Kamu adalah allah

Ayat 30, Yesus mengatakan “Aku dan Bapa adalah satu”, dan setelah kalimat tersebut orang-orang Yahudi mengambil batu untuk melempari Yesus. Ini aneh, karena kalau kita baca konteksnya, kalimat “Aku dan Bapa adalah satu” itu maksudnya Yesus, Sang Anak, dan Bapa, adalah satu di dalam karya keselamatan. Baik Bapa maupun Anak memiliki kuasa, sehingga mereka yang berada di dalam tangan Bapa dan Anak, tidak akan direbut oleh siapapun. Jadi kalimat ini bicara tentang jaminan keselamatan, tetapi yang ada dalam pikiran mereka ‘Orang ini menghujat Allah’. Mereka tidak berpikir tentang karya keselamatan, tentang jaminan keselamatan, tentang pemeliharaan Ilahi yang begitu pasti dan dipastikan oleh Yesus; yang mereka pikir adalah Orang ini kurang ajar, menyebut diri-Nya satu dengan Bapa, dan karena itu Dia menghujat Allah.

Waktu Yesus mengatakan “Aku dan Bapa adalah satu”, secara biblikal tafsirannya bukan seperti yang dimengerti Bapa-bapa Gereja –atau setidaknya beberapa dari mereka. Mereka menggunakan ayat ini untuk menyatakan konsubstansialitas antara Bapa dan Anak –meskipun kalimat itu betul. Bahwa Bapa dan Anak ada pada substansi yang sama, memang betul, dan itu ortodoks, tetapi kalau diambil dari ayat ini, sebetulnya secara konteks agak salah. Dan secara tepat sekali, konteks itulah yang diambil oleh orang-orang Yahudi di sini.

Yesus sendiri di sini bukan berusaha memaparkan hal tersebut. Ini jelas sekali dalam penjelasan-Nya yang mengutip kitab Mazmur. Ada istilah “allah” di situ, yang jelas bukan dalam pengertian konsubstansialitas, meskipun argumentasi yang dipakai adalah argumentasi ‘dari yang kecil menuju yang besar’. Memang betul Yesus bukan “allah” dalam pengertian seperti di kitab Mazmur yang dikutip ini saja, Dia lebih daripada itu. Tetapi, bahwa orang-orang Yahudi di sini mau melempari Yesus, lalu Yesus mengatakan "Banyak pekerjaan baik yang berasal dari Bapa-Ku yang Kuperlihatkan kepadamu; pekerjaan manakah di antaranya yang menyebabkan kamu mau melempari Aku?", menunjukkan bahwa Yesus mau mengarahkan orang untuk melihat pekerjaan baik yang Dia lakukan, lalu dari situ menilai siapa Yesus itu. Namun mereka tidak mau tahu dengan pekerjaan-Nya, mereka langsung sensitif terhadap kalimat “Aku dan Bapa adalah satu”, mereka menganggap Yesus menyetarakan diri-Nya dengan Allah. Memang Dia setara dengan Allah, Dia adalah Allah sendiri, tetapi dalam kalimat “Aku dan Bapa adalah satu” ini, bukan hal itu yang mau dinyatakan oleh Yesus. Di sini mereka salah mengerti; bukannya memikirkan pekerjaan, mereka malah langsung mencurigai identitas Yesus yang mereka anggap dipalsukan itu.

Jadi di sini ada kategori ‘pekerjaan’, dan ada kategori ‘identitas’. Yesus mau mengarahkan untuk mengenal Dia, dan akhirnya mengenal Bapa, melalui mengenal karya. Ini konsisten dengan yang dikatakan di ayat sebelumnya: "Aku telah mengatakannya kepada kamu, tetapi kamu tidak percaya; pekerjaan-pekerjaan yang Kulakukan dalam nama Bapa-Ku, itulah yang memberikan kesaksian tentang Aku” (ayat 25). Dalam hal ini, Gereja musti hidup seperti Kristus. Ini satu pandangan yang luar biasa aktif, dinamis, dan sudah pasti tidak cocok dengan pengertian Gerika yang cuma merenungkan secara substansial, secara statis, secara ontologis, dsb. Yohanes tidak terlalu tertarik membahas dalam pengertian seperti itu. Mungkin juga Bapa-bapa Gereja dalam bergumul dengan filsafat Gerika, perlu menjelaskan dengan bahasa seperti itu, tetapi waktu Yohanes membicarakan kesatuan Bapa dan Anak, pengertiannya sangat dinamis dan aktif, dalam pengertian: dari mana kita tahu, yaitu dari pekerjaan-pekerjaannya. Gereja yang tidak bergerak, Gereja yang tidak ada karya, Gereja yang tidak ada pekerjaan, Gereja itu sebetulnya tidak bisa mempersaksikan apa-apa, tidak seperti Kristus. Kristus menyatakan kesatuan dengan Bapa melalui pekerjaan-Nya. Ini sesuatu yang sangat aktif dan dinamis, Kristus bukan mengatakan seperti misalnya: ‘Kamu mau tahu Saya satu dengan Bapa? Cobalah merenung, pergi ke perpustakaan, pikirkan, lakukan deduksi transendental’, dsb. Yesus tidak tertarik mengajar seperti itu.

Yang dikatakan Yesus adalah dengan melihat karya/ pekerjaan, lalu mengetahui siapa Kristus itu, dan akhirnya mengenal Bapa, sebagaimana dikatakan di ayat 38: “... tetapi jikalau Aku melakukannya [melakukan pekerjaan Bapa] dan kamu tidak mau percaya kepada-Ku, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti, bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa.” Yesus tidak menjelaskan berusaha secara filosofis soal Dia Anak Allah, legitimasinya apa lalu sibuk menjelaskan diri-Nya, dsb., Dia cuma mengarahkan kepada pekerjaan.

Di dalam dunia ini, tidak bisa tidak kita mengalami diprofil oleh orang lain, baik secara pribadi, maupun Gereja. Kita tidak bisa menghindari itu. Tetapi waktu diprofil oleh orang lain, profil tersebut bisa salah, bisa keliru, mungkin juga itu hoax, fitnah, atau salah mengerti, dsb., lalu apa yang akan Saudara dan saya lakukan, baik secara pribadi maupun secara komunitas/ Gereja? Kalau mengikuti Kristus, kita mengarahkan kepada karya. Kalau kita betul-betul bersatu dengan Allah --kita di dalam Kristus dan Kristus di dalam kita-- maka hal itu akan nyata melalui pekerjaan yang kita lakukan. Tanpa karya, tanpa pekerjaan, sulit untuk mempersaksikan bahwa kita hidup bersama dengan Kristus. Kalau kita tidak tertarik melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapa seperti Kristus melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapa, maka kita tidak bisa bersaksi apa-apa tentang identitas kita, apalagi tentang Kristus. Kita kemudian sibuk membenarkan diri sendiri, sibuk membenarkan gereja kita sendiri.

Kristus menantang mereka, Dia mengatakan: "Banyak pekerjaan baik yang berasal dari Bapa-Ku yang Kuperlihatkan kepadamu” (ayat 32a). Waktu Yohanes mencatat ini, dia berharap kehidupan Kritus menjadi kehidupan yang dijalani juga di dalam komunitas/ Gereja/ jemaat yang dituju waktu dia menulis Injil ini, termasuk  untuk kita, Saudara dan saya. Kita berharap, kalimat ini juga bisa dikatakan oleh Gereja/ jemaat kita; “Banyak pekerjaan baik yang berasal dari Bapa-Ku yang Kuperlihatkan kepadamu” –“Banyak pekerjaan baik yang berasal pada-Ku, yang kami perlihatkan kepada kalian”. Bisakah kita mengatakan kalimat ini? Adakah pekerjaan baik itu? Kalau tidak ada, sulit mengatakan kalimat ini. Yesus bukan Anak Allah yang diam-diam saja, tidak jelas melakukan apa, seperti kaum tertentu di zaman Yesus yang hidup di gua-gua, dsb. Yesus bukan itu. Dia berkeliling. Dia memberitakan Injil. Dia menyembuhkan orang-orang yang sakit, menolong orang-orang yang dalam kelemahan, memulihkan mereka, dst. Itulah yang dikerjakan Yesus; maka di sini Dia bisa menantang: "Banyak pekerjaan baik yang berasal dari Bapa-Ku yang Kuperlihatkan kepadamu; pekerjaan manakah di antaranya yang menyebabkan kamu mau melempari Aku?" Yesus seakan mengatakan: ‘Saya sudah melakukan ini, sekarang kamu mau menghakimi? Boleh saja, silakan nilai, pekerjaan yang mana yang kamu anggap layak untuk dilempari dengan batu??’
Tetapi jawaban orang-orang Yahudi:  "Bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari Engkau, melainkan karena Engkau menghujat Allah dan karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diri-Mu dengan Allah" (ayat 33). Jadi seolah-olah pekerjaan/ karya Kristus itu tidak ada artinya bagi mereka. Namun sebelum dianggap tidak ada artinya, pekerjaan-pekerjaan tersebut harus ada terlebih dahulu –saya berbicara dalam perspektif Gereja. Gereja musti ada pekerjaan-pekerjaan baik yang dilakukan dalam nama Bapa, lalu kalau kemudian dianggap sepi, dianggap tidak ada, ya, itu urusan lain.

Tetapi orang-orang Yahudi di sini tidak tertarik soal itu, mereka lebih tertarik soal Yesus menyamakan diri-Nya dengan Allah. Sebetulnya Yesus bukan mau klaim hal itu, meskipun itu benar --ini konsisten dengan teologi Inkarnasi. Yesus memang menyebut diri-Nya Anak Allah; tapi kalau Saudara lihat keseluruhan Firman Tuhan, jauh lebih banyak Yesus menyebut diri-Nya “Anak Manusia” –konsisten dengan teologi Inkarnasi. Yesus bukan setiap menit kasih pengumuman bahwa Dia adalah Anak Allah; tidak selalu Yesus mengatakan itu. Jadi kalimat yang mereka katakan “sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diri-Mu dengan Allah", memang tidak keliru, kalimat ini bukan profil yang salah. Namun sekali lagi, yang mau dikatakan oleh Yesus bukan itu; yang Dia mau katakan adalah: ‘coba kamu lihat pekerjaan-pekerjaan itu, dari situ kamu bisa menilai yang Aku kerjakan benar-benar pekerjaan Bapa dan Aku diutus oleh Bapa, atau Aku nabi palsu yang berkata-kata dari dirinya sendiri, atau orang yang menyesatkan, dsb.’

Orang-orang Yahudi ini tidak mau menilai dari pekerjaan-pekerjaan itu. Mereka tidak mau tahu, mereka menyerang bahwa identitas Yesus sepertinya dipalsukan, Dia bukan Anak Allah, Dia bukan Allah tapi mengaku diri-Nya Allah. Ini persoalan identitas. Mengapa orang sulit untuk menerima identitas Yesus sebagai Allah, sebagai Anak Allah? Jawabannya: karena hal itu mengganggu pengenalan diri mereka sendiri. Kita sulit mengenal Allah, karena mengenal Allah berarti mengenal diri –meminjam istilahnya Calvin, tapi ini bukan asli dari Calvin, melainkan konsep Alkitab sendiri.
Tidak ada pengenalan Allah yang tidak melibatkan pengenalan diri sendiri. Kita sulit mengenal Allah, karena kita sebetulnya tidak mau terima keadaan diri sebagaimana dinyatakan oleh kebenaran Allah. Ketika mengenal Allah, kita akan melihat ketelanjangan diri, kemiskinan diri, kepapaan diri, kebobrokan diri, kebrengsekan diri, dosa-dosa dan kelemahan diri; dan kita tidak siap menerima itu. Dan semakin tidak siap, semakin kita tidak bisa mengenal Allah. Jadi, penolakan akan Allah bukan cuma penolakan terhadap Allah saja, tapi juga penolakan terhadap diri kita sendiri yang tidak mau diterangi oleh kebenaran Ilahi. Waktu Terang itu datang, Dia akan menelanjangi, tetapi bukan selalu menelanjangi yang menghakimi, menghancurkan, mempermalukan, dsb. --itu bukan Allah yang kita kenal. Allah yang di dalam Alkitab, waktu Dia datang sebagai Terang, memang betul menelanjangi, tetapi menelanjangi untuk menyelamatkan, mengoreksi, menguduskan. Tetapi manusia sudah paranoia terlebih dahulu, sudah tidak bisa ditegur terlebih dahulu, manusia sudah pakai daun itu terlebih dahulu untuk menyembunyikan ketelanjangannya.
Manusia tidak mau terima ketelanjangannya, manusia pakai caranya sendiri. Dan yang paling menakutkan, pakai cara-cara agama. Ada juga orang yang tidak pakai cara agama. Ada orang yang pakai cara pakaian, mungkin pakaian dia adalah agamanya dia; dia pakai pakaian yang keren, lalu dengan pakaian seperti itu, berharap orang menilai dia dari penampilannya dan tidak bisa melihat yang ada di dalam, yang tidak karuan, tulang-belulang, bau busuk, dsb. Atau bisa juga dengan cara-cara yang lain. Dunia ini menyediakan berbagai macam cara untuk menutupi ketelanjangan dan kebobrokan; sejak dari Kejadian, manusia melakukan hal seperti itu.

Jadi, mengapa sulit untuk menerima Pribadi Yesus Kristus, menerima identitas Kristus? Karena mereka sulit menerima identitas diri mereka sendiri, mereka sulit menerima fakta yang begitu keras bahwa ‘kamu bukan anak-anak Abraham’. Betapa sulit menerima kalimat seperti itu; ‘Kita jelas-jelas anak-anak Abraham, tapi Orang ini bilang kita bukan anak-anak Abraham. Bahkan bukan cuma itu, Orang ini bilang, Iblislah sebetulnya bapamu. Mana bisa terima kalimat seperti ini??’ Maka selanjutnya pembicaraan ini eskalasi, karena mereka semakin mengeraskan hati, tidak ada kerendahan hati, tidak bisa menerima kebenaran Firman Tuhan; dan Yesus juga mengatakan kalimat yang sangat keras, dan makin keras, dan akhirnya yang terakhir adalah salib. Perkataan Yesus sudah tidak bisa diterima lagi; secara dunia, seperti Yesus akhirnya kalah, kebenaran kalah. Inilah yang terjadi dalam kehidupan kita, waktu kita mengatakan kebenaran itu apa adanya.
Mungkin tidak ada di antara kita yang dilayakkan Tuhan untuk mengalami martyrdom, tetapi pengalaman disingkirkan, ditolak, dsb., harusnya ada di dalam kehidupan kita, tanpa harus mengalami martyrdom. Kalau dalam kehidupan ini kita tidak pernah ditolak, mungkin kita terlalu banyak berkompromi dalam dunia ini, mungkin kita terlalu banyak menyenangkan orang lain sampai-sampai tidak ada yang menolak kita. Atau mungkin kita takut bicara kebenaran, mungkin kita merasa ‘yah, ini teman lama, kalau saya tegur, nanti saya kehilangan teman’. Aristoteles pernah mengatakan: “Kalau dua orang temanmu minta engkau menjadi hakim, tolak saja. Itu tidak bagus, karena salah satu nanti jadi musuhmu”. Ini play safe namanya. Ini ajaran-ajaran yang sangat manusiawi, tapi tidak cocok dengan kebenaran. Yesus tidak pernah melakukan ini. Yesus bukan Aristotelian. Yesus tidak perlu belajar dari Aristoteles, Aristoteles yang perlu belajar dari Yesus.

Waktu Saudara dan saya memberitakan kebenaran, waktu Gereja memberitakan kebenaran, selalu ada resiko ini. Ada resiko penolakan, kemarahan, kebencian, dsb.; dan inilah yang ada pada diri orang-orang Yahudi itu. Lalu mereka mengarahkannya kepada diskusi teologis tentang siapakah Yesus itu, berhakkah Dia menyebut diri-Nya sebagai Anak Allah. Tapi Yesus juga tampaknya mau saja diajak diskusi teologis itu, setidaknya di dalam bagian ini. Yesus mengutip dari Mazmur: "Tidakkah ada tertulis dalam kitab Taurat kamu: Aku telah berfirman: Kamu adalah allah?  Jikalau mereka, kepada siapa firman itu disampaikan, disebut allah--sedang Kitab Suci tidak dapat dibatalkan--, masihkah kamu berkata kepada Dia yang dikuduskan  oleh Bapa dan yang telah diutus-Nya ke dalam dunia: Engkau menghujat Allah! Karena Aku telah berkata: Aku Anak Allah?” (ayat 34). Di sini argumentasinya ‘from lesser to greater’ (dari yang kecil menuju yang lebih), memang Yesus lebih daripada segala yang dikatakan di dalam Mazmur ini.

Kalau kita membaca Mazmur, kita memang mendapati kalimat itu, yaitu di Mazmur 82: ‘Aku sendiri telah berfirman: "Kamu adalah allah, dan anak-anak Yang Mahatinggi kamu sekalian. -- Namun seperti manusia kamu akan mati  dan seperti salah seorang pembesar kamu akan tewas."  Bangunlah ya Allah, hakimilah bumi, sebab Engkaulah yang memiliki segala bangsa’ (ayat 6-8). Ini bagian yang agak jarang dibahas, khususnya oleh orang-orang Injili, dan mungkin juga orang-orang Reformed, karena kita menekankan perbedaan kualitatif antara Pencipta dan ciptaan. Tapi ayat-ayat seperti ini ada; maksudnya apa? Ada beberapa penafsiran. Ada tafsiran yang mengatakan, ini mungkin bicara tentang hakim-hakim Israel. Tafsiran lain mengatakan, ini mungkin menunjuk kepada orang Israel waktu diberikan Taurat; mereka disebut anak-anak Allah karena menerima Firman. Tafsiran lain lagi mengatakan, ini mungkin angelic powers (kuasa-kuasa malaikat), entah itu malaikat yang jatuh ataupun yang tidak jatuh. Kemudian ada satu penafsir, A. T. Hanson, yang mengatakan tentang ayat 35 ini; di sini saya baca tafsiran dari WBC, sbb.: A. T. Hanson has modified this third interpretation by suggesting that the “Word of God” in v. 35 is the pre-existent Logos; the expression in v. 35 “to whom the word of God came” means “to whom the pre-existent Word spoke” (after Westcott, 2:70). The argument then runs: “If to be addressed by the pre-existent Word justifies men in being called gods ... far more are we justified in applying the title Son of God to the human bearer of the pre-existent Word, sanctified and sent by Father as he was, in unmediated and direct presence” (WBC 36, p. 177).

Saya bahas sederhana saja, mengikuti kutipan di dalam Yohanes pasal 10. Mengapa di sini disebut ‘allah’, kalau dalam penafsiran Yohanes yang mencatat perkataan Kristus, disebut ‘allah’ karena mereka adalah orang-orang yang menerima Firman. Orang yang menerima Firman, menurut tafsiran ini disebut ‘allah’. Saudara mungkin tidak pernah dengar kalimat ini. Kita jarang sekali bicara mengenai kontinuitas Allah dan manusia, yang sering kita bicarakan adalah diskontinuitas Allah dan manusia. Teologi Reformed banyak sekali membahas qualitative difference between Creator and creature, Creator and creature distinction; baik itu Kierkegaard, atau Karl Barth, atau Van Til, dsb., suka sekali membicarakan hal itu tapi kita mungkin kurang mengeksplorasi pembicaraan tentang kontinuitas Allah dan manusia, padahal itu ada di dalam Alkitab.

Di bagian ini kata ‘allah’ ditulis dalam huruf kecil, untuk membedakan bahwa yang dimaksud bukan Allah dalam pengertian The Only God Yang Mahakudus itu, melainkan allah atau anak-anak Allah, sebagaimana tertulis di Mazmur 82, dalam pengertian anak-anak melalui adopsi. Tapi mengapa disebut allah/ anak-anak Allah? Yaitu karena mereka menerima pre-existent Logos. Orang yang menerima Firman, dia berbagian dalam kodrat Ilahi, karena Firman itu sendiri naturnya Ilahi. Dengan demikian, yang menerima Firman ambil bagian dalam kodrat Ilahi ini --ini meminjam bahasanya Petrus yang sedikit kurang biasa dalam Teologi Reformed. Waktu kita berbagian dalam Perjamuan Kudus, makan daging-Nya dan minum darah-Nya, di situ kita ambil bagian dalam kodrat Ilahi di dalam pengertian tertentu, bukan dalam pengertian kita jadi mahatahu, mahaada, dsb. karena itu bukan atribut yang dikomunikasikan kepada manusia ciptaan. Kita berbagian dalam kodrat Ilahi di dalam pengertian keserupaan dengan Kristus, belas kasihan-Nya, cinta kasih-Nya, kerendahan hati-Nya, compassion-Nya, dsb.

Kembali ke bagian ini, Yesus menggunakan argumentasi dengan mengutip Mazmur. Dia mengatakan: “Di dalam Mazmur, Tauratmu, ‘kan dikatakan ‘kamu adalah allah’? Jikalau mereka, kepada siapa firman itu disampaikan, disebut allah (ini penjelasan Yesus tentang alasannya disebut allah, yaitu karena kepada mereka Firman itu disampaikan), koq kamu terganggu sih melihat Saya sebagai Anak Allah?” Maksudnya, Yesus mau bilang: ‘kalau kamu menerima Firman, kamu juga adalah allah; sekarang kamu terganggu kalau Saya adalah Allah, itu karena kamu tidak menerima Firman’. Poinnya: Kamu tidak terima Firman, itu sebabnya kamu mengecualikan diri dari sebutan ‘kamu adalah allah’, dan kamu jengkel kalau Saya adalah Allah. Seandainya kamu menerima Firman, maka kamu adalah allah.

Kamu adalah allah, Yesus juga adalah Allah, tapi tetap ada perbedaan. Yesus adalah Anak Allah bukan melalui adopsi, Dia adalah Anak Allah dari kekal sampai kekal, eternal generation. Kita, Saudara dan saya, adalah anak Allah melalui adopsi, kita tidak ada eternal generation dalam hal ini. Jadi tetap ada perbedaan. Tetapi fakta bahwa mereka tidak bisa menerima Yesus adalah Anak Allah, disebabkan karena mereka tidak melihat diri mereka sendiri sebagai anak Allah, mereka tidak melihat diri mereka sendiri sebagai allah, dan itu karena mereka tidak menerima Firman. Mereka tidak percaya kepada Firman, mereka menolak Firman, dan karena itu mereka bukan allah. Mereka menganggap dirinya bukan allah, itu sebabnya mereka sulit menerima Yesus adalah Allah. Akhirnya mereka betul-betul tersingkir. Saudara lihat, betapa bahayanya orang yang mendengar Firman tapi tidak percaya dan menolak Firman. Orang-orang seperti ini exclude themselves, tidak bisa melihat diri anak Allah karena tidak menerima Firman.

Firman sudah disampaikan kepada mereka, tetapi mereka tidak taat; dan seperti dikatakan dalam Mazmur, “kamu akan mati”. Karena kamu tidak taat, karena kamu tidak percaya, maka kamu akan mati, padahal kamu adalah allah, seharusnya tidak mati, tapi “seperti manusia kamu akan mati”, kamu akan berurusan dengan maut. Ini bahasa yang dekat sekali dengan bahasa yang dipakai dalam Injil Yohanes yang bicara tentang maut, tentang kematian, tentang hidup.

Oleh karena orang-orang yang tidak percaya itu tidak menerima Firman, maka mereka tidak bisa melihat identitasnya sebagai allah, sebagai anak-anak Allah. Dan karena itu juga, mereka akhirnya tidak bisa menerima Yesus sebagai Anak Allah yang tunggal itu; hal ini juga ikut kacau. Bersamaan dengan itu, pengertian mereka tentang Allah Bapa juga ikut kacau. Semuanya kacau. Lalu setelah itu apa? Tidak perlu dikatakan lagi, mereka akan menciptakan berhala-berhalanya sendiri.
Ayat 35-36 Yesus mengatakan: “Jikalau mereka, kepada siapa firman itu disampaikan, disebut allah--sedang Kitab Suci tidak dapat dibatalkan--, masihkah kamu berkata kepada Dia yang dikuduskan  oleh Bapa dan yang telah diutus-Nya ke dalam dunia: Engkau menghujat Allah! Karena Aku telah berkata: Aku Anak Allah?” Ada yang salah dengan pengenalanmu akan dirimu sendiri, dan itu karena kamu tidak bisa menerima Firman, karena kamu tidak mau menerima Firman, maka akhirnya melihat Yesus pun secara salah.

Selanjutnya ayat 37-38: “Jikalau Aku tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan  Bapa-Ku, janganlah percaya kepada-Ku, tetapi jikalau Aku melakukannya dan kamu tidak mau percaya kepada-Ku, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu”. Kembali lagi ke sana, lihatlah pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan oleh Yesus. Katakanlah mereka sulit percaya kepada Pribadi Yesus, di sini Yesus masih mengakomodasi kekanak-kanakan mereka dengan mengatakan: “Setidaknya, percaya akan pekerjaan-pekerjaan itu, coba lihat lagi pekerjaan-pekerjaan itu, coba selidiki lagi karya-karya itu, silakan lihat lagi”.

Gereja, Saudara dan saya, dipanggil untuk mempersaksikan kehadiran Kristus melalui pekerjaan yang kita lakukan, melalui perkataan yang kita katakan. Dari situ orang bisa menilai, apakah ini gereja yang Kristus ada di dalamnya dan dia di dalam Kristus, atau gereja yang tidak ada urusannya dengan Kristus, gereja palsu, gereja-gerejaan. Jadi dari mana tahu? Dari karya/ pekerjaan dan dari perkataan. Sama seperti Yesus di dunia dalam perspektif Yohanes, yang kesatuan-Nya dengan Bapa dinyatakan dalam kesatuan karya dan kesatuan perkataan (the unity of works and words), demikian pula Gereja dipersatukan dengan Kristus dan dipersatukan dengan Allah Tritunggal melalui pekerjaan-pekerjaan itu. Orang Kristen yang terlalu banyak membela diri, terlalu banyak membenarkan diri, berarti tidak mengerti prinsip ini. Kalau setiap kali mendapat kritik/ teguran lalu langsung membenarkan diri, berarti Saudara tidak mengerti prinsip ini. Tapi kalau Saudara mengerti prinsip ini, Saudara akan setia melakukan pekerjaan-pekerjaan yang dipercayakan Bapa. Dari situ menjadi kesaksian yang paling kuat apakah kehidupan Saudara berkenan kepada Allah atau tidak.

Saya harap ini menjadi realita dalam kehidupan kita, bukan cuma jadi teori kosong, bukan cuma  kontemplasi Trinitas yang tidak membawa perubahan apa-apa. Kita tidak tertarik dengan model Kekristenan yang seperti itu. Waktu Perjamuan Kudus, kita merayakannya, dan kita mengaku ini adalah realita diri kita sungguh-sungguh dipersatukan dengan tubuh dan darah Kristus. Waktu membaca Firman, kita merenungkannya, dan harap kita juga sungguh-sungguh dipersatukan dengan Firman; kita di dalam Firman, dan Firman di dalam kita.

Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah (MS)

Gereja Reformed Injili Indonesia Kelapa Gading

Download Ringkasan