Allah dan Dagon

Kita melanjutkan seri kotbah “Encounters with The Living God” (pertemuan-pertemuan dengan Allah yang hidup). Kita sudah membahas insiden-insiden ketika manusia –Yakub, Ayub, Yosua-- masuk hadirat Tuhan dan menemui Tuhan secara langsung, betapa itu berbeda dengan gambaran-gambaran yang ada di kepala kita. Hari ini kita membahas satu insiden yang unik; di bagian yang kita baca ini, yang masuk ke hadirat Tuhan bukan seorang manusia melainkan sesuatu, yaitu patung Dagon di kuilnya.

Dalam pembahasan-pembahasan sebelumnya, setiap kali Allah hadir menjumpai seseorang, biasanya ada manifestasi fisik, yang bisa dilihat, yang konkret. Abraham melihat suluh berasap. Musa melihat semak belukar yang menyala. Yakub melihat sorang pegulat dalam kegelapan. Ayub melihat Tuhan berkata-kata dari dalam badai. Di situ Allah menyatakan kehadiran-Nya lewat satu tanda yang terlihat, Allah secara sementara menghubungkan kemuliaan-Nya dengan objek tersebut. Tetapi hari ini kita melihat satu objek, yang melaluinya Allah menyatakan kehadiran-Nya secara lebih rutin, yaitu tabut perjanjian.

Tabut perjanjian adalah sebuah kotak berlapis emas, dimensinya 125 cm x 75 cm x 75 cm, di setiap sudutnya ada cincin emas tempat masuknya tongkat pengusung sehingga tabut tersebut bisa diangkut oleh kaum Lewi. Di bagian atas ada tutup yang disebut “mercy seat”, dengan pahatan 2 figur malaikat saling berhadapan dan saling menudungi. Di dalam tabut itu tersimpan 2 loh batu Hukum Allah. Tabut tersebut diletakkan di ruang belakang Kemah Suci, yang disebut Ruang Mahasuci. Di situ tidak ada perabotan apapun selain tabut tersebut, dan seorang pun tidak boleh masuk selain Imam Besar Israel setahun sekali. Musa diperbolehkan masuk melihat tabut itu, dan dia menulis bahwa ketika Allah hadir, Dia hadir sebagai satu cahaya kemuliaan di tengah-tengah kedua figur malaikat yang dipahat di atas mercy seat. Jadi tabut ini fungsinya sebagai objek Allah menyatakan kehadiran-Nya secara rutin berulang kali, bukan cuma sesekali sebagaimana manifestasi-manifestasi lainnya.

Bagian yang kita baca tadi adalah kisah tabut ini dirampas. Ketika itu, keadaan Israel cukup rusak; bukan cuma karena kepemimpinan Imam Eli dan anak-anaknya –Hofni dan Pinehas—yang kacau, Israel sendiri juga tidak ada kebangkitan untuk mencopot kepemimpinan Hofni dan Pinehas, serta mereformasi keimaman yang kacau itu. Negara yang tidak terlalu ada keinginan untuk mereformasi imam-imam yang korup, adalah negara yang sendirinya korup. Inilah masa yang lumayan gelap di Israel sebelum kepemimpinan Nabi Samuel.

Singkat cerita, Israel berperang melawan bangsa Filistin. Ketika mereka sudah diambang kekalahan, ada satu ide cemerlang untuk membawa tabut perjanjian ke medan perang. Mungkin mereka ingat, dulu dengan ada tabut perjanjian, tembok Yerikho runtuh. Sebelum itu, dengan ada tabut perjanjian, Sungai Yordan yang harus mereka lewati terbelah. Jadi mereka mengambil tabut (pasal 4) dan membawanya ke perkemahan tentara Israel. Ketika tabut itu masuk ke perkemahan, tentara Israel begitu sukacita, mereka bersorak begitu nyaring sampai tanah bergetar --dan orang Filistin pun merasakannya di perkemahan mereka. Orang Filistin menyadari apa artinya semua itu. Mereka orang kafir, tetapi mereka tahu sejarah Israel. Dapat dikatakan, mereka ada semacam kepercayaan bahwa Allah Yahweh ini riil, mereka tahu sepak terjang-Nya, mereka tahu rekam jejak-Nya, itu sebabnya mereka ketakutan ketika tahu tabut itu masuk ke kancah peperangan. Tetapi, toh keesokan harinya ketika tentara Israel maju berperang, mereka dibantai habis, Hofni dan Pinehas mati. Orang mengabarkan kabar kekalahan ini kepada Eli, dan Eli juga mati. Dan tabut perjanjian dirampas orang Filistin, dibawa ke Asdod, salah satu kota besar bangsa Filistin, lalu ditaruh di dalam Kuil Dagon, di sebelah patung Dagon.

Dagon adalah dewa kesuburan, yang kemungkinan besar diasosiasikan dengan jagung (dewa jagung) –seperti dalam kepercayaan animisme Jawa ada Dewi Sri yang diasosiasikan dengan padi. Dalam paradigma kepercayaan seperti ini, tentu dewanya bukan cuma satu, biasa kita sebut “politeisme”. Tapi di sini saya lebih ingin menyoroti kepercayaan ini dengan istilah yang lain, yaitu “paganisme”. Paganisme bukan cuma soal banyaknya dewa-dewi, Paganisme mengambil elemen-lemen dalam dunia ciptaan ini lalu menjadikannya dewa-dewi (disembah). Misalnya Dagon sebagai dewa jagung, matahari ada dewanya sendiri, demikian juga sungai, laut, dsb. Kalau di zaman modern hari ini, elemen-elemen yang disembah misalnya kenikmatan, makanan, seks, uang, game, atau yang paling populer belakangan ini yaitu jumlah views, likes, dan follower.

Di dalam paradigma Paganisme seperti ini, pertanyaan yang diajukan jarang sekali “dewa/ dewi mana yang benar” atau “dewa/ dewi mana yang sejati” –bukan itu pertanyaannya. Di kisah ini, orang Filistin bahkan meyakini Yahweh itu eksis, mereka tidak menyangkal keberadaan Yahweh. Waktu orang Israel berteriak-teriak di kemahnya, justru orang Filistin jadi cemas karena tahu Yahweh ini riil. Dan menariknya, mereka kemudian menyimpan tabut Allah di Kuil Dagon, di sebelah patung Dagon. Ini bukan menunjukkan bahwa bagi mereka Yahweh tidak ada kuasanya, atau Yahweh tidak riil, atau Yahweh bukan dewa sejati, tetapi mereka hanya menganggap Dewa Yahweh ini kalah terhadap Dewa Dagon, namun Dewa Yahweh ini tetap ada, dan kuasanya juga tetap ada --itu sebabnya dimasukkan ke dalam kuil. Seandainya mereka menganggap Yahweh ini tidak ada lagi kuasanya sama sekali, tidak riil, mereka akan membuang tabut itu, atau meleburnya, dsb., tidak perlu menaruhnya di Kuil Dagon. Bahwa tabut tersebut ditaruh bukan di hadapan patung Dagon atau di pojokan kuilnya melainkan di samping patung Dagon,  seorang komentator mengatakan ini sepertinya mau mengkomunikasikan satu ide, yaitu: mereka percaya Yahweh masih ada kuasanya, namun sekarang di bawah otoritas Dewa Dagon. Jadi mereka tidak mempersoalkan dewa mana yang paling benar, paling sejati; dalam paradigma paganisme, yang paling penting adalah dewa/ dewi mana yang lebih fungsional, lebih ngefek, lebih ampuh. Mereka tidak bertanya ‘mengapa yang ini benar, mengapa yang ini sejati’, melainkan tanya ‘apa yang bisa saya dapat dari dewa-dewi ini, apa yang dewa-dewi ini bisa bawa ke dalam kehidupan saya’. Mereka percaya Yahweh riil, tapi sekarang mereka mengatakan, “Saya sembah Dagon, karena Dagon lebih ngefek, lebih berkuasa, lebih fungsional, dibandingkan Yahweh”.

Setelah mereka menaruh tabut di Kuil Dagon, hari berikutnya mereka menjumpai Dagon jatuh dengan mukanya ke tanah di hadapan tabut Allah. Mereka menegakkan tabut kembali. Tapi hari berikutnya Dagon kembali jatuh, dan kali ini tangan dan kepalanya terputus. Bagi mereka yang hidup di zaman sarat simbolisme sebagaimana hari itu, hal ini bukan main-main, karena tangan melambangkan kuasa, dan kepala melambangkan bijaksana. Ini berarti, yang terjadi bukan hanya Dagon menyembah tabut perjanjian, tapi juga bahwa di hadapan Allah Yahweh, Dagon ini bodoh dan impoten.

Bukan cuma kejadian itu, singkat cerita berikutnya di kota Asdod tersebar wabah penyakit, tumor-tumor dan tikus-tikus, yang banyak memakan korban. Orang Filistin bingung, lalu akhirnya mencoba memindahkan tabut ke salah satu dari 5 kota yang besar lainnya, yaitu Gat. Tapi di Gat pun sama, wabah penyakit menyebar di kota tersebut. Selanjutnya mereka ingin memindahkan lagi ke kota Ekron. Tetapi begitu sampai kota Ekron, penduduk Ekron demo besar-besaran menolak. Akhirnya orang Filistin memutuskan untuk mengembalikan tabut itu ke Israel. Dan mereka tidak sembarangan mengembalikannya. Mereka tidak mengembalikan dengan tangan hampa, tapi menyertakan  persembahan-persembahan yang dikalkulasi, dengan tujuan meredakan amarah dewa Israel ini. Mereka membuat bongkahan-bongkahan emas yang diukir seperti tumor-tumor dan tikus-tikus, seakan mengatakan: “Kami mempersembahkan kembali apa yang Engkau timpakan kepada kami lewat emas ini.” Sekali lagi ini membuktikan mereka percaya bahwa Yahweh eksis, riil.
Hal yang menarik di sini, di satu sisi mereka menyerah terhadap Yahweh, mereka mengakui kuasa Yahweh, di sisi lain mereka bukanlah orang-orang bodoh. Banyak orang mengira cerita Alkitab berbicara mengenai orang-orang kuno yang terlalu mistis, takhyul, tidak berpikir kritis, tidak skeptis seperti orang-orang modern; tapi bagian ini membuktikan sebaliknya. Buktinya, meskipun orang-orang Filistin berencana untuk mengembalikan tabut tersebut, mereka juga menyusun suatu ujian untuk memastikan apakah benar semua yang terjadi tadi karya supranatural Yahweh, atau sebenarnya cuma kebetulan. Caranya dengan menaruh tabut beserta persembahan-persembahan tadi di atas kereta, yang ditarik oleh sepasang lembu, tanpa ada manusia yang memimpin. Jadi lembu-lembu ini harus menentukan sendiri jalannya dari kota Ekron sampai ke Israel; ini ujian yang pertama. Ujian yang kedua, dua ekor lembu tadi adalah lembu-lembu yang baru saja melahirkan dan masih menyusui anak-anaknya. Ini berarti, secara natural, bukan saja lembu-lembu itu tidak bisa menemukan arah ke Israel, tetapi juga mereka akan berbalik arah untuk mencari anak-anaknya. Dan yang terjadi berikutnya, lembu-lembu itu langsung bergerak ke Israel, tanpa menengok ke kiri atau ke kanan.

Itulah ceritanya, lalu apa yang bisa kita tarik sebagai konklusi? Kalau kita lihat lebih lanjut sedikit, setelah tabut sampai kota Bet-Semes (kota Israel pertama yang dijumpai kalau berjalan dari arah Filistin), orang-orang Israel di situ bersukaria luar biasa, tapi toh hari berikutnya sukacita mereka berubah jadi perkabungan karena ada 70 orang yang mati dipukul Tuhan, berhubung mereka iseng mengintip ke dalam tabut. Tabut tersebut kemudian ditaruh di sebuah rumah dan tidak dipedulikan, sampai 20 tahun kemudian Daud mengambilnya untuk dibawa ke Yerusalem. Dalam perjalanan ke Yerusalem pun, tabut itu kembali memakan korban; Uza melihat tabut itu oleng lalu dia berusaha menahan sehingga menyentuh tabut, maka dia pun dipukul Tuhan, mati dalam sekejap. Dengan demikian, konklusi logis apa yang dapat kita tarik dari cerita ini? Apakah kita musti tempel sticker di tabut tersebut “don’t try this at home”, “utamakanlah keselamatan”, “pakailah pelindung kepala”, dsb.? Tentu bukan itu.

Ada beberapa hal yang bisa kita tarik dari kisah ini. Pertama, kita tahu, konteks zaman kita hidup hari ini bukanlah modernisme melainkan yang disebut sebagai postmodernisme. Saya mau mengajak Saudara membandingkan antara modernisme dan postmodernisme. Kalau kembali ke zaman modern 30-40 tahun lalu, seorang pada zaman itu yang mempertimbangkan mau jadi Kristen atau tidak, biasanya cenderung memperdebatkan tentang Kekristenan itu benar atau tidak benar. Perdebatannya sering berkisar apakah kebangkitan benar-benar terjadi atau tidak, Alkitab reliable secara sejarah atau tidak, dan semacam itu. Di sini yang jadi pertanyaan adalah: apakah Alkitab itu benar, sejati, atau palsu. Beralih ke zaman postmodern, Saudara tidak menemukan orang bertanya semacam itu lagi –setidaknya bukan hal-hal tersebut yang terutama. Ketika orang postmodern menjumpai Kekristenan, mereka tidak lagi bertanya ‘apakah ini Allah yang sejati’, tetapi mereka akan tanya: Kekristenan itu ngefek atau tidak, Kekristenan berasa atau tidak, Kekristenan ampuh atau tidak –Kekristenan nendang ‘gak? Saya ada problem ini itu, apa yang Kekristenan bisa bawa bagi saya? Zaman kita hari ini –tidak peduli Timur atau Barat—sedang kembali ke paradigma Paganisme tadi. Bukan lagi masalah apa yang benar dan sejati, melainkan apa yang berfungsi dan apa yang tidak; apa yang fungsional, yang ngefek, yang berguna, yang bikin afdol, yang bikin mudeng.

Harap kita sadar, jangan datang kepada Tuhan karena Tuhan berkuasa –meskipun tentu saja Dia berkuasa. Jangan datang kepada Tuhan karena Dia relevan –meskipun saya percaya Dia relevan. Jangan datang kepada Tuhan karena Tuhan bikin jadi afdol –meskipun saya percaya kalau Saudara ikut Tuhan, Saudara akan mendapatkan afdol yang sejati. Saudara jangan datang kepada Tuhan karena Dia memberikan Saudara  ‘rhema’ –dalam hal ini saya tidak terlalu setuju dengan penggunaan istilah itu. Saudara harus datang kepada Tuhan karena Tuhan itu benar, sejati. Dan hal inilah yang zaman kita sekarang tidak suka, karena yang namanya menentukan, menjelajahi, menyelidiki, mengeksplorasi apakah Allah Alkitab benar dan sejati, itu perlu waktu yang lama, perlu usaha yang tidak sedikit, menuntut kita berpikir keras dan bukan cuma merasa-rasa.

Kita bisa saja mengatakan jangan seperti orang Paganisme, yang bilang ‘soal benar itu ‘gak ngaruh, ada banyak jenis kepercayaan keyakinan, pilih saja yang paling cocok, yang paling afdol, yang paling mudeng, yang paling nendang’, tapi mungkin kita juga termasuk orang-orang yang terjangkit masalah ini. Coba Saudara tanya diri sendiri secara jujur, di sini ada sekian banyak acara GRII, Saudara tentu tidak bisa datang semuanya, lalu bagaimana caranya Saudara menentukan acara apa yang Saudara akan datang? Apa yang jadi kriteria? Saudara mungkin pernah ajak orang datang ke acara-acara GRII, atau acara-acara kerohanian gereja (tidak harus GRII); di situ kira-kira kalimat apa yang Saudara pakai untuk mengajak? Kalau mau jujur, ujungnya kita akan mengatakan “datanglah ke dalam acara ini karena kamu bisa dapat sesuatu” –karena acara ini akan berfungsi dalam hidupmu, karena acara ini akan ngefek bagi hidupmu, karena pengkotbah yang ini bikin mudeng, karena bagian yang ini bikin afdol, dst. Waktu kita sendiri datang ke Gereja, kita datang karena apa? Jangan-jangan, kalimat yang kita katakan kepada orang lain tadi, adalah juga kalimat yang sebenarnya kita percaya, kalimat yang mendasari motivasi kita untuk datang. Contoh yang lebih jelas lagi, ada SPIK Keluarga “Pacaran dan Pernikahan Kristen”. Dalam hal ini, banyak orang mengatakan, “Kalau yang seperti ini, tidak humas pun tidak masalah, orang pasti bakal datang; tapi yang susah humas-nya adalah SPIK Kristologi 1, 2, 3, sampai 7, ya, ampun. SPIK Kristologi sampai 7, tapi SPIK Pernikahan edisi ke-2 saja tidak ada, padahal ini yang relevan, kita perlunya yang ini, apalagi hari ini”.

Lewat hal ini kita dibongkar, bahwa kita inginnya datang kepada Kekristenan kalau Kekristenan itu fungsional, ngaruh, ampuh, relevan. Ini bahaya. Bahayanya, karena dalam Kekristenan pasti ada waktu-waktu ketika Kekristenan seakan-akan tidak berfungsi, seperti tidak relevan, seperti tidak menyembuhkan bahkan melukai, tidak seru bahkan membosankan. Masa-masa seperti itu sudah pernah datang, dan pasti akan datang lagi. Jadi, apa yang menjaga kita untuk tetap Kristen ketika masa-masa tersebut datang dalam hidup kita? Sudah pasti bukan karena Kekristenan itu fungsional, atau ampuh, atau relevan, melainkan kalau kita percaya Kekristenan itu benar dan sejati. Ini yang paling penting. Benar dan sejati, tidak tentu kita bisa lihat sejatinya di mana, benarnya di mana, tapi kita percaya itu, karena kalau sesuatu tidak benar dan tidak sejati maka ujungnya juga tidak akan relevan, tidak akan ampuh, tidak akan ngefek. Sedangkan kalau sesuatu benar dan sejati, maka kalaupun hari ini hal itu tidak terasa fungsional dan relevan, Saudara tahu ujungnya pasti inilah yang benar-benar relevan, benar-benar fungsional. Inilah hal pertama yang bisa kita lihat dari cerita Alkitab ini.

Yang kedua, dan masih ada hubungannya dengan yang pertama, alasannya kita jangan datang kepada Tuhan karena Dia relevan, Dia ampuh, Dia ngaruh, Dia menyenangkan, Dia berasa, Dia nendang --Dia fungsional—karena lewat cerita ini kita melihat bahwa Allah ini adalah Allah yang tidak akan membiarkan diri-Nya dipermainkan. Allah ini adalah Allah yang akan sengaja membuat Saudara menyadari, bahwa yang Dia kerjakan itu tidak datang secara otomatis. Tabut perjanjian bukanlah semak berduri menyala yang cuma sesekali dan besoknya tidak ada lagi. Tabut perjanjian adalah barang yang melaluinya, Tuhan secara terus-menerus dan berulang kali Tuhan menyatakan kehadiran-Nya; Tuhan seakan menempelkan kehadiran-Nya dalam tabut tersebut. Tapi, ternyata dalam tabut perjanjian pun Allah tidak mau menempelkan diri-Nya secara permanen.

Dengan kata lain, Allah Alkitab  itu tidak otomatis, tidak predictable; Allah Alkitab bukan Allah yang selalu akan mendidih pada suhu 100º C di permukaan laut. Meskipun Dia sekali-sekali menghubungkan diri-Nya dengan suatu penampakan, atau dengan seseorang, atau dengan sebuah metode, atau dengan waktu tertentu, atau dengan tempat tertentu, atau dengan objek tertentu, hal itu tidak pernah secara permanen. Di dalam kisah ini, kejadian pertamanya tabut hadir, lalu entah berapa puluh ribu tentara Israel mengelilingi tabut tersebut dengan berteriak penuh semangat –dan tabutnya impoten. Tapi beberapa hari kemudian malah suatu bangsa –yaitu Filistin—diporakporandakan melalui kehadiran tabut tersebut, tanpa ada satu pun tentara Israel menemaninya.

Allah Israel bukanlah Allah yang merefleksikan umat-Nya. Dalam hal ini, mungkin yang paling menusuk bagi orang Israel bukanlah ketika mereka kalah sambil membawa tabut, melainkan bahwa Allah ternyata beraksi tanpa mereka. Itu berarti, Allah yang kalah ini, bukan kalah karena Dia kalah, bukan kalah karena Dia tidak sanggup; Dia kalah karena Dia sengaja kalah, dan itu berarti ‘Dia membuang kami’. Ini sebabnya orang yang bernubuat ketika Israel kalah, mengatakan “kemuliaan-Nya telah meninggalkan kami”. Itulah yang menusuk sekali bagi orang Israel di bagian ini; bahwa Allah ini adalah Allah yang bekerja menurut maunya Dia sendiri, Allah ini bukan Allah yang dikontrol kami kapan Dia mau bertindak dan kapan tidak.

Kalau kita tarik aplikasinya, hal ini harusnya membuat kita rendah hati. Memang hari ini kita tidak menempelkan kuasa Tuhan pada objek tertentu, kita tidak mengunci kuasa Tuhan pada objek tertentu, tapi banyak dari kita mungkin sangat mudah untuk mengunci kuasa Tuhan pada metode tertentu, musik-musik tertentu, gaya kotbah tertentu. Ini sangat jelas terlihat ketika seorang Kristen yang sudah lama  beribadah di satu gereja kemudian pindah ke gereja baru. Di situ biasanya kalimat yang muncul darinya: “Gereja koq kayak gini, gereja harusnya gitu, pengurus harusnya gitu,  hamba Tuhan harusnya gitu”, dsb. Kalau Saudara mempelajari sejarah Gereja turun-temurun, ratusan tahun, berabad-abad, biasanya gereja lokal/ sinode tertentu yang pernah mengalami zaman keemasan, setelah zaman tersebut lewat, akan sangat sulit untuk move on, selalu stuck dengan nostalgia ketika pendeta yang itu masih melayani, ketika mereka mengerjakan dengan cara yang itu dan menghasilkan banyak berkat yang itu. Hampir tidak ada di dalam sejarah, gereja yang tidak stuck, tidak berkutat dengan mode yang sama, yang itu-itu lagi; gampang sekali kita jatuh ke dalam hal seperti itu. Ini ibaratnya Musa bertemu Tuhan di semak belukar yang menyala-nyala, lalu menginstruksikan kepada bangsa Israel: “Mulai hari ini menyembah Allah Yahweh hanya dengan semak”; jadi konyol. Tapi itulah yang bangsa Israel lakukan dalam kisah tadi, ketika mereka mengatakan: “Beginilah caranya untuk menang secara militer, yaitu dengan membawa tabut perjanjian”.

Di mana problemnya? Problemnya adalah kecenderungan manusia --Saudara dan saya --untuk blur, bingung, tidak bisa membedakan, antara lambang kehadiran Allah dengan kehadiran Allah itu sendiri. Gereja ada bahaya besar sekali menaruh kepercayaannya bukan kepada kehadiran Allah, melainkan kepada tanda-tanda kehadiran Allah. Sejarah Gereja penuh sekali dengan catatan seperti ini.

Ada satu hal menarik dari seri buku Narnia karya C. S. Lewis. Buku tersebut premis dasar kisahnya adalah 4 anak yang tinggal di dunia nyata seperti kita, yang kemudian --di setiap seri bukunya-- menemukan cara untuk masuk ke dunia Narnia, dunia yang penuh dengan petualangan, dunia yang ada figur Kristus dalam seekor singa bernama Aslan, dst. Yang menarik, di setiap akhir serialnya, C. S. Lewis sengaja menuliskan mereka ini keluar dari dunia Narnia, kembali ke dunia nyata; dan ketika mereka keluar, mereka tidak pernah lagi bisa masuk ke Narnia lewat cara yang sama. Buku pertama diceritakan lewat lemari baju; begitu mereka keluar dari situ, mereka berusaha masuk lagi dan kejedot. Di buku kedua, cara masuknya lain lagi. Demikian seterusnya. Setiap cara yang pernah terjadi, tidak berulang. Aslan-nya tetap sama, Narnia tetap sama, tetapi cara masuknya selalu berbeda, tidak terulang.

Saya tidak tahu bagaimana pengalaman rohani Saudara dengan Tuhan. Tapi pernahkah Saudara merasakan satu pengalaman rohani yang sepertinya begitu nendang lewat satu cara tertentu, dan belakangan Saudara merasa kering dan kepingin merasakan kehangatan itu sekali lagi, lalu Saudara kembali ke cara yang sama. Dan, kehangatan itu tidak muncul. Saya ini suka musik. Ada bagian yang luar biasa indah dalam St. Matthew Passion, dan saya pernah satu kali mendengarkan lagu tersebut di mobil, tiba-tiba lagu itu menghantam hati saya. Saya menangis, merasakan kehadiran Tuhan, cinta Tuhan, kekudusan Tuhan yang begitu luar biasa bagi diri saya. Berikutnya ketika suatu hari saya merasakan kekeringan dan saya kepingin merasakan hal itu lagi, saya mengulangi lagu yang sama, tapi perasaan itu tidak muncul.

Mungkin lewat membaca buku, atau membaca Alkitab, atau mendengar kotbah tertentu, dsb., Saudara pernah mengalami seperti itu. Mungkin kita pernah mendengarkan pengkotbah tertentu dan merasa hati berkobar-kobar oleh Firman Tuhan ketika mendengarkan dia. Tetapi cepat atau lambat, Tuhan membuat pengkotbah tersebut tidak sebegitu hot-nya lagi bagi kita, lalu dengan keberdosaan kita berpikir bahwa ini masalah pengkotbahnya, ‘pengkotbah ini sudah tidak dipakai Tuhan lagi’. Atau ini masalah bukunya, masalah Alkitabnya, masalah musiknya, dsb., dsb. Kita tidak pernah melihat masalahnya ada pada kita. Saudara, ketika kita mencoba balik lagi dengan cara yang sama, dan mengharapkan hasil yang sama, dan ternyata tidak keluar, kita perlu menyadari, bahwa itulah momen untuk bersyukur. Itu adalah momen Allah sedang mendidik kita, untuk jangan sampai menaruh iman kepada metode tertentu, cara tertentu, barang tertentu, gaya tertentu, dan akhirnya melupakan kehadiran Allah yang sungguhan yang ada di balik itu semua.

Banyak orang Kristen, sadar atau tidak sadar, seringkali mengutuk-ngutuk ‘mengapa sih susah banget cari gereja yang sempurna, yang segala sesuatunya sempurna, dan bukan cuma sempurna tapi kesempurnaan itu bertahan kekal??’ Kita juga mungkin pernah masuk satu gereja dan merasa gereja itu begitu luar biasa, tapi setelah 5-6 tahun ‘koq, tidak seperti dulu ya??’ Sebenarnya itu bukan kutukan, tapi justru berkat, karena justru Tuhan sedang mengajak Saudara untuk mengenal Dia secara pribadi, bukan cuma stuck dalam tanda kehadiran-Nya.

Pengenalan dengan seorang pribadi selalu tidak bisa diprediksi; dan itu justru meyakinkan diri kita bahwa kita sedang mengenal manusia. Satu contoh, seorang wanita yang pacaran dengan seseorang mengatakan, “Cowok ini luar biasa, benar-benar sesuai dengan hati gua. Kalau gua mau dia melakukan B, gua tinggal lakukan A lalu pasti dia lalu lakukan B.” Beberapa bulan kemudian, ternyata wanita ini putus, bukan karena si cowok sudah berubah. Cowok itu tidak berubah, tapi justru di situlah masalahnya; “Kalau saya mau dia ngapain, saya tinggal ngapain. Saya tahu semuanya. Dia berespons 100 % sesuai keinginan saya. Tapi ini bukan relasi namanya, ini main play station; dia nyala kapan saya mau nyalain, dia mati kapan saya mau matiin. Ini mesin, bukan orang.”

Kita ini baru mengenal orang, justru ketika kita mendapati dia koq hari ini begini, biasanya begitu. Ketika berhadapan dengan suami, istri, atau anak-anak, kita seringkali punya ekspektasi yang ngawur, karena kita mengharapkan orang seperti mesin, hari ini begini, ya, besok begini juga, jangan berubah. Tetapi pengenalan itu sesuatu yang tidak bisa diprediksi, karena kita berhadapan dengan orang yang punya kehendak, yang dalam situasi lain reaksinya juga lain, bahkan dalam situasi sama pun reaksinya bisa berbeda. Yang salah justru ekspektasi kita, kalau kita mengharapkan dalam situasi yang berbeda, orang tersebut reaksinya sama.

Terhadap manusia yang terbatas saja --manusia yang bisa kita lihat, bisa kita sentuh, bisa kita pegang-- kita ada ekspektasi yang salah seperti itu, apalagi terhadap Tuhan. Kita harus mengakui, terhadap Tuhan pun seringkali kita begitu. Itu sebabnya waktu kita dikecewakan oleh Tuhan, sebenarnya itu suatu berkat, satu cara Tuhan mendidik kita untuk mengenal Dia yang tidak predictable, suatu pengenalan yang sejati. Bukan berarti kita lalu serampangan di gereja –hari ini main piano bagus, besok main jelek-- karena kita tidak tahu Tuhan mau pakai cara apa. Problemnya bukan di situ. Tentu saja kita harus memberikan musik yang bisa dipertanggungjawabkan, memberikan kotbah yang bisa dipertanggungjawabkan, memikirkan administrasi yang bisa dipertanggungjawabkan, tetapi pada saat yang sama kita harus ingat bahwa Allah kita bebas, supaya kita tidak take it for granted atas hal-hal yang Tuhan berikan lewat cara-cara tertentu, atau waktu-waktu tertentu, atau tempat-tempat tertentu. Ada bedanya antara cara Tuhan bekerja, dengan Tuhan itu sendiri. Umat Tuhan yang sejati akan jadi umat yang bekerja keras untuk memberikan yang terbaik. Tapi di sisi lain, juga jadi umat yang sangat bebas untuk mengharapkan Tuhan bekerja dengan cara yang baru, mengingat Tuhan tidak pernah dikunci pada satu manifestasi fisik tertentu, metode tertentu, objek tertentu. Dia bisa pakai tabut perjanjian pada satu hari, lalu esoknya tidak, dan hari berikutnya pakai lagi seperti dalam kisah Alkitab hari ini.
Jadi, pelajarannya adalah bahwa Tuhan tidak bisa diprediksi, bahwa kita perlu datang kepada Tuhan bukan karena Dia relevan. Lalu bagaimana cara menyembah Tuhan yang seperti ini? Tadi kita mengatakan, bahwa Tuhan memang tidak pernah mengunci kehadiran-Nya dalam objek tertentu, metode tertentu, waktu tertentu, orang tertentu, tetapi itu bukan berarti dalam setiap kehadiran-Nya tidak ada sifat pengulangan sama sekali. Jadi maksudnya bagaimana, bukankah kalau tidak terkunci berarti tidak mengulang; kalau mengulang, bagaimana bisa tidak terkunci?? Jawabannya: bisa, tergantung hal apa yang diulang. Tadi kita membicarakan bahwa kehadiran-Nya selalu berbeda, ada yang baru, yang kita tidak bisa prediksi; sekarang kita membicarakan sifat paradoksnya, yaitu ada kesamaan, ada hal yang konsisten -- kehadiran Tuhan selalu menuntut komitmen yang total.

Orang Israel mengira mereka bisa hidup seenak jidat, lalu ketika perlu Tuhan, mereka akan bisa mengakses Tuhan lewat tabut perjanjian. Sebenarnya apa itu tabut perjanjian? Tabut perjanjian pastinya melambangkan perjanjian (ark of the covenant). Perjanjian kontrak bisnis (kovenan bisnis) saja, selalu merupakan perjanjian yang melambangkan komitmen dari paling sedikit 2 pihak. Tidak ada perjanjian sepihak –itu bukan perjanjian.  Oleh sebab itu kita melihat di kisah ini, Hofni dan Pinehas beserta orang-orang Israel salah karena mereka pikir tabut itu cuma melambangkan kehadiran Allah, penyertaan Allah, yang sepihak kepada umat-Nya, tetapi mereka tidak sadar bahwa tabut juga melambangkan penyertaan umat Tuhan bagi Tuhan. Di dalam tabut perjanjian ada  2 loh batu, yang adalah stipulasi/ persyaratan kontraknya, bahwa kalau kamu mau kontrak ini berjalan terus, maka tidak boleh ini, dan ini, dan itu. Dengan demikian, tabut perjanjian bukan secara sepihak menjadi lambang akan kehadiran Tuhan di tengah umat-Nya, melainkan bahwa ketika Saudara mau mengakses tabut perjanjian Tuhan, berarti juga melambangkan kehadiran Saudara bagi Tuhan, penyertaan Saudara bagi Tuhan. Ini satu pola yang berulangkali datang dan datang lagi.

Kesalahan orang Israel adalah tidak mau berkomitmen total kepada Tuhan tapi mau Tuhan berkomitmen total kepada mereka. Saya tidak mau berdoa setiap kali, tapi saya mau Tuhan menjawab doa saya ketika saya berdoa. Saya mau saja memberikan perpuluhan, tapi menurut cara saya, dengan jumlah yang saya tentukan, dalam waktunya saya, dan mengikuti perasaannya saya. Saya mau datang kepada Tuhan ketika saya perlu, tapi saya tidak mau hidup dalam hadirat-Nya terus menerus. Allah tidak mau diperalat seperti itu, baik oleh mereka ataupun oleh kita. Dia sama sekali tidak akan membiarkanya. Hari ini kita menganggap tekonologi dan sihir adalah 2 kutub yang berbeda, tetapi C. S. Lewis meletakkannya dalam satu kutub yang sama, karena dua-duanya bertujuan memanipulasi alam semesta untuk mengikuti kehendak saya (dalam hal ini kita menggunakan kata ‘teknologi’ dengan pengertian agak negatif). Dengan demikian, jangan-jangan kepada Tuhan pun, kita selama ini sedang mencari satu teknologi rohani; kita mungkin menganggap Alkitab itu teknologi rohani, dan demikian juga doa-doa, ibadah, dsb.

Jadi, yang bisa kita pelajari dari bagian ini adalah: Pertama, kehadiran Allah menuntut komitmen total. Kedua, kehadiran Allah selalu terhubung dengan kehancuran berhala-berhala palsu.
Ketika Tuhan mendekat, ilah palsu runtuh, berhala-berhala jatuh dengan tangan dan kepalanya terputus. Ini bukan cuma terjadi pada berhalanya Filistin, tapi juga berhalanya Israel. Saudara mungkin bingung mengapa Allah kalah terhadap Israel lalu menang terhadap orang Filistin; tapi sebenarnya ini bukan kejadian yang bertabrakan. Yang terjadi adalah: Allah menghancurkan berhalanya orang Israel, yaitu tabut perjanjian dirampas; Allah menghancurkan berhalanya orang Filistin, yaitu Dagon dan kawan-kawannya. Dengan kata lain, ketika Allah mendekat, ketika kita mendekati Dia, di situ tidak pernah tanpa kehancuran berhala-berhala kita.

Mendekat dengan Allah, tidak pernah tanpa pembongkaran, yaitu pembongkaran tentang apa yang sesungguhnya selama ini kita cari dan kita sembah, apa yang sesungguhnya mengatur hidup kita.  Banyak orang yang datang konseling dengan hamba Tuhan akhirnya kecewa, karena mereka tidak menyangka dirinya akan dibongkar. Mereka inginnya dapat alat untuk membongkar pihak sebelah sana, tapi setelah datang ke hamba Tuhan –termasuk ke Firman Tuhan-- yang terjadi justru dirinya yang dibongkar. Kehadiran Tuhan itu tidak memberikan solusi yang fungsional –itu jarang sekali. Yang selalu terjadi, ketika Saudara benar-benar bertemu Tuhan adalah: berhala Saudara dihancurkan. Tapi puji Tuhan, berhala tersebut sebenarnya bukan dihancurkan melainkan dilucuti. Di kisah Alkitab tadi, waktu Dagon jatuh, harusnya Tuhan bisa saja membuat patung Dagon itu hancur jadi debu, tapi mengapa cuma tangan dan kepalanya yang dipotong? Karena problem berhala bukan pada dirinya sendiri; berhala sebenarnya adalah ciptaan, yang baik. Paganisme mengambil elemen-elemen dalam ciptaan, yang baik, dan menjadikannya sebagai yang terbaik; itulah masalahnya.

Ketika Allah membongkar berhala kita, Dia melakukannya bukan karena Dia ngamuk lalu menghajar habis semuanya, tapi yang Dia lakukan adalah melucuti berhala kita. Ketika Allah membongkar berhala kita, Dia melakukannya dengan tangan kasih. Dia tidak pernah mengambil semua yang baik itu, Dia cuma suruh kita menurunkan pangkat berhalanya –hal yang baik itu jangan jadi yang terbaik. Ketika Allah hadir, Dia selalu menuntut komitmen total, dan Dia melucuti berhala-berhala kita.

Yang ketiga, Allah selalu hadir di dalam kelemahan. Di dalam kisah tadi ada pola turun dan pola naik. Ada fase ketika Yahweh dihina, dikalahkan; yang kalah bukan cuma orang Israel, tabut perjanjian Allah juga kalah bersama dengan orang-orang Israel itu. Dia dihina, mungkin diarak oleh orang-orang filistin, dan ditaruh di kuil Dagon. Tetapi berikutnya ada fase kemuliaan, Allah kembali menang, Allah kembali dimuliakan. Allah kembali ke daerah orang Israel tanpa bantuan manusia, tanpa bantuan apapun. Dagon musti ditegakkan waktu jatuh, tapi Yahweh bisa kembali ke Israel dengan tenaga-Nya sendiri. Mulia sekali.

Jadi dalam cerita ini ada 2 aspek yang seperti bertabrakan. Allah ini, kalau dibandingkan dengan Baal, Dagon, dan dewa-dewi yang lain, tidak ada bandingannya, Dia jauh mengatasi, dewa-dewi itu semuanya palsu. Tapi mengapa di episode awal Dia memberikan diri-Nya turun dihina? Saudara perhatikan, ketika orang Filistin hari berikutnya memeriksa ke kuil Dagon, dikatakan “pagi-pagi benar mereka masuk ke kuil Dagon”, mereka mengharapkan Dagon berkuasa tapi ternyata Dagon jatuh, mereka kaget. Ini mengingatkan setelah Tuhan Yesus disalib, murid-murid-Nya pagi-pagi benar datang ke kuburan-Nya, ‘mengharapkan’ Kristus masih dicengkeram oleh kuasa maut, lalu mereka kaget luar biasa karena batu penutup kuburan-Nya sudah terguling. Mereka bingung karena jika Tuhan Yesus bangkit, mengapa Dia harus mati? Kalau Dia memegang kunci kuasa maut, mengapa Dia harus mati?

Orang Israel tertusuk bukan karena Allah Yahweh kalah --Allah Yahweh toh terbukti bisa menghancurkan bangsa Filistin—yang membuat Israel tertusuk adalah karena Allah Yahweh sengaja kalah, berarti Allah Yahweh membuang mereka. Sekarang, mengapa Allah kita yang memegang kunci kerajaan maut itu, yang bisa bangkit itu, rela menjalani fase turun itu? Bukan karena Dia kalah. Bukan karena Dia tidak sanggup. Tapi karena Dia mau; karena Dia mau Saudara dan saya. Allah yang menuntut komitmen total ini, adalah Allah yang sudah terlebih dahulu berkomitmen bagi Saudara dan saya.

Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah (MS)

Gereja Reformed Injili Indonesia Kelapa Gading

Download Ringkasan