God, Creation, and Consolation in the Book of Job

Mungkin Saudara berpikir, kitab Ayub bukan kitab yang ‘Natal’, karena harusnya Natal berkait dengan kegembiraan, sukacita, pesta, ada Anak yang lahir, pohon Natal, tukar hadiah, koor dan kebaktian Natal di semua bagian gereja, dsb. Tetapi, yang perlu kita pahami dari Kitab Suci, Natal justru terjadi dalam keadaan kelam. Itu sebabnya pergumulan tentang penderitaan justru lebih cocok untuk mempersiapkan kita masuk ke dalam sukacita Natal, yang tidak bisa dipahami jika kita memahami sukacita dan penderitaan dengan cara yang sempit. Natal menggugah kita untuk memikirkan ulang tentang apa artinya bahagia, mengapa para malaikat bersorak, mengapa dinyatakan mulia bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi, apa yang membuat kita boleh berharap dan bersukacita. Dalam hal ini, salah satu yang sangat kaya dan limpah adalah perenungan tentang penderitaan, serta mengapa Allah rela jadi manusia lalu masuk ke dalam penderitaan yang sedang dialami Israel.

Ketika kita melihat tema Perjanjian Lama, damai dan sukacita Israel harusnya terjadi kalau mereka bebas dari musuh, memiliki Bait Suci, ada anak Daud yang memerintah, dan ada imam yang melayani. Tanpa itu semua, Israel kehilangan banyak hal; hilang identitas, kebahagiaan, kedamaian –hilang segalanya. Allah justru datang di saat Israel kehilangan segalanya. Itu sebabnya kita akan merenungkan tema ini, menggumulkan kitab Ayub sambil merenungkan pengharapan yang Tuhan berikan di dalam kisah Natal.
Saya tidak akan memaparkan secara detail setiap ayat yang telah kita baca, namun akan sedikit mencuplik tema-tema dari kitab Ayub lalu kita sambungkan dengan perkataan Tuhan. Dalam hal ini, saya bersyukur adanya kotbah dari Yohanes Calvin di abad 16 mengenai kitab ini. Calvin mengkotbahkan kitab ini sampai kurang lebih 180 kotbah. Dari kotbah-kotbah itu ada beberapa pengertian penting yang saya ingin bagikan, yang menjadi tema utama kitab Ayub ini, menurut Calvin.

Dalam pengertian Calvin, hal yang sangat penting dari kitab Ayub adalah kedaulatan Allah. Ini merupakan tema yang penting; dan tidak ada bagian Kitab Suci yang dapat kita pahami, jika kita tidak mengerti bahwa Allah adalah Allah yang berdaulat. Namun, kedaulatan Allah dalam pengertian Calvin, bukanlah tentang kemampuan Tuhan untuk menyatakan kekuatan atau untuk menjalankan apa yang Dia ingin lakukan. Tentu saja kedaulatan Allah berarti Tuhan mampu menjalankan apa yang Dia inginkan, Tuhan mengerjakan apa yang Dia mau, dan Dia berhasil melakukannya –ini semua adalah bagian dari pengertian kedaulatan Allah. Meski demikian, tema yang sering Calvin  gaungkan ketika berbicara kedaulatan Allah, yaitu bahwa kedaulatan Allah berkait dengan pemeliharaan Tuhan, pemeliharaan Sang Bapa di surga (His fatherly care). Mengapa Allah berdaulat? Karena Dia adalah Bapa yang mau merawat, membimbing, mengasuh umat-Nya di tengah-tengah dunia ini. Inilah tema kedaulatan Allah.

Calvin tidak mempresentasikan tema kedaulatan Allah dengan cara yang melulu bersifat perdebatan teologis, seperti soal saya pakai baju apa, itu Dia sudah ditetapkan atau belum; kalau saya jatuh, itu Dia sudah ditetapkan atau belum, dsb. Perdebatan-perdebatan seperti itu membuat kita kehilangan esensi sebenarnya dari kedaulatan Allah. Dalam pengertian Calvin, Allah mengatur segala sesuatu, hal yang besar maupun yang kecil, hal yang agung maupun yang kita pandang remeh. Semua itu diatur oleh Tuhan; tidak ada yang tidak Dia atur. Allah mengatur segala sesuatu karena Dia adalah Allah yang memberikan providensia, topangan, pemeliharaan, sampai segala sesuatu masuk ke dalam kesempurnaan yang Dia rencanakan.

Allah berdaulat karena Dia mau membawa ciptaan ini masuk ke dalam keadaan yang Dia sudah rancangkan --inilah tekanan Calvin mengenai kedaulatan Allah. Itu sebabnya dalam salah satu kotbahnya dari kitab Ayub, Calvin mengatakan, penderitaan paling besar bukanlah penderitaannya Ayub, penderitaan paling besar bukanlah penderitaan orang yang sedang sulit, penderitaan paling besar adalah penderitaan orang yang tidak mengerti providensia Allah. Kalau kita tidak tahu bahwa Allah adalah Allah yang menopang, yang mengatur, yang memelihara, maka kita berada dalam penderitaan besar.

Waktu membaca kitab Ayub, Saudara tidak akan melihat Ayub menderita karena kehilangan banyak hal, bahwa Ayub yang tadinya kaya, banyak uang, diberkati dengan anak dll., lalu kehilangan semua itu, dan menjadi suatu penderitaan. Tentu saja tidak ada yang menyangkal itu memang penderitaan, namun Calvin mengingatkan, yang membuat penderitaan paling besar adalah ketika kita tidak mengerti bahwa semua yang terjadi itu berada di dalam tangan Tuhan yang mempedulikan kita, Sang Bapa yang memelihara kita. Jika kita tahu, respon kita akan sangat berbeda. Misalnya ketika Saudara sehat, Saudara mengatakan “ini adalah bagian dari pemeliharaan Bapa di surga”; lalu ketika sakit, bagaimana responsnya? Saudara mengatakan “ini juga bagian dari His fatherly care”. Saudara kemudian berjuang, berobat, ingin sembuh, dll., dan Saudara mengatakan “bagian yang saya kerjakan ini pun, di dalamnya terdapat God’s fatherly care”. Jadi, dalam keadaan apapun, kita sedang menikmati His fatherly care; maka bukankah ini membuat Saudara jadi orang yang berbeda, kalau mengetahui bahwa Allah adalah yang melakukan semuanya karena Dia sedang mengerjakan His fatherly care, dibandingkan dengan kalau Saudara tidak mengakui hal tersebut? Orang yang mengakui bahwa Allah bekerja dalam segala sesuatu, berdaulat dalam segala sesuatu, dan Dia sedang menjalankan pemeliharaan-Nya, akan berespons secara beda dibandingkan orang yang tidak menganggap bahwa Allah sedang bekerja di dalam segala sesuatu.

Mungkin Saudara menganggap tema ‘Allah bekerja dalam segala sesuatu’ adalah ide yang umum, yang semua orang Kristen tahu. Semua orang Kristen rasanya tahu ayat dalam Roma 8, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu; tidak ada orang Kristen yang mengabaikan fakta ini. Rasanya tidak ada dari antara jemaat, yang percaya Allah cuma bekerja 20% dari segala sesuatu, lalu 10%-nya lagi peluang, 10% lagi dewa Zeus, 5% lagi kekuatan kita sendiri, 105 lagi Jokowi, dan seterusnya; tentu saja semua jemaat akan mengatakan Allah bekerja dalam segala sesuatu. Tetapi dalam salah satu kotbahnya dari kitab Ayub, Calvin menyindir; dia mengatakan, waktu kita percaya providensia Allah, dan percaya bahwa Allah mahakuasa, di situ kita tidak hanya mempercayai sesuatu lalu kita biarkan begitu saja kepercayaan tersebut. Selanjutnya, kata Calvin: kepercayaan ini adalah kepercayaan yang secara efektif akan menggerakkan kita untuk mengasihi Dia. ‘Allah bekerja dalam segala sesuatu’ bukan cuma suatu tema yang kita akui sebagai benar, ini adalah tema yang membuat kita belajar mengasihi dan mempunyai takut akan Tuhan. Mengasihi Tuhan dan takut akan Tuhan adalah reaksi yang harusnya muncul ketika kita mengatakan ‘saya percaya Allah mengatur segala sesuatu’. Itu sebabnya kita tidak bisa dengan gampang mengatakan ‘saya percaya Tuhan bekerja dalam sesuatu’ tetapi kasih dan takut akan Tuhan tidak muncul. Namun --Calvin mengatakan—kasih dan takut akan Tuhan karena mengetahui Allah memelihara semua, tidaklah bisa muncul dengan gampang; munculnya perasaan kasih dan takut akan Tuhan adalah sesuatu yang terjadi karena Tuhan beranugerah di dalam segala hal, terutama penderitaan.

Tidaklah mudah bagi kita berkotbah tentang penderitaan, apalagi bagi Calvin. Calvin adalah seorang yang sangat menderita; dia mengalami banyak kesulitan. Dia pernah ditolak jemaat. Dia pernah diancam, kalau tidak pindah dari Jenewa, akan ada ledakan mesiu di rumahnya. Calvin juga mengalami kesulitan karena hampir setiap hari dia sakit. Carl Trueman mengatakan “kita mengeluh sakit karena kita tidak biasanya mendapat penyakit, tetapi Calvin berbeda; Calvin akan bersyukur atas kesehatan karena dia tidak biasanya mendapatkan keadaan seperti itu”. Keadaan Calvin makin memburuk, sehingga umur 55 tahun dia meninggal karena penyakitnya. Calvin juga seorang yang mengalami penderitaan karena kehilangan orang, yaitu kehilangan anak, lalu kehilangan istri karena meninggal. Dia juga mengalami kesulitan yang besar karena ditentang, ada kelompok yang memberontak terhadap dia, berulang-ulang terjadi. Penderitaan bukan hal asing bagi Calvin, tetapi di dalam kotbahnya dia memutuskan untuk berkonsentrasi pada apa yang Ayub alami dan gumulkan, ketimbang apa yang dirinya alami dan gumulkan. Dia percaya, apa yang dicetuskan Ayub, ataupun respons teman-temannya, dan juga perkataan Tuhan kepada Ayub, adalah bijaksana yang paling penting untuk membuat kita mengetahui providensia Allah dan mengetahui Allah berdaulat. Dari pengertian ini, maka cinta kepada Tuhan serta takut akan Dia mulai muncul. Itu sebabnya dia mengatakan, jika kita tidak mengerti providensia Allah, maka kita adalah orang yang paling kasihan. Kalau kita mengerti providensia Allah, kita akan bahagia; kalau mengerti Allah memelihara, maka kita akan mengasihi dan takut akan Tuhan.

Di dalam kitab Ayub, kedaulatan Allah dinyatakan dengan cara yang sangat kontroversial; dan yang paling kontroversial adalah Allah dan setan sepakat kerja sama untuk membuat Ayub sengsara. Saudara bisa bayangkan, betapa banyak orang kaget membaca kitab Ayub! Ada banyak bagian Kitab Suci yang bikin kita kaget, kalau kita membacanya dengan serius; banyak orang tidak pernah kaget waktu membaca Alkitab, karena membacanya memang tidak serius. Kamu sudah baca Alkitab berapa kali? 20 kali! Berapa kali kamu merasa kaget? Tidak pernah! Jadi yang dibaca 20 kali itu bahasa apa, ya?? Banyak bagian dari Alkitab dan juga Injil –misalnya Matius—yang di situ Saudara akan menemukan banyak sekali hal kontroversial, yang akan membuat Saudara mengatakan: “Tuhan, Engkau tidak berharap saya menjalankan ini, ‘kan?? Mana mungkin! Ini keterlaluan!” Ketika Saudara membaca Alkitab dan menemukan banyak hal yang kontroversial, itu berarti Saudara sudah lumayan serius membaca.

Kitab Ayub memaparkan banyak hal yang janggal dan mengagetkan. Yang pertama, setan bersama para malaikat menghadap Tuhan, kemudian Tuhan diskusi dengan setan seperti dengan teman lama. Ini membuat kita lumayan kaget, koq setan dengan Tuhan akrab juga, ya?? Tuhan bertanya, “Iblis, dari mana engkau?” Kita kaget, koq, Iblis ditanya?? Saya pikir, kalau Tuhan ketemu Iblis, maka Iblis langsung diusir; rasanya tidak ada pengkotbah yang ketika berkotbah dia berdiskusi dengan setan. Dan inilah yang terjadi, Tuhan berdiskusi dengan setan seperti berdiskusi dengan teman akrab. Namun, Calvin mengatakan, pembacaannya seharusnya tidak ke sana; pembacaan bagian ini bukan soal Tuhan dengan setan akrab, melainkan bahwa penderitaan Ayub murni karena Tuhan memutuskan untuk mendatangkan hal itu kepada dia --dalam hal ini setan dikeluarkan dari gambaran. Itu sebabnya dalam diskusi Tuhan dengan setan, meskipun kelihatannya akrab bagi kita, di dalam tradisi Yahudi mengandung pernyataan otoritas. Waktu Tuhan tanya kepada setan “dari manakah engkau”, ini pertanyaan otoritatif. Tuhan lebih berotoritas daripada setan, Tuhan dan setan tidak berada dalam level yang sama. Ini bukan diskusi antar teman; ini pernyataan otoritasnya Tuhan –atau dalam pengertian Calvin, ini adalah pernyataan kedaulatan Tuhan. Tuhan berdaulat bahkan atas setan, maka Dia tanya. Pertanyaan Tuhan kepada setan bukan karena perlu informasi, tapi seperti pertanyaan seorang papa kepada anak remajanya “jam berapa sekarang”, ketika anak itu pulang larut malam. Di situ Saudara tanya ‘jam berapa’ bukan karena perlu info, tapi menunjukkan bahwa Saudara punya otoritas, dan anak Saudara itu sedang melanggar perjanjian yang sudah disepakati.

Apa tujuan Tuhan bertanya ini? Ada satu tafsiran mengatakan, Tuhan tanya begini untuk membuat setan menggali memori buruknya tentang Ayub. Maksudnya, setan keliling dunia dengan tujuan untuk menjatuhkan manusia; tapi dia kepentok dengan Ayub, Ayub tidak kunjung jatuh. Karena apa? Karena Ayub orang yang sangat saleh, dia mendoakan anak-anaknya, dia tidak pernah melanggar, dia tidak pernah melakukan apapun yang salah. Di sini Ayub berhasil mempermalukan setan, karena setan tidak bisa menjatuhkan dia. Maka waktu Tuhan tanya “dari manakah engkau”, lalu setan jawab “dari keliling dunia”, dan Tuhan tanya “ketemu Ayub, ya?”, itu betul-betul memalukan setan. Misalnya saya seorang importir arloji, dan Pak Ruben salesman yang hebat, yang bisa menjual jam apapun kepada siapa pun lewat kemampuannya bicara. Tapi kemudian dia kepentok satu orang yang kaya luar biasa namun pelit luar biasa, yang berapa pun tidak mau bayar dan hanya mau gratis, sehingga Pak Ruben merasa harga dirinya dihancurkan oleh orang ini. Lalu kalau saya tanya, “Bagaimana Pak Ruben, sudahkah kamu bertemu Pak Pelit?” maka Pak Ruben akan jawab, “Tolong jangan bahas itu, dia itu orang ada gangguan jiwa”. Seperti inilah yang dinyatakan oleh Iblis, dia bilang “Tahu ‘gak, kenapa Ayub tidak bisa jatuh, itu karena Tuhan treats him specially, Tuhan jaga dia lebih dari yang lain”, seolah-olah setan mengatakan kepada Tuhan ‘providensia-Mu atas Ayub itu kebangetan’. Bayangkan, anaknya Ayub 7 laki-laki, 3 perempuan --itu angka spesial bagi orang Yahudi—dan lagi, Ayub kekayaannya luar biasa, hikmatnya besar, tidak ada cacatnya. Itu sebabnya Iblis bilang, dia tidak bisa menjatuhkan Ayub karena pemeliharaan Tuhan lebih spesial daripada yang lain.

Tuhan lalu mengatakan “Oke, Saya akan cabut harta dan segala hal yang kamu anggap spesial, silakan serang dia tapi jangan sentuh tubuhnya”; dan Iblis pun menghacurkan harta dan segala milik Ayub. Tapi Tuhan tidak pernah mengatakan bahwa providensia-Nya besar kepada Ayub dengan Dia memberikan segalanya itu; Tuhan ingin mengatakan, meski Ayub tidak memiliki semua kekayaan itu, bahkan juga anak, providensia Allah tetap ada. Ayub bukan mendapatkan providensia Allah secara spesial dalam arti memiliki semua hartanya itu; meskipun seluruh harta ludes, Tuhan ingin membuktikan bahwa providensia Allah tetap ada. Namun, providensia Allah yang tetap ada pun perlu dipahami Ayub dengan bergumul. Ayub tidak bisa dengan gampang mengatakan ‘ada providensia, koq’.

Awalnya, Ayub mempunyai kemampuan luar biasa untuk mengatakan, “Tuhan memberi, Tuhan mengambil, terpujilah nama Tuhan.” Ketika sudah hancur semuanya, dia masih mampu mengatakan kalimat agung itu, maka setan bilang, “Semua yang dimiliki Ayub sudah hilang, tapi masih memiliki tubuh yang sehat; sekarang bikin dia sakit, maka dia akan mengutuki Engkau”, maka Tuhan mengatakan, “Silakan perlakukan semaumu, tapi jangan menyentuh nyawanya.” Iblis pun membuat Ayub sakit luar biasa. Namun di bagian belakang Saudara melihat, bukan Iblis yang punya rencana untuk menimpakan Ayub segala hal ini, tetapi Tuhan. Itu sebabnya kedaulatan Allah perlu digumulkan. Ini bukan sesuatu yang dengan gampang kita katakan “Tuhan pelihara, koq”. Kalimat-kalimat yang kadang kita keluarkan dengan gampang, tidak tentu menunjukkan pengertian kita.

Orang sering mengeluarkan kalimat-kalimat besar dari Kekristenan tapi tidak tahu caranya bergumul untuk sampai pada kalimat tersebut. Pendeta Tim Keller pernah mengatakan, seringkali kalimat-kalimat orang Kristen cuma seperti bumper sticker di belakang mobil, hanya kalimat-kalimat kosong yang tidak pernah sungguh-sungguh digumulkan. Ayub mengatakan, “Terpujilah Tuhan yang memberi, terpujilah Tuhan yang mengambil”; tapi setelah Tuhan timpakan sakit pada kulitnya yang membuat dia terusir dari masyarakat dan akhirnya kehilangan segalanya –harta, anak, kesehatan, penghargaan orang-- Ayub mulai mengutuki hari lahirnya. Ayub sebenarnya gagal kalau dibandingkan dengan ucapannya yang di awal tadi, dia tidak lagi mengatakan “Tuhan memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan.” Ayub bergumul.

Ayub bergumul dengan segala kesesakan ini, dan berdoa kepada Tuhan menyatakan keinginannya untuk mendapatkan jawaban. Jawaban apa yang diinginkan Ayub? Dalam pengertian Calvin, Ayub mempertanyakan Allah mengenai keadilan Allah. Di dalam pengertian orang Yahudi, hikmat, takut akan Tuhan, dan kesetiaan menjalankan kehendak Tuhan, adalah hal-hal yang akan menyebabkan Saudara diberkati; sebaliknya, orang kejam, orang bodoh, orang yang menghina Tuhan, pasti akan Tuhan timpakan hukuman. Ini tema penting yang dipahami orang Yahudi dalam tradisi Perjanjian Lama, termasuk Ayub. Maka Ayub mempertanyakan keadilan Tuhan, “Kalau benar Tuhan menghukum saya, maka Tuhan harus bongkar apa yang menjadi dosa saya; tapi saya tidak merasa berdosa, maka Tuhan harusnya memberi pengertian mengenai hal apa yang salah, yang saya lakukan. Tuhan adalah Hakim, karena itu Tuhan harus menyatakan diri kepada saya”. Inilah yang Ayub harapkan. Tuhan bikin saya menderita, maka Tuhan harus jawab apa salah saya; dan kalau saya tidak salah, maka saya akan mulai mempertanyakan keadilan Tuhan.
Saudara, kitab-kitab dalam Kitab Suci mempunyai sentuhan doktrinal yang unik; jangan campur adukkan dengan cara sembarangan doktrin dimasukkan ke dalam kitab yang tidak sedang membahas doktrin tersebut. Kita perlu membaca Alkitab dengan cara yang Alkitab mau, sehingga  Saudara dan saya akan lebih mampu mengerti doktrin. Tapi seringnya, kita baca Alkitab dengan didikte oleh doktrin, sehingga waktu membaca kitab Ayub, umumnya Saudara jadi mau menasehati Ayub. Waktu Ayub bilang, “Tuhan, aku berdosa apa; kalau aku tidak berdosa, mengapa menghukum saya?” lalu kita --didikte oleh doktrin-- mengatakan kepada Ayub persis seperti yang dikatakan teman-teman Ayub, bahwa Tuhan tidak mungkin memberikan penyakit dan penderitaan kepada orang benar, jadi Ayub pasti tidak benar. Akhirnya di sini kita pilih doktrin-doktrin yang ‘gak nyambung dengan apa yang sedang dibahas kitab Ayub, misalnya doktrin ‘original sin’ (dosa asal). Saya tidak mengatakan kitab Ayub menentang original sin; Alkitab mengatakan semua orang sudah berdosa, tidak ada yang tidak berdosa, semua orang lahir dalam kecemaran --dan itu benar. Tapi kitab Ayub tidak sedang membahas aspek itu, sehingga Saudara tidak bisa mengatakan: “Pantas saja Ayub menderita, ‘kan semua orang ada dosa asal; kalau Tuhan mau bikin hidup kita menderita, itu memang boleh, dan kita musti terima apa adanya”.

Di dalam perdebatan abad pertengahan, ada satu perdebatan dari kaum Nominalis, yang intinya mereka mengatakan: Tuhan adalah Tuhan, karena Dia bisa menentukan apapun tanpa didikte pendapat kita; dengan demikian, Tuhan bisa ‘baik’ meskipun ‘baik’ itu adalah sesuatu yang kita sulit pahami berdasarkan ide yang kita miliki. Jadi yang dimaksudkan begini: Saudara bilang Tuhan itu baik, tapi ‘baik’-nya Allah itu tidak tentu sama dengan ‘baik’ yang Saudara harapkan. Misalnya, orang dipukul oleh seseorang, maka yang memukul itu baik atau jahat? Saudara akan bilang “dia pukul orang lain, dia pasti jahat”. Lalu kalau Tuhan pukul orang, Tuhan baik atau jahat? Dan Saudara bilang, “kalau Tuhan, baik”.  Koq baik tapi pukul orang? Saudara lalu jawab, “Karena ‘baik’-nya Tuhan, tidak harus sama dengan pengertian ‘baik’-nya kita.” Jadi dalam hal ini ‘baik’-nya Tuhan bisa ditafsirkan ke mana-mana; Tuhan bisa baik dan bisa hukum orang benar, itu tidak masalah, karena Tuhan bisa lakukan apapun yang Tuhan mau. Perdebatan ini sangat mengganggu orang-orang seperti Luther maupun Calvin, karena itu berarti Tuhan bisa melakukan apapun yang Dia mau; dan itu adalah ide yang ditentang Luther maupun Calvin. Tuhan tidak akan melakukan apapun yang Dia mau. Tuhan akan kerjakan segala sesuatu berdasarkan karakter-Nya; dan Dia sudah menyatakan karakter-Nya, dan itu tidak mungkin salah. Jadi Tuhan tidak mungkin jahat; tetapi Saudara tidak boleh reinterpretasi-kan ‘jahat’, lalu mencegah Tuhan jadi jahat dengan mengatakan yang Tuhan kerjakan tidak ada yang jahat.

Luther sangat percaya apa yang Tuhan kerjakan adalah baik –ini tema penting yang dia nyatakan. Tidak ada orang akan bersukacita jadi Kristen, kalau dia tidak mengatakan Tuhan itu baik. Tapi apakah ‘baik’ membuat orang benar menderita? Ini menjadi tema yang sulit dan digumulkan dengan serius oleh Calvin, maka menurut Calvin, daripada bilang ‘Tuhan kerjakan apapun terserah Dia, tapi kita tetap harus bilang Dia baik’, lalu kita secara sembarangan mendefinisikan ‘baik’ karena kita tidak mengerti apa yang Tuhan kerjakan, lebih baik kita dengan rendah hati mengatakan bahwa ini memang sisi yang kita belum mengerti. Dengan demikian, pertanyaan ‘kalau Ayub benar lalu Tuhan bikin dia menderita, apakah itu baik?’ jawaban yang lebih tepat menurut Calvin adalah: “Pada akhirnya itu baik, tapi sekarang saya belum mengerti mengapa ini baik”.

Jadi, kita tidak mengatakan Allah itu baik meskipun Dia melakukan hal-hal yang kita tidak mengerti dan dalam hal ini kita musti pikir kembali arti ‘baik’. Misalnya, Tuhan mengatakan orang yang beriman kepada-Nya akan diselamatkan, lalu Saudara beriman kepada Tuhan tapi Tuhan tetap buang ke neraka; di sini jadinya Tuhan baik atau tidak? Menurut kaum Nominalis, di sini kita musti intepretasi ulang arti ‘baik’, dan ini berarti baik adalah baik meskipun itu berarti membuang orang benar ke neraka --itu tidak baik menurut kamu, tapi bagi Tuhan baik-baik saja, jadi kita harus terima itu sebagai baik. Inilah yang Calvin tidak setuju. Tuhan menghukum orang benar, itu tidak baik sama sekali, tapi mengapa Tuhan melakukan, saya tidak mengerti; inilah yang Calvin mau ajarkan. Dia mengeluarkan istilah “aliam voluntatem absconditam”, maksudnya ini adalah another will yang asing bagi kita, tapi kita tidak langsung loncat kepada kesimpulan bahwa Tuhan bikin orang benar menderita itu baik. Calvin mengatakan, jangan masuk ke situ kesimpulannya. Lalu mengapa Ayub menderita? Karena Allah punya another will, kehendak yang saya tidak mengerti, kehendak yang menyatakan apa yang Dia mau tapi yang saya tidak tahu.  Maka bagi Calvin, tidak tahu bukanlah halangan untuk menikmati kemuliaan Tuhan, tidak tahu bukanlah halangan untuk menikmati Allah, selama Saudara precaya providensia Allah. Ini indah sekali.

Saudara tetap bisa menikmati Tuhan meskipun Saudara tidak mengerti apa yang Dia kerjakan, selama Saudara percaya Dia adalah Allah yang sedang mengerjakan His fatherly care. Ayub bilang, “Saya sakit begini, saya menderita begini, saya sudah kehilangan semuanya, tidak ada orang yang tolong saya, tidak ada yang dekati saya, saya dihukum; dan saya ingin tahu, salah apa?” Lalu temannya mengatakan, “Pasti banyak salahmu”. Tapi Tuhan bilang, “Dia tidak salah”. Lho, kalau tidak salah, mengapa dihukum? Jawabannya: saya tidak mengerti, tapi saya terhibur dengan fakta bahwa Allah adalah Allah yang menjalankan His fatherly care (pemeliharaan-Nya) yang indah.

Calvin mengatakan, meskipun ketersembunyian ini --sisi gelap yang kita tidak mengerti ini-- akan sangat mengancam iman, tapi kita akan mengerti ancaman ini melalui keluh kesah dan penderitaan Ayub. Coba Saudara bayangkan seandainya kitab Ayub tidak ada keluhan-keluhan Ayub; waktu harta benda dan anak-anaknya habis, Ayub bilang “Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil”, lalu waktu sakit Ayub juga bilang “Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil”, akhirnya Iblis akan bilang, “Tuhan, benar Kamu, saya kalah deh”, lalu the end. Itu happy ending; jadinya kitab Ayub dengan pahlawan iman yang namanya Ayub, yang tidak ada keluh kesah, tidak ada pergumulan, tidak ada kata-kata yang bahkan dekat sekali dengan mengutuk. Tetapi yang Saudara baca dalam kitab Ayub tidak begitu. Ayub berani sekali bicara, dia bukan bicara dengan tata teologi yang bagus seperti misalnya ‘Allahku, aku tahu aku menderita, namun aku percaya providensia-Mu’. Ayub tidak mengatakan itu, dia benar-benar marah dengan keadaannya, dan dia mempertanyakan Tuhan dengan bahasa yang dekat dengan mengutuk –dan Tuhan tidak sensor bagian itu. Ketika Ayub mengatakan “Terkutuklah hari lahirku; terkutuklah ketika ada orang mengatakan ‘engkau mengandung seorang anak’”, itu tidak disensor atau diubah sedikit misalnya jadi ‘hari ketika aku lahir itu kurang beruntung’, ‘hari ketika ada orang mengumumkan seorang ibu mengandung seorang anak, itu bukan hari yang lumayan baik’. Alkitab tidak mengenal lembaga sensor, Alkitab cuma tahu semua yang dinyatakan itu harus ditulis, sehingga kita boleh baca dengan segala kejujuran dan kebenaran.

Ayub berkeluh kesah dengan sangat, dia tidak menyembunyikan penderitaannya terhadap Tuhan. Meskipun dia tidak membutuhkan teman-temannya untuk jadi tempat mencurahkan semua isi hatinya, dia datang kepada Tuhan dengan berani. Itu sebabnya, kemampuan Ayub untuk datang kepada Tuhan dengan berani, dengan tulus dan sungguh-sungguh, dengan mengungkapkan segala sesuatu secara sangat jujur, membuat kita punya kekuatan di dalam memahami apa yang sedang terjadi. Bagaimana manusia harusnya bereaksi di tengah penderitaan? Ternyata adalah dengan keberanian untuk mengungkapkannya dalam doa kepada Tuhan. Saudara dan saya tidak akan mengerti penderitaan, pergumulan, dan kemenangan, kecuali kita memahami bagaimana orang saleh dengan jujur bergumul di dalam penderitaan, kekurangan, kesulitan, dan kesetiaan kepada Tuhan --dalam pergumulan yang riil, bukan pergumulan yang super human. Pasti akan mengerikan kalau kita melihat tokoh-tokoh Alkitab sebagai manusia super yang tidak disentuh oleh pergumulan mere mortal seperti kita. Kalau kita berpikir kita ini orang-orang biasa sementara Ayub manusia super, kita orang-orang kerdil iman sementara Ayub raksasa iman, maka jadinya marilah kita hargai para raksasa iman itu, dan kita tidak akan pernah kayak mereka, biar saja mereka bergumul dengan super sementara kita bergumul dengan kelemahan kita. Tetapi itu bukan berita Alkitab.

Alkitab mempresentasikan Ayub sebagai tokoh yang bergumul dengan jujur di hadapan Tuhan. Dan dari sini kita mendapatkan pengertian, betapa besarnya kesulitan manusia untuk memahami Allah. Bayangkan, Ayub ini adalah seorang yang membuat setan keliling dunia dua kali dan gagal, sementara Saudara dan saya sepertinya tidak begitu, mungkin setan belum juga keliling, tapi sudah langsung dapat target gampang, diri kita. Dan Ayub mengatakan dalam kitab ini, “Tahu tidak, berapa banyak orang di sekeliling saya yang akan mungkin membuat saya berdosa, berapa banyak perempuan yang sangat mungkin saya ambil untuk jadi selingkuhan saya atau tempat saya melampiaskan kesenangan, tapi saya tidak jatuh di situ, saya tidak lakukan apa yang mungkin saya lakukan”. Ayub adalah orang yang sangat mempertahankan kekudusannya. Namun, dia kesulitan untuk memahami the other will of God.  Dan ini membuat kita terhibur, karena ternyata Ayub dan kita berada dalam pergumulan yang sama. Dalam kisah gelapnya Ayub, Allah menyatakan di dalam kitab Ayub bahwa Dia tetap mengatur segala sesuatu. Tuhan tidak melepaskan hal ini dan mengatakan “Ayub, mohon maaf, engkau mengalami penderitaan yang sulit karena setan, gara-gara dia kamu menderita”, tapi Tuhan mengatakan “Akulah penyebab engkau mengalami ini”.

Tuhan tidak mengatakan bahwa Dia cuma menguasai 50% dari alam, lalu 50% lagi dibiarkan kepada kebebasan serta chance; Tuhan mengatakan, “Ini terjadi karena Saya lakukan”. Hal ini sepertinya jadi gangguan bagi kita; tapi manakah yang lebih enak, mengatakan penderitaan Ayub itu karena setan, atau penderitaan Ayub disebabkan oleh Tuhan? Misalnya Saudara menginjili seseorang, “Allah itu baik, Dia mengasihi engkau, Dia mau engkau selamat maka Dia mengirim Yesus Kristus menjadi Juruselamatmu”, lalu orang itu bilang, “O, Allah baik, ya, tapi mengapa Dia bikin Ayub menderita di kitab sucimu?” Dan Saudara menjawab “yang membuat Ayub menderita itu setan”, maka mungkin lebih mudah membuat orang itu mau jadi Kristen. Kita agak susah mengatakan bahwa Tuhanlah yang bikin Ayub menderita, karena kita ingin berpegang pada Tuhan yang aman dan bisa diatur. Kita ingin pengaturan ada di tangan kita. Kita ingin, kalau kita menerima Tuhan sebagai Tuhan dan menerima Kristus sebagai Juruselamat, Dia akan dengan aman meng-konfirmasi segala pengertian kita dan mendukung segala program kita. Alangkah indahnya setelah saya percaya Tuhan, Dia konfirmasi segala program saya; saya tidak mau masuk ke dalam keadaan membingungkan, jadi tolong setelah saya percaya Tuhan, Tuhan kasih perjanjian di depan bahwa Dia mau ngapain, lalu saya tanda tangan kalau saya setuju. Tapi Alkitab mengajarkan kepada kita, bahwa tokoh-tokoh dalam Alkitab, sejak Adam sampai kitab Wahyu, bergumul dengan kesulitan mengikuti Tuhan. Allah adalah Allah yang begitu sulit diikuti karena kita jauh dari apa yang seharusnya, di dalam kekudusan Tuhan.
Mengikuti Tuhan adalah hal yang sangat sulit, dan penuh pergumulan. Tetapi –kata Calvin—adalah jauh lebih enak mengatakan bahwa Tuhan mengatur ini semua ketimbang lemparkan itu kepada yang lain.

Ketika Saudara mempercayai bahwa Allah berdaulat karena Dia punya fatherly care bagi kita, maka kita sebenarnya tidak akan kehilangan pengharapan. Waktu Saudara mempercayai Tuhan yang kerjakan semua ini, Saudara tidak lepas pengertian bahwa Allah adalah Allah yang mengerjakan providensia sebagai Bapa yang membawa ciptaan kepada kesempurnaan. Kita bergumul dalam hidup, tapi kita tidak lepas pengertian bahwa Allah itu Bapa; karena Dia Bapa, maka apapun yang Dia kerjakan adalah bentuk dari fatherly care untuk membawa ciptaan ini ke dalam kesempurnaannya. Itu sebabnya penderitaan pun akan memberikan kelebihan yang besar. Pendeta Billy mengatakan, ketika penderitaan terjadi, penderitaan itu justru memperluas hati manusia, dan luasnya hati manusia ini adalah luas untuk menampung penghiburan Tuhan; penghiburan Tuhan akan mengena pada orang yang dalam keadaan sangat sulit. Kitab Ayub memberikan kepada kita keindahan berpegang kepada Allah sebagai pengatur segala sesuatu, ketimbang melempar hal itu kepada setan. Kalau orang Kristen suka menyalahkan setan dalam segala sesuatu, itu hal yang buruk. Mengatakan keadaan buruk sebagai sesuatu yang dari setan dan yang baik hanya dari Tuhan, itu akan membuat pergumulan menikmati Tuhan dan providensia-Nya jadi sangat tereduksi. Itu sebabnya kitab Ayub tidak pernah membuang Allah sebagai yang mengatur segala sesuatu.

Dan, yang membuat kita bahagia dalam membaca kitab ini, adalah bahwa kitab ini tidak pernah keluar dari jalur yang sudah diarahkan dalam Perjanjian Lama. Ini adalah kitab yang sangat berkoneksi dengan kitab-kitab yang lain. Kitab-kitab di dalam Alkitab menyatakan tema yang saling berkait satu sama lain; kitab-kitab yang ditulis belakangan, sering mereferensikan kitab-kitab sebelumnya di dalam tulisan mereka, demikian juga kitab Ayub membagikan kepada kita tema yang sangat sering berulang di dalam Perjanjian Lama. Dalam Perjanjian Lama, salah satu tema yang sering berulang adalah tema penciptaan (creation). Kisah penciptaan adalah tema dominan dari Alkitab, bahkan lebih dominan dari kisah keselamatan. Saya tidak mengatakan keselamatan tidak penting, tapi kalau Saudara baca Alkitab, keselamatan pun dikaitkan dengan penciptaan. Ketika membaca Yohanes 3, orang selalu menafsirkan itu berkaitan dengan keselamatan jiwa saya; kalau saya percaya Tuhan Yesus, saya selamat, saya tahu dari Yohanes 3: 16. Tapi, Yohanes 3 dimulai dengan diskusi tentang Kerajaan Allah dan kelahiran kembali, yang berarti penciptaan kembali. Jadi keselamatan adalah tema penting, namun kisah penciptaan adalah tema yang lebih dominan. Inilah yang akan kita lihat dalam kitab Ayub.

Ketika Tuhan menjawab Ayub, Dia memberikan jawaban dengan cara yang sangat unik, yaitu dengan Dia menunjukkan kisah penciptaan. Namun keunggulan dari kitab-kitab dalam Alkitab adalah kitab-kitab itu selalu bukan cuma mengulangi pengertian sebelumnya, tapi juga memberikan nuansa baru dalam tema yang lama, memberikan variasi tapi tetap mengajarkan tema yang sama. Tuhan menjawab kepada Ayub, “Di manakah engkau ketika Aku menciptakan langit, ketika Aku menetapkan bintang-bintangnya, ketika Aku menarik batas cakrawala, ketika Aku membuat daratan dengan berisi air laut? Bagaimana? Apakah kamu punya pengertian? Aku mau bertanya kepadamu sebagai laki-laki.” Waktu membaca itu, Saudara akan ingat tema penciptaan, karena dalam kisah penciptaan Allah adalah Allah yang membentangkan cakrawala –sebelum ada manusia-- Allah adalah Allah yang meletakkan bintang-bintang, bulan, dan matahari di cakrawala ini, Allah adalah Allah yang menarik batas laut sehingga tidak melampaui daratan; Allah adalah Allah yang mengatur segala sesuatu.

Kisah penciptaan dipaparkan dalam kitab Ayub sebagai pemberi penghiburan kepada Ayub, bukan pemberi jawaban. Allah tidak menjawab Ayub, Allah malah tanya Ayub; tetapi pertanyaan Allah adalah pertanyaan yang memaparkan kisah penciptaan di hadapan Ayub. Dulu saya tidak mengerti, mengapa memaparkan kisah penciptaan bisa menghibur Ayub. Misalnya Saudara ke rumah sakit, bertemu dengan orang yang sudah sangat menderita, lalu Saudara membacakan “pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi; bumi belum berbentuk dan kosong”, lalu tiba-tiba orang itu lega, “Puji Tuhan, Pak, terima kasih untuk ayat-ayatnya”; atau Saudara bertemu orang depresi yang hampir bunuh diri, lalu Saudara mengatakan “pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi; bumi belum berbentuk dan kosong, samudra raya menutupi seluruh bumi, Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air, lalu berfirmanlah Allah ‘jadilah terang’”, dan orang itu berkata “Sudah Pak, cukup, saya tidak jadi bunuh diri karena kata-kata yang Bapak katakan indah sekali, terima kasih, Pak”, maka kalau seperti itu, kita bisa jadi konselor tanpa belajar apapun karena mengutip Kejadian 1 langsung berhasil. Tetapi, tentu saja Tuhan tidak memaparkan penciptakan tanpa peka terhadap konteksnya Ayub.

Tuhan memaparkan kisah penciptaan bukan sekedar mengulangi Kejadian 1. Tuhan menyatakannya sesuai dengan konteksnya Ayub, maka Tuhan bertanya balik kepada Ayub. Ayub tanya Tuhan “kenapa saya begini?”, Tuhan balik tanya kepada Ayub “kamu sudah mengerti penciptaan apa belum?” –harusnya sudah lumayan mengerti. Lalu Tuhan bilang “kamu merasa ngerti, tapi kamu ‘gak ngerti karena kamu tidak ada waktu Aku menciptakan langit dan benda-benda langit”; dan selanjutnya pembicaraan bergerak ke penciptaan binatan-binatang sebagaimana ayat-ayat yang kita baca tadi. Di situ ada pembicaraan tentang binatang-binatang yang tidak peduli providensia, binatang-binatang yang agung tapi tidak peduli keturunannya akan jadi apa. Ada burung yang setelah bertelur, membiarkan telurnya. Ada binatang yang setelah beranak, tidak terlalu mempedulikan anaknya. Kalau Saudara pernah melihat proses kelahiran anak kuda, anak kuda itu lahir lalu jatuh ke bawah dan induknya tetap berdiri, anak itu dibiarkan sampai dia berdiri sendiri lalu mendekat ke induknya, seakan-akan induknya bilang, “sudah lahir ya, urus sendiri, berdiri dulu!” Bayangkan kalau Saudara seperti itu! Maka di sini Tuhan sedang mengatakan, ‘kalau binatang-binatang ini Saya biarkan, apa bisa bertahan?’

Jadi, Tuhan mau mengatakan kepada Ayub ‘kamu sudah mengerti tentang binatang?’ dan Ayub bilang, ‘mengerti, kami ada untuk menaklukkan dan menguasai binatang-binatang, seperti diperintahkan Tuhan di kitab Kejadian’. Selanjutnya Tuhan seperti mengatakan kepada Ayub, ‘benarkah kamu yang taklukkan? apa kamu yang pelihara mereka? apa kamu yang rawat telur-telurnya? waktu mereka lapar, kamu yang kasih makan? waktu burung bangkai mau makan, kamu yang sediakan bangkainya?’ Di sini Tuhan sedang mengatakan, bahwa His fatherly care terlihat dari alam, bahwa kamu bisa merenungkan tentang hal itu ketika melihat alam. Dan waktu kita melihat alam, mungkin kita tidak melihat segala sesuatu teratur dan terstruktur berdasarkan pengertian kita, sehingga di sini Tuhan tanya berkali-kali “apakah engkau punya pengertian?” Mengertikah kamu mengapa ada binatang seperti ini yang Tuhan ciptakan, mengapa ada langit seperti ini, mengapa Tuhan ciptakan lewiatan dan behemot, adakah kamu punya pengertian atau tidak? Maka kemudian Ayub dengan rendah hati berkata: “Saya akan berhenti berbicara”, namun dia mulai memahami satu hal, yaitu bahwa God’s fatherly care adalah sesuatu yang nyata, meskipun saya tidak bisa memahami apa yang terjadi di dunia binatang maupun di langit. Mengapa tidak ada yang memahami langit? Karena tidak ada yang mendekat ke situ. Mengapa tidak ada yang memahami dunia binatang? Karena banyak hal dalam dunia binatang yang sulit kita mengerti sebenarnya.

Dalam kitab Ayub, ketika Tuhan mempertontonkan kembali kisah penciptaan, Tuhan mau mengatakan kepada Ayub: “Jika kamu percaya bahwa Aku berdaulat atas segala sesuatu, maka engkau akan percaya bahwa Akulah yang memulai penciptaan dan yang memeliharanya sampai tujuan yang jelas.” Tujuan jelasnya di mana? Di dalam rencana Allah, yang punya kedaulatan. Sehingga di sini Tuhan sedang mengatakan bahwa apa yang terjadi pada diri Ayub, itu masih berada dalam rencana Tuhan. Tapi rencana Tuhan mengapa seperti ini? Ya, kamu memang tidak bisa mengerti, seperti juga kamu tidak mengerti burung unta, kamu tidak mengerti mengapa kuda setelah melahirkan anak lalu anaknya dibiarkan begitu saja, kamu tidak mengerti burung nasar bisa mendapatkan makanannya dari binatang yang sudah mati. Betapa ini kalimat-kalimat Tuhan yang mengagumkan! Ayub bahkan tidak kepikiran bagaimana cara Tuhan memelihara binatang-binatang ini. Dengan demikian, hal yang melegakan dari kitab Ayub adalah bahwa Tuhan mengatakan apapun yang terjadi pada Ayub, di tahap manapun, itu masih sesuai rencana, Tuhan yang pegang, dan Tuhan yang bawa kepada kesempurnaan.

Dalam kitab ini Ayub tidak mendapatkan pengertian tapi malah Tuhan yang balik tanya, “Memang kamu mengerti alam?” dan jawab Ayub, “Saya tidak mengerti”; Tuhan tanya, “Di mana kamu”, Ayub bilang, “Saya belum ada.” Lalu, kalau kamu tidak mengerti, bagaimana kamu dapat penghiburan? Saya dapat penghiburan dengan percaya God’s fatherly care; saya tidak mengerti apa yang Tuhan kerjakan, tapi saya tahu, Tuhan yang akan bawa ciptaan menuju kesempurnaan. Inilah yang membuat kita bersiap menerima kisah paling kelam sedunia, yaitu kisah ketika Sang Anak Allah sendiri menjadi manusia dan mengalami kekelaman yang tidak ada jawaban. Sangat enteng kita mengaku tahu mengapa Yesus di salib; “saya mengerti koq, Yesus disalib karena ganti saya”. Tapi apakah hanya itu? Ada banyak hal lain di dalam Alkitab yang masih perlu digali tentang mengapa Yesus mati. Dan hal ini adalah hal yang membukakan kepada kita, bahwa meskipun kita tidak mengerti, kita tahu inilah jalan keselamatan bagi kita, inilah jalan pembaharuan bagi ciptaan, inilah jalan yang Tuhan tetapkan di dalam kedaulatan-Nya sebagai Bapa yang memelihara segala sesuatu.

Kiranya pengertian ini membawa kita ke dalam perenungan tentang siapa Tuhan, dan mengapa Allah rela jadi manusia, mengalami segala penderitaan, kesesakan dan kegelapan yang dialami orang berdosa di tengah dunia ini. Kiranya Tuhan memberkati kita.

Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah (MS)

Gereja Reformed Injili Indonesia Kelapa Gading

Download Ringkasan