Gagal Menerima Kegagalan

Kita memulai satu seri kotbah yang baru, yang agak eksperimental; Minggu lalu membahas mengenai Maria Magdalena, hari ini membahas 2 tokoh, yaitu Maria dari Betania (saudara dari Marta dan Lazarus), dan Petrus. Apa tujuannya kita kotbah dengan pendekatan yang baru ini, apakah selama ini kita sudah salah kotbah sehingga kita perlu ubah sedikit? Tentu saja tidak. Saudara bisa memikirkannya seperti ini: andaikata tahun ini Saudara pergi jalan-jalan ke Puncak, tahun depan tentu boleh pindah ke tempat lain, misalnya ke Pulau Seribu; dan itu tidak berarti kepergian Saudara yang ke Puncak salah. Ini hanya berarti suatu hal yang berbeda, Saudara jadi lebih luas karena bisa melihat banyak tempat jalan-jalan, bukan cuma satu; betapa kasihan kalau orang pergi jalan-jalan hanya tahu ke Puncak, karena dunia jadi kurang luas bagi dia.
Ada hal yang mirip seperti itu dalam Gereja hari ini, bahwa dalam kita berkotbah, atau mendengar kotbah, atau dalam perenungan pribadi, sadar atau tidak sadar kita terpaku/terkunci dengan satu model “jalan-jalan” yang kita namakan ‘model analitis praktis’. Waktu bersaat teduh, sadar atau tidak sadar kita mengikuti suatu urutan; pertama membaca, kedua merenungkan (menganalisa), ketiga mencari/menemukan aplikasinya dalam hidup kita –maka dinamakan ‘model analitis praktis’. Tentu saja sama sekali tidak ada yang salah dengan model seperti ini; yang problematik adalah kalau pembacaan Alkitab kita terkunci hanya pada model ini, akhirnya dunia kita kurang luas, karena kita tahunya cuma “Puncak”. Sampai di sini, kalau Saudara tanya “memangnya ada model lain?”, itu berarti jangan-jangan selama ini kita memang tahunya cuma ke Puncak. Dalam hal ini, jawabannya adalah “ya”, karena Alkitab limpah dengan bentuk tulisan yang berbeda-beda, dengan genre yang beragam. Itu sebabnya saya terus menekankan, bahwa lebih baik kita memikirkan Alkitab bukan sebagai satu kitab, melainkan sebagai satu perpustakaan. Perpustakaan berarti ada banyak jenis kitab yang berbeda-beda, banyak jenis tulisan yang berbeda-beda, dan kita perlu menyadari bahwa kitab tertentu perlu dibaca dengan cara tertentu pula. Ada buku-buku dalam perpustakaan yang berupa fabel, dan ada buku-buku yang berupa resep makanan; Saudara jangan baca buku fabel dengan pendekatan sebagaimana membaca resep makanan, karena akhirnya jadi ‘gak nyambung.

Di Alkitab tentu ada tulisan-tulisan yang perlu kita baca secara model analitis praktis, misalnya Kitab Ulangan. Kalau Saudara melihat Kitab Ulangan, biasanya Musa mengatakan “dulu begini, begini, …, tetapi sekarang, begitu, begitu, … maka lakukanlah ini dan itu …” –analitis dan praktis sekali; ada alur logikanya, dulu begini tapi sekarang begitu jadi lakukanlah ini dan itu. Kitab-kitab jenis itu kita sebut prosa, tapi jenis ini paling banyak hanya 20% dari seluruh Alkitab. Ada bentuk-bentuk yang lain, misalnya puisi yang kira-kira 30% dari seluruh Alkitab, dan berikutnya bentuk narasi/kisah/cerita sekitar 30% juga, lalu sisanya genre-genre lain yang lebih kecil. Lalu kalau kita menemukan puisi dalam Alkitab, kita membacanya pakai model apa? Jangan-jangan kita pakai model analitis praktis tadi juga. Lalu kita jadi garuk-garuk kepala, tidak mengerti tulisan ini bicara apa, apa maknanya puisi ini bagi hidup saya, saya tidak bisa menemukan langkah praktisnya, akhirnya kita menghindari kitab-kitab seperti ini. Siapakah di antara kita yang favoritnya Kitab Ratapan?? Atau Kitab Kidung Agung?? Kita tidak mengerti bagaimana membaca kitab-kitab seperti itu karena kita terpaku dengan “jalan-jalan yang cuma ke Puncak”.

Yang kedua, bentuk narasi. Di sini sama juga, kadang-kadang kita memakai celana yang terlalu sempit itu --celana ‘model analitis praktis’-- dan memaksakannya masuk ke dalam bentuk narasi. Bentuk narasi biasanya ada latar, tokoh, alur, ketegangan, dan resolusi; dan kita mencoba untuk mengupas semua hal ini. Kita kupas tokohnya, kupas semuanya –dikupas maksudnya dibuang—sampai akhirnya kita mendapatkan satu prinsip, sebagai hasil analisa, dan mencoba mempraktikkannya dalam hidup. Ini tidak salah, tapi agak ironis, karena bukankah kuasa/dampak dari sebuah cerita justru hadir lewat penokohannya, alurnya, latarnya. Contohnya, di awal tadi saya cerita tentang jalan-jalan ke Puncak, Pulau Seribu, dst. --itu sebuah cerita—lalu mengapa Saudara lebih mudeng mendengar lewat cerita seperti itu dibandingkan kalau saya langsung memberikan satu kalimat kristalisasi “Jadi, jalan-jalan jangan cuma ke Puncak doang” ? Karena kalimat kristalisasi tidak bisa mewakili cerita yang tadi. Ada sesuatu yang berbeda dalam cerita, karena di cerita ada latarnya, ada penokohannya, dsb. –ada unsur-unsur narasi—yang justru membuat kita lebih tergerak, lebih masuk. Cerita tersebut lebih berdampak dalam hidup kita justru melalui penokohan, latar, dsb. Itu.

Contoh yang lebih absurd yaitu lelucon. Lelucon itu sebuah cerita; lalu apakah lelucon berdampak dalam hidup kita –kita jadi tertawa—ketika lelucon itu dijelaskan seperti ini “jadi, yang lucu adalah karena si Drakula tidak lihat tiang itu”? Mungkin Saudara pernah mengalami ada orang yang tidak mengerti lelucon yang sedang diceritakan, lalu Saudara jelaskan, lalu dia “Ooo…” –tapi dia tidak tertawa. Mengapa? Karena lelucon bukan untuk dijelaskan; lelucon adalah untuk didengar, dibacakan, dan justru dampaknya keluar dari situ. Pertanyaannya, bagaimana jika Alkitab mau berbicara kepada kita dalam level-level seperti ini, dan kita selama ini tidak mengizinkannya? Itu karena kita mengunci Alkitab dalam satu metode yang kita anggap universal –metode analitis praktis—padahal di situ justru mungkin kita akhirnya kehilangan kelimpahan yang mau diberikan Alkitab.

Satu contoh lagi, dari Archbishop William Temple. Kalimat analistis praktisnya: Seorang anak tahu bahwa papanya mengasihi dia. Lalu kita ceritakan kalimat ini sbb.: Ada seorang anak yang tahu bahwa papanya mengasihi dia. Suatu hari anak ini berjalan bersama papanya, lalu papanya mengangkat dia, mendekapnya dengan erat, dan berbisik di telinganya: “Nak, aku mengasihimu. Aku rela membuang mimpiku,  kalau ini berarti engkau mencapai mimpimu. Aku rela membuang hartaku, kalau ini berarti hidupmu cukup. Dan aku rela membuang nyawaku, jikalau ini berarti hidupmu” –dan anak itu menangis. Mengapa anak itu menangis? Mengapa kita begitu tergerak mendengar cerita ini, dan tidak terlalu tergerak mendegar kalimat “Seorang anak tahu bahwa papanya mengasihi dia”?  Karena ada sesuatu yang beda; dan bedanya bukan ketika kita kupas, kupas, dan kupas, lalu dapat satu kalimat kristalisasi. Dampak bagaimana cerita itu mempengaruhi kita, membentuk hidup kita, dan mengarahkan arah hidup kita, justru datang lewat penokohan, latar, alur, dsb., dalam cerita itu.

Alkitab hadir –setidaknya 30%-- dalam bentuk seperti ini. Bagian-bagian yang bentuknya memang analitis praktis, tentu saja kita harus membacanya secara demikian; tapi ada bagian-bagian lain –bahkan lebih banyak—yang dampak terbesarnya bukan hadir melalui dianalisa, bukan hadir ketika kita bisa tahu apa langkah-langkah praktisnya, melainkan mungkin dengan dibaca dan dibacakan. Seperti ketika Saudara melihat lukisan, mendengar musik, siapa bilang itu tidak berdampak pada diri Saudara?? Kalau Saudara nge-band 6 jam, kira-kira ada dampaknya atau tidak? Saya tanya ini kepada teman, dan dia bilang: “Jantung rasanya berdebar-debar, keluar dari situ pengen marah-marah, lihat kucing pengen gua tendang”, dsb. Ada dampaknya. Kalau Saudara dengar musik yang lain, yang tenang, Saudara juga terkena dampaknya, misalnya satu lagu yang Vivaldi tulis, “Nulla in mundo pax sincera” (artinya: tidak ada kedamaian di dunia ini yang sejati kecuali berasal dari Tuhan). Mendengar lagu seperti itu tentu berdampak, apalagi kalau mendengar dalam waktu cukup lama atau seumur hidup Saudara. Tapi dampaknya bukanlah terutama “O, ini maknanya lagu itu bagi saya”, atau waktu lihat lukisan lalu “O, ini langkah yang harus saya lakukan, ini prinsip praktisnya yang bisa saya bawa pulang dan kerjakan dalam hidup saya” –tentu saja tidak, tidak harus seperti itu. Lalu bagaimana jika Alkitab sebenarnya ingin membentuk kita dalam level seperti ini?

Kita selama ini seperti buta terhadap peran Alkitab dalam ruang tersebut, akhirnya pengaruh Alkitab bagi hidup kita jadi miskin sekali. Yang ingin saya lawan dalam hal ini adalah satu kecenderungan ketika membaca Alkitab yang akhirnya tidak ada ruang untuk bingung terhadap Alkitab. Kalau Saudara lihat lukisan, Saudara tentu tidak berharap langsung mengerti tuntas dalam sekali lihat. Menganggap ‘pokoknya musti ngerti apa langkah praktis yang saya bisa dapatkan dari lukisan ini bagi hidup saya’, itu konyol. Waktu Saudara melihat lukisan, Saudara bisa diam lama, lihat lagi, mungkin Saudara masih bingung sebenarnya lukisan ini artinya apa, mengapa pelukisnya pakai warna seperti ini, dsb., lalu Saudara pergi –dan Saudara oke dengan kebingungan itu. Lalu suatu hari nanti Saudara melihat kembali lukisan itu, dan Saudara mendapat sesuatu, mungkin hal yang berbeda dari sebelumnya tapi tetap ada kebingungan –dan itu oke. Lalu Saudara pergi lagi, dan bisa kembali lagi kapan-kapan, dan mendapatkan lagi. Mungkin saja Alkitab juga seperti ini. Tapi kalau kita pakai dan memutlakkan metode yang tadi --membaca, lalu analisa, lalu langkah-langkah praktis—akhirnya begitu kita tidak mengerti sedikit, atau kita tidak mendapatkan langkah praktisnya, kita langsung merasa ada something wrong.

Itu sebabnya sangat relevan bagi kita yang hidup di zaman ini, untuk diperluas caranya kita menggunakan dan membaca Alkitab, karena teologi kita hari ini teologi ‘mie instan’, yang dibaptis ke dalam Kekrestenan dengan istilah ‘rhema’, bahwa waktu membaca Alkitab, “saya harus dapat rhema; kalau saya dapat rhema, itu baru Alkitab!” Ini satu hal yang berbahaya, karena waktu Saudara tidak mendapat “rhema”, Saudara merasa ada sesuatu yang salah pada diri Saudara, atau --lebih parah lagi-- Saudara merasa ada yang salah dengan Alkitab. Pendeta Stephen Tong pernah mengatakan kepada kami, para hamba Tuhan: “Kalau kamu menginjili orang atau berkotbah kepada orang, lalu orang bertobat, atau orang bilang kepada kamu, ‘Pak Pendeta, terima kasih kotbahnya bagus sekali; kalau saya dengar kotbah orang lain, saya ‘gak kenyang, tapi dengar kotbah kamu, saya kenyang sekali’, maka kamu jangan bangga.” Lalu beliau memberi penjelasan yang sangat bijaksana, katanya: “Mengapa dia bisa kenyang dengar kamu? Mungkin begini: dia dengar pengkotbah pertama, kasih dia roti dan dia tidak kenyang; pengkotbah kedua kasih roti, juga tidak kenyang; pengkotbah ketiga dan keempat kasih roti, tetap tidak kenyang. Lalu kamu datang memberikan dia roti, dan dia kenyang; mengapa? Karena sudah 5 roti. Maka bodoh sekali kalau si hamba Tuhan ini mengira 4 roti sebelumnya tidak ada pengaruh sama sekali, tapi roti dari saya inilah yang bikin kenyang”. Dan juga sangat bodoh kalau jemaat menganggap pengkotbah-pengkotbah sebelumnya tidak bikin kenyang, tidak ada gunanya, cuma yang ke-5 ini –entah seorang pendeta, atau sebuah buku, atau sebuah cara kotbah tertentu-- yang bikin kenyang, yang bikin “O, saya dapat”. Akhirnya, yang terjadi adalah kita ingin mengulangi lagi “ke-dapat-an” itu dan kita mengulang lagi metodenya ke tempat lain, dan kita menemukan tenyata tidak dapat, ternyata tidak kenyang, lalu kita bingung sendiri; padahal memang ada waktu-waktunya, ada waktu menabur, ada waktu menuai. Tuhan bekerja dalam semua itu, dan bukan cuma ketika kita ‘berasa dapat’.

Itu sebabnya saya ingin kotbah yang sedikit lain, kotbah yang bercerita. Ini bukan berarti kita tidak pakai otak atau mengesampingkan rasio. Saudara tadi mendengar soal Puncak dan Pulau Seribu tentu juga pakai otak, hanya saja dengan cara sedikit berbeda. Kita tentu tidak boleh jadi seperti anak remaja yang dari satu ekstrim ke ekstrim lain; tidak ada yang salah dengan model analitis praktis sebagaimana kita berkotbah selama ini. Tujuan di sini bukan mengganti, melainkan melengkapi –ini dua hal yang berbeda. Lagipula saya sendiri ada keterbatasan, tidak berarti pasti saya bisa sempurna mengajak Saudara masuk ke dunia cerita. Tapi itulah yang kita coba lakukan dalam seri kotbah ini, satu langkah kecil untuk berusaha bercerita kepada Saudara cerita dari Alkitab; dan bukan berarti Saudara tidak akan dengar analisa sama sekali, bukan berarti Saudara tidak akan dapat langkah praktis sama sekali. Yang saya ingin coba adalah memberikan satu cerita Alkitab, satu kotbah, yang berdampak bukan cuma ketika cerita itu dikupas melainkan ketika Saudara menelannya utuh-utuh. Berharap ini menjadi satu langkah yang ketika Saudara dalam perenungan pribadi atau bersama orang lain merenungkan Alkitab, Saudara bisa lebih melihat aspek yang mungkin selama ini tertutup.

Hari ini kita mau melihat 2 tokoh: Maria dari Betania (Markus 14: 3-9), dan Petrus (Yohanes 11:55-12:7).
Saudara, kapankah persisnya Yesus memulai perjalanannya menuju salib? Bisa dikatakan jalan itu sudah mulai ditempuh-Nya sejak baptisan-Nya. Tetapi mungkin poin ketika jalan itu menjadi lebih jelas adalah setelah peristiwa transfigurasi, karena itulah poin ketika Yesus mulai mengajar murid-murid-Nya, bahwa jalan yang Tuhan berikan bagi mereka akan menuju penderitaan, penolakan, dan kematian –dan murid-murid-Nya seringkali tidak mau mengerti hal ini. Kita bisa katakan juga, bahwa jalan ini mulai ditempuh Yesus ketika Ia memulai perjalanan-Nya yang terakhir menuju Yerusalem. Dan dalam perjalanan tersebut, 6 hari sebelum Paskah, Yesus sampai di Betania; inilah momennya ketika semua orang yang mengikut Dia, menyadari Yesus sedang melangkah menuju maut.

Betania, yang hanya sebukit jauhnya dari Yerusalem, adalah tempat Yesus biasa tinggal dengan sahabat-sahabat-Nya yaitu Lazarus, Marta, dan Maria. Terakhir kali Ia berada di tengah mereka, beberapa minggu sebelum  kedatangan-Nya sekarang, Ia datang dan membangkitkan Lazarus dari kematian. Waktu itu Ia sengaja menghindari Yerusalem, karena sebelum peristiwa ajaib itu pun para pemuka agama telah jelas niatnya untuk menangkap Dia. Yerusalem sudah menjadi tempat berbahaya bagi Yesus, terlebih lagi setelah Ia membangkitkan Lazarus, karena berita ajaib itu viral ke-mana-mana, dan para pemimpin agama sangat cemas akan potensi kemelut politik yang bisa terjadi dengan Roma jika masyarakat luas menyangka “Mesias palsu” ini sebagai mesias yang asli. Itu sebabnya mereka merencanakan untuk membunuh Dia sewaktu Ia kembali ke Yerusalem, yang tentunya akan terjadi pada Paskah, sebagaimana tradisi mudik mereka pada waktu itu. Mereka sudah berpesan ke mana-mana, barangsiapa yang melihat Yesus harus segera melaporkan kepada pihak berwenang.

Inilah konteks situasi ketika Yesus masuk ke Betania; para pengikut-Nya di sana pasti langsung memberitahu Dia situasi bahaya yang menunggu-Nya di Yerusalem. Mereka mungkin meminta Dia, kalau bisa tahun ini jangan ke sana. Ketika mereka mengundang-Nya masuk ke rumah mereka, ini bukan sekedar bersikap sopan, tetapi ada nuansa mereka sedang menyembunyikan buronan. Tidak ada keraguan dalam hati para murid Yesus, bahwa mereka sedang membahayakan diri dengan mengundang masuk Seseorang yang harusnya dilaporkan. Maka ketika malam tiba dan keluarga Betania ini mengadakan jamuan makan untuk menyambut Yesus, kita bisa bayangkan suasananya bukanlah hepi-hepi ketawa ketiwi tetapi mungkin begitu tegang dan sarat dengan bahaya. Mungkin, bagi beberapa murid ketegangan ini sesuatu yang exciting, karena tidak terpikir sama sekali bagi mereka bahwa Yesus bisa ditangkap. Mungkin mereka expect Yesus akan menurunkan balatentara surgawi dan merebut Yerusalem dengan kuasa supernatural. Tapi di sisi lain, bagi murid-murid yang lebih mengenal Yesus, mungkin mereka sudah menyangka bahwa semua kejadian ini akan berakhir dengan tragedi.

Di antara mereka yang lebih mengenal Yesus itu, tentunya adalah kakak beradik, Marta dan Maria. Jamuan ini tentunya adalah bentuk ucapan terima kasih mereka akan hidup Lazarus yang dikembalikan Yesus. Tetapi setiap perasaan sukacita yang mereka punya pada hari itu, dibarengi dengan satu kesadaran yang menusuk, bahwa saat ini hampir pasti adalah saat terakhir Yesus bersama-sama dengan mereka. Keesokan hari, pagi-pagi, ketika Yesus akan melintasi bukit Zaitun menuju Yerusalem sebagaimana jelas niat-Nya, Ia pasti ditangkap. Maka Marta, yang orangnya lebih praktis, memilih untuk menunjukkan rasa terima kasihnya pada Yesus dengan cara yang lebih konvensional --pelayanan meja. Meskipun hampir pasti mereka punya pembantu, Marta melayani Yesus sendiri. Ini tentunya bentuk terima kasih yang pasti dihargai dan juga diterima masyarakat --ndak heboh, gitu. Tapi lalu Maria melakukan sesuatu yang sekarang akan mengundang bukan kekaguman, melainkan kegusaran dari orang-orang di perjamuan tersebut.
Saudara-saudara, untuk mengerti apa yang Maria lakukan, kita perlu sedikit mengetahui mengenai kebiasaan-kebiasaan dalam menerima tamu zaman itu. Hal yang pertama-tama semua tuan rumah akan lakukan ketika tamu mereka datang, adalah memastikan para tamu mendapat pelayanan pencucian kaki. Berjalan seharian dengan sandal terbuka di iklim Timur Tengah, tentunya kaki jadi sangat panas, kotor, bau, dan sangat perlu dicuci. Ini tugas para pembantu; dan kalau tidak ada pembantu, tuan rumah akan menyediakan air dan handuk untuk sang tamu mencuci kakinya sendiri. Tidak ada skenario sang tuan rumah sendiri yang mencuci kaki tamunya. Hal kedua yang seorang tuan rumah akan lakukan bagi tamu kehormatannya, adalah mengurapi kepalanya dengan minyak wangi.

Maria melakukan kedua hal ini bagi Yesus, hanya sayangnya dia melakukannya dengan berlebihan. Tidak heran para tamu tercengang-cengang. Seperti yang kita mungkin sudah dengar sejak Sekolah Minggu, minyak narwastu yang dipakai Maria mengurapi kepala Yesus, adalah minyak yang sebotol kecil harganya bisa untuk menunjang satu keluarga hidup setahun penuh! Dan minyak itu bukan hanya dipakai untuk kepala Yesus, tetapi untuk kaki-Nya juga! Tuan rumah lain akan menyuruh pembantunya, Maria melakukannya sendiri. Tuan rumah lain akan menawarkan handuk, Maria menggunakan rambutnya sendiri. Maria tidak menggunakan kata-kata, tetapi tindakannya berteriak lebih kencang dari kalimat apapun. Mungkin di sini kita bisa lebih merasakan kegusaran yang dialami oleh para hadirin jamuan, melihat semua ini.

Jadi apa sih yang Yesus lihat tindakan Maria? Kenapa Dia memuji tindakan ini begitu rupa, sampai-sampai Dia  mengatakan satu kalimat yang luar biasa extravagant, bahwa di mana Injil diberitakan, apa yang Maria lakukan ini akan juga diingat? Apa makna yang begitu mendalam dibalik tindakan ini?
Saudara, Maria bukan hanya sekadar mengekspresikan sukacita dan kasihnya kepada Yesus. Sama seperti semua orang pada jamuan itu, Maria tahu Yesus akan segera menghadapi maut, maka ia melakukan tindakan itu  sebagaimana ia melakukannya, karena ia tahu ini kesempatan terakhir baginya. Seringkali kita mengurungkan niat untuk melakukan sesuatu bagi seseorang karena kita merasa ini terlalu berlebihan, hanya untuk belakangan kita mendengar kabar orang tersebut telah meninggal, dan langsung kita menyesal, sudah tidak ada lagi kesempatan. Apa yang dulu kita anggap berlebihan, sekarang dirasa sebenarnya pantas-pantas saja, jika saja kita tahu orang tersebut akan meninggal. Apa yang Maria lakukan, kata Yesus, adalah persis hal itu, mempersiapkan-Nya untuk penguburan-Nya. Banyak orang ketika berduka, dalam acara penguburan mereka sudah tidak lagi hitung-hitungan mengenai berbagai macam keperluan penguburan, karena inilah cara terakhir dan kesempatan terakhir untuk bisa mengungkapkan cinta atau hormat bagi sang almarhum.

Apa makna yang kita bisa tarik dari semua ini? Yang paling penting, bahwa dengan semua ini Maria menunjukkan dirinya mungkin satu-satunya murid Tuhan yang menerima bahwa Yesus harus mati. Semua orang di meja itu mungkin tahu bahwa Yesus akan mati, tetapi mungkin hanya seorang Maria yang menerima bahwa Yesus harus mati. Tidak terpikir oleh Maria untuk mencoba menunda kepergian Yesus ke Yerusalem. Tidak terpikir oleh Maria untuk  menerka-nerka bahwa mungkin Allah Bapa akan menyelamatkan Yesus dari kematian lewat cara supernatural balatentara surgawi, sebagaimana mungkin beberapa murid lain memikirkannya. Dan sama sekali tidak terpikir oleh Maria untuk mencoba menghindarkan Yesus dari kematian, bahkan mungkin menyelamatkan Yesus dari kematian, sebagaimana nanti kita lihat Petrus berulang kali melakukannya. Maria tidak berpikiran sama sekali untuk menghindar dari maut yang tidak terhindari ini. Ia menerima, dan mengantisipasi bahwa Yesus akan mati, dan itulah sebabnya ia melakukan hal yang ia lakukan tadi. Saya tidak rasa ini karena Maria lebih mencintai Yesus daripada murid yang lain. Saya juga tidak rasa ini karena Maria somehow lebih mengerti salib dan rencana Tuhan di balik semua itu, lebih daripada orang-orang lain pada zaman itu. Saya rasa, ini simply karena Maria menerima bahwa Yesus sendiri menerima kematian ini sebagai suatu hal yang harus terjadi. Maria tidak mengerti, tapi ia juga tidak mempertanyakan. Kasihnya kepada Yesus membuatnya bisa menerima keyakinan Yesus akan kematian-Nya, dan dengan demikian ia menerima kematian Yesus sebagaimana Yesus menerimanya.

Inilah sebabnya Maria perlu diingat. Inilah signifikansi tindakan Maria. Inilah sebabnya Yesus mengucapkan kalimat yang begitu extravagant tadi, yang boleh dibilang tidak ada bandingannya dengan kalimat apapun yang Yesus pernah ucapkan bagi orang lain: “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di mana saja Injil diberitakan di seluruh dunia, apa yang dilakukannya ini akan disebut juga untuk mengingat dia" (Markus 14:9). Tindakan yang Maria lakukan akan diberitakan sebagai bagian dari kisah Injil, exactly karena inilah adalah jantung dari Injil: seorang diri di antara hadirin jamuan, Maria mengenali satu hal, bahwa salib adalah esensi dari Injil, bahwa pendertaan tidak bisa dipisahkan dari ke-mesias-an Yesus, bahwa salib adalah --kalau saya boleh pake istilah ini-- takdir dari Injil. Dan seperti inilah kita seharusnya melihat salib, seperti Maria. Maria mungkin tidak mengerti kenapa harus salib --mungkin pengertian itu datang belakangan-- tetapi Maria mulai dengan penerimaan; ia menerima bahwa Yesus menerima salib sebagai kehendak Bapa bagi-Nya.

Pertanyaannya bagi kita, memangnya siapa dari antara kita yang tidak menerima bahwa Yesus harus mati? Mari kita sekarang masuk ke dalam tokoh yang kedua: Petrus.  Kita membaca Yohanes 13: 36-38; Yohanes 18: 1-11; Lukas 22: 54-62. 

Dari kedua belas murid Yesus, Petrus boleh dikata adalah murid yang mengikut Yesus paling jauh di dalam jalan salib, dibanding yang lain. Kedua belas murid tentunya masih ada semua sejak perjamuan terakhir, dan mereka juga masih bersama-sama di Taman Getsemani, tetapi ketika satpol PP Taman Getsemani datang bersama Yudas untuk menangkap Yesus, lalu Petrus menghunus pedangnya sampai Yesus menghentikannya, ketika itulah 12 murid melarikan diri. Namun Petrus terus mengikuti Yesus sampai ke rumah Imam Besar; dengan menjaga jarak, ia terus menunggu di pekarangan, menunggu berita mengenai Yesus. Dan di sinilah langkah Petrus mengikut Yesus pada jalan salib itu berakhir, karena ia melihat Yesus sekelibat lewat selagi Ia dibawa ke tempat lain, tetapi momen itu adalah momen ketika ayam berkokok, momen ketika Petrus baru menyadari apa yang terjadi, momen ketika seluruh bobot dari penyangkalannya terhadap Yesus itu jatuh di atas kepalanya.

Kita bisa langsung membandingkan dua tokoh yang kita bahas ini; dua tokoh yang dari mata mereka kita sedang berusaha untuk melihat Yesus pada zaman itu. Dalam diri Maria dari Betania, kita telah melihat betapa dia seorang murid yang begitu setia, begitu berbakti, dan dia menyatakannya dengan menerima bahwa Yesus harus mati, dan akan mati. Kita melihat seorang Petrus, yang juga setia, yang juga sangat berbakti kepada Gurunya itu, tetapi tidak seperti Maria, Petrus tidak akan sudi menerima bahwa Yesus harus mati.

Petrus berulangkali mendeklarasikan kerelaannya untuk mati bagi Yesus, Petrus mungkin bahkan ingin mati bagi Yesus, tetapi Petrus tidak mau menerima bahwa Yesus harus mati baginya. Dan karena Petrus tidak bisa menerima kematian Yesus, ia akhirnya juga tidak mengerti apa artinya menjadi pengikut Yesus, dan cepat atau lambat kemuridan palsu seperti ini akan berakhir dalam kegagalan. Tapi seperti yang kita akan liat, ternyata kegagalan bukanlah suatu tempat yang terlalu jelek untuk kita bisa melihat Tuhan dengan mata yang segar; bahkan Petrus harus belajar melalui kegagalan untuk bisa mengerti siapa Yesus sesungguhnya dan apa arti sesungguhnya mengikut Dia.

Kita mungkin bisa melihat diri kita pada diri Petrus, orang yang kadang harus tersandung terlebih dulu baru bisa belajar berjalan, orang yang harus nyasar terlebih dulu baru tahu jalan yang benar, orang yang harus melihat dulu akibat jalan yang ia pilih sebelum akhirnya ia bisa menerima jalan Tuhan. Tetapi jikalau kita melihat diri kita seperti demikian, jangan kuatir, karena salib adalah tempat Allah pencipta alam semesta merangkul kegagalan dan tragedi. Itu sebabnya tidak ada tempat yang lebih aman untuk gagal, selain pada jalan salib. Kegagalan Petrus –seperti yang akan kita lihat-- adalah kesempatan bagi Tuhan.

Dari semua murid Yesus di kitab Injil, Petrus adalah nama yang kita paling akrab. Bagaimana tidak, karena Petrus hampir selalu yang paling cepat berbunyi, yang paling cepat bertindak, yang selalu berinisiatif menjadi pemimpin, bahkan kadang mencuri spotlight. Di antara semua murid-murid, ketika Yesus ingin tahu apa yang murid-murid pikirkan, Petruslah yang berbicara atas nama mereka. Petruslah orang yang paling semangat, impulsif, pe-de, lompat duluan. Tentunya tidak semua ini bernuansa negatif, itu semata berarti Perus seorang natural leader, seorang yang antusias, yang berani. Ia sungguh-sungguh berbakti pada Yesus, dan ia sungguh sepenuh hati mau menjadi murid-Nya. Yesus sendiri mengenali hal ini, dan menempatkannya dalam posisi pemimpin di antara keduabelas murid lainnya.

Masalahnya adalah Petrus ingin Yesus sukses. Yesus itu Mesias, toh; Yesus akan menyelamatkan bangsa Israel toh --dan Petrus akan memastikan Yesus berhasil. Jadi ketika Yesus mulai mengajar murid-murid-Nya bahwa kesuksesan-Nya justru ada dan melalui penolakan, penderitaan, dan kematian, Petrus tidak terima. Kematian adalah kegagalan, dan Petrus ingin Yesus sukses! Sejak saat itu, ketegangan antara Guru dan murid nomor satu ini terus meruncing. Pada momen perjamuan terakhir, ketika Yesus terus berbicara panjang lebar mengenai perpisahan, pengkhianatan, goncangan iman, gembala yang dipukul dan domba yang tercerai berai, mungkin beberapa murid sudah mulai ketar-ketir, mungkin beberapa dari mereka sudah siap mengambil langkah seribu kembali ke Galilea; dan Petrus harus melakukan sesuatu! Ia mengatakan dengan lantangnya, “Biarpun mereka semua tergoncang imannya, aku tidak! kalau perlu, aku akan meletakkan nyawaku bagi-Mu!” Baginya inilah momen yang ia tunggu-tunggu. Petrus tidak takut mati bagi Yesus; jika ia harus mati, bukankah itu kematian seorang tentara yang setia?? Seorang pahlawan yang mati, supaya rajanya tidak perlu mati.

Petrus juga tidak ngomong tok; kita tahu, ketika barisan satpol PP Taman Getsemani datang untuk menangkap Yesus, mereka datang dengan bersenjata, mereka sudah bersiap akan adanya perlawanan. Yesus punya 11 murid yang bersama dengan-Nya, tetapi hanya dua pedang; salah satunya ada pada Petrus, dan ia menggunakannya.Tindakan sia-sia? Tindakan bodoh nekad? Tidak tentu. Mungkin dalam bayangan Petrus, ini adalah taman dengan rumput yang tinggi-tinggi, pada saat malam pula, jadi Yesus bisa dong lari di antara semak-semak dalam kegelapan malam selagi ia dan murid-murid yang lain membeli waktu. Yesus akan selamat, sementara Petrus akan kehilangan nyawanya demi menyelamatkan Yesus. Petrus si Pemberani, Petrus si Murid yang Setia Sampai Mati. Tetapi yang terjadi adalah Yesus lalu bertitah: “Sarungkan kembali pedangmu; bukankah Aku harus meminum cawan yang Bapa telah berikan pada-Ku?” dan Petrus harus taat.

Problem Petrus adalah ia tidak mengerti siapa Yesus, dan apa makna sesungguhnya menjadi murid-Nya. Ia ingin Yesus menjadi Mesias sebagaimana ia membayangkannya. Ia ingin menjadi pengikut Yesus, pengikut Mesias, sebagaimana ia membayangkannya. Pengikut yang jenis itu, jenis yang harus ada di sisi semua guru yang berhasil. Ia ingin Yesus mengambil jalan yang tradisional dalam meraih kesuksesan dan pencapaian.

Ngomong-ngomong, siapa yang akan menghakimi Petrus? Kitakah? Kita ada di sisi salib sebelah sini, kita melihat ke belakang, kita sudah tahu ending-nya, kita sudah tahu semua rencana di balik itu. Seandainya kita bersama Petrus di sisi salib sebelah sana, apakah kita tidak sebuta dia?? Buta terhadap hal yang luar biasa ini, yaitu bahwa jalan yang Yesus ambil menuju kesuksesan adalah melalui kegagalan, bahwa jalan yang Ia ambil menuju pencapaian adalah dengan kehilangan. Inilah ironinya: Petrus siap membayar harga semahal apapun demi menyelamatkan Yesus dari salib, tetapi Petrus tidak siap sama sekali untuk menemani Yesus dalam jalan menuju salib.

Dilarang untuk menggunakan pedangnya, Petrus akhirnya kabur bersama murid-murid yang lain. Ia siap untuk menyelamatkan Yesus, tetapi Yesus menolak diselamatkan, jadi apalagi yang tersisa untuk dilakukannya selain kabur?? Namun dalam momen ini pun, ketika Gurunya menolak mentah-mentah perjuangannya, ia masih tetap berani menguntit dari belakang. Kita masih bisa melihat devosinya. Entah apa yang ada dalam pikirannya sekarang; dia masih cukup berani untuk menunggu di pekarangan rumah Imam Besar –pekarangan musuh-- untuk menunggu berita mengenai Yesus.

Tapi pada momen inilah akhirnya ia tersungkur dalam kegagalan. Apa yang menyebabkan penyangkalannya? Ketakutan? Gemetar menghadapi penjara atau kematian? Dari rekam jejaknya, kita bisa mengatakan, sepertinya bukan. Mungkinkah Petrus simply malu menjadi pengikut Mesias gagal? Malu mengaku diri pengikut Orang yang memang tadinya banyak orang mengatakan “mungkin inilah Mesias”, tetapi dengan segala yang baru saja terjadi sudah terbukti pasti banget ini bukan Mesias. Mungkin pembicaraan di sekitar api di pekarangan itu adalah  mengenai mesias-mesias palsu lainnya, yang kita tahu memang ada pada zaman tersebut, tentang orang-orang berkharisma yang meyakinkan pengikut mereka akan suatu kerajaan yang baru, hanya untuk akhirnya gepeng di bawah kaki Romawi. Mungkin orang-orang di sekitar api itu mengatakan, “Yah Yesus sepertinya cuma satu lagi angka untuk ditambahkan pada jumlah mesias-mesias palsu”. Mungkin mereka bisa menamakan kandidat-kandidat yang lain lebih kredibel dibandingkan Yesus, karena  paling tidak sebelum akhirnya tergilas oleh mesin perang Roma, mereka masih sempatlah membunuh satu-dua perwira Romawi; sedangkan Yesus?? Mungkin mereka tertawa.
Petrus gagal, karena ia gagal untuk menerima Mesias yang gagal. Karena ia tetap bersikeras melihat Yesus hanya di dalam laci-lacinya. Karena ia tidak mau melepaskan celana yang terlalu sempit mengenai apa itu seorang Mesias dan apa artinya menjadi murid Mesias tersebut. Karena ia hanya bisa melihat bahwa yang namanya menjadi murid Yesus berarti ya, membantu Yesus jadi sukses dan berbagi dalam kesuksesan tersebut. Tentunya semua ini memang mebuat Petrus pergi lebih jauh daripada murid yang lain, bertindak lebih jauh, berani lebih jauh, tapi akhirnya juga membuat dirinya gagal lebih jauh. Karena ia tidak bisa menerima salib, maka ia tidak bisa mengikut Yesus di dalam jalan salib.

Sekali lagi, siapakah yang akan menghakimi Petrus? Kapan kita menolak kematian Yesus? Kapan kita ingin mati baginya dan tidak ingin Dia mati bagi kita? Petrus melakukannya ketika ia mengatakan: “Tuhan, Mesias itu gini, harus gini, harus gitu”, ketika ia menolak untuk menerima jalan salib sebagai bagian dari Injil. Ketika ia gagal untuk menerima kegagalan, itu adalah saatnya ia gagal menjadi murid Kristus. Dan, kita melakukannya ketika kita mengatakan: “Tuhan, Firman-Mu itu harus gini, harus gitu, harus cepat rhema-nya, harus ada aplikasi praktisnya, harus ada langkah-langkah yang saya bisa tahu dan ambil dan aplikasikan!” Ketika kita menolak kebingungan dan kegagalan mengerti dalam membaca Alkitab sebagai bagian dari membaca Alkitab, itulah momen kita tidak ingin Yesus mati bagi kita dan kita ingin mati bagi-Nya. Ketika kita gagal untuk menerima kegagalan sebagai bagian dari Injil, itulah saat kita gagal menjadi murid Kristus.

Di hadapan Tuhan, di hadapan Mesias yang ‘gagal’, kegagalan justru adalah sesuatu yang penuh pengharapan. Mengapa? Karena kegagalan ini adalah gagalnya seluruh laci Petrus yang memang terlalu sempit, kegagalan ini adalah gagalnya celana Petrus yang terlalu sempit bagi Yesus. Kegagalan ini adalah pecah berkeping-kepingnya seluruh ilusi Petrus mengenai Yesus dan juga mengenai dirinya. Kegagalan ini adalah satu-satunya jalan untuk kesetiaan Petrus bisa ditempa ulang menjadi kesetiaan yang sejati. Kegagalan ini adalah satu-satunya cara untuk Petrus berhenti menolong membentuk Yesus menjadi Mesias tulen, dan mulai menyadari justru ia butuh Yesus untuk menolong membentuk dirinya menjadi murid yang sejati. Inilah satu-satunya jalan Petrus dapat melihat tangan Tuhan dibalik Mesias yang tersalib, dan dengan demikian benar-benar mengikut Yesus dalam jalan salib. Ini mungkin juga satu-satunya jalan dalam hidup kita, untuk kita melihat tangan Tuhan di balik kelemahan, di balik kebingungan, bahkan di balik ketidakmengertian, dan dengan demikian benar-benar mengikut Yesus dalam jalan salib.

Kegagalan Petrus adalah kegagalan yang justru mengesahkan ia sebagai murid salib Kristus. Hanya dengan jatuh, Petrus bisa diangkat. Kegagalannya adalah kesuksesan Allah. Bukankah memang inilah paradoks salib? Yesus mati, supaya kita boleh mendapat hidup. Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Yesus, ia akan memperolehnya (Mat. 10:39). Jalan ke atas adalah dengan ke bawah; jalan menang adalah lewat kekalahan. Lewat Yesus yang “gagal”, Allah justru merangkul kita dengan segala kegagalan kita, kematian kita, untuk menciptakan permulaan yang baru. Kapankah permulaan yang baru ini mulai dalam diri Petrus? Yaitu momen di pekarangan rumah Imam Besar, momen ayam berkokok, momen ketika pandangan mata Yesus bertemu dengan pandangan mata Petrus, momen ketika Sang Mesias yang ‘gagal’ bertemu dengan sang murid gagal.

Siapa yang pernah mengira kegagalan dobel seperti ini adalah permulaan dari kelahiran baru? Dan kelahiran ini adalah kelahiran murid yang sejati. Kita tahu cerita selanjutnya, bahwa sekitar 35 tahun kemudian, Petrus sungguh mengikut Yesus --secara hurufiah-- dalam jalan salib, membawa salibnya sendiri melewati gerbang kota Roma untuk disalibkan, sebagaimana Yesus pernah berkata kepadanya pada perjamuan terakhir: "Ke tempat Aku pergi, engkau tidak dapat mengikuti Aku sekarang, tetapi kelak engkau akan mengikuti Aku."

Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah (MS)

Gereja Reformed Injili Indonesia Kelapa Gading

Download Ringkasan