Panggilan untuk memberitakan Injil secara pribadi

Suatu ketika, di salah satu kota di Amerika, seorang yang sedang stres, bingung terhadap kehidupannya,  berjalan-jalan dan sampai di suatu tempat yang ternyata stadion olahraga. Dia masuk, dan melihat orang-orang sedang melipat kursi. Salah seorang yang melipat kursi itu mendekati dia dan berbicara kepadanya. Orang ini memberitahu bahwa yang baru selesai adalah KKR Billy Graham, dia pikir ini lapangan olahraga. Orang ini lalu menginjili dia, dan dia menerima Tuhan Yesus –bukan melalui KKR tapi justru setelah KKR selesai. Orang yang berbicara kepadanya adalah Cliff Barrows, pemimpin pujian KKR Billy Graham. Setelah percaya Tuhan Yesus, dia banyak membaca tulisan-tulisan D. L. Moody. Dan waktu dibaptis –meski dia seorang Rumania— dia memilih nama Dwight Barrows. Indah sekali, karena kesaksian ini bukan dari KKR Billy Graham, tapi justru setelah KKR selesai ada orang yang percaya kepada Tuhan Yesus melalui penginjilan pribadi.

Hari ini, di dalam Hari Pentakosta, kita mau belajar tentang penginjilan pribadi sebagai tugas yang Tuhan beri kepada kita. Tuhan memberi perintah kepada kita untuk memberitakan Injil, tapi tugas penginjilan adalah tugas yang jarang kita lakukan. Dosa yang paling banyak orang Kristen lakukan, salah satunya adalah dosa tidak menginjili. Kita tidak merasa gelisah, tidak merasa tidak nyaman kalau tidak menginjili, padahal itu perintah Tuhan. Penginjilan adalah suatu perintah yang diberikan Tuhan Yesus setelah Dia menyatakan otoritas kepada murid-murid-Nya, “Kepada-Ku telah diberikan segala otoritas di surga dan di bumi”. 

“Segala otoritas di surga dan di bumi”. Abraham Kuyper mengatakan, dalam kalimat itu yang penting untuk kita perhatikan bukan ‘segala otoritas di surga’ –kita sudah tahu Yesus berotoritas di surga— yang penting untuk kita perhatikan adalah ‘segala otoritas di bumi’; maka dari Matius 28:18 itu ada 3 kata yang penting, yaitu ‘dan di bumi’ Tuhan berotoritas. Namun dalam hal ini Kuyper tidak pergi ke penginjilan tetapi dia menggunakan dasar ini untuk menuju mandat budaya; kalau Kristus berotoritas di bumi, apa efeknya? Banyak. Karena Kristus berotoritas di bumi, maka tidak boleh ada pemerintah berlaku seperti Yesus; kalau ada pemerintah  berlaku seperti Yesus, harus dilawan. Karena Kristus berotoritas di bumi, maka kita tidak boleh paksa orang menyembah Yesus, tapi kita mendekati orang dengan pendekatan persuasif, bukan pemaksaan.

Ada 2 perlengkapan yang diberikan Tuhan kepada kita dalam penginjilan. Pertama, authority to evangelize is given by Christ. Otoritas untuk menginjili diberikan oleh Tuhan Yesus Kristus, ketika di Matius 28 Dia berkata: "Kepada-Ku telah diberikan  segala otoritas di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah ... .“ Otoritas Tuhan Yesus itu berjalan/keluar/didelegasikan, ketika Yesus berkata “pergilah”. Jadi, apa haknya kita berdiri di depan orang bukan kristen dan berkata “percayalah Tuhan Yesus”? Yaitu karena otoritas diberikan oleh Tuhan Yesus. Tidak cukup sampai di situ, kita perlu power in evangelization, given by The Holy Spirit. Dalam Kis. 1: 8 dikatakan “Roh Kudus turun, kamu menerima kuasa, dan kamu akan menjadi saksi sampai ke ujung bumi”. Jadi sudah diberikan perlengkapan yang cukup –otoritas, kuasa—dan sekarang tugas kitalah untuk pergi memberitakan Injil. Tidak hanya memberi perintah, Tuhan memberikan otoritas dan kuasa bagi kita untuk pergi memberitakan Injil.

Kita bergumul dalam memberitakan Injil karena kita menghadapi situasi yang multi-kultural, beragam. Dan itu sebabnya kita takut. Maka dalam hal ini, terjemahan Roma 1: 16 keliru; Paulus sebenarnya tidak berkata “aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil” karena Paulus tidak bergumul dengan soal punya keyakinan atau tidak punya keyakinan. Terjemahan ini tidak menangkap inti pergumulan Paulus dalam penginjilan; di sini Paulus mencatat satu pergumulan yang sebenarnya dialami oleh kita semua. Dalam bahasa aslinya Paulus mengatakan: “aku tidak malu akan Injil”, atau bisa diterjemahkan “aku tidak takut akan Injil”, karena hal itu riil dalam pergumulan setiap orang percaya ketika memberitakan Injil. Kita semua sudah yakin akan Injil, itu sebabnya kita percaya Tuhan Yesus; kita tidak meragukan sedikit pun akan kuasa Injil, kita tidak meragukan sedikit pun efektifitas Injil –itu sudah jelas-- tapi yang jadi pergumulan ketika memberitakan Injil bukan soal kita yakin atau tidak yakin melainkan kita takut dan kita malu ketika membuka mulut menyebut YESUS. Itu sebabnya Paulus berkata, “Aku tidak malu akan Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan ...  di dalamnya nyata kebenaran Allah ...”.
Kita menghadapi kehidupan dalam era yang setiap waktu terus-menerus muncul istilah baru; dan sekarang diberikan istilah “post-truth period” atau “post-truth era”. Apa artinya? Post-truth adalah suatu ideologi atau keyakinan bahwa dusta bukan lagi kecelakaan tapi kebutuhan. Seorang anak takut kepada guru, maka waktu ditanya, dia bohong –ini dusta sebagai kecelakaan. Sedangkan dalam post-truth era, dusta itu sebagai kebutuhan, sebagai strategi; dusta sudah di-industrialisasi sebagai satu produksi yang disengaja untuk bisa menghasilkan sesuatu, meyakinkan orang. Post-truth adalah istilah yang dipakai Oxford Dictionary sebagai istilah paling populer di tahun 2016; dan kalau Saudara baca di internet, Trump dan Brexit dipakai sebagai contohnya. Tetapi post-truth sudah ada sejak zaman dulu.

Dalam riset, saya membaca satu buku, “The Price of Truth: How Money Affects the Norms of Science”, tentang harga dari kebenaran, bagaimana uang itu mempengaruhi aturan-aturan ilmu pengetahuan. David B. Resnik, seorang bioethicist --yang saya percaya bukan orang Kristen—membuka buku tersebut, bab pertama, kalimat pertama, dengan kutipan dari 1 Timotius 6: 10 “Cinta akan uang adalah akar segala kejahatan”. Dalam buku itu, dia buktikan betapa ilmu pengetahuan, yang katanya untuk mencari kebenaran hitam di atas putih, ternyata oleh uang sudah dipengaruhi sedemikian rupa sehingga orang bisa menipu hasil riset demi uang. Satu contoh: ada pabrik rokok menyewa 2 orang peneliti untuk melaporan bahwa kadar nikotin rokoknya kurang dari batas yang ditetapkan pemerintah, padahal sebenarnya lebih; sampai kemudian Konggres membawa kedua peneliti itu, mereka dijamin kebebasannya, dijamin tidak diapa-apakan, bebas dari kontrak yang mereka bikin di bawah tangan dengan perusahaan rokok tadi, baru kemudian mereka cerita yang sebenarnya. Itulah dunia kita, ketika kebenaran sudah diputarbalikkan. Mengerikan.

Os Guinness dalam Lausanne Congress tahun 2010 di Cape Town berbicara mengenai “Why Truth Matters?” Dia mengatakan, kalau kebenaran tidak lagi dihargai, kita hidup dalam dunia yang kacau. Saudara bayangkan, kalau baca koran diberitakan “kota Surabaya hujan” tapi ternyata tidak, bukankah celaka?? Kalau kita buka Google Map dan dibilang ‘macet’ padahal tidak, itu celaka. Ketika kebenaran tidak lagi dihargai, dunia kita celaka. Bagi saya, kebenaran dihargai itu penting, karena ketika kebenaran dihargai, ketika kebenaran diperjuangkan, pada saat yang sama di situ Tuhan dimuliakan. Sebagai orang Reformed yang percaya Alkitab, kita percaya bahwa seluruh kebenaran berasal dari Tuhan, setan tidak memberitakan kebenaran, setan adalah bapa segala dusta. Semua kebenaran, meskipun diucapkan oleh seorang ateis, pelacur, penjahat, atau orang radikal pun, kebenaran itu dari Tuhan. Calvin mengatakan, Roh Kudus adalah satu-satunya sumber kebenaran.

Salah satu cara kita menghargai kebenaran adalah ketika kita memberitakan Injil. Mengapa kita takut memberitakan Injil, bukankah kita memberitakan kebenaran?? Seorang supir taksi pernah tanya kepada saya, “Mengapa Bapak cerita tentang Tuhan Yesus?” Saya katakan, “Pak, kalau saya tahu rahasia obat sakit kanker yang pasti sembuh, Bapak mau dengar tidak?” Dia jawab, “O, saya mau.” Saya bilang, “Itu tadi saya baru tahu rahasia obatnya tapi saya sendiri belum mengalami disembuhkan; sedangkan ini, saya sudah mengalami diselamatkan, saya cerita kepada Bapak apa yang saya alami, dosa saya diampuni, saya dibebaskan dari kuasa dosa. Saya sudah alami ini.” Kita memberitakan kebenaran bahwa Yesus satu-satunya Juruselamat, memberitakan kebenaran bahwa manusia berdosa memerlukan Yesus.

Kita memberitakan kebenaran, kita tidak usah takut. Kita memberitakan kebenaran, di dalamnya nyata kebenaran Allah, dan Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan. Injil mempunyai regenerative and transformative power, kuasa untuk mengubah, kuasa untuk melahirkan kembali, sehingga orang yang mati dalam dosa, yang hatinya tertutup, ketika Roh Kudus bekerja waktu Injil diberitakan, dia bisa sadar. Uang tidak memiliki regenerative and transformative power. Uang tidak memiliki kuasa untuk mengubah, tidak mempunyai kuasa untuk mentrasformasi, tapi tidak ada orang malu karena uang; apa pernah Saudara lihat orang malu karena kaya, karena uang terlalu banyak?? Uang tidak punya kuasa itu. Satu contoh, ada orang ditangkap polisi karena membawa narkoba, lalu dimasukkan tahanan. Keluarganya yang di Surabaya mengatakan, “Pak, kalau dia ditahan di Jakarta, kami mau mengunjungi repot sekali; bisakah ditahan di Surabaya saja?” Polisi bilang, “ Bisa, minta 1 miliar.” Sudah bayar 1 miliar, tahanan dipindahkan dari Jakarta ke Surabaya. Setelah itu keluarganya datang lagi, “Pak, bisa tidak dibebaskan?” Jawabnya, “O, bisa. Minta 4 miliar.” Sudah kasih 5 miliar, akhirnya bebas; tapi uang itu dipakai untuk membebaskan dia dari pemenjaraan karena  narkoba, bukan pemenjaraan oleh narkoba. Saudara bisa bedakan? Dia bisa dibebaskan dari pemenjaraan karena  narkoba, tapi setelah keluar, dia masih tetap kecanduan, tetap cari narkoba. Uang tidak punya kuasa membebaskan dia dari kecanduan narkoba. Sampai kapan untuk akhirnya dia dibebaskan? Sampai dia bertemu dengan Kristus, sampai dia mendengarkan Injil, barulah dia diselamatkan ketika Roh Kudus bekerja.

Kita bersyukur Tuhan suruh kita menginjili; dalam hal ini training penginjilan penting, tapi tidak menjamin bisa memenangkan orang. Orang yang tidak di-training pun, bisa menginjili. Kalau Saudara jadi sales, jadi penyiar, jadi motivator, jadi pembawa acara, semuanya harus di-training; tetapi orang Kristen yang paling bodoh di dunia pun, ketika dia baca satu ayat, Roh Kudus bekerja, maka orang yang mendengar bisa bertobat. Itulah the power of the Gospel. Tuhan suruh kita menginjili, dan bersyukur tuntutannya tidak mengatakan Saudara harus di-training sampai tahap ketujuh lalu ujian di New York baru bisa menginjili. Puji Tuhan, menginjili itu begitu gampang; kita bisa bicara, dan ada begitu banyak cara untuk kita bisa menginjili. Saya tidak percaya penginjilan harus dimutlakkan dengan satu metode, karena Roh Kudus bisa bekerja melalui cara apapun, ASAL yang diberitakan adalah Injil yang sejati. Ada yang bagi traktat, lalu orang bisa terima Tuhan Yesus. Ada yang salah pencet remote TV, muncul siaran Reformed 21, dan dia yang sudah 25 tahun tidak ke gereja, akhirnya bertobat kembali kepada Tuhan. Saya pernah tanya seseorang di Semarang, bagaimana dia jadi Kristen. Dia bilang, “Ada orang buang Alkitab di tempat sampah, lalu saya pikir ini buku apa, masih kelihatan baru koq dibuang”, dia ambil dan baca buku itu, yang adalah Alkitab Perjanjian Baru, lalu dia terima Tuhan. Betapa bermacam-macam cara orang bisa terima Tuhan. John Piper terima Tuhan melalui dengar kotbah di radio yang disampaikan oleh Harold Ockenga ketika berkotbah di  Wheaton College, kemudian dia menyerahkan diri jadi hamba Tuhan. Bisa radio, bisa traktat, bisa majalah, begitu banyak cara. Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan, jangan takut, jangan malu.

Ada orang bilang, “Pak, saya tidak bisa menginjili, tapi saya mencintai teman-teman saya.” Dia beli DVD kotbah Pdt. Stephen Tong, dia bawa ke rumah temannya dan ajak nonton sama-sama; ketika nonton, dia berdoa dalam hati. Pertama kali, seperti biasa temannya komen ini itu; lama-lama komennya tinggal separo, kemudian tinggal seperempat, dan akhirnya diam mendengarkan kotbah. Lama-lama air matanya mulai menetes, mulai tanya gereja di mana, lalu setelah setahun temannya itu sudah dibaptis. Siapa yang melakukan itu? Bukan pendeta, bukan penginjil, bukan raksasa rohani, bukan Billy Graham, bukan Pak Tong, tapi orang Kristen biasa. Saudara juga bisa menginjili. Begitu banyak orang dipakai, dan kesaksian-kesaksian tidak ada habisnya. Ada orang yang supirnya sudah ke gereja, bagaimana caranya? Tiap hari dalam perjalanan ke kantor, dia putar kotbah Pdt. Stephen Tong; lalu satu hari waktu antar dia ke gereja, supir itu bilang, “Permisi Pak, boleh saya ikut ke dalam?” Betapa indah. Injil adalah kekuatan Allah  yang menyelamatkan, di dalamnya nyata kebenaran Allah; itu sebabnya kita tidak malu akan Injil, kita mau menginjili, kita mau beritakan, kita mau ajak orang lain mendengarnya, kita mau kasih mereka traktat, kita mau kasih mereka Alkitab.

Puji Tuhan, Tuhan ciptakan teknologi begitu canggih sehingga memudahkan kita menginjili. Waktu di Amsterdam, saya lihat begitu banyak orang China dan hati saya tergerak sekali, tapi saya tidak bisa bahasa Mandarin satu kata pun. Lalu bagaimana caranya menginjili mereka? Google. Saya cari di Google Alkitab bahasa Mandarin, saya print semua ayat-ayat Injil, saya bagi sebagai traktat. Waktu ketemu orang China, saya tanya, “Do you speak Chinese?” Dia lalu ajak saya bicara bahasa Mandarin; saya bilang, “This is for you, I cannot speak Chinese”, saya kasih traktat itu dan dia baca. Betapa indah.

Waktu di Belanda, saya paling tergerak menginjili orang Indonesia. Setiap kali saya ketemu yang mirip orang Indonesia, saya tanya, “Dari Indonesia?” Dia bilang, “No, from Suriname”, atau dari Filipina, dari Madagaskar, dan kadang-kadang dari Maroko yang sudah campuran –semuanya mirip orang Indonesia. Suatu pagi saya doa, “Tuhan, hari ini saya mau menginjili orang Indonesia, beri saya satu orang.” Saya naik trem untuk pergi ke satu tempat. Di trem, saya lihat satu anak muda, laki-laki, yang saya yakin sekali orang Indonesia, langsung saya tanya, “Dari Indonesia?” Jawabnya, “Koq tahu, Pak?” Dan sepanjang di trem saya injili dia --sungguh sukacita.
Bisa menginjili itu sungguh satu pelayanan yang sangat indah, setiap orang bisa melakukan tugas penginjilan itu. Mengapa? Karena itu perintah yang Tuhan beri, dan Tuhan lengkapi dengan kuasa dan otoritas. Tuhan berikan Injil yang di dalamnya nyata kebenaran Allah. Perlengkapan yang Tuhan berikan kepada kita untuk menginjili sudah lebih lengkap daripada perlengkapan seorang yang mau naik gunung. Masih kurang apa lagi? Mengapa kita tidak mau menginjili? Banyak ketakutan, banyak perasaan berkecamuk, dan perasaan-perasaan kedagingan itu muncul dalam hati kita, yang kita kemas di dalam istilah “bijaksana”. Memang menginjili harus bijaksana, jangan tidak bijaksana; tetapi kita minta kekuatan dan keberanian dari Tuhan untuk menginjili.

Mengapa dikatakan “pergilah” di Mat. 28? Karena manusia berdosa tidak bisa datang. Kitab Yunus memberikan satu pengertian yang sangat penting tentang dosa. Apakah itu? Tuhan suruh Yunus pergi ke Niniwe di sebelah kanan, dan dia naik kapal pergi ke Tarsus di sebelah kiri. Dari sini kita mengerti satu definisi lain tentang dosa; dosa adalah melakukan yang bertolak belakang dengan yang diminta oleh Tuhan. Tuhan suruh Yunus ke Niniwe, dia bukannya diam –diam pun sudah dosa—dia justru pergi ke arah sebaliknya. Itu sebabnya John Stott berkata, “Agama bukan membawa manusia semakin dekat dengan Tuhan yang sejati, tapi justru membawa manusia semakin jauh.” Mengapa kita musti pergi? Karena manusia berdosa itu berjalan menjauhi Tuhan. Itu sebabnya gedung pesta nikah, biarpun di pelosok, tetap saja ramai; sementara gedung untuk KKR, biarpun di tengah kota yang angkutan banyak, tetap sepi. Dulu saya melayani di Malang, saya bikin PA  di daerah mahasiswa, eksposisi kitab Obaja, Yudas, dsb., dan yang datang 5-8 orang. Suatu kali saya umumkan, “Minggu depan, selesai PA saya sediakan sup brenebon babi”, langsung yang datang 53 orang. Jadi kuasa brenebon babi lebih hebat daripada kuasa kitab Obaja atau Yudas, mengapa? Karena manusia berdosa, dia akan berjalan menjauh dari Tuhan. Itu sebabnya kita musti pergi, musti cari mereka.

Orang yang menginjili, ketika pergi mencari mereka adalah seperti yang Yesus lakukan; “Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.” Dua hal yang penting di sini. Pertama, kita tidak bisa menghitung the value dari orang berdosa, dalam pengertian ‘instrumental value’. Kita tidak bisa melihat orang yang kita injili dalam pengertian dia orang hebat, walikota atau gubernur, dsb.; bukan itu. Yesus naik kapal –dan kapalnya hampir tenggelam—sampai di seberang, dan Dia mau menyembuhkan seorang yang kerasukan di Gerasa, lalu setelah itu kembali. Siapakah orang itu? Orang yang kerasukan di Gerasa.

Mencari, selalu mengasumsikan bahwa yang dicari itu berharga. Paulus mengatakan, “Harta yang kami punya adalah harta dalam bejana tanah liat.” Harta dalam bejana tanah liat adalah harta yang tidak berharga, yang rendah, gampang pecah, gampang digantikan. Kalau bejana tanah liat pecah, orang tidak memperbaikinya tapi langsung beli baru di pasar. Itu bejana yang murah. Bayangkan bejana tanah liat yang sudah rusak, dan Tuhan masih mau datang dari surga mencari dan menyelamatkan yang hilang! Kalau ada orang beli tiket pesawat ke Amerika lalu ditanya, “Mau cari siapa?”  Lalu jawabnya, “Cari orang gila.” Saudaranya? Bukan. Orangtua? Bukan. Teman lama? Bukan. Kalau begitu berarti yang dicari gila dan yang mencari juga gila, masakan naik pesawat begitu mahal mencari orang gila yang tak dikenal?? Waktu orang pergi mencari, dia bukan melihat instrumental value, tapi melihat intrinsic value (nilai yang di dalam). Itulah yang dikatakan oleh William Carey; peraturan pertama pelayanan William Carey adalah menetapkan nilai yang tak terhingga bagi jiwa manusia.

Ketika melayani di Bandung, saya dikunjungi seorang teman dari India, president dari International Evangelization for The Handicaped (kelompok penginjilan untuk orang cacat). Dia mengatakan satu kalimat yang menggerakkan saya, yang belum pernah terpikir oleh saya tentang pelayanan ini: “Bapak tahu, di seluruh dunia kalau orang-orang cacat dikumpulkan dan dihitung, ada kira-kira 650 juta orang, negara ketiga terbesar setelah China dan India; dan jangan lupa, yang cacat adalah tubuhnya, sedangkan jiwanya memerlukan Injil, mereka orang berdosa sama seperti yang lain.” Jadi kelompok ini di mana-mana menginjili orang-orang cacat.

Ada nilai pada jiwa manusia, dan itu dihargai. Itu sebabnya ketika orang memberitakan Injil, merupakan ekspresi cinta kasih dia kepada orang yang diinjili. Waktu kita mengasihi seseorang, kita bisa beri apa, sih? Kita beri HP, lalu HP nyemplung ke got, habis. Tapi kalau kita cerita tentang Tuhan Yesus, ketika dia diselamatkan, itu berkat selama-lamanya yang tidak bisa dilupakan. Paulus berkata kepada Filemon, “Ingat Filemon, engkau berutang kepadaku ... .” Utang apa? Filemon tidak mau terima budaknya yang sudah mencuri dan lari, namanya Onesimus. Dan Paulus sampai mengatakan kalimat itu, “Ingat Filemon, engkau berutang kepadaku, kamu diselamatkan oleh pelayanan saya.” Paulus dengan jelas menggambarkan poin ini dalam seluruh suratnya, tentang bagaimana dia mengasihi orang-orang yang dia injili. Dia mengatakan dalam 1 Kor 9:  “Aku rela jadi hamba ... aku rela jadi apa saja supaya mereka diselamatkan”. Jadi hal yang kedua, orang yang mengasihi, tidak ada gengsi; kasih tidak mengenal gengsi. Apa ada mama yang gengsi?? Apa ada mama yang bilang, “Masakan saya, seorang lulusan Amerika, harus bersihkan kotoran bayi”?? Tidak ada. Biarpun kotoran bayi bau, dia bersihkan karena itu anaknya, karena kasih tidak mengenal gengsi.

Waktu kita mencintai orang dan datang menginjili dia, meskipun dia usir, kita akan terus tunggu. Seorang teman punya kenalan orang kaya. Dia datang kepada orang kaya ini, dan orang ini tidak suka sama sekali kalau dia bicara tentang Yesus, katanya, “Saya kasih kamu cek 100 juta sekarang, jangan bicara nama Yesus.” Lalu yang menginjili bilang, “Saya tidak perlu uangmu, saya perlu jiwamu.” Dia terus menginjili, sampai orang kaya ini pesan kepada pembantunya, kalau dia datang jangan dibukakan pintu. Itu berlangsung terus-menerus, sampai mbak-nya sungkan dan bilang kepada majikannya, “Pak, kasihan bapak itu sudah tunggu dari tadi, panas-panas, tidak dibukain pintu.” Lama-lama orang ini jengkel, “Sudah, kasih dia masuk. Mau ngomong apa sih?? Cerewet amat!” Akhirnya orang ini luluh, ada orang yang begitu mencintai saya, yang terus datang mencari saya, meskipun sudah saya usir dia masih datang; dia menerima Tuhan Yesus karena satu teman yang terus-menerus tanpa henti datang. Ada juga orang yang diinjili, waktu dia datang, orang ini masuk kamar mandi dan tidak keluar-keluar. Ada juga yang masuk kamar tidur dan tidak keluar-keluar. Ada yang pakai alasan ini dan itu, tapi yang menginjili terus saja datang, sampai satu hari orangnya bilang, “Saya sudah tidak punya alasan lagi untuk tolak kamu.”

Paulus bilang, “Aku rela dibelenggu seperti penjahat supaya orang pilihan dengar Injil” (2 Tim. 2). Paulus seorang warganegara Romawi; maka ketika Paulus digebukin, dia bilang, “Saya warganegara Romawi”, dan mereka langsung berhenti. Romawi punya citizen service begitu bagus sehingga semua warganegara dijamin, tapi Paulus tetap rela dibelenggu seperti seorang penjahat supaya mereka mendengar Injil. Terakhir, dalam Surat Filipi dia bilang, “Seluruh istana –kekaisaran ini—tahu, aku dipenjara karena Injil”. Mengapa? Setiap hari dia dibelenggu dengan 2 prajurit, dan selama berjam-jam para prajurit itu mendengar Injil dari Paulus.

Kita bisa menginjili, karena kita mengasihi mereka, kita ingin mereka diselamatkan, dan kita tidak hitung nilai yang akan kita keluarkan karena kita ingin jiwa mereka diselamatkan. Itu sebabnya yang Tuhan tuntut bukan mengapa kita tidak menginjili orang Etiopia, orang Sri Lanka –bukan itu yang pertama-tama Tuhan bicara kepada kita—yang pertama-tama Tuhan bicara kepada kita adalah temanmu, iparmu, pembantu di rumah, supir. Saya bilang kepada istri, “Ma, jangan lupa menginjili; pembantu tugas mama, tukang parkir dan tukang koran tugas saya.” Pembantu di rumah sudah dia injili, katanya, “Pembantu tempo hari tiba-tiba takut mati, lalu saya injili.” Tukang antar koran saya injili waktu suatu pagi dia antar koran. Saya bilang kepada dia, “Mas, namanya Wahyu ‘kan? Mau tahu artinya ‘wahyu’ di Alkitab?” Dia bilang, “O, mau pak, artinya apa?” Saya jelaskan pada dia tentang wahyu umum, wahyu khusus, kitab Wahyu –dalam beberapa menit dia sudah mendengarkan Injil.

Saudara, kita bisa menginjili; Saudara bisa bacakan Alkitab. Ada orang menginjili oma-oma; tiap malam sebelum oma itu tidur jam 8, dia telpon jam 8 kurang 10 dan ceritakan tentang Yesus. Terus-menerus dia lakukan itu, sampai oma terima Tuhan. Kesaksian seperti ini begitu banyak dan begitu mengharukan. Ada oma bukan Kristen tinggal di satu perumahan. Suatu hari, rumah yang persis di depannya sedang renovasi, kontraktornya seorang Chinese. Lalu si oma bilang, “Nyo, di situ ‘kan tidak ada toilet, kalau mau ke toilet atau minum, ke tempat Oma, ya.” Jadi kontraktor itu sering datang, permisi ke toilet, permisi untuk minum, berkali-kali sampai akhirnya oma tadi jadi Kristen. Siapa yang lakukan penginjilan itu? Bukan pendeta, bukan teolog, bukan evangelis, hanya seorang Kristen biasa yang kerja sebagai kontraktor. Betapa indah.

Charles Spurgeon, setiap orang mendengar namanya selalu memikirkan dia sebagai ‘the king of preacher’ –itu memang betul—tapi yang sering orang lupa, Charles Spurgeon adalah seorang pembagi traktat yang setia. Spurgeon begitu banyak membagi traktat; waktu uang habis, dia ambil kertas, dia tulis ayat-ayat, dan dia bagikan kepada orang. Spurgeon berkata, “Orang Kristen yang belum menginjili apapun, saya sarankan, mulai dari sekarang bagilah traktat.” Dia juga mengatakan, “ Menjadi pemenang jiwa adalah hal yang paling membahagiakan dalam dunia.” Kalau kita menginjili seseorang bertahun-tahun, ketika dia diselamatkan, kita bersukacita seperti lebih daripada dapat uang 1 trilyun!

Saya menginjili mahasiswa; rambutnya gondrong, di kamar kostnya poster-posternya cabul semua. Sampai kemudian dia terima Tuhan, dan setelah itu anting-antingnya dilepas, rambutnya digunting, poster-posternya dibuang, lalu mulai ke gereja dan akhirnya jadi pengurus. Ketika di gereja ada janji iman, dia bilang, “Bolehkah saya ikut janji iman?” Mendengar itu kita terharu. Saya pernah menginjili orang selama 2 tahun. Mulanya saya kira dia orang Kristen, saya minta dia pimpin doa makan. Setelah tutup mata, dia tetap diam saja. Saya tanya, “Kenapa belum doa?” Dia jawab, “Tuhan tidak ada, Pak; mengapa kita doa?” Setelah itu terus tiap minggu ketemu, sampai dia terima Tuhan dan satu hari dia telpon saya, “Pak, bagaimana menginjili orang saksi Yehova?” Mendengar kalimat itu, saya gemetar. Dari orang yang tidak berdoa sampai dia mau menginjili, itu sangat indah.
Beberapa tahun lalu Prof. Steve Childers dari reformed seminary di Amerika bersaksi di GRII Pusat, kesaksian yang sangat menggerakkan. Dia mengatakan, “Saya orang ateis, dari keluarga ateis yang tidak mengenal Tuhan. Ketika kuliah saya tinggal di asrama. Pendeta datang berkotbah di asrama, tiap selesai kotbah selalu bikin tanya jawab, dan selalu saya membuat Pendeta pulang dengan malu karena saya tanya pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa dijawab. Sampai suatu hari, di asrama itu ada seorang mahasiswa Ph. D., orang Arab yang sudah jadi Kristen, bilang, ‘Kamu ada pertanyaan? Mari kita mulai tanya jawab’; dan dia jawab semua pertanyaan. Dia kemudian bimbing saya, setelah selesai, percaya Tuhan Yesus, mulai dengan pelajaran, lesson 1, lesson, 2, lesson 3, dst., satu per satu sampai kemudian saya jadi hamba Tuhan.” Siapa yang lakukan itu? Mahasiswa; yang lakukan itu bukan pendeta. Kita juga bisa menginjili, kita juga bisa dipakai oleh Tuhan menjadi pemenang jiwa! Seorang tukang becak di India, setelah terima Tuhan, 70 orang keluarganya yang belum Kristen menjadi Kristen. Itu melalui tukang becak yang cerita ke mana-mana pengalaman dirinya diselamatkan. Betapa indah.

Saudara bisa dipakai untuk menginjili. Ketika kita menginjili, kita mencintai orang itu, tapi memang betul kita memerlukan pertolongan Tuhan, karena menginjili adalah peperangan rohani. Billy Graham mengatakan, penginjilan bukan pesiar, bukan jalan-jalan, itu peperangan rohani, kita musti bergumul, musti berdoa. Langkah pertama yang Saudara lakukan untuk orang-orang di sekitar Saudara adalah mendoakan mereka mulai dari sekarang. Doakan mbak di rumah, supir, tukang kebun. Doakan ipar, orangtua, teman baik, tetangga.

Memang menginjili tidak gampang; orang pintar menolak Injil dengan cara pintar, orang bodoh menolak Injil dengan cara bodoh. Saya menginjili ibu-ibu di pasar, “Bu, Tuhan Yesus mati bagimu.” Dia jawab, “Saya tidak suruh Dia mati bagi saya, Pak, tidak usah.” Saya bilang, “Lho, tapi ibu dihukum dalam neraka.” Dia jawab, “Biarin.” Orang hebat --Christopher Hitchens, Richard Dawkins-- menolak Injil versi pintar; tapi jangan bilang gampang menginjili orang-orang di pasar, kalau bukan Roh Kudus yang membuka, tidak bisa.

Jadi mengapa menginjili itu sulit? Menurut saya, karena penginjilan mirip dengan pria menyatakan cinta, mirip dengan Kristus inkarnasi. Pertama, the clash of values (pertikaian nilai), dia punya nilai dan kita punya nilai berbeda. Si pria sudah berdoa, lalu dengan berapi-api mendekati seorang wanita, “Saya ingin menikah dengan kamu, kita bangun rumah tangga yang cinta Tuhan, dan hidup bagi Tuhan, ya.” Bagus bukan? Tapi si wanita jawab, “Terima kasih, tapi terus terang saya ingin cari laki-laki yang kaya, dan saya ingin membangun keluarga yang lebih kaya”. Value-nya beda; yang satu mau Tuhan, yang lain mau uang. Sama juga seperti waktu Yesus datang ke dalam dunia, Yohanes berkata, “Dia datang kepada milik kepunyaan-Nya, dunia yang dijadikan-Nya, tapi mereka menolak Dia”, mengapa? Karena nilainya beda. Bagi Yesus, Mesias itu datang, mati di kayu salib, bangkit menebus manusia. Bagi orang Farisi/orang Yahudi lain;  mesias itu datang, mengembalikan kerajaan Salomo, hancurkan Romawi. Mereka punya political value, Yesus punya spiritual value, itu sebabnya tidak bisa nyambung. Waktu kita menginjili juga sama; kita menginjili, bahwa yang paling berharga adalah Kristus, sementara bagi dia yang berharga adalah uang, ini, itu, dsb.

Yang kedua, the interruption of agenda (interupsi agenda). Si pria mengatakan, “Saya sudah lama mendoakan engkau, saya sungguh-sungguh mencintai engkau, saya ingin sehidup semati dengan engkau.” Si wanita jawab, “Terima kasih cintamu sungguh-sungguh, tetapi saya lagi memikirkan pria lain.” Agendanya lain, si pria memikirkan wanita ini, si wanita memikirkan pria lain. Sama seperti itu, waktu Yesus datang, murid-murid pikirnya kerajaan jasmani; bahkan sampai Yesus sudah mau naik ke surga pun, murid-murid masih bilang, “Maukah Engkau dirikan kerajaan bagi Israel pada saat ini?” Yohanes Pembaptis dari awal bicara Kerajaan Surga, Yesus bolak-balik bicara Kerajaan Surga, sementara murid-murid pikirannya Israel terus-menerus karena agendanya beda. Menginjili sulit karena agenda kita dengan agenda dia beda. Bagi kita percaya Yesus, hidup kekal, masuk surga; tapi bagi dia, “Saya tidak pikir surga, saya pikir bayar utang!” Kita pikir pengampunan dosa, dia tidak pikir pengampunan dosa tapi yang lain.

Yang ketiga, the distraction of worldview –ini yang paling sulit. Mengapa menginjili sulit? Karena kita menghantam dia punya cara pandang. Ada suku yang nilai utamanya adalah pengkhianatan; waktu Injil diberitakan, yang mereka kagumi bukan Yesus malah Yudas, karena bagi mereka Yudas pahlawan. Yudas itu pengkhianat, dan makin berkhianat seseorang, makin agung orang itu. Jadi, waktu kita memberitakan Injil kepada mereka, definisi S.B.Y.-nya beda; bagi kita S.B.Y. berarti ‘saya bersama Yesus’, bagi mereka S.B.Y. berarti ‘saya bersama Yudas’. Itulah worldview, cara pikir. Dan itu yang dihancurkan oleh Tuhan Yesus ketika Dia menangani Paulus, “Mengapa engkau menganiaya Aku?” Orang Farisi pikir, menganiaya orang Kristen berarti melayani Tuhan; Yesus berkata, menganiaya orang Kristen sama dengan menganiaya Tuhan. Di situ seluruh pikiran Paulus rontok. The distraction of worldview ini sulit; kalau bukan Roh Kudus, tidak bisa.

Orang yang sudah fasih menginjili pun belum tentu lebih berkuasa daripada seorang anak biasa. Anak kecil yang pulang dari Sekolah Minggu lalu sambil jalan dia teriak-teriak baca ayat-ayat dari gurunya, mungkin saja ada orang yang terima Tuhan Yesus. Seseorang bilang kepada saya, bahwa dia bisa ke Gereja karena orang gila; orang gila teriak-teriak mengejar dia sambil bawa pedang, “Ke gereja! Ke gereja!” Dia lari terus, lalu ketika pulang dia pikir, ‘iya, kenapa saya tidak pernah pikir untuk ke Gereja’, dan akhirnya dia pergi ke Gereja. Tuhan itu luar biasa. Kalau saya cerita, kesaksian tidak habis-habis. Saya pernah tanya kepada orang, “Bagaimana bisa ke Gereja?” Dia cerita: “Saya diundang orang ke peresmian ruko, Pak. Lalu saya salah parkir, salah masuk, ternyata itu Gereja. Begitu masuk, pas kotbah. Langsung saya dengar kalimat-kalimat itu, dan saya percaya Tuhan.”

Ada seorang di India merasakan begitu banyak pertanyaan dalam agama Hindu yang tidak bisa dijawab pemimpin agamanya. Lalu temannya bilang, “Kamu tahu, ya, agama ini bilang ini benar, agama itu bilang itu benar, semuanya bertentangan satu sama lain. Kalau begini, kita jadi ateis, hidup lebih bebas, tidak ada Tuhan yang mengatur kita.” Dia pikir-pikir, betul juga. Setelah jadi ateis, hatinya kosong, jiwanya kering, gelisah, sudah hidup dengan segala macam dosa tetap saja tidak ada kepuasan. Suatu hari, dalam kekecewaan, waktu pulang kerja naik kereta dia ambil keputusan untuk bunuh diri. Waktu dia buka pintu kereta untuk loncat, ada suara dari speaker, perkataan dari Kitab Amsal: “Siapa yang mengakui dan meninggalkan dosa, dia akan beruntung; siapa yang menyembunyikan dosa, dia akan celaka.” Persis kalimat itu sampai di telinganya, Roh Kudus bekerja. Dia tutup kembali pintu kereta, lalu turun di stasiun terdekat. Dia lari ke arah suara speaker tadi. Sesampainya di sana, sedang berlangsung KKR di lapangan. Sore itu dia dengarkan kotbah, dan semua pertanyaan-pertanyaannya dijawab dalam kotbah pendeta itu. Ketika Pendeta tanya, “Siapa mau terima Tuhan Yesus?” dia angkat tangan. Dia menjadi orang Kristen.

Saudara menginjili, Saudara baca ayat saja, orang bisa terima Tuhan. Tidak usah musti begini musti begitu atau musti jadi Pak Tong baru orang terima Tuhan. Tidak. Saudara jadi orang Kristen yang sungguh-sungguh, Saudara jaga kesaksian. Kalau kita mau menginjili tapi tidak jaga kesaksian, itu malah akan mempermalukan nama Tuhan. Kita bicara kepada orang itu dengan jujur, dengan terus terang, maka kalau Roh Kudus bekerja, dia boleh mengenal Tuhan, diselamatkan. Saudara jangan takut, jangan bayangkan kalau menginjili nanti didemo 1 juta orang –itu ketinggian pikirannya-- yang penting kita menginjili dengan persahabatan, dengan cara bijaksana.
Di Amerika ada orang-orang Kristen yang ajarannya kacau; mereka percaya kalau makin cepat dan makin banyak menginjili, Yesus akan cepat datang. Di negara 4 musim seperti itu, biasanya kalau musim semi mobil-mobil kacanya diturunkan; maka orang-orang Kristen ini berdiri di lampu merah, lalu dengan cepat melemparkan traktat-traktat ke dalam mobil-mobil. Itu bukan penginjilan tapi penyiksaan, melempari orang dengan kertas. Penginjilan berarti kita bicara kepada orang, cerita tentang Tuhan Yesus dengan persahabatan, dengan bijaksana, bicara baik-baik. Kadang-kadang waktu naik taksi saya bilang, “Boleh kita dengarkan ceramah, Pak?” Dia bilang, “Silakan.” Lalu saya putarkan kotbah KKR Pak Tong, dengar sama-sama dari bandara sampai rumah.

Kita bisa menginjili. Begitu banyak cara yang bisa kita lakukan untuk menginjili; yang penting, kita mendoakan mereka dengan sungguh-sungguh. Waktu kita melakukan itu, sungguh Tuhan memimpin sehingga Injil boleh diberitakan. Mulai sekarang Saudara tetapkan hati untuk cari peluang. Satu hal yang saya lakukan, saya selalu minta Tuhan beri saya kesempatan untuk menginjili. Waktu saya kuliah S2 Filsafat, satu kali kuliah gabungan tentang teori kebudayaan, dalam satu ruangan “conference room”. Di situ tiap meja ada microphone. Lalu entah bagaimana, profesornya, seorang ahli sastra Perancis, mengajar mengenai teori simbol, dan dia bilang, “Saya beri satu contoh sangat penting tentang simbol, yaitu roti dan anggur dalam Perjamuan orang Kristen. Adakah mahasiswa di sini yang mau memberikan penjelasan?” Langsung saya angkat tangan, langsung saya pencet microphone, langsung saya KKR regional! Koq bisa, ya?? Rasanya mustahil. Saudara minta kepada Tuhan, “Tuhan saya mau menginjili dia.” Istri saya heran, mengapa pembantu di rumah bisa tiba-tiba takut mati dan tanya soal kematian?? Heran. Ketika kita minta, kadang-kadang begitu kita naik taksi, supir taksi yang nanya sendiri. Paling gampang menginjili ketika kita pergi pada hari raya Kristen, kita bisa tanya kepada dia: “Tanggal merah apa, Pak, hari ini?” Dia jawab, “Katanya hari wafat Isa Almasih”, lalu kita bisa jelaskan kepada dia karena langsung ada point of contact.

Mari kita minta kepada Tuhan hati yang mengasihi mereka. Firman Tuhan sudah begitu jelas berkata kepada kita untuk mengijili mereka, mendekati orang-orang yang ada di sekitar kita untuk mengasihi mereka, mendoakan mereka, menginjili mereka. Kita siapkan hati sungguh-sungguh, minta kesempatan Tuhan beri untuk menginjili mereka, sampai pada waktu Tuhan, kita dengan bijaksana bicara kepada mereka; kepada teman, kenalan, di rumah sakit, di rumah duka, di mana saja kita bisa menginjili mereka. Kiranya Tuhan memakai Saudara untuk memberitakan Injil dan banyak jiwa boleh dimenangkan.

Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah (MS)

Gereja Reformed Injili Indonesia Kelapa Gading

Download Ringkasan