Bagaimana Membaca Alkitab (4)

Kita sedang dalam satu seri pembahasan “Bagaimana Membaca Alkitab”; dan ini pertemuan ke-4. Seri ini akan memperlihatkan bahwa Alkitab bukan cuma satu kotak DVD yang berisi kepingan DVD-nya saja, tapi juga berisi kacamata 3D. Dengan kata lain, Alkitab bukan cuma mengundang kita untuk menerima isi tertentu, tapi juga menerima cara melihat yang tertentu. Terakhir kali, kita sudah melihat bagaimana Alkitab justru jadi masuk akal ketika kita memperlakukannya demikian.

Alkitab itu banyak bolong detail di dalamnya, banyak ambiguitas, banyak hal-hal yang tidak jelas. Tidak jelas mengapa Tuhan taruh pohon di taman, mengapa Tuhan tidak memandang persembahan Kain; dan dalam pembahasan tersebut, kita berpikir bagaimana jika itu memang hal yang disengaja, by design, dan kebingungan tersebut justru jalan menuju pengertian; bagaimana jika kita berhenti memaksakan Alkitab masuk ke dalam laci-laci kita yang sempit dan sebaliknya kitalah yang memaksa diri masuk ke dalam Alkitab. Ketika kita melakukan itu, kita menemukan  Alkitab mulai masuk akal. Ternyata bolong-bolong detail dan ambiguitas dalam Alkitab sengaja ditaruh untuk tujuan tertentu, bukan untuk membuat kita bingung saja, tapi untuk mebuat kita bergumul, merenung, melambat, mengunyah lebih pelan, mencerna lebih halus –dan dengan demikian justru lebih mengerti.

Kita juga melihat bahwa detail yang bolong itu bukan sembarangan detail. Justru satu cara yang sangat strategis, dengan kita tidak diberitahu mengapa Allah tidak memandang persembahan Kain, kita merasakan persis yang Kain rasakan, kita bersimpati dengan Kain --karena diapun tidak diberitahu alasannya. Ini trik tingkat tinggi, karena kecenderungan kita –sadar atau tidak sadar—selalu menempatkan diri pada tokoh yang paling oke. Siapa di antara kita yang mau main drama Paskah dengan memerankan penjahat yang tidak bertobat? Jarang yang mau. Itulah kita. Tetapi penulis di sini justru mau kita menempatkan diri dalam sepatunya Kain. Tujuan penulis bukan cuma kita memperoleh pengetahuan mengenai pergumulan Kain, tetapi membawa kita masuk ke dalam pergumulannya Kain. Dan tujuan itu tercapai justru di dalam dan melalui detail yang bolong. Kita jadi lebih mengerti karena banyak detail yang bolong, karena banyak pertanyaan, karena banyak ambiguitas.

Hal kedua dalam pembahasan yang lalu, bukan cuma kita dimasukkan ke dalam sepatunya Kain maka kita bisa menempatkan diri pada peran yang tepat, tapi juga karena kisah-kisah ini banyak ambiguitasnya, banyak bolong detailnya, sehingga secara natural kita berusaha mencari kemiripan, mencari link-link antara satu kisah dengan kisah berikutnya. Kisah berikutnya menerangi ambiguitas bagian tersebut, dan bagian ini kemudian lebih menerangi bagian yang lain lagi, sehingga akhirnya membuat Alkitab menafsir Alkitab. Inilah desainnya Alkitab. Dengan kebingungan, kita bukan jadi berspekulasi sendiri lalu spekulasi tersebut kita masukkan ke dalam Alkitab, melainkan ketika kita menerima itu sebagai desainnya Alkitab, kita membiarkan Alkitab untuk menafsir Alkitab. Dalam pembahasan yang lalu, kita sudah mulai melihat ini dalam hubungan antara Kejadian 4 dan Kejadian 3. Hari ini kita mau masuk lebih dalam pola ini, melihat lebih lanjut, dan di bagian akhir mencoba melihat bagaimana jadinya jika kita melihat kisah-kisah di pasal-pasal awal Kejadian sebagai satu kesatuan, satu hal yang saling menafsir satu dengan yang lain. Perlu diingat, kriteria kesuksesan dari belajar Alkitab, bukanlah kalau bagian tersebut nendang, mudeng, melainkan kadang-kadang goal-nya bahkan untuk bingung akan Alkitab; dan kebingungan itu justru jalan kepada pengertian.

Bukan cuma dalam kisah Kain kita diminta merasakan perasaannya Kain; dalam kisah sebelumnya juga ada hal yang mirip. Akar konflik dalam kisah Adam-Hawa-ular-pohon, adalah karena kita tidak pernah diberitahu alasannya pohon tersebut harus ada –Adam dan Hawa juga tidak tahu. Bukan cuma Tuhan menaruh pohon itu, tapi Dia menaruhnya di tengah taman! Coba bayangkan, seandainya Saudara berjalan dari satu sisi taman ke sisi yang lain, mau tidak mau Saudara harus melewati pohon tersebut. Di mana pun Saudara berdiri di taman, tidak mungkin Saudara tidak lihat pohon itu. Pohon itu di tengah! Mengapa Tuhan harus melakukan ini?? Kita bertanya-tanya. Dan, serta-merta kita menutup mulut dengan tangan, kita menyadari perangkap si penulis. Di sini, bukan cuma kita diminta merasakan perasaannya Kain, tapi pengertian yang kita dapatkan dari Kejadian 4 itu mempengaruhi cara kita melihat Kejadian 3. Dengan desain yang seperti ini, kita juga diminta masuk ke dalam perasaannya Adam dan Hawa. Itu persis godaan ular kepada Adam dan Hawa; apakah mereka mau tetap percaya pada kebijaksanaan Tuhan, apakah mereka mau menyerahkan kepada Tuhan hak untuk menentukan yang baik dan yang jahat, atau mereka mau mengambil sendiri hak tersebut.

Mereka mau percaya bahwa Tuhan punya bijaksana sendiri di balik keputusan-Nya, atau mereka mau memaksakan perspektifnya yang sempit dan terbatas itu. Itulah artinya mengetahui yang baik dan jahat. Istilah “mengetahui yang baik dan jahat” ini ada nuansa otoritas-nya. Ini bukan ‘mengetahui’ seperti Saudara tahu ada film atau buku tertentu, tapi ini seperti kalau orang mengatakan “kamu tahu urusan musik, maka kamu yang berhak menentukan keputusan-keputusan yang mengenai urusan musik“. Seperti itulah artinya mengetahui yang baik dan jahat. Mengambil dari pohon pengetahuan yang baik dan jahat, berarti mau merebut hak yang bukan cuma untuk mengetahui, tapi juga untuk menentukan/mendefinisikan apa yang baik dan apa yang jahat. Itu godaannya. Dan itulah kita, ketika kita berespons, “Mengapa Tuhan? Ayo, jelaskan! Mengapa harus ada pohon itu, dan mengapa taruhnya di tengah?” –lalu kita sadar, itulah manusia yang jatuh dalam dosa. Pertanyaan kita tadi langsung membongkar arah hati kita yang terdalam, yang senantiasa mempertanyakan Tuhan, yang tidak mau menyerahkan kepada Tuhan penilaian akan yang baik dan yang jahat, yang senantiasa menuntut “Tuhan, jelaskan alasan-Mu” lalu aku yang tentukan apakah ini baik atau jahat.

Saudara, mungkin inilah jawabannya mengapa pohon tersebut ada di tengah-tengah Taman Eden. Kita selalu ingin menyalahkan Tuhan, kenapa Tuhan taruh pohon itu di tengah-tengah Taman Eden, kenapa Tuhan tidak taruh di pinggiran, kenapa Tuhan tidak gembok saja –itulah yang selalu kita katakan. Tapi lihat, tujuannya justru untuk memerangkap diri kita di tengah-tengah taman tersebut, di kursinya Adam dan Hawa, supaya kita menyadari hati kita memang demikian. Hati kita selalu ada kecenderungan untuk menentukan sendiri, mendefinisikan sendiri bagi kita apa itu baik dan apa itu jahat. Itu selalu ada di tengah-tengah, tidak pernah di pinggir, tidak pernah digembok di ujung sana; tidak usah jalan terlalu jauh sudah lihat; tidak usah jalan terlalu lebar, sudah melewati –itulah hati manusia. Penggambaran ini membuat kita lebih mengerti siapa diri kita; dan itu semua bisa terjadi karena ada detail yang bolong, karena kita tidak diberitahu jawabannya, karena kita dibikin bingung, bergumul.

Kita melihat lebih jelas Kejadian 3 karena kita sudah belajar dari Kejadian 4. Sekarang kita membaca kembali Kejadian 4 dengan pengertian yang sudah kita dapat dari Kejadian 3. Kejadian 4 ini pertama bicara mengenai Kain dan Habel, lalu keturunan Kain, dan ditutup dengan puisinya Lamekh yang meniru-niru Kain membunuh orang, hanya saja lebih berlipat ganda. Dan ada struktur yang menarik, yaitu adanya kemiripan antara kalimat pembuka, kalimat tengah, dan kalimat terakhir. Kalimat pembukanya dikatakan Adam bersetubuh dengan Hawa, istrinya, melahirkan Kain; lalu di ayat 17 Kain bersetubuh dengan istrinya, melahirkan keturunannya; dan ditutup dengan Adam bersetubuh dengan istrinya, Hawa, melahirkan Set. Jadi ada 3 kalimat yang mirip. Hal yang signifikan, setiap kali setelah kalimat Adam bersetubuh dengan Hawa, dan Hawa melahirkan anak, selalu dikatakan Hawa berbicara -- di awal dan di akhir pasal. Ini satu motif yang cukup umum dalam Alkitab bahasa Ibrani, seperti juga setiap kali Lea melahirkan anak-anaknya, dia mengucapkan kalimat tertentu. Dalam kasus Hawa berbicara, kita melihat 2 penamaan, dan kita akan lihat betapa kontrasnya.

Pertama, ketika Hawa melahirkan Kain, dia menamai anak itu sebagai qa-yin, lalu mengatakan "aku telah mendapat seorang anak laki-laki dengan pertolongan TUHAN." Waktu Hawa mengatakan ‘mendapat seorang anak laki-laki’, di situ pakai kata qanah ish. Hawa menamai anak itu qa-yin, lalu mengatakan “aku telah qanah ish”; kata qanah ish ini mirip sekali dengan qa-yin. Ini permainan kata dalam bahasa Ibraninya. Qanah ish dalam Alkitab kita diterjemahkan sebagai ‘mendapat’, tapi sebenarnya bahasa Ibraninya cukup ambigu karena dalam kasus lain qanah juga bisa diterjemahkan mencipta. Dalam Amsal 8:22, dikatakan “Tuhan telah menciptakan”, dan kata ‘menciptakan’ pakai kata qanah. Ketika Daud dalam Mazmur 129 mengatakan “Engkau membentuk aku dalam rahim ibuku”, di situ kata ‘membentuk’ juga memakai qanah. Dengan demikian, kalimat Hawa ini bisa diterjemahkan sebagai kalimat yang agak negatif; Hawa mendeklarasikan ‘aku telah menciptakan (qanah) seorang anak laki-laki (ish)’ –bukan mendapat. Mungkin kita anggap tidak negatif karena di kalimat berikutnya ada perkataan bahwa dia menciptakannya ‘dengan pertolongan Tuhan’; tapi ini sebenarnya terjemahan tafsiran, tidak ada istilah ‘pertolongan’ dalam bahasa aslinya. Kalimat aslinya adalah “aku qanah ish eth Adonai” (“aku menciptakan anak laki-laki dengan Tuhan”).

Selanjutnya, kata ‘dengan’ dalam bahasa Ibrani digunakan secara berbeda dari kita menggunakannya, yaitu  digunakan secara komparatif. Misalnya perintah pertama Hukum Taurat “Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku”, bahasa aslinya adalah “Jangan ada allah lain dengan-Ku”, karena dalam bahasa Ibrani pemakaian kata ‘dengan’ dimaksudkan dalam perbandingan, bahwa tidak boleh ada allah lain yang bisa diperbandingkan dengan-Ku. Dalam Kejadian 39, waktu Potifar menyerahkan semua urusan rumahnya kepada Yusuf, dikatakan ‘sehingga Potifar tidak tahu urusan rumahnya dengan Yusuf’, maksudnya: Potifar, saking menyerahkan semua urusan rumahnya kepada Yusuf, sampai dia tidak tahu apa-apa lagi mengenai urusan rumahnya dibanding dengan Yusuf. Dengan demikian, perkataan Hawa tadi kalau diterjemahkan langsung dari bahasa aslinya menjadi: ‘aku telah menciptakan manusia dengan Allah”, dan itu bisa dibaca seperti ini: Allah menciptakan manusia, sekarang aku juga menciptakan manusia seperti Allah, sebanding dengan Allah. Hawa menyombongkan kemampuannya melahirkan anak, menyombongkan kapasitas regeneratif manusia; dan itu tentunya suatu kuasa yang besar, yang dalam pikirannya menyerupai Allah, seperti Allah, sebanding dengan Allah –sebagai pencipta manusia.
Hal ini terus-menerus dibongkar dalam pasal-pasal ini. Kapasitas Hawa untuk menciptakan manusia adalah pemberian dari Tuhan, tapi lihat, manusia kecenderungan hatinya selalu menentukan bagi dirinya sendiri apa yang dia anggap benar. Yang seharusnya dilihat sebagai pemberian dari Tuhan, manusia mengambil alih, saya mau lihat dengan kacamata saya sendiri, perspektif saya sendiri, ini –seakan-akan—bersumber dari saya. Saudara menemukan cerita ini terus-menerus, cerita manusia yang secara bodoh mengambil hal yang seharusnya merupakan pemberian/anugerah, lalu mendefinisi ulang semua itu sebagai miliknya, bersumber dari dirinya, kekuatannya sendiri; dan ini menghasilkan kelakuan-kelakuan bodohnya sendiri, yang hanya berakhir ketika Allah turun tangan membalikkan semua. Sekarang Saudara bisa memakai bagian ini untuk membaca dan mengaitkan dengan bagian berikutnya, bagian yang lain lagi.

Pola tersebut muncul lagi dalam cerita Abraham dan Sara. Dalam kejadian 16, mereka tidak sabar menunggu anak yang Tuhan janjikan, maka mereka melecehkan Hagar demi mendapatkan keturunan. Baik kisah Adam dan Hawa, juga waktu Hawa melahirkan, waktu Kain berhadapan dengan Habel yang diterima persembahannya, semuanya bicara satu isu bahwa manusia menolak untuk menerima apa yang Tuhan anggap sebagai baik dan jahat, yang Tuhan rencanakan, yang Tuhan mau kerjakan, lalu memaksakan perspektifnya sendiri yang sempit, mendefinisi ulang segala sesuatu, mendefinisi ulang yang baik dan yang hajat. Inilah yang juga terjadi pada Abraham dan Sara. Mereka main hakim sendiri, mengambil alih kemudi dengan menggunakan kemampuan regeneratif –sama seperti Hawa. Ini link-nya. Mereka menggunakan kemamupan yang dari Allah seenak jidatnya seakan-akan kemampuan mereka sendiri, yaitu untuk menciptakan anak perjanjian versi mereka, menurut redefinisi mereka, yang dalam prosesnya memanfaatkan Hagar dan pada akhirnya melahirkan anak yang malah dibenci oleh Sarah dan harus diusir oleh Abraham. Cerita yang sama lagi.

Ada pilihan untuk manusia menerima rencana Tuhan atau mendefinisikan sendiri yang baik dan yang jahat bagi dirinya, yang selalu akhirnya membawa hasil/dampak sangat berlawanan dengan yang mereka inginkan. Hawa mengira dirinya telah sebanding dengan Allah lewat kemampuannya mendatangkan kehidupan, padahal kemampuan itu pemberian dari Allah. Hawa menyombongkan kemampuannya mendatangkan kehidupan, tapi hidup yang dia datangkan itu, yang dia banggakan itu, malah berakhir dengan mendatangkan kematian bagi anaknya yang satu lagi. Yang saya mau perlihatkan di sini adalah bagaimana Alkitab semuanya nyambung. Alkitab itu dirajut sedemikian rupa sehingga ketika Saudara bingung, ambigu, ada detail yang bolong dalam satu bagian, akan membuat Saudara mencari ke bagian yang lain yang mirip, yang berkaitan. Dan ketika Saudara melihatnya, “O, ternyata maksudnya ini”, pengertian Saudara bertambah. Lalu ketika Saudara pakai itu untuk kembali ke depan, tambah lagi pengertiannya, sehingga lapisannya makin lama makin dalam dan makin dalam. Sekarang, pengertian yang sudah kita dapat ini kita lempar ke Perjanjian Baru, dan bukankah resonans dengan kalimat Paulus “apa yang engkau punya, yang engkau tidak terima? Dan kalau engkau menerimanya, mengapa engkau menyombongkan diri seakan-akan itu hasil tanganmu sendiri?” Saudara lihat link yang satu membawa kepada link lainnya, lalu membawa kepada link berikutnya, dst. Dan setiap kali Saudara menemukan link yang satu, yang tadinya Saudara pikir sudah mengerti, sekarang jadi tambah dalam dan tambah dalam.
Ada satu lagi detail dalam cerita Adam dan Hawa yang mengkonfirmasi pembacaan kita tadi, ketika kita melihat bukan cuma perkataan Hawa di awal pasal 4 waktu melahirkan Kain, tapi membandingkannya dengan perkataannya di akhir pasal tersebut, waktu melahirkan Set. Di situ Hawa berbicara kembali; kalimatnya: “Allah telah ‘set’ kepadaku”; set artinya berkarunia. Jadi yang pertama dia menamai Kain, dan mengatakan “aku telah qa-yin dengan Allah”; lalu yang berikutnya dia menamai Set, dan mengatakan “Allah telah set kepadaku” (Allah telah mengaruniakan anak kepadaku). Ada perubahan yang jelas sekali, Hawa sekarang menempatkan dirinya dalam posisi penerima; bukan lagi ‘aku yang telah menciptakan seorang anak’, melainkan ‘Allah yang telah mengaruniakan kepadaku seorang anak’. Ada transformasi yang sangat indah, pengoreksian arah hati. Sayangnya, ini datang setelah tragedi, yang sepertinya tidak terlalu berhubungan karena memang Kain yang jahat dan membunuh, tapi itu semua terjadi dalam konteks Hawa yang membanggakan dirinya, membanggakan Kain sebagai bukti dirinya sama dengan Allah bisa mendatangkan kehidupan --dan malah mendatangkan kematian. Setelah itu semua, baru dia bertobat, menempatkan diri pada posisi yang benar.

Di sini kita melihat, satu bagian yang sepertinya tidak berhubungan dengan bagian yang lain, tapi waktu ada banyak detail yang bolong dan kita tidak mengerti mengapa dia mengatakan seperti ini (ambigu), kita melihat ke belakang dan ke depan lagi, lalu sampai pada Abraham dan Sara yang memberikan kacamata untuk melihat kembali bagian ini. Akhirnya Saudara mendapat pengertian yang lebih dalam dan lebih dalam lagi –yaitu karena ambiguitas, bolong detail.

Dalam pembahasan yang lalu, kita melihat permasalahan persembahan Kain tidak dipandang Tuhan sementara persembahan Habel dipandang. Ini bolong detail yang besar sekali. Dalam Alkitab, ceritanya begitu banyak bolong-bolong detail dan ambiguitas-ambiguitas, yang baru teruntai ketika kita terus baca ke belakang, dan menemukan cerita-cerita berikutnya mengulang kembali simbol-simbol atau pola-pola yang mirip dengan cerita-cerita sebelumnya. Dan lewat inilah kita mendapat pengertian yang makin lama makin dalam. Sekarang kita coba melihat kejadian Kain dan Habel tersebut lewat kacamata cerita berikutnya, yaitu cerita Nuh dan Abraham. Habel adalah orang pertama yang memberikan korban binatang. Kita memang sudah tahu bahwa pola korban seperti ini akan menjadi besar lagi belakangan, tetapi dalam kitab Kejadian pun pola ini muncul beberapa kali lagi. Persembahan korban binatang itu dilakukan juga oleh tokoh-tokoh dalam Kitab Kejadian dalam masa-masa yang krusial (turning point).
Pertama, dalam tokoh Nuh. Ketika Nuh keluar dari bahtera, dia mendirikan mezbah dan membawa sebagian binatang sebagai korban bakaran bagi Tuhan. Dia membawa sebagian burung-burung dan binatang korban tersebut yang tahir/halal/bersih kepada Tuhan, lalu Tuhan mencium bau-bauan korban itu dan berjanji tidak akan ada lagi bencana. Jadi ada altar/mezbah, korban bakaran, binatang, dan binatangnya bukan semua melainkan dipilih yang baik/murni –seperti Habel melakukannya—lalu turning point.

Berikutnya, dalam tokoh Abraham. Seluruh cerita Abraham pada dasarnya ada 10 episode, dan masing-masing episode selalu diperhadapkan dengan pilihan tadi, apakah Abraham memilih percaya kepada Tuhan atau dia mau me-redefinisi bagi dirinya sendiri apa yang baik dan yang jahat. Ada beberapa yang Abraham lulus, ada beberapa dia gagal. Di episode pertama dan terakhir, Abraham mendirikan mezbah dan mempersembahkan korban bakaran binatang. Yang pertama, waktu dia masuk Kanaan; pilihannya apakah dia mau tinggal bersama keluarganya atau taat kepada Tuhan pergi ke tempat yang tidak diketahuinya. Dia mendirikan altar di bawah pohon-pohon terbantin di Mamre, dan mempersembahkan korban bakaran. Yang kedua, yaitu akhir dari seluruh episode tersebut, ketika Abraham mempersembahkan Ishak bagi Tuhan, hanya tidak jadi; ada domba yang tersangkut, dan binatang tersebut dijadikan korban bakaran. Saudara lihat hal yang disengaja di sini; kita tidak tahu di mana itu Mamre, lalu di bagian akhir Ishak dipersembahkan di Gunung Moria, dan dalam bahasa Ibrani, Mamre dan Moria cuma beda 1 huruf. Di sini artinya menjadi jelas bukan karena cari di kamus, tapi ketika kita membiarkan Alkitab menafsir Alkitab.

Jadi, cerita Habel, Nuh, Abraham memiliki pola yang mirip. Sekarang kita coba kembali memasukkan pengertian yang didapat tadi ke dalam cerita Kain dan Habel. Kalimat Tuhan kepada Kain ketika dia diperhadapkan pada pilihan untuk percaya kepada Tuhan atau meredefinisi sendiri baginya apa yang baik dan jahat, adalah: “Kalau engkau berbuat baik, engkau akan berseri, tapi jika tidak, dosa sudah mengintip di balik pintu”. Pintu apa maksudnya? Kita tidak tahu, ini detail yang bolong. Mungkin pintu secara metafor, maksudnya pintu hati Kain; tapi bisa juga lebih dari itu. Kita tahu, setelah Adam dan Hawa diusir dari Taman Eden, dikatakan mereka pindah ke sebelah timur Eden–persis di batas Taman Eden—dan ada 2 kerubim menjaga jalan menuju taman itu --dengan kata lain, pintu ke taman tersebut dijaga 2 kerubim. Jadi, mungkin ada indikasi –ini spekulatif—bahwa Kain dan Habel mempersembahkan korban di dekat pintu Taman Eden sebagai satu permohonan supaya diberikan jalan masuk kembali ke Eden; dan Tuhan memperingatkan Kain “dosa sudah siap menerkam di balik pintu”. Siapa itu dosa, yang digambarkan mengintip dan siap menerkam seperti binatang? Dalam cerita sebelumnya (Kejadian 3), penggoda Adam dan Hawa adalah ular yang ada di dalam taman, sedangkan kisah Kain dan Habel ada di luar taman; jadi mungkin yang dimaksud Tuhan dengan ‘dosa mengintip di balik pintu’ adalah bahwa dosa itu mau mengikuti keluar dari Eden, masuk ke seluruh dunia. Tafsiran ini kedengarannya spekulatif banget –Saudara kalau tidak terima ini tidak apa-apa, ini bukan Firman—tapi lihat bagaimana Alkitab memberikan pola-polanya dengan melihat bagian-bagian berikutnya, kaitan antara cerita Kain dan Habel dengan cerita Nuh, Abraham, dan cerita-cerita yang lain lagi.

Nuh mendirikan setelah dia keluar dari pintu bahtera. Abraham mendirikan altar di pintu daerah Kanaan, ketika dia masuk ke Kanaan. Yakub mendirikan mezbah di Betel karena dia melihat tempat itu sebagai pintu tangga ke surga. Dan lebih menakjubkan lagi, dalam lay out Bait Allah atau Kemah Suci, mezbah bukan berada di Ruang Mahasuci melainkan di pelatarannya, yaitu di pintu untuk memasuki Ruang Suci dan Ruang Mahasuci. Lebih dari itu, ketika masuk ke dalam Tabernakel-nya setelah melewati mezbah, ada kerubim yang menjaga Tabut Perjanjian, dan juga kaki dian (menorah) yang bentuknya seperti pohon kehidupan di Taman Eden, yang dijaga kerubim sehingga Adam dan Hawa tidak bisa masuk mendapatkannya. Sekarang Saudara mengerti lebih dalam, bahwa seluruh ritual Tabernakel itu adalah satu penggambaran ulang seluruh sistem korban, perwakilan dari Kemah Suci yang sejati yaitu Taman Eden, tempat Allah bertemu dengan manusia. Imam yang memasuki Tabernakel setahun sekali adalah simbol manusia yang kembali masuk ke Taman Eden, satu situasi dia dapat bertemu dengan Allah. Imam Besar adalah tipe dari Adam; Kristus adalah Imam Besar, maka disebut Adam yang Kedua, inilah Adam yang membawa kita kembali masuk ke taman tersebut, melewati kerubim, menemui pohon kehidupan.

Apa reaksi Saudara melihat semua ini? Saudara akan mengetahui satu hal, bahwa Alkitab itu, desainnya  memang untuk dibaca pelan-pelan, dicerna pelan-pelan. Alkitab itu, tujuan utamanya tidak pernah sesuatu yang terlalu praktis. Alkitab bukan satu text book yang Saudara bisa download ke dalam data base otak Saudara, dalam  bentuk prinsip dan pengetahuan, dsb., lalu Saudara tidak perlu kembali lagi ke dalam Alkitab --karena toh sudah di-download. Alkitab bukan seperti itu. Alkitab adalah satu karya seni, karya sastra, yang luar biasa tinggi, yang Saudara akan kembali dan kembali lagi ke dalamnya; dan setiap kali kembali, Saudara akan melihat detail yang sebelumnya tidak lihat, dan detail yang ini membuat lebih mengerti detail yang itu, lalu mempengaruhi kembali detail yang ini sehingga jadi lebih terang, dst. Ini adalah satu karya seni yang mempengaruhi Saudara begitu dalam, yang membentuk bukan cuma apa yang Saudara lihat, tapi membentuk bagaimana cara Saudara melihat. Ketika tema redefinisi tadi muncul terus dalam cerita Adam dan Hawa, Kain dan Habel, Menara Babel, Nuh, Abraham, dsb., itu bukan cuma mempengaruhi isi kepala Saudara tapi juga cara Saudara melihat. Saudara sekarang melihat O, itu pohon di tengah-tengah Taman Eden, kenapa pohon itu ada di tengah Taman Eden, koq tokoh-tokoh itu selalu dan selalu tergoda, kemudian Saudara mengerti, O, mungkin, itu sebabnya pohon di tengah, dst. Jadi ini semua mempengaruhi bagaimana Saudara melihat diri, melihat dunia.

Kita membicarakan semua ini untuk membuat kita masuk lebih dalam sedikit kenapa Tuhan memandang persembahan Habel dan tidak memandang persembahan Kain. Memang tidak mutlak Saudara mendapatkan jawaban yang jelas sekali, tapi sekarang Saudara mulai lebih jelas, ‘O, sepertinya karena itu’. Dan bagaimana caranya jawaban itu diberikan? Tidak pernah sekedar dengan memberikan Saudara data-data, melainkan dengan membawa Saudara masuk ke dalam cerita itu. Bukan cuma dengan memberikan keluar dari Alkitab data-data, pengetahuan, pemikiran-pemikiran, untuk Saudara ambil bagi hidup Saudara –bukan itu yang terutama-- melainkan lewat desainnya Saudara diajak masuk ke dalam Alkitab, diajak masuk lebih dalam lagi ke ceritanya, sehingga Alkitab menjadi sesuatu yang hidup bagi Saudara. Tujuan Alkitab tidak pernah sekedar memberikan informasi, kiat-kiat, atau rumusan-rumusan praktis --dan mungkin memang bukan itu yang kita perlukan kalau kita melihat caranya Alkitab ditulis.
Misteri mengapa Allah memandang persembahan Habel dan tidak memandang persembahan Kain, ujungnya terjawab di Perjanjian Baru, yaitu Ibrani 11, yang sering disebut “Hall of Faith” (ruang yang isinya pahlawan-pahlawan iman). Ini adalah tempat penulis Surat Ibrani memperlihatkan tokoh-tokoh Alkitab dan menyorot pada momen-momen iman mereka masing-masing. Orang pertama yang muncul dalam daftar tersebut adalah Habel.

“Karena iman Habel telah mempersembahkan kepada Allah korban yang lebih baik dari pada korban Kain. Dengan jalan itu ia memperoleh kesaksian kepadanya, bahwa ia benar, karena Allah berkenan akan persembahannya itu dan karena iman ia masih berbicara, sesudah ia mati” (Ibrani 11:4). Dalam ayat tersebut, kalimat yang paling menarik dan paling membingungkan adalah kalimat yang ke-2: ‘dengan jalan itu ia memperoleh kesaksian kepadanya’ –maksudnya ‘ia memperoleh commendation dari Allah-- bahwa ia benar (righteous)’. Maksudnya, karena iman, maka kepada Habel telah diperhitungkan/dinyatakan bahwa ia righteous. Saudara tentu pernah mendengar pola ini dari Paulus, dia berkali-kali mengatakan kalimat seperti ini, bukan dari kisah Habel melainkan dalam cerita Abraham. Di sini saya ingin perlihatkan kepada Saudara satu hal, bahwa mungkin cara penulis Ibrani menjawab misteri Habel adalah dengan cara yang kita bicarakan tadi, yaitu dengan membacakan cerita Abraham kepada cerita Habel, membiarkan Alkitab menafsir Alkitab. Tokoh mana dalam Alkitab yang imannya diperhitungkan sebagai kebenaran? Kejadian 15:6, ‘Lalu percayalah Abraham kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran’.

Setelah kalimat dalam ayat 6 tadi, Abraham sebenarnya langsung melanggar iman itu, dia berusaha memperoleh keturunan dengan caranya sendiri, dia meredefinisi apa yang dia anggap baik lalu mengulangi kisah Hawa. Akhirnya setelah Tuhan memberikan Ishak lewat Sara, Tuhan meminta Ishak kembali, lalu Abraham mau mengorbankan Ishak bagi Tuhan; tapi dalam belas kasihan Tuhan, Dia mengembalikan anak itu kepada Abraham. Inilah kisah iman Abraham. Setelah itu, Allah kembali mendeklarasikan iman Abraham, “Sekarang Aku tahu, engkau mengasihi-Ku”. Penulis Ibrani melihat ini, lalu dia membaca kisah Habel dengan kacamata kisah Abraham. Abraham, oleh karena imannya, diperhitungkan sebagai kebenaran; dan iman itu dinyatakan secara puncak ketika Abraham berani mempersembahkan yang terbaik dari miliknya, anaknya sendiri, anak yang ia kasihi, anak yang sulung dari Sara, kepada Tuhan. Itu sebabnya waktu Habel mempersembahkan korban kepada Allah yang lebih baik daripada korban Kain, itulah iman Habel. Itulah yang diperhitungkan kepada Habel sebagai kebenarannya, karena ia membawa korban bakaran binatang, lemak-lemaknya, bagian yang terbaik, yang paling bagus dari yang dia miliki, hasil kerja dia beternak, anak kambing domba yang sulung, kepada Tuhan. Jadi, Saudara lihat sekarang alasannya penulis Ibrani bisa sampai pada kesimpulan ini.

Kita seringkali berpikir yang signifikan dalam bagian ini yaitu bahwa penulis Ibrani bisa menjawab misteri Kain dan Habel; tapi yang saya ingin perlihatkan di sini bukan jawabannya melainkan bagaimana penulis Ibrani menjawabnya. Mungkin kita pikir, tentu saja dia penulis Alkitab maka dia punya wahyu spesial dari Tuhan, diinspirasi oleh Roh Kudus sehingga bisa mengakses sesuatu yang kita tidak bisa akses, punya pengetahuan supranatural sehingga bisa melihat isi hatinya Habel, dsb. Tapi tidak demikian. Yang membuat penulis Ibrani bisa menjawab hal ini adalah karena dia menggunakan Alkitab dengan benar. Dia membaca Alkitab, dia merenungkan Alkitab siang dan malam. Dia tidak memperlakukan Alkitab sebagai sesuatu yang cepat, dia tidak memperlakukan Alkitab sebagai text book melainkan sebagai suatu karya seni yang perlu dikunyah, dikunyah, dan dikunyah. Jawaban ini lahir dari entah berapa lama kebingungan dan kefrustasian atas Alkitab yang bolong detail. Dia mungkin membangun karyanya dari bahu-bahu raksasa-raksasa iman yang datang sebelumnya, yang entah berapa ribu tahun, sampai akhirnya bisa kelihatan link antara kisah-kisah tersebut. Satu hal yang membuat saya kagum, ternyata sang penulis Ibrani –penulis Alkitab—adalah pembaca Alkitab, perenung Alkitab, seperti Saudara dan saya. Dia melihat bahwa tindakan iman yang menyatukan Habel, Nuh, dan Abraham, yaitu bahwa mereka semua rela menyerahkan yang terbaik dari miliknya bagi Tuhan.

Sekarang kita ingin melihat semua yang tadi sudah kita bahas, dan mencoba melihatnya sebagai satu cerita besar. Kalau kita mau menceritakan ulang kisah-kisah di awal Kitab Kejadian, ini adalah gambaran suatu pesta. Ini bukan gambaran yang mengada-ada karena Tuhan Yesus sendiri menggambarkan Kerajaan Allah sebagai suatu pesta, dengan Tuan Rumah yang amat sangat murah hati, yang memberikan segala sesuatu cukup bagi orang-orang yang datang ke pesta itu. Dalam kondisi seperti ini, seharusnya kita tidak akan kuatir. Tuhan Yesus berkali-kali mengatakan “Jangan kuatir, jangan kuatir; Bapa di surga murah hati, Dia memberikan segala kelimpahan. Kalau tidak percaya, lihat burung gagak, lihat bunga bakung di padang”. Inilah gambaran pesta.

Lalu, dalam gambaran seperti ini, Saudara melihat ada orang-orang di pesta itu yang ketakutan kekurangan. Mereka mengambil nampan-nampan berisi segala makanan lalu membuat kubu supaya orang-orang lain tidak masuk, mereka menimbun makanan di situ, mereka bertindak seakan-akan pesta tersebut tidak cukup. Mereka kuatir tidak cukup, maka mereka menolak membagi kepada orang lain. Mereka tidak bisa menikmati. Orang-orang lain jadi bertanya-tanya, ‘mengapa begini?? kenapa begitu cemas, begitu tidak bisa melihat ke depan? bukankah kalau nampan gurame goreng itu habis, nanti ada pelayan yang datang mengisi lagi??’ Tapi orang-orang tadi selalu merasa kurang, tidak cukup, ‘ini harus jadi milik saya!’

Sang Tuan Rumah melihat orang-orang ini mendefinisi ulang menurut pengertian mereka yang terbatas, yang salah dan sempit, akan pesta itu. Lalu Sang Tuan Rumah menyusun rencana untuk membuat mereka sadar, bisa mengakses kembali kesukacitaan pesta, dan bisa menerima kembali berkat yang begitu banyak. Dia memilih satu orang dari mereka –Habel—lalu memberikan satu pemberian untuk menyatakan “Aku ini murah hati”.  Melihat kejadian ini, mereka salah tangkap lagi; mereka melihat ‘koq cuma dia yang dikasih? koq aku tidak? ada apa di balik ini semua?’ –mendefinisi ulang bagi diri mereka sendiri apa yang benar, yang riil, dan yang tidak. Yang terjadi selanjutnya, orang-orang ini –Kain-- merasa dibenci. Itu karena mereka memaksakan perspektifnya sendiri yang sempit. Tuan Rumah itu mau memakai satu orang tadi sebagai satu jalan untuk membuat mereka menyadari bahwa ini pesta. Dia mengajak orang ini masuk, berbicara dengannya secara pribadi, “Rencanaku seperti ini, kamu akan jadi jurubicaraku bagi mereka, supaya lewat kamu berkat itu dicurahkan bagi mereka. Aku memilih kamu, satu orang ini, maksudnya justru supaya lewat engkau, semua yang lain boleh mendapatkan berkat” –ini Abraham. Memang Allah memberkati Abraham, tapi berkat yang paling final adalah supaya Abraham jadi saluran berkat bagi orang lain. Berikutnya yang terjadi adalah orang-orang menolak dia, tidak mau berurusan dengan dia, mereka membangun tempatnya masing-masing. Sebelumnya, kubu-kubu itu menjadi satu dan mereka mendirikan pesta saingan, yaitu Menara Babel. Itu adalah pesta yang mereka tidak mau ikut aturan Allah, mereka menentukan bagi dirinya sendiri apa yang dianggap benar. Tuhan mengatakan, “Pergilah ke seluruh dunia, berkembangbiaklah, bertambah banyaklah, karena dunia ini cukup untuk kalian semua”, tapi mereka mengatakan, “Tidak, kami harus menimbun, kami harus bersatu, tidak boleh terserak, kami harus mengumpulkan kekuatan, menjaga kepentingan kami sendiri” –dan yang terjadi adalah kekacauan.

Begitu Kain membunuh Habel lalu mendirikan kota –pestanya sendiri—maka yang terjadi pesta itu tidak bertahan lama karena Lamekh masuk, dan Lamekh ikut-ikutan membunuh.  Dia mengatakan, “Kain ‘kan membunuh, jadi ini pesta bunuh-bunuhan, saya mengikuti Kain, saya juga membunuh.” Dan seandainya Menara Babel tidak dihentikan, cepat atau lambat akan jadi pesta darah, itu sebabnya Tuhan menyerakkan. Lalu Tuhan memilih satu orang, Abraham, untuk menjadi saluran berkat-Nya bagi semua yang lain. Dan dari sinilah kita baru menyadari artinya cerita Habel. Cerita Abraham adalah tentang pilihan; dan yang namanya pilihan atau berkat khusus bagi satu orang bukanlah karena Allah pilih kasih. Pola pemilihan Allah adalah lewat memilih satu orang, orang itu adalah jurubicara-Nya untuk menyalurkan berkat itu bagi semua peserta pesta yang lain. Bagaimana jika sekarang kita melihat cerita Habel dengan perspektif cerita Abraham ini? Kita tidak tahu kenapa Habel diterima/dipilih. Kain juga tidak tahu. Kain merasa ‘dia dipilih berarti aku dibuang, dia diberi berkat berarti aku dikutuk’, padahal pola pemilihan Tuhan adalah: ‘Aku memilih satu, untuk semua; Aku memilih satu, supaya lewat yang satu ini, semua yang lain mendapatkan berkat’. Ini plot twist-nya. Seandainya Kain mengerti hal ini, Kain baru tahu yang aku bunuh bukan orang yang merugikan aku, yang saya bunuh adalah orang yang dipilih Tuhan untuk menguntungkan saya.

Tuhan memandang persembahan Habel, bukan berarti Dia tidak akan memberi berkat kepada Kain; tapi mengapa Saudara dan saya selalu pikir begitu? Inilah kita, yang selalu mau meredefinisi bagi diri kita apa yang baik dan benar. Kita bahkan mungkin berespons “Ya, itu salahnya Tuhan! Sudah tahu mereka semua parno begitu, makanya jangan pilih satu orang dong! lagipula diajak ngomong sendirian, masuk ke ruang privat!” –kalau seperti itu, berarti Saudara masuk perangkap. Itulah kita yang mau melihat segala sesuatu bukan dengan menyerahkan pada perspektifnya Tuhan, tapi memakai perspektif kita sendiri, “ini pasti begini!” –dan lihatlah dampaknya. Inilah kita, yang tidak mau percaya kepada Tuhan, yang selalu mau menyetir Tuhan. Kita mau Alkitab yang gampang, kotbah yang rapi, Kekristenan yang cepat, yang jelas, yang langsung nendang, kita tidak mau percaya kepada Tuhan, kepada cara-Nya. Dan inilah bedanya waktu kita menerima Alkitab sebagai buku yang sakral, kudus, khusus, beda dari yang lain. Ada orang mengatakan Alkitab ini buku yang spesial karena semua perkataannya benar, tanpa salah, infallible, inerrant, dsb.; tapi kita tidak bisa berhenti di situ saja.

Ketika anak muda kaya itu datang kepada Tuhan Yesus, dia mengatakan, “Guru, apa yang harus aku lakukan untuk memperoleh hidup yang kekal?” Bandingkan dengan kalimat Tuhan Yesus di akhir kisah itu; Dia mengatakan, “Betapa susahnya seorang yang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Si anak muda kaya datang dengan konsep Kerajaan Allah itu sesuatu untuk diperoleh, untuk diambil masuk ke dalam kehidupannya seperti properti –karena dia orang kaya, punya banyak properti, segala sesuatu dilihat sebagai properti untuk diperoleh, dimasukkan ke dalam saya. Tapi Yesus menggambarkan hidup kekal sebagai Kerajaan Allah, bukan untuk dimasukkan ke dalam hidupmu, melainkan engkau yang dibawa masuk ke dalam hidup kekal, Kerajaan Allah; bukan sesuatu yang engkau peroleh, tapi engkau diperoleh ke dalam Kerajaan Allah. Inilah yang seringkali kita tidak sadar sebagai orang Kristen. Kita datang kepada Tuhan untuk memperoleh keselamatan, untuk keselamatan masuk ke dalam hidup kita. Kita tidak sadar bahwa realitanya justru terbalik. Kekristenan adalah kitalah yang dibawa masuk ke dalam hidup kekal, Kerajaan Allah itulah yang terutama.

Bagaimana jika ini juga sama  dengan Alkitab? Mungkin inilah maksudnya Alkitab sebagai buku yang sakral, beda, khusus, spesial, yaitu bahwa Alkitab bukanlah satu buku, yang saya datang untuk memperoleh hal-hal dalam buku itu masuk ke dalam hidup saya. Saya ingin penghiburan makanya saya datang kepada Alkitab, saya ingin pengetahuan makanya saya datang kepada Alkitab, saya ingin kiat-kiat dan rumusan praktis bagaimana harus hidup makanya saya datang kepada Alkitab—dan akhirnya Saudara frustrasi. Ketika Saudara memperlakukan Alkitab seperti ini, Alkitab akhirnya malah membuat Saudara bingung, frustrasi, bahkan menghasilkan tafsiran-tafsiran yang membawa ke dalam kekacauan --Saudara meredefinisi Alkitab. Bagaimana jikalau Alkitab adalah kitab yang kita justru dipanggil untuk masuk ke dalamnya, sebagaimana yang barusan kita lakukan? Itulah yang namanya Firman Tuhan. Itulah yang namanya Kerajaan Allah.

Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah (MS)

Gereja Reformed Injili Indonesia Kelapa Gading

Download Ringkasan