Aku Tadinya Buta, Sekarang Melihat

Di bagian ini, ada penggunaan istilah yang berbeda dari perikop sebelumnya; dalam perikop sebelumnya dikatakan bahwa orang-orang yang tidak percaya adalah orang Farisi, tetapi di sini Yohanes menggunakan istilah ‘orang-orang Yahudi itu’. Tentu ini maksudnya bukan semua orang Yahudi –Yohanes sendiri orang Yahudi, Yesus juga orang Yahudi—melainkan secara spesifik diperuntukkan bagi orang-orang Farisi yang tidak percaya.

Mereka tidak percaya bahwa orang ini adalah orang yang sama, yang tadinya buta, lalu bisa melihat. Mereka juga tidak percaya terjadi kesembuhan dari orang yang buta jadi bisa melihat. Di ayat 17, orang buta yang disembuhkan ini menyebut Yesus sebagai seorang nabi. Seorang nabi berarti yang diutus Allah, menyatakan isi hati Allah; dan umat yang kepadanya mereka berbicara, harusnya mendengarkan perkataan dari nabi itu. Namun hal ini tidak terjadi dalam diri orang-orang Farisi itu. Mungkin mereka menempatkan diri dalam posisi itu sendiri, sehingga mereka tidak bisa menerima bahwa ada nabi yang lain. Maka ayat 18 mengatakan: Tetapi orang-orang Yahudi  itu tidak percaya, bahwa tadinya ia buta dan baru dapat melihat lagi, sampai mereka memanggil orang tuanya.

Mereka sudah berhadapan dengan orang buta tersebut, dan sekarang mereka minta konfirmasi dari orangtuanya. Mereka seperti membutuhkan saksi yang lain lagi. Waktu ditanya apakah betul itu anak mereka, mereka memang menjawab apa adanya: “Yang kami tahu ialah, bahwa dia ini anak kami dan bahwa ia lahir buta” (ayat 20a). Jadi fakta bahwa orang ini tadinya buta dan sekarang bisa melihat, tidak bisa disangkal lagi.

Di dalam Injil Yohanes khususnya, hal yang dibicarakan dalam pengertian lahiriah, itu mau diterapkan di dalam pengertian rohani. Jadi di sini bukan cuma bicara kebutaan jasmani, melainkan kebutaan secara rohani sebetulnya; bicara soal orang yang berjalan di dalam kegelapan tidak bisa melihat terang, tapi kemudian berjumpa dengan Yesus yang adalah terang, yang bisa memelekkan mata yang buta. Tetapi di sini yang mengalami dicelikkan bukan si orangtua melainkan anaknya, maka waktu orangtua musti bersaksi tentang anaknya, mereka cuma bisa bersaksi bahwa anaknya itu tadinya buta, sekarang bisa melihat; “... tetapi bagaimana ia sekarang dapat melihat, kami tidak tahu, dan siapa yang memelekkan matanya, kami tidak tahu juga. Tanyakanlah kepadanya sendiri, ia sudah dewasa, ia dapat berkata-kata untuk dirinya sendiri" (ayat 20b). Memang seseorang tidak bisa bersaksi akan pengalaman orang lain yang sangat pribadi dengan Tuhan; orang itu sendirilah yang bisa bersaksi. Kita tidak bisa mewakili kesaksian pengalaman rohaninya orang lain dengan Tuhan, tentang bagaimana dia dicelikkan dari kebutaan rohani; yang bisa bersaksi tentu orang itu sendiri. Dan betul juga waktu orangtuanya itu mengatakan “tanyakanlah kepadanya sendiri, ia sudah dewasa”, karena memang orang buta ini sudah dewasa, usianya lebih dari 13 tahun (usia Bar Mitzvah), ibaratnya sudah selesai katekisasi sudah di-sidi, disebut sebagai anak Taurat. Dengan demikian dia bertanggung jawab secara legal, tidak perlu diwakili orangtuanya. Jadi dalam hal ini, betul juga perkataan orangtuanya.

Tetapi Yohanes kemudian menambahkan: ‘Orangtuanya berkata demikian, karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi’ (ayat 22a). Dari sini Saudara melihat 2 macam orang; ada orang yang berani bersaksi tentang Kristus –seperti orang buta yang disembuhkan ini—tapi ada juga orang yang takut. Takut bersaksi, takut mengakui identitas, dsb. Hal ini sampai sekarang masih relevan; kita juga mungkin hidup di dalam ketersembunyian identitas karena sepertinya lebih aman, lebih bisa diterima di mana-mana kalau orang tidak tahu kita ini pengikut Kristus. Jadi di sini Yohanes mau mengajak pembacanya –dan pembaca Yohanes pastinya sangat tahu akan poin ini-- untuk mengetahui artinya ‘harga mengikut Kristus’. Waktu mengikut Kristus, ada harga pengikutan yang harus dibayar. Ini bukan mengikut Kristus yang kemudian kita mendapat fasilitas ini itu, mendapat semua yang baik-baik, yang menyenangkan, yang membuat kita makin nyaman, dsb. Mengikut Kristus berarti ada resiko; dan pembaca Yohanes sangat mengenal resiko tersebut.

Saudara dan saya yang kira-kira 2000 tahun lebih belakangan dari mereka, apakah kita juga mengenal bahwa mengikut Kristus ada harga yang harus dibayar? Atau kita justru bilang ‘ya, orang musti cerdik, saya sih dalam hati mengaku di hadapan Tuhan bahwa saya mengikut Kristus, tapi kalau bisa orang lain tidak perlu tahu, tidak ada gunanya, malah mempersulit diri sendiri kalau bilang saya adalah pengikut Kristus, kita musti pintar-pintar main di dalam dunia ini’ ?

Orangtuanya ini takut kepada orang-orang Yahudi, ‘sebab orang-orang Yahudi itu telah sepakat bahwa setiap orang yang mengaku Dia sebagai Mesias, akan dikucilkan’ (ayat 22b). Kita, orang di Jakarta, mungkin kurang mengerti artinya dikucilkan; tapi kalau Saudara tinggal di kota yang lebih kecil, mungkin bisa lebih mengerti. Bagi kita yang tinggal di kota besar, mau dikucilkan atau tidak dikucilkan, memangnya kenapa?? Kita hidup juga agak individualis, jadi tidak terlalu ada persoalan. Tapi kalau di kampung, orang masak kopi kebanyakan gula saja, seluruh kampung tahu, apalagi kalau anak tidak naik kelas bisa-bisa kampung sebelah pun tahu. Orang di kampung biasanya banyak membicarakan satu dengan yang lain --bisa positif, bisa negatif, tapi mungkin lebih banyak negatifnya. Dengan demikian, hidup di dalam satu lingkungan yang saling kenal satu dengan yang lain, lalu dikucilkan, itu betul-betul persoalan. Orang takut tidak punya sesama, takut tidak ada lagi yang bisa diajak berelasi, lalu semua orang curiga kepada dirinya, dia harus hidup dalam satu profil yang begitu negatif di mata orang dan semua orang membicarakan dirinya begini begitu; dikucilkan seperti begini, itu menakutkan.

Kalau dipikir secara manusia, memang masuk akal takut dikucilkan. Tetapi kalau kita pikirkan dengan tenang, mengapa ya, orang bisa takut dikucilkan? Jawabannya, mungkin karena dia tidak terlalu takut dikucilkan oleh Tuhan, akhirnya takut dikucilkan oleh manusia. Orang lebih suka human approval, lebih suka penerimaan-penerimaan seperti itu, mungkin karena dia tidak terlalu peka juga dengan penerimaan Tuhan. Di dalam kehidupan yang bertumbuh, kalau kita bertumbuh sehat menjadi lebih dewasa, penerimaan manusia sebenarnya tidak terlalu penting. Orang yang kasih jempol atau ‘likes’ waktu Saudara posting di Facebook atau Instagram, waktu Saudara sakit, sepertinya ribuan orang itu tidak bakal besuk Saudara. Orang yang takut dikucilkan oleh manusia, takut hidup sendiri, takut tidak diterima oleh sesamanya, lebih suka mendapat banyak ‘likes’ –approval dari manusia-- mungkin adalah orang-orang yang sendirinya tidak peduli dengan penerimaan Tuhan. Dia juga tidak peka kalau dia sebenarnya sedang dibenci atau dikucilkan oleh Tuhan, yang penting pokoknya manusia senang sama dirinya, dirinya mendapatkan penerimaan manusia, tidak peduli apakah Tuhan setuju dan berkenan akan kehidupannya. Orang seperti ini adalah orang-orang yang takut. Orang yang takut, biasanya hubungan dengan Tuhan tidak beres.
Ayat 23, ‘Itulah sebabnya maka orangtuanya berkata: "Ia telah dewasa, tanyakanlah kepadanya sendiri.” Di sini kalau mau kita kejar terus, kita bisa bertanya sebenarnya orangtua macam apa seperti ini; bukankah anaknya ini sedang terjepit, jadi tidak peduli dia umurnya sudah 13 tahun, 12 tahun, 5 tahun, ataupun 17 tahun, sebagai orangtua harusnya mencintai anaknya, tapi ini anaknya dalam kesulitan, dia malah cuci tangan. Ini tidak seperti orangtua. Tapi bukan itu yang mau ditekankan di sini, namun paling tidak, dari sini kita mendapatkan dua macam model, ada orang yang ketakutan mengakui Yesus sebagai Kristus, dan ada orang yang berani mengakui-Nya di depan umum.

Selanjutnya, karena orangtuanya ketakutan, tidak mau menjawab, maka orang-orang Farisi memanggil orang yang tadinya buta itu lagi, dan berkata (ayat 24): "Katakanlah kebenaran di hadapan Allah;  kami tahu bahwa orang itu orang berdosa" ; dalam bahasa aslinya: “Give glory to The Lord ... “ (berikanlah kemuliaan kepada Allah). Maksudnya jelas: ‘kamu jangan bohong lagi, jangan ngarang cerita lagi, jangan bikin hoax lagi, jangan berdusta, katakan kebenaran di hadapan Allah, give glory to The Lord, berikan kemuliaan kepada Tuhan’, karena mereka pikir orang ini berbohong. Inilah orang yang berjalan dalam kegelapan; bagi mereka, kebenaran adalah dusta, dusta adalah kebenaran.

Mereka bilang “katakanlah kebenaran di hadapan Allah”, maksudnya kebenaran apalagi?? Dari tadi yang dikatakan orang itu sudah kebenaran, bahwa dia tadinya buta, dan sekarang bisa melihat. Tetapi orang-orang ini di dalam ketidakpercayaan mereka, di dalam kecurigaan mereka, di dalam kekerasan hati mereka, di dalam kecongkakan mereka –sebut-sebut nama Tuhan pula—mengatakan: "Katakanlah kebenaran di hadapan Allah --give glory to The Lord-- kami tahu bahwa orang itu orang berdosa.” Inilah gambaran orang yang sangat menakutkan, yang betul-betul tidak bisa diubah lagi pikirannya, pokoknya sudah percaya begitu lalu tetap begitu, tidak mau diskusi lagi, pokoknya ‘kita tahu, Dia orang berdosa’. Bagi orang-orang ini, ‘persoalannya ada pada kamu, kamu yang tidak mau mengaku bersama dengan kita mengatakan kebenaran bahwa Yesus adalah orang berdosa’. Di bagian ini ada tafsiran yang mengatakan, ‘di dalam kekerasan hati mereka, di dalam kedegilan hati mereka, no evidence can alter that conviction’ (tidak ada bukti apapun yang bisa mengubah keyakinan itu). Ini orang yang sudah betul-betul keras hatinya, tidak bisa diubah sama sekali pendiriannya, mau dijelaskan bagaimana pun, bagi dia ‘pokoknya saya yakinnya begini, seperti yang saya lihat begini maka sudah pasti begini’. Ini orang yang sangat menyedihkan, hidup dalam kegelapan, dalam dusta, yang dia percaya sebagai kebenaran; sudah tidak bisa dikoreksi.
Mereka mengatakan, “kami tahu bahwa orang itu orang berdosa". Lalu ayat 25, orang yang tadinya buta ini menjawab: "Apakah orang itu orang berdosa, aku tidak tahu" –jawaban sederhana. Memang dia ini masih terbatas pengenalannya. Pengenalan akan Tuhan itu progresif, bukan langsung tahu semuanya. Di sini Saudara tidak usah menghakimi terlalu dalam seakan-akan orang ini keterlaluan dan tidak bersyukur, sudah disembuhkan dari buta sampai bisa melek tapi bisa-bisanya tidak tahu siapa yang menyembuhkan, karena orang ini memang buta dan baru melek waktu di Siloam. Dia bisa saja mendengar suara Yesus dan memprofil suara Yesus yang seperti begitu, tapi tentu sulit mencari-cari dengan kupingnya siapa yang suaranya seperti itu karena di situ suasana ribut, jadi wajar saja dia tidak tahu siapa yang menyembuhkan. Dan begitu dia di Siloam, waktu dia mulai melek bisa melihat, Yesus memang tidak ada di sana karena dia diutus ke Siloam tapi Yesus tidak bersama-sama dia ke Siloam, Yesus ada di tempat lain. Dengan demikian, gambaran seperti ini wajar saja. Tapi yang pasti dia betul-betul mengalami kesembuhan itu dari Tuhan. Dia sudah dijamah, sudah disembuhkan.

Maka dia menjawab, "Apakah orang itu orang berdosa, aku tidak tahu; tetapi satu hal aku tahu, yaitu bahwa aku tadinya buta, dan sekarang dapat melihat." Kesaksian yang sederhana –‘tadinya aku buta, sekarang dapat melihat’. Kalau kita terapkan dalam pengertian rohani, bisakah kita bersaksi yang sama –dulu saya berjalan dalam kegelapan, sekarang saya melihat. Lagu “Amazing Grace” dari Newton, mengatakan: “I once was lost, but now I am found, was blind but now I see” –dulu aku buta, tapi sekarang aku melihat. Tentu Saudara tahu Newton tidak buta lahiriah, tapi dia bilang “dulu aku buta, sekarang aku bisa melihat”; maksudnya apa? Dia tidak bicara tentang lahiriah, melainkan dalam pengertian rohani pastinya. Saudara dan saya waktu menyanyikan lagu ini tentunya juga dalam pengertian rohani, karena kita dari kecil bisa melihat, tidak ada yang buta lalu baru belakangan bisa melihat. Jadi dalam hal ini bukan bicara kebutaan lahiriah melainkan kebutan rohaniah.

Tapi bisakah kita mengatakan kalimat ini, “aku dulu buta, sekarang melihat” ? Maksudnya: dulu saya berjalan dalam kegelapan, saya melihat yang dipermuliakan oleh dunia; setelah saya mengenal Kristus, sekarang saya bisa melihat itu semua sebetulnya sampah, dan berkata bersama Paulus ‘segala sesuatu kuanggap rugi setelah aku mendapatkan Kristus’. Bisakah kita mengatakan seperti ini? Ataukah kita tertariknya dengan yang dulu? Kalau seperti itu, berarti kita tetap buta. Kalau dulu tertarik uang, sekarang juga tertarik uang, ya, berarti buta, tetap dalam kegelapan. Kalau dulu sangat mati-matian mencari cara supaya orang bisa mencintai dan menerima diri kita, lalu sekarang --setelah katanya kenal Kristus-- tetap mencari human approval, ya, berarti tetap buta. Kalau seperti itu, jadinya dulu aku buta, sekarang pun tetap buta juga –I was blind but now still blind. Tidak ada kesaksian apa-apa. Tetapi orang ini bisa mengatakan, “dulu aku buta, sekarang aku melihat; satu hal aku tahu, bahwa tadinya aku buta berjalan dalam kegelapan, sekarang aku bisa melihat terang”. Yesus bilang, “Akulah terang dunia” –I am the light of the world. Di dalam Kristus, kita mendapat terang itu, melihat kemuliaan Kristus sebagai yang lebih menarik daripada semua yang lain.

Selanjutnya ayat 26: Kata mereka kepadanya: "Apakah yang diperbuat-Nya padamu? Bagaimana Ia memelekkan matamu?" Mereka tanya kalimat ini lagi. Tanya, tanya, tanya, tapi tidak tertarik jawabannya. Dalam seminar ada orang yang tanya dan tanya, tapi waktu hamba Tuhan menjawab, dia mengobrol dengan orang di sebelahnya; jadi tanya untuk apa sebenarnya?? Ada juga yang tanya dan waktu dijawab memperhatikan, tapi dia cuma mau konfirmasi bahwa yang dia pikir selama ini sudah benar, bahwa hamba Tuhan itu berpikir bersama dengan dia. Alangkah langkanya orang yang tanya dengan kerendahan hati karena ingin tahu lebih dalam, supaya dirinya bisa lebih mengenal kebenaran. Pertanyaan mereka di bagian ini, pastinya bukan tanya yang seperti itu.
Maka waktu di bagian ini mereka tanya lagi kepada orang buta itu, dia menjawab –mungkin sambil mengelus dada—"Telah kukatakan kepadamu, dan kamu tidak mendengarkannya; mengapa kamu hendak mendengarkannya lagi?" (ayat 27). Sebenarnya mereka bukan mau dengar untuk diyakinkan dan siapa tahu bisa berubah keyakinannya, mereka tidak akan berubah. Lalu apa tujuan mereka tanya? Yaitu, supaya kalau bisa mengguncangkan orang yang ditanya. Ini pertanyaan bersifat teror, tanya terus sampai akhirnya yang ditanya bisa capek, lalu bilang ‘ya, sudahlah, saya memang orang yang lain’. Itulah mungkin yang diinginkan orang-orang Farisi ini. Tanya terus bukan untuk mencari keyakinan yang benar, melainkan kalau bisa menggeser posisi orang yang sedang bersaksi sampai dia mengaku setuju dengan yang mereka yakini, yang tidak bisa berubah. Orang seperti ini, tidak pernah bisa berelasi dengan orang lain. Saya kuatir akan orang yang konseling dengan hamba Tuhan, lalu dia banyak bicara tapi sebetulnya tidak mau dengar siapapun, termasuk hamba Tuhan; dia cuma mau dimengerti, dimaklumi, dibenarkan posisinya. Ini orang yang tidak pernah bisa bertumbuh, terus-menerus tetap di dalam keadaannya. Tanya sih tanya, tapi tidak betul-betul mau belajar, tidak ada sikap belajar, tidak ada hati seorang murid.

Maka orang buta itu menjawab: "Telah kukatakan kepadamu, dan kamu tidak mendengarkannya; mengapa kamu hendak mendengarkannya lagi? Barangkali kamu mau menjadi murid-Nya juga?" Saya percaya di sini dia bukan sengaja mau memprovokasi; sebetulnya kalimat ini juga bisa diterima dalam pengertian secara tulus, bahwa mereka harusnya menjadi murid Kristus. Ini satu undangan. Tapi kita tahu, tidak mungkin orang-orang ini mau.

Di ayat 28, Sambil mengejek mereka berkata kepadanya: "Engkau murid orang itu tetapi kami murid-murid Musa.” Jawaban yang tipikal, membenturkan dengan established authority yang tidak bisa diganggu gugat. Dalam hal ini Taurat dan Musa dibenturkan dengan orang yang mereka benci, yang mereka tidak bisa terima. Memang kalau diterapkan dalam kehidupan sekarang, kita tidak ada perdebatan bahwa dalam kehidupan gereja, Yesus adalah established authority juga, tetapi di zaman itu sebagian besar tidak mengenal Yesus sebagai Anak Allah yang tunggal, bahkan menerima Yesus sebagai Mesias pun tidak. Dalam keadaan seperti itu, mereka benturkan otoritas yang “baru” tersebut, yang namanya Yesus, dengan established authority.

Kalau kita menghayati dalam kehidupan sekarang, kira-kira ini penolakan terhadap orang yang diutus Tuhan, yang betul-betul berasal dari Tuhan, dengan bilang “kita tidak mau mendengarkan dia, kita percaya kepada Yesus Kristus; kita orang Reformed sola scriptura, kita tidak mendengarkan perkataan manusia”. Padahal manusia tersebut mungkin adalah manusia yang diutus oleh Tuhan, tetapi sudah ditolak duluan, dan menolaknya atas nama Firman Tuhan. Betapa absurd. Anak-anak muda zaman sekarang memakai istilah “kita harus lebih taat kepada Allah daripada taat kepada manusia” untuk mendukung suatu kehidupan yang tidak bisa diatur. Tidak bisa submit sebetulnya, lalu pakai ayat Alkitab. Kalimat tersebut kalimat di Alkitab, mana bisa salah; tapi kalimat ini dipakai supaya ‘saya ‘gak usah dengerin elu’. Di bagian juga mirip, mereka bilang, “Kami murid Musa, dari tangannya kita menerima Taurat, Taurat itu Firman Tuhan, sedangkan Orang ini siapa??”

Kalimat yang dikatakan mereka itu sebenarnya mengandung satu permasalahan; kalau mereka benar-benar mengenal Musa, mengenal pengajaran Musa, mengenal Taurat, maka mereka akan mengenal siapa itu Kristus. Kalau kita betul-betul mengerti Firman Tuhan, kita bisa membedakan mana orang yang diutus Allah itu dan mana yang tidak. Kalau orang tidak bisa membedakan, lalu orang yang diutus Allah dikatakan tidak diutus Allah, maka orang itu sepertinya tidak kenal Firman Tuhan. Ini persis seperti kehidupan orang Farisi. Bisa-bisanya mereka membenturkan antara Musa dengan Kristus, padahal Musa membicarakan Kristus. Musa itu sinkron sepenuhnya dengan Kristus, tapi mereka menolak Kristus. Itu membuktikan bahwa mereka bukan hanya menolak Kristus, tapi juga menolak Musa dan menolak Taurat yang diberikan oleh Musa. Namun mereka merasa diri orang-orang yang sangat mengerti Firman Tuhan, yang ahli mengerti Taurat.
Saya percaya, dalam kehidupan kita kalau kita betul-betul mementingkan Firman Tuhan, menjunjung tinggi Kristus, mengasihi Kristus di atas semua yang lain, maka kita akan berjumpa dengan orang-orang lain yang juga mengasihi Kristus. Itu pasti. Kalau Saudara pikir diri Saudara menjujung tinggi Kristus dan taat Firman Tuhan, tetapi Saudara berasa sendirian, cobalah koreksi lagi. Itu perasaannya Elia; Elia pernah jatuh dalam kesalahan seperti ini. Dia pikir, dia satu-satunya yang sinkron dengan kehendak Allah, dia pikir, “semua orang sudah meninggalkan Engkau, Tuhan, tinggal aku satu-satunya”. Lalu Tuhan jawab, “Ada tujuh ribu orang yang tidak menyembah Baal”. Itu tujuh ribu, bukan tujuh orang; tujuh ribu itu banyak sekali, tapi koq bisa Elia tidak melihat ada 7000 orang yang juga cinta Tuhan, dan merasa dia sendiri satu-satunya yang cinta kepada Tuhan. Kalau Saudara merasa diri satu-satunya yang taat kepada Firman Tuhan, satu-satunya yang mengerti kehendak Tuhan, tunggu dulu, mungkin Saudara keliru. Memang betul mungkin saja ada saat yang seperti itu kalau Saudara tinggal di kalangan orang Fasik seperti di Sodom dan Gomora, tapi dalam hal ini Saudara juga persoalan, mengapa memilih Sodom dan Gomora untuk tinggalnya??

Merasa mencintai Tuhan, merasa mengenal Taurat, merasa ahli Firman Tuhan --seperti orang-orang Farisi ini-- tapi kemudian menolak Kristus, ini tidak masuk akal sebetulnya. Ayat 29: “Kami tahu, bahwa Allah telah berfirman kepada Musa, tetapi tentang Dia itu kami tidak tahu dari mana Ia datang." Betapa kalimat yang kontradiktif. Kalau mereka betul-betul tahu bahwa Allah berfirman lewat Musa, mereka akan tahu bahwa Yesus ini diutus dari Allah. Soal apakah mereka nantinya akan melihat bahwa Yesus adalah Anak Allah yang tunggal, itu urusan belakangan, tetapi paling tidak mereka mengetahui bahwa Yesus adalah nabi yang sejati yang diutus dari Allah. Itu paling sedikit; sebagaimana diketahui oleh orang buta yang disembuhkan, yang berkata “Dia adalah seorang nabi”. Namun hal ini pun tidak sampai ke pikiran mereka, mereka berpikir Yesus ini pendusta, Yesus tidak memberitakan kebenaran.

Maka kemudian orang buta ini menjawab mereka: "Aneh juga bahwa kamu tidak tahu dari mana Ia datang, sedangkan Ia telah memelekkan mataku” (ayat 30). Istilah ‘aneh’ di sini, dalam terjemahan Bahasa Inggris memakai istilah ‘amazing’. Istilah ‘amazing’ biasa dipakai untuk hal-hal yang positif, misalnya amazing grace (anugerah yang menakjubkan/ mengagumkan), tapi di sini juga dipakai istilah ‘amazing’ dalam arti betul-betul amazing orang-orang yang rasa diri tahu ini (maka Bahasa Indonesia menerjemahkan langsung dengan istilah ‘aneh’). Maksudnya, ‘amazing kamu bisa tidak tahu padahal harusnya kamu tahu, kamu mengenal Musa, kamu mengenal Taurat, kamu dari tadi kamu bilang “kami tahu, kami tahu”, tapi giliran bicara tentang Yesus, kamu tidak tahu dari mana Dia datang’. Amazing yang pertama adalah ketidaktahuan mereka; dan yang kedua, kekerasan hati mereka pada ketidakpercayaannya. Jadi yang amazing di sini bukan iman, bukan kerendahan hati, melainkan kecongkakan hati manusia, kekerasan hatinya; betapa sangat “mengagumkan” –bukan dalam pengertian positif—bahwa ada orang bisa sekeras ini hatinya.

"Aneh juga bahwa kamu tidak tahu dari mana Ia datang, sedangkan Ia telah memelekkan mataku.  Kita tahu, bahwa Allah tidak mendengarkan orang-orang berdosa, melainkan orang-orang yang saleh dan yang melakukan kehendak-Nya. Dari dahulu sampai sekarang tidak pernah terdengar, bahwa ada orang yang memelekkan mata orang yang lahir buta.  Jikalau orang itu tidak datang dari Allah, Ia tidak dapat berbuat apa-apa" (30-33). Sangat sederhana pemahaman teologi orang buta yang disembuhkan ini. Maksudnya, ‘kalau kamu bilang Yesus itu orang berdosa, heran ya, koq Dia bisa memelekkan mata orang yang buta dari lahir; saya sih tidak terlalu mengerti Taurat, bukan ahli Taurat, tapi pemikiran sederhana saja, kalau Yesus betul-betul orang berdosa, orang fasik, lalu bisa memelekkan mata, itu ‘gak nyambung, kecuali Dia orang saleh, utusan dari Tuhan, maka Dia bisa memelekkan mata orang yang buta sejak lahir sehingga bisa melihat, membawa orang dari kegelapan kepada terang. Kamu bilang Dia orang berdosa yang hidup dalam kegelapan, ini tidak masuk akal; orang dibawa dari kegelapan kepada terang, berarti yang membawa pastinya juga orang yang hidup di dalam terang, ini logika yang lebih beres’. Sederhana sekali.

Setelah orang buta yang disembuhkan ini ber-apologia seperti itu, ayat 34 mereka menjawab: "Engkau ini lahir sama sekali dalam dosa dan engkau hendak mengajar kami?" Ini bukan argumentasi. Ini pamer kuasa –‘kamu ini lahir dalam dosa’—bukan menjawab. Tetapi di sini Saudara lihat ada semacam presaposisi atau asumsi di dalamnya; maksudnya begini: ‘lu lupa ya, lu itu lahir buta, itu sial banget, kalau orang di tengah-tengah perjalanan hidup lalu jadi sakit, masih oke-lah meski pasti ada dosa juga, sedangkan lu dari lahir sudah sakit, itu cuma menujukkan bahwa lu lahir dalam dosa!’ Seperti itulah sebetulnya argumentasi mereka.

Waktu Yesus menanggapi isu adanya orang yang mati kejatuhan menara –artinya kena bencana—dan juga orang-orang lain yang setelah perang dan kalah lalu oleh Pilatus darahnya dicampur dengan darah binatang –suatu kekejian luar biasa bagi orang Yahudi—Yesus bilang: “Kamu pikir orang-orang yang kena bencana itu dosanya lebih besar daripada dosamu? Kamu pikir orang-orang yang menderita itu, lebih jahat daripada kamu, sehingga karena itu Tuhan menghukum mereka? Kamu pikir seperti itu?” Lalu Yesus melanjutkan: “Kalau kamu tidak bertobat, kamu akan mati dengan cara yang sama.”

Waktu kita belum mengalami bencana, belum mengalami penderitaan berat seperti orang-orang lain, itu sama sekali tidak membuktikan bahwa kehidupan kita lebih baik dan lebih saleh daripada orang lain. Tetapi itu lebih menyatakan bahwa Tuhan menunggu kita bertobat, Tuhan menunggu kita berbalik. Sebetulnya kalimat yang bilang: “Orang sakit, orang buta, orang miskin/ kekurangan, itu sudah pasti ada persoalan  dihukum Tuhan, Tuhan sedang tidak berkenan kepada dia”, “Lu sakit pasti karena berdosa”, “Lu ‘gak bisa kaya, pasti karena ada dosa dalam kehidupanmu”; adalah kalimat yang sudah berbahaya. Tetapi yang lebih bahaya, luar biasa bahaya, daripada kalimat ini adalah sebaliknya, yaitu kalimat yang mengatakan: “Saya sehat, itu berarti Tuhan berkenan kepada saya”, “Saya kaya, ini bukan usaha saya, ini berkat Tuhan; jadi berarti Tuhan berkenan kepada saya, buktinya saya kaya, saya diberkati Tuhan”.

Yang sakit disudutkan sebagai orang yang berdosa, itu sudah bahaya. Tetapi yang sehat merasa diri Tuhan berkenan, itu jauh lebih bahaya. Sebagian besar dari kita sehat, meski ada juga yang sakit. Lalu Saudara pikir Saudara itu sehat, ada keuangan yang cukup bahkan berlebih, maka berarti Tuhan pasti berkenan dalam kehidupan Saudara dan saya, dibandingkan dengan orang-orang yang sakit, yang kekurangan? Nanti dulu. Itu logikanya orang-orang Farisi –‘engkau ini lahir sama sekali dalam dosa, lu musti tau lu itu lahirnya buta, kita ini lahirnya ‘gak buta, jadi kita ini orang-orang yang lebih saleh daripada kamu, kamu orang fasik, orang berdosa, sampai Tuhan memberikan dirimu buta dari sejak kamu lahir, jadi pasti ada persoalan dalam kehidupanmu; kalau bukan kamu, ya, orangtuamu!’ Mirip seperti perkataan murid-murid Yesus di ayat 2, “dosa siapa ini, dosanya atau dosa orangtuanya”, yang intinya sama saja, baik dosa dia maupun dosa orangtuanya, tetap saja tidak bisa lari dari soal dosa. Setelah Yesus sekian lama menjelaskan dari ayat-ayat perikop yang sudah berjalan, ternyata masih kembali ke square one, masih ada orang-orang yang berpikir kayak begini lagi persis seperti yang dikatakan oleh murid-murid Yesus. Itu di ayat 2 ,dan sekarang sudah sampai ayat 34, lalu masih ketemu teologi ayat 2 lagi –‘orang ini lahir dalam dosa, tahu mengapa? ya, karena buta, buta berarti di dalam dosa, dosa mengakibatkan dia dibikin buta oleh Tuhan sejak lahir, berarti orang ini persoalannya besar sekali; tetapi kita, ya, tidaklah, buktinya kita tidak buta’.

Maka di bagian ini akhirnya mereka mengusir dia keluar. Lalu di ayat 35, Yesus mendengar bahwa ia telah diusir ke luar oleh mereka. Kemudian Ia bertemu dengan dia. Bersyukur kalau kita ini orang-orang yang diusir keluar oleh dunia, tapi kemudian Yesus menjumpai kita. Perhatikan di sini dikatakan ‘kemudian Yesus bertemu dengan dia’, jadi Yesuslah yang menemukan dia, bukan dia yang menemukan Yesus. Kalau orang ini mau mencari Yesus, dia tidak tahu juga Yesus ada di mana. Dia tidak tahu juga siapa yang menyembuhkan karena dia tidak bisa melihat tadinya; dan setelah bisa melihat, Yesus tidak ada di sana. Namun kemudian Yesus yang menjumpai dia.
Kemudian Ia bertemu dengan dia dan berkata: "Percayakah  engkau kepada Anak Manusia?" (ayat 35). Rujukan kepada ‘Anak Manusia’ ini menarik, karena kalau dalam Kitab Daniel, spectrum of meanings dari istilah ‘Anak Manusia’ terutama menunjuk kepada penghakiman, tentang Anak Manusia yang akan menghakimi; dan di sini Yesus memperkenalkan diri-Nya kepada dia, ‘percayakah  engkau kepada Anak Manusia’. Bukankah Yohanes mengatakan bahwa Anak Allah datang ke dunia bukan untuk menghakimi melainkan untuk menyelamatkan, tapi di sini mengapa Yesus bicara ‘Anak Manusia’?

Di sinilah, waktu membaca, kita ini punya kecenderungan berpikir ‘either or’. Kita berpikir kalau ‘penghakiman’ adalah ‘penghakiman/ law’, sedangkan kalau ‘penyelamatan’ itu namanya  ‘Injil/ gospel’; penghakiman atau pengampunan, pengampunan bukan penghakiman. Teologi Lutheran berpikir seperti itu, ada perbedaan yang tajam antara the law and the gospel; Perjanjian Lama adalah penghakiman/ law, dan Perjanjian Baru adalah Injil/ gospel/ pengampunan. Tetapi dalam perspektif Teologi Reformed pemahamannya sedikit berbeda; kita mengikuti orang-orang seperti Calvin. Dia mengatakan, bahwa sebetulnya kalau kita membaca Perjanjian Lama, di situ bukan cuma ada law tapi juga ada gospel, ada hukum/ penghakiman tapi juga ada berita kasih karunia. Sebaliknya, dalam Perjanjian Baru yang sepertinya didominasi berita anugerah, sebetulnya juga ada hukum. Jadi di dalam penghakiman ada berita keselamatan, di dalam berita keselamatan ada berita penghakiman. Di dalam Dekalog, yang adalah perintah (Sepuluh Perintah Allah), di situ dimulai dengan kalimat: “Akulah TUHAN, Allahmu, yang membebaskan engkau keluar dari Mesir”; ini berita anugerah, Injil mendahului Taurat. Injil terlebih dahulu, baru setelah itu membicarakan sepuluh perintah Allah (law). Sebaliknya, waktu Yesus mengatakan: “Barangsiapa mengasihi Aku” –ini perkataan Yesus, sudah pasti ini Injil—lalu selanjutnya: “ia menuruti perintah-Ku”. Di sini Saudara lihat bahwa di dalam Injil ada law. Dan di dalam law, ada Injil.

Saya pakai prinsip yang sama untuk bagian ini, bahwa di dalam istilah ‘Anak Manusia’ yang kental pengertiannya dengan penghakiman, di sini ada berita keselamatan. Tetapi di dalam berita keselamatan juga selalu ada penghakimannya. Mereka yang memberitakan berita keselamatan tanpa penghakimannya, itu tidak setia kepada Alkitab. Itu menjual anugerah murahan. Gereja yang cuma memberitakan keselamatan, kebaikan Tuhan, pengampunan Tuhan, kasih Tuhan, tapi tidak pernah ada penghakimannya, itu bahkan bukan Injil yang asli. Sebaliknya, Gereja yang terus-menerus membicarakan teguran dan teguran, tetapi di dalam teguran tidak pernah ada berita keselamatannya, tidak ada kabar baiknya, itu ajaran legalistik, ajaran sesat. Baik sesat dalam hal penghakiman tanpa keselamatan, atau sesat dalam hal keselamatan tanpa penghakiman.
Siapapun percaya Yohanes 3: 16 yang terkenal itu adalah berita anugerah;  “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal”. Ini Injil, ini berita anugerah. Tetapi perhatikan kalimat ‘supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa’; lalu bagaimana dengan yang tidak percaya? Ayat ini tidak bilang ‘supaya semua orang/ supaya setiap orang, tidak peduli dia percaya atau tidak percaya, beroleh hidup yang kekal’. Sama sekali bukan begitu. Dan selanjutnya ayat 17 yang tadi sudah kita singgung --masih bicara tentang Injil—“Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya”. Ini berita anugerah. Lalu dilanjutkan ayat 18: Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah. Ayat 19: “Dan inilah hukuman itu: Terang  telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang , sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat.”  Di sini Saudara lihat, ayat 16-17 adalah berita anugerah, tapi segera disusul dengan ayat 18-19 berita penghakiman.

Di dalam pemberitaan Injil yang sejati pasti ada penghakiman. Di dalam kalimat penghakiman, ada berita anugerah. Di dalam teguran-teguran yang paling keras yang mungkin berpotensi menyinggung perasaan, kalau orang yang ditegur itu punya mata rohani, dia akan bisa melihat berita anugerah di dalamnya. Tapi orang-orang yang buta, yang cuma tersinggung terhadap teguran-teguran dan menganggap ‘orang ini tidak senang sama saya’, dia memang anak kecil atau mungkin belum lahir baru. Dia tidak bisa melihat Injil, yang dilihat orang mengkritik dan mengkritik; dia tidak bisa melihat dengan perspektif positif, tidak melihat ada anugerah tapi cuma melihat sebagai kritikan, kebencian, dsb. Mengapa begitu? Karena dia tidak ada perspektif anugerah. Sebaliknya, kalau orang mendengar berita kesalamatan tapi lupa bahwa di dalamnya juga ada penghakimannya, ada peringatannya, ada tegurannya, itu bukan Injil yang sejati. Orang yang terus bicara pengampunan tapi di dalamnya tidak ada pertobatan, dia tidak sedang setia kepada Injil. Injil yang asli adalah yang kita baca tadi, yang bukan cuma Yohanes 3:16 melainkan juga ayat 17, 18, 19, dst., seluruh Injil Yohanes. Dan di bagian ini kita melihat penggenapannya, bahwa terang itu datang tetapi mereka --yaitu orang-orang Farisi ini-- tidak percaya. Terang sudah datang mengunjungi mereka tapi mereka menolak, maka ada penghakiman.

Oleh sebab itu Yesus bilang kepada orang buta yang disembuhkan:  "Percayakah  engkau kepada Anak Manusia?” (ayat 35b). Kalimat ini menakutkan. Yesus tidak bilang ‘percayakah engkau kepada Juruselamat?’ --yang mustinya boleh juga karena Yesus memang Juruselamat—melainkan Dia bilang ‘percayakah  engkau kepada Anak Manusia?’ Di dalam Pribadi Yesus ada pengampunan dan penghakiman. Kita tidak bisa bertemu Pribadi Yesus yang tanpa penghakiman, sama sekali tidak bisa. Termasuk juga waktu kita mendengar istilah ‘Anak Manusia’, Saudara jangan gentar karena cuma lihat aspek penghakiman, ‘celaka saya sedang dihakimi’ -- kalimat itu pasti betul, tapi baru separuh-- Tuhan datang bukan untuk menghakimi dunia, tapi untuk menyelamatkannya. Barulah di dalam pengertian seperti ini, kita mengenal bukan cuma apa itu Teologi Reformed, tetapi siapakah Kristus yang kita percaya.
Kiranya Tuhan memberkati kita.

Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah (MS)

Gereja Reformed Injili Indonesia Kelapa Gading

Download Ringkasan