Tetap Hidup Dalam Injil

Surat Galatia ini satu surat yang kompleks sekali, surat yang penuh ketegangan, yang ditulis Rasul Palulus dengan satu persoalan yang samar-samar tapi sangat serius. Sesungguhnya ini satu surat yang sengit ketika dia menulisnya; tidak ada surat yang senada dan sekeras Surat Galatia. Tanpa basa-basi, setelah pasal 1 sampai ayat yang ke-5 Paulus membuka dengan salam, surat ini langsung menukik kepada suatu teguran akan persoalan yang mau disampaikannya; dikatakannya di ayat 4, “Aku heran, bahwa kamu begitu lekas berbalik dari pada Dia … .“

Dalam pasal ini, Paulus berargumentasi dengan Jemaat Galatia yang mulai mempertanyakan otoritas kerasulannya, meragukan kewibawaannya sebagai seorang rasul, dan memperbandingkan dirinya dengan para rasul di Yerusalem yang merupakan sokoguru --atau yang dikenal sebagai “tiga pilar”-- yaitu Petrus, Yakobus, dan Yohanes. Karena dipengaruhi oleh sekelompok orang yang sangat menekankan pengajaran Yudaisme, maka Paulus sebagai satu pribadi yang berbeda pandangan dengan mereka, mereka mempertanyakan otoritas kerasulannya.

Di ayat 1 Paulus mengatakan, “Kemudian setelah lewat empat belas tahun … “, maka dapat diyakini bahwa dia berbicara dalam surat ini, 14 tahun setelah pertobatannya ketika dia mengalami penglihatan dan terjatuh dalam perjalanan ke Damsyik. Setelah 14 tahun itu –perjalanan waktu yang tidak sebentar— Paulus mengatakan, “aku pergi pula ke Yerusalem dengan Barnabas dan Titus pun kubawa juga”. Ini satu perjalanan ke Yerusalem dalam upaya menjelaskan tentang dirinya, satu perjalanan yang penuh dengan polemik yang dialaminya –dan dia harus ke sana. Bahkan di sini dikatakan, dia pergi berdasarkan satu penyataan/wahyu yang dia dapatkan. Tuhan pimpin dia, harus ke Yerusalem, untuk berjumpa dengan para sokoguru di Yerusalem pada waktu itu, sebagai pusat Gereja dengan 3 pilar utama yaitu Petrus, Yakobus, dan Yohanes, ditambah Yakobus saudara Tuhan Yesus. Bagimanapun, mereka ini adalah para pemimpin.
Paulus mengatakan, kepergiannya ini berdasarkan satu penyataan/wahyu. Kita tidak mengerti bagaimana caranya dia mendapatkan wahyu itu; yang jelas, jangan samakan dengan pendapat para pendeta hari ini yang mengatakan dirinya dapat wahyu, penglihatan, dsb. Penyataan yang dialami Paulus ini sangat khusus, kemungkinan seperti yang dikatakannya di Kisah Para Rasul 22: 17-21 tentang pengalamannya mendapat wahyu. Yang Paulus maksudkan di sini, dia tidak datang berdasarkan otoritas dari para rasul di Yerusalem untuk pergi ke sana berjumpa dengan mereka, melainkan atas dasar sesuatu yang Allah perintahkan kepadanya untuk pergi ke Yerusalem. Di sini kita melihat prinsip “order” yang penting sekali.

Secara struktur, tidak ada satu struktur formal Gereja pada waktu itu, masing-masing bergerak di dalam pimpinan Roh Allah. Paulus juga bergerak di dalam pimpinan Roh Kudus, bermisi kepada orang-orang non Yahudi, tanpa suatu koordinasi dengan rasul-rasul di Yerusalem yang sangat berorientasi kepada orang-orang Yahudi. Setelah Injil diberitakan dan banyak orang-orang non Yahudi yang percaya, ini menjadi satu persoalan serius bagi kelompok orang-orang Kristen Yahudi di Yerusalem. Mereka mempertanyakan, ‘bagaimana orang-orang non Yahudi juga menjadi Kristen? apakah mereka sama seperti kita?’ Akhirnya hal ini jadi satu perdebatan, sementara para guru yang datang ke Galatia mengajarkan ajaran yang berbeda. Guru-guru berlatar belakang Yahudi itu mengacaukan Injil yang sesungguhnya. Itu sebabnya Paulus harus datang ke sana, menjelaskan segala sesuatu yang Tuhan sudah pimpin dia untuk kerjakan dalam penginjilannya; dia mengatakan: “Dan kepada mereka kubentangkan Injil yang kuberitakan … .“

Sebagai seorang rasul yang independen, Paulus dipanggil dengan jelas. Dia sudah memulai pelayanan, dia sudah melakukan penginjilan, dan misi tersebut sudah berjalan. Sesungguhnya secara manusia dia tidak perlu ke Yerusalem, tetapi karena Allah memimpin dia dalam satu penyataan, maka dia pergi. Ada satu order yang dia tunjukkan dalam hal ini. Dia mengatakan, “ … di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi — dalam percakapan tersendiri kepada mereka yang terpandang“ --satu sindiran, ‘kalau mereka itu yang kamu anggap terpandang, dan aku dipertanyakan kerasulanku’— “supaya jangan dengan percuma aku berusaha atau telah berusaha”. Di sini kita melihat pertimbangan yang begitu mendalam dari seorang Rasul Paulus, yaitu agar tidak sia-sia semua pekerjaan itu lalu tercipta kekacauan dalam misi dan Gereja Tuhan. Dia tidak mau terjadi perselisihan antara Gereja orang-orang non Yahudi dengan Gereja orang-orang berlatar belakang Yahudi sehingga Injil yang telah diberitakan seakan-akan jadi sia-sia. Itu sebabnya dia pergi ke Yerusalem untuk menjelaskan segala sesuatunya.

Ini satu prinsip yang penting; bahwa bagaimanapun ada ‘order’. Secara pendidikan, Paulus lebih berpendidikan. Secara pengetahuan, saya yakin dia lebih berpengetahuan tentang Kitab Taurat dan teologi daripada Paulus. Secara langkah keberanian, dia mendahului; sebelum Petrus pergi, dia sudah pergi keluar dari Yerusalem memberitakan Injil. Tetapi ada suatu order yang membuat Paulus harus datang kepada mereka, karena bagaimanapun mereka adalah sokoguru, yang harus ditaati dan didengar, dan Paulus harus berbicara dengan mereka. Di sini kita melihat ketaatan terhadap order, yang penting sekali dalam kehidupan kita –dan kadang-kadang tidak mudah kita jalankan.

Beberapa hari lalu seseorang datang kepada saya. Dia kesal sekali dengan pendeta di gerejanya karena menurut dia pendetanya itu ‘gak bisa diomongin. Saya tanya kepada dia, apa benar pendetanya yang tidak bisa diajak bicara, atau dia sendiri yang tidak bisa diajak bicara. Dia bersikeras pendetanya itu yang ‘gak bisa diomongin. Akhirnya dia memutuskan tidak mau ke gereja itu lagi, daripada ketemu pendetanya. Saya tanya kepada dia, “Jadi sekarang kebaktian di mana?” Dia jawab, “Yah, ke mana-manalah … putar-putar, yang penting tidak ketemu dia lagi.” Kami sarankan dia kembali ke gerejanya karena dia harus tahu order; selama bukan hal-hal yang esensial, bagaimana pun kita harus tahu order. Tapi dia tetap tidak mau. Saya jadi menduga memang dia sendiri yang keras, bukan pendetanya. Saya harap dia tidak tinggalkan gerejanya itu. Kalau orang meninggalkan gerejanya karena kesal, itu sudah salah –kecuali kita meninggalkan karena pindah kota.

Saya pernah juga ketemu seseorang yang 25 tahun penuh tidak ke gereja, “konsisten sempurna” . Dan 25 tahun itu kami terus melawat dia. Kami tanya, “Pak, kenapa tidak ke gereja?” Dengan suara yang sudah lemah dia jawab, “Tidak mau.” Kami bujuk lagi dia untuk ke gereja pakai kursi roda, tetap saja jawabnya “tidak mau”. Kata dia, sama saja kebaktian di rumah dengan nonton dari siaran TV (RCTI pada waktu itu). Akhirnya saya baru tahu dari istrinya, bahwa 25 tahun yang lalu dia tersinggung dengan pendetanya, dan pendeta tersebut sekarang sudah tidak di gereja itu lagi, bahkan sudah meninggal. Tapi selama 25 tahun itu, dia tetap tidak mau –sudah telanjur. Betapa kasihan. Akhirnya sebelum meninggal, kami teguhkan imannya supaya sungguh-sungguh percaya Yesus --namun selama 25 tahun itu hidupnya tidak ada sejahtera. Hati-hati Saudara, tidak ada gereja yang sempurna. Urusan pribadi adalah urusan pribadi, tapi engkau dan saya tidak boleh memusuhi Gereja. Saya yakin seyakin-yakinnya, tidak ada orang yang memusuhi Gereja sampai tidak mau pergi ke gereja, yang hidupnya sejahtera. Pasti susah. Mati pun susah. Dalam gereja memang ada suatu order yang harus kita taati sesulit apapun, apalagi kalau mengenai hal-hal yang tidak esensial.
Paulus tahu hal yang esensial dan yang tidak esensial. Itu sebabnya dia katakan di sini: “… aku pergi pula ke Yerusalem dengan Barnabas dan Titus pun kubawa juga.” Di sini Titus diajak sebagai seorang pemuda yang dia menangkan, hasil dari penginjilannya, yang dia bawa dengan sengaja sebagai seorang non Yahudi. Selanjutnya dia katakan: “Tetapi kendatipun Titus, yang bersama-sama dengan aku, adalah seorang Yunani, namun ia tidak dipaksa untuk menyunatkan dirinya.” Saudara, inilah yang disebut sebagai persoalan adiaphora, artinya: indifferent things, grayness, sesuatu yang boleh ya boleh tidak. Bolehkan Titus disunat? Boleh saja kalau dia mau. Tetapi kalau dia dipaksa sunat, itu persoalan lain, karena jadi satu prinsip doktrin. Kalau dari kerelaannya dia mau disunat supaya tidak jadi keributan, tidak apa-apa. Tetapi kalau ada pihak yang memaksa harus sunat untuk menggenapi imannya, itu persoalan lain.

Di dalam Gereja, adakalanya kita menghadapi suatu wilayah persoalan yang dalam etika disebut adiaphora. Misalnya di gereja ada yang suka makan babi dan ada yang tidak suka, dalam hal ini ‘kamu makan boleh, tidak mau makan tidak apa’, makan tidak membuat lebih suci, tidak makan juga tidak membuat lebih suci. Itulah yang disebut adiaphora. Dalam persoalan inilah kita melihat Paulus tahu ada wilayah grayness, contohnya mengenai Titus, dan dia menegaskan  “dia tidak kupaksa, dan dia juga tidak boleh engkau paksa, untuk menaati aturan orang Yahudi.” Inilah kasus yang Paulus bawa kepada para pemimpin Yerusalem. Dia tahu apa yang prinsip dan apa yang tidak prinsip, apa yang esensial dan apa yang tidak esensial, apa yang bisa ya bisa tidak dan apa yang harus tidak boleh ditawar. Hal-hal seperti ini banyak sekali dibicarakan dalam Surat Korintus dan juga Surat Roma. Tetapi yang jadi urusan  dalam Surat Galatia adalah ketika guru-guru dari Yerusalem datang ke Galatia, mereka mengajarkan bahwa orang-orang Galatia yang non Yahudi juga harus disunat. Rasul Paulus menentang hal ini. Itu sebabnya di ayat 4 dikatakan: “Memang ada desakan dari saudara-saudara palsu –false brothers-- yang menyusup masuk … .”

Saudara, sejak semula selalu menjadi perjuangan bagaimana kemurnian dan kebenaran Injil tetap bisa dipertahankan, bahwa yang namanya doktrin adalah doktrin, prinsip adalah prinsip --dalam hal ini, ada saudara-saudara palsu. Siapakah saudara-saudara palsu itu? Sangat mungkin, mereka adalah kelompok orang-orang Yahudi, bahkan orang-orang Farisi, yang bertobat menjadi Kristen. Setelah menjadi Kristen, mereka membawa pemikiran primordialisme, bahwa hal-hal berkaitan dengan aturan Taurat yang begitu melekat dalam hidup orang Yahudi, mereka bawa untuk diterapkan juga kepada saudara-saudara seiman yang berlatar belakang non Yahudi, yaitu persoalan makanan, persoalan hari-hari, dan persoalan sunat. Mereka memaksa orang-orang Kristen non Yahudi untuk disunat, alasannya bahwa dengan begitu mereka sungguh-sungguh terhisap adalam “perjanjian Abraham”; seakan-akan dengan disunat, mereka sungguh-sungguh genap bukti anugerah keselamatan yang sudah dialami. Itu sebabnya, bagi Paulus ini bukan lagi persoalan adiaphora, bukan lagi wilayah abu-abu yang boleh ya boleh tidak, tapi ini persoalan prinsip, maka dia mengatakan “saudara-saudara palsu itu menyusup masuk”.

Saudara-saudara, ternyata setelah Injil diberitakan di luar Yerusalem, khususnya di Antiokhia, di Asia kecil, Injil itu tersebar luas; dan misi ke Galatia ini berdasarkan jemaat Anthiokia. Orang Yahudi di Anthiokia saja sudah cukup besar, sekitar 65.000 orang; maka kalau penginjilan berhasil sampai di Anthiokia dan sekitar 2% saja orang Yahudi perantauan bertobat, berarti jemaat Kristen di Anthiokia tidak kurang dari 1000 jemaat. Ini berarti ekor lebih besar daripada kepalanya di Yerusalem. Kemajuan ini jadi sorotan perhatian, termasuk orang-orang utamanya, yaitu orang-orang Yahudi yang jadi Kristen. Itu sebabnya orang-orang Yahudi yang fanatik datang dari Yerusalem meninjau Anthiokia, termasuk Galatia. Lalu tanpa kehadiran Paulus, mereka menyusup dan mengajar bahwa orang-orang non Yahudi juga harus disunat, harus menaati Taurat.

Sunat orang Yahudi pada waktu itu mereka pahami sebagai hal yang sangat prinsipil, dan merupakan bagian dari bukti bahwa mereka sudah mengalami keselamatan. Dalam kehidupan orang Yahudi zaman itu, mereka memahami bahwa ketika umat Israel mengalami pembebasan dari Mesir, makan Paskah lalu semua rumah dioleskan darah hewan, darah tersebut adalah darah sunatnya Abraham. Jadi ketika mereka keluar dari Mesir, mereka diselamatkan dengan 2 darah: darah sunatnya Abraham, dan darah domba Paskah itu. Mereka yakin darah sunatnya Abraham tetap berlaku, sehingga mereka mengharuskan semua orang yang non Yahudi untuk juga disunat. Inilah yang jadi persoalan bagi Rasul Paulus, maka dia membela mati-matian kebenaran Injil, dan dia tidak segan-segan menyebut mereka ‘saudara-saudara palsu’ meski mereka sama-sama orang Yahudi, orang-orang yang hidupnya suci, yang mungkin sebagian besar berlatar belakang Farisi.

Hari ini, di zaman penuh toleransi seperti ini, berani tidak kita menyebut saudara-saudara yang berbeda imannya itu ‘palsu’? Satu kali, entah bagaimana saya nekad sekali. Ketika itu saya sedang bersih-bersih di halaman rumah, tiba-tiba ada dua pemuda dan seorang pemudi turun dari mobil. Mereka kelihatan rapi, tersenyum, sambil membawa traktat, “Om, selamat sore”. Dari traktatnya saya sudah tahu, logonya “Watch Tower”. Lalu mereka bilang lagi, “Om, ada waktu?” Serta-merta saya jawab, “Mau apa kalian ke sini? Sana pergi! Kalian bidat! Sana pergi!” Saya masuk ke dalam rumah dan mereka pergi. Saya lalu mikir, koq, saya jadi begini, ya?? saya pendeta, koq begini?? Berhari-hari saya merasa bersalah; koq saya sekasar itu? apa tidak lebih baik saya bilang “wah, tidak perlu, terima kasih” atau “silakan masuk, kita ngobrol-ngobrol”, dsb. Tapi setelah saya renungkan berbulan-bulan sampai hari ini, saya tak pernah menyesali yang saya katakan kepada orang Saksi Yehova itu. Saya yakin itu pimpinan Tuhan untuk menyikapi mereka, saudara-saudara palsu itu, yang ingin membawa injil palsu, injil tanpa Kristus yang sesungguhnya.

Hari ini kita diperhadapkan dengan 2 ekstrim kepalsuan. Satu macam kepalsuan ialah kepalsuan yang mereduksi semuanya, mengurangi segala sesuatunya. Kristus sih, kita percaya, tapi bukan Kristus yang bangkit. Kita percaya Yesus, tapi Yesus bukan Anak Allah. Kita percaya teladan Yesus, tapi Yesus bukan satu-satunya jalan keselamatan. Kita percaya dan memuji Yesus, tapi Yesus anak Maria, dia lahir seperti kita; yang Alkitab katakan hanyalah mitos zaman itu. Kita percaya Yesus yang rela mati –itu betul—dan dia bangkit, maksudnya bangkit secara rohani. Kalimat-kalimat itu mereduksi banyak hal; dan hari ini kita diperhadapkan dengan kenyataan seperti itu. Dan itu juga salah satu peperangan Gerakan Reformed, bagaimana di tengah-tengah arus seperti itu yang begitu besar, kita bertahan untuk  kebenaran Injil yang Alkitab ajarkan.

Saudara, sejak awal sampai sekarang --sejak abad-abad 1,2,3 sampai abad ke 4 dan 5, bahkan sampai hari ini--  yang namanya “injil” sebagai literatur, kita sudah mewarisi 35 injil. Dari antara 35 injil itu, kita yakin 4 Injil dalam Alkitab inilah Injil yang otentik, Injil yang kanonikal, Injil sesungguhnya yang kita pegang teguh sebagai Injil yang benar. Namun, Injil seperti ini, hari ini sebagian orang ingin mereduksinya.
Apa itu Injil? Injil adalah kabar baik. Apa itu kabar baik?

Ada yang mengatakan kabar baik itu seperti ini: Seorang bapak suatu hari berlari-lari masuk ke sebuah restoran yang ramai, dan dengan sukacita dia berteriak, “Kabar baik! Kabar baik! Puji Tuhan!” Orang-orang di restoran bingung, mengapa bapak ini berteriak begitu. O, mungkin putri kesayangannya yang 3 bulan di rumah sakit sekarang sudah sadar, sudah bisa bicara. Tentu saja dia senang sekali, patutlah itu kabar baik buat dia. Tapi bagi orang-orang di restoran, “itu ‘kan kabar baik bagimu, itu ‘kan anakmu, sedangkan kami, ya, tidak ada hubungan apa-apa”. Itulah Injil bagi sebagian orang. Kalau hari ini kita mengatakan, “Kabar baik, Yesus Kristus mengasihimu, mati di kayu salib bagimu”, maka orang mengatakan seperti cerita tadi, “Itu ‘kan keyakinanmu”. Maka dalam hal ini ada orang mengatakan, cobalah orang Kristen berpikir supaya tidak seperti itu Injilnya, supaya waktu orang dengar, bagi dia memang itu kabar baik, bahwa yang 2000 tahun lalu kabar baik, sekarang pun kabar baik, siapa pun yang mendengarnya, itu adalah kabar baik.
Ada juga yang mengatakan Injil itu begini: Si Bapak dengan sukacita masuk restoran dan mengatakan, “Kabar baik! Kabar baik! Semalam MU menang!” Bagi bapak itu, kesebelasan kesayangannya menang, berarti itu kabar baik bagi dia; tapi bagi sebagian orang yang mendengar, itu kabar buruk –“kabar baik bagimu, itu kabar buruk bagiku”-- karena kesebelasannya keok. Apalagi bagi yang ikut taruhan; “aku kalah! Itu kabar buruk!” Itulah Injil bagi sebagian orang; maka bagaimana kita memberitakan Injil supaya semua orang merasa itu kabar baik dan bukan kabar buruk? Kalau kita mengatakan “kabar baik”, bagi orang yang berpandangan lain, itu adalah kabar buruk baginya.

Ada juga yang mengatakan Injil itu begini: Bapak itu masuk restoran dengan sukacita dan mengabarkan “kabar baik” itu, karena Pak Jokowi baru menetapkan Kaltim jadi ibukota. Dia jadi senang sekali. Itulah yang selama ini dia tunggu-tunggu, karena ternyata dia punya 5 hektar tanah dekat rencana tempat ibukota tersebut, sehingga tanpa spekulasi lagi dia tahu keuntungan yang akan dia dapatkan dari tanahnya. Lalu di sini orang bisa mengatakan, “Tapi itu ‘kan nanti setelah tanahmu laku; lagipula 50 tahun mendatang apakah engkau tetap merasa itu kabar baik? Itu ‘kan cuma konfirmasi dari pemerintah yang sebenarnya sudah ada rencananya, lalu apa yang harus disebut kabar baik??”

Saudara-saudara, jadi apa itu kabar baik? Kabar baik itu sesungguhnya ialah seperti yang dialami orang-orang Romawi pada masa itu, yang berada dalam satu ketidakpastian ketika terjadi perang saudara antara Mark Antony dan Agustus. Pada waktu itu, setelah Julius Caesar meninggal, terjadi goncangan besar dalam Kekaisaran Romawi, sehingga semua orang dalam keadaan tidak menentu siapa nantinya yang akan jadi penguasa. Tapi setelah peperangan dan akhirnya Agustus jadi pemenang, maka seluruh Romawi memiliki kepastian, mereka tahu harus bersikap bagaimana, mereka tahu harus berpandangan bagaimana. Itulah kabar baik.

Saudara-saudara, kita hari ini diperhadapkan dengan liberalisme yang ingin mereduksi Injil yang sesungguhnya. Lalu seringkali hal yang adiaphora kita jadikan sesuatu yang mutlak, yang mutlak kita bawa kepada sesuatu yang grayness, yang grayness kita bawa kepada sesuatu yang esensial. Ini merupakan satu hal yang harus kita waspadai dalam kehidupan kita sebagai orang Kristen. Pada suatu hari setelah selesai kebaktian, seorang ibu datang kepada saya dan mengatakan, “Pak, semua gereja samalah ya, semua kita di dalam Yesus. Amin, ya, Pak?! Amin, ‘kan?” Dia harap saya jawab ‘amin’. Lalu saya bilang, “Bu, Ibu ‘kan business woman, ya, Ibu mau tidak dibayar 10 juta tapi semua uang bagian ‘0’-nya gumpil-gumpil?” Dia jawab, “Ya, tidak maulah.” Saya bilang lagi, “Nah, Ibu tahu ‘kan, betapa pentingnya ‘0’ itu, dan ibu tidak mau ‘kan kalau ada persoalan di sana? Demikian juga hal-hal yang esensial dalam hidup kita sebagai orang Kristen.” Ibu itu terdiam.

Saudara terkasih dalam Tuhan, hari ini kita diperhadapkan dengan sesuatu yang lebih kompleks dibandingkan dengan Rasul Paulus pada zaman itu. Termasuk juga diperhadapkan dengan saudara-saudara kita yang lain, termasuk juga ibu itu yang mempertanyakan “bukankah semua kita saudara seiman”. Memang betul kita sama-sama ke gereja, kita sama-sama orang Kristen, tapi nanti dulu, pertanyaannya “apa yang diajarkan?”

Paulus diperhadapkan dengan satu ajaran, yang bukan mengurangi Injil melainkan menambahkan Injil, yaitu bahwa Injil harus ditambah dengan sunat, Injil harus ditambah dengan ketaatan kepada Taurat. Dalam wilayah itulah Paulus mau mengatakan: “ini bukan adiaphora, ini bukan grayness lagi, ini bukan indifferent things melainkan sesuatu yang esensial; engkau menambahkan Injil dengan sesuatu yang bukan lagi berdasarkan anugerah”. Paulus memperjuangkan ini dari pandangan seakan-akan itu cuma sesuatu yang “yah, ‘gak apa-apalah; tambah-tambah sedikit ‘gak apa-apalah, itu ‘kan tradisi”. Saudara, kita seringkali diperhadapkan dalam pertimbangan ini; bagaimana kita membuat suatu judgement, itu perlu pemahaman yang mendalam. Dalam hal ini, sesungguhnya yang jadi persoalan dalam Gerakan Kharismatik adalah sudah menambahkan --sebagaimana persoalan dalam Jemaat Galatia-- yaitu yang mereka kenal sebagai “Foursquare Gospel”. Maksudnya, Injil itu harus ada 4 sudut: 1) pertobatan/lahir baru, 2) baptisan Roh Kudus, 3) kesembuhan Ilahi, 4) kedatangan Kristus kedua kali yang segera. Yang ke-4 mungkin tidak menjadi persoalan bagi kita, itu hanya konsep tentang dekat atau jauhnya saja, tetapi yang jadi persoalan adalah 2 hal yang di tengah-tengah itu (ke-2 dan ke-3) yang menjadi satu keharusan. Dengan demikian, Injil secara sadar atau tidak disadari telah terjadi penambahan yang harus engkau alami, harus terjadi dalam Gereja, harus orang Kristen alami, harus engkau dapatkan. Ini satu kebahayaan yang besar; sehingga Paulus mengatakan di bagian ini, “Tetapi sesaat pun kami tidak mau mundur dan tunduk kepada mereka” (ayat 5).

Paulus adalah orang yang supel, dia tahu kapan mengatakan “makan, tidak makan, it’s OK”, “makan apa saja, it’s OK; lakukan apa saja, it’s OK, untuk memuliakan Allah”. Dia tahu persis wilayah adiaphora. Tapi dalam hal tadi seakan-akan dia begitu kaku, sedikit pun tidak mau mengalah dan tidak memberi kesempatan kepada saudara-saudara palsu itu. Di sinilah kejelian, keketatan, dan ketajaman dia dalam menegakkan kebenaran Injil. Dan dia berjuang habis-habisan sampai harus mempertanggungjawabkan kepada rasul-tasul di Yerusalem, dan mereka akhirnya mengerti.

Poin terakhir, ayat 5: “Tetapi sesaat pun kami tidak mau mundur dan tunduk kepada mereka, agar kebenaran Injil dapat tinggal tetap pada kamu.“ Dia mengatakan di bagian ini “supaya kebenaran Injil itu sepenuhnya tetap tinggal (thoroughly remain) di dalam kamu”. Injil yang menegaskan Yesus adalah Mesias, Yesus adalah Anak Allah, Yesus adalah satu-satunya jalan keselamatan, Yesus adalah Mesias yang bangkit dari kematian, supaya “continue completely remain di dalam kamu”. Dalam hal ini dipakai istilah diamenó; menó ditambah prefiks dia, pengertiannya adalah remain, continue, abide. Kata inilah yang dipakai Tuhan Yesus ketika Dia mengatakan “Akulah pokok anggur, engkaulah ranting-rantingnya. Tinggalah tetap di dalam Aku, dan Aku di dalam kamu, maka engkau akan berbuah.” Bagaimana untuk tetap tinggal, itulah yang Paulus perjuangkan, agar kebenaran Injil sejati itu tetap tinggal dalam hidup jemaat.

Saudara, ada ajaran yang mungkin berbeda, yang bisa merusak untuk tetap tinggal –sebagaimana dihadapi Jemaat Galatia. Tetapi bagaimana Injil itu tetap remain, sebagaimana kita tetap tinggal di dalam Kristus, itulah yang menjadi satu pergumulan dalam hidup kita secara umum sebagai orang Kristen. Kita hari ini Kristen, puji Tuhan; tapi apakah Injil yang kita hidupi dalam hidup kita dan keluarga kita hari ini, akan menjadi Injil yang tetap hidup dalam anak cucu kita? Ini satu pertanyaan yang sulit. Kita lihat wilayah-wilayah kantong Kristen; ratusan tahun lalu mereka menerima Injil, lalu apakah Injil itu tetap ada di dalam diri mereka? Sudah tidak ada. Mereka hanya mewarisi tradisi Kristen, tapi Injil itu sudah tidak ada dalam hidup mereka. Ini menjadi hal yang harus kita perhatikan, tentang bagaimana Injil itu tetap tinggal. Itu butuh komunitas.

Kita bersyukur ada komunitas seperti GRII ini, yang membuat kita selalu dinyalakan api penginjilan. Setiap kita yang ikut KKR Regional, selalu ada kobaran baru dan kobaran baru dalam hidup kita dan dalam gerakan ini. Tetapi bagaimanakah caranya hal itu tetap tinggal dalam hidup kita? Adalah satu kebahayaan kalau Injil hanya menjadi budaya dalam keluarga kita, kalau Kekristenan hanya menjadi artefak dalam keluarga kita, dan Injil hanya menjadi nilai-nilai sosial budaya dalam hidup kita. Itulah yang terjadi hari ini di dalam gereja-gereja tradisional. Mereka sudah menjadikan Injil itu budaya, bukan lagi Injil yang hidup yang menghidupkan diri mereka dan menghidupkan orang lain. Tahu Injil, itu satu hal. Mengerti Injil, itu satu hal. Tetapi bagaimana hidup di dalam Injil, itu hal yang berbeda.

Persoalan hari ini, kita harus menghidupkan Injil itu dalam diri kita. Tak cukup kita hanya tahu dan menjadi satu pengertian seumur hidup. Injil itu menjadi Injil yang hidup, dan hidup dalam diri kita, kalau engkau dan saya memberitakannya. Tak ada jalan lain, kecuali kita memberitakannya dan bersaksi, kalau kita mau Injil itu hidup dan kita hidup di dalam Injil.

Kita harus memberitakannya. Itulah yang menghidupkan Injil dalam diri kita, dan kita untuk Injil. Kalau tidak ada itu, yakinlah, Injil itu akan mati dalam diri kita, dan kita hanya tahu sebagai berita Injil. Itu sebabnya saya senang kalau mau pergi tidak ada kendaraan, lalu pesan Grab, ada kesempatan untuk bicara Injil kepada supirnya. Orang yang diinjili macam-macam modelnya, ada yang senang, ada yang melawan. Saudara dan saya harus memberitakan Injil. Itulah yang menjadikan Injil remain di dalam kita, dan kita di dalam Injil. Kita tak akan pernah bisa menghidupkan Injil hanya dengan kita mengerti dan mengerti. Bertahun-tahun kita sudah mengerti, itu tidak cukup, tapi harus dihidupkan melalui apa yang kita katakan, yang kita beritakan. Itulah yang menjadikan Injil hidup di dalam diri kita. Kita harus memberitakan Injil; dengan itu, Injil menjadi hidup, sungguh-sungguh hidup di dalam diri kita, di dalam dirimu dan diriku, dan kita hidup di dalam Injil. Dan kita juga harus membangun keluarga yang menghidupkan Injil.

Suatu kali tim dari MRII PIK akan KKR Regional ke Sumba. Putri saya, saya ajak kelas pelatihan. Mulanya dia bilang, “Ah, ‘gak maulah, ‘gak mau.” Akhirnya ikut juga. Tiba giliran praktek, lagi-lagi tidak mau. Tapi akhirnya praktek. Setelah itu, diajak pergi KKR, dia bilang lagi, “Ah, ‘gak mau, nanti saja, hatiku belum mantap.” Saya tidak memaksa, tapi ada pengurus yang membujuk, dan dia berangkat. Hari pertama, dia kirim Line ke saya, menangis, dia bilang, “Saya ditolak, sama anak-anak ‘gak dianggap, maluuu… “. Hari kedua, dia mulai melihat pelayanan itu. Hari ketiga, sungguh dia bersyukur Tuhan membentuk dia. Dan hari ini dia mengatakan, “Kapan ada kesempatan lagi, aku mau pergi KKR Regional, masuk sekolah-sekolah, beritakan Injil kepada mereka. Kasihan mereka.” Saya bertahun-tahun berdoa untuk dia, dan lewat pelayanan itu, mengubah dia.

Saudara harus menghidupkan Injil itu dalam hidup kita. Saudara dan saya harus berbagian, dan harus lakukan itu. Injil hari ini bukan saja rusak oleh pengajaran yang salah, tapi juga kalau Injil itu tidak kita hidupi dalam hidup kita, Injil itu akan jadi satu artefak yang mati. Kita harus menghidupkan Injil dengan memberitakan dan memberitakan. Dan itu akan menghidupkan diri kita di dalam Injil.

Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah (MS)

Gereja Reformed Injili Indonesia Kelapa Gading

Download Ringkasan