhilang, karena urusannya cuma dengan peraturan. Saya bukan mengatakan bahwa Gereja tidak perlu punya peraturan, atau jangan ada peraturan sama sekali. Kalau seperti itu, jadi kacau. Maksudnya di sini bukan mau menggeser peraturan an sich, tapi bahwa peraturan itu sangat bisa menggantikan pribadi. Pertanyaan ‘kapan’, ‘di mana’ itu sangat bisa menggantikan pertanyaan ‘siapa’.

"Sebagian pula berkata: "Bagaimanakah seorang berdosa dapat membuat mujizat yang demikian?" Di kalimat ini, depannya pakai istilah ‘bagaimana’, tapi sebetulnya yang mereka mau tanyakan bukan metodenya. Kata ‘bagaimana’ di kalimat ini maksudnya mau mengatakan ‘lu memang betul mem-profile orang seperti itu, apa ya bisa orang berdosa melakukan hal seperti ini?’ Dalam hal ini konsentrasinya sudah lebih baik, ke arah yang benar, yaitu bicara tentang orang --bagaimana seorang berdosa bisa membuat mujizat yang demikian—‘lu yang bener aja; hanya gara-gara Dia melakukan itu pada hari Sabat lalu lu bilang Dia tidak datang dari Allah, kalau Dia tidak datang dari Allah berarti Dia orang berdosa dong, bukan orang benar; yakin lu bahwa Dia benar orang berdosa? kalau Dia orang berdosa, bagaimana bisa buat mujizat yang demikian’ Jadi di sini konsentrasinya bukan pada metodenya, bukan persoalan ‘bagaimana keajaiban seorang berdosa bisa berbuat mujizat seperti ini’, melainkan konsentrasinya pada profil –pada ‘siapa’ tersebut—karena sebelumnya Yesus diprofil sebagai orang berdosa, sebagai orang yang tidak datang dari Allah. Jadi sekelompok orang Farisi lain, yang mengatakan kalimat tersebut, mereka arahnya sudah betul yaitu ke arah ‘siapa sebenarnya Yesus ini’. Di dalam pertanyaan ‘bagaimana’, bisa merupakan pertanyaan yang menuju kepada ‘siapa’, seperti di ayat 16 ini.

Maka timbullah pertentangan  di antara mereka.  Lalu kata mereka pula kepada orang buta itu: "Dan engkau, apakah katamu tentang Dia, karena Ia telah memelekkan matamu?" (ayat 17). Tadi kita melihat ada perpecahan di antara orang-orang Farisi ini; sebagian percaya bahwa Yesus tidak datang dari Allah karena mereka dipengaruhi oleh konsep ‘waktu’ yaitu Sabat, tapi sebagian lagi memprofil Yesus ‘sepertinya Dia bukan orang berdosa, karena orang berdosa tidak melakukan mujizat seperti ini’ Jadi ada perpecahan mengenai siapa Yesus ini. Lalu dengan pertanyaan ini, mulai masuk kepada pertanyaan ‘siapa’. Mereka tanya kepada orang itu: “Sekarang kamu kasih tahu saya, kamu ’kan yang disembuhkan; sekarang saya tanya ‘siapa’ --apakah katamu tentang Dia, karena Ia telah memelekkan matamu?” Dalam bahasa Inggris kalimatnya: So they said again to the blind man, “What do you say about him, since he has opened your eyes?” Saudara lihat, orang-orang ini bukan tanya ‘menurut kamu, siapa Dia’ –tetap saja bukan tanya ‘siapa’-- gerakannya sudah menuju kepada orang, tapi kata-katanya adalah ‘what do you say about him’. Inilah manusia berdosa yang sedang memprofil Yesus. Kalau saya membicarakan rangkaian bunga, tanya ‘what do you say’ memang betul, tapi Saudara tidak tanya ‘what do you say’ tentang orang, memangnya dia barang?? Bahkan mereka bukan tanya ‘menurut kamu Dia itu siapa’ tapi ‘menurut kamu Dia itu apa’. Apa pantas mengatakan seperti itu??

Terakhir, orang ini menjawab: "Ia adalah seorang nabi.” Maksudnya apa? Nabi itu memberitakan firman Tuhan, you better listen to Him. Bukan kamu yang memprofil Tuhan. Bukan kamu yang sedang berbicara ‘apa katamu tentang Dia’. Yesus bukan sesuatu yang kita bicara sesuatu tentang Dia. Dia adalah Nabi; nabi itu berbicara mengungkapkan isi hati Tuhan, dan kita lebih baik mendengarkan Dia kalau kita percaya Dia betul-betul nabi. Masalahnya, orang-orang ini tidak percaya, orang-orang ini merasa Yesus adalah nabi palsu. Lalu akhirnya bagaimana? Mereka sedang membinasakan diri mereka sendiri, karena kalimat firman Tuhan dinyatakan tapi mereka menolak. Mereka tidak bisa terima yang dikatakan oleh Yesus. Mereka tidak mau menerima bahwa Yesus adalah betul-batul Nabi yang diutus dari Atas, datang dari Allah, Nabi di atas segala nabi. Yesus bukan cuma Raja di atas segala raja, tapi Dia juga Imam di atas segala imam, Nabi di atas segala nabi. Tapi mereka tidak mendengar, karena mereka tidak tertarik dengan siapa itu Yesus; bagi mereka, mau nabi atau mau apa, bagi kita cuma tentang sesuatu saja yang kita komentar tentang Dia.

Harap kita bertumbuh di dalam kehidupan kita. Orang Kristen yang bertumbuh itu apa maksudnya? Bukan orang yang makin peka soal ‘di mana’, ‘kapan’, ‘bagaimana’; orang Kristen yang bertumbuh terutama adalah semakin mengenal ‘Siapa’ itu Allah –Siapa Pribadi yang mengutus, Siapa Pribadi yang diutus, Siapa Pribadi yang dicurahkan pada hari Pentakosta itu.

Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah (MS)

Gereja Reformed Injili Indonesia Kelapa Gading

Download Ringkasan