Akulah Kebangkitan dan Hidup

Kita mengulang poin yang penting dari kotbah Minggu lalu tentang ayat terakhir yang dikatakan Tomas, yang seharusnya menjadi panggilan hidup setiap orang percaya, bahwa jika kita percaya Yesus adalah kebangkitan dan adalah hidup, maka itu akan dinyatakan dengan kehidupan yang berani untuk mati bersama-sama dengan Yesus, kehidupan yang tekun menyangkal diri dan tekun memikul salib setiap hari bersama dengan Kristus. Dengan kata lain, orang yang dalam kehidupannya tidak menyangkal diri, tidak memikul salib, dia seperti orang yang tidak percaya kebangkitan. Doktrin ini bukan sekedar doktrin yang kita ucapkan dalam Pengakuan Iman Rasuli setiap Minggu tapi sesudah itu tidak jelas integrasinya dalam kehidupan kita. Kalau kita percaya Yesus adalah terang, itu akan dinyatakan dengan satu kehidupan yang berani berjalan menghampiri tempat-tempat yang gelap –justru karena kita percaya dalam hati kita ada terang yang diterima dari Tuhan. Kalau kita percaya Yesus adalah kebangkitan dan adalah kehidupan, itu akan dinyatakan dalam kehidupan kita yang terus-menerus mematikan diri, mematikan manusia lama kita, memikul salib, menyangkal diri –justru karena kita percaya ada kebangkitan.

Tidak ada orang bangkit yang tidak mati sebelumnya. Yesus sendiri bangkit karena Dia pernah mati. Istilah “kebangkitan” dan “dibangkitkan”, tidaklah relevan untuk orang yang tidak pernah mati dan yang tidak mati. Jadi kalau dalam kehidupan Saudara dan saya tidak ada kuasa kematian yang bekerja, maka tidak relevan membicarakan tentang Saudara dan saya dibangkitkan; memang tidak akan mengalami kebangkitan, berhubung tidak pernah ada kematian. Orang yang terus mempertahankan nyawanya (dirinya sendiri) selama berada dalam dunia, dia tidak akan dibangkitkan –karena memang tidak ada kematian di dalam kehidupannya. Orang seperti itu berusaha untuk hidup terus di dalam dirinya sendiri –bukan kehidupan Kristus, melainkan kehidupan dirinya sendiri yaitu manusia lamanya yang tidak mau mati itu– maka ya, sudah, tidak ada kebangkitan untuk dia. Hanya mereka yang mati, baginya ada kebangkitan. Justru karena kita percaya kebangkitan, maka hal itu dinyatakan dalam kehidupan yang menyaliban diri bersama dengan Kristus. Gereja yang percaya kebangkitan, adalah Gereja (jemaat) yang menyalibkan dirinya bersama dengan Kristus juga, supaya mereka boleh hidup untuk Kristus. Saya kira ini satu poin sederhana dari perkataannya Tomas, "Marilah kita pergi juga untuk mati bersama-sama dengan Dia", satu perkataan yang bukan perkataan sinis/ sarkastik atau konyol, tapi perkataan yang seharusnya jadi perkataan Gereja.

Sekarang kita masuk ke ayat 17 --satu pemenggalan yang tepat, termasuk juga dalam Alkitab bahasa Indonesia)-- Maka ketika Yesus tiba, didapati-Nya Lazarus telah empat hari berbaring di dalam kubur. Mengapa empat hari? Saya percaya ini bukan sekedar untuk membuktikan Lazarus betul-betul mati, meski poin ini juga termasuk, sehingga kemungkinan Lazarus cuma mati suri bisa disingkirkan. Tapi selain itu, hal ini bisa dilihat juga dari perspektif lain yang mungkin jarang dibahas, yaitu dalam  kepercayaan kebudayaan Yahudi yang pengetahuan medis belum maju seperti sekarang, empat hari itu memberi kesempatan untuk orang bisa menerima fakta bahwa anggota keluarga yang dikasihinya memang benar-benar sudah mati. Kita yang hidup di dalam dunia modern hari ini, tentu percaya kalau dokter bilang “sudah mati”; kita gampang menerima, karena kejelasan itu ada. Tetapi di zaman dulu, bisa jadi orang masih ada pengharapan ‘apa benar dia betul-betul mati?? mungkin karena saking sakit kerasnya jadi tidak bisa bergerak seperti orang mati, tapi siapa tahu dia belum betul-betul mati’. Pengharapan seperti itu diberikan ruang kepada orang yang berduka; dan bersama dengan itu, juga diberikan waktu untuk akhirnya bisa melepas kepergian orang yang dikasihinya. Ini amat sangat pastoral.

Saya tidak percaya dengan ajaran Kristen yang ekstrim, yang mengajarkan kalau anggota keluarga yang sudah percaya mati, maka kita tidak boleh menangis sama sekali, justru harus bikin pesta karena orang yang mati itu bahagia; kalau dia berbahagia dan kita berkabung, itu tidak cocok, kita harusnya tertawa-tawa, kalau menangis berarti seperti tidak percaya kuasa kebangkitan, dsb. Ajaran seperti itu ajaran ekstrim yang tidak ada poinnya sama sekali; semakin menghayati gambaran seperti itu, semakin orang takut pada orang Kristen karena orang Kristen jadi aneh, tidak manusiawi, seperti alien dari planet lain. Kita tidak percaya yang seperti itu, bukan saja karena tidak manusiawi, tapi juga karena Alkitab sendiri memberikan ruang kepada manusia untuk berkabung.
Lalu apa yang terjadi dalam 3 hari itu? Kutipan dari salah satu rabbinic literature, mengatakan bahwa orang yang meninggal itu diletakkan di burial place selama 3 hari untuk memastikan orang tersebut betul-betul mati; dan dalam 3 hari itu anggota keluarga didorong untuk selalu mengunjungi. Kutipannya sbb.: “The whole strength of the mourning is not till the third day; for three days long the soul returns to the grave, thinking that it will return (into the body); when however it sees that the color of its face has changed then it goes away and leaves it” (Midras Rabbah on Genesis 100 [64a]). Jadi dalam kepercayaan tersebut ada gambaran seakan-akan jiwa orang mati itu mau kembali ke tubuhnya, tapi setelah 3 hari dilihat warna kulitnya sendiri sudah berubah, sehingga si jiwa juga malas kembali tinggal di dalam tubuh yang sudah seperti itu.

Saya jadi teringat film Frankenstein, satu optimisme orang terhadap sains, teknologi, dsb., yang mau mengalahkan kuasa kematian –dan berhasil; orang mati itu diberi aliran ini dan itu lalu hidup lagi. Tapi di film itu ada sepenggal adegan yang sangat menarik, yaitu ketika si pembuatnya sendiri menyadari bahwa orang yang berhasil dihidupkan ini bukan orang yang dulu, yang dulu tidak begini, yang ini benar-benar mayat hidup yang badannya memang dia tapi jiwanya sama sekali lain, bukan jiwa yang dulu itu. Ini menyatakan kegagalan, menyatakan bahwa manusia memang tidak bisa; kalau mau mencoba membangkitkan secara mekanik seperti itu, mungkin saja bisa ada gerakan-gerakan tangan, dsb., tapi itu bukan jiwa orang yang dulu, jiwa yang dulu itu sudah tidak ada. Itulah yang mau dinyatakan dalam novel/ film tersebut.

Kembali ke bagian yang tadi, dalam kepercayaan Yahudi ada ajaran seperti itu, bahwa jiwa seakan ingin kembali ke tubuhnya dalam 3 hari, tetapi selama 3 hari itu dia lihat tubuhnya sudah rusak, malas juga kembali ke tubuh seperti itu. Dan bersamaan dengan itu, orang-orang yang selama 3 hari mengunjungi kubur tersebut, yang berharap jiwanya kembali lagi --atau apapun pengharapannya-- waktu mereka melihat ada warna yang berubah, mulai rusak, dsb., akhirnya mereka belajar merelakan, karena ini toh sudah bukan yang dulu –atau kalau pakai ilustrasi film yang lain, sudah jadi zombi. Setelah jiwa itu pergi meninggalkan tubuh, ketika jiwa itu sendiri maupun orang yang masih hidup melihat mayatnya mulai berubah warna, mulai rusak, dsb. di dalam 3 hari, maka hal itu memberikan waktu bagi mereka untuk akhirnya bisa merelakan bahwa orang tersebut betul-betul sudah hilang, buktinya badannya sudah rusak.

Jadi, Yesus memberikan kesempatan kepada Marta dan Maria untuk mengalami periode ini, untuk betul-betul melepaskan Lazarus pergi, supaya mereka bisa menerimanya kembali di dalam sukacita. Inilah kerumitan dari pasal ini. Kita tahu, seharusnya kebangkitan memang terjadi di akhir zaman, tapi Yesus membangkitkan Lazarus di saat itu juga; ini sebagai satu antisipasi, hal yang seharusnya terjadi di akhir zaman, sekarang ditarik ke sini. Dengan demikian kalau kita melihat keseluruhan cerita ini secara programatis, dukacita perkabungan Marta dan Maria ini juga bisa menggambarkan dukacitanya Saudara dan saya waktu ditinggalkan anggota keluarga yang kita cintai. Tuhan betul-betul memberikan periode mourning ini, untuk kemudian betul-betul merelakan dan menyerahkan ke dalam tangan Tuhan bahwa orang yang sudah meninggalkan kita itu memang musti kita lepaskan.

Dalam pelayanan pastoral, saya melihat ada banyak model mengenai hal ini. Ada orang yang sakit keras, yang secara pertimbangan medis sudah percuma dipertahankan, tapi entah mengapa tidak berangkat-berangkat. Kemungkinannya dua, mungkin orangnya sendiri belum siap, tapi kadang-kadang ada keluarganya yang belum siap. Kita tidak tahu bagaimana orang tersebut seakan bisa merasakan hal ini --ini misteri dalam pengaturan Tuhan-- tapi dari perspektif kedaulatan Tuhan, Tuhan tahu kalau keluarganya belum siap sehingga umurnya masih diperpanjang. Jadi dalam hal ini, di satu sisi memang Tuhan memberikan ruang, dan di sisi lain kita juga belajar untuk melepaskan –kalau dalam cerita ini, melalui periode 3 hari itu. Waktu Yesus datang, itu adalah hari keempat, jadi periode ini sudah selesai, sudah dipastikan Lazarus benar-benar mati, mereka juga sudah bisa merelakan dan menerima fakta bahwa Lazarus betul-betul mati --itu sebabnya di pasal ini sama sekali tidak ada diskusi lagi apakah Lazarus benar-benar mati atau tidak—meskipun toh mereka masih dalam suasana duka.

Dan yang indah, ternyata bukan cuma Marta dan Maria yang berduka, melainkan banyak orang Yahudi. Dalam hal ini kita boleh berasumsi bahwa Marta dan Maria --dan mungkin juga Lazarus—adalah satu keluarga yang jadi berkat bagi sekelilingnya, sampai-sampai orang-orang yang jaraknya 2 mil, yaitu dari Betania, datang ke Yerusalem; ayat 19 ‘banyak orang Yahudi telah datang kepada Marta dan Maria untuk menghibur mereka berhubung dengan kematian saudaranya’. Keluarga ini tentunya hidup menjadi berkat, sehingga di hari kematian ada banyak orang yang mengunjungi dan menghibur mereka.

Saya tidak tahu, di hari kematian Saudara, dan saya, siapa yang mengunjungi. Ada orang yang kematiannya betul-betul merupakan suatu pukulan bagi banyak orang. Ada orang yang waktu dia mati pun tidak ada yang tahu, tidak ada yang sadar; dia ada atau tidak ada, tidak masalah; dia hadir atau tidak hadir di gereja, juga tidak ada yang kehilangan. Kalau kita tidak di-missed, kita tersinggung; ‘saya sudah 7 minggu lho tidak datang, koq tidak ada yang telpon saya; tidak ada yang sadar saya tidak ada, padahal sudah 7 minggu’. Kalau seperti itu, Saudara musti tanya pada diri sendiri, mengapa orang sampai tidak sadar Saudara tidak datang 7 minggu, karena itu berarti Saudara ada atau tidak ada, it doesn’t matter, tidak ada pengaruhnya. Dalam kehidupan gereja, tidak ada urusannya Saudara datang atau tidak datang --tidak enak mendengar kalimat seperti ini—tapi Saudara malah tersinggung, mengapa saya tidak datang, orang tidak tahu. Padahal pertanyaannya justru mengapa orang sampai bisa tidak tahu, mengapa orang sampai bisa tidak sadar? Berarti, baik Saudara ada atau Saudara tidak ada di gereja ini, tidak ada efeknya, tidak ada bedanya, hanya kursi kosong satu. Atau dalam lingkungan RW, apakah ada bedanya waktu Saudara tinggal di situ dengan waktu Saudara tidak tinggal di sana? Membicarakan hal seperti ini sulit, membuat kita makin lama jadi makin punya perasaan bersalah; tapi paling minimum di dalam keluarga, waktu Saudara ada atau Saudara tidak ada, apakah ada bedanya? Jangan sampai ada bedanya yang justru makin negatif, kalau saya ada, seluruh keluarga jadi lebih sumpek, repot; kalau saya tidak ada, beban seperti terlepas --kehadiran Saudara malah jadi beban, merepotkan orang lain. Ini celaka.

Orang-orang seperti Marta dan Maria, waktu keluarganya berkabung, banyak orang yang datang menghibur. Kalau Saudara datang ke pesta, sukacitanya yang empunya pesta mau di-share, lalu kita yang datang akan menerima sukacitanya, kita bersukacita bersama dengan dia. Tapi kalau Saudara datang ke rumah duka, bukan yang berduka mau share dukacitanya, sebaliknya Saudara yang share penghiburan kepada dia. Jadi di rumah duka, orang datang untuk menghibur. Di Kisah Para Rasul ada seorang bernama Dorkas, yang waktu dia meninggal, orang-orang yang datang membawa pakaiannya yang pernah dibikin oleh Dorkas itu. Mereka seperti berasa banget waktu Dorkas tidak ada, lalu mereka jadi ingat apa yang telah dilakukan Dorkas; kira-kira kehidupan Saudara ada di mana?

Ayat 20, Ketika Marta mendengar, bahwa Yesus datang, ia pergi mendapatkan-Nya. Tetapi Maria tinggal di rumah. Dalam bahasa Inggris dikatakan: Maria remain seated –berarti dia masih dalam keadaan dukacita (ditunjukkan dengan gestur ‘seated’). Maria tetap duduk di rumah. Tidak salah masih berdukacita; meskipun sudah menerima fakta bahwa Lazarus betul-betul meninggal, dukacitanya tidak langsung pergi begitu saja. Ini gambaran yang sangat realistik akan pergumulan manusia dengan kematian dan ketidakhadiran (absence) seseorang yang kita kasihi.

Ayat 21, Maka kata Marta kepada Yesus: "Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati.” Kalimat ini tidak boleh Saudara artikan sebagai satu kalimat penyesalan, ‘seandainya’, ‘what if’, apalagi dalam spirit menyalahkan Yesus ‘Engkau sih tidak ada di sini, kalau ada, pasti lain ceritanya’. Kalimat ini bukan dalam pengertian seperti itu, melainkan satu ungkapan dukacita yang wajar, tapi sekaligus menyatakan iman Marta kepada Yesus, yang kuasa-Nya sanggup menyembuhkan orang yang sakit –dan sudah ada track record seperti itu-- maka di dalam iman kepada Yesus, khususnya dalam masa yang lampau, dia mengatakan: “Sekiranya Engkau ada di sini”. Maksudnya, ‘waktu itu, kalau Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati, sakit-penyakitnya tidak akan membawa kematian; tapi karena Engkau tidak ada di sini waktu itu, akhirnya sakit-penyakit ini tidak bisa dicegah lagi mendatangkan kematian’. Yesus sudah mengatakan di ayat sebelumnya –yang memang tidak didengar oleh Marta-- "Penyakit itu tidak akan membawa kematian, tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah” (ayat 4), namun dalam perspektif Marta yang terbatas, kematian ini disebabkan oleh sakit penyakit, sakit-penyakit diakhiri dengan kematian.
‘Seandainya saja Yesus ada di sini, dulu, waktu itu, pasti saudaraku tidak akan mati’ –imannya Marta adalah kepada yang masa lampau, seandainya Yesus ada di sana waktu itu, sekarang Yesus terlambat. Seorang teolog pernah mengatakan, “Tuhan bukan di dalam waktu, karena itu Dia tidak perlu on time; Tuhan tidak perlu on time  karena Dia tidak in time.” Yang perlu on time (tidak terlambat) adalah Saudara dan saya, bagi Tuhan tidak ada kategori ‘on time’ atau ‘tidak on time’. Tuhan tidak perlu on time karena Tuhan tidak dikuasai waktu, waktu yang harus taat kepada Tuhan. Kalau Saudara memaksa Tuhan tunduk pada waktunya Saudara, menurut jadwalnya Saudara dan saya  –saya bukan mengatakan Marta seperti ini—itu berarti memaksa Tuhan untuk berada di dalam waktu. Tuhan itu tidak berada di dalam waktu; waktu yang bertanggung jawab kepada Dia. Saudara dan saya bertanggung jawab kepada Dia. Waktu diatur oleh Tuhan, jadi Dia tidak perlu ‘on time’ dalam hal ini, justru Saudara yang perlu mengikuti bijaksana dan kairosnya Tuhan (waktunya Tuhan).

Waktu di sini Marta mengatakan “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati”, memang ini menyatakan iman kepada Pribadi Yesus yang di masa lampau, tapi –kalau saya boleh mengantisipasi—Yesus bilang ‘I am the Resurrection and the Life’, bukan ‘I was the Resurrection and the Life’ sehingga sekarang telat karena sudah 4 hari. Tuhan tidak diikat oleh waktu, Dia selalu ‘is’ –‘He is the Resurrection and the Life’, bukan ‘He was the Resurrection and the Life’. Tetapi kita tidak bisa mengatakan bahwa imannya Marta hanya iman pada masal lampau; Saudara dan saya bisa kayak begini, kita seringkali melihat pekerjaan Tuhan di masa lampau dan kita terkagum-kagum –iman kepada zaman yang lampau. Tetapi Tuhannya Paulus, Tuhannya Yakobus, Tuhannya Petrus, Tuhannya Yohanes, Tuhannya Yohanes Calvin, Tuhannya Martin Luther, adalah Tuhannya Saudara dan saya; Dia dulu, sekarang, sampai selama-lamanya, tidak ada perubahan. Pada saat itu Dia seperti itu, sekarang pun Dia seperti itu.

Perhatikan perkataan Marta di ayat 22: “Tetapi sekarang pun aku tahu, bahwa Allah akan memberikan kepada-Mu segala sesuatu yang Engkau minta kepada-Nya." Kita perlu belajar dari imannya Marta yang seperti ini, dia bukan cuma percaya Tuhan yang dulu, meskipun pikirannya tidak bisa menjangkau bahwa Lazarus ini akan dibangkitkan. Waktu dia mengatakan kalimat tadi, tidak ada pikiran bahwa Yesus akan membangkitkan Lazarus. Kita tahu hal ini dari Alkitab; misalnya di ayat 39, waktu Yesus menyuruh angkat batu itu, dikatakan: Marta, saudara orang yang meninggal itu, berkata kepada-Nya: "Tuhan, ia sudah berbau, sebab sudah empat hari ia mati." Jadi jelas memang tidak ada dalam pikiran Marta bahwa Lazarus akan dibangkitkan. Ibaratnya kalau kita punya orangtua yang kita kasihi, lalu dia meninggal dan sudah masuk peti, tanah sudah diurug untuk menguburkannya, kemudian ada orang bilang “Hei, bongkar lagi tanahnya, keluarkan mayatnya dari peti”, tentu kita merasa ‘ini orang bagaimana sih, ini jasadnya mama saya lho, masakan disuruh bongkar lagi’ –begitulah kira-kira perasaan Marta. Dia sudah bau, sudah 4 hari, kita juga sudah terima bahwa dia memang mati, lalu sekarang suruh angkat batu lagi?? Untuk apa lagi?? Dia sudah bau, nanti kita jadi punya ingatan yang tidak enak tentang dia karena baunya, itu sudah bukan Lazarus, dia sudah berubah jadi lain, jadi kita tidak usah berurusan lagi dengan itu –begitulah sebetulnya yang ada dalam pikiran Marta. Waktu Yesus bilang “angkat batu itu!” dia tidak berpikir Yesus akan membangkitkan Lazarus; seandainya dia berpikir begitu, tentunya dia akan excited dan suruh orang cepat-cepat angkat batunya karena sebentar lagi Lazarus akan dibangkitkan –tapi hal itu tidak ada di bagian ini. Jadi di sini Marta tidak berpikir bahwa Yesus akan membangkitkan Lazarus.

Kalau kita tahu bahwa Marta tidak berikir Lazarus akan dibangkitkan tetapi dia bisa tetap percaya kepada Yesus di sini dan sekarang –sebagaimana dikatakannya di ayat 22 tadi—maka kita melihat inilah iman yang sejati. Ini mirip sekali dengan Sadrakh, Mesakh, dan Abednego, ketika mereka akan dilempar ke dapur api karena tidak mau menyembah patung yang didirikan Nebukadnezar; mereka mengatakan: “Tuhan yang kami sembah pasti sanggup meluputkan kamu; tetapi seandainya Dia tidak meluputkan kami, raja harus tahu, bahwa kami tetap tidak akan menyembah patung itu, kami akan tetap setia kepada Yahweh, Tuhan yang kami percaya”. Bukan percaya kepada Tuhan karena Tuhan menolong kita, bukan percaya kepada Tuhan karena Tuhan pasti memberikan jalan keluar kepada kita --itu bukan iman. Sudah dalam Perjanjian Lama  Sadrakh, Mesakh, dan Abednego mengatakan “Kalau Tuhan mau melepaskan, sudah pasti Dia sanggup melepaskan; tapi kalau Tuhan tidak melepaskan, saya tetap akan percaya kepada Tuhan yang tidak melepaskan ini”. Ini mirip seperti Marta. Tanpa ada pikiran bahwa Lazarus akan dibangkitkan, Marta tetap beriman kepada Yesus yang punya kuasa, bukan hanya pada masa lampau ‘seandainya Engkau di sini waktu itu’, tetapi juga ‘sekarang pun aku tahu, bahwa Allah akan memberikan kepada-Mu segala sesuatu yang Engkau minta kepada-Nya’. Hal apa yang akan diminta oleh Anak kepada Bapa, Marta tidak tahu, Marta tidak bisa menebak, tapi yang pasti ‘Engkau in full synchronization dengan Bapa, maka saya tetap percaya kepada-Mu’. Marta tidak menjadi kecewa, apalagi sampai menyalahkan Yesus. Waktu Yesus datang, dari perspektif Marta dan Maria seperti terlambat, seperti tidak on time, tetapi waktu kita perhatikan ayat 22 ini, seakan Marta mengatakan: “Tetapi iman saya kepada-Mu tidak berubah, Tuhan. Seandainya waktu itu Engkau ada di sini, kayaknya ceritanya akan lain; tetapi sekarang pun waktu yang terjadi seperti ini, saya tetap percaya kepada-Mu.” Betapa indah iman yang seperti ini.

Lalu Yesus menjawab:  "Saudaramu akan bangkit” (ayat 23). Marta pikir, ini ide umum tentang kebangkitan yang di-share semua orang Yahudi, maka ayat 24 dia mengatakan: "Aku tahu bahwa ia akan bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman." Sama juga dengan zaman sekarang, Kekristenan bukan satu-satunya yang percaya akan kehidupan setelah kematian; pengharapan eskatologi seperti ini merupakan pengharapan eskatologi yang umum. Namun, waktu Marta mengatakan "aku tahu bahwa ia akan bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman", yang tidak ada pada kepercayaan ini adalah relasinya dengan Pribadi Kristus; ini general idea tentang pengharapan kebangkitan namun tidak tentu berkaitan dengan Pribadi Yesus Kristus. Itu sebabnya Yesus mengatakan “I am the Resurrection and the Life” (Akulah kebangkitan dan hidup itu); kalaupun terjadi kebangkitan setelah kematian, itu bukan tanpa Kristus, itu terjadi hanya di dalam Kristus –ini bicara kebangkitan dari perspektif Pribadi dan karya Kristus. Sekaligus juga di sini menekankan ‘am’; Yesus tidak bilang ‘I was the Resurrection and the Life’ melainkan ‘I am the Resurrection and the Life’.

Di dalam pikirannya Marta, dia seolah-olah berpikir tentang yang di belakang, tapi ternyata tidak juga, buktinya dia mengatakan “sekarang pun aku tahu”. Di sini kita melihat imannya Marta, baik yang dulu dan sekarang, tapi juga ada aspek future; namun future-nya tidak terlalu berkaitan dengan Kristus, hanya pengharapan kebangkitan yang umum, sementara Yesus mau mengaitkan kepercayaan ini dengan diri-Nya sendiri, Pribadi Kristus. Dan juga menyatakan bahwa Yesus bukan hanya ‘He will be the Resurrection and the Life’, tetapi ‘He is the Resurrection and the Life’. Seandainya Marta bilang, "Aku tahu bahwa ia akan bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman", lalu Yesus jawab, “Ya, I will be the Resurrection and the Life”, maka akan jadi lain. Tetapi yang Yesus katakan adalah “I am the Resurrection and the Life --di sini dan skarang juga Saya adalah kebangkitan dan kehidupan, tidak usah tunggu sampai saat yang akan datang itu”. Cerita ini sangat unik karena seharusnya Lazarus tidak dibangkitkan pada saat itu, Lazarus seharusnya bangkit pada akhir zaman –ini theologically correct—tetapi untuk menyatakan Yesus bukan hanya ‘He will be the Resurrection and the Life’ melainkan ‘He is the Resurrection and the Life’, maka Dia mendemonstrasikan kuasa kebangkitan di situ dan pada saat itu juga. Ini bukan cuma urusan yang akan datang barulah Yesus berkuasa, melainkan di sini dan sekarang pun kuasa kebangkitan itu bisa bekerja, maka Dia membangkitkan Lazarus saat itu juga tanpa harus menunggu sampai pada akhir zaman. Kebangkitan Lazarus adalah satu antisipasi kebangkitan orang mati, bahkan mengantisipasi kebangkitan Kristus sendiri. Klimaksnya adalah kebangkitan Kristus, tapi sebelumnya sudah ada type, yaitu kebangkitan Lazarus yang seharusnya terjadi pada akhir zaman. Mengapa? Karena Yesus mengatakan ‘I am the Resurrection and the Life’, bukan ‘I will be the Resurrection and the Life’, dan juga bukan ‘I was the Resurrection and the Life’.

Ini mirip seperti waktu kita Perjamuan Kudus, Yesus mengatakan “I am the bread of life”. Yesus tidak bilang ‘I was the bread of life’ atau ‘I will be the bread of life’, melainkan “I am” yang berarti He always is. Dalam hal ini, pandangan Reformed –khususnya dari Yohanes Calvin—percaya bahwa dalam Perjamuan Kudus, kita betul-betul makan tubuh dan minum darah Kristus. Mungkin Saudara pikir, secara historis bukankah tubuh Kristus itu dipecah-pecahkannya di atas kayu salib, dan darah-Nya dicurahkannya di atas kayu salib, sehingga kalau begitu artinya ‘past’, mana bisa kita sekarang bilang makan tubuh dan minum darah Kristus?? Bukankah Zwingli juga bilang ini untuk mengingat, yang berarti mengingat ke belakang?? Dalam hal ini, Calvin bersikeras ini bukan hanya mengingat –mengingat memang sudah pasti termasuk—tetapi betul-betul partake substantially di dalam tubuh dan darah Kristus. Orang Katholik kemudian mengembangkannya menjadi ‘roti berubah jadi daging Kristus, anggur berubah jadi darah Kristus’ untuk menjelaskan bahwa kita sungguh-sungguh makan daging dan sungguh-sungguh minum darah Kristus. Kita tidak sependapat dengan tafsiran ini; yang kita terima dalam penafsiran reformator seperti Calvin, penjelasannya demikian: Sebagaimana kita ada dua mata –mata jasmani dan mata rohani—demikian kita juga ada dua mulut –mulut jasmani dan mulut rohani; mulut jasmani kita makan minum roti dan anggur, mulut rohani kita makan minum tubuh dan darah Kristus; dan ini mungkin, karena Yesus mengatakan “I am the bread of life”. Yesus bukanlah dulu waktu di dunia He was the bread of life tapi sekarang tidak lagi; Yesus bilang “I am the bread of life”, ‘am’ bukan cuma dalam pengertian waktu itu saja, melainkan selama-lamanya Dia selalu adalah Roti Hidup. Itu sebabnya dalam Perjamuan Kudus kita mengaku ‘He is the bread of life’, bukan cuma ‘He was the bread of life’ atau ‘He have been the bread of life’; maka dalam hal ini kita makan tubuh dan minum darah-Nya –dalam penafsiran yang kita terima dari Yohanes Calvin.
Kembali ke bagian ini, juga sama, Yesus mengatakan ‘I am the Resurrection and the Life’. Yesus bukan mengatakan ‘I was’ dan juga bukan ‘I will be’. Dalam kasus Lazarus sangat unik, karena ini menjadi satu kesaksian bahwa Yesus, menurut natur Ilahi-Nya, tidak dibatasi oleh waktu. Bicara tentang Tuhan, tidak ada past-present-future, Dia selalu “is”; dalam hal ini Dia bisa mendemonstrasikannya kapan saja sesuai dengan kehendak-Nya.

Maka di ayat 25 Dia mengatakan: "Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya  kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati,  dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati  selama-lamanya.” Kemudian Dia menantang Marta –dan juga kepada Saudara dan saya--  “Percayakah engkau akan hal ini?" Perhatikan di sini betapa Alkitab sangat lincah; waktu kita berusaha membaca polanya, seperti tidak ketebak, tapi bukan berarti chaos. Dalam bahasa Yohanes kita tahu, tanda/ mujizat menunjuk kepada yang ditunjuk oleh tanda tersebut; ini sangat khas Yohanes. Misalnya dalam cerita Yesus memberi makan 5000 orang, di situ Dia membuat mujizat terlebih dahulu, kemudian Dia memperkenalkan diri “Akulah roti hidup”; jadi tanda terlebih dahulu, kemudian menunjuk kepada Pribadi Yesus. Namun dalam cerita itu banyak orang tetap tidak percaya, mereka lebih suka di dalam tanda saja, ‘mujizatnya kita mau, tapi Pribadi Yesus kita tidak tertarik, kita main di mujizatnya saja, kita urusan tanda terus saja.’ Mereka lebih suka kenyang secara jasmani, mereka tidak suka dikenyangkan secara rohani. Itulah yang kita baca di dalam sekuens –tanda lebih dulu, setelah itu Pribadi Yesus. Sedangkan di bagian ini, penyataan Yesus kepada Marta lebih dulu, “I am the Resurrection and the Life”, baru setelah itu tandanya diberikan. Saya percaya masing-masing ada keindahannya. Bukan berarti yang dulu Yesus salah, kurang efektif, karena itu banyak yang tidak percaya, jadi sekarang diubah urutannya. Bukan seperti itu; Yesus tidak pernah kurang efektif dalam penginjilan-Nya, tetapi masing-masing ada keindahannya.

Mengapa dalam cerita memberi makan 5000 orang, tanda dulu baru kemudian Yesus mewahyukan diri-Nya, sedangkan di sini Dia mewahyukan diri-Nya terlebih dulu “I am the Resurrection and the Life”, baru setelah itu menyusul tanda? Apa kelebihannya dalam sekuens yang seperti ini? Kelebihannya adalah: waktu Marta ditantang oleh Yesus, dia belum melihat tanda/ mujizat apa-apa, jadi regardless bakal bangkit atau tidak bangkit atau apapun yang terjadi, dia percaya kepada Pribadi Yesus terlebih dulu.

Saya ambil ilustrasi ini: seorang anak yang jiwanya sehat, dia harusnya senang  dan percaya kalau orangtuanya ada di sana, tanpa harus berpikir ‘papa ada di sini, sebentar lagi saya akan dibelikan permen, sebentar lagi bakal ada mainan --yang seperti ini, anak yang jiwanya oportunistik, harus ditegur. Anak yang jiwanya sehat, dia simply happy karena papanya ada di sana. Inilah kepercayaan kepada pribadi, yang mendahului  apapun yang akan dilakukan papanya, bahwa papanya pasti baik; satu pengertian bahwa dia bisa percaya sepenuhnya kepada orangtuanya. Dan bukankah Allah lebih daripada orangtua kita, ataupun kita sebagai orangtua? Allah adalah Bapa.
Waktu Saudara percaya kepada Allah, Saudara percaya Pribadinya, atau Saudara percaya karena kalau saya percaya kepada Dia, bakal mengalami ini dan itu? Yang mana? Apakah yang ‘kalau saya percaya kepada Yesus, persoalan saya akan begini begitu’? Kalau seperti ini, apakah Saudara benar-benar percaya kepada Yesus? Atau sebenarnya Saudara lebih percaya kepada kondisi. Kalau kita membaca dalam bagian ini, iman yang sejati itu adalah yang seperti Marta. Dia tidak berpikir Lazarus bakal bangkit atau tidak bangkit atau akan keluar dari kubur, dsb. --dia belum tahu dan belum sanggup berpikir ke sana—tapi waktu ditantang “percayakah engkau akan hal ini?” dia menjawab (ayat 27), "Ya, Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, Dia yang akan datang ke dalam dunia" (dalam bahasa Inggris: Dia yang sedang datang ke dalam dunia). Pengakuan Marta ini menunjukkan imannya beres; dia belum melihat adanya kebangkitan, tapi dia sudah percaya kepada Yesus Kristus.

Kita ini pribadi. Waktu kita mau masuk ke dalam relasi cinta –relasi personal—maka yang kita cintai haruslah pribadi. Saya ini pribadi, kalau saya mencintai sesuatu, saya musti mencintai pribadi; tidak bisa saya mencintai mic ini, lalu minggu depan saya akan menikah dengan mic yang saya cintai ini. Meskipun di Jepang ada orang menikah dengan anime, dengan hologram, dsb.,  tetapi dalam kebudayaan yang waras, tidak ada orang menikah dengan mic. Di Amerika ada orang mau menikah dengan anjingnya dan mau diberkati di gereja --betapa kasihan pendetanya. Beberapa tahun lalu di Taiwan ada orang mau menikah dengan dirinya sendiri. Dunia kita ini banyak macam-macam; tapi kalau kita pikir secara sederhana, orang yang waras, waktu mencintai, dia cuma bisa mencintai pribadi, dia tidak bisa mencintai uang. Uang bukanlah pribadi. Saudara tidak akan pernah bisa mencintai uang karena uang bukanlah pribadi.

Mirip dengan itu, waktu kita percaya; kita ini pribadi maka kita cuma bisa percaya kepada pribadi. Saudara tidak bisa percaya kepada barang; itu impersonal faith, impersonal belief. Tetapi berapa banyak orang Kristen yang percayanya bukan kepada Pribadi melainkan percaya kepada kondisi, kepada situasi? “Saya beriman”; beriman apa?  “Beriman kalau saya sakit, saya akan sembuh” –ini percaya/ beriman kepada kondisi, bukan beriman kepada Tuhan. Bagaimana mungkin percaya kepada kondisi, kondisi itu bukan pribadi. Atau bisa juga seperti seorang anak kecil yang kelihatan happy dengan papanya, tapi sebenarnya papanya cuma dijadikan sarana karena dia tahu sebentar lagi bakal ada mainan. Papanya cuma jadi sarana, yang lewat doang, tapi cintanya adalah kepada mainan. Dalam diri orang Kristen bisa muncul nama Tuhan –“saya percaya kepada Tuhan, kalau saya percaya, dalam kesulitan ini saya akan dibebaskan”. Di situ nama Tuhan cuma lewat doang; katanya percaya kepada Tuhan, padahal maksudnya percaya pada perubahan kondisi kehidupan.
Perhatikan imannya Marta; "Ya, Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, Dia yang akan sedang ke dalam dunia". Saudara mungkin mengkritik imannya Marta tidak tembus sampai percaya bahwa Yesus akan membangkitkan Lazarus, tapi di sini justru kelebihannya. Karena sampai pada bagian ini Marta belum bisa melihat bahwa Yesus akan membangkitkan Lazarus, justru memperlihatkan bahwa imannya betul-betul murni, karena dia betul-betul percaya kepada Yesus sebagai Pribadi, sebagai Anak Allah, sebagai Mesias, yaitu Dia yang sedang datang ke dalam dunia.

Kata ‘sedang’ di kalimat itu menarik; apa bedanya dengan ‘akan’? Di dalam ‘sedang’ terkandung ‘akan’. Kalau Saudara bilang “saya sedang mandi”, berarti Saudara sudah mulai mandi beberapa menit lalu, dan mandinya juga belum selesai, masih akan mandi beberapa menit ke depan. Kalau dikatakan “Engkaulah Mesias, Anak Allah, Dia yang sudah datang ke dalam dunia", berarti sudah lewat, cuma in the past. Di sisi lain, kalau dia bilang “Engkaulah Mesias, Anak Allah, Dia yang akan datang ke dalam dunia", jadi maksudnya Yesus belum datang?? Maka terjemahan yang lebih tepat memakai istilah ‘sedang’ –Dia yang sedang datang ke dalam dunia. Dia sudah datang, Dia sedang datang, dan Dia akan datang. Maksudnya, Yesus sebagai Mesias, Anak Allah yang sedang datang ke dalam dunia ini, sedang berkarya.

Kembali kepada Marta; di dalam ketidakmengertiannya, di dalam iman yang parsial itu, di dalam penglihatan yang parsial itu, Marta masih memberikan ruang bahwa Tuhan sedang bekerja. Dan karena itu dia tidak perlu atau belum mengerti semuanya. Tuhan yang ada di sini, sedang datang ke dalam dunia, Dia melakukan tindakan re-creatio, Dia melakukan kebangkitan, tapi itu tidak ada di dalam pikirannya Marta. Dia tidak sanggup mencerna, tapi dia percaya bahwa Tuhan yang sedang datang ini adalah Tuhan yang juga sedang bekerja, yang akan melakukan sesuatu, meski Marta tidak tahu apa itu. Inilah iman yang Saudara dan saya perlu belajar dari seorang Marta. Percaya kepada Pribadi Yesus, bahkan sebelum Yesus melakukan apa dalam kehidupan kita. Ini bisa membebaskan kita dari kecenderungan ketidaktulusan dan jiwa yang oportunistik, yang memakai/ memperalat Tuhan, dst., karena iman kita iman yang tertuju kepada Pribadi Yesus Kristus, sang Anak Allah itu.

Waktu Saudara dan saya Perjamuan Kudus, kita melihat ke belakang, Yesus yang sudah mengorbankan diri-Nya di atas kayu salib; juga Saudara dan saya yang adalah tubuh Kristus sudah dipersatukan untuk melalui jalan salib, masuk dalam hidup pengorbanan yang sama, di sini dan sekarang. Sekaligus ini adalah satu antisipasi eskatologis ke depan, pesta yang akan disediakan Tuhan in the future. The past, present, and future.

Kiranya Tuhan memberkati kita semua.


Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah (MS)

Gereja Reformed Injili Indonesia Kelapa Gading

Download Ringkasan