Hidup dalam Kerajaan Allah

Ketika orang membaca perumpamaan tentang uang mina dan perumpamaan tentang talenta, seringkali itu menjadi pembahasan tentang bakat atau karunia, seolah-olah dua perumpamaan ini sekedar berurusan dengan karunia-karunia atau bakat-bakat yang kita miliki, yang Tuhan taruh dalam kehidupan kita. Cara pembacaan sedemikian, adalah pembacaan yang sifatnya reduktif. Tidak salah menggunakan kedua  perikop itu untuk bicara mengenai karunia, talenta, bakat, yang Tuhan anugerahkan sebagai sesuatu yang baik dalam hidup kita, tetapi kalau memperhatikan konteksnya, ini adalah perumpamaan yang Tuhan pakai untuk bicara mengenai sesuatu yang lebih luas, yaitu cara hidup orang percaya di dalam Kerajaan Allah.

Ini satu pembahasan yang begitu luas. Yesus Kristus biasa menggunakan hal-hal sederhana untuk menjelaskan sesuatu yang lebih kompleks. Dia memakai perumpamaan-perumpamaan yang sederhana untuk berbicara mengenai hidup yang lebih kompleks. Di bagian ini Dia memakai perumpamaan tentang uang mina, dan di perikop lain Dia pakai perumpamaan tentang talenta, untuk bicara mengenai seluruh dimensi kehidupan kita. Mina dan talenta bukan hanya bicara mengenai bakat, bukan hanya bicara mengenai karunia-karunia yang kita miliki, tetapi berbicara lebih luas mengenai segala sesuatu yang baik yang pernah Tuhan titipkan di dalam kehidupan kita, bagaimana kita menggunakan semua yang baik yang pernah Tuhan titipkan dalam hidup ini untuk berespons kepada Allah, hidup dalam Kerajaan Allah. Maka di ayat 11 ditulis dengan jelas: Untuk mereka yang mendengarkan Dia di situ, Yesus melanjutkan perkataan-Nya dengan suatu perumpamaan (ayat 11a). Dia memberi perumpamaan, alasannya sebab Ia sudah dekat Yerusalem; dan bukan cuma karena itu, waktu Dia sudah dekat ke Yerusalem, orang-orang yang mendengar Dia, menyangka bahwa Kerajaan Allah akan segera kelihatan (ayat 11b).

Para pendengar Yesus Kristus adalah orang-orang Israel yang sudah lama berada di bawah tekanan bangsa Romawi, hidup dari satu penjajahan ke penjajahan yang lain. Mereka sudah lama sekali mengharapkan pembebasan, mengharapkan keturunan Daud yang akan menegakkan Kerajaan Israel seperti masa kejayaan Daud. Mereka sedang menantikan anak Daud itu; tiba-tiba Yesus Kristus datang, dan dalam pengajaran-Nya, Dia bilang, “Waktunya sudah dekat.” Pengharapan pun muncul di dalam hati mereka; dan pengharapan itu semakin kuat ketika melihat Yesus Kristus melakukan tanda-tanda besar, mujizat-mujizat, yang memberikan indikasi Dia adalah Mesias. Waktu Yohanes ragu-ragu lalu mengutus 2 muridnya pergi bertanya siapakah Yesus, Yesus bilang, “Katakan kepada Yohanes apa yang engkau lihat, orang lumpuh berjalan, orang buta melihat, ....” Orang lumpuh berjalan dan orang buta melihat, adalah tanda yang dicatat Yesaya terkait dengan mesias. Mujizat mencelikkan mata orang buta adalah mujizat yang tidak pernah dikerjakan nabi-nabi sebelumnya, maka menyembuhkan mata orang buta adalah salah satu indikator kuat bahwa Dia adalah Mesias; dengan mencelikkan mata orang buta, Yesus menegaskan Dia adalah Mesias. Maka  orang-orang mulai menaruh pengharapan kepada Dia, yang sedang berjalan menuju Yerusalem. Mereka berharap, di Yerusalem Dia kembali menegakkan kerajaan Daud.

Sebenarnya apa yang salah? Bukankah pengharapan mereka diletakan kepada Kristus? Mereka sedang berhadapan dengan Kristus sebagai Mesias dan menaruh pengharapannya kepada Dia, tetapi pengajaran dalam perumpamaan ini (ayat 12 dst.) ini diberikan untuk mengoreksi pengharapan mereka.

Hal pertama yang saya ajak Bapak/Ibu pikirkan, kita hidup di dunia yang penuh dengan penderitaan dan pergumulan, sehingga untuk bisa bertahan, kita butuh pengharapan. Pengharapanlah yang membuat kita tetap bisa setia, tetap bisa berdiri tegak berhadapan dengan seluruh pergumulan itu sampai titik akhir. Tetapi, pengharapan yang bisa membuat kita tetap berdiri tegak adalah pengharapan yang dibangun di atas dasar-dasar yang benar. Kalau kita punya pengharapan, tetapi pondasi pengharapan tersebut pondasi yang salah, maka yang dihasilkan adalah kekecewaan, dan malah akan menghancurkan relasi kita dengan Tuhan. Kalau saya mau membangun pengharapan, dan relasi saya dengan Tuhan tetap baik di tengah-tengah seluruh kesulitan, maka pengharapan itu harus dibangun di atas dasar yang benar.

Misalkan kita punya relasi yang baik dengan seseorang yang begitu kita cintai, lalu janjian bahwa dia akan menelpon jam 7. Jam 7 kita tunggu-tunggu, telponnya tidak masuk juga. Kita mulai gelisah. Jam 7.05, jam 8.00, jam 8.30, telpon masih belum berdering, maka setelah itu handphone kita simpan di kamar dan kita tidak mau lihat lagi. Tadinya hal itu sesuatu yang sangat dinanti-nantikan, sangat diharapkan, tetapi kalau itu mengecewakan, maka relasi kita bisa rusak.
Yesus tahu, supaya orang bisa bertahan dan relasi mereka dengan Allah tetap baik, maka pengharapan-pengharapan mereka harus dibangun di atas dasar yang benar, maka Yesus mengoreksi pengharapan itu. Waktu Yesus mengoreksi, Dia memberikan pondasi yang benar. Dia bilang betul Kerajaan Allah sudah datang, tetapi kenyataan kehadiran Kerajaan Allah itu masih begitu lama. Kerajaan Allah sudah datang karena Raja dalam Kerajaan Allah itu sudah ada di dalam dunia. Dia sudah menyatakan karya-karya Kerajaan Allah. Mujizat-mujizat yang Dia buat menyatakan kekalahan Iblis dan dosa beserta akibat-akibat dosa. Mujizat-mujizat yang Dia buat menyatakan pemulihan secara jasmani maupun pemulihan secara spiritual. Kerajaan Allah sudah hadir, tetapi kenyataan dari seluruh kerajaan itu secara utuh, Yesus bilang, masih sangat lama. Maka di ayat 12 Dia memakai perumpamaan, "Ada seorang bangsawan berangkat ke sebuah negeri yang jauh untuk dinobatkan menjadi raja di situ dan setelah itu baru kembali.”

Mereka sedang berharap Dia menjadi Mesias yang menegakkan kerajaan Daud, dan Yesus bilang ini seperti perjalanan yang jauh. Mereka melihat perjalanan menuju Yerusalem adalah perjalanan yang begitu monumental dan sudah dekat, tapi Yesus bilang, “Tidak, kamu harus tafsirkan perjalanan menuju Yerusalem ini menurut yang Saya tafsirkan, ini perjalanan yang begitu panjang, yang begitu jauh”. Yesus mengutip sejarah; Herodes Agung dan anaknya yang bernama Herodes Arkelaus, untuk mendapatkan pemerintahan atas Yudea termasuk Yerusalem, harus pergi jauh ke Roma, dinobatkan menjadi raja di sana, baru kemudian kembali. Untuk menegakkan kuasa mereka sebagai raja, butuh waktu yang panjang. Yesus meminjam catatan sejarah ini untuk menunjukkan bahwa perjalanan menuju Yerusalem ini hanya satu bagian dari perjalanan yang begitu panjang.

Kita sekarang mengerti bahwa perjalanan menuju Yerusalem sebenarnya perjalanan menuju Golgota, di sana Yesus akan berjumpa dengan penderitaan, dengan kematian, bahkan dengan neraka ketika Ia mengatakan “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku”. Sekaligus juga kita melihat bahwa perjalanan menuju  Yerusalem adalah bagian dari perjalanan yang panjang menuju kemuliaan, karena melaluinya Iblis dikalahkan, dosa dan maut ditaklukkan oleh Kristus, melalui kebangkitan-Nya, kenaikan-Nya kembali kepada Bapa, memperoleh seluruh kuasa yang seharusnya Dia miliki, dan baru kemudian Dia akan datang kembali. Yesus di sini bicara mengenai seluruh jalan yang disebut jalan salib. Seorang penulis mengatakan, jalan salib adalah jalan yang paling panjang di dunia ini; bukan karena jaraknya, bukan karena lamanya waktu yang dibutuhkan untuk menempuhnya –jaraknya tidak begitu jauh—melainkan kualitas penderitaan yang harus ditanggung Yesus Kristus selama menjalani jalan salib.

Jika kita berada dalam satu ruang kerja dengan orang yang menyenangkan, waktu yang panjang terasa pendek. Seorang pemuda dan pemudi yang sedang pacaran, waktu mereka berjalan jauh, itu tidak terasa, mereka pikir ‘koq cepat sekali, ya’, dan untuk kembali lagi pun mereka rela. Tapi kalau kita berada satu lift dengan orang yang benar-benar tidak kita sukai, lift yang naik cuma beberapa detik saja rasanya berjam-jam.  Mengapa? Karena kita berada dalam kondisi yang tidak menyenangkan. Jalan salib adalah sebuah perjalanan yang panjang, bukan karena jarak atau waktu tempuhnya, melainkan kualitas penderitaan dan pergumulan yang harus ditanggung oleh Yesus Kristus, bukan saja secara fisik tapi juga spiritual.

Kalau saya gambarkan secara karikatuural, perjalanan terpanjang di dalam dunia ini, bisa dibilang adalah perjalanan dari surga menuju ke bumi. Itulah perjalanan yang ditempuh Yesus Kristus. Tetapi ada satu perjalanan yang lebih panjang daripada itu, yaitu perjalanan Yesus Kristus dari bumi kembali ke surga; dan Dia juga harus singgah di satu titik, yang bukan hanya penderitaan fisik namun juga penderitaan spiritual sesungguhnya, yang disebut sebagai neraka, keterpisahan dari Allah. Yesus Kristus tidak pernah mengalami itu di dalam kekekalan. Ketika Dia berinkarnasi selama 33½ tahun, Dia tidak pernah mengalami keterpisahan dari Allah. Namun, satu kali Dia harus mengalami keterpisahan dari Allah di dalam seluruh perjalanan hidup-Nya, yaitu ketika Dia menanggung dosa Bapak/Ibu dan saya di atas Bukit Golgota. Perjalanan ini adalah sebuah perjalanan yang begitu panjang.

Sejak kecil, kita sering membaca cerita-cerita tentang cinta, tentang seorang pangeran yang rupawan dan memiliki kekuasaan begitu besar, menempuh perjalanan sangat jauh dan mengorbankan banyak hal  untuk menjumpai seorang putri cantik jelita. Membaca cerita-cerita seperti itu, kadang-kadang hati kita tergugah. Tapi sadarkah Bapak/Ibu, bahwa dalam teks yang kita baca hari ini, Yesus sedang menyatakan kisah cinta yang sesungguhnya dari Oknum Kedua Allah Tritunggal kepada umat-Nya, Gereja Tuhan yang sejati? Oknum Kedua Allah Tritunggal, Anak Allah yang tunggal, yang seharusnya satu-satunya pewaris Kerajaan Allah itu, telah membuktikan cinta-Nya dengan menempuh sebuah perjalanan yang panjang, yang tidak bisa ditempuh oleh pangeran manapun di dunia ini. Tetapi Dia menempuh itu, bukan untuk berjumpa dengan putri cantik jelita melainkan berjumpa dengan Bapak/Ibu dan saya, yang di Alkitab disebut bukan hanya sebagai orang berdosa, tetapi --para nabi menyebutnya-- para pelacur yang telah melacurkan dirinya kepada Iblis dan dosa. Ini bukan putri yang cantik jelita, ini adalah putri yang betul-betul buruk rupa. Cerita Alkitab berbeda sekali dengan cerita-cerita yang Bapak/Ibu dan saya dapatkan. 

Kalau ini adalah kisah cinta Allah bagi kita, maka yang terpenting bukan mengerti cerita ini --mengerti itu satu hal-- yang paling terpenting adalah kita secara personal terlibat di dalam cerita ini. Setelah kita mengerti, kita musti minta anugerah Tuhan, supaya Tuhan di dalam belas kasihan-Nya melibatkan kita masuk ke dalam cerita yang indah ini, cerita cinta Allah yang mengasihi umat-Nya, Bapak/Ibu dan saya. Jika kita adalah orang yang telah diselamatkan oleh Allah, berarti kita telah dibawa masuk oleh Allah dalam narasi yang besar ini. Tetapi hal kedua yang terpenting, kita perlu berpikir bagaimana kita meresponi kisah yang telah kita mengerti, dan di dalamnya kita telah terlibat. Teks bagian ini berbicara mengenai respons yang seharusnya dari Bapak/Ibu dan saya, sebagai orang-orang yang telah di bawa masuk ke dalam cerita yang besar, kisah cinta antara Allah dengan umat pilihan-Nya.

Sebelum masuk ke dalam beberapa hal terkait dengan respons tersebut, kita perlu memperhatikan bahwa pada masa Yesus Kristus datang ke dunia, di Israel, umat yang disebut sebagai umat Allah ini adalah umat yang sangat tergila-gila dengan Kerajaan Allah, tetapi sayangnya berdasarkan pengertian yang salah. Hari ini, Gereja Tuhan umumnya adalah orang-orang yang mengerti dengan benar mengenai Kerajaan Allah, tetapi sayangnya, mereka adalah orang-orang yang tidak peduli dengan Kerajaan Allah. Ini mengerikan. Allah menuntut Bapak/Ibu dan saya memberi respons yang tepat.

Saya mengajak kita memikirkan 3 macam respons di dalam teks ini. Dua respons akan kita lihat secara singkat; satu respons, yang adalah respons seharusnya, akan kita pikirkan lebih jauh.
Yang pertama, yaitu respons dari orang-orang di ayat 12-14, khususnya ayat 14: Akan tetapi orang-orang sebangsanya membenci dia, lalu mengirimkan utusan menyusul dia untuk mengatakan: Kami tidak mau orang ini menjadi raja atas kami. Ini bicara mengenai penolakan; penolakan terhadap sang tuan, penolakan terhadap Allah sebagai pemilik seluruh hidup kita.

Di sini Yesus sebenarnya mengingatkan bangsa Israel kepada sejarah. Arkhelaus, anak Herodes Agung, sebelum pergi ke Roma untuk ditahbiskan menjadi raja,  membunuh kira-kira 3000 orang Yahudi, sehingga orang Yahudi begitu sakit hati kepadanya. Maka sebelum dia berjumpa kaisar Romawi, orang Yahudi sudah  lebih dulu mengutus sekitar 50 tua-tua kepada kaisar untuk mengatakan ‘kami tidak ingin orang ini menjadi raja atas kami’; dan mereka berhasil. Herodes Arkelaus bisa kembali untuk memerintah di Yerusalem atas orang-orang Israel, tapi dia tidak pernah bisa menjadi raja secara hukum; dia tidak pernah ditahbiskan jadi raja. Artinya, menurut cerita sejarah, Herodes Arkelaus gagal dan orang Israel berhasil dengan penolakan mereka. Tetapi Yesus sedang berbicara mengenai satu dimensi yang lain; waktu Dia mengatakan “mereka menolak”, tenses-nya menunjukkan suatu ongoing attitude. Ini adalah sikap yang terus-menerus terjadi di dalam dunia, bahkan dalam konteks orang Israel.

Penolakan adalah hal yang akan terus-menerus kita lihat dalam catatan sejarah masa lalu; hari ini pun kita akan melihat orang-orang yang menolak Allah, menolak Kristus; di masa yang akan datang pun kita akan berjumpa dengan orang-orang yang menolak Kristus. Tetapi Kristus berkata, jika kamu menolak Herodes, kamu berhasil, tetapi kamu menolak Anak Manusia, kamu tidak akan berhasil --di dalam teks selanjutnya Dia mengatakan “lalu dia kembali sebagai raja”. Yesus mau mengatakan kepada Bapak/Ibu dan saya, kita musti memperhatikan sikap kita karena Dia pasti akan kembali, dan Dia pasti akan kembali sebagai Raja. Ini bicara mengenai Allah yang absolut, yang rencana-Nya tidak mungkin bisa gagal.

Saya pernah diminta kotbah Natal tentang Allah yang absolut. Dalam kotbah saya mengatakan, “Kalau Allah itu absolut, maka Dia self-existence, Dia self-sufficient. Dia punya dua sifat ini, maka Allah yang absolut, Allah yang sejati, tidak butuh manusia. Kita butuh Dia, tapi Dia tidak butuh kita. Dia mau menjadi manusia bukan karena Dia butuh kita, tapi Dia tahu kita butuh Dia, maka Dia datang.” Selesai ibadah, seorang tua mengatakan kepada saya, “Saya yakin kotbah tadi sesat, waktu kamu bilang Allah tidak butuh manusia”; dia begitu serius dengan kalimatnya. Lalu saya tanya, “Pak, ketika kita tidak memanggil Dia, Tuhan, atau menolak Dia sebagai Tuhan, apakah Dia masih tetap Tuhan?” Jawabnya, “Masih.” Kalau begitu, Tuhan tidak butuh kita memanggil Dia “Tuhan”, untuk jadi Tuhan.

Inilah Allah yang disembah oleh Gereja Tuhan. Inilah Allah yang disembah oleh Israel, Allah yang absolut, yang tidak butuh umat-Nya, maka penolakan kita untuk melayani Dia, penolakan kita untuk menyembah Dia, tidak akan menghasilkan apa-apa. Satu saat nanti Dia akan tetap kembali sebagai Tuhan, sebagai Raja; dan waktu Dia kembali, Dia akan menuntut pertanggungjawaban. Inilah masalahnya. Bukan soal menolak atau menerima, tapi bahwa satu saat nanti Dia pasti kembali sebagai Raja --dan teks ini mengatakan—Raja yang menuntut pertanggungjawaban, oleh sebab itu kita musti menghindari sikap yang pertama, sikap yang menolak Dia dan menyangkali pelayanan-pelayanan yang Dia percayakan.

Waktu bicara mengenai pelayanan, kita musti melihatnya secara luas; tentu saja tidak hanya pelayanan di gereja, melainkan dalam seluruh dimensi kehidupan kita. Karena Dia Pencipta dan kita ciptaan, kita tidak punya pilihan lain kecuali hidup mempermuliakan Dia. Semua ciptaan diciptakan untuk mempermuliakan Dia, tetapi Tuhan menciptakan kita sebagai ciptaan yang bebas, gambar dan rupa Allah,  satu-satunya ciptaan yang diberi kemungkinan untuk memuliakan atau tidak memuliakan. Biarlah kita memakai kebebasan yang ditundukkan kepada Allah, untuk mempermuliakan Dia. Jangan melakukan pekerjaan yang sia-sia, yang tidak berguna, yaitu memberontak terhadap Allah.

Jadi apa yang harus kita lakukan? Kita perlu belajar dari hamba yang pertama dan hamba yang kedua. Kita  harus berjuang sedemikian rupa untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang berguna, pekerjaan-pekerjaan yang sesuai dengan hati Allah dan menyenangkan hati Allah, karena Dia akan menuntut pertanggungjawaban. Saya memilih kata ‘berguna’ karena kata inilah yang dipakai Tuhan Yesus; entah mengapa LAI menerjemahkannya dengan ‘berdagang’ di ayat 13: Ia memanggil sepuluh orang hambanya dan memberikan sepuluh mina kepada mereka, --lalu mungkin karena berkaitan dengan uang/modal maka kemudian LAI memakai kata ‘berdagang’-- katanya: Pakailah ini untuk berdagang sampai aku datang kembali. Tetapi waktu Yesus bicara, Lukas mencatat memakai bahasa aslinya yaitu pragmateusasthe, yang hari ini kita menerjemahkannya sebagai pragmatis. Ini bukan bicara mengenai berdagang; orientasinya bukan aktifitas perdagangannya, yang ditekankan adalah hasilnya –“kamu harus berhasil”. Pragmatis bicara mengenai sesuatu yang berguna, maka penekanan di bagian ini adalah ‘dengan apa yang Aku berikan kepadamu, kamu harus berhasil/berguna’. Jadi perintahnya adalah: bergunalah (useful), berbuahlah (fruitful). Inilah yang diperintahkan Allah kepada kesepuluh hamba yang mendapatkan modal dari tuannya, yaitu melakukan hal-hal yang menghasilkan sesuatu bagi Kerajaan Allah.

Sampai di titik ini, Bapak/Ibu dan saya bisa melihat bahwa hidup di dalam Kerajaan Allah adalah kehidupan yang terus-menerus terlibat dalam kerja keras untuk untuk menghasilkan buah bagi Kerajaan Allah. Jika kita umat Allah, yang telah ditebus oleh Allah, dan hari ini kita ada di dalam Kerajaan Allah, maka respons kita yang seharusnya adalah kerja keras terus-menerus untuk menghasilkan buah, menghasilkan “profit” bagi Kerajaan Allah. Kehormatan kita di dalam Kerajaan Allah bukanlah berpangku tangan, melainkan kerja keras seperti budak, untuk jadi berguna dan menghasilkan buah bagi Kerajaan Allah.

Saya berasal dari Kupang. Di Kupang, kalau ada perayaan Natal atau Paskah, biasanya ada panitia. Dan buku acaranya cukup tebal, lalu ada dua halaman yang isinya nama-nama panitia. Nama-nama yang tertulis memang banyak, tapi yang kerja paling-paling 3-5 orang. Nama yang tertulis adalah satu kehormatan; kehormatan itu mereka dapatkan dengan tertulis namanya namun tetap berpangku tangan. Jika kita ada di dalam Kerajaan Allah, spirit kita tidak demikian. Ini adalah kerja keras terus-menerus untuk menghasilkan buah bagi Kerajaan Allah. Kata pragmateusasthe menegaskan hal ini.

Indikasi yang kedua adalah tentang upah yang diberikan. Waktu kita membaca ‘satu mina jadi 10 mina, lalu dapat kepercayaan 10 kota’ sepertinya secara matematis dan ekonomis, besar sekali keuntungannya. Bayangkan, dapat modal 1 mina, lalu untung jadi 10 mina, dan Tuhan tidak bilang “oke, Saya 6 mina, kamu 4 mina karena modal saya 1”, melainkan 1 mina jadi 10 mina, dan 10 mina itu tetap milik kita lalu ditambahkan 10 kota. Kita menginginkan yang seperti ini, tapi kita seringkali lupa, bahwa mendapatkan 10 kota adalah pekerjaan yang lebih besar daripada 10 mina. Mengurus satu kota saja seperti Jakarta, pusingnya minta ampun, apalagi kalau Tuhan percayakan mengurus 10 kota! Seringkali yang kita bayangkan adalah hal yang menyenangkan, kepercayaan yang begitu besar yang Allah berikan, tetapi yang kita lupa adalah tanggung jawab yang begitu berat ketika mengerjakan 10 kota ini.

Allah memberi upah, sekaligus memberikan tanggung jawab yang besar.  Butuh kerja keras untuk menggenapi tanggung jawab ini. Saya yakin, orang yang mendapat 10 kota ini tidak akan keluar teriak-teriak mengalami euforia yang membuatnya lupa diri; kalau dia umat Allah yang sejati, dia tahu, ini pergumulan yang lebih berat daripada sebelumnya. Bapak/Ibu bersyukur kalau GRII Kelapa Gading Tuhan tambahkan satu ruangan lebih luas –itulah pengharapan kita—dan itu berarti, kalau jumlah jemaat sama seperti hari ini maka ruangan itu nanti terlihat kosong, sehingga perjuangan Bapak/Ibu dengan berkat yang Tuhan kasih, menjadi  lebih berat. Allah memberi berkat, dan yang Dia mau adalah kita melihat berkat itu sebagai panggilan untuk bekerja lebih keras dari sebelumnya. Ini adalah cara hidup, meresponi cinta kasih Tuhan, di dalam Kerajaan Tuhan.
Sekarang saya akan masuk lebih detail dengan membandingkan perumpamaan tentang uang mina dan perumpamaan tentang talenta, yang memang ada kemiripan. Di dalam perumpamaan tentang talenta, cuma 3 hamba yang dipanggil; sedangkan perumpamaan tentang uang mina, ada 10 hamba. Kepada 3 hamba dalam perumpamaan tentang talenta, Tuhan memberi talenta yang berbeda-beda --hamba pertama dapat 5, hamba kedua dapat 2, hamba ketiga dapat 1-- sementara dalam perumpamaan tentang uang mina, 10 hamba mendapatkan jumlah yang sama, masing-masing 1 mina. Kedua cerita ini kira-kira sama, tapi penekanannya berbeda.

Penekanan dalam pembicaraan mengenai talenta adalah karunia atau talenta yang kita dapatkan itu berbeda antara satu orang dengan lainnya; penekanan pada perbedaan karunia yang diberikan. Di sini kita tidak boleh mempersempit ‘talenta’ hanya mengenai bakat; talenta adalah segala sesuatu yang baik yang pernah Tuhan titipkan dalam kehidupan kita.

Jika seorang muda yang belum punya istri/suami berdoa, “Tuhan, saya ingin punya istri/suami”. Kalau Tuhan menggenapi doa itu dengan memberikan istri/suami, maka Tuhan tahu bahwa istri/suami adalah pemberian yang baik bagi orang ini, sesuatu yang bisa diperhitungkan sebagai talenta yang Tuhan titipkan dalam kehidupannya. Jika sepasang suami istri sudah menikah bertahun-tahun dan tidak punya anak, lalu mereka berdoa, dan Tuhan jawab dengan memberikan anak, maka ini termasuk pemberian yang baik yang Tuhan berikan; dan kita musti membacanya sebagai talenta yang Tuhan berikan. Jika Bapak/Ibu melihat GRII Kelapa Gading sebagai satu hal yang baik di tengah-tengah wilayah ini, kita pun musti melihatnya sebagai talenta. Jika kategori-kategori pelayanan tempat Bapak/Ibu berada adalah alat untuk kita mengalami pertumbuhan spiritual, ini pun bagian dari talenta, sesuatu yang baik yang Allah percayakan kepada kita.

Pekerjaan dan usaha yang Bapak/Ibu perjuangkan dan doakan terus-menerus, jika hal itu masih ada di tangan kita hari ini, maka Allah melihat itu sebagai hal yang baik untuk dipercayakan kepada kita; dan inilah talenta. Semua hal yang baik yang pernah Tuhan titipkan dalam hidup kita, harus dipahami sebagai talenta, sebagai karunia yang Tuhan percayakan kepada kita; dan antara satu orang dengan orang yang lain, talenta yang Tuhan kasih berbeda-beda.

Dalam perumpamaan tentang uang mina, kita melihat perspektif yang lain. Kalau dalam perumpamaan tentang talenta, karunia yang dimiliki berbeda, hal baik yang didapatkan berbeda, maka dalam perumpamaan tentang uang mina masing-masing mendapatkan hal yang sama. Ini mau menekankan akan tanggung jawab yang sama. Kita masing-masing boleh saja memiliki hal baik yang berbeda, tetapi kita punya satu tanggung jawab yang sama, yaitu memperkembangkan hal yang baik yang Tuhan telah berikan. Hal baik itu musti berguna, musti menghasilkan buah bagi Kerajaan Allah (useful dan fruitful). Kita punya banyak hal yang berbeda-beda, tetapi kita punya tanggung jawab yang sama, tuntutan untuk menghasilkan buah, bekerja keras untuk menyatakan kemuliaan Tuhan.

Saya dan istri berdoa kira-kira 5 tahun baru mendapatkan 1 anak perempuan. Setelah punya anak, pergumulannya adalah supaya anak ini kenal Tuhannya. Setiap hari paling tidak kami menyediakan waktu ½ jam bersama-sama anak ini belajar berdoa, belajar merenungkan Firman Tuhan. Melakukan itu, pergumulannya berat; dan semakin berat ketika giliran saya menyampaikan Firman Tuhan. Kalau istri saya yang menyampaikan, anak ini bisa melotot 15-20 menit, tapi giliran saya, baru 5 menit dia sudah bilang “Pa, mau tidur.” Menjengkelkan. Satu waktu, istri saya pergi melayani di Palembang selama 3 hari, dan 3 hari itu saya harus bersama anak ini untuk renungan. Itu perjuangan setengah mati. Waktu cerita tentang Daniel, saya harus jadi Daniel; cerita tentang singa, saya harus jadi singa. Dan anak itu cuma tahan 10 menit! Perjuangan untuk anak ini kenal Tuhannya berat sekali, tapi kami tidak pernah berhenti. Alasannya bukan semata-mata karena saya mengasihi anak ini, tetapi karena saya tahu, ketika Tuhan memberikan anak ini setelah kami berdoa 5 tahun lalu dan kira-kira 3 tahun lalu Dia jawab, maka kalau hari ini Tuhan datang dan tanya, “Tama, yang dari 0 sampai 3 tahun sekarang jadi apa?” saya harus bisa mempertanggungjawabkannya.

Bapak/Ibu, ketika pertama masuk di GRII Kelapa Gading, seperti apa GRII Kelapa Gading? Lalu setelah Bapak/Ibu ada di sini 5 tahun, 10 tahun, belasan tahun, jadi apa GRII Kelapa Gading? Lebih baikkah? Kita  musti mempertanggungjawabkannya. Demikian juga anak, suami, istri, pekerjaan, satu saat nanti Tuhan akan meminta pertanggungjawaban, karena itu semua adalah hal yang baik yang Tuhan telah berikan dalam hidup kita. Kita tidak bisa tidak mempertanggungjawabkan itu.

Perbandingan yang pertama menunjukkan bahwa karunia berbeda, tanggung jawab sama. Sekarang kita melihat perbandingan yang kedua, yaitu dari nilai talenta dan nilai uang mina. Satu mina nilainya kira-kira sama dengan upah 100 hari kerja (4 bulan kerja). Satu talenta nilainya 60 mina, jadi ±20 tahun kerja. Maka mendapat 5 talenta berarti upah 100 tahun kerja, dapat 2 talenta berarti upah 40 tahun kerja, dan dapat 1 talenta –meski hanya 1 talenta—berarti mendapat upah kerja 20 tahun. Itu semua nilai yang sangat besar. Perumpamaan tentang talenta memberi penekanan kepada kita, bahwa karunia kita berbeda-beda, hal yang baik yang kita terima berbeda-beda, namun semua harus disyukuri karena itu adalah pemberian yang sangat berharga.

Persoalannya, waktu pertama kali kita menyadari ada hal baik yang Tuhan berikan, kita bersyukur; tetapi setelah waktu yang lama kita bersama dengan hal yang baik tersebut, nilainya seolah-olah jadi berkurang. Pertama kali seseorang menikah, begitu bangun besok paginya, dia terkejut ada seorang laki-laki atau perempuan di sebelahnya; tapi itu keterkejutan yang membuat dia happy. Pertanyaannya, setelah menikah 15 tahun, masih samakah? Mungkin masih terkejut juga, tapi cara lihatnya sudah beda “lho, masih dia juga??” karena orang itu sudah terlalu lama bersama-sama dengan kita sehingga kita gagal untuk mensyukurinya.

Pertama kali kami masuk MRII Depok tahun 2011, tempat itu begitu terpencil. Setelah berkembang dari 8-9 orang menjadi 20-30 orang, pindah ke rumah lain yang lebih besar. Begitu masuk tempat itu, jemaat menyambut dengan ucapan syukur, bahkan sampai ada yang bertepuk tangan. Minggu-minggu pertama kami beribadah dengan penuh sukacita; setelah berjalan kira-kira 1½ tahun, sudah mulai lupa mensyukuri. Tapi di sisi lain, saya mulai menyadari, bahwa dari ucapan syukur berubah jadi perasaan tidak puas. Sekarang kami memiliki tempat yang cukup luas, hati kami berapi-api karena Tuhan percayakan satu tempat yang kalau dulu dipikirkan sepertinya tidak mungkin. Tapi apakah setelah 5-6 tahun nanti kami masih menghadapi barang yang sama ini dengan ucapan syukur?? Seringkali kita gagal, bukan karena kita tidak memiliki hal-hal baik yang Tuhan berikan dalam hidup kita; kita gagal, karena gagal untuk melihat bahwa hal baik yang pernah Tuhan titipkan dalam hidup kita itu adalah hal yang baik; atau kita tidak sadar lagi bahwa itu ada pada kita.

Kalau 1 talenta itu --meskipun hanya 1-- digambarkan sebagai sesuatu yang begitu berharga yang harus disyukuri, maka kemudian Tuhan seimbangkan cara pikir kita dengan membawa pada perumpamaan yang mirip, namun yang ini nilainya 1 mina. Satu mina itu berharga, harus disyukuri; tapi bagi orang Israel, 1 mina itu terbatas. Semua yang Tuhan berikan kepada kita harus disyukuri, karena itu berharga; tetapi kita juga musti sadar bahwa semua yang baik yang kita punya adalah hal-hal yang terbatas, sehingga harus disyukuri tapi tidak boleh sombong.

Disyukuri, tapi tidak boleh sombong, dan tidak boleh berhenti di situ. Kalau kita tidak sombong, maka sikap yang seharusnya adalah kita tidak puas diri dengan yang kita punya. Ada semacam tuntutan untuk mengembangkannya. Dan dalam Kerajaan Allah ada satu rumus –demikian nampaknya melalui perumpamaan ini-- bahwa stagnansi adalah kejahatan. Satu jadi 10, engkau adalah hamba yang baik. Satu jadi 5, engkau adalah hamba yang baik. Satu tetap 1, dan bukannya hilang, engkau adalah hamba yang jahat. Saya kira kita  dapat melihat perspektif ini. Waktu berkembang, 1 talenta jadi 2, Tuhan tidak bilang “koq cuma 2?”, Tuhan bilang “engkau hamba yang baik”. Waktu 1 tetap 1, bukan rugi, bukan minus, bukan 0, tetap 1, Allah bilang “engkau hamba yang jahat”.  Sekali lagi, Bapak/Ibu dan saya perlu mempertanggungjawabkan hal-hal yang Tuhan berikan dengan cara menjadikannya lebih baik. Memang itu sudah baik, tetapi kita harus menjadikannya lebih baik, kita harus memakainya untuk kemuliaan Tuhan.

Kelompok yang pertama adalah kelompok yang menolak Allah. Kelompok yang kedua adalah kelompok yang mensyukuri, menghargai, hal-hal baik yang Tuhan berikan --keselamatannya, semua yang pernah Tuhan titipkan-- dan berusaha mengembangkannya demi kemuliaan Allah. Kelompok yang ketiga adalah hamba yang ketiga; dia tidak kerja apa-apa, tidak berbuat apa-apa, maka kita bisa mendefinisikannya sebagai ketidakpedulian.

Hamba yang ketiga ini tidak melawan, tapi juga tidak peduli. Perhatikan apa yang dia lakukan. Dia ambil uang mina itu, membungkusnya baik-baik dalam saputangan, dan disimpan. Para penafsir sepakat bahwa ini bahkan bukan tindakan minimal untuk mengamankan kekayaan. Pada masa itu, kalau orang mau mengamankan harta kekayaannya, bukan dengan ditaruh di saputangan, tetapi  --sekalipun dia malas-- dia akan pinjamkan kepada orang yang menjalankan uang supaya nanti mendapat kembali modal beserta bunganya. Inilah yang dituntut tuan dalam perumpamaan itu. Maka di sini berarti hamba ketiga ini ada spirit ketidakpedulian terhadap hal yang baik yang Tuhan berikan; dan nampaknya Tuhan melihat ini sebagai kejahatan.

Bapak/Ibu dan saya tidak bisa bersikap sebagai orang yang tidak peduli; mengapa? Karena ketidakpedulian lahir dari 2 cara pikir ini; yang pertama, hamba itu mengatakan, “saya tahu engkau jahat, engkau mengambil sesuatu yang tidak engkau tanam”, maksudnya ‘engkau itu jahat, kalau saya jalankan uang ini dan rugi, saya dihukum, kalau saya untung, engkau akan ambil, jadi saya tidak dapat apa-apa’. Cara pikir ‘kami tidak dapat apa-apa’ ini sepertinya jadi cara pikir Gereja di mana-mana, tapi pertanyaanya: memangnya Tuhan punya kewajiban memberi upahkah?? Dia adalah Pencipta; ciptaan sudah seharusnya mempermuliakan Dia, ciptaan tidak bisa menuntut seolah-olah Tuhan Pencipta itu harus memberi upah. Sebaliknya, kalau kita mendapat upah, itu anugerah. Hamba ini punya cara pikir salah, dia menuntut sesuatu yang dia tidak layak dapatkan.
Yang kedua, cara pikir yang salah lahir dari masalah yang paling mendasar, yaitu dia tidak kenal siapa tuannya. Tuannya memberi lebih dari yang dia harapkan. Hamba ini bilang “kalau saya untung, saya tidak dapat apa-apa”, tapi lihat 2 hamba yang sebelumnya, di situ tuannya yang tidak dapat apa-apa. Tuannya kasih modal 1 mina, keuntungan 10 mina tetap jadi milik hamba tersebut dan ditambah 10 kota. Bisa dibilang tuannya rugi. Tuannya ini memberi sesuatu yang berharga; dan waktu orang itu kerja, dia mendapatkan segala sesuatu hasil dari pekerjaannya. Dengan demikian, cara pikir bahwa tuan saya jahat, mengambil sesuatu yang tidak dia berikan, faktanya terbalik; tuan ini adalah tuan yang memberikan lebih dari yang pernah dia berikan sebelumnya. Ini petunjuk bahwa si hamba tidak mengenal siapa tuannya.

Yohanes 17:3 mengatakan: Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus. Mengenal Allah bukan jalan kepada hidup kekal; saat orang mengenal Allah yang benar, mereka sedang menikmati kehidupan kekal/ keselamatan itu. Jika tidak kenal siapa tuannya, maka tidak ada keselamatan di dalam hidupnya. Itu sebabnya orang-orang kelompok pertama dan hamba yang ketiga diperlakukan sama di ayat 27, “... bawalah mereka ke mari dan bunuhlah mereka di depan mataku."

Dari kelompok yang ketiga kita belajar satu hal, Tuhan tidak punya kewajiban memberi upah, tetapi Dia telah memberi lebih dari yang kita harapkan. Dia telah memberikan Anak-Nya sebagai pemberian yang paling berharga yang bisa seseorang lakukan. Paulus berkata, “Kalau Dia sudah memberikan kepada kita Kristus, Anak-Nya yang tunggal, apalagi yang tidak akan Dia berikan kepada kita? Yang terbaik Dia sudah berikan.” Kalau saya bisa memberikan kepada seorang anak 10 ribu, maka seribu pun sudah pasti bisa saya berikan. Sekarang yang terbaik sudah Dia berikan, maka tidak ada lagi yang tidak akan Dia berikan kepada umat-Nya. Kita tidak boleh meresponi ini dengan ketidakpedulian.

Sekarang saya tutup dengan pertanyaan terakhir: di mana 7 orang yang lain, bukankah yang dipanggil ada 10? Kita sudah melihat orang-orang di luar sana yang menolak. Kita sudah bicara tentang lingkaran yang dekat yang ada di dalam rumah Sang Tuan, yaitu 2 hamba yang baik dan 1 hamba yang buruk, tetapi ada 7 orang yang lain yang tidak dicatat sama sekali. Angka 7 seringkali bicara tentang kesempurnaan, dan seringkali mewakili keseluruhan; waktu Allah berbicara kepada umat Allah di segala zaman mengenai penderitaan mereka dan penyertaan Tuhan dalam Kitab Wahyu, Yesus mengatakan untuk tulis surat kepada 7 jemaat di Asia Kecil, yang oleh Allah dilihat sebagai perwakilan dari seluruh jemaat yang ada di Asia Kecil sekaligus seluruh jemaat sepanjang zaman. Di bagian ini, ada 7 orang yang tidak disebutkan, yang dipakai oleh Lukas untuk mengingatkan bahwa mungkin 7 orang ini mewakili Bapak/Ibu dan saya; akhir kisah mereka tidak dicatat, seolah Lukas mau bilang “Allah telah memasukkan engkau ke dalam cerita cinta-Nya, sekarang engkau yang harus menulis akhir ceritamu”.

Bapak/Ibu dan saya harus meresponi karena kita adalah anonim-anonim yang 7 itu. Sekarang kita mau tulis akhir cerita kita, apakah kita mau menjadi seperti kelompok pertama, mau menjadi seperti kelompok ketiga, atau mau menjadi seperti kelompok yang kedua. Tetapi, sebagai Hamba Tuhan, saya hanya bisa ingatkan bahwa Bapak/Ibu dan saya dipanggil untuk kelompok yang kedua. Apakah ini mungkin terjadi? Sangat mungkin. Mengapa? Karena Kristus telah memulainya bagi kita.

Dia adalah Raja di dalam Kerajaan Allah, sehingga seharusnya seluruh “profit” itu untuk Dia. Dua ribu tahun lalu waktu Dia datang, Dia tidak pikirkan profit sama sekali, Dia tidak pikirkan seharusnya kitalah yang memberi diri untuk Dia; tetapi sebaliknya, Kristus yang telah memberi diri-Nya bagi kita. Seharusnya nyawa kita, totalitas hidup kita, yang diberikan untuk Dia karena Dia adalah Tuhan dan pemilik Kerajaan Allah, tetapi Tuhan dan Sang Pemilik Kerajaan Allah itu telah memberikan hidup-Nya untuk kita. Untuk apa? Yesus bilang, “Benih itu harus mati dan dikuburkan di dalam tanah supaya kemudian menghasilkan buah.” Buah itu adalah Bapak/Ibu dan saya; tetapi kita dicangkokkan pada Pokok Anggur yang tidak pernah gagal untuk berbuah. Kekuatan untuk berbuah datang dari Allah melalui pekerjaan Allah Roh Kudus yang sekarang ada di dalam hati seluruh orang percaya, mengarahkan hidup seluruh orang percaya, sehingga kita tidak punya alasan untuk berkata, “Tuhan, saya tidak bisa melayani Engkau; Tuhan, saya tidak bisa menghasilkan buah.” Kita ada di dalam Pokok Anggur ini, Pokok Anggur inilah yang menghasilkan buah melalui Bapak/Ibu dan saya, sehingga kita tidak punya pilihan lain kecuali menghasilkan buah bagi Kerajaan Allah.

Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah (MS)

Gereja Refomed Injili Indonesia Kelapa Gading

Download Ringkasan