Gereja yang Dikasihi

 Dalam beberapa tahun kebaktian HUT gereja, kita memilih tema-tema yang berkaitan dengan eklesiologi/doktrin Gereja; tema Kebaktian Ulang Tahun ke-20 kali ini juga berbicara mengenai eklesiologi, yaitu “Gereja yang Dikasihi”, bahasa Latinnya: Ecclesia Dilecta (Beloved Church). Istilah ini muncul atau paling dikenal dari tulisan seorang Lutheran Orthodox, yang bernama Johann Gerhard; istilah lengkapnya:  Ecclesia dilecta Christi Sponsa, artinya Gereja adalah mempelai wanita yang dikasihi oleh Kristus, Sang Mempelai Laki-laki.

Waktu memikirkan tentang Gereja yang dikasihi, metafor yang dipakai adalah metafor pernikahan. Pernikahan Saudara dan saya tidak sempurna, tapi kalau kita melihat pernikahannya Tuhan, ternyata juga tidak sempurna. Tidak sempurna dalam pengertian pernikahan yang bukan dalam kesempurnaan idealisme, bukan pernikahan yang sudah tidak ada cekcok sama sekali,  bukan pernikahan yang tidak ada konflik, bukan pernikahan yang sama sekali sinkron dan tidak ada perdebatan. Pernikahan Kristus dengan jemaat-Nya, pernikahan Yahweh dengan Israel, sangat penuh dengan konflik. Yahweh sendiri kelelahan, sampai seperti mau menceraikan Israel; Dia mengatakan “Saya sudah muak dengan ibadahmu”, dsb. –kalimat-kalimat yang keras. Di dalam hubungan seperti ini, saya percaya kita ada kekuatan untuk menghidupi bukan saja pernikahan, tapi juga semua relasi cinta atau semua relasi kasih yang lain, waktu kita melihat kehidupan Kristus, Sang Mempelai Laki-laki dengan jemaat-Nya.

Anders Nygren berbicara tentang pembedaan antara eros dan agape –satu pembedaan yang klasik. Dia mengingatkan, dalam cinta kasih eros kita mencintai sesuatu atau seseorang karena memang sudah ada nilai di sana, karena sesuatu itu cantik, indah. Istilah eros di sini bukan sekedar dalam pengertian erotik sebagaimana dipakai dunia modern, yang berkaitan dengan urusan seks, dsb., tetapi lebih luas. Istilah eros ini maksudnya segala sesuatu yang kita cintai karena memang beautiful. Misalnya Saudara melihat desain interior bagus lalu Saudara suka, itu namanya eros. Tetapi Tuhan mencintai kita bukan dengan eros; Tuhan mencintai kita dengan cinta kasih agape. Maksudnya, yang dicintai itu sebenarnya tidak indah, buruk, ugly, tapi waktu Tuhan mencintai, Tuhan kemudian memberikan nilai. Jadi yang dicintai ini kemudian diberikan nilai; bukan karena bernilai, maka dicintai.

Ini bukan berarti dalam kehidupan tidak boleh ada eros sama sekali. Waktu Saudara suka dengan pemandangan yang indah, itu eros. Kita tidak bisa hidup tanpa eros dalam kehidupan ini, tetapi ada keindahan dalam cinta kasih agape, yaitu adanya kuasa transformasi, mengubah dari yang buruk tapi dicintai itu, untuk kemudian menjadi indah. Itulah yang kita baca dalam pergumulan para nabi, para rasul, dsb. Paulus dalam suratnya, bergumul mempersiapkan jemaat menjadi the bride of Christ yang tidak ada cacat dan tidak ada kerut waktu berjumpa dengan Kristus. Itulah yang seharusnya menjadi visi semua hamba-hamba Tuhan, termasuk visi Saudara. Menjadikan jemaat yang tadinya buruk rupa, karakternya bobrok, tidak cinta Tuhan, kemudian dibentuk, dikuduskan, disempurnakan, sampai ahirnya waktu berjumpa dengan Kristus, Sang Mempelai Laki-laki, didapati tidak bercacat dan tidak ada kerut, itulah pergumulan Gereja yang dikasihi. Yesus adalah Sang Mempelai Laki-laki, dan kita, jemaat, adalah mempelai wanita. Bukan karena kita cantik, bukan karena kita ada nilai, Yesus mencintai kita, Dia mati untuk kita, dan Dia memastikan kita akan dikuduskan untuk menjadi serupa Dia.

“Gereja yang Dikasihi Tuhan”, seharusnya membawa kita kepada satu sikap yang rendah hati, karena bukan karena kita ini menarik, sampai-sampai Tuhan tertarik, tapi semata-mata karena cinta kasih Tuhan. Waktu kita mengatakan “ini adalah Gereja yang dikasihi”, kita mengaku dengan rendah hati bahwa kita tidak punya kualifikasi apa-apa untuk dikasihi Tuhan. Betul-betul adalah kerelaan hati Allah, yang dalam kedaulatan-Nya, mencintai orang-orang yang buruk rupa dan buruk karakter seperti Saudara dan saya. Hidup yang dikasihi adalah satu kehidupan yang bersyukur, mengaku bahwa yang ada pada kita adalah sesuatu yang diberi dari tangan Tuhan, bukan karena kita punya pencapaian yang hebat, dsb. Menghayati ini seumur hidup, adalah satu hal yang sungguh-sungguh membebaskan. Tapi ketika dalam saat-saat tertentu kita mulai lupa, lalu kita mulai melihat kehidupan ini sebagai sesuatu yang kita peroleh dengan susah payah, pengorbanan, dsb., kita akhirnya jadi orang-orang yang lelah. Lelah pujian, lelah pengakuan, lelah ‘koq saya tidak dipedulikan, lelah ‘koq saya tidak dianggap penting’, dsb., dan akhirnya masuk ke dalam psychological complex yang tidak selesai-selesai; bagaimana orang seperti ini bisa melayani Tuhan dengan bebas?? Urusannya adalah urusan dengan dirinya sendiri. Kalau kita mengatakan kita adalah Gereja yang dikasihi, kita belajar untuk senantiasa rendah hati; bukan apa yang kita capai melainkan apa yang Tuhan capai melalui Saudara dan saya. Dia tidak harus pakai kita, Dia tidak berkewajiban melibatkan kita, tapi Dia dengan kerelaan hati-Nya mau memakai kita, Gereja yang dikasihi.

Gereja yang dikasihi, seharusnya juga menjadi Gereja yang lebih submissive/tunduk. Ini saya ambil dari metafor pernikahan sebagaimana diajarkan Paulus, yaitu laki-laki hendaknya mencintai istrinya, istri hendaklah tunduk/hormat kepada suaminya. Cinta kasih Yesus kepada Gereja tidak usah diperdebatkan lagi, tidak perlu didiskusikan; itu sesuatu yang sudah sangat jelas dan terbukti, pengorbanan-Nya di atas kayu salib membuktikan Dia memang sungguh-sungguh mencintai jemaat/Gereja. Kalau kita mengerti kita adalah Gereja yang dikasihi, kita menjadi orang-orang yang taat. Natur dari perempuan adalah responsif; di hadapan Tuhan, kita ini mempelai wanita, feminin. Tuhan adalah yang maskulin, yang berkorban bagi kita; lalu kita merespons dengan sikap yang taat/tunduk. Gereja/orang Kristen yang tidak taat, tidak takluk, tidak bisa diatur, tidak submissive tapi sukanya mengatur, itu adalah orang-orang yang tidak mengerti cinta kasih Tuhan.

Kalau kita mengerti cinta kasih Tuhan, kita jadi orang yang semakin submissive, sebagaimana mempelai wanita yang dikasihi mempelai laki-laki makin lama makin submissive. Maka penting sekali untuk menghayati bahwa kita ini komunitas yang dicintai, yang dikasihi; tanpa cinta, tanpa kasih, tidak mungkin orang bisa submissive. Ini betul dalam semua hal. Bukan cuma dalam hal suami istri, hubungan orangtua dan anak pun seperti itu. Ada anak-anak yang susah taat kepada orangtuanya, mungkin karena orangtuanya kurang mengasihi, kurang berkorban, tapi tetap minta anaknya submissive. Itu namanya tidak ada keadilan. Memang kasih dan keadilan tidak bisa dibicarakan dalam satu paket, tapi di sini maksudnya ketidakadilan dalam pengertian kita cuma mau otoritas, kuasa, tapi tidak mengerjakan bagian kita. Itu tidak terjadi pada Kristus. Kristus mengasihi Gereja-Nya dengan sempurna.

Dalam surat yang ditujukan kepada Jemaat Filadelfia di Kitab Wahyu, dikatakan “Aku mengasihi engkau”; jemaat ini jemaat yang dikasihi Tuhan. Dan dalam bagian itu kita membaca ada kaitan antara Allah yang mengasihi jemaat dengan jemaat yang submit, yang menuruti Firman-Nya. Jemaat Filadelfia dikasihi Tuhan, dan respons mereka adalah menuruti Firman-Nya. Ini sepertinya sesuatu yang sangat klise, seperti bukan hal yang baru. Tapi, kalau kita betul-betul menghayati cinta kasih Tuhan, maka respons yang wajar adalah takluk dan tunduk. Dunia ini sulit takluk dan tunduk, karena dunia ini memang tidak ada cinta kasih. Dunia ini tidak sanggup mengasihi, itu sebabnya juga menghasilkan orang-orang yang sulit tunduk satu dengan yang lain. Kalau Saudara dan saya mengaku percaya bahwa Tuhan adalah Tuhan yang mengasihi kita, kita mustinya jadi orang-orang yang bisa menuruti Firman-Nya.

Jika kita gali lebih dalam surat kepada Jemaat Filadelfia ini, dikatakan ‘menuruti Firman-Nya about patient and endurance’, maksudnya menuruti Firman, terutama dalam ketekunan, tahan uji, yang sabar, di saat-saat penderitaan. Jadi, kalau kita mau memperluas spektrum arti dari ‘jemaat yang dikasihi’, di dalamnya diasumsikan ada penderitaan, penganiayaan. Gereja yang diberkati Tuhan adalah Gereja yang diberi hak istimewa untuk mengalami penganiayaan. Saudara mungkin bilang ini tidak cocok dengan keadaan kita, kita baik-baik saja, kita tengah meresmikan gedung yang baru, sedangkan kalau bicara penganiayaan harusnya gedung yang hancur, dsb.; tapi tidak peduli dengan itu semua, Firman Tuhan mengatakan bahwa Gereja yang diberkati, adalah Gereja yang dianiaya. Penganiayaan bisa dalam berbagai bentuk, bisa dalam pengertian fisik, tapi bisa juga penganiayaan mental, misalnya difitnah, disalah mengerti, atau lainnya. Mungkin kita imannya terlalu kecil, maka tidak mengalami penganiayaan yang terlalu besar. Tetapi, kalau dalam kehidupan ini Gereja tidak dibenci oleh dunia, Gereja terlalu dikasihi dunia, sudah pasti itu Gereja yang tidak beres, karena Yesus bilang kepada murid-murid-Nya, “Dunia akan membenci kamu; mereka sudah membenci Aku dan akan membenci kamu”. Kalau kita murid Tuhan, dan kita tidak dibenci oleh dunia, berarti something is very wrong dalam kehidupan kita. Bukan maksudnya kita harus berlaku sedemikian sampai menimbulkan kebencian, tapi bahwa waktu kita berjalan dalam kebenaran, berjalan dalam terang, itu akan mengusik dan mengganggu bagi orang-orang yang tidak tertarik dengan terang dan kebenaran --dan karena itu Gereja dianiaya.

Jadi, Gereja yang dikasihi bukanlah suatu gambaran Gereja yang selalu dipelihara, dibebaskan dari semua penderitaan, dsb. Memang dalam surat kepada Jemaat di Filadelfia ada gambaran Tuhan akan memelihara; memang betul ada pemeliharaan Tuhan secara khusus untuk Gereja yang dikasihi, tetapi itu bukan tanpa adanya penganiayaan, yang membuat jemaat ini akhirnya bisa ada tahan uji, tekun, sabar terus menantikan Tuhan. Dalam pengertian inilah Gereja yang diberkati Tuhan. Kita maunya gambaran cinta kasih Tuhan yang lain, yang kita tidak usah menderita, tidak usah dibenci, tidak disalah mengerti, dst., tapi itu bukanlah Gereja yang diperkenan Tuhan. Itu jalan yang lain, bukan jalan Kristus. Itu tidak cocok dengan kehidupan Kristus yang kita percaya. Itu bukan Kristus yang ada dalam Alkitab. Itu tuhan yang lain, tuhan yang palsu. Tetapi yang ada dalam Alkitab, yang dikasihi Tuhan adalah yang seperti Jemaat Filafelfia ini, yang menuruti Firman-Nya tentang patient and endurance karena ada penderitaan, penganiayaan.

Kalau kita kembali ke awal, di sini judulnya “Gereja yang Dikasihi”; dalam teologi ada istilah “divine passive”, dan judul kita pakai istilah ‘dikasihi’ –pasif. Maksudnya, kalau melihat judul ini, seperti tidak jelas dikasihi oleh siapa, tapi hal itu tidak perlu ditulis lagi, karena dalam ketersembunyian Pelaku yang mengasihi ini, yang dimaksud adalah Tuhan sendiri. Dalam Alkitab banyak kalimat dalam bentuk divine passive, baik pakai awalan ‘ter-‘ ataupun ‘di-‘, tanpa disebutkan lagi pelakunya, tapi orang mengerti pelakunya adalah Tuhan. Ini menarik. Mengapa dalam Alkitab banyak kalimat yang menggunakan tata bahasa divine passive –termasuk judul hari ini? Waktu Saudara membaca judul itu, tentu Saudara mengerti maksudnya “Gereja yang Dikasihi (oleh Tuhan)” –berarti Saudara mengerti divine passive. Jadi, keindahan dari divine passive adalah Tuhan seperti tersembunyi, bukan theology of glory, tapi kita musti tahu bahwa yang mencintai kita sebetulnya Tuhan.

Keindahan yang lain, dalam divine passive ini subjeknya seakan jadi bukan Tuhan; dalam “Gereja yang Dikasihi”, subjeknya jadi Gereja, seakan Gereja jadi penting dan lebih penting daripada Tuhan. Tuhan seakan rela mengundurkan diri, tidak kelihatan, sedangkan Gereja yang jadi penting. Inilah natur kasih. Yesus, waktu Dia mati di atas kayu salib, Dia terseret keluar sampai ke luar kota, terbuang, supaya mepelai wanita itu –Saudara dan saya—boleh diselamatkan. Dia berteriak di atas kayu salib, “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” –kalimat yang tidak ada jawaban itu. Itu kalimat pertanyaan Sang Anak kepada Sang Bapa, dan yang jawab harusnya Saudara dan saya. Mengapa Yesus ditinggalkan di atas kayu salib? Mengapa Dia dibuang begitu saja? Yang harusnya jawab kalimat ini adalah Gereja; Tuhan Yesus dibuang --dan seperti dalam konstruksi ‘divine passive’-- Saudara dan saya yang diselamatkan, dikasihi, dipeluk, kita yang berelasi dengan Bapa, kita yang tidak pernah ditinggalkan oleh Bapa; sementara jawaban itu vakum bagi Yesus. “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Kalau kita tidak tertarik dengan kalimat itu, tidak ada getaran dalam diri kita, berarti kita tidak mengerti cinta kasih Allah –lebih kacaunya lagi, orang malah mendiskusikan ‘kenapa tidak ada jawaban’, ‘apa ini artinya’ dsb., rumit sekali. Teologi yang tidak membawa kita kepada relasi yang semakin mengasihi, Saudara buang saja teologi seperti itu –termasuk kalau teologi Reformed membawa Saudara ke sana. Itu teologi yang mematikan, teologi yang destruktif, teologi yang membawa kita bukan kepada pemahaman cinta kasih Allah tapi kepada pemahaman yang lain, mungkin pemahaman kesombongan rohani. Itu bukan teologi yang kita terima dari Alkitab. Tetapi, teologi yang membawa kita semakin mencintai Tuhan, itulah teologi yang Saudara harus pelajari, Saudara harus gali, Saudara harus mencintainya.

Dalam konstruksi divine passive ini, kalimat “Gereja yang Dikasihi”, seperti tidak jelas siapa yang mengasihi --Saudara dan saya harus tahu sendiri Siapa yang mengasihi di sini—tapi Gereja menjadi yang penting, yang dikasihi, jadi objek yang dikasihi, atau bahkan jadi subjek sebagaimana dalam kalimat judul ini. Kalau kita mengasihi orang lain, diri kita jadi tidak penting, yang penting adalah orang yang kita kasihi, yang kita layani. Seperti Kristus waktu di dalam dunia Dia membasuh kaki murid-murid-Nya. Dia adalah Tuhan, Tuan, tapi Dia menjadi hamba, Dia membasuh kaki murid-murid-Nya; di sini yang penting jadi murid-murid-Nya yang dibasuh kakinya, sementara Yesus hanya hamba. Gereja yang dikasihi oleh Tuhan, harus mengerti teologi ‘hamba’ seperti ini. Waktu kita bertumbuh di dalam Kristus, kita juga akan menjadi seperti Kristus, mengerti artinya jadi orang ketiga yang tidak penting, yang menciptakan relasi “I and Thou” antara Tuhan dengan yang dikasihi oleh Tuhan, sementara kita sendiri mediator yang tidak penting. Kristus membuat diri-Nya sendiri juga tidak penting di atas kayu salib, tapi kita yang diselamatkan musti mengerti kepentingan Kristus. Kristus, dari diri-Nya sendiri, tidak klaim kepentingan itu; tapi Dia membuka satu hubungan antara Allah yang murka karena dosa-dosa manusia, dengan manusia yang berdosa, yang diampuni, yang dikasihi oleh Tuhan.

Dalam tema “Gereja yang Dikasihi” ini, kita boleh menekankan bahwa yang dikasihi adalah Gereja, maksudnya komunal. Ini adalah komunitas yang dikasihi. Di dalam iman Protestan, kita ini sangat menekankan individual, ditambah lagi dengan masuknya Enlightenment mulai abad 17. Penekanan individual memang tidak salah; dalam Katekismus Heidelberg, semua pertanyaannya sangat personal; “what is your only comfort in life and death?” (apakah penghiburanmu –‘mu’-nya singular-- satu-satunya, baik dalam hidup ini ataupun dalam matimu). Ini bicara tentang kehidupan kita pribadi di hadapan Tuhan --atau meminjam istilah modern seperti dalam Filsafat Eksistensial,  individu seseorang di hadapan Tuhan. Tentu tidak harus salah, tapi Saudara jangan membuang aspek komunal di sini. Kalau kita penekanannya hanya individual, bahwa aku yang dikasihi, dan tidak mau mengerti bahwa yang dikasihi Tuhan termasuk juga aku-aku yang lain –maksudnya Gereja—kita sulit memahami cinta kasih Tuhan; sama seperti orang sulit memahami doa yang benar di hadapan Tuhan kalau dia mengubah Doa Bapa Kami menjadi Doa Bapaku; “Bapaku yang di sorga … berilah makananku pada hari ini”, semuanya jadi ku, padahal itu doa Bapa kami, ada aspek komunal.

Kalau kita menghayati cinta kasih Tuhan secara individual saja, itu amat sangat terbatas. Kita bahkan bisa terjebak dalam narsisisme --kalau tidak hati-hati-- menghayati cinta kasih Tuhan hanya secara pribadi saja, tapi tidak mau masuk ke dalam kehidupan Gereja, kehidupan komunitas, hanya terus menghayati ‘Tuhan itu mengasihi saya, memelihara saya, memperhatikan saya, peduli kapada saya’, akhirnya hidup orang itu cuma ada ‘saya’, tidak ada keindahan cinta kasih yang luas. Yesus mati di atas kayu salib untuk setiap pribadi Saudara dan saya --itu betul—tapi Yesus juga mati untuk umat-Nya. Katekismus Heidelberg, Pietisme, dan mungkin juga Puritanisme, menekankan bagian individu/personal ini, demikian juga Luther; tapi dalam tulisan Calvin, dia bukan bicara ‘knowledge of God and knowledge of self’, tapi dia bicara ‘knowledge of God and knowledge of ourselves’. Yang dimaksud Calvin adalah pengenalan diri kita, bukan pengenalan diriku. Judul-judul seminar seperti “Siapakah Aku?”, yang semuanya tentang ‘aku’, kalau tidak hati-hati bisa menyuburkan narsisisme. Semuanya dimulai dengan diri sendiri, ‘aku’, lalu waktu jadi besar, besarnya juga merupakan pembengkakan dari ego yang satu itu –tidak menarik.

Eklesiologi yang menarik adalah eklesiologi di dalam cinta kasih Tuhan, di dalam anugerah Tuhan, dan dihayati secara komunal. Dalam satu orkes, suatu simfoni jadi indah karena masing-masing berfungsi di dalam bagiannya masing-masing. Bahkan pemain solonya, misalnya pemain biola solo, kalau dia cuma main bagiannya sendiri, jadi kurang indah; lalu kalau dia minta semua orang main seperti permainan biola solonya, jadi tidak menarik juga. Yang menarik, meskipun ada triangle yang seperti tidak penting, yang suaranya cuma ‘ting’ lalu setelah itu tunggu 7 jam baru keluar lagi, justru itu yang indah. Dimengerti sebagai satu kesatuan, ada unitas, ada gambaran keseluruhan yang masing-masing indah di dalam kaitan dengan yang lain, karena dikasihi oleh Tuhan. Kita berharap menjadi Gereja yang seperti ini, bukan Gereja yang 1 orang menonjol; bahkan 2, 4, 15 orang yang menonjol pun tetap tidak cukup. “Gereja yang Dikasihi Tuhan”, artinya yang dikasihi Tuhan adalah Gereja, bukan cuma Saudara atau saya, bukan singular tapi komunal. Kita akan mengerti cinta kasih Tuhan kalau kita masuk dalam communal life, hidup bersama. Tapi Saudara yang banyak pergumulan lalu merasa seperti Tuhan kurang mengasihi, akhirnya Saudara bergumul untuk lebih mengerti cinta kasih Tuhan tanpa tertarik join dengan komunitas, ya, good luck to your theology, semoga Anda beruntung. Pasti Saudara tidak beruntung, karena cinta kasih Tuhan tidak bisa dimengerti tanpa perspektif komunitas.

Orang yang terus mengejar untuk dirinya sendiri, bagaimana dirinya dikasihi, akhirnya jadi orang yang cengeng, tidak pernah bisa maju. Tidak ada fighting spirit karena terus berpikir untuk bagaimana dikasihi Tuhan, bagaimana dikasihi Gereja, yang pusatnya semua dirinya sendiri. Ini orang yang tidak bisa bertumbuh. Tapi kita dipanggil untuk jadi orang Kristen yang bertumbuh; dan orang yang bertumbuh akan semakin bisa menikmati kehidupan komunal, meskipun tidak ideal, meskipun tidak sempurna. Jangan lupa, pernikahan Kristus sendiri dengan jemaat, juga tidak sempurna. Dia bukan menikah dengan entah dewi siapa yang sudah ilahi --sama sekali tidak-- Dia menikah dengan manusia-manusia yang berdosa, tapi Kristus menebus, mengampuni, menguduskan, menyucikan. Itulah yang dilakukan oleh Kristus; dan itulah Gereja yang dikasihi oleh Tuhan.

Selanjutnya, menurut Alkitab, yang dikasihi Tuhan itu ditegor dan dihajar; yang tidak ditegur dan tidak dihajar, itu anak-anak gampang. Jadi, Gereja yang dikasihi Tuhan adalah Gereja yang terus-menerus dihajar oleh Tuhan. Jangan capek waktu ditegur lagi, dikritik lagi, dimarahi lagi. Kita maunya dipuji. Hati-hati, orang yang tidak bisa dikritik, tidak bisa ditegur, itu orang yang tidak dewasa. Lebih tepatnya, orang yang sulit dikritik, sulit ditegur, orang itu tidak ada cinta kasih dalam kehidupannya. Itu sebabnya Saudara tidak bisa sentuh kelemahannya, karena begitu sentuh bagian itu, dia langsung hancur, langsung meledak, karena memang tidak ada cinta kasih. Ilustrasi sederhana yaitu dalam hubungan orangtua dan anak; saya belajar waktu menghajar anak, itu berbarengan dengan cinta kasih yang cukup –dan juga sebelumnya. Kalau saya kurang mencintai, tahunya cuma menghajar, itu menimbulkan kepahitan. Anak juga akan tidak bisa terima penghajaran itu, karena dia merasa ‘ini bukan orang yang mengasihi saya, mengapa dia menghajar saya’. Ilustrasi lain, kalau kita pukul anak kita sendiri, dia masih ada perasaan bahwa bagaimana pun kita ada relasi kasih dengan dirinya; tapi coba tiba-tiba tetangga datang dan pukul anak kita, dia bisa kaget, heran, dan juga susah menghubungkan hajaran tersebut dengan kasih, karena memang tidak pernah ada kasih dari tetangga.

Kalau orang mengasihi, lalu dia menghajar, it’s just correct; tapi kalau orang yang tidak mengasihi, dan dia menghajar, itu kacau. Tuhan kita Tuhan yang boleh menegur dan menghajar kita karena Dia mengasihi kita. Tapi kita, orang berdosa, kadang-kadang menegur dan menghajar tapi kita kurang mengasihi, kita kritik orang dan kita tidak mengasihi sebetulnya. Itu sebabnya kritik jadi sulit diterima; yang dikritik pun sulit menerima, karena dia tidak percaya orang yang mengkritik dia itu mengasihi dirinya. Kalau kita bisa mengaitkan teguran, hajaran, dan kasih atau cinta, kita justru akan bersyukur Tuhan masih menghajar, menegur, mendisiplin kita, karena itu termasuk ekspresi Tuhan. Kalau Tuhan sudah berhenti bicara, kehidupan Saudara dan saya betul-betul bahaya.

Kalau Tuhan sudah tidak mau tahu lagi, terserah lu mau apa, mau jalan sendiri silakan jalan sendiri, berarti sudah selesai kehidupan kita, Tuhan tidak campur lagi; lu mau apa terserah, mau rusak dirimu sendiri terserah, Tuhan tidak koreksi lagi. Itu kehidupan orang yang sudah dibuang, orang yang sudah dicampakkan oleh Tuhan, Tuhan sudah tidak mau tahu lagi dengan orang itu. Seperti kepada Yudas, dia mau menjual, mau cinta uang, terserah; sampai dia mau nangis-nangis pun terserah, akhirnya bunuh diri juga terserah. Sudah tidak ada lagi anugerah Tuhan untuk orang seperti itu. Mengapa? Yudas itu orang yang terus-menerus menghindari pembentukan Tuhan, terus-menerus menghindari kritik, teguran, dan hajaran Tuhan. Dia tidak pernah mengerti cinta kasih Tuhan maka dia tidak pernah bisa menerima kritik dan teguran. Dia selalu menghindari teguran-teguran dalam kehidupannya, selalu defensif. Inilah orang-orang yang binasa. Orang-orang yang tidak bisa dibentuk oleh Tuhan, akhirnya Tuhan melepas mereka, ya, sudah, berjalan sesuai kehendakmu sendiri. Saya mengutip perkataan C. S. Lewis: “Orang di surga berkata kepada Bapa: ‘Bapa, kehendak-Mu terjadi’; tapi di neraka Tuhan bilang kepada orang-orang itu, ‘kehendakmu yang terjadi’ “ –itulah akhirnya, berakhir di neraka. Itulah tempat orang yang selalu ngotot kehendaknya yang harus terjadi. Itulah tempat orang tidak perlu menyangkal diri ikut kehendak Tuhan, yang ada adalah kehendaknya sendiri yang terjadi, Tuhan pun ngalah. Tuhan tidak ikut-ikut lagi, terjadilah sesuai dengan kehendakmu --neraka. Tapi alangkah bahagianya orang yang masih ditegur dan dihajar, justru karena Tuhan masih mengasihi dia.

Bersamaan dengan ini, Gereja yang dikasihi Tuhan adalah Gereja yang seharusnya berani dengan transparan mengakui kelemahan dan keberdosaannya. Komunitas yang dikasihi Tuhan, tidak jaga image. Komunitas yang dikasihi Tuhan, tidak terus bicara kelebihannya sendiri; yang seperti itu, komunitas yang tidak dikasihi Tuhan. Komunitas yang dikasihi Tuhan, justru karena dia tahu dikasihi Tuhan, maka dia dengan bebas membicarakan kelemahannya tanpa ada yang tersinggung. Justru karena kita di dalam kasih Tuhan, di dalam pelukan Tuhan, di dalam penerimaan Tuhan, maka kita bicara kelemahan-kelemahan kita supaya bisa belajar dan keluar dari sana, tanpa musti menutup-nutupi. Tapi ada Gereja yang suka menutup-nutupi kelemahannya, tidak suka kalau dibicarakan kelemahannya, sebaliknya suka membicarakan kelemahan Gereja yang lain. Ini Gereja yang tidak dikasihi oleh Tuhan, karena Gereja yang dikasihi Tuhan itu bebas membicarakan kelemahannya sendiri. Ini bukan sesuatu yang menghancurkan/destruktif, sebaliknya konstruktif, karena dari perspektif anugerah dan cinta kasih Tuhan.
Satu ilustrasi: kalau kita punya sahabat yang baik yang kita yakin dia mengasihi kita, Saudara tentu bisa share borok-borok Saudara, karena Saudara tahu dia mengasihi Saudara. Tapi coba dengan musuh Saudara, yang benci dan kepingin Saudara mati 3 hari lalu atau 3 tahun lalu, Saudara masih mau share “saya ada pergumulan, tolong doakan”? Tidak mungkinlah. Saudara tidak akan cerita kepada orang yang tidak mengasihi Saudara. Jadi, ada kaitan sangat erat antara pengertian ‘dikasihi’ dengan keterbukaan akan kelemahan-kelemahan kita. Tuhan itu mengasihi kita, maka kita bisa bicara dosa-dosa kita di hadapan-Nya. Daud, waktu menulis Mazmur 51, mengatakan: “According to Thy great mercy, ampunilah dosaku” (“sesuai dengan belas kasihan-Mu yang luas itu, ampunilah dosaku”). Dia berani mengaku dosanya di hadapan Tuhan karena dia yakin Tuhan itu besar kasih setia-Nya, begitu dalam cinta kasih-Nya.

Kalau kita sungguh-sungguh Gereja yang dikasihi Tuhan, kita harusnya ada waktu untuk membicarakan kelemahan-kelemahan kita, tanpa harus menjadi malu, merasa jadi kurang mulia, merasa dihakimi, dituduh, dsb., karena di dalam cinta tidak ada accusation, tidak ada judgement, yang ada adalah cinta dan penerimaan. Dengan begitu, kita boleh membicarakan kelemahan-kelemahan kita, membicarakan hajaran/teguran Tuhan, dengan bebas. Tapi celakalah kalau kita jadi Gereja yang takut membicarakan kelemahan-kelemahan kita; itu bukan membangun dalam teologi anugerah. Kalau setiap bicara, kita harus bicara kelebihan-kelebihan kita, itu berarti tuhan kita adalah tuhan yang menerima karena kita achieve something. Karena saya saleh, maka tuhan itu menerima saya; karena saya kudus, maka tuhan itu menerima saya; karena saya bisa bikin gereja baru, maka tuhan lebih mencintai saya –itu bukan teologi Reformed. Itu bahkan bukan Armenianisme; itu Pelagianisme. Itu ajaran bidat/pelagian, bukan ajaran Protestan. Itu bukan ajaran yang kita terima dari Alkitab. Ajaran yang kita terima dari Alkitab adalah Tuhan terlebih dahulu mencintai dan mengasihi saya.

Tuhan yang kita percaya, Dia terlebih dahulu mengasihi Saudara dan saya; dan karena itu, kita bisa berbuat baik, kita bisa bekerja, kita boleh dikuduskan, kita boleh disempurnakan, dsb. Tapi orang yang terus-menerus seperti harus bicara tentang kelebihannya, jasanya, dan harus selalu diakui, dsb., itu adalah orang-orang yang tidak mengerti cinta kasih Tuhan. Tuhannya dia tuhan yang menerima hanya kalau dia punya great achievement. Tapi itu bukan Tuhan yang kita kenal, bukan Tuhan yang ada di Alkitab, bukan Tuhan yang kita percaya.

Gereja yang dikasihi Tuhan, adalah Gereja yang mengasihi Tuhan. Ada orang yang tanya kepada saya, mengapa tidak pakai tema “Gereja yang Mengasihi Tuhan”? Saya juga sempat berpikir tema “Gereja yang MengasihiTuhan”, tapi kemudian ganti jadi “Gereja yang Dikasihi Tuhan”, alasannya karena ini lebih teosentris. Di dalam “Gereja yang Dikasihi Tuhan”, sudah termasuk bahwa Gereja itu berespons dengan benar, mengasihi Tuhan. Sementara kalau kita bilang “Gereja yang Mengasihi Tuhan”, jadi bisa sombong, kita jadi benar-benar subjeknya. Yang menggerakkan, itu selalu Tuhan, selalu Kristus; kita selalu responsif saja. Kalau tidak ada gerakan dari Tuhan, tidak ada orang bisa bergerak balas mencintai. Kita cuma bisa mencintai kalau kita terlebih dahulu dicintai. Kita cuma bisa mengasihi kalau kita terlebih dahulu dikasihi. Itu sebabnya judul kita bukan “Gereja yang Mengasihi”; karena Gereja yang mengasihi sudah termasuk dalam “Gereja yang Dikasihi”. Sekalipun jadi “Gereja yang Mengasihi”, harus tetap ingat Injil. Injil itu bukan ‘saya melayani Tuhan’; Injil selalu adalah ‘Tuhan yang melayani saya’.

Orang-orang seperti Luther, di saat terakhirnya mengatakan, “Kita ini cuma pengemis” –dan ini benar adanya. Kita cuma pengemis. Agustinus di saat akhir hidupnya, dia merenungkan Mazmur 51, mazmur pengakuan dosa. Bukan Mazmur 23, bukan Mazmur 150, bukan Mazmur 1 tentang orang benar dan orang fasik, tapi Mazmur 51. Saat yang terakhir mau menghadap Tuhan, apa yang dia renungkan? Injil. Karl Barth –yang dalam pandangan-pandangan tertentu kurang ortodoks—pernah jawab satu pertanyaan (saya lupa pertanyaannya), dia bilang, “Nanti kalau ketemu Tuhan, jangan pikir saya akan mempersembahkan ‘Church Dogmatics’ yang ber-volume-volume ini“. Saudara tahu, buku Church Dogmatics itu tebal sekali lagipula font-nya kecil-kecil. Kalau diperbandingkan, misalnya Intitutes tulisan Calvin tebalnya dianggap 1, lalu Summa Theologiae tulisan Thomas Aquinas kira-kira 5x Institutes-nya Calvin, sementara Church Dogmatics-nya Karl Barth kira-kira 9x Intitutes-nya Calvin. Tapi Karl Barth bilang, “Saya menghadap Tuhan bukan bawa itu, tetapi saya bawa diri saya, telanjang, tidak bawa apa-apa; saya minta Tuhan mengampuni saya.” Itulah orang-orang yang mengerti cinta kasih Tuhan. Mereka tidak bicara pencapaiannya, mereka bicara anugerah Tuhan, mereka bicara kemuliaan Tuhan, mereka bicara cinta kasih Tuhan. Orang-orang yang seperti ini akan terus dikasihi Tuhan, diberkati Tuhan. Gereja yang seperti ini akan terus diberkati Tuhan. Mengapa? Karena dia memberi segala kemuliaan kepada Tuhan. Jadi, Gereja bukanlah Gereja yang mengasihi Tuhan, tapi Gereja yang dikasihi Tuhan. Waktu Saudara dan saya bisa taat, itu juga karena belas kasihan Tuhan. Waktu kita bisa melayani Tuhan, itu karena Tuhan memberikan kepada kita kesempatan supaya bisa melayani Dia.

Terakhir, mungkin ini poin yang sedikit di luar pembicaraan kita, karena tadi kita bicara tentang divine passive, bahwa Gereja yang dikasihi maksudnya Gereja yang dikasihi Tuhan. Tapi kalau kita baca dalam cerita Yesus Kristus, dan juga cerita Samuel, ada satu istilah menarik yang dipakai Lukas waktu bicara kehidupan Kristus dan juga waktu menggambarkan tentang Gereja mula-mula; yaitu dikatakan sebagai Gereja yang dikasihi Allah dan manusia.

Gereja yang dikasihi Tuhan, itu juga Gereja yang dikasihi manusia. Dalam hal ini, harap Saudara tidak bingung dengan bagian yang tadi kita bicarakan, bahwa Gereja yang diberkati Tuhan harusnya dibenci oleh dunia. Perhatikan di sini, dibenci oleh dunia, dikasihi oleh manusia. Memang betul dunia isinya manusia, tapi ada pengertian yang berbeda waktu dikatakan ‘dibenci oleh dunia’. Maksudnya, dunia dengan segala keinginannya, dunia dengan semua yang menjadi nafsunya, akan membenci orang-orang yang taat kepada Kristus. Tapi, waktu Alkitab mengatakan  jemaat mula-mula itu dikasihi Tuhan dan dikasihi oleh manusia, maksudnya Gereja, waktu hadir di masyarakat, maka masyarakat tidak bisa tidak merasakan berkat yang mengalir dari Gereja. Sekarang pertanyaan untuk Saudara dan saya: waktu Saudara hadir di masyarakat, betulkah kehidupan kita mengalirkan berkat seperti ini, sehingga manusia yang ada di sekitar kita (masyarakat) bisa mengatakan “ini Gereja yang saya juga mengasihi”?

Yesus itu semakin dikasih Allah, dan manusia –bukan cuma Allah. Ada gereja-gereja bilang “Yang penting kita dikasihi Tuhan, yang penting kita menyenangkan Tuhan; kita cuma boleh menyenangkan Tuhan, jangan menyenangkan manusia”  --kalimat itu betul. Tapi kalau kita hanya dikasihi Tuhan dan tidak dikasihi manusia, ada yang salah dengan Gereja itu, karena Yesus dikasihi Allah dan manusia. Dan hal ini penting sekali menurut Lukas, sampai-sampai istilah yang sama diangkat lagi, diterapkan untuk Gereja mula-mula. Gereja mula-mula itu seperti Kristus, yaitu semakin dikasih Allah dan dikasihi manusia. Istilah ini dalam Perjanjian Lama ada dalam kisah Samuel; Samuel itu dikasih Allah dan manusia. Dikasihi Allah itu satu hal; dan saya percaya, yang sungguh-sungguh dikasihi Allah, pasti akan dikasihi oleh manusia --tapi kadang-kadang kita bikin proyeksi Allah kita sendiri, kita pikir kita dikasihi Allah. Jadi, dari mana tahu kita benar-benar dikasihi Allah? Menurut Alkitab: dikasihi Allah, dan manusia; yaitu ketika di sekeliling Saudara, setuju tidak setuju, senang tidak senang, mereka berpikir ‘ini bukan orang egois yang hidupnya untuk diri sendiri, melainkan orang yang hidupnya mengalirkan berkat; di mana ada dia, di situ berkat mengalir’. Itulah dikasihi manusia.

Saya sedang menggumulkan, berharap suatu saat kita ada pelayanan diakonia seperti panti asuhan. Waktu Gereja hadir, bisa mengalirkan berkat untuk orang-orang yang sulit keluar dari pergumulan mereka. Saya beberapa waktu lalu ke Samarinda. Di sana ada satu pendeta yang digerakkan Tuhan untuk bawa orang-orang gila yang di jalan ke rumahnya. Ada yang sudah ngiler-ngiler tidak karuan, tidak bisa makan, musti dimandikan, dsb.; satu per satu dirawat oleh pendeta itu. Sekarang dia sudah meninggal, dan pelayanan itu dilanjutkan istrinya. Orang-orang gila di jalanan itu ditampung satu per satu, sampai sekarang ada 140 orang. Mereka tidak pakai terompet menyiarkan “kita melayani orang gila ya! kalian musti tahu!”; tidak ada yang tahu, dan mereka tidak tertarik untuk gembar–gembor.

Kita dipanggil untuk masuk ke dalam pelayanan yang seperti ini. Pelayanan yang tidak diketahui, yang mungkin dianggap proyek rugi, melayani orang-orang yang tidak ada potensi untuk balas kembali. Tapi cara pikir kita yang selalu dikuasai paham kapitalisme ini, jangan-jangan waktu pelayanan pun berpikirnya ‘kasih sesuatu yang dia bisa balas balik’. Tuhan bukan menyelamatkan kita dengan pikiran yang kayak begitu. Apakah Tuhan mati di atas kayu salib sambil pikir ‘ini orang Saya selamatkan, kayaknya bakal mencintai Aku’?? Mana dasar Alkitabnya? Itulah justru yang dipikirkan oleh Five Articles of Remonstrance, armenianisme yang didebat oleh Canons of Dort, yang mengajarkan bahwa Tuhan memilih karena Dia sudah tahu, sudah melihat dari kekekalan, orang tersebut akan percaya kepada Dia. Itu armenian par excellence, bukan reformed. Dalam Reformed kita tidak berpikir seperti itu. Tuhan kita tidak berpikir seperti itu. Saudara dan saya juga jangan berpikir seperti itu, karena Tuhan kita bukan kapitalisme. Tuhan kita tidak hitung-hitungan seperti itu, maka kita pun jangan hitung-hitungan.

Mengapa Alkitab seringkali bicara bahwa kita dipanggil untuk melayani orang miskin dsb.? Bukan berarti harus mendiskriminasi orang kaya, tapi ada satu hal yang indah dalam melayani orang miskin, yaitu orang miskin tidak pernah bisa membalas kita; waktu Saudara melayani, Saudara harus tulus. Bukan berarti melayani orang kaya tidak bisa tulus; kita musti minta kekuatan dari Tuhan supaya waktu melayani orang kaya bisa tetap tulus. Sedangkan melayani orang miskin tidak tulus, itu sulit. Waktu Saudara melayani oarang miskin dan berharap ‘suatu saat kalau lu kaya, jangan lupa gua ya’, lalu melayani orang timpang dan berharap ‘suatu saat kalau lu bisa jalan, jangan lupa gua ya, waktu gua tua tolong didorong pakai kursi roda’, itu keterlaluan; tidak mungkin kita berpikir seperti itu. Kita tahu, waktu melayani orang-orang seperti itu, pelayanan kita sudah mengalir begitu saja, hilang, tidak ada timbal baliknya. Dan itu sebabnya sangat indah pelayanan seperti ini, karena waktu Saudara memberi, Saudara tahu orang ini tidak bisa membalas. Mungkin juga dia bisa balas, kita tidak pernah tahu; tapi bagaimana pun kita tidak harap itu. Jangan juga cuma berpikir orang ‘miskin’ secara finansial –itu terlalu sempit—ada orang yang miskin secara perasaan. Ada orang yang Saudara layani secara emosi, dan dia tidak bisa balas secara emosi. Itu juga pelayanan yang hilang begitu saja –hilang yang indah.

Mari kita menjadi Gereja yang seperti itu. Gereja yang dikasihi Tuhan adalah Gereja yang seperti Tuhan; Tuhan melayani, dan Dia tidak hitung-hitungan. Saudara dan saya musti tahu sendiri; kita diberkati, lalu bagaimana kita membalas cinta kasih Tuhan; demikian juga Gereja harusnya menjadi Gereja yang seperti ini. Doakan supaya kita semakin bisa dipakai Tuhan untuk masuk ke dalam pelayanan yang ‘hilang’ tadi, palayanan yang tidak bisa balik lagi. Kiranya Tuhan memberkati kita semua.

Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah (MS)

Gereja Reformed Injili Indonesia Kelapa Gading

Download Ringkasan