Jika ya, katakan ya. Jika tidak, katakan tidak

Kita melanjutkan tema “Ucapan Tuhan Yesus yang Sulit”, yaitu yang ke-6, satu diskursus yang berbicara mengenai sumpah.

Pertama-tama kita perlu mengerti definisi ‘bersumpah’ di sini, karena hari ini pengertian ‘sumpah’ bisa berbeda, misalnya ‘menyumpah’ artinya bisa jadi ‘memaki’. Bersumpah dalam pengertian waktu itu, semata-mata artinya berjanji. Hari ini kita bukan lagi hidup dalam oral culture melainkan written culture; perjanjian yang sah pada hari ini bukanlah yang kita katakan dengan mulut, melainkan yang kita tanda-tangani di atas kontrak tertulis. Namun pada waktu itu tidak demikian, mereka hidup dalam oral culture; janji yang digunakan adalah janji yang keluar dari mulut, dalam arti ‘sumpah’.

Jadi, ucapan Tuhan Yesus mengenai sumpah di bagian ini maksudnya apa, apakah orang Kristen tidak boleh bikin janji? Pengertian seperti itu menghasilkan generasi orang Kristen yang lebay, yang menolak bersumpah di pengadilan, dst. Tapi jelas penafsirannya bukan ke sana; alasannya sederhana saja: Tuhan Yesus sendiri bersumpah. Bahkan dalam Matius 26 ketika Imam Besar menanyai Tuhan Yesus dan menghadirkan saksi-saksi palsu, Tuhan Yesus tidak mau berbicara sama sekali, sampai ketika akhirnya Imam Besar mengatakan “Demi Allah yang hidup” –berarti bersumpah—“katakan Engkau Anak Allah atau bukan”, Tuhan Yesus menjawab “seperti yang kamu katakan”. Dengan kata lain, dalam konteks ini bukan cuma Tuhan Yesus bersumpah, tapi Tuhan Yesus bahkan seperti tidak mau bicara sampai Dia disumpah. Maka di bagian ini jelas bahwa yang mau diserang bukan masalah sumpahnya, bukan masalah tidak boleh berjanji. Bukti-bukti lain, misalnya dalam Galatia 1, 1 Korintus 1, dan yang lainnya, Paulus bersumpah “demi Allah yang hidup”. Di seluruh Alkitab, Allah sendiri berkali-kali bersumpah/ berjanji. Alkitab penuh dengan kovenan/ perjanjian. Dengan demikian, bagian ini bukan masalah tidak boleh bersumpah; lalu jadi apa maksudnya? Inilah yang akan kita bicarakan.

Pertama-tama, problem yang perlu kita bereskan sejak awal adalah mengapa di satu sisi seperti ada kutipan Firman Tuhan, lalu di sisi lain Tuhan Yesus seperti melawan kutipan tersebut di ayat berikutnya? Hal ini yang membuat kita susah mengerti. Di ayat yang kita baca tadi ada kutipan: “Jangan bersumpah palsu,  melainkan peganglah sumpahmu di depan Tuhan”, kemungkinan besar diambil dari Bilangan 30:2 ‘Apabila seorang laki-laki bernazar atau bersumpah kepada TUHAN, sehingga ia mengikat dirinya kepada suatu janji, maka janganlah ia melanggar perkataannya itu; haruslah ia berbuat tepat seperti yang diucapkannya’ –berarti diambil dari Firman Tuhan. Lalu mengapa berikutnya Dia mengatakan sesuatu yang seakan bertentangan --“kamu telah mendengar firman yang seperti ini, sekarang Aku mengatakan yang lain”? Inilah yang membuat rumit.
Dalam hal ini kita perlu belajar menafsir Alkitab dengan tepat.  Ketika Tuhan Yesus mengutip Firman Tuhan, istilah yang biasa Dia pakai berbeda dengan yang dikatakan di sini, yaitu istilah “ada tertulis”. Di bagian ini yang dikatakan bukanlah “ada tertulis bahwa begini dan begini” melainkan “telah kamu dengar bahwa begini dan begini”. Ini 2 hal yang berbeda. Maka salah satu cara menafsir bagian ini, adalah bahwa mungkin Tuhan Yesus bukan sedang mengkritik Perjanjian Lama melainkan mengkritik pengajaran dari Perjanjian Lama yang diajarkan pada waktu itu. Dengan kata lain, yang sedang dikritik bukanlah Alkitab melainkan cara para pemuka agama zaman itu mengajarkan Alkitab. Saudara tidak akan menemukan perkataan Tuhan Yesus seperti ini: “ada tertulis ..., tapi ... “. Yang Dia katakan: “telah kamu dengar ..., sekarang Aku berkata lain ... “. Jadi peroblemnya bukan antara Kristus versus Perjanjian Lama, melainkan Krstus versus semacam penafsiran yang salah atas Perjanjian Lama.

Itu sebabnya yang Tuhan Yesus serang di bagian berikutnya bukanlah sumpah atas nama Allah, melainkan sumpah demi langit, demi bumi, demi Yerusalem, dsb., yang tentang hal itu Dia mengatakan bahwa standarnya tidak beda dengan standar kalau bersumpah atas nama Allah. Ini tanggapan atas pemikiran yang mengatakan, ‘memang Alkitab mengatakan kalau kamu bersumpah demi nama Allah maka kamu terikat dan kamu harus melakukan’, dan kemudian tambahan yang menyeleweng:  ‘jadi kalau kamu bersumpah demi langit atau bumi atau kepalamu –yang bukan Allah—maka keterikatanmu atas sumpah tersebut lebih rendah, kamu ada ruang yang lebih fleksibel untuk mengingkari janji tersebut’.

Dengan kata lain, tujuan Tuhan Yesus di sini bukanlah mengatakan bahwa orang Kristen tidak boleh bersumpah atau berjanji, sama sekali bukan itu, bahkan boleh dikatakan justru kebalikannya. Tujuannya adalah bahwa bagi orang-orang di  dalam Kerajaan Allah, tidak bisa ada different degree of truthfulness –tidak bisa ada level-level atau derajat yang berbeda dalam hal kesungguhan. Tidak bisa kita mengatakan ‘kalau dalam situasi ini, saya harus 100% sungguh-sungguh, tapi dalam situasi lain, ya, lain cerita’.

Saudara mungkin mengerti sekarang, bahwa maksudnya bukan tidak boleh bersumpah sama sekali, bukan masalah janji atau tidak janji, Tuhan Yesus memakai kalimat hiperbola ‘jangan bersumpah’ maksudnya kalau ya, semua ya, kalau tidak, semua tidak, semua yang kita katakan ada level kesungguhan yang sama. Tapi mungkin pertanyaan Saudara: ‘memang siapa dari antara kita yang ada problem seperti itu?? saya kayaknya kalau ngomong benar ya, benar, mana ada dari kita waktu bicara dalam level tertentu harus benar lalu dalam level lain merasa tidak harus benar banget?? kayaknya kita tidak seperti itu’. Jawabannya: mungkin kita harus lebih jujur. Contoh paling gampang, di zaman sekarang ketika semua orang punya HP, dan berarti semua orang punya kamera, sebenarnya sangat mudah untuk membuat orang berubah perkataannya. Seorang rekan cerita, suatu ketika di jalan mobilnya diserempet, tapi yang menyerempet tidka merasa bersalah meski sudah diklakson berkali-kali. Akhirnya waktu lampu merah, rekan saya tadi keluar dari mobilnya, mendatangi mobil yang menyerempet, lalu tanpa bicara apa-apa dia mengeluarkan HP, motret-motret  mobil orang itu dan juga orangnya, kemudian kembali ke mobil. Dan, orang tersebut lalu keluar dari mobilnya, minta maaf, dst.

Coba Saudara bayangkan kalau berada dalam situasi seperti itu. Misalnya hari Senin besok seharian Saudara diikuti beberapa orang yang terus-menerus merekam semua perkataan Saudara, lengkap dengan nada bicara dan bahasa tubuh Saudara, lalu malamnya mereka akan upload ke Facebook atau Youtube, dan dijamin besoknya ada 1 juta views. Dalam situasi seperti itu, kita-kira hari Senin Saudara jadi hari Senin yang berbeda atau tidak? Keberadaan hal-hal seperti itu kira-kira akan mempengaruhi atau tidak perkataan yang keluar dari mulut Saudara dan janji-janji yang Saudara ucapkan? Kalau kita mau jujur, dan dengan rendah hati menjawab “iya”, berarti pengajaran Tuhan Yesus di bagian ini adalah bagi kita semua. Bahkan kalimat Tuhan Yesus menohok lebih dalam, karena masalahnya bukan sekedar kamera manusia, melainkan bahwa ke mana pun kamu pergi, kamu sedang diobservasi oleh mata Ilahi –kamera Ilahi. “Kamu tidak bisa kabur dari Dia, langit itu takhta-Nya, bumi itu tumpuan kaki-Nya, kota ini kota-Nya, bahkan rambut kepalamu pun hasil tangan-Nya, maka pendapat Allah ini lebih substantif dibandingkan 1 milyar views di Youtube. Maka, semua ‘ya’-mu biarlah jadi ‘ya’, semua ‘tidak’-mu biarlah jadi ‘tidak’; semua ‘ya’ dan ‘tidak’-mu harap ada di level sumpah, tidak kurang, tidak lebih.

Sekarang kita eksplorasi implikasi pengajaran ini bagi hidup kita. Yang pertama kita perlu membicarakan seberapa penting hal ini bagi Tuhan Yesus. Saudara bisa mengertinya, kalau Saudara memperhitungkan bukan cuma kalimatnya tapi juga konteks kalimat ini ditempatkan, apa yang mendahuluinya dan apa yang mengikutinya.

Kalimat ini ada di Matius 5, di bagian yang sangat terkenal, yang disebut “Khotbah di Bukit”. Dalam Khotbah di Bukit ada beberapa topik berbeda; ada ucapan bahagia, hal mengenai berdoa, berpuasa, dsb. Pertanyaannya, bagian mengenai kesungguhan ini ditempatkan di antara topik-topik apa? Kalau Saudara perhatikan bagian yang datang sebelumnya dan yang datang sesudahnya, Saudara akan menemukan bahwa masalah kesungguhan dan kejujuran ini ditaruh di antara pembahasan mengenai pembunuhan (masalah marah itu membunuh), perzinahan (masalah melihat dan mengingini itu sudah berzinah), perceraian, dan kekerasan (masalah pembalasan, mata ganti mata, gigi ganti gigi). Hari ini, kalau kita mau mengakui, kita akan mengatakan bahwa masalah kesungguhan/ kejujuran sepertinya hal yang kecil dibandingkan semua hal yang di depan dan di belakangnya itu. Kita mungkin jauh lebih sensitif akan pembunuhan dibandingkan kejujuran; keduanya itu sepertinya tidak selevel. Kita juga pasti sangat lebih sensitif akan perzinahan dan kekerasan dibandingkan masalah kesungguhan dan kejujuran; keduanya itu sepertinya jauh banget levelnya. Tapi saudara lihat, bagi Tuhan Yesus semua ini ditempatkan dalam level yang sama.
Salah satu alasan kita tidak sensitif akan hal ini, semata-mata karena kita hidup di dunia hari ini yang sudah dikondisikan untuk menerima ketidakjujuran dan ketidaksungguhan sebagai fakta harian. Mungkin kita tidak setiap hari bersentuhan dengan hal-hal seperti kekerasan, perzinahan, pembunuhan, sehingga itu semua kesannya lebih spektakuler dan lebih penting; sedangkan ketidakjujuran dan ketidaksungguhan ini hal yang lebih kecil, kita menghirupnya sehari-hari, apalagi di zaman sekarang ketika hoax dan truth sudah sangat sulit dibedakan. Itulah sebabnya tema ini sangat penting; bukan karena pertempurannya di hal-hal besar melainkan justru karena pertempurannya ada pada hal-hal yang kecil, yang sehari-hari, yang rutin, yang mudah ditelan.
Ada beberapa contoh yang membuat kita tidak menyadari seberapa genting dan krusialnya masalah kejujuran dan kesungguhan. Scott Peck, penulis buku “The Road Less Traveled” dan seorang psikiater Kristen mengatakan, sebenarnya kita tidak perlu kaget kalau anak kecil bisa berbohong. Banyak orang merasa kalau orang dewasa berbohong, itu lumrah, tapi kalau anak kecil berbohong, itu aneh. Menurut Scott Peck, kalau kita observasi secara rutin, berbohong adalah hal yang sangat natural bagi anak kecil, dan itu kadang-kadang –atau seringkali—adalah dosa yang pertama. Anak kecil secara natural punya kapasitas untuk berbohong. Mereka mau mengubah realita jadi sesuai dengan keinginan mereka, dan cara yang mereka lakukan –yang pertama dan paling kecil—adalah dengan berbohong. Maka Scott Peck mengatakan, kalau kita mau kaget, jangan kaget bahwa anak kecil bisa berbohong, tetapi kagetlah kalau bebarapa dari anak kecil yang secara natural bisa berbohong ini kemudian tumbuh dewasa menjadi orang-orang yang jujur. Intinya, kapasitas untuk tidak jujur adalah kapasitas yang ada sejak awal; dan inilah seringkali yang menjadi sumber semua kekejian yang belakangan.

Satu contoh, sebuah kejadian tabrak lari. Ada seorang di Amerika yang tertangkap karena menabrak anak kecil di jalan lalu kabur. Tabrak lari ini kejahatan yang sangat keji dan hukumannya berat sekali. Ketika dia tertangkap dan beritanya masuk koran, di mana-mana rakyat Amerika heboh berspekulasi mengenai apa yang menyebabkan orang ini bisa sebegitu kejinya. Mereka mengatakan, pastinya ada hal yang besar pernah terjadi dalam hidupnya, atau dia sedang mengalami trauma yang besar dalam hidupnya, mungkin dia habis bercerai, mungkin dia habis di-abuse, atau apapun lainnya, yang menyebabkan dia kehilangan kontrol, dsb. Lalu seorang jurnalis mewawancarai orang ini di penjara: “Mengapa kamu melakukan semua ini, apakah kamu baru mengalami trauma besar seperti orang-orang katakan? Apa traumanya?” Orang ini menjawab: “Tidak ada trauma apa-apa, tidak ada kejadian besar apa-apa.” Ditanya lagi, “Jadi mengapa kamu menabrak seperti itu?” Lalu dia jawab: “Sederhana saja. Begini, waktu kecil saya pernah main-main jam koleksi papa saya, yang mahal, lalu tidak sengaja jamnya jatuh, kacanya retak, dan yang saya lakukan adalah saya ambil jam tersebut, saya taruh di tempat semula, dan saya pergi tanpa mengaku. Waktu papa saya tanya siapa yang melakukan itu, saya berdiam diri. Setelah itu ada lagi kejadian-kejadian waktu saya masih kecil yang saya berbohong dan tidak jujur, sehingga ketika hari itu saya menabrak si anak kecil, tidak ada lagi perdebatan dalam diri saya, apakah saya harus menolong dia atau kabur; saya langsung kabur.” Jadi dia melakukan itu karena naturnya sudah begitu.

Inilah sebabnya Tuhan Yesus bersikeras menuntut bahwa semua ya adalah ya, semua tidak adalah tidak. Dia menaruhnya di antara pembunuhan, perzinahan, percerain, kekerasan, karena di dalam setiap ‘ya’ dan ‘tidak’-nya Saudara ada pertempuran. Dan lebih berbahayanya, pertempuran ini tidak seperti pertempuran hal perzinahan yang terjadi dalam godaan besar, atau pertempuran hal pembunuhan yang terjadi dalam krisis yang menggetarkan jiwa, atau apapun lainnya --sama sekali tidak-- tapi justru karena pertempurannya terjadi dalam hal-hal yang kecil, yang rutin, yang sekali-sekali, tapi dampak jangka panjangnya amat sangat besar. Itulah pentingnya hal mengenai kejujuran secara negatif.

Kita juga bisa membicarakan ini dalam hal yang lebih positif, alasannya kejujuran itu satu hal yang penting.  Di bagian ini, saya menarik dari tulisan seorang penulis Kristen, Lewis Smedes. Dia menarik hubungan antara ‘mengampuni’ dengan ‘berjanji/ menepati janji’ –menepati janji ini ada hubungan dengan kesungguhan yang sedang kita bicarakan—yaitu bahwa keduanya adalah jalan untuk kita bisa hidup bebas. Pengampunan adalah cara untuk kita bisa bebas dari masa lalu, janji/ komitmen/ menepati janji/ kesungguhan adalah jalan untuk kita bisa bebas di masa depan. Menurut Smedes, orang yang tidak bisa mengampuni, masalah utamanya bukan karena dia pendendam, keji, atau semacamnya, melainkan terutama karena dia adalah orang yang terikat dengan masa lalu.

Contohnya, seorang anak remaja sharing betapa dia membenci papanya --papanya memang bukan orangtua yang baik, ada alasan yang cukup sehingga remaja ini membenci papanya. Dia ingin bebas dari papanya, dia menanti-nantikan saatnya kuliah supaya bisa pergi melepaskan diri dari pengaruh papanya, dan dia mengatakan, “Saya tidak suka semua yang papa lakukan, saya tidak akan mau barang-barang yang identik dengan papa”. Kalau Saudara menghadapi orang seperti ini, Saudara harus menyadarkan dia, bahwa ketika melakukan hal-hal tersebut, itu justru membuktikan dirinya tidak bebas.

Seandainya kita benci pada orangtua kita, maka ketika punya anak biasanya yang akan kita lakukan adalah: ‘saya tidak akan mendidik anak saya dengan cara seperti papa saya mendidik saya, supaya saya bebas dari pengaruh dia’. Tapi ini justru berarti Saudara masih di bawah pengaruhnya; memang bukan di bawah kontrolnya, tapi di bawah pengaruhnya. Kalau dia suka warna merah, lalu Saudara pilih warna biru karena tidak mau yang sama dengan dia, berarti Saudara masih di bawah pengaruhnya. Kalau dia terlalu keras atau terlalu lembek mendidik Saudara, lalu Saudara memilih mendidik anak dengan cara sebaliknya, itu sama saja masih terpengaruh; bukan terpengaruh secara lurus tapi kebalikannya, namun tetap saja terpengaruh. Satu-satunya cara untuk benar-benar bebas dari pengaruh papa kita --kalau kita membenci dia-- adalah justru dengan mengampuni, demikian Smedes mengatakan. “Ketika kamu mengampuni dia, kamu akan bebas menggunakan cara yang lain yang papamu tidak lakukan, dan kamu juga tetap bebas untuk menggunakan cara yang sama yang papamu lakukan, karena kamu tidak lagi membenci dia. Justru di sinilah kamu benar-benar bebas. Kamu bukan lagi binatang yang dikendalikan oleh nafsu, atau komputer yang dikendalikan oleh program yang sudah ditulis di masa lalu, tapi kamu adalah manusia, kamu bebas membentuk hidupmu sendiri, yaitu justru dengan mengampuni.”

Bukan cuma soal pengampunan untuk kita bebas dari masa lalu, Smedes melanjutkan, bahwa berjanji adalah untuk kita bebas di masa depan. Bagaimana bisa? Logikanya sama. Menurut G. K. Chesterton, setiap kali kita berjanji pada orang lain, pada dasarnya kita sedang berjanji dengan diri kita sendiri di masa depan. Misalnya saya janji dengan Pak Calvin, “Minggu depan kita ketemuan, yuk, di sana”, itu sesungguhnya saya berjanji dengan diri saya sendiri yang seminggu dari sekarang, bahwa saya akan ada di tempat itu. Dengan demikian maksud Lewis Smedes, ketika kita berjanji dan kita menepati janji tersebut, di situ justru kita sedang mengatakan “Saya bebas. Meskipun situasi saya tidak memungkinkan, meskipun mood saya tidak mendukung, meskipun suasana hati saya tidak enak, saya menepati janji saya. Itu berarti saya bebas dari semua ini, saya bukan binatang yang disetir oleh nafsunya, saya bukan komputer yang disetir oleh programnya, saya manusia tulen yang punya kehendak bebas, dan bahwa saya bisa menepati janji saya adalah bukti saya bebas.”

Jadi berarti saya bebas justru ketika saya membuat komitmen dan menepati komitmen tersebut. Ini bertabrakan sama sekali dengan konsep duniawi –yang seringkali adalah konsep kita—mengenai kebebasan. Kita biasa berpikir bahwa bebas itu artinya bebas dari kewajiban, bebas dari tuntutan, bebas dari ikatan, bebas dari hal-hal yang tidak sesuai dengan perasaan kita. Itu sebabnya banyak orang tidak mau menikah, hanya mau hidup bersama karena tidak mau diikat, tidak mau berkomitmen. Alasan yang sama juga yang mendasari banyak orang tidak mau ikut KTB, hanya mau datang ke gereja, karena kalau masuk KTB berarti harus berkomitmen, harus terikat, dan tidak merasa bebas. Kita tidak mau kebebasan yang tadi, kita mau kebebasan yang bebas dari ikatan, bebas dari komitmen.

Hannah Arendt, seorang filsuf, pernah bicara mengenai komitmen. Ketika itu dia mengatakan, orang berusaha mencari identitas dirinya dari perasaan --saya mengejar apa yang saya mau, apa yang saya ingini, karena itulah diri saya yang sesungguhnya; diri saya yang otentik adalah apa yang saya inginkan. Arendt mengatakan, itu sama sekali salah; bagi Hannah Arendt, keinginan tidak pernah menunjukkan diri kita seperti apa, melainkan menunjukkan kita ingin jadi seperti apa; dan yang kita ingin ini sudah pasti bukan diri kita sendiri yang sesungguhnya.

Jadi apa buktinya bahwa kita manusia yang sungguh bebas, yang bukan binatang ataupun komputer? Yaitu janji; berjanji dan menepati janji. Itu berarti pada dasarnya kita mengatakan: “Saya tidak peduli dengan perasaan saya, saya bebas dari itu, saya tidak disetir oleh itu; saya tidak disetir oleh situasi saya, saya tidak disetir oleh mood saya, saya akan menepati janji itu.” Hanya dalam saat seperti inilah Saudara bisa dikatakan benar-benar bebas. Terbalik sama sekali dengan konsep dunia modern. Dan Saudara bisa melihat logikanya dengan jelas bahwa kebebasan sangat dekat dengan kesungguhan. Tidak ada kesungguhan, tidak bisa bebas. Justru ketika kita diikat dengan janji, itulah kebebasan yang sesungguhnya.

Kepentingan dari implikasi mengenai kesungguhan ini bukan cuma dalam level personal, bukan cuma dalam skala pribadi, tapi juga masuk ke dalam skala komunal. Kesungguhan bukan cuma diperlukan untuk Saudara dan saya bisa jadi manusia yang bebas pada diri kita sendiri, tapi juga sangat diperlukan untuk kita bisa hidup sebagai sesama manusia, saling memperlakukan orang lain secara manusiawi. Contoh gampangnya, hari ini hoax/ berita palsu beredar di mana-mana; coba Saudara bayangkan kalau hal itu bukan cuma di berita-berita  media tapi terjadi di seluruh aspek masyarakat. Itu berarti Saudara akan menemukan pemimpin negara yang selalu bohong, bisnis-bisnis yang selalu melanggar kontrak, dunia akademik yang semuanya ijazah palsu, dan juga pendeta-pendeta yang semuanya pendusta. Kalau Saudara menemukan yang seperti itu, bisakah ada masyarakat? Tidak bisa. Bahkan juga tidak bisa ada kegiatan ekonomi.

Ini bukan cuma skenario doomsday yang belum terjadi; ini satu skenario yang sudah pernah lihat terjadi dalam sejarah dunia ini. Ketika di abad 20 negara-negara komunis runtuh, tahukah Saudara apa yang mendasari terjadinya itu? bBnyak orang mengatakan bahwa problem utamanya adalah masalah ekonomi, masalah kesejahteraan rakyat, dsb. --dan memang benar keruntuhannya terjadi karena ekonominya runtuh, karena kesejahteraan rakyatnya runtuh, dst. Tetapi apa yang membuat ekonominya bisa runtuh? Seringkali jawabannya adalah: karena tidak lagi ada trust di negara tersebut, tidak lagi ada kesungguhan, orang tidak lagi bisa saling percaya. Waktu melihat pemerintah mereka bicara, yang mereka lihat itu semua bukan kebenaran melainkan cuma propaganda untuk menjalankan agenda politik tertentu. Waktu melihat para jurnalis menulis berita, mereka juga tidak bisa percaya karena semua jurnalis yang objektif sudah dilenyapkan oleh pemerintah dan sisanya cuma jurnalis-jurnalis yang ketakutan diancam atau jurnalis-jurnalis yang memang sudah masuk di kantongnya pemerintah. Waktu melihat dunia akademik, mereka juga melihat bahwa profesor-profesor yang menulis riset, dsb., itu menulis dengan ketakutan berlawanan dengan agenda politik karena mereka bisa dilenyapkan. Bahkan hamba-hamba Tuhan dalam negara-negara seperti itu seringkali dikumpulkan dan di-indoktrinasi, diancam, ataupun –dalam beberapa kasus—dengan senang hati mereka menyerahkan Gereja ke tangan agenda politik tertentu, seperti terjadi di zaman Hitler (dalam hal ini Dietrich Bonhoeffer adalah salah satu hamba Tuhan yang tidak mau dibeli Nazi).

Intinya, dalam kasus seperti itu, tidak ada trust, tidak bisa percaya apa-apa, maka akhirnya negara runtuh. Inilah alasannya bahwa kesungguhan penting. Tanpa kesunggguhan, Saudara bukan cuma tidak bebas sebagai manusia pribadi. Kalau Saudara tidak menjalankan kesungguhan, kalau “ya” Saudara bukan berarti ya, dan “tidak” Saudara bukan berarti tidak, maka Saudara sedang menghancurkan komunitas. Bagaimana cara kita menghancurkan komunitas? Sederhana saja, yaitu dengan kalimat-kalimat seperti ini: “O, saya sebenarnya ingin datang”, padahal tidak; atau mengatakan: “Hmm, hasil karyamu ini terlalu canggih”, padahal maksudnya sampah.

Saya ada satu contoh pengalaman pribadi. Rumah saya jauh dari gereja, jadi setiap kali selesai mengajar PA, saya ingin pulang cepat-cepat. Jadi saya hampir selalu memarkir mobil di area yang paling ujung, karena kemungkinanannya cukup kecil untuk terhalang mobil yang parkir paralel. Dan saya biasa datang ke gereja jam 2-3 siang; jam segitu area parkir memang masih kosong. Satu kali, seperti biasa waktu saya datang, lapangan parkir masih kosong, tapi ada satu tukang loak yang nongkrong di area paling ujung yang saya mau. Akhirnya saya dekati dia, buka jendela, lalu bicara dengan sopan, “Pak, maaf, boleh tolong geser, saya mau parkir di situ”. Tak disangka, saya dimaki-maki. Tukang loak itu dengan nada berang bilang: “Ya, saya tahu kamu mau usir saya ‘kan! Kamu ‘gak mau saya nongkrong di sini ‘kan! Memang sombong mentang-mentang punya mobil!”, sambil beranjak pergi. Pertamanya saya mangkel sama dia, apa-apan sih lu, gua ‘gak ada maksud apa-apa, lu yang paranoia sendiri. Tapi lama-kelamaan saya baru sadar satu hal, bahwa itu mungkin bukan problemnya dia –atau setidaknya bukan cuma problemnya dia saja—itu adalah hasil bentukan masyarakat dalam cara kita berkomunikasi hari ini, yaitu tidak mau bicara terang-terangan, lalu mengandalkan orang lain bisa membaca  ‘udang di balik batu’. Jadi kalau kita bilang, “O, sebenarnya saya kepingin banget datang”, maksudnya: lu ngertilah di balik itu apa –mengandalkan pembacaan ‘udang di balik batu’. Dan yang terjadi ketika Saudara berbicara tanpa ‘udang di balik batu’, semua orang pikir ada udang di balik batu. Komunitas rusak. Bahasa rusak.
Contoh yang gampang, soal alarm kebakaran. Waktu kuliah di Melbourne, kalau alarm kebakaran berbunyi, langsung semua orang kabur keluar, cuma saya yang tetap diam di situ, bengong, kenapa musti segitunya sih. Belakangan saya baru sadar bahwa lagi di luar negeri, jadi kalau ada alarm kebakaran berarti memang ada kebakaran, sedangkan kalau di sini ada alarm kebakaran, kita santai-santai aja, tengok kanan tengok kiri, tidak ada yang bergerak, lalu ya, sudah --karena sudah terlalu sering muncul dan ternyata tidak sungguh-sungguh.

Ini satu hal yang tidak bisa kita pungkiri. Kita hidup di zaman yang sudah dikondisikan untuk sehari-hari menghirup bahasa-bahasa yang tidak jujur, bahasa-bahasa yang tidak sungguh-sungguh. Dan pada akhirnya apa yang terjadi? Menghancurkan komunitas. Buat saya, budaya seperti ini –budaya tidak bicara terus terang-- tidak ada tempatnya di Gereja. Saya tidak tahu, Saudara bisa terima hal ini atau tidak. Atau mungkin itu budaya Saudara yang sudah mendarah daging, oleh karenanya sulit untuk dibuang, dan harus ada ruang untuk toleransi atas budaya-budaya seperti itu?

Beberapa hari yang lalu kami melayani di Gunung Kidul selama 3 hari. Lalu saya sempat tanya kepada rekan-rekan yang melayani di sana: “Kira-kira di sini konteks jemaat yang kita layani seperti apa?” Jawabannya: “Orang Kristen di sini seringkali masih terikat adat-adat lama, kepercayaan-kepercayaan kejawen, dsb. Itu budaya mereka yang sudah mendarah daging dan susah dilepaskan. Kalau kita tegur, mereka bisa marah.” Jadi waktu berkotbah, saya mengatakan: “Saudara sebagai orang Kristen harus berani berpikir, apa adat yang boleh dipertahankan, dan apa adat yang harus dibuang.” Dalam hal ini Saudara mungkin dengan ‘amin ya amin’ langsung setuju, apalagi budaya-budaya seperti jimat, patung, dsb. itu, tentu saja harus dibuang, tidak peduli seberapa mendarahdagingnya. Tetapi kita juga tidak lepas dari problem yang sama. Kita juga punya budaya masing-masing yang melawan Kekristenan, yang kalau kita konsisten dengan perkataan Tuhan Yesus di bagian ini, maka tidak ada jalan keluar lain selain membuangnya, yaitu budaya tidak terus terang, yang akhirnya menghancurkan kemampuan suatu masyarakat untuk berkomunikasi. Kita dengan gampang mengatakan orang lain harus berubah, tapi bagaimana kalau kita mengaca diri kita sendiri? Ini mengerikan.

Satu contoh lagi. Saya membaca buku tentang penggembalaan; tentang bagaimana menggembalakan jemaat, tentang hal-hal apa yang jangan dikatakan waktu visitasi jemaat, dsb. Salah satunya dikatakan, kalau kamu pergi ke rumah jemaat, sepasang suami istri tua, yang punya anak wanita dan anaknya ini tidak cantik, maka jangan sekali-kali mengatakan anaknya cantik. Mengatakan “Oh, rumahnya bagus sekali” padahal rumahnya gubuk, mengatakan “Bapak, anaknya cantik-cantik” padahal tidak cantik, itu tidak boleh. Mengapa? Karena –buku tersebut mengatakan—kalau kamu mengatakan seperti itu, waktu hari Minggu dia mendengar kamu di mimbar, dia tidak akan percaya satupun yang kamu katakan. Saudara setuju dengan ini? Kalau setuju, lalu mengapa kita sulit sekali refleksi diri atas budaya kita yang tidak beres itu, budaya memperhalus yang seringkali juga bukan demi orang yang diajak bicara tapi demi supaya diri kita aman?
Mungkin Saudara berpikir, bukankah itu hal-hal kecil, masakan harus kita beresin juga?? Inilah sebabnya dari depan kita sudah mengatakan, bahwa hal-hal yang kecil inilah yang berbahaya. Pertempurannya sampai-sampai disandingkan oleh Tuhan Yesus di tengah pertempuran-pertempuran mengenai perzinahan,  pembunuhan, dll., adalah justru karena ini yang berbahaya, ini yang seringkali mudah ditelan. Kita tidak sadar bahwa di balik itu kita sedang merusak komunitas, merusak kapasitas masyarakat untuk bisa percaya satu dengan yang lain.

Di bagian ini, mungkin Saudara mengatakan, “Ya, saya sudah coba hidup dengan kejujuran, dan banyak orang tidak suka dengan itu!” Saudara, pertama-tama, kejujuran di sini bukanlah kejujuran tipe brutal yang Saudara semaunya melampiaskan tanpa peduli perasaan orang. Itu sama sekali bukan tujuan kita. Dalam Efesus 4:15 ada dikatakan “kebenaran di dalam kasih”; Alkitab tidak pernah membedakan 2 hal ini. Pembahasan kita dari tadi pada dasarnya menyerang sifat yang seperti mau mengasihi tapi tanpa kebenaran, yang seperti memperhalus dan memperhalus tapi akhirnya membuang kebenaran sedikit demi sedikit. Yang seperti itu bukanlah Alkitab, karena Alkitab tidak ada ruang untuk adanya kasih tanpa ada kebenaran. Bahkan kalau cuma ada kasih dan tidak ada kebenaran, maka ujungnya juga bukan kasih, karena perhalusan-perhalusan tersebut secara perlahan tapi pasti, akan merusak komunitas. Yang namanya kasih, arahnya selalu keluar. Kasih itu berani merugi, berani meresikokan diri, berani merentankan diri, demi keuntungan orang lain. Sedangkan waktu kita memperhalus, tanpa kebenaran, di situ seringkali bukan demi orang lain melainkan demi kita sendiri aman, tidak diserang. Jadi, kasih tanpa kebenaran, itu bukan kasih; dari tadi kita menyerang hal ini.

Kita menyerang juga yang sebaliknya, yaitu sifat yang mau kebenaran, tapi tanpa kasih. Kebenaran saja tapi tanpa kasih, akhirnya juga tidak sungguh benar --kontennya mungkin benar tapi motivasinya tidak benar. Orang yang menutup-nutupi dan memperhalus, seringkali demi cari aman; demikian juga kebenaran yang tanpa kasih, membongkar dan membongkar demi melampiaskan, dan bukan demi membenarkan.

Apa artinya kasih dalam menyatakan kebenaran? Bagi saya, ini bukan masalah sikap, bukan masalah nada bicara –setidaknya bukan itu yang terutama. Sekali lagi, kasih berarti berani merugi demi keuntungan orang lain, berani meresikokan diri demi kebaikan orang lain. Waktu Daud menegur Saul dengan kalimat yang sangat keras dan tegas, dia menempatkan dirinya dalam kerentanan, dia serta-merta bisa dibunuh. Dan Saul tahu, ini bukan pelampiasan tapi demi menyatakan kebenaran. Itulah kasih.

Kembali ke pertanyaan tadi; katakanlah Saudara sedang menyatakan kebenaran dalam kesucian, dalam motivasi yang benar, di situ dunia tidak tentu meresponi Saudara sebagaimana Saul meresponi Daud. Memang benar. Kita tidak kekurangan contoh-contoh dari fiksi maupun non fiksi tentang orang-orang yang menyaksikan ketidakadilan dan kecurangan, mereka membongkarnya, dan ujungnya karir mereka mandek, keluarga diancam, bahkan mungkin harus bayar harga dengan nyawanya. Tetapi satu hal, orang-orang yang berintegritas, orang-orang yang bicara terus terang, memang mereka dibenci dan mungkin dijauhi, namun pada saat yang sama juga dicari. Kalau Saudara orang yang berintegritas, jujur, maka pastinya ada orang yang juga mau Saudara di pihak mereka, karena dari orang seperti Saudara mereka tahu apa yang akan mereka dapat; waktu mengerjakan proyek yang mereka mau beres, mereka akan cari Saudara. Itu berarti salah satu tes-nya adalah: kalau Saudara cuma dibenci orang dan tidak dicari demi kejujuran Saudara, berarti Saudara mungkin orang yang cuma memberikan kebenaran tanpa kasih.

Gambaran Gereja yang diberikan Alkitab adalah bukan cuma dikasihi oleh banyak orang, dan bukan cuma dibenci oleh banyak orang. Dalam 1 Petrus 2: 12 dikatakan: “Milikilah cara hidup yang baik di tengah-tengah bangsa bukan Yahudi, supaya apabila mereka memfitnah kamu sebagai orang durjana, mereka dapat melihatnya dari perbuatan-perbuatanmu yang baik dan memuliakan Allah pada hari Ia melawat mereka.” Petrus mengatakan agar Gereja memiliki cara hidup melayani, sehingga ketika orang memfitnah kamu, mereka juga mengakui bahwa Allah ada di tengah-tengah kamu. Koq bisa? Kita seringkali berpikir, menjadi orang Kristen itu gol-nya adalah salah satu dari itu. Ada beberapa orang mengatakan, jadi Gereja itu berarti disukai dan diakui semua orang, hidup baik dengan semua orang, tidak ada ombak; kalau ada gesekan sedikit itu namanya bukan Gereja. Dan ada orang-orang yang sebaliknya, menganggap bahwa menjadi orang Kristen itu berarti jadi trouble maker, buat onar, bikin orang berantem di mana-mana karena Tuhan mengatakan ‘Aku datang untuk membelah’, dsb. Dua-duanya sama-sama ngawur.

Petrus mengatakan bahwa tanda ciri khas Gereja yaitu ada dua-duanya; kamu akan difitnah, tapi kamu juga akan diakui. Bagaimana Saudara bisa dua-duanya, jika bukan lewat kesungguhan, lewat kejujuran?? Kalau Saudara jujur dan sungguh-sungguh, kalau Saudara menyajikan kebenaran dan kasih, Saudara akan dibenci dan difitnah --itu sudah jelas—tapi Saudara juga akan dicari dan diakui. Itulah panggilan kita sebagai orang Kristen, bukan cuma salah satu.

Mungkin Saudara bertanya, saya tahu dari mana dan bagaimana saya bisa di tengah-tengah? Jawabannya: kenalilah dirimu ada di tempat yang mana atau lebih condong ke arah yang mana, berarti mungkin saat ini Tuhan ingin Saudara belajar ke sisi yang sebaliknya. Pengkotbah mengatakan, ada waktunya untuk ini, ada waktunya untuk itu. Tapi kalau kita hari ini mau jujur melihat konteks kita, lebih banyak orang yang harus belajar jujur, lebih banyak orang yang harus belajar terbuka, lebih banyak orang yang harus belajar ngomong apa adanya. Suatu hari mungkin kita bisa berubah ditarik ke arah yang lain, tapi ini hal yang kita harus belajar, yaitu ada kedua-duanya.

Jadi ada 2 alasan besar kesungguhan begitu penting yang harus kita jalankan. Pertama, karena Allah adalah Pencipta kita; Dia menciptakan kita untuk kebenaran. Mengapa bagi Kristus, berzinah dan membunuh disandingkan dalam level yang sama dengan berbohong, tidak jujur, bohong putih, atau kawan-kawannya? Sama seperti paru-paru kita di desain untuk udara dan bukan air, demikian manusia didesain untuk kebenaran, kesungguhan, kejujuran, dan bukan untuk tipu-menipu, bohong putih, atau kata-kata memperhalus lain yang tidak pada tempatnya. Kalau Saudara tidak ada kesungguhan, Saudara tidak bisa jadi manusia, dan Saudara tidak bisa memperlakukan orang lain sebagai sesama manusia. Orang lain pun tidak bisa memperlakukan Saudara sebagai manusia. Tidak bisa ada masyarakat. Karena kita tidak didesain untuk itu; kita didesain untuk kebenaran. Itulah sebabnya Tuhan Yesus mengatakan, kalau ya katakan “ya” , kalau tidak katakan “tidak”, karena Allah adalah Pencipta segala sesuatu, langit itu takhta-Nya, bumi itu tumpuan kaki-Nya, rambut kepalamu ciptaan-Nya; kamu tidak bisa lari dari desain sebagaimana Dia menciptakanmu.
Tapi ada alasan yang ke-2, yaitu karena Dia Penebus kita. Paulus mengatakan: “Kamu telah dibeli, dan harganya telah lunas dibayar.” Saudara lihat Kristus, integritas Kristus, kesungguhan Kristus. Di Taman Getsemani tidak ada seorang pun yang melihat, tidak ada kamera; Petrus, Yakobus, Yohanes yang diajak, semuanya tidur. Tidak ada yang tahu seandainya Tuhan Yesus mengatakan “engga ah, ‘gak jadi”. Dan Tuhan Yesus memang tidak mau. Tuhan Yesus mengatakan “kalau bisa ini lewat”, tapi pada akhirnya Dia mengatakan “bukan kehendak-Ku tapi kehendak-Mu”. Inilah kunci yang kedua untuk bisa menghidupi kehidupan yang integral, yang integritasnya jelas, meskipun tidak ada yang melihat; bukan dengan hanya menyadari bahwa Tuhan melihat kita, melainkan dengan kita melihat kepada Tuhan. Melihat kepada Tuhan yang berkomitmen kepada kita dan menepati janji-Nya kepada kita, meskipun hati-Nya mengatakan yang lain, meskipun suasana hati-Nya tidak mendukung, meskipun perasaan-Nya menolak, meskipun tidak ada yang melihat. Dia itulah yang terlebih dahulu merugikan diri-Nya demi keuntungan orang lain. Sesungguhnya, Dia mematikan diri-Nya demi menghidupkan Saudara dan saya.

Di satu sisi, Dialah Penciptamu, jadi hiduplah dalam kesungguhan karena jalan yang lain sama sekali doesn’t works. Di sisi yang lain, Dialah Penebusmu, jadi hiduplah dalam kesungguhan karena Dia telah terlebih dahulu menghidupi kesungguhan itu, dengan membayar dengan nyawa-Nya demi Saudara dan saya.

Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah (MS)

Gereja Reformed Injili Indonesia Kelapa Gading 

Download Ringkasan