Mazmur 15 - Hadir dalam Kehadiran Tuhan (KU3)

Ayat-ayat atau pasal-pasal seperti Mazmur 15 ini, kalau kita baca dari perspektif Reformed Injili seakan agak janggal. Maksudnya, seolah-olah ada syarat untuk kita bisa hadir di dalam kehadiran Tuhan, sementara dalam hal ini kita biasa diajarkan bahwa kita bisa menghadap Tuhan bukan karena kualifikasi-kualifikasi atau kebajikan-kebajikan tertentu, melainkan semata-mata karena anugerah Tuhan, karena kesempurnaan korban Kristus. Kalau begitu, mengapa di bagian ini seperti diberikan satu kualifikasi yang seolah-olah menjadi syarat bagi kita? Persoalan ini menjadi satu bagian yang kita harus bahas. Namun sebelumnya, kita perlu merenungkan Mazmur 15 ini dalam keindahan dan keunikannya sendiri.

Ada prinsip-prinsip yang bisa kita pelajari dari mazmur ini, termasuk bagi kita yang sudah lahir baru, yang sadar bahwa ketika kita menghadap Tuhan, itu adalah karena kita dilayakkan oleh Tuhan. Kepentingan dari nyanyian-nyanyian seperti ini adalah supaya waktu kita menghadap hadirat Tuhan, kita dibebaskan dari semacam rutinitas keagamaan yang mekanis dan kosong, yang cuma kebiasaan atau tradisi, dsb., yang kemudian membuat kita lupa siapa Tuhan dan siapa diri kita, kita jadi cenderung take it for granted bahwa kita bisa datang kepada Tuhan kapan saja menghampiri takhta kasih karunia-Nya. Kita perlu berhati-hati dengan gambaran rutinitas keagamaan yang seperti ini.

Ayat pertama ini dimulai dengan pertanyaan, “TUHAN, siapa yang boleh menumpang dalam kemah-Mu? Siapa yang boleh diam di gunung-Mu yang kudus?” Ayat ini mengajak kita untuk berpikir secara reflektif dan introspektif, melihat diri kita ini siapa di hadapan kekudusan Tuhan. Kalau bagian ini hilang, ibadah kita akan gampang sekali masuk ke dalam rutinitas. Waktu pemazmur, yaitu Daud, menanyakan kalimat ini, kita dibawa kepada pemahaman bahwa mereka yang boleh menghampiri atau diam di gunung Tuhan yang kudus itu, adalah bukan penghuni dari gunung tersebut. Ini adalah gambaran seorang musafir; atau istilah yang lebih bagus seperti dalam tafsiran dan juga dipakai oleh Stanley Hauerwas, yaitu resident alien (penduduk asing) –orang-orang yang memang resident, tapi jangan lupa, ini resident alien. Maksudnya, ini bukan sesuatu yang otomatis atau terserah pada pilihan orang-orang itu sendiri, bahwa mereka ini boleh tinggal di gunung Tuhan yang kudus. Orang-orang ini adalah orang-orang yang sebetulnya tidak punya hak untuk tinggal di sana; harus ada hak istimewa yang diberikan kepada mereka untuk bisa tinggal/ berdiam di sana.

Kita, orang Indonesia keturunan Tionghoa, kadang-kadang di Indonesia merasa diri resident alien, sementara kalau pergi ke Tiongkok juga merasa resident alien, demikian pula kalau ke Amerika, Australia, Eropa –kita merasa resident alien di mana-mana. Saya bicara ini bukan untuk mengembangkan mentalitas ‘korban’, melainkan berapa dalam pun kita mencoba menghilangkan perasaan tersebut, saya pikir tetap saja ada gap seperti ini, dan bahkan Tuhan bisa memakai hal ini menjadi sesuatu yang baik untuk bisa mengerti mazmur-mazmur seperti pasal 15. Kita bukan cuma resident alien di dunia ini; kita resident alien terutama di gunung Tuhan yang kudus itu. Waktu Saudara dan saya bisa datang beribadah kepada Tuhan, jangan lupa, kita ini resident alien. Termasuk juga ketika gedung ibadahnya milik kita sendiri, bukan sewa, bahkan kita ikut berbagian persembahan di dalamnya, tetap kita ini resident alien. Saudara dan saya tidak seharusnya ada di sini. Kita bukan orang-orang yang cocok untuk ada di sini. Tetapi hak istimewa itu diberikan kepada Saudara dan saya sehingga kita bisa menghampiri Tuhan. Inilah poin pertama yang penting, waktu pemazmur menaikkan kalimat ini.

Selanjutnya, ketika kita melihat bagian-bagian yang agak detail, di situ ada penggambaran berbagai macam kebajikan (virtue). Ada aspek yang menyatakan soal relasi kita dengan sesama; misalnya di situ kita membaca tentang yang berlaku tidak bercela, melakukan apa yang adil, mengatakan kebenaran dengan segenap hatinya, tidak menyebarkan fitnah dengan lidahnya, tidak menyebarkan fitnah dengan lidahnya, tidak berbuat jahat terhadap temannya, tidak menimpakan cela kepada tetangganya (ayat 2-3). Dan di ayat 4 kita membaca “yang memandang hina orang yang tersingkir, tetapi memuliakan orang yang takut akan TUHAN”; ini masih berkaitan dengan aspek sebelumnya, dan juga ada aspek yang berkaitan dengan kehidupan keagamaan, tentang bagaimana seseorang hidup dalam komunitas orang-orang beragama. Kemudian waktu di bagian-bagian berikutnya dikatakan “yang berpegang pada sumpah, walaupun rugi; yang tidak meminjamkan uangnya dengan makan riba dan tidak menerima suap melawan orang yang tak bersalah”, mungkin kita bisa tafsir dalam pengertian bagaimana seseorang bersikap di dalam masyarakat yang lebih luas. Jadi, yang mau kita katakan tentang hal ini, adalah bahwa sikap keagamaan atau sikap ibadah menghampiri Tuhan di gunung-Nya yang kudus, sangat banyak aspeknya dalam keseharian. Persoalan di dalam Kekristenan, kalau orang seperti ada hubungan vertikal, tapi kemudian kehidupannya di masyarakat berantakan tidak karuan. Dia pikir, ‘pokoknya saya bisa datang ke gereja, yang penting hubungan vertikal’; tapi keagamaan seperti ini sangat asing di dalam Alkitab.

Dari mazmur ini kita mendapat satu gambaran, bahwa orang yang beribadah kepada Tuhan, yang menghampiri Tuhan di gunung-Nya yang kudus, adalah orang yang bersikap benar, bersikap adil, terhadap sesamanya. Dia adalah orang yang suka bersekutu dengan orang-orang yang takut akan Tuhan --ini bicara tentang komunitas religius. Dia adalah orang yang tidak serakah, tidak cinta uang, dan tidak melakukan manipulasi dalam kehidupannya bermasyarakat --orang yang ekonominya beres. Ini semua berkaitan dengan menghampiri gunung Tuhan yang kudus. Kehidupan beribadah kita kepada Tuhan, memiliki dimensi kesaksian kita di tengah masyarakat; ada perubahan yang terjadi. Kita membaca cerita pertobatan Zakheus misalnya, dia mengatakan kepada Tuhan “setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin; dan kalau ada yang kuperas, aku akan mengembalikan 4 kali lipat kepada mereka”. Saudara perhatikan, langsung ada dimensi ekonomi yang terkait di situ. Pertobatan yang cuma antara kita dengan Tuhan lalu tidak ada efek apapun di dalam ekonomi, di dalam cara belanja, di dalam keluarga, bahkan di dalam hal tidur, itu pertobatan yang omong kosong, itu bukan pertobatan yang ada di dalam Alkitab, karena semua ini berkait dan tidak bisa dipisahkan. Dalam hal ini kita bukan mengajarkan perfeksionisme, kita juga bukan mengajarkan idealisme, tapi ini satu realisme teologis yang boleh dinantikan waktu pekerjaan Tuhan betul-betul terjadi di dalam kehidupan kita. Kasus-kasus perilaku (cases of conduct) seperti yang didaftarkan di mazmur ini akan memberikan akibat kesejahteraan dan damai –atau meminjam istilah Alkitab, syalom—yang dihadirkan di dalam komunitas atau masyarakat. Waktu ada orang-orang Kristen yang beribadah kepada Tuhan, yang menghampiri gunung Tuhan, maka di dalam masyarakat seharusnya terjadi sesuatu pengaruh. Dunia yang tidak mengenal syalom, harusnya lebih damai dengan kehadiran orang-orang percaya, karena orang-orang Kristen itu menjalankan kehidupan yang berintegritas.

Saudara dapat mengelompokkan mazmur-mazmur seperti ini sebagai mazmur yang membicarakan karakter. Isu tentang identitas –siapa diri kita—tidak bisa dipisahkan dari penggambaran karakter. Berbicara tentang siapa diri kita, itu bukan berurusan dengan cara berpakaian kita atau berapa mahal pakaian kita. Berbicara tentang siapa kita, itu bukan soal berapa banyak gaji atau keuntungan dalam satu bulan yang kita peroleh. Berbicara tentang siapa kita, itu bukan berbicara tentang siapa saja orang-orang yang kita kenal, yang lalu menunjukkan diri kita ini siapa. Berbicara tentang siapa kita, juga bukan membicarakan soal kita tinggalnya di daerah mana. Semua itu sama sekali tidak dibicarakan dalam Mazmur 15. Berbicara tentang siapa kita di hadapan Tuhan, itu sebetulnya berbicara tentang karakter. Karakter kita menyatakan identitas kita seperti apa.

Di dalam tafsiran ada yang mengatakan, bahwa bagaimanapun juga yang dikatakan mazmur ini adalah suatu penggambaran. Saya tertarik dengan kalimat yang dikatakan tafsiran tersebut: “It is a picture, not prescription”; maksudnya, ini adalah suatu penggambaran yang wajar, bahwa memang harusnya seperti ini. Pembacaan yang seperti ini, adalah pembacaan Injili/Protestan, cocok dengan perspektif reformatoris. Kita tidak melihat gambaran-gambaran ini sebagai satu prasyarat/ preskripsi bahwa ‘kamu harus memenuhi ini, ini, dan ini dulu, lalu kalau kamu perfek/sempurna, baru kamu bisa menghampiri gunung Tuhan’. Bukan itu yang dimaksudkan Mazmur ini, melainkan lebih menyatakan bahwa mereka yang diam di gunung Tuhan yang kudus adalah orang-orang sebagaimana digambarkan di sini. Kita bukan mengajarkan bahwa Saudara musti begini begitu dulu, baru boleh beribadah kepada Tuhan; yang dikatakan Mazmur ini adalah penggambaran bahwa orang yang beribadahnya benar, yang beribadahnya sungguh-sungguh, dia akan seperti ini. Jadi ini penggambaran realisme teologis, bukan menggambarkan satu keadaan idealis harusnya orang Kristen seperti ini. Kalau kita betul-betul beribadah dengan jujur di hadapan Tuhan, inilah juga yang kita boleh harapkan terjadi di dalam kehidupan kita.

Di ayat yang terakhir, dikatakan “Siapa yang berlaku demikian, tidak akan goyah selama-lamanya”. Perkataan ‘tidak akan goyah/tidak akan goncang’ (will not be moved/ will not be shaken) merupakan satu kosakata yang dipakai untuk menyatakan gambaran pergumulan atau peperangan/permusuhan dengan the chaotic dimension of reality. Sebagaimana kita tahu, dalam penciptaan Tuhan berperang melawan kekacauan; mulanya kacau-balau  (chaos) lalu Tuhan menciptakan sehingga ada keteraturan (order). Waktu dikatakan ‘tidak akan goyah/ tidak akan goncang’ artinya dia akan bertahan terhadap kuasa yang mengacaukan (chaotic power). Kuasa penciptaan (creative power) yang dari Tuhan, bekerja dalam kehidupan orang-orang seperti ini. Sayangnya, dalam pemahaman modern perkataan ‘creative’ (kreatif) pengertiannya agak bergeser dari pemahaman Alkitab. Kalau Saudara lihat pohon natal di gereja kita, tiap tahun ganti-ganti temanya, dan kali ini pakai kertas bekas warta dan ringkasan kotbah yang dilipat-lipat (diatur) seperti bunga lalu jadi pohon natal; lalu waktu saya unggah di Facebook, orang-orang berkomentar “ini desain yang kreatif”. Di situ istilah ‘kreatif’ mempunyai arti seperti yang kita mengerti dalam bahasa modern, maksudnya ada kaitan dengan seni, artistik, kreatif, imajinatif, fantastis, dsb. –ke arah sana pengertiannya. Namun dalam bahasa Alkitab, istilah ‘kreatif’ berasal dari creatio, Tuhan yang menciptakan; sehingga creative power maksudnya adalah kuasa penciptaan.

Pendeta Stephen Tong sering mengajarkan tentang ‘creatio ex nihilo’ (dari tidak ada menjadi ada), yang bicara tentang creative power; dan memang betul dalam tradisi Alkitab ada pengertian seperti itu; orang yang punya creative power, bersama dengan Tuhan dia bisa menghadirkan sesuatu yang tadinya tidak ada lalu menjadi ada. Tapi ada pengertian lain yang kita agak kurang perhatikan waktu bicara tentang creative power, yaitu seperti yang ditekankan dalam kitab Kejadian. Kitab Kejadian tidak terlalu menekankan creatio ex nihilo; creatio ex nihilo sebenarnya lebih mengacu pada tradisi tulisan Paulus. Yang ditekankan dalam kitab Kejadian adalah bahwa yang sudah ada tapi chaotic, dengan creative power-Nya Tuhan menghadirkan order (keteraturan). Dalam hal ini, saya tidak sedang berpolemik dengan teologinya Paulus yang menekankan creatio ex nihilo –bukan itu poinnya—melainkan mau mengatakan bahwa di dalam tradisi Alkitab ada voice yang lain, bukan creatio ex nihilo tapi creatio from chaos to order; ini juga creative power. Tuhan tidak selalu menghadirkan dari yang tidak ada menjadi ada, tapi juga bisa menciptakan dari yang kacau-balau (chaotic) lalu jadi ada keteraturan (order). Saya percaya, dalam kehidupan sehari-hari adakalanya lebih ada tantangan waktu kita memulai dari yang tidak ada menjadi ada; tapi di saat-saat lain ada juga tantangan lain yang tidak kalah, yaitu waktu yang sudah ada, namun kacau-balau, lalu kita musti merapikan. Misalnya pohon natal yang sudah dipakai dan sudah mulai rusak, paling gampang, ya, beli baru saja, sedangkan membereskan kembali dari yang sudah jelek supaya jadi baik lagi, itu tidak kalah sulit tantangannya. Saya bukan sedang membanding-bandingkan mana yang lebih superior, apakah yang dari tidak ada menjadi ada, atau yang dari chaos menuju order; dua-duanya ada keunikan.

Waktu kita kembali ke Mazmur 15, di sini mau dikatakan bahwa orang yang menghampiri Tuhan, yang hadir di dalam kehadiran Tuhan, yang diam di gunung Tuhan yang kudus, hidupnya akan secure, tidak akan ditelan oleh chaotic power. Sebaliknya, dia akan menghadirkan syalom dan keteraturan di dunia yang kacau-balau ini. Dia tidak akan dikalahkan oleh the ultimate undoing dari chaotic power itu. Apa artinya ‘undoing’? Dalam kitab Kejadian, karena Tuhan menyesal menciptakan manusia yang akhirnya jatuh di dalam dosa, Dia pernah hampir tekan tombol ‘reset’; waktu chaotic power dilepas lagi, yaitu air bah, itu adalah pembatalan ciptaan (the undoing of the creation). Ada satu ilustrasi --yang sama sekali tidak sempurna-- misalnya anak-anak main lego, lalu dia rasa jadinya tidak seperti yang diinginkan, maka dia ngamuk dan bubarin semua, itu namanya undoing. Kita bukan mengatakan Tuhan ngamuk seperti anak kecil –bukan itu poinnya—tapi di dalam penyesalan dan kesedihan-Nya yang dalam, maka terjadi air bah; ini seperti Tuhan menekan tombol ‘reset’. Waktu peristiwa air bah, Tuhan seakan merusak kembali ciptaan-Nya, kecuali beberapa orang yang Dia selamatkan. Namun yang terindah, ketika setelah itu Tuhan berjanji tidak akan membatalkan ciptaan lagi. Dunia yang jatuh ini tetap jahat, dan kuasa yang mengacaukan tetap bekerja di dalam dunia; tetapi panggilan Saudara dan saya, kita ditaruh di dalam dunia untuk mencegah the ultimate undoing terjadi karena chaotic power, sehingga di dunia ini masih ada keteraturan, masih ada syalom. Orang-orang Kristen seharusnya menjadi saksi kekuasaan Tuhan, yang berkuasa atas kekuatan-kekuatan yang mengacaukan (chaotic forces). Waktu Saudara menyatakan iman kepercayaan setiap Minggu, ”aku percaya kepada Allah, Bapa Yang Mahakuasa, Pencipta langit dan bumi”, itu berarti kita percaya Bapa yang menciptakan langit dan bumi menghadirkan keteraturan, berperang melawan chaotic power ini.

Memang dalam pengajaran yang kita terima, bahkan sejak Sekolah Minggu, Tuhan menciptakan dunia dan seisinya selama 6 hari dan Dia berhenti di hari ke-7, tetapi dalam teologi ada satu istilah dalam bahasa Latin ‘creatio continua’, artinya penciptaan yang berkelanjutan (continuous creation), meski bukan berarti kita menyangkali penciptaan 6 hari.  Hal ini dalam teologi Reformed lebih suka pakai istilah ‘providentia’, maksudnya maksudnya creatio continua dalam arti providentia Dei. Bukanlah satu konsep yang tidak alkitabiah waktu kita mengatakan ‘bahkan setelah Tuhan berhenti menciptakan dalam 6 hari, Dia tetap menciptakan’, karena maksudnya menciptakan dalam pengertian Dia tetap menjaga keteraturan itu sehingga tidak ditelan oleh chaotic power. Dalam hal inilah kita bicara ‘creatio continua’. Sekali lagi, yang mau dikatakan di sini, Alkitab memberikan penghiburan bahwa siapa berlaku demikian, dia tidak akan goyah selama-lamanya. Ini berarti orang tersebut akan menjadi kesaksian penciptaannya Tuhan; ”aku percaya kepada Allah, Bapa Yang Mahakuasa, Pencipta langit dan bumi”, bahwa yang menciptakan langit dan bumi itu juga bekerja di dalam kehidupan kita dengan kuasa penciptaan-Nya, sehingga kita tidak akan goyah, tidak ditelan oleh chaotic power.

Poin berikutnya, waktu membahas Mazmur 15, ada orang yang menyelidiki dari ‘kritik bentuk’. Tadi beberapa kali saya menyebut istilah ‘ibadah’. Karena di sini bicara tentang kemah, tentang tabernakel, tentang menghampiri gunung Tuhan yang kudus, maka otomatis kita berpikir mengenai ibadah. Namun ketika para ahli Perjanjian Lama menyelidiki penggunaan mazmur ini, ternyata tidak terlalu ada dukungan bahwa mazmur ini dipakai secara liturgi; secara naturnya mazmur ini lebih bersifat instruksional, yang mengajar kepada kita tentang kehidupan –lebih luas dari sekedar ibadah. Dengan demikian, keindahan kalau kita menerima tafsiran ini adalah bahwa mazmur ini bukan cuma bicara soal bagaimana kita bersikap di dalam ibadah hari Minggu, tapi bicara tentang cara hidup (way of life), bahwa dalam keseharian harusnya kita senantiasa hadir di dalam kehadiran Tuhan, hidup ‘coram Deo’ –sebagaimana dikatakan secara klasik. Jadi, Mazmur 15 ini tidak boleh kita sempitkan konteksnya hanya dalam konteks ibadah hari Minggu; yang pasti, kalau kita percaya bahwa Allah adalah Allah yang adil, maka kita juga akan hidup adil.

Dalam hal ini, jangan lupa Mazmur 1 adalah seperti prolegomena; bukan sembarang introduksi tapi adalah prolegomena (programmatic text) yang menentukan jalan keseluruhan mazmur-mazmur berikutnya. Melalui Mazmur 1, kita mendapatkan satu petunjuk bagaimana membaca keseluruhan kitab Mazmur, yaitu bahwa ada orang benar dan ada orang fasik. Ini bukan untuk dihayati secara self-righteous ‘saya orang benar’ –bukan ke sana penghayatannya—karena true righetousness tidak kompatibel dengan kesombongan/ kebanggan. Orang benar sangat mengerti anugerah, sangat mengerti belas kasihan Tuhan, maka orang yang self-righteous bukan orang benar. Waktu membaca Mazmur 15 dari prolegomena Mazmur 1 yang mengarahkan pembacaan keseluruhan mazmur, jadi siapa yang boleh menumpang dalam kemah Tuhan, yang boleh diam di gunung Tuhan yang kudus, yang boleh menghampiri The Righteous God, Allah yang mahaadil itu? Jawabannya sederhana yaitu orang benar (righteous person); maka di ayat 2 dikatakan “yaitu dia yang berlaku tidak bercela, yang melakukan apa yang adil (righteous), dan yang mengatakan kebenaran dengan segenap hatinya”. Inilah orang-orang yang menghampiri Tuhan di gunung-Nya yang kudus.

Di awal tadi kita memulai dengan mengatakan satu kalimat, tentang bagaimana kita bisa melakukan harmonisasi pengajaran seperti ini, dengan pengakuan kita sebagai orang Reformed Injili yang katanya menghampiri Tuhan bukan karena kebenaran kita melainkan kebenaran Kristus. Dalam hal ini saya sangat tertarik dengan solusi yang diberikan oleh salah satu tafsiran, yaitu dari Interpretation Series oleh Luther Mays. Dia mengatakan kalimat ini: “We may be tempted to take the righteousness given by faith as an excuse to the failure of our life” (“kita ini bisa tergoda untuk mengambil kebenaran yang diberikan kepada kita semata-mata karena anugerah melalui iman, lalu itu dijadikan dalih untuk kegagalan kehidupan kita”), “but the psalm insists that it is the purpose and the power of God to regenerate them” (“tapi mazmur ini bersikeras bahwa justru untuk inilah kita dibenarkan semata-mata oleh anugerah melalui iman”), yaitu supaya kita boleh bersaksi tentang kuasa penciptaan Tuhan itu.

Tuhan melahirbarukan kita bukan tanpa tujuan. Tuhan bukan membebaskan kita dari dosa lalu setelah itu terserah kamu mau ngapain, toh, kamu sudah bebas. Bukan itu. Kalau Saudara membaca dalam kitab Keluaran, sangat jelas di situ bangsa Israel dikeluarkan dari boundage itu, supaya mereka boleh beribadah kepada Allah. Kita juga dibebaskan dari dosa untuk satu tujuan yang mulia, sehingga kita yang tadinya resident alien, kini boleh menumpang di dalam kemah-Nya, bahkan diam di gunung-Nya yang kudus. Dan yang diam di gunung-Nya yang kudus itu bukan berarti melarikan diri dari dunia, bukan juga tidak bertanggung jawab kepada masyarakat karena ‘saya di gunung Tuhan’; mereka yang diam di gunung Tuhan yang kudus itu memancarkan kuasa penciptaan Tuhan (God’s creative power).

Kita diundang untuk menghidupi satu kehidupan yang demikian; bukan kehidupan yang jadi bulan-bulanan atau korban dari kuasa yang mengacaukan (chaotic power), melainkan kehidupan yang tidak akan goyah (will not be shaken) sampai selama-lamanya. Kiranya Tuhan memberkati kita semua.

Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah (MS)

Gereja Reformed Injili Indonesia Kelapa Gading

Download Ringkasan