Tidak Mencintai Hidup (KU1)

Waktu kita membaca bagian ini, di ayat 20 seperti ada satu narasi yang menggerakkan ceritanya ke tempat  lain, tapi tiba-tiba terputus, kemudian Yesus berbicara tentang kematian-Nya. Maksud saya, Yesus ini pelayanan di antara orang Yahudi, lalu di bagian ini ada beberapa orang Yunani, berarti mewakili gentiles/orang kafir/ dalam arti orang non Yahudi yang tidak bersunat, tidak memiliki Taurat; dan dikatakan di ayat 21, orang-orang Yunani ini ingin bertemu dengan Yesus. Di dalam beberapa tafsiran, kisah ini nampaknya terjadi di pelataran Bait Allah sehingga memungkinkan kehadiran orang-orang Yunani.

Memang Yohanes tidak menulis prinsip sejarah keselamatan seperti yang ada pada tulisan Lukas, tetapi dengan gerakan orang Yunani yang mulai mencari Yesus ini, menunjukkan bahwa pekerjaan Yesus secara publik di antara orang Yahudi sudah selesai. Hal ini mengantisipasi pasal 13. Pasal 12 merupakan penutupan dari pelayanan Yesus secara publik di Israel, lalu setelah itu masuk ke pelayanan kepada murid-murid-Nya secara lebih intens di pasal 13, “Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya”. Jadi kalau mau membagi Injil Yohanes di dalam 2 bagian besar, para ahli biasa membaginya sbb.: pasal 1-12 adalah pelayanan publik Yesus, pasal 13 dst. Yesus melayani murid-murid-Nya. Namun kita tidak boleh membacanya dalam pengertian hal ini disebabkan karena kekecewaan Yesus, melainkan dalam pengertian kedaulatan Allah, bahwa bangsa Yahudi ini sudah pernah dilayani Yesus Kristus dan sudah cukup mendengar Firman yang keluar dari mulut Kristus, tapi mereka terus-menerus mengeraskan hati, menolak, tidak menghargai, dan akhirnya ditutup dengan cerita pasal 12 ketika beberapa orang Yunani mau bertemu dengan Yesus. Jadi di sini gerakannya sudah sampai kepada bangsa asing. Ada satu perikop yang pernah kita bahas (pasal 7), yang di dalamnya ada kalimat sindiran tapi juga kalimat prophetic tanpa mereka sadari, yaitu ketika Yesus mengatakan: “Aku akan pergi ... kamu akan mencari Aku, tetapi tidak akan bertemu dengan Aku, sebab kamu tidak dapat datang  ke tempat di mana Aku berada" yang ditanggapi dengan: "Ke manakah Ia akan pergi, ... Adakah maksud-Nya untuk pergi kepada mereka yang tinggal di perantauan, di antara orang Yunani, untuk mengajar orang Yunani?” Dan kalimat itu betul-betul digenapi di pasal ini, orang Yunani datang mencari Yesus.

Cerita bagian ini tidak sama dengan cerita di dalam Injil Matius atau Lukas ketika ada orang Yunani atau Siro-Fenisia dsb., yang kemudian Yesus melayani mereka juga; sementara di bagian ini Yesus mengatakan “Telah tiba saat-Nya Anak Manusia dimuliakan”, seakan ‘gak nyambung dalam jalan ceritanya. Kalau dalam cerita perempuan Siro-Fenisia, Yesus akhirnya melayani mereka, ini menunjukkan satu perspektif yaitu pelayanan kepada Israel kemudian kepada gentiles; sedangkan dalam konteks cerita Injil Yohanes, orang gentiles sampai mencari Yesus, ini berarti dalam perspektif Yohanes pelayanan untuk Israel sudah selesai. Itu sebabnya Yesus mengatakan, "Telah tiba saatnya  Anak Manusia dimuliakan” (ayat 23).

Istilah ‘dimuliakan’ di ayat 23 sebenarnya cukup jelas artinya kalau kita melihat ayat-ayat selanjutnya.  Terjemahan bahasa Inggris memakai istilah ‘glorified’ (dimuliakan) atau juga ‘lifted up’ (ditinggikan); “The hour has come for the Son of Man to be glorified”, dan dari konteksnya, istilah ini menunjuk kepada kematian. Tidak seperti Lukas yang menggambarkan ‘dari kesengsaraan menuju kepada kemuliaan’ (bahwa untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah kita harus melalui berbagai kesengsaraan),  dalam hal ini, Yohanes melihatnya sebagai satu kesatuan, bahwa kematian Kristus-kebangkitan Kristus-kenaikan Kristus ke surga merupakan satu kesatuan. Dengan demikian, istilah ‘dimuliakan’ di bagian ini termasuk juga ‘kematian Kristus di kayu salib’, tapi tidak dimengerti secara sekuensial seperti Lukas ‘kematian lalu kebangkitan’. Yohanes melihat seluruh peristiwa itu sebagai satu pemuliaan (glorification).

Kita tidak perlu membandingkan mana yang lebih tepat karena masing-masing ada kekuatannya. Mungkin saja pemahaman kita cenderung kepada Lukas, kita menekankan untuk ikut menderita karena tanpa penderitaan kita tidak akan masuk kepada kemuliaan –yang adalah perspektifnya Lukas—tetapi dalam profil teologinya Yohanes kita mendapati bahwa kematian di kayu salib itu sendiri adalah pemuliaan. Ini semacam theologia crucis-nya Yohanes, yang bukan melihat secara sekuensial. Apa aplikasinya dalam kehidupan kita? Kekuatan dari gambaran seperti Yohanes ini, kita jadi tidak melihat penderitaan sebagai suatu sarana atau batu loncatan untuk masuk kepada pemuliaan (saya bukan mengatakan Lukas berpikir seperti itu, Lukas punya kekuatannya sendiri, tapi dalam hal ini kita sedang membahas kekuatannya Yohanes, bukan Lukas).

Dalam Teologi Sistematika ada yang dinamakan Ordo Salutis (order of salvation), yang mulai dari election (pemilihan), external calling, internal calling, dst., setelah sanctification (pengudusan), lalu terakhirnya bicara tentang glorification –ada langkah-langlah dalam keselamatan. Tetapi kalau kita mempelajari dalam Teologi Historika, orang-orang seperti Calvin --bahkan mungkin seperti William Ames-- sebenarnya agak susah bicara tentang ‘order of salvation’, karena mereka tidak menekankan keselamatan di dalam pengertian sekuensial seperti itu. Kekuatan dari gambaran yang tidak sekuensial ini, bahwa dengan gambaran yang tidak sekuensial, urusannya jadi bukan yang ini dulu baru masuk yang itu, lalu kalau sudah masuk ke yang itu berarti tidak ada yang ini lagi, tetapi yang ini dan yang itu merupakan satu kesatuan.

Kembali ke pembahasan bagian ini, waktu kita tidak mengertinya secara sekuensial, kita jadi tidak akan melihat penderitaan –saat-saat Saudara menderita—sebagai suatu sarana, lalu kita perlu bersabar saja karena ujungnya nanti glorification; karena kalau demikian, saat-saat kita menderita akhirnya jadi tidak bermakna. Memang Alkitab tidak mengajarkan kita menikmati penderitaan, tapi penghayatan yang sekuensial membuat kita tidak bisa memaknai penderitaan itu sendiri. Maknanya jadi cuma menunggu kemuliaannya, sementara penderitaan itu sendiri tidak ada maknanya, cuma sekedar pembentukan supaya nanti siap dipermuliakan.

Dalam kitab Pengkotbah, Pengkotbah mengatakan “segala sesuatu indah pada waktunya”. Akhiran –nya di sini tidak harus selalu berarti –Nya dalam arti indah pada waktu-Nya, pada waktu  Tuhan –memang itu sudah pasti—tapi juga berarti indah pada waktunya itu sendiri, indah pada waktunya masing-masing. Kalau kita memahami pengertian ini, maka baik penderitaan maupun glorification, dua-duanya indah; yang indah bukan cuma saat pemuliaan, tapi waktu menderita itu pun ada keindahannya –tentu saja di dalam perspektif Ilahi. Waktu kita menderita karena Tuhan, dan kemudian ada saat-saat dipermuliakan di bumi –yang mengantisipasi kemuliaan yang akan datang—itu sama-sama diberikan oleh Tuhan, dan karena itu indah pada waktunya; inilah perspektif yang ditekankan Yohanes waktu kita membaca "Telah tiba saatnya  Anak Manusia dimuliakan”. Saatnya adalah saat pemuliaan; dan itu tidak bisa tanpa kematian di atas kayu salib, karena kemuliaan yang dimaksud itu termasuk naik ke surga, termasuk kebangkitan, termasuk juga kesengsaraan kematian di atas kayu salib –semuanya pakai istilah yang sama, ‘dimuliakan’. Dalam hal ini langsung kontras, dan juga menjadi kekuatan Injil Yohanes --sebagaimana seringkali diulang-- yaitu bahwa yang dilihat oleh dunia ini bukanlah yang dilihat oleh Tuhan.

Kematian Kristus di atas kayu salib, bagi dunia sudah pasti bukan kemuliaan; tetapi dari perspektif Ilahi, hal itu disebut “dimuliakan” –satu cara pembahasan yang sama sekali tidak mungkin dimengerti oleh dunia. Tuhan memberikan kepada manusia kebenaran, tapi manusia tidak bisa menerima, mereka bilang Yesus gila, pembohong, mengajarkan dusta. Sementara mereka sendiri, yang suka hidup di dalam dusta, tidak mau ditelanjangi oleh kebenaran. Mereka memeluk dusta dalam kehidupannya, mereka tidak mau mengenal diri dengan benar, mereka tidak mau diterangi dengan terang yang dari Tuhan, dan mereka mengatakan dusta itu kebenaran. Yang kebenaran dibilang dusta, yang dusta dibilang kebenaran –itulah perspektif dunia. Sama seperti itu waktu kita bicara tentang kematian Kristus; dalam pandangan orang Yahudi –bahkan orang Romawi pun akan mengatakan yang sama—kematian Kristus itu bukan kemuliaan.
Saya baru membaca satu artikel, dan di situ ada komentar-komentar terhadap artikel tersebut. Ada satu orang yang sinis terhadap Kekristenan --yang menurut saya mewakili pandangan dunia-- dia tidak bisa terima kalau adanya satu penghukuman yang begitu kejam tapi malah dibikin simbol dan dihormati, baginya itu seperti pikiran orang tolol. Memang itu perspektif yang sangat tepat dari perspektif dunia, yang tidak bisa mengerti bagaimana mungkin orang gagal, orang mati, yang jelas-jelas satu penghinaan, tapi malah disebut “dimuliakan”.  Itu tidak masuk akal. Lagipula pengikut-pengikut-Nya bukan saja seperti orang tolol tapi juga gila sebagaimana pemimpin mereka juga gila. Itulah perspektif dunia.

Jadi, waktu Yohanes mengatakan kalimat ini, "Telah tiba saatnya  Anak Manusia dimuliakan”, saya harap kalimat ini bukan cuma benar untuk Yesus saja, lalu kehidupan kita sama sekali berbeda dengan itu; saya harap  kita juga menghidupi Injil. Injil itu apa? Hal yang menurut Allah mulia dan menurut dunia hina, itulah Injil. Hal-hal yang dipermuliakan oleh dunia, menurut Allah bukan sesuatu yang mulia. Kalau bagian ini tidak masuk dalam kehidupan kita, kita akhirnya cuma jadi orang Kristen yang ngomong tok, kita sama juga mempermuliakan yang dipermuliakan dunia; kita bilang kita orang Krsten, KTP kita Kristen, setiap Minggu ke gereja, tapi sebenarnya kehidupannya tidak ada Injil. Ini kehidupan yang totally disintegrated.
Injil bukan sekedar Saudara percaya atau mengaku dengan mulut “Yesus adalah Tuhan”. Waktu dicatat di Alkitab tentang mengaku “Yesus adalah Tuhan”, saat itu taruhannya nyawa; jadi orang yang mengaku, dia pasti menghidupi Injil, karena dia membayar dengan nyawanya. Tapi sekarang, waktu kita bilang “Yesus adalah Tuhan, Yesus adalah Juruselamat”, kita tidak membayar dengan nyawa kita, karena istilah ‘juruselamat’ sekarang ini tidak ada benturannya, tidak ada siapapun yang dikenakan istilah ‘juruselamat’. Tetapi pada waktu itu, kalau orang menyebut ‘kyrios’/‘tuhan’, maksudnya adalah Kaisar; sementara Yesus juga disebut Tuhan, maka taruhannya nyawa.

Kalau kita betul-betul menghidupi Injil, maka salah satunya kita akan tidak tertarik dengan kemuliaan dunia, dan kita akan belajar apa artinya kemuliaan menurut perspektif Ilahi. Yesus waktu disalib, Dia menderita karena kehendak Bapa; itu pemuliaan. Kalau Gereja taat kepada Tuhan, menjalankan kehendak Tuhan, mengerjakan pekerjaan Allah, mengatakan yang berasal dari Allah, dan karena itu menderita, berarti Gereja itu sedang dipermuliakan oleh Tuhan. Waktu Saudara dan saya dalam kehidupan kita memilih taat kepada kehendak Tuhan, dan karena itu kita menderita, maka itu adalah glorification –menurut Injil Yohanes. Ini satu paket, tidak harus dimengerti secara sekuensial sebagai satu batu loncatan untuk upgraded life yang lebih tinggi lagi dan setelah ini akan datang pemuliaan. Bukan sekarang waktu dihina kita taat dulu sebentar, lalu nanti bisa balas dendam balas menghina.

Beberapa kali saya melihat video klip dalam bahasa Chinese yang temanya terus diulang-ulang. Ceritanya tentang orang yang dihina-hina, lalu pada akhirnya ternyata dia bos-nya; orang seperti dihina-hina dulu, padahal dalam hatinya ‘lu ‘gak tahu siapa gua’, dan pada akhirnya membuktikan diri, lalu orang yang tadinya menghina jadi gemetar. Putar-putar di situ terus. Kalau kita tidak berhati-hati, “injil” palsu ini bisa masuk ke dalam kehidupan Saudara dan saya; dan itu bukan Injil, bukan Injil menurut Yohanes. Kalau Saudara dihina lau Saudara tahan-tahan sampai kemudian tiba saatnya Saudara membuktikan diri, itu tidak ada urusannya dengan Yesus Kristus. Yesus Kristus tidak begitu. Dalam cerita Injil juga bukan itu yang diberitakan; penghinaan itu sendiri adalah glorification, bahkan Yohanes tidak pakai istilah ‘penghinaan’. Ini adalah glorification, karena Tuhan kita selalu taat kepada Allah Bapa, Dia mengerjakan pekerjaan Bapa-Nya, Dia mengatakan apa yang diterima dari Bapa-Nya –inilah substansi dari glorification. 

Di ayat 28 waktu Yesus mengatakan, “Bapa, muliakanlah nama-Mu!" Maka terdengarlah suara dari sorga: "Aku telah memuliakan-Nya, dan Aku akan memuliakan-Nya lagi!", di sini yang dipermuliakan adalah Allah Bapa; sementara di ayat 23, "Telah tiba saatnya  Anak Manusia dimuliakan, yang dipermuliakan adalah Allah Anak. Kemuliaannya Allah Anak dan kemuliaannya Allah Bapa adalah kemuliaan yang satu, bukan 3 kemuliaan (doktrin Tritunggal); maka kemuliaan yag dikatakan di ayat 23 dan ayat 28 bukan kemuliaan yang berbeda. Kemuliaan Bapa dan kemuliaan Anak adalah kemuliaan yang sama; ini adalah sesuatu yang diwahyukan kepada dunia. Waktu Bapa mengatakan "Aku telah memuliakan-Nya, dan Aku akan memuliakan-Nya lagi!",maksudnya total unitas Bapa-dan-Anak; Bapa yang mengutus Anak dan Anak yang selalu mendengar Bapa. Ini pernyataan kemuliaan. Waktu Bapa mengatakan "Aku telah memuliakan-Nya”, maksudnya mau mengkonfirmasikan bahwa selama ini kehidupan Yesus adalah kehidupan yang sepenuhnya taat kepada Bapa; ini berarti kemuliaan tersebut sudah dnyatakan, yaitu kemuliaan Anak Tunggal Allah yang selalu taat kepada Bapa-Nya. Kemuliaan Bapa, kemuliaan Anak, itu dinyatakan di dalam ketaatan Anak kepada Bapa.

"Aku telah memuliakan-Nya”, kemudian disambung dengan “dan Aku akan memuliakan-Nya lagi!" Ada kata ‘telah’, maksudnya Yesus sudah dinyatakan taat sepenuhnya; dan kata ‘akan’, maksudnya masih akan menyatakan kemuliaan itu dalam ketaatan yang klimaks, yaitu waktu di atas kayu salib. Kalimat “Aku akan memuliakan-Nya lagi”, menunjuk kepada perstiwa yang sama, yaitu peristiwa kematian, kebangkitan, dan kenaikan ke surga --karena waktu dikatakan di pasal 12 ini, Yesus memang belum naik ke atas kayu salib. Waktu Yesus berdoa, “Bapa muliakanlah nama-Mu”, dijawab oleh Bapa, bahwa sudah dimuliakan dan akan dimuliakan lagi. Kalau kita berdoa dengan kalimat yang sama ini, “Bapa, tolong supaya nama-Mu dimuliakan”, itu artinya Saudara dan saya naik ke salib kita masing-masing. Kalimat “Bapa muliakanlah nama-Mu”, artinya Anak akan menderita dan taat sepenuhnya menggenapkan kehendak Bapa –itulah artinya memuliakan Bapa, di dalam konteks Yohanes. Tetapi kita seringkali berpikir glorification bukan itu; glorification menurut kita mirip injil palsu yang di medsos-medsos tadi, yang ceritanya dihina-hina lalu ternyata orang besar. Itu bukan Injil, itu lebih mirip kebudayaan manusia yang berdosa.

Kembali ke bagian ini, ayat 23, "Telah tiba saatnya  Anak Manusia dimuliakan”; substansi dari ‘dimuliakan’ itu berarti meskipun harus kehilangan nyawa (ayat 25). Istilah ‘nyawa’ di sini terlalu menunjuk kepada kematian,  sebetulnya bisa diterjemahkan dengan istilah ‘hidup’ –harus kehilangan hidup. Memang tidak salah karena konteksnya kematian, tapi jangan lupa, Yesus bukan cuma menyerahkan nyawa-Nya dalam arti mati doang bagi Bapa sementara seluruh hidup bagi diri-Nya sendiri, melainkan dari lahir sampai mati –seluruhnya, bukan cuma titik terakhir—adalah kehidupan yang bagi Bapa-Nya. Maka di bagian ini istilah ‘nyawa’ boleh diganti dengan ‘hidup’; “... barangsiapa tidak mencintai hidupnya di dunia ini” –bukan cuma tidak mencintai nyawanya. Orang seringkali bilang, ‘hidup untuk Tuhan atau mati untuk Tuhan, mana lebih gampang?’ Tergantung juga cara matinya bagaimana, kalau cuma ditembak ‘doorrr..!’ tidak sampai 1 detik sudah mati, sepertinya ‘gak apa-apa juga, maka ada orang bilang “hidup untuk Tuhan itu tidak semudah membalik telapak tangan”. Mungkin saja  dalam pengertian tertentu mati untuk Tuhan bisa lebih gampang; oleh sebab itu bagian ini lebih baik diterjemahkan dengan ‘hidup’ daripada ‘nyawa’.

Ayat 24, “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.” Di sini Yesus menunjuk kepada kematian-Nya, pengorbanan-Nya. Ini cara kerja Tuhan; kalau tidak ada pengorbanan, tidak ada kematian maka tidak ada kehidupan, tidak ada kemiskinan maka tidak ada yang diperkaya --prinsip ini.

Paulus bilang, “Kami ini sehari-hari di dalam bahaya kematian supaya kamu boleh menikmati hidup, kami menjadi miskin supaya kamu diperkaya, kami menjadi hamba supaya kamu jadi raja”, lalu disambung, “Alangkah baiknya kalau kamu benar-benar raja” --kalimat sindiran-- maksudnya, kamu sudah waktunya menjadi hamba, jangan jadi raja terus yang mau dilayani. Tapi prinsip ini betul, kalau kita mau memperkaya kehidupan orang lain, ya, kita menjadi miskin; ada korban, memberi dari kekurangan, bukan cuma memberi dari kelebihan. Memberi dari kelebihan, itu cerita kapitalisme.  Saudara mengejar kekayaan, lalu Saudara tetap kaya dan punya pabrik besar, dan orang-orang di desa kecipratan; di situ Saudara tidak harus jadi miskin untuk itu, malah justru dengan semakin Saudara kaya, semakin orang lain diangkat hidupnya. Bagus juga. Tapi tidak ada prinsip pengorbanan di sini. Orang zaman dulu waktu puasa, mereka sendiri tidak makan karena rotinya diberikan kepada orang lain; itu sebabnya sangat ada kaitan antara puasa dengan memberi sedekah. Tapi zaman sekarang waktu kita puasa, makanan kita tidak diberikan ke siapa-siapa; sebaliknya waktu kita traktir orang, kita ikut makan juga. Apa pernah waktu Saudara traktir orang, lalu orang tanya, “Lho, Bapak sendiri ‘gak makan?” dan Saudara jawab, “Iya, saya uangnya ‘gak ada lagi, dipakai untuk traktir kamu” ? Tapi begitulah orang zaman dulu; waktu dia kasih orang lain makan, dia sendiri puasa. Intinya, waktu memberi berarti memberi dari kekurangan, bukan memberi dari kelimpahan. Itulah memberi dari pengorbanan.

Yesus bilang, “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati –tetap utuh, tidak ada yang rusak, tidak ada yang pecah-- ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.” Dengan mati, dengan rusak --atau kalau pakai metafor roti yang menunjuk kepada tubuh Kristus --dengan dipecah-pecahkan, itu akan mengenyangkan banyak orang. Tidak bisa tetap utuh. Kalau tetap utuh, tetap 5 roti dan 2 ikan, maka yang kenyang cuma si anak kecil itu; tetapi setelah dipecah-pecahkan, barulah bisa mengenyangkan banyak orang. Prinsip yang sama dengan bagian ini, kalau tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ya, tetap satu biji saja. Ada kehidupan manusia yang tetap satu biji saja, tidak bisa dipakai Tuhan, karena tidak mau dipecah-pecahkan. Orang seperti ini memang tetap utuh; setiap kali ada kemungkinan harus berkorban, dia tidak mau. Dia tidak mau sentuh bagian yang dirinya harus berkorban, bahkan dia merasa di-bully/diperalat kalau harus kerjakan itu. Bagian-bagian yang bisa bikin dia repot, yang dia tidak suka mengerjakannya, dia tidak mau. Kehidupannya tetap utuh, tetap satu biji saja, tapi tidak cocok dengan kehidupan Injil. Kalau kita percaya Injil, maka jangan tetap menjadi satu biji saja tapi musti jatuh ke tanah dan mati, seperti Yesus Kristus, barulah kita akan menghasilkan banyak buah.

Ayat 25,  “Barangsiapa mencintai nyawanya –hidupnya-- ia akan kehilangan nyawanya –hidupnya-- tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya –hidupnya--  di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal.” Koq, hidup musti dimusuhi?? Hidup ‘kan anugerah Tuhan?? Bukankah kita musti bersyukur karena hidup ini adalah pemberian Tuhan, sehingga we have to love life?? Kalau musti membenci kehidupan ini, lalu mau bunuh diri atau apa?? Saya percaya, yang diajarkan di sini tidak ada benturan dengan Dutch Reformed atau apapun; istilah ‘tidak mencintai hidup’, maksudnya bukan tidak mencintai hidup itu sendiri sebagai pemberian Tuhan yang indah, baik, dan harus kita pertanggungjawabkan; yang dimaksud adalah mencintai hidup dalam pengertian –tetap berkait dengan ayat sebelumnya—hidup yang tetap satu biji saja.
Ada orang mencintai hidup dalam pengertian hidupnya sendiri, yang terus-menerus satu biji saja, yang tidak pernah bisa berkorban, yang tidak pernah mau jatuh ke tanah dan mati; di dalam hal ini, Yesus mengatakan, “Barangsiapa mencintai hidupnya, ia akan kehilangan”. Perhatikan, bukan cuma tetap tinggal satu biji selama-lamanya, tapi pada akhirnya akan kehilangan –akan menuai kebinasaan-- “tetapi barangsiapa tidak mencintai hidupnya –atau nyawanya-- di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal.”

Lalu, kalau tidak mencintai hidupnya, jadi musti apa? Perhatikan di sini, dalam pengertian Firman Tuhan, kita bukan cuma tidak mencintai hidup --atau tidak melakukan dosa-- lalu sudah beres, tetapi bahwa musti ada gantinya. Kalau tidak mencintai hidup, itu karena kita mencintai yang lebih daripada hidup, yaitu Allah sendiri. Orang yang tidak mencintai hidupnya tapi tidak mencintai Allah, itu bahaya sekali. Kita ini manusia, kita tidak bisa hidup tidak mencintai –itu tidak mungkin. Kita pasti mencintai. Kita hidup pasti punya desire, dan harus ada desire, baik desire akan sesuatu ataupun desire akan seseorang. Kalau tidak punya desire sama sekali, itu bukan hidup. Jadi di sini maksudnya bukan kita menekan cinta atau menekan desire, melainkan menggantikannya dengan yang lain. Waktu di sini dikatakan “barangsiapa tidak mencintai hidupnya –atau nyawanya”, itu maksudnya karena dia mencintai Kristus.

Hidup kita ini bisa jadi berhala. Hidup Saudara dan saya ini bisa menggantikan posisi Tuhan, bisa menjadi sesuatu yang kita sembah tanpa kita sadari, karena kita mencintainya lebih daripada mencintai Tuhan. Tetapi waktu kita mencintai Kristus, kita mendapatkan segala sesuatu, termasuk mendapatkan hidup itu sendiri, dan bahkan hidup yang kekal. Luther mengatakan: “I have held many things in my hands, and I have lost them all; but whatever I have placed in God's hands, that I still possess” (“Saya punya banyak hal yang saya pegang dalam tangan saya, dan saya kehilangan itu semua; apa yang saya serahkan di dalam tangan Tuhan, sampai sekarang masih ada”–terjemahan bebas). Kita berusaha memegang banyak hal dalam kehidupan ini –uang, keluarga, nama, reputasi, dsb.—dan kehilangan semuanya, makin dipegang makin tidak bisa terpegang, makin kehilangan, tapi yang saya serahkan di dalam tangan Tuhan, sampai sekarang saya masih memilikinya; mengapa? Karena Tuhan lebih bisa memelihara daripada Saudara dan saya. Kalau Tuhan pegang dengan tangan-Nya, tidak ada yang bisa menembus dan merebut. Kalau kita pegang dengan tangan kita, itu gampang direbut. Kita ini terbatas dalam memelihara segala sesuatu, tapi waktu kita serahkan dalam tangan Tuhan, Tuhan yang memelihara. Pertanyaannya, kita mau serahkan dalam tangan Tuhan atau tidak?

Saya ingin kita merenungkan bagian ini dalam kaitan dengan hidup kita. Hidup itu, kalau kita coba pegang dengan tangan sendiri, maka kita akan kehilangan. Tetapi kalau kita serahkan di dalam tangan Tuhan, karena kita mencintai Tuhan, kita akan terus memilikinya, bahkan sampai pada kehidupan yang kekal. Ini undangan Injil. Saudara dan saya diundang untuk menghidupi kehidupan yang berbahagia seperti ini. Kiranya Tuhan memberkati kita semua.

Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah (MS)

Gereja Reformed Injili Indonesia Kelapa Gading

Download Ringkasan