Bagaimana Membaca Alkitab (6) - KU2

Ini adalah bagian ke-6 dari seri kotbah “Bagaimana Membaca Alkitab”. Setiap kali membahas hal ini, kita mempunyai satu tujuan, yaitu bukan hanya memperlihatkan apa yang Alkitab katakan, tapi terutama bagaimana cara Alkitab mengatakannya; apa makna yang bisa kita tarik bukan hanya dari isi Alkitabnya, tapi juga dari cara Alkitab memberikan isinya tersebut.

Dalam kotbah ke-5, kita membahas bahwa Alkitab menggunakan cara yang sangat sederhana untuk memberikan maknanya, yaitu lewat pengulangan. Salah satu contoh yaitu dari Kitab Kejadian dan pengulangannya di Kitab Samuel. Dalam kisah Adam dan Hawa, Alkitab mengulang-ulang satu motif/pola, bahwa Allah dalam 7 hari penciptaan bukan cuma digambarkan sebagai pemberi yang baik tapi juga sebagai yang melihat/menentukan apa yang baik dan yang jahat. Kejatuhan manusia terjadi ketika manusia berusaha mengambil peran ini --Hawa melihat bahwa buah pohon itu baik. Dan, lanjutan ceritanya adalah akibat yang datang ketika manusia mengambil alih peran itu, menolak mengandalkan apa yang Tuhan lihat dan sebaliknya mengandalkan apa yang dirinya sendiri lihat sebagai baik/sedap/indah, yaitu pembuangan, penghancuran,  pembunuhan, dst.

Lompat kepada kisah Samuel dan Saul, kita tahu kisah-kisahnya, dan kita tahu cerita-cerita itu bisa berdiri sendiri. Tapi di situ kita juga mulai mengenali adanya istilah-istilah yang diulang; Samuel disebut sebagai seorang pelihat –bukan cuma nabi. Di sini ada satu makna yang langsung masuk ketika kita ingat Kitab Kejadian, bahwa Samuel harusnya mewakili Tuhan melihat bagi orang Israel, tapi ternyata Samuel tetap terpikat dengan apa yang dilihat oleh manusia, yaitu penampilan dan perawakan Saul yang kelihatan hebat. Kisah ini kemudian memperlihatkan akibat ketika manusia bertindak sesuai penglihatannya, yaitu kerusakan, kegagalan Saul, kehancuran, penolakan. Apa jalan keluarnya? Yaitu ketika manusia kembali kepada apa yang Tuhan lihat; Tuhan memilih Daud, “Inilah yang Kulihat” --karena Allah bukan melihat apa yang manusia lihat, Allah melihat yang di dalam.

Kisah Samuel itu tentu masuk akal pada dirinya sendiri. Tapi, ketika kita menyadari bahwa kisah itu sengaja ditulis dengan disisipkan pengulangan istilah-istilah yang sudah ada sejak halaman pertama Alkitab, maka kita menemukan lapisan makna yang lebih dalam. Kita selama ini mengira Alkitab cuma kalimat-kalimat deskriptif tentang apa yang terjadi pada waktu itu, seperti sebuah rekaman CCTV; tapi ternyata melalui penggunaan kata-kata dan gaya bahasanya, Alkitab selalu memiliki makna yang lebih dalam, yang justru muncul lewat jurus-jurus sastra sederhana, seperti pengulangan. Inilah caranya Alkitab ditulis. Ini berbeda dengan literatur modern. Literatur modern sepertinya agak anti dengan pengulangan; bagi kita pengulangan identik dengan ‘membosankan’ dan ‘kurang kreatif’. Maka waktu kita membaca Alkitab, kita pikir, ‘Alkitab ‘kan Firman Tuhan, jadi kita berharap Alkitab tidak ada pengulangannya, kurang keren kalau ada banyak pengulangan’. Tetapi, Alkitab sebagaimana Allah menginspirasikannya, justru membawa kepada kita makna yang dalam lewat cara-cara yang dunia anggap dangkal, yaitu pengulangan. Mengapa? Karena memang Allah melihat berbeda dari manusia melihat. Apakah kita mau belajar melihat sebagaimana Allah melihat, atau kita tetap mau terus mempertahankan cara diri kita melihat? Ingatlah apa yang terjadi ketika manusia mau mempertahankan penglihatannya sendiri, ingatlah apa yang terjadi pada Adam dan Hawa, ingatlah apa yang terjadi pada Samuel dan Israel.

Kita akan melanjutkan pembahasan pola ini. Minggu lalu kita membahas beberapa contoh pengulangan istilah yang berbeda-beda, tentang ‘timur’, ’40 hari’, ‘Anak Allah, ‘baik/melihat’. Hari ini kita akan melihat satu pola besar, satu pengulangan yang terjadi dalam jangka waktu yang sangat panjang, yang terjadi berulang kali. Kita akan melihat pengulangan dalam cerita Abram dan Sarai, yang muncul lagi dalam cerita Musa dan lembu emas, muncul lagi dalam kisah Yosua dan Akhan, lalu kembali kita lihat muncul lagi dalam cerita Saul dan Samuel. (Jika Saudara ingin mengerti lebih banyak pendekatan membaca Alkitab yang seperti ini, Saudara dapat membuka “The Bible Project” di internet).

Pertama, kita akan mengunjungi kisah Abram dan Sarai dari Kej. 16: 1-6. Sebelum pasal ini, Tuhan baru saja mengikat janji dengan Abram. Tuhan menjanjikan keturunan Abram yang jumlahnya sebanyak bintang di langit. Setelah itu, kisah pasal 16 ini dimulai. Kita perhatikan di ayat 1, peran utama atau yang paling aktif di sini adalah seorang wanita. Ini mirip siapa? Yang disoroti di sini adalah Sarai, dia tidak punya anak, dia punya seorang hamba perempuan, orang Mesir, bernama Hagar.

Di ayat 2, Sarai mengatakan kepada Abram: “…mungkin oleh dialah aku dapat memperoleh seorang anak." Istilah ‘memperoleh seorang anak’ di sini sebenarnya terjemahan yang bersifat tafsiran, sedangkan kata aslinya memakai istilah banah, sehingga kalimatnya seperti ini: “… mungkin lewat dialah aku bisa banah” (tanpa kata ‘anak’). Pada dasarnya banah berarti membangun atau mendirikan. Dalam Alkitab kata banah sering dipakai, tapi jarang sekali dikenakan untuk seorang manusia; kalau dipakaikan pada kalimat Sarai tadi, menjadi: “… lewat dialah aku didirikan” –jadi aneh. Kata banah ini bukan cara yang normal untuk mengungkapkan soal punya anak; kata banah ini biasa dipakai dalam pembicaraan membangun kota atau mendirikan mezbah. Jadi apa maksudnya Sarai mengatakan bahwa lewat Hagar dirinya mungkin bisa didirikan/dibangunkan? Orang menafsir, bahwa maksudnya lewat Hagar, Sarai bisa mendapatkan anak. Ini bukan tafsiran yang salah, tapi menarik kalau kita tahu bahwa di bagian ini ada satu pengulangan --yaitu istilah banah tersebut-- karena di seluruh Alkitab hanya ada 1 tempat yang kata banah dipakai untuk merujuk pada seorang manusia –khususnya, pada seorang wanita. Kejadian 2: 22 ‘Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu.’ Dalam kalimat inilah satu-satunya kata banah dipakai untuk merujuk seorang manusia, dan khususnya seorang wanita. Hmmm, ada bau-bau kisah Adam dan Hawa lagi yang muncul dalam kisah Abram dan Sarai.

Kembali ke Kej. 16, apa reaksi Abram atas perkataan Sarai itu? Dikatakan di ayat 2, Dan Abram mendengarkan perkataan Sarai. Dari sini kita langsung ingat, ini pengulangan dari Kitab Kejadian lagi, dari kisah Adam dan Hawa; di Kej. 3: 8, ketika mereka mendengar bunyi (qol) langkah TUHAN Allah, mereka lalu bersembunyi (bunyi dalam bahasa Ibrani memakai istilah qol, yang bisa berarti bunyi maupun suara). Sekarang kita maju ke Kej. 3:17 ketika Adam dikonfrontasi oleh TUHAN Allah; perhatikan kalimat Allah kepada Adam: "Karena engkau mendengarkan perkataan (qol) istrimu … “. Di sini ada perbandingan antara qol-nya Tuhan dan qol-nya Hawa; Adam lebih memilih mendengarkan qol-nya Hawa dibandingkan qol-nya Tuhan, dia kabur dari qol-nya Tuhan. Dan kita melihat pola ini kembali muncul dalam kisah Abram; Abram mendengarkan istrinya. Suatu kebetulankah pengulangan seperti ini?
Berikutnya di Kej. 16: 3 ‘Jadi Sarai, isteri Abram itu, mengambil Hagar, hambanya, orang Mesir itu, — yakni ketika Abram telah sepuluh tahun tinggal di tanah Kanaan —, lalu memberikannya kepada Abram, suaminya, untuk menjadi isterinya.’ Kita bandingkan dengan Kej. 3: 6 ‘Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminya pun memakannya’. Ini jelas bukan kebetulan.

Ayat 4: ‘Abram menghampiri Hagar, lalu mengandunglah perempuan itu. Ketika Hagar tahu, bahwa ia mengandung, maka ia memandang rendah akan nyonyanya itu.’ Kalimat ‘ketika Hagar tahu bahwa ia mengandung’, dalam bahasa aslinya adalah ‘ketika Hagar melihat bahwa ia mengandung’. Jadi, ketika Hagar melihat bahwa ia mengandung, maka ia memandang rendah akan  nyonyanya itu; ada kata ‘melihat’, ‘memandang’ (di sini seharusnya Saudara mulai ingat kotbah yang kemarin). Motif ‘melihat’ di kisah ini belum selesai. Sarai kemudian jadi bete karena tingkah laku Hagar, dia melapor kepada Abram. Perhatikan kalimat Abram di ayat 6: "Hambamu itu di bawah kekuasaanmu; perbuatlah kepadanya apa yang kaupandang baik" –atau kalimat aslinya: “perbuatlah apa yang dipandang baik oleh matamu”.
Apa yang kemudian terjadi –dan selalu terjadi—sebagai akibat dari manusia-manusia yang melihat menurut apa yang mereka pandang baik? Kita membacanya di ayat 6: Lalu Sarai menindas Hagar, sehingga ia lari meninggalkannya. Sama seperti kisah Adam dan Hawa berakhir dengan pengusiran, lalu kisah Kain dan Habel juga berakhir dengan pengusiran, demikian pula kisah ini berakhir dengan terusirnya seseorang, sebagai akibat dari manusia yang mengambil alih peran ‘melihat’, manusia yang mendengarkan suara istrinya lebih daripada suara Tuhan, istri yang mengambil dan memberikan kepada suaminya.

Semua ini bukan kebetulan; ini satu jurus sastra yang jelas disengaja. Kita melihat, penulis-penulis Alkitab tidak pernah sekedar memberitahukan kepada kita apa yang terjadi pada waktu itu, tidak pernah sekedar mencatat detail kronologi kejadian-kejadian dalam kehidupan manusia-manusia pertama ini. Dalam penggunaan kata-kata dan gaya bahasanya, mereka punya tujuan yang lebih dalam, untuk membuat kita menyadari ada koneksi/benang merah dalam kisah-kisah ini. Kisah Abraham bukan hanya kisah mengenai Abraham saja, ini adalah kisah Abraham yang bergumul dengan satu kuasa misterius itu, yang sudah sejak awal mula menjangkiti manusia lagi, lagi, dan lagi. Misalnya Saudara menonton suatu film, di situ ada 2 adegan yang berbeda tapi musik latar belakangnya memainkan melodi yang sama, maka apa yang akan terjadi Saudara jadi menangkap satu koneksi, Saudara jadi melihat adegan yang satu dengan kacamata adegan yang lainnya, lalu mulai muncullah makna-makna yang tadinya Saudara tidak lihat.
Perhatikan dalam kisah Taman Eden, konfliknya bermula dari perintah Allah, yang manusia tidak mengerti; karena tidak mengerti, mereka akhirnya main hakim sendiri. Kisah Abram dan Sarai bermula dari janji Tuhan kepada Abram yang mereka tidak sanggup untuk percaya; karena tidak sanggup untuk percaya, akhirnya mereka main hakim sendiri lagi.

Dalam kisah Adam dan Hawa ada buah pohon pengetahuan; dalam kisah Abram dan Sarai ada Hagar --Hagar-lah yang memerankan buah pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat itu. Hawa mengambil buah pohon pengetahuan itu, memberikannya kepada Adam; Sarai mengambil Hagar, hambanya itu, dan memberikannya kepada Abram. Hagar menjadi jalan bagi Abram dan Sarai untuk me-redefinisi apa yang baik dan jahat sesuai dengan mata mereka. Ini sama persis seperti buah pohon pengetahuan adalah jalan bagi Adam dan Hawa untuk me-redefinisi apa yang mereka lihat sebagai baik dan benar. Sama juga dengan itu, pembunuhan Habel adalah jalan bagi Kain untuk me-redefinisi apa yang baik dan yang jahat menurut matanya.

Saudara lihat di sini, peran buah pohon pengetahuan, peran Habel, dan peran Hagar, adalah peran yang sama dalam semua pola ini. Itu sebabnya kisah-kisah ini dapat berdiri sendiri –dan kita memang seringkali membacanya secara satu per satu—tapi ketika Saudara mulai menyadari jurus-jurus sastrawi dalam penulisannya, adanya pengulangan-pengulangan yang si penulis lakukan, maka tiba-tiba semua kisah ini membentuk satu gambaran yang makin lama makin dalam, makin limpah, makin luas, makin realistis, dan makin menusuk. Inilah gambaran mengenai kondisi hati manusia, kecenderungan hati manusia yang terus-menerus melakukan hal-hal seperti itu. Siapa yang tidak melihat hal seperti ini dalam dirinya? Kita menginginkan sesuatu, kita tidak mendapatkannya, situasi hidup tidak sesuai dengan keinginan kita; lalu apa yang Saudara dan saya lakukan? Kita main hakim sendiri. Kita melakukan apa yang baik menurut pandangan kita. Siapa yang tidak menghidupi cerita seperti ini?? Jadi Saudara lihat di sini, betapa Alkitab dengan penuh kuasa membongkar hal-hal ini -- lewat pengulangan.

Kita maju ke Kitab Keluaran, masuk ke dalam kisah Musa, Harun, dan patung anak lembu emas (Kel. 32). Ini adalah kisah ketika bangsa Israel baru saja diberikan Sepuluh Hukum --yang salah satunya tentu mengatakan “jangan membuat bagimu patung”—lalu Musa naik ke Gunung Sinai beberapa hari untuk menerima loh-loh batu. Bangsa Israel merasa Musa tidak turun-turun, kelamaan, lalu mendesak Harun membuatkan “allah”. Harun menyuruh mereka mengumpulkan emas, lalu bangsa Israel menyerahkan anting-anting, gelang, dsb., dan Harun membuat patung anak lembu emas itu.

Kel. 32: 5 ‘Ketika Harun melihat itu, didirikannyalah mezbah di depan anak lembu itu.’ Di bagian ini, kata ‘itu’ yang mengikuti kata ‘melihat’ sebenarnya tidak ada dalam bahasa aslinya; ini tambahan (dalam bahasa Inggris juga ada tambahan seperti ini). Jadi kalimat aslinya: ‘Ketika Harun melihat, didirikannyalah mezbah di depan anak lembu itu’. Mengapa harus ada frasa ini? Karena ada satu tarikan yang mau membuat kita ingat kembali kapan kata itu muncul, sama seperti melodi yang sama kembali muncul di latar belakang adegannya yang mengingatkan kita untuk membaca dengan kacamata adegan sebelumnya. Selanjutnya dikatakan mereka bersukaria atas patung tersebut; dalam bahasa slinya, istilah ‘bersukaria’ ini mengandung nuansa seksual, karena pada zaman itu penyembahan berhala melibatkan orgy massal.

Tuhan lalu menyuruh Musa turun bersama dengan Yosua; mereka turun untuk menemui orang Israel yang berdosa. Di bagian ini Saudara ingat sesuatu? Saudara ingat di Kejadian 3, Tuhan, bunyi langkah-Nya kedengaran berjalan-jalan, lalu Dia mengkonfrontasi  manusia –Adam dan Hawa—akan dosanya. Di bagian ini, Musa dan Yosua menjalankan peran tersebut; Tuhan menyuruh mereka turun ke perkemahan –mereka yang datang ke perkemahan. Tapi ada satu hal yang dibalik di sini; di Kejadian 3 Adam dan Hawa (yang berdosa) yang mendengar suara, sementara di sini Musa dan Yosua yang mendengar suara --Yosua mendengar suara seperti orang berperang tapi kemudian Musa mengatakan itu suara orang menari-nari. Tidak penting siapa yang mendengar suara, tapi intinya, ada satu pengulangan motif di sini, ada satu pola dari Kitab Kejadian yang mau dicetak ulang dalam cerita ini.

Berikutnya, Musa menemukan mereka berpesta-pora gila-gilaan, Musa ngamuk, lalu yang dilakukannya adalah membakar patung anak lembu emas. Perhatikan dialognya ketika mengkonfrontasi dosa Harun; Musa mengatakan kepada Harun (ayat 21): "Apakah yang dilakukan bangsa ini kepadamu sehingga engkau mendatangkan dosa yang sebesar itu kepada mereka?” –pertanyaan ‘apa’. Lalu Harun menjawab kira-kira seperti ini: “Oh, tuanku, jangan marah kepadaku, engkau ‘kan tahu mereka ini jahat hatinya. Aku hanya menyuruh mereka membawakan emas, lalu waktu aku lemparkan emas itu ke api, eh, tiba-tiba muncul patung anak lembu emas ini; cuma begitu saja”. Musa bertanya ‘apa yang telah terjadi’, Harun menjawab dengan berkelit, ‘bukan aku, mereka’. Perhatikan pola ini. Sekarang kembali ke Kitab Kejadian, kita melihat apa yang terjadi setelah Tuhan berjalan-jalan di taman itu dan datang menemui manusia. Kej. 3: 9 Tetapi TUHAN Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: "Di manakah engkau?"; ayat 13: Kemudian berfirmanlah TUHAN Allah kepada perempuan itu: "Apakah yang telah kauperbuat ini?" Waktu Tuhan mengkonfrontasi dosa, Dia bertanya ‘apa’, ‘di mana’; bukankah ini mirip dengan Musa tadi? Sekarang perhatikan jawaban manusia (pihak yang berdosa). Kej. 3:12 "Perempuan yang Kautempatkan di sisiku … “. Lalu ketika si perempuan dikonfrontasi, jawabnya (ayat 13): "Ular itu yang memperdayakan aku ... ". Sampai di sini tentu Saudara bisa melihat polanya; yang mengkonfrontasi dosa bertanya ‘apa yang terjadi, apa yang kau perbuat’, dan yang dikonfrontasi dosanya berkelit. Maju ke cerita Kain dan Habel. Waktu Tuhan menemui Kain setelah dia membunuh Habel, apa yang Tuhan katakan? Kej. 4: 9 "Di mana Habel, adikmu itu?" dan di ayat 10: "Apakah yang telah kauperbuat ini?” Ini persis sama dengan kalimat Tuhan kepada Hawa. Lalu apa jawaban Kain? “Gak tahu, emang gua penjaga adikku?” –berkelit dari tanggung jawab. Saudara lihat sekali lagi polanya, dan ini bukan kebetulan.

Sekarang Saudara bandingkan yang terjadi dalam cerita Adam dan Hawa, Kain dan Habel, lalu Saudara lihat cerita Musa dan Harun. Tadi kita mengatakan, Musa digambarkan mengambil peran Allah yang berjalan kepada manusia berdosa untuk mengkonfrontasi mereka. Lihat yang Musa katakan: “Apakah yang dilakukan orang-orang ini kepadamu sehingga kamu melakukan dosa sebesar ini?” lalu lihat bagaimana Harun menjawab. Harun menghindari tanggung jawab, “Oh, tuanku, jangan marah, mereka itu jahat hatinya. Aku hanya menyuruh mereka membawakan emas, aku lemparkan ke api, tiba-tiba muncul patung anak lembu emas ini begitu saja”. Jadi, apakah pengulangan-pengulangan ini semua cuma kebetulan? Apakah bagian-bagian ini ada cuma demi kita bisa tahu kronologi kejadiannya pada waktu itu bagi Harun, Musa, Yosua, atau siapapun? Tentu tidak. Ada satu makna yang lebih dalam. Bagian ini harusnya membawa kita melihat dan menyadari, selama ini seperti apa kita membaca Alkitab.

Waktu kita membahas kalimat Allah yang bertanya “di mana kamu”, “apa yang kamu perbuat”, biasanya yang dibahas ‘koq, Tuhan bisa sih, tidak mahatahu??’ –ke situ larinya. Tapi apakah itu poinnya?? Mengertikah Saudara sekarang, mengapa Tuhan yang mahatahu, digambarkan bertanya? Karena poin dari kalimat-kalimat itu bukan untuk merekam apa persisnya secara 100% akurat kalimat yang Tuhan katakan kepada Adam pada waktu itu; poinnya adalah menaburkan benih sedikit demi sedikit, mulai dari satu cerita, yang kemudian nanti akan digaungkan lagi dan lagi, sehingga kita mengerti bukan cuma makna dari satu per satu ceritanya tapi makna yang lebih dalam dari semua cerita tersebut ketika kita melihatnya bersamaan. Ini bukan rekaman CCTV; ini adalah satu lukisan yang luar biasa agung, yang setiap goresan kuasnya disengaja. Jadi tujuan di balik kalimat-kalimat itu bukan untuk menjadi sumber pembicaraan mengenai metafisik atau natur dari kemahatahuan Tuhan Allah, dsb. Ini adalah satu jurus sastra untuk membuat  suatu gaung antara kisah-kisah yang berbeda supaya kita peka dan bisa mengerti makna sentral yang menyatukan kisah-kisah itu, bahwa inilah kecenderungan hati manusia yang selalu muncul terus-menerus setiap kali ada kesalahan, bahwa setiap kali ada penyelewengan maka ujungnya begitu.

Kita lompat sekarang ke Kitab Yosua, ke dalam kisah tentang Yosua, Akhan, dan barang curian perkakas-perkakas Tuhan. Sebelumnya, kalau Saudara masuk ke dalam Kitab Yosua, khususnya tentang kisah tembok Yerikho, Saudara akan sekali lagi menemukan gaung dari Kitab Kejadian. Waktu bangsa Israel sampai ke Yerikho, mereka disuruh mengelilingi tembok Yerikho 6 kali selama 6 hari, lalu pada hari ke-7 disuruh mengelilingi 7 kali. Ada pola 6+1 di sini, 6 yang sama plus 1 yang beda; ini mengingatkan pada kisah penciptaan.

Setelah itu Tuhan memberikan perintah kepada Yosua yang diteruskannya kepada Israel di pasal 6, tentang apa yang harus mereka lakukan waktu menyerbu Yerikho. Yosua 6: 18-19 “Tetapi kamu ini, jagalah dirimu terhadap barang-barang yang dikhususkan untuk dimusnahkan, supaya jangan kamu mengambil sesuatu dari barang-barang yang dikhususkan itu setelah mengkhususkannya dan dengan demikian membawa kemusnahan atas perkemahan orang Israel dan mencelakakannya. Segala emas dan perak serta barang-barang tembaga dan besi adalah kudus bagi TUHAN; semuanya itu akan dimasukkan ke dalam perbendaharaan TUHAN." Kata terakhir ayat 18, yaitu ‘mencelakakannya’, dalam bahasa bahasa Ibrani memakai istilah akhar. Selanjutnya di Yosua 7:1, setelah Tembok Yerikho runtuh dan bangsa Israel menyerbu serta menaklukan kota itu, diakhiri dengan catatan tentang adanya orang Israel yang berubah setia, yang mengambil barang-barang yang dikhususkan itu, dia bernama Akhan bin Karmi bin Zabdi bin Zerah, dari suku Yehuda --kita lihat di sini kaitan antara akhar dan Akhan. Tuhan kemudian marah kepada orang Israel. Mereka pergi memerangi kota Ai, tapi kalah. Yosua menghadap Tuhan, lalu membuang undi untuk menentukan siapa biang keroknya.

Yosua 7: 16-18 ‘Keesokan harinya bangunlah Yosua pagi-pagi, lalu menyuruh orang Israel tampil ke muka suku demi suku, maka didapatilah suku Yehuda. Ketika disuruhnya tampil ke muka kaum-kaum Yehuda, maka didapatinya kaum Zerah. Ketika disuruhnya tampil ke muka kaum Zerah, seorang demi seorang, maka didapatilah Zabdi. Ketika disuruhnya keluarga orang itu tampil ke muka, seorang demi seorang, maka didapatilah Akhan bin Karmi bin Zabdi bin Zerah, dari suku Yehuda.’ Ada pengulangan ‘didapati’; setiap kali buang undi lalu didapati. Kata ‘didapati’ dalam bahasa Ibraninya pakai istilah lakad, yang lebih tepat diterjemahkan ‘tertangkaplah’.

Kita akan memerhatikan ketika Yosua mengkonfrontasi dosa Akhan, apa yang Yosua katakan dan apa respon Akhan. Perkataan Yosua (Yos. 7:19): "Anakku, hormatilah TUHAN, Allah Israel, dan mengakulah di hadapan-Nya; katakanlah kepadaku apa yang kauperbuat, jangan sembunyikan kepadaku." Ini mengingatkan kita pada perkataan  yang Musa katakan kepada Harun, yang Allah katakan kepada Kain, yang Allah katakan kepada Adam dan Hawa. Respons Akhan (ayat 20-21): "Benar, akulah yang berbuat dosa terhadap TUHAN, Allah Israel, sebab beginilah perbuatanku: aku melihat di antara barang-barang jarahan itu jubah yang indah (=baik), buatan Sinear, dan dua ratus syikal perak dan sebatang emas yang lima puluh syikal beratnya; aku mengingininya, maka kuambil; semuanya itu disembunyikan di dalam kemahku dalam tanah, dan perak itu di bawah sekali." Yang terjadi di sini: Akhan melihat apa yang baik, mengingininya, maka mengambilnya. Nasib Akhan setelah itu: mereka membakar dia. Ini ada koneksi dengan cerita Musa, Harun, dan lembu emas. Musa membakar patung anak lembu emas itu, dan sekarang Akhan, si pencuri itu –dan salah satu yang dicuri adalah emas—diperlakukan seperti lembu emas tersebut. Saudara lihat, buah pohon pengetahuan di Kej.3 dalam cerita berikutnya adalah peran Habel, lalu peran Hagar, lalu peran patung lembu emas, dan sekarang peran batangan-batangan emas serta jubah Sinear. Begitu Saudara menangkap pola ini, tidak mungkin Saudara tidak melihat ini (atau istilah di internetnya: “you cannot unsee this”).

Yang terakhir, kisah Saul dan Samuel; 1 Sam.8 : 6-7 ‘Waktu mereka berkata: "Berikanlah kepada kami seorang raja untuk memerintah kami," perkataan itu mengesalkan Samuel, maka berdoalah Samuel kepada TUHAN. TUHAN berfirman kepada Samuel: "Dengarkanlah (qol) perkataan bangsa itu … “. Sekarang Saudara mungkin sudah mulai bisa mengenali polanya, setiap kali ada motif  qol, ‘mendengarkan suara’ atau ‘mendengarkan perkataan’, itu adalah motif ketika seseorang menyerah kepada godaan dosa; begitulah Adam mendengarkan suara Hawa, dan begitulah Abram mendengarkan suara Sarai. Ini motif yang dipakai untuk mengungkapkan ide tentang orang yang sedang jatuh ke dalam pencobaan.

Tapi di bagian ini bukan cuma diulang, ada pengolahan-pengolahan lainnya. Di bagian ini justru Allah-lah yang menyuruh Samuel mendengar perkataan Israel. Allah sedang mau memberikan kepada Isael keinginan hati mereka. Allah Allah sedang mau memberikan kepada Israel apa yang mereka lihat sebagai ‘baik’ di matanya. Mengapa? Jawabannya di ayat 8, yaitu karena hal ini adalah sesuatu yang mereka mau sejak dari dulu; Allah mengatakan kepada Samuel, “Sudahlah Samuel, kali ini dengarkanlah perkataan mereka, karena lu tahu, ini sudah mereka lakukan dari dulu kepada-Ku, ini ceritanya sudah lama banget, dari sejak Adam dan Hawa, dari sejak Israel keluar dari Mesir. Ini sudah berulang kali terjadi, Samuel” --dan kita baru saja menelusuri cerita-cerita itu. Tentu ini ada maknanya. Di sini digambarkan Allah seperti orangtua yang sudah bohwat kasih tahu anaknya yang berkali-kali tidak mau dengar, jadi kali ini dia ubah strategi, ‘okelah kali ini kita kasih keinginan mereka, biar mereka rasakan sendiri akibatnya’. Adakalanya dalam mendidik anak memang kita harus bersikap seperti ini, tentunya dalam kasus-kasus yang kita tahu akibatnya tidak akan melebihi yang anak itu bisa tanggung. Inilah gambaran yang memang mau diberikan dalam bagian ini; tetapi pertanyaannya, dari mana Saudara bisa mendapat makna yang seperti ini? Saudara tidak akan mendapatkannya kecuali Saudara mengerti lewat pengulangan demi pengulangan.

Namun tentu Tuhan tidak memberikan begitu saja keinginan mereka; Dia menyuruh Samuel memberikan keinginan hati mereka, tapi sambil juga memperingatkan konsekuensi dari permintaan mereka itu. Perhatikan kalimatnya, 1 Sam 8: 10-17. “… Inilah yang menjadi hak raja yang akan memerintah kamu itu: anak-anakmu laki-laki akan diambilnya dan dipekerjakannya pada keretanya … Anak-anakmu perempuan akan diambilnya sebagai juru campur rempah-rempah… dari ladangmu, kebun anggurmu dan kebun zaitunmu akan diambilnya yang paling baik … dari gandummu dan hasil kebun anggurmu akan diambilnya sepersepuluh … Budak-budakmu laki-laki dan budak-budakmu perempuan, ternakmu yang terbaik dan keledai-keledaimu akan diambilnya dan dipakainya … Dari kambing dombamu akan diambilnya sepersepuluh, dan kamu sendiri akan menjadi budaknya.” Dari tadi kita sudah membahas istilah yang diulang terus yang menandakan tindakan manusia berdosa ketika dia melihat apa yang baik menurut pandangan matanya, yaitu melihat lalu mengambil. Hawa mengambil buah itu. Sarai mengambil Hagar. Harun mengambil emas. Akhan mengambil jubah itu. Sekarang di Kitab Samuel kita melihat peringatan mengenai seorang raja yang akan mengambil, mengambil, dan mengambil; dan orang Israel mengatakan: “Tidak masalah! Kami tetap mau raja!”

Di bagian ini juga ada motif ‘melihat’ (kita tidak akan bahas lagi), tapi ada pengulangan motif yang lain. Perhatikan kalimat Samuel ketika bertemu dengan Saul: “Tetapi siapakah yang memiliki segala yang diingini orang Israel? Bukankah itu ada padamu dan pada seluruh kaum keluargamu?" (1 Sam. 9: 20); sejauh pembahasan kita tadi, bukankah semua ceritanya mengenai yang diingini, diingini, dan diingini?
Selanjutnya kita melihat kisah ketika Saul dinobatkan menjadi raja di 1 Sam. 10: 19-22. “Tetapi sekarang kamu menolak Allahmu yang menyelamatkan kamu dari segala malapetaka dan kesusahanmu, … berdirilah kamu di hadapan TUHAN, menurut sukumu dan menurut kaummu." Lalu Samuel menyuruh segala suku Israel tampil ke muka, maka didapati suku Benyamin. Sesudah itu disuruhnyalah suku Benyamin tampil ke muka menurut kaum keluarganya, maka didapati kaum keluarga Matri. Akhirnya disuruhnyalah kaum keluarga Matri tampil ke muka seorang demi seorang, maka didapati Saul bin Kish. Tetapi ketika ia dicari, ia tidak diketemukan. Sebab itu ditanyakan pulalah kepada TUHAN: "Apa orang itu juga datang ke mari?" TUHAN menjawab: "Sesungguhnya ia bersembunyi di antara barang-barang." Pola ini mirip kisah apa?

Pola ini kita temukan dalam cerita Akhan, di situ ada pengulangan istilah ‘didapati’, lalu Yosua bertanya kepada Akhan, “Apa yang kau lakukan?” dan jawab Akhan, “Aku mengingini … maka aku mengambil … dan semua itu aku menyimpannya –di antara barang-barang-- di bawah tanah.” Ketika kita membandingkannya dengan cerita ini, peran apa yang sedang dimainkan Saul? Peran buah pengetahuan, peran Habel, peran Hagar, peran patung lembu emas, peran jubah indah --dan sekarang Saul. Saul-lah yang diingini orang Israel. Saul-lah buah pengetahuan itu. Saul-lah yang menjadi jalan untuk orang Israel menentukan bagi diri mereka sendiri apa yang baik dan apa yang jahat.

Jadi, bagaimana Saudara melihat semua ini? Mungkin Saudara berkata, “Oke, Pak, jelas sudah bahwa Alkitab sengaja menyisipkan pengulangan-pengulangan istilah dan motif-motif yang sama dalam berbagai cerita yang berbeda, supaya kita bisa menangkap satu lapisan makna yang lebih dalam. Tujuannya supaya kita menangkap bukan cuma makna dari masing-masing cerita dan berusaha mengambil apa yang baik buat diri kita, tapi untuk kita masuk ke dalam Alkitab dan mulai menangkap makna yang lebih dalam yang menyatukan semua cerita tadi.” Pertanyaannya, mengapa Alkitab harus pakai cara seperti ini? Apa efeknya buat kita? Apa tidak cukup pakai satu cerita saja? Mengapa harus menyisipkan pola dan makna yang sama dalam berbagai cerita yang berbeda?

Tentu saja efeknya banyak, dan inilah keren-nya Alkitab. Yang pertama, dengan Saudara melihat adanya tema/pola yang sama yang disebar dalam kisah-kisah berbeda, ini jadi memberikan kepada Saudara pintu masuk yang beragam untuk Saudara dapat menangkap makna ini, mengakui kebenaran ini, menerima pengertian ini. Saudara lihat, semua kisah itu ternyata bukan cuma mau bicara soal Adam dan Hawa, soal Hagar dan Abram, soal Musa dan Harun, soal Akhan dan Yosua, dan apapun lainnya; semua kisah itu menggambarkan satu potret mengenai kondisi manusia yang berdosa. Lewat kita melihat hal itu terus-menerus muncul, berkali-kali, dan berulang-ulang dalam semua kisah itu, tujuan akhirnya adalah untuk membuat Saudara dan saya bisa menyadarinya dan melihatnya juga dalam hidup kita. Dengan membungkusnya dalam berbagai cerita yang berbeda, itu membuat kita masing-masing bisa memilih pintu masuk yang mana yang paling dekat dengan cerita hidup kita.

Seandainya Saudara disuruh mengidentifikasi hidupmu dalam kisah Abram dan Sarai, mengakui dosa Abram dan Sarai sebagai dosamu, mungkin Saudara tidak bakal terima. Mengapa? Karena Saudara merasa itu cerita yang jauh dari kehidupan Saudara; Saudara tidak pernah memberikan pembantu kepada suami untuk dihamili. Sangat sulit menempatkan diri dalam kisah itu; itu adalah pintu yang jauh. Tetapi dengan adanya kisah-kisah yang berbeda, kalau Saudara tidak bisa melihat dirimu di dalam cerita yang satu, masih ada pintu cerita yang lain yang lebih dekat dengan kehidupanmu. Misalnya kisah Kain dan Habel; memang kita mungkin tidak membunuh, tapi kita dibikin bingung seperti Kain yang tidak tahu alasannya Tuhan menolak, seperti juga kita tidak dikasih tahu jawabannya. Jadi di situ kita diundang untuk mendekat, melihat, mengidentifikasi diri kita di dalam peran Kain. Bukan itu saja, cerita Kain ini cerita yang sangat dekat dengan hidup kita, karena siapa sih yang tidak pernah iri dengan saudaranya, siapa sih yang tidak pernah ada pertentangan dalam hubungan keluarga, siapa sih yang tidak pernah merasa ‘koq dia dapat itu dan aku enggak, kenapa bisa begini??’ Inilah maksudnya pintu yang lebih dekat.

Dengan adanya banyak cerita yang berbeda, Saudara bisa memilih pintu yang mana untuk Saudara masuk dan melihat kecenderungan natur manusia yang berdosa ini. Ada banyak latar belakang hidup pada masing-masing orang; Saudara mungkin lebih mudah masuk lewat pintu yang ini, sementara orang lain lebih enak masuk pintu yang itu. Tetapi ketika ada banyak cerita, yang sebenarnya mengulang pola yang sama, kita jadi lebih gampang memilih pintu yang mana yang lebih dekat dengan hidup kita.
Itu efek pertamanya; tapi, efek yang kedua justru datang berbarengan. Ketika Saudara menyadari semua kisah ini punya pola yang sama, itu berarti kalaupun Saudara masuk melalui pintu cerita yang paling dekat dengan hidupmu --sementara semua cerita ini pada dasarnya sama-- bukankah itu mengajakmu untuk paling tidak mempertimbangkan bahwa semua pintu-pintu yang lain pun adalah kisah hidupmu. Kita masuk lewat pintu yang dekat; tapi waktu kita melihat cerita-cerita yang lain pun ternyata sama, kita baru sadar, ‘Ya, ampun, ternyata semua pintu ini mengarah kepada ruang yang sama, kalau begitu jadi apa bedanya saya yang masuk lewat pintu yang ini dengan orang lain yang masuk lewat pintu yang itu?? Ujungnya, ternyata kami sama saja; dosa yang dia lakukan, itu mungkin juga dosa yang saya lakukan’.
Jadi, di satu sisi Saudara di-akomodasi, Saudara boleh masuk lewat pintu yang menurutmu lebih dekat. Tapi ketika Saudara menyadari semua kisah tadi bersambungan, Saudara akan langsung menyadari, ‘paling tidak saya harus merendahkan diri, saya harus mempertimbangkan jangan-jangan pintu yang lain itu semua juga sebenarnya adalah pintuku’. Misalnya, apakah Saudara melihat dirimu dalam cerita Saul dan Israel? Susah juga. Kalau kisah Kain dan Habel, sepertinya lebih gampang kita masuk; sedangkan kisah Israel meminta raja, sulit untuk kita mengindentifikasikan diri di situ karena di zaman sekarang tidak ada urusan raja-rajaan, sehingga kita tidak pernah melihat diri kita dalam peran Israel. Tetapi, bahwa kisah Saul dan Israel ternyata punya denyut nadi yang sama dengan kisah Adam dan Hawa, dengan kisah Kain dan Habel, dengan kisah Harun dan lembu emas, dengan kisah Akhan dan Yerikho, kita akan mulai bertanya-tanya, jangan-jangan saya juga sedang menghidupi kisah Israel dan Saul itu. Inilah yang harusnya kita dapatkan ketika melihat semua kisah ini bersamaan. Kita mungkin berpikir, ‘tidak mungkinlah kita melakukan dosa itu, jauh banget, kita hari ini tidak memilih raja lagi, tidak ada dalam hidup kita menukar Allah dengan seorang tokoh politik, tidak pernah!’ Tapi coba Saudara ingat-ingat lagi masa-masa menjelang Pemilu yang baru lalu, Saudara baca lagi postingan orang-orang di grup-grup WA, bahkan juga postingan Saudara sendiri mengenai Pemilu.

Efek dari pengulangan pola-pola seperti ini, jika Saudara tekun merenungkan dan membaca Alkitab siang dan malam, dan melakukan itu terus, di situ Saudara sebenarnya sedang dilatih untuk membaca dan mengenali pola-pola ini bukan cuma di dalam Alkitab tapi juga di dalam hidupmu. Salah satu dampak Alkitab terbesar, yang hari ini sudah kita cuekin dan buang, adalah bahwa Alkitab bukan hanya memberikan kepada kita sesuatu untuk kita lihat tetapi membentuk bagaimana cara kita melihat. Itulah dampak yang lebih besar. Dan ini terjadi karena pengulangan.

Waktu saya masih kecil, kami cuma punya satu mobil, ke mana-mana kami sekeluarga pakai mobil itu. Satu kali, mama saya ingin beli tanaman tertentu; dan itu membuat dia jadi “awas” banget, ke mana-mana kami pergi naik mobil, kalau ada tukang tanaman dia langsung teriak, “Berhenti! Berhenti!” Lalu dia keluar, melihat-lihat apa ada tanaman yang dicari, ternyata tidak ada, dan dia masuk lagi. Itu terjadi berkali-kali –pengulangan—sampai akhirnya setelah mama saya sudah mendapatkan tanaman tersebut, kami tetap tidak bisa tidak selalu melihat tukang tanaman. Mama saya sudah tidak perlu tanaman itu, dia sudah dapat, tapi waktu berikutnya kami jalan-jalan lagi, setiap kali ada tukang tanaman, kami langsung tunjuk-tunjuk, “Tukang tanaman! Tukang tanaman!” baru sadar … eh, udah ‘gak perlu ya. Itu gara-gara apa? Itu bukan sesuatu yang kami dapat karena kami belajar secara pakai otak, itu sesuatu yang kami dapat karena pengulangan-pengulangan. Itulah dampak yang besar, yang bahkan kita tidak bisa hapus begitu saja, yaitu kebiasaan/habit. Itu membentuk bukan cuma tentang apa yang kita lihat, tapi juga bagaimana kita melihat. Sekarang, bagaimana kalau Alkitab juga bekerja seperti ini? Bagaimana jika inilah cara Alkitab membentuk Saudara dan saya?

Saudara perhatikan satu hal: dalam cerita Adam dan Hawa, peran dosa dipersonifikasi, yaitu ular. Dalam kisah berikutnya peran dosa mulai sedikit abstrak; waktu Tuhan memperingatkan Kain, Dia tidak bicara tentang ular, Dia cuma mengatakan kepada Kain, tentang dosa yang sudah mengintip di balik pintu –dalam hal ini masih memakai bahasa seperti binatang yang siap menerkam, mengintip di balik pintu. Jadi pertamanya peran dosa digambarkan pada ‘ular’ (sesuatu yang jelas), dan sekarang disebut ‘dosa’ (lebih abstrak). Lalu dalam cerita-cerita berikutnya, peran dosa itu makin tersembunyi, makin hilang, tapi tetap ada pola-pola yang jelas yang menunjukkan bahwa itu cerita yang sama dan sama lagi, untuk Saudara mengenali bahwa kuasa dosa yang sama itu masih bekerja. Jadi, lewat cerita-cerita itu, kita sedang dilatih untuk mengenali ‘si ular’ ketikasi ular’ tidak lagi muncul –lewat pengulangan; dan tujuannya akhirnya supaya kita bisa melihat ular itu –meskipun dia tidak kelihatan-- bukan hanya dalam Alkitab tapi dalam cerita hidup kita masing-masing. Inilah Alkitab.

Bagaimana Saudara akan menggunakan Alkitab mulai hari ini? Apa Saudara tetap mau pakai model ‘orang muda yang kaya’, yang datang untuk memperoleh, yang mau memasukkan hal-hal dari Alkitab ke dalam hidupmu, yaitu penghiburan, prinsip hidup, pengetahuan, jawaban-jawaban, atau apapun itu? Atau Saudara mau mengakui di hadapan Alkitab, bahwa ini kitab yang terlalu ajaib, terlalu limpah, terlalu besar, dan dengan demikian mengakui bukan Alkitab yang harus masuk ke dalam hidupmu tapi engkau yang harus masuk ke dalam Alkitab?

Bukan Alkitab yang harus masuk ke dalam laci-lacimu yang terlalu sempit itu, tapi engkau yang harus menyesuaikan diri masuk ke dalam laci-laci di Alkitab. Kalau Saudara jadi orang Kristen, itu berarti Saudara bukan datang kepada Alkitab untuk memakainya demi memenuhi diri dengan apa yang baik dalam pandanganmu. Kalau Saudara jadi orang Kristen yang kembali kepada Alkitab, itu berarti Saudara masuk ke dalam Alkitab dan membiarkan Alkitab membentuk bagaimana cara engkau memandang. Relakah Saudara untuk datang kepada Alkitab seperti ini? Ini sulit! Karena, itu berarti yang tersisa bagimu hanyalah ‘untuk taat’; tidak ada ruang untuk datang kepada Tuhan sebagai orang yang punya modal untuk menentukan apa yang baik dan yang jahat. Ini berarti, waktu Saudara datang kepada Alkitab, Saudara tidak berhak komentar “yang ini menarik, yang itu membosankan”, “yang ini relevan, yang itu tidak relevan”, “yang ini seru, yang itu tidak”. Hak Saudara hanyalah untuk merenungkan semuanya, ngerti ‘gak ngerti, asik ‘gak asik, siang malam dan siang malam. Itulah artinya kembali ke Alkitab. Ini berarti, waktu Alkitab menyuruh Saudara merenungkannya siang malam, Saudara tidak berhak mengatakan “siapa yang punya waktu?”

Apakah Saudara sekarang mengenali ‘ular’ yang sedang ada dalam hatimu? Melihat semua ini, kita akan langsung merasakan hal yang menjadi kecenderungan hati kita, yang diulang dan diulang terus dalam kisah-kisah tadi, yaitu kita mau menentukan apa yang baik bagi diri kita sendiri; kita mengelak, kita bilang “ Tidak, Alkitab tidak seperti itu, saya boleh menggunakan Alkitab semau saya”.

Kisah-kisah itu selalu berakhir sama, yaitu kutukan, pengusiran, pengucilan, kematian, pembunuhan, pemerkosaan, pencurian, pemberhalaan. Berpuluh-puluh dan beratus-ratus kisah yang sama terulang dan terus terulang sepanjang sejarah manusia. Sampai suatu hari, akhirnya siklus ini terpatahkan ketika Seseorang yang berkeringat darah, berlutut, berdoa, di satu malam gelap, dan Dia mengatakan: “Bukan kehendak-Ku yang jadi, tapi kehendak-Mu”. Herannya, Dia yang berkata seperti itu adalah Dia yang adalah Anak Allah, Pribadi Kedua Allah Tritunggal, yang disebut Yohanes sebagai Firman Allah. Anak Allah sendiri, Firman Allah sendiri, menolak untuk bertindak sesuai apa yang Dia pandang baik, dan menggantungkan arah hidupnya pada apa yang Bapa-Nya pandang baik. Bagaimana dengan Saudara dan saya? Apa respons Saudara terhadap semua ini, ketika Saudara melihat yang Alkitab katakan, yaitu panggilan untuk membaca dan merenungkan Firman itu siang dan malam? Saya takut, jangan-jangan respons Saudara seperti anak muda yang kaya, berbalik arah, pergi dengan hati yang sedih; dan Yesus berkata “betapa sulitnya orang yang mempunya banyak harta untuk masuk ke dalam Kerajaan Tuhan.

"Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga” (Mat. 5: 3).

Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah (MS)

Gereja Reformed Injili Indonesia Kelapa Gading

Download Ringkasan