7 Karunia Roh Kudus

Hari ini secara Kalender Gereja adalah Minggu Trinitatis, Minggu pertama setelah Pentakosta, tetapi saya ingin membahas tentang Roh Kudus; tetap dalam konteks Trinitas, karena  waktu membicarakan Roh Kudus, kita tidak bisa meng-exclude 2 Pribadi yang lain, Pribadi Bapa dan Pribadi Kritus. Capadocian Fathers mengatakan, waktu kita membicarakan kesatuan Allah, kita dibawa kepada ketigaan-Nya; waktu kita merenungkan ketigaan Allah, kita dibawa kepada kesatuan-Nya. Jadi waktu membahas Pribadi Roh Kudus, tidak mungkin tidak mengaitkannya dengan Pribadi Bapa dan Pribadi Anak.

Sejak dari ayat pertama pasal 11 ini, membicarakan Roh Tuhan itu tidak bisa dipisahkan dari Mesias, Pribadi Kedua. Dikatakan ayat 1: “Suatu tunas  akan keluar dari tunggul  Isai,  dan taruk yang akan tumbuh dari pangkalnya akan berbuah”, lalu ayat 2:  “Roh TUHAN akan ada padanya”    --akan ada pada Kristus. Kristus/ Mesias yaitu Yang Diurapi; diurapi dengan Roh secara tidak terbatas. Ini berarti, waktu membicarakan Roh Kudus, tidak bisa tidak, kita harus merenungkan Pribadi Sang Anak, Mesias Yang Diurapi.

Yohanes Calvin sangat menekankan bahwa yang diberikan kepada Kristus, atau yang ada pada Kristus, itu tidak dipertahankan sebagai milik-Nya sendiri, tetapi diberikan kepada Gereja-Nya. Urapan itu bukan urapan yang hanya berhenti pada Kristus dan dinikmati sendiri oleh Kristus, tetapi menjadi urapan yang diteruskan Kristus kepada gereja-Nya. Dengan demikian, waktu kita baca ayat 2 “Roh TUHAN akan ada padanya”, itu berarti Roh Tuhan ada terutama pada Sang Mesias, tapi juga Roh Tuhan akan ada pada Gereja --Saudara dan saya-- dalam pengertian komunal dan juga individual, namun dengan penekanan komunal.

Waktu Yesaya 11 membicarakan tentang Roh Kudus/ Roh Tuhan, di situ ada 7 aspek. Tradisi Roma Katolik, memakai istilah “tujuh karunia Roh Kudus” (the seven gifts of The Holy Spirit). Memang dalam tradisi Reformed/ Protestan, bagian ini kurang di-highlight, sementara dalam Katolik sering dipakai angka 7 (angka kegenapan) seperti “seven deadly sins”, “seven heavenly virtues”, atau “the seven virtues” dalam pengertian four cardinal virtues + three theological virtues; dan di sini “the seven gifts of The Holy Spirit”. Sebagai orang Protestan, kita tidak perlu terlalu snsitif terhadap tradisi tersebut, karena ini toh ajaran dari Firman Tuhan, dari Alkitab/ Kitab Suci, Yesaya pasal 11. Baik penomorannya jadi 7 ataupun 6, kita bisa diskusikan dalam hal ini; tetapi kalau kita mau masukkan angka 7 maka berhentinya sampai di ayat 3a.

Alkitab waktu membicarakan tentang Roh Kudus, itu bukan satu perjumpaan yang misterius, yang tidak bisa dimengerti seperti yang ditulis oleh Rudolf Otto, “The Idea of The Holy” (atau terjemahan yang lebih baik “The Idea of The Secret”) –perjumpaan dengan sesuatu yang misterius, yang menakutkan, yang mengerikan, yang ‘entah bagaimana’, yang susah dijelaskan, cuma bisa dialami, dst. Itu bukan konsep Roh Kudus yang diajarkan dalam Alkitab. Roh Kudus dalam konsep Alkitab, pertama berkaitan dengan Mesias, Pribadi Kedua; dan setelah itu seperti kita baca di sini, ada 7 aspek: hikmat, pengertian, nasihat, keperkasaan, pengenalan, takut akan Tuhan (kesalehan/ piety), dan kesenangan takut akan Tuhan (jadi bisa 6 kalau kita berhenti di ayat 2, atau 7 kalau kita berhenti di ayat 3a). Kita akan membahas bagian-bagian tersebut, mengenai waktu Roh Kudus diberikan kepada Gereja/ orang percaya, apa yang akan terjadi.

Yang pertama, roh hikmat. Waktu Gereja diberikan Roh Kudus, waktu urapan itu diberikan kepada Gereja, maka Gereja menjadi Gereja yang berhikmat. Apa artinya Gereja yang berhikmat? Atau kalau dihayati secara pribadi, apa artinya pribadi yang berhikmat? Orang Kristen yang berhikmat itu seperti apa?

Hikmat tidak harus sama dengan ‘banyak pengetahuan’. Ada orang yang pegetahuannya banyak, bahkan seperti ensiklopedi dan bisa menganalisa begitu tajam, tapi tidak tentu punya hikmat. Ada orang yang punya kekuatan menganalisa, bisa melihat suatu hal negatifnya di sini situ, dsb., tapi waktu diminta solusinya, dia bilang: “O, itu bukan bagian saya. Saya ini penganalisa resiko, bukan bagian solusi, urusan solusi tanya orang lain. Saya cuma bisa kasih tahu jurang ada di mana, kecelakaan bisa terjadi di mana, tapi kalau soal bagaimana jalan yang benar, itu bukan urusan saya”. Ini tetap bukan hikmat. Hikmat bukan cuma bisa melihat kesulitan, hal yang negatif, kekurangan, tapi juga bisa membaca situasi dan kemudian menggerakkan itu dalam pertolongan Tuhan, bisa memberikan jalan keluar, bisa berespon dengan benar, bisa memimpin. Kehidupan Yesus Kristus itu kehidupan yang luar biasa penuh dengan hikmat. Bukan cuma waktu umur 12-13 tahun waktu dibawa ke Bait Suci Dia penuh dengan hikmat, tapi juga sepanjang hidup-Nya dalam cara Dia menghadapi kesulitan, menghadapi kemungkinan untuk discourage, menghadapi musuh-musuh-Nya, menghadapi murid-Nya yang jatuh, menghadapi murid-Nya yang terlalu percaya diri, semuanya penuh dengan hikmat.

Orang yang punya hikmat itu bukan sekedar punya pengetahuan saja --apalagi pengetahuan yang sebatas kognitif saja-- tapi terutama bahwa dia bisa mengaplikasikannya dalam saat yang tepat. Orang yang berhikmat, tahu kapan dia musti berhenti bicara, kapan dia cukup melihat saja, kapan dia musti bicara panjang, kapan dia melakukan ini dan melakukan itu. Dan Gereja yang berhikmat adalah Gereja yang diberkati Tuhan. Gereja yang tidak berhikmat akhirnya masuk ke dalam rutinitas saja --kalau Minggu, sebagai orang Kristen baik-baik ya, musti datang ke gereja, toh tidak ada acara apa-apa-- terus dalam putaran rutinitas tapi tidak menikmati berkat Roh Kudus. Tidak ada Roh Pentakosta yang menggerakkan kehidupannya, tidak ada hikmat, tetap jadi orang yang tidak menikmati, tetap bikin kesalahan yang sama lagi dan lagi, tidak ada pertumbuhan dalam kehidupannya. Kalau orang bertumbuh, dipenuhi Roh Kudus, dia akan semakin bertambah hikmatnya. Kita membaca dalam Alkitab, Yesus waktu bertumbuh, Dia semakin bertumbuh juga hikmatnya –menurut natur manusia-Nya.

Yang kedua, roh pengertian/ understanding. Apa itu understanding? Ada orang menjelaskan seperti ini: understanding adalah karunia yang diberikan oleh Tuhan , sehingga seseorang bisa mengaitkan berbagai macam aspek dalam kehidupan ini secara koheren, integratif, dan bukan fragmented.
Orang belajar kebenaran dalam ilmu ini, ilmu itu --belajar banyak kebenaran (truth dalam dimensi plural)-- pertanyaannya, bagaimana mengintegrasikan itu? Kebenaran yang dipelajari dalam suatu bidang tersebut, kaitannya apa dengan yang lain?  Dalam teologi ada teologi sistematika, maksudnya teologi yang harusnya sistematis. Teologi sistematika berbeda dengan teologi historika. Teologi historika mempelajari kesejarahan, gerakan, diakronik, perkembangan dari waktu ke waktu; teologi biblika, kita melakukan eksegese, penggalian, penafsiran Firman Tuhan dari pasal ke pasal; sementara teologi sistematika membicarakan satu topik penting, misalnya “Allah”, atau “manusia”, lalu dibahas secara sistematis. Di dalam teologi sistematika harus ada koherensi; misalnya kalau Saudara percaya doktrin Allahnya begini maka doktrin manusia-nya harus begitu, doktrin keselamatan-nya harus begitu, dan doktrin akhir zaman-nya harus begitu. Jadi, Saudara percaya doktrin akhir zaman yang seperti apa, itu akan mempengaruhi bagaimana Saudara bertanggung jawab sebagai manusia di dalam kehidupan belajar, kehidupan bekerja, kehidupan sebagai warga negara. Itu yang namanya koherensi; kalau Saudara percaya teologinya begini, maka hidup Saudara begitu.

Contoh, filsuf Bertrand Russel bilang: “Kecuali Tuhan itu ada, maka pembicaraan tentang arti hidup itu absurd, tidak bermakna”.  Dia seorang ateis, dan menurut dia, kalau kita bicara bahwa hidup ada artinya, maka Tuhan harus ada. Kalimat ini benar. Dia sendiri tidak percaya Tuhan ada, berarti         --menurut dia-- membicarakan arti hidup tidak ada gunanya karena yang namanya ‘arti hidup’ itu tidak ada, karena begitu kita membicarakan ‘arti hidup’ maka musti bicara tentang ‘Allah’; dalam hal ini dia betul. Dia betul bukan karena dia tidak percaya Allah; dia betul waktu mengatakan bahwa arti hidup tidak bisa dipisahkan dengan Allah. Kalau Saudara percaya hidup ini berarti, tapi hidupnya tidak mau diatur oleh Allah, itu namanya tidak koheren, ‘gak nyambung, tidak kompatibel. Kalau Saudara percaya hidup ini ada artinya, berarti harus percaya ada Allah yang memberikan arti hidup, karena ‘arti’ tersebut bukan sesuatu yang kita cari sendiri melainkan sesuatu yang diberikan dari luar, dan yang memberikan pasti adalah Sang Pencipta. Dengan demikian harus ada Pencipta (Allah) yang memberikan arti bagi ciptaan ini untuk kehidupannya --kehidupan Saudara dan saya. Kita percaya hidup itu ’berarti’, maka artinya kita percaya Allah ada, dan kita hidup, bergerak, bernafas, berkarya, di dalam Allah. Itu baru koheren. Tetapi kalau Saudara percaya hidup itu ‘berarti’ namun Saudara cari-cari sendiri artinya, itu tidak koheren, tidak sistematis. Itu bukan teologi sistematis, itu teologi amburadul; teologi yang fragmented, bukan teologi yang integratif. Waktu Roh Kudus diberikan, Dia akan menolong kita untuk membawa kehidupan kita jadi integratif, ada kesatuan, ada embodiment.

Orang seringkali berusaha untuk menjelaskan koherensi serta harmonisasi dari Alkitab, misalnya bahwa Alkitab ini tidak ada pertentangannya sama sekali dari awal sampai akhir, bahwa ini menunjukkan satu integrasi; kalau ada ayat-ayat yang kelihatan bertentangan, kita susah payah menjelaskan bahwa ini bukan pertentangan, bukan kontradiksi, tapi paradoks --tapi mungkin juga tetap tidak bisa menjelaskan, cuma main istilah doang. Kita pakai istilah paradoxical tension, sibuk menjelaskan koherensinya Alkitab, tapi jangan-jangan kehidupan apologetika seperti ini mengalihkan pandangan dunia supaya menyelidiki koherensi-tidak koherensi, bertentangan-tidak bertentangan, sinkron-tidak sinkron dari teologi kita, daripada melihat kehidupan kita.

Dunia mau melihat kehidupan kita, koheren atau tidak dengan yang kita percaya. Tapi kita tidak suka dilihat; kita bilang: “Jangan lihat kehidupan saya, lihatlah Kristus saja!” Maksudnya, kalau lihat kehidupan saya, saya tidak koheren kehidupannya, saya ini bukan paradoksikal lagi tapi penuh dengan kontradiksi, jadi jangan lihat saya. Jadi apolgetikanya apa? “Mari kita bicara tentang teori, ini teori yang saya percaya, teori yang koheren, yang integratif, yang ‘gak ada pertentangannya!” Lalu orang dunia tanya: “Lah, hidup Lu sendiri koq banyak pertentangan antara yang Lu ngomong dan yang Lu lakukan?? Katanya percaya Injil, koq di pekerjaan jadinya kayak gitu??” Dan jawabnya: “O, jangan lihat itu, kita tidak bicara koherensi itu, kita bicaranya koherensi Alkitab!” Koherensi Alkitab sih koherensi Alkitab, integrasi Alkitab sih integrasi Alkitab, Saudara ber-apolegetika memperjuangkan bahwa Alkitab tidak ada kontradiksinya, dsb., tapi saya teringat perkataannya Corrie ten Boom: “Dunia itu tidak baca Alkitab, dunia baca kamu dan saya.”
Dunia tempat kita tinggal tidak tertarik baca Alkitab, mereka membaca Saudara dan saya, membaca kehidupan orang Kristen, Gereja, komunitas orang Kristen. Dan Paulus berani mengatakan, “Kamu –kita, orang percaya—adalah surat-surat Kristus.” Surat Kristus adalah Injil Matius, Injil Yohanes, dst., lalu Paulus bilang ‘kamu dan saya –kita ini-- surat Kristus’, ini kalimat yang berani sekali, kalimat yang penuh dengan resiko, kalimat yang bisa sangat mengecewakan banyak orang. Tetapi Saudara dan saya yang sangat tidak layak ini dipanggil untuk menghidupi cerita itu; dan jangan bilang “jangan lihat saya, lihat Yesus”, karena dunia itu melihatnya di dalam kehidupan Saudara dan saya, ada integrasi atau tidak.

Memang kita ini tidak sempurna, broken, kesaksian kita tidak sempurna, kita perlu pengampunan bukan cuma dalam teologi kita tapi juga dalam kesaksian hidup kita yang sangat tidak sempurna, tetapi tetap saja panggilan untuk berbagian dalam berkat yang dikaruniakan oleh Roh Kudus, yang memberikan understanding, adalah menghadirkan kehidupan yang integritas, untuk mengaitkan fragmen-fragmen kehidupan kita yang ‘gak nyambung ini menjadi satu kesatuan yang bermakna, dan supaya manusia tahu apa tujuan akhirnya. Itulah understanding. Orang yang punya understanding, dia bisa mengaitkan semua aspek dalam kehidupannya secara meaningful dan tahu tujuan/ fokusnya. Saya rindu jemaat di tempat ini betul-betul memberikan dampak dalam masyarakat, dalam kehidupan keluarga, meski porsi setiap orang lain-lain, talenta setiap orang juga lain-lain. Waktu kita studi, waktu kita bekerja, sebagai orang Kristen di mana bedanya? Kalau orang baru tahu diri kita Kristen karena sebelum makan siang berdoa dulu, atau setelah kerja bareng 4 tahun baru dia kaget “Lu ternyata orang Kristen!”, itu harusnya bikin kita sedih, karena artinya tidak ada bedanya. Bedanya cuma waktu menghadapi piring Saudara berdoa dulu, setelah itu tidak ada bedanya, sama persis dengan orang yang tidak kenal Tuhan. Itu bukan mempermuliakan Tuhan.
Ketika Roh Kudus diberikan kepada Gereja, Gereja memiliki understanding; bukan dalam arti cognitive understanding, melainkan kita menghadirkan kehidupan yang integratif, yang ada integritas, yang bisa mengaitkan satu bidang dengan bidang yang lain, yang bisa melihat satu keseluruhan yang bermakna, dan bisa mengetahui tujuan akhir semua ini ke mana, fokus dalam kehidupan ini apa, dan bukan banyak fokus tapi satu fokus saja.

Yang ketiga, roh nasihat (counsel). Kata ‘counsel’ kaitannya dengan counsellor, counselling; bahasa Indonesia pakai istilah ‘nasihat’. Tetapi, waktu di sini dikatakan “roh nasihat”, pertama-tama maksudnya kitalah yang terlebih dulu dinasihati, kita yang ada masalah, kita yang perlu dianalisa, kita yang perlu dinilai secara tepat dan benar --inilah the gift of counsel. Orang yang bisa counsel orang lain, dia seorang yang bisa menilai dengan tepat. Siapa yang bisa menilai dengan tepat? Tuhan.

Tuhan bisa menilai dengan tepat, kita suka salah menilai; salah menilai Gereja kita sendiri, salah menilai keluarga kita, salah menilai diri kita sendiri, salah menilai anak kita sebagai yang paling lucu, paling pintar, paling sopan, dsb., padahal tidak begitu, sampai ada jemaat yang marah karena anaknya ditegur guru Sekolah Minggu. Keadaan di dunia memang seperti ini, selalu keluarga kita yang benar, yang selalu salah adalah orang lain, keluarga orang lain. Kalau roh nasihat diberikan, pertama-tama kita bisa menilai diri kita terlebih dahulu secara tepat. Orang yang bijaksana, sebelum orang lain menilai dirinya, dia sudah menilai lebih dulu; yang sangat tidak bijaksana kalau sudah dinilai orang lain, masih tidak bisa terima juga. Tuhan sudah pakai orang lain untuk menilai, dia tetap tidak bisa terima penilaiannya, sementara dia sendiri juga tidak bisa menilai dirinya sendiri, terus-menerus salah baca. Misalnya saya bicara di sini dan Saudara bolak-balik lihat jam tangan lalu lihat saya, liihat jam tangan lalu lihat saya, kemudian saya tafsir ‘O, senang ya, dengar saya bicara, mau perpanjang satu jam lagi’, itu benar-benar kacau, artinya tidak bisa baca, tidak bisa menilai, tidak ada kepekaan –tidak ada roh nasihat.

Pengertian karunia roh nasihat ini bukan dalam arti bagaimana kita jadi konselor yang hebat; roh nasihat artinya waktu Roh Kudus memenuhi seseorang, Dia akan membuat orang itu sadar akan keadaan dirinya, lalu dia menilai dirinya dengan tepat. Orang yang menilai dirinya dengan tepat,  barulah dia bisa dipakai Tuhan untuk menasihati orang lain. Kalau kita sendiri tidak bisa dinasihati, bagaimana kita menasihati orang lain?? Contoh, ada orang tulis buku tentang pernikahan (bukan orang Kristen), tapi dia sendiri kawin cerai sampai 4-5 kali; lalu orang bilang, “Lu sendiri kawin cerai 4-5 kali, bagaimana sih?” Dia jawab, “Practice makes perfect”. Inilah dunia. Kita tidak bisa menasihati diri sendiri tapi mau menasihati orang lain. Saya bukan bilang kita baru boleh menasihati orang lain setelah diri sendiri sepenuhnya sempurna seperti Kristus --tentu saja tidak akan pernah sempurna selama kita di dunia-- melainkan di dalam pengertian sembari kita menasihati orang lain, kita juga menasihati diri sendiri. Apa yang kita katakan kepada orang lain, itu juga berlaku untuk kita sendiri. Apa yang kita kotbahkan kepada jemaat, itu juga kotbah kepada diri sendiri. Inilah pengertian roh nasihat.

Yang keempat, roh keperkasaan. Bahasa Inggrisnya pakai istilah ‘mighty’, bahasa Latin ‘fortitudo’; dalam bahasa Inggris kadang-kadang diterjemahkan dengan ‘courage’ yang merupakan salah satu dari Four Cardinal Virtues (courage, righteousness/justice, temperance/self-control, prudence/wisdom).

Bicara tentang ‘courage’, Aristoteles mengartikannya sebagai keberanian untuk ikut perang, yang tidak mau ikut perang itu pengecut. Keberanian dalam konteks filsafat kuno, dikaitkan dengan bagaimana seseorang berani berperang. Ada satu film berjudul “Four Feathers”, ceritanya tentang 4 sahabat menghadapi keadaan yang mengharuskan mereka ikut perang. Tiga orang siap pergi berperang, tapi yang satu tidak mau, karena dia mau menikah. Tiga temannya sangat kecewa. Singkat cerita, akhirnya orang yang keempat ini diam-diam berangkat juga menghadapi musuh, bahkan sempat menyelamatkan salah satu temannya. Film itu bicara tentang virtue of courage, dan dikaitkan dengan perang –orang yang courageous, artinya berani berperang. Gambaran seperti ini agak ada bahayanya. Kalau Saudara pikir, ‘saya bukan penakut, kalau ada apa-apa saya maju duluan; kalau suami takut, saya yang turun dari mobil berantem dengan supir lain’, dsb., lalu Saudara pikir diri pemberani, tapi maksudnya berani berantem, berani terlibat di dalam konflik, itu tidak ada urusannya dengan keberanian dalam Alkitab.

Kalau Saudara membaca Kisah Para Rasul, murid-murid tadinya tidak berani bersaksi, tetapi setelah Roh Kudus dicurahkan, mereka jadi orang-orang yang pemberani. Pemberani dalam pengertian berani bersaksi. Kesaksian betul-betul memerlukan courage, karena dunia kita sangat discouraging. Courage/ keberanian lawan katanya bukan cuma coward/ takut, tapi juga discourage, yaitu waktu kita kecewa, terluka, rasa disalahmengerti meski sudah berusaha memberikan yang terbaik. Saudara lihat kehidupan Yesus Kristus, Dia sangat punya alasan untuk discourage; sudah sejak awal Yohanes bilang “Dia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tapi milik kepunyaan-Nya tidak menerima Dia” --bayangkan Saudara masuk rumah sendiri, lalu diusir oleh anak, betapa sakitnya. Tapi waktu Roh Kudus dicurahkan, Dia memberikan keberanian yang mengangkat kita keluar dari discouragement- discouragement yang ada dalam dunia ini.

Dunia ini dunia yang kejam, dunia yang bukan cuma tidak memberikan kemungkinan untuk courageous, tapi juga terus-menerus men- discourage kita, dunia yang lebih mendorong kita untuk jadi penakut daripada jadi pemberani. Oleh karena itu waktu kita bicara tentang Roh Kudus –dalam hal ini virtue of courage—kita melihat kehidupan Yesus Kristus sendiri, bagaimana Dia courageous, termasuk courage to suffer. Thomas Aquinas mengartikan istilah ini dengan endurance/ tahan banting. Orang Kristen yang pelayanan mula-mula biasanya  banyak yang menggebu-gebu, tapi kita perlu orang yang setia, yang tidak gampang discourage, yang tahan banting. Kita bukan diminta jadi orang yang perkasa dalam pengertian tidak boleh rapuh, tidak boleh rentan, tidak boleh luka, dsb. –itu tidak bisa dihidupi karena kita ini manusia daging dan darah, bukan batu —kita diminta jadi orang yang perkasa dalam pengertian courageous yang boleh luka, kecewa, sakit hati, tapi tetap setia seperti Yesus Kristus. Dia tidak membiarkan kekecewaan menguasai diri-Nya sampai Dia sendiri jadi patah di tengah jalan karena terlalu kecewa dikhianati murid-murid-Nya. Dia setia sampai mati. Waktu Saudara membaca Kitab Wahyu, panggilannya tetap sama; sama seperti kehidupan Kristus, setia sampai mati.

Ada orang bilang, kita tidak pernah tahu batas diri kita sampai mana sebelum kita melampauinya. Ini wejangan dunia, bukan Alkitab; kita, orang Kristen jangan tidak mengerti bijaksana seperti ini. Tapi dalam perspektif Kristen lebih lagi; kita tidak bilang “kamu musti melampaui, baru kamu tahu”, yang kita percaya dalam Kekristenan adalah di dalam Tuhan kita bisa melakuan segala sesuatu. Yang tidak mungkin menjadi mungkin, bersama dengan Tuhan –itu Kekristenan. Kalau kita terus-menerus menghitung menurut manusia, ya, sudah, tidak ada courage, tidak bicara tentang Tuhan melainkan bicara manusia yang sedang kalkulasi. Itu saja. Tidak perlu ada iman juga, karena semua dikalkulasi. Saudara pelayanan dikalkulasi, persembahan dikalkulasi, ini itu semuanya dikalkulasi, kalau begitu tidak usah ada Tuhan. Tapi kalau kita berjalan mengikut Tuhan, maka kita berjalan di dalam keperkasaannya Tuhan. Roh Tuhan adalah roh keperkasaan, yang memberikan kepada kita keberanian.

Yang kelima, roh pengenalan. Bahasa Inggrisnya memakai istilah knowledge, maksudnya mengenal; dalam hal in bahasa Indonesia lebih bagus.

J. I. Packer membedakan antara knowing about God dengan knowing God. Saya percaya tahun 2019 ini, tentang knowing about God, semua orang memilikinya. Tidak mungkin di tahun segini ada orang yang tidak punya ide tentang Allah, tidak mengerti apa itu Allah, meski dalam pengertian yang kacau balau. Knowing about God itu satu hal, tapi yang dimaksud di bagian ini adalah knowing God, mengenal. Mengenal siapa? Mengenal Tuhan, mengenal diri, mengenal sesama. Ini berbeda dengan pengetahuan dalam pengertian modern, yang sifatnya objektif, menjadikan yang dikenalnya itu objek. Mengenal itu soal relasi; kalau saya mengenal seseorang berarti saya ada hubungan, saya bukan mengetahui secara dingin. CCTV kamera bisa mengetahui Saudara ada di mana, tapi itu pengetahuan yang impersonal; kita tidak bisa mengatakan CCTV itu mengenal Saudara. CCTV itu barang mati, dia bisa rekam Saudara secara persis dan akurat, tapi itu bukan pengenalan.

Pengenalan adalah perjumpaan pribadi dengan pribadi yang lain. Pengenalan sifatnya bukan statis, tetapi sesuatu yang mengubah. Kalau kita mengenal Tuhan, Tuhan sendiri adalah Tuhan yang dinamis, bukan Tuhan yang statis, maka waktu kita berjalan bersama dengan Tuhan, kita sendiri juga diubah. Banyak orang dalam hidupnya sudah kecewa duluan karena pikirannya statis. Contohnya, ‘saya sudah tahulah orang itu, saya ‘gak senang sama dia, karena dia begitu orangnya’ --maksudnya, orang tersebut akan begitu selama-lamanya. Tapi yang celaka, Saudara sendiri juga begitu terus selama-lamanya, terus-menerus prasangka buruk, terus-menerus pikir begitu --artinya Saudara juga tidak berubah. Waktu kita melihat orang lain statis, tanpa sadar, kita sendiri juga membuat diri kita statis. Tetapi kalau Saudara memberikan ruang untuk orang lain bisa berubah       --diubahkan olehTuhan-- Saudara bisa masuk ke dalam surprise-surprise, ‘O, ternyata dia begini’, dalam arti positif. Saudara mulai melihat kelebihannya, keindahannya, dsb. Itu berarti kita sendiri juga diubah. Itulah pengenalan.

Pengenalan tidak pernah statis; jangankan di dalam dunia manusia, di dalam paradigma sains postmodern juga sudah ada pergeseran kalau dibandingkan sains modern. Dalam sains modern, waktu dia mengamati, dia pikir ‘ini’ yang diamati dan  ‘saya’ yang mengamati. Sementara orang postmodern mengatakan, waktu saya mengamati dunia, saya sendiri juga bagian dari dunia. Waktu Saudara bilang, “Saya mengamati masyarakat”, Saudara sendiri bagian dari masyarakat atau bukan?? Saudara bilang, “Saya melihat dunia ini”, lalu memangnya Saudara di mana? di Planet Pluto?? Saudara mengamati dunia, Saudara juga bagian dari di dunia. Orang postmodern peka akan hal ini, bahwa kamu juga bagian dari yang diselidiki, kamu sendiri juga termasuk yang diselidiki itu; dan waktu kamu amati sesuatu, yang diamati itu bukan statis, bukan tidak bergerak, tapi jalan. Saudara tidak bisa melakukan riset di laboratorium sambil minta kepada Tuhan supaya matahari berhenti, dunia berhenti, karena Saudara mau mengamati sesuatu itu. Waktu Saudara mengamati, dunia ini sedang bergerak. Kalau saya sekarang bilang, “Usia saya 17 tahun 6 bulan 13 hari 6 jam 5 menit 57 detik”, begitu selesai ngomong, kalimat itu sudah salah, sudah bukan 57 detik lagi, sudah jadi 58 detik, bahkan 59 detik, dst. Jadi setiap kali selesai ngomong, musti koreksi lagi, karena semuanya bergerak. Hal ini disadari paradigma postmodern, tapi tidak disadari paradigma modern. Di dalam dunia kita sekarang sudah ada kesadaran seperti ini, lalu kalau orang Kristen cara pikirnya masih seperti paradigma modern, betapa ketinggalannya. Padahal, Alkitab kita sudah mengatakannya sejak dulu, bahwa pengenalan itu tidak bisa melihat seseorang seakan-akan dia seperti itu terus; itu bukan pengenalan. Manusia itu di dalam proses, kalau dia tidak semakin serupa dengan Kristus, berarti semakin jauh; tidak ada yang berdiri di tempat, tidak goyang. Bahkan batu pun mengalami pengeroposan. Filsuf aliran Becoming mengatakan, “Saudara tidak pernah menginjak sungai yang sama, karena airnya mengalir terus.” Saudara pergi ke kota apapun, tidak pernah kota yang sama; kota yang Saudara lihat 3 jam kemudian dibandingkan sebelumnya, itu sudah jadi kota yang lain, sudah terjadi pergerakan, sudah terjadi perubahan.

Bicara tentang pengenalan, kabar baiknya adalah waktu kita mengenal Tuhan, Tuhan sendiri bukan statis, Tuhan sendiri akan memimpin kita secara dinamis, dan karena itu kehidupan kita harusnya terus-menerus mengalami perubahan, namanya pertumbuhan. Pengenalan bukanlah soal sudah mengenal Tuhan atau belum mengenal Tuhan --yang begini jadi statis-- pengenalan adalah sekaligus ‘sudah’ tapi masih ada ‘belum’-nya juga, karena kita belum selesai. Itulah pengenalan yang terus-menerus. Harap komunitas di tempat ini, waktu Roh Kudus hadir dalam hidup kita, kita jadi orang yang semakin mengenal satu dengan yang lain. Bicara mengenal berarti bicara relasi, bicara relasi berarti bicara relasi yang personal --bukan impersonal-- bicara relasi yang personal berarti selalu melibatkan cinta kasih. Kalau kehidupan kita tidak bertumbuh di dalam kasih, berarti kita tidak bertumbuh. Tidak peduli baca buku teologi berapa banyak, baca Alkitab berapa kali, kalau kita tidak bertumbuh di dalam cinta kasih, berarti kita tidak bertumbuh –cuma seperti bertumbuh padahal tidak. Ada orang ke gereja bertahun-tahun tapi tidak bertumbuh --entah di mana persoalannya, mungkin di pengkotbahnya, mungkin juga di orang itu sendiri, yang pasti bukan di Tuhan-- tetapi yang kita tahu, waktu seseorang mengenal, waktu Roh Kudus memberikan karunia pengenalan, dia akan bertumbuh, kehidupannya akan terus diubahkan.

Yang keenam, roh takut akan Tuhan; atau terjemahan Vulgata memakai istilah ‘kesalehan’/piety. (Dalam tradisi bahasa Latin, yang ke-6 pakai istilah ‘piety’, sementara yang ke-7 baru ‘fear of The Lord’). Menurut Calvin, kesalehan adalah sikap hormat kepada Allah sebagai Bapa, dan karena itu bukan cuma hormat saja tetapi juga ada pengertian cinta kasih. Allah adalah Bapa kita yang memelihara kehidupan kita. Dia bukan tuan yang kejam yang memperlakukan kita sebagai budak –itu bukan Allahnya orang Kristen.

Dunia ini tidak ada sosok ‘fatherhood’, yang ada adalah gambaran ‘tuan-budak’, maksudnya: kamu kerja dulu nanti saya akan beri gaji, upah, pujian, tepuk tangan. Di sini tidak bicara anugerah, tidak bicara kasih, tidak bicara belas kasihan, yang ada cuma ‘kamu layak mendapatkan’ atau ‘kamu tidak layak’. Kalau kamu kerjanya oke, kamu layak dapat gaji, dan karena achievement kamu bagus, kita tambahkan bonus; tapi kalau kamu kerjanya ‘gak bagus, ya, sudah, kita juga tidak kasih apa-apa, karena kamu tidak ada achievement apa-apa. Di dalam dunia adanya paradigma seperti ini, Saudara musti menghasilkan sesuatu lebih dulu, baru mendapatkan penerimaan, approval, sambutan.

Tetapi kalau kita mengenal true piety, pietas yang sejati, true religion, Tuhan bukanlah tuhan yang seperti itu. Itu adalah pencobaan setan kepada Sang Anak Allah, yang juga masih jadi pencobaan terhadap kita, anak-anak Allah. Setan bilang, “Jika Kamu Anak Allah, ubahlah batu ini jadi roti”; maksudnya identitas-Mu akan saya stempel, saya sahkan, saya akui bahwa kamu betul Anak Allah, kalau Kamu berhasil mengubah batu ini jadi roti; jadi pertama, achievement dulu –batu jadi roti—baru belakangan stempel ‘Anak Allah’. Namun Yesus memulai pelayanan-Nya bukan dengan achieve something dulu; Dia memulai pelayannya dengan Bapa bicara “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan”; memosisikan diri sebagai ‘yang dicintai’, bukan sebagai ‘yang berhak’. Karena saya bisa ini, maka saya berhak itu, bukanlah Kekristenan.

Waktu kita bicara tentang kesalehan, tentang takut akan Tuhan dalam pengertian ini, maksudnya bukan takut dalam pengertian seakan Tuhan sudah siap menghukum orang-orang yang berdosa –bukan takut semacam itu. Dan ini jelas dibuktikan dengan hal yang ketujuh dalam pembahasan kita. Kalau kita bicara ‘takut’ dalam pengertian ketakutan karena Tuhan itu tuhan yang seperti polisi siap menghukum, maka ayat 3a “kesenangannya ialah takut akan Tuhan” ini jadi tidak bisa dimengerti, karena bagimana mungkin orang takut bisa senang. Misalnya saja orang takut anjing, lalu ‘kesenangannya adalah takut anjing’, itu namanya sakit jiwa; takut tidak pernah jadi kesenangan –kalau kita mengerti ‘takut’ dalam pengertian tadi. Kita tidak mungkin mengerti ‘takut’ dalam pengertian tersebut, karena kalau kita mengerti takut akan Tuhan dalam pengertian seperti itu –saya ke gereja supaya hidup lancar, Tuhan tidak marah—jadinya kita tidak bisa baca ayat 3a ini, karena hal itu tidak menyenangkan koq, itu menakutkan, bagaimana mungkin bisa jadi kesenangan??

Di sini ada perkataan “kesenangannya adalah takut akan Tuhan”, berarti pengertian ‘takut akan Tuhan’ di sini bukan dalam pengertian ketakutan yang tadi itu, melainkan dalam pengertian seperti misalnya yang dijelaskan Yohanes Calvin, yaitu ketakutan seorang yang menghargai, menghormati Tuhan sebagai Bapa, dan tahu Bapa itu adalah Bapa yang mengasih dirinya. Itulah kesalehan yang sesungguhnya. Dan kesalehan yang seperti ini, menyenangkan. Kekristenan harusnya menyenangkan, bukan menyusahkan, sedangkan dosa menyusahkan. Jangan dibalik jadi ‘dosa menyenangkan, ikut Tuhan menyusahkan’, itu ajaran dari setan yang memutarbalikkan. Ajaran Alkitab adalah: takut akan Tuhan itu menyenangkan. Tetapi orang yang suka hidup di dalam dosa, itu membawa kepada keadaan muak karena tidak memberikan kesenangan yang sejati.

Ada orang yang memberikan deskripsi kesalehan sebagai orang yang hidupnya selalu bergantung kepada Tuhan, dan dia datang kepada Tuhan dengan kerendahan hati, dengan iman percaya, dan dengan cinta kasih. Sebelum kita datang kepada Tuhan dengan kerendahan hati, Tuhan sudah lebih dulu datang kepada kita dengan kerendahan hati. Yesus inkarnasi, itu adalah kerendahan hati. Dia tidak harus menghampiri kita sebagai manusia. Dia Allah sendiri, Pribadi Kedua, mengapa Dia harus menghampiri kita sebagai manusia?? Bukankah Dia bisa menghampiri kita dengan tetap sebagai Allah? Tapi Dia menghampiri kita sebagai manusia; kalau itu bukan kerendahan hati, lalu apa?? Kita jangan sombong dengan merasa diri rendah hati –itu kontradiksi. Kita rendah hati bukan karena kita rendah hati, tapi karena Yesus merendahkan diri-Nya menjumpai Saudara dan saya. Inilah Injil. Bukan Saudara yang rendah hati, tapi Yesus. Sebelum kita bisa percaya dan setia kepada Tuhan, Tuhan sudah lebih dulu mempercayai kita.

Tuhan mempercayai kita dan Dia memanggil kita untuk hidup di dalam kehidupan yang saling mempercayai. Salah satu yang sangat membebani dalam kehidupan ini adalah kecurigaan. Kehidupan suami-istri, kalau isinya curiga melulu, tidak ada kepercayaan, itu sudah sulit, akhirnya apapun ditafsir negatif. Ini juga bisa terjadi dalam kehidupan Gereja. Seandainya Tuhan mendekati Petrus, Yohanes, Yakobus, dengan perspektif kecurigaan seperti itu --hati-hati dengan Petrus, dia over confidence, ngomong tok tapi ‘gak ada kenyataannya-- lalu waktu Petrus jatuh, Dia memandang Petrus (Alkitab memang mencatat Dia memandang Petrus) dengan pandangan penghakiman itu, ‘kan Gua sudah bilang, lu sih sombong, sukurin sekarang jatuh’; seandainya Kristus yang kita kenal adalah yang seperti itu, maka Saudara bolehlah saling curiga, karena Tuhan kita tuhan yang kayak begitu, yang judgemental, tidak bisa terima kesalahan orang lain. Tapi itu bukan Kristus yang di dalam Alkitab. Kalau Saudara mengenal Kristus yang sejati, kalau Kristus yang di hati Saudara adalah Kristus yang di Alkitab, maka seharusnya kehidupan kita adalah kehidupan yang belajar untuk percaya. Dan, kepercayaan memang bisa disalahgunakan; tapi Yesus sendiri juga pernah mengalami itu. Dia pernah mengalami pengkhianatan, Dia ditinggalkan oleh semua murid-Nya, tapi Dia percaya.

Kesalehan yang sejati ini juga bicara tentang cinta. Itu sebabnya takut akan Tuhan di sini bukan cuma dalam pengertian takut kepada Tuhan karena atribut kekudusan-Nya, tapi juga ada atribut kasih; bahwa Tuhan yang kepada-Nya kita takut, adalah Tuhan penuh kasih, Tuhan yang memelihara kita, Tuhan yang melihat sebelumnya dan Dia peduli kepada kita.

Terakhir, kalau kita mengerti ‘takut’ dalam pengertian seperti ini, kita bisa mengerti ayat 3a, “kesenangannya ialah takut akan Tuhan”. Kehidupan yang menghidupi keagamaan yang sejati (kesalehan) itu merupakan satu kesenangan. Mengapa? Karena kita akan dibawa untuk mengalami keajaiban demi keajaiban, ada perasaan wonder/kekaguman, ada perasaan awe.

Istilah ‘awe’ bisa jadi ‘awesome’ -- lagu “How Great Thou Art”, kalimatnya mengatakan “when I in awesome wonder” –tapi istilah ‘awe’ juga bisa jadi ‘aweful’, menakutkan, terrible. Kalau kita takut akan Tuhannya dalam pengertian yang tidak ada cinta, maka kita akan menghayatinya sebagai suatu gambaran yang aweful, terrible, menakutkan. Tapi dalam lagu tadi kita bukan menyanyi “when I in aweful wonder”, melainkan awesome, suatu perasaan kekaguman. Memang ada visi melihat Tuhan yang mahakudus, mahamulia, mahabesar, majestic, namun kita kemudian attracted ke sana. Ini tidak dimengerti dalam kepercayaan-kepercayaan seperti kepercayaan orang yang melihat gunung besar, pohon beringin, yang ada perasaan awe tapi yang aweful, menakutkan –seperti dikatakan Rudol Otto, “mysterium tremendum”, yang membuat kita gentar. Yang dimaksud di sini bukan kegentaran seperti itu, tapi satu kegentaran yang mebuat kita tertarik ke sana. Waktu Musa melihat semak menyala-nyala, itu bisa dibilang pemandangan yang menakutkan, tapi kemudian Musa tertarik untuk datang ke sana; Musa bukan rasa ngeri lalu cepat-cepat lari. Dia ada perasaan ketakutan, keheranan, tapi sekaligus perasaan yang tertarik untuk menuju ke sana.
Kalau kehidupan kita bertumbuh di dalam Tuhan, waktu Roh Kudus memenuhi kehidupan kita, kita akan memiliki visi tentang Tuhan yang seperti ini, Our Glorious God, Majestic God, tapi kita tertarik untuk datang ke sana, lebih daripada tertarik akan hal-hal yang dijanjikan dunia. Kiranya Tuhan menolong kita untuk mendapatkan Kristus di dalam segala kepenuhan-Nya.

Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah (MS)

Gereja Reformed Injili Indonesia Kelapa Gading

Download Ringkasan