Christian Growth

Kita sudah merenungkan tema anugerah Tuhan untuk menutup tahun, dan untuk awal tahun hari ini kita mau bicara tema mengenai pertumbuhan Kristen. Ini tema yang penting, karena semua orang Kristen tahu bahwa harus bertumbuh, tapi ketika ditanya tentang siapa yang bertumbuh, ke mana pertumbuhannya, dan apa implikasi buat dirinya, tidak tentu bisa menjawab. Ada 4 bagian Firman Tuhan yang akan kita baca mengenai pertumbuhan Kristen, yaitu 1 Kor. 3: 1-2, Ibr. 5: 12-14, 1 Ptr. 2: 2, dan 1 Yoh. 2: 12-14.

Kita mau membicarakan tema pertumbuhan ini, karena seringkali kita merasa sudah tahu tapi sebenarnya tidak tahu. Mengapa bisa begini? C. S. Lewis dalam bukunya yang terkenal, “Mere Christianity”, salah satu bab-nya membahas tema dengan judul “Nice People or New Man?” (“Orang-orang Baik atau Manusia-manusia Baru?”). Mengapa dia mengatakan seperti ini? Hari ini orang-orang di dunia, termasuk kita, sadar atau tidak sadar pada dasarnya membagi manusia menjadi 2 tipe besar, yaitu orang baik-baik dan orang jahat. Orang baik-baik adalah orang yang bermoral, sopan, relasi dengan orang lain baik; orang-orang jahat adalah mereka yang kasar, malas, atau bahkan memang fasik. Selanjutnya, sadar atau tidak sadar kita mulai menilai orang-orang yang kita temui dalam skala 0 sampai 10; 0 adalah yang paling jahat, dan 10 yang paling baik. Dan dalam hidup ini Saudara pasti pernah bertemu orang-orang non Kristen yang ternyata dapat angka cukup tinggi, bisa 7, 8, atau bahkan 9; lalu bagaimana respon Saudara? Kita biasanya mengatakan: “Yah, sayang ya, orang ini bukan Kristen”. Saudara juga bertemu orang lain yang mengaku Kristen, yang katanya sudah lahir baru, tapi semua orang –bukan cuma Saudara—mengatakan bahwa orang ini paling banter dapat angka 4; lalu respon kita: “Kacau banget orang Kristen kayak gini, mending ‘gak usah ngomong Kristen, cuma dapat angka 4”. Apa problem dari cara pendekatan seperti ini?

Bagi C. S. Lewis, ini adalah cara pendekatan yang tidak mengerti apa artinya pertumbuhan Kristen. Ini adalah pendekatan yang mengira bahwa esensi Kristen adalah membuat orang-orang jadi orang baik-baik (nice people); yang kasar diubah jadi baik, yang sudah baik jadi lebih baik. Tapi itu bukan Kekristenan, karena tujuan Kekristenan adalah membuat orang --baik yang kasar maupun yang baik-- menjadi manusia baru (new man). Entah Saudara adalah orang yang kasar, malas, jahat, ataupun orang yang baik-baik, dalam Kekristenan semua manusia diubah menjadi manusia yang baru. C. S. Lewis mengatakan, dalam Kekristenan yang membedakan manusia bukanlah adanya ‘orang-orang baik’ dan ‘orang-orang jahat’, karena Alkitab jelas sekali mengatakan bahwa semua dari kita –bukan cuma yang kasar atau malas-- sudah sesat seperti domba, masing-masing mengambil jalannya sendiri.

Di mata Alkitab, semua manusia berdosa, termasuk juga mereka yang baik-baik, bermoral, dan relasinya dengan sesama bagus. Dengan demikian, mereka ini pun adalah orang-orang yang juga harus diubah menjadi manusia baru. Supaya lebih masuk akal, coba kita pikir seperti ini: yang orang pada hari ini sebut sebagai ‘baik’ atau ‘jahat’, sebenarnya semua berdosa di mata Alkitab; yang membuat berbeda di mata manusia sebenarnya adalah mereka itu orang-orang yang dosanya kelihatan menjijikkan atau orang-orang yang dosanya kelihatan menarik. Di satu sisi, kita menemukan orang yang tidak bisa berelasi dengan orang lain, yang sering meledak, punya kebiasan buruk yang dia tidak bisa kuasai, dan semua orang bisa melihat hal ini, sehingga mencap dia sebagai ‘jahat’, tapi pada dasarnya dia hanyalah orang berdosa yang dosanya kelihatan menjijikkan. Di sisi lain, ada orang-orang yang juga berdosa tapi dosa mereka kelihatan terhormat (respectable), sangat baik berelasi, selalu sopan, rajin bekerja. Mereka itu juga orang-orang berdosa, tapi dosa mereka kelihatan mengagumkan. Orang yang materialistis, itu jelas berdosa, tapi dosa materialistis sangat mudah dikagumi masyarakat, misalnya karena rumahnya bagus –dan kita mengatakan ini orang yang punya selera bagus. Orang yang kecanduan kerja (workaholic), yang bisa meninggalkan anak istri demi pekerjaan, itu sangat dicari-cari oleh banyak perusahaan --dan kita mengatakan dia orang yang rajin bekerja, pekerja keras. Orang yang sopan kepada orang lain demi dirinya diterima orang itu, dia banyak temannya –dan kita mengatakan, ini orang yang peduli dengan perasaan orang lain.

Kalau kita kembali kepada ayat tadi, yang membuat seseorang dikatakan berdosa dalam Alkitab adalah karena orang itu hidup demi dirinya sendiri, bukan karena dia kasar atau sopan. Kita sudah sering membaca ayat yang mengatakan manusia ‘sesat seperti domba’, tapi kita seringkali lupa apa yang dikatakan sebagai inti kejahatannya, yaitu bahwa masing-masing mengambil jalannya sendiri. Inilah esensi dosa. Kalau kita jujur, semua dari kita, baik yang sopan maupun yang kasar, tertarik dengan hal ini. Itu sebabnya Burger King bikin slogan “create your own burger”; ini sebabnya Pizza Hut bilang “create your own topping”. Saudara boleh pilih mau isi apa dalam burger atau pizzamu, Saudara tidak perlu dibatasi dengan yang sudah ada, Saudara bebas memilih apa yang Saudara mau –“jalanmu sendiri”. Inilah satu melodi yang terus-menerus muncul dalam berbagai kisah Alkitab yang berbeda, yaitu pola ‘melihat apa yang baik menurut mata manusia sendiri lalu mengambilnya’. Itulah dosa. Semua dari kita melakukan hal ini; hanya saja, banyak dari kita bisa melakukannya dalam cara yang dihormati masyarakat. C. S. Lewis mengatakan orang-orang seperti ini, orang-orang baik itu bukannya tidak berdosa, hanya saja, mereka sudah belajar dan mengerti dosa mana saja yang bisa bikin problem dalam kemasyarakatan dan mereka menghindari itu. Jadi, inilah pentingnya kita membahas tema pertumbuhan Kristen.

Di mata Alkitab semua dari kita perlu bertumbuh, bukan cuma orang-orang yang kasar atau yang malas saja. Tujuan pertumbuhannya juga bukan supaya dari kasar menjadi sopan, atau dari malas menjadi rajin; semua orang –termasuk yang baik-baik—perlu bertumbuh. Kerangka pembahasan hari ini dibagi dua; pertama, kita mau menyadari dan menghadapi fakta bahwa kita semua perlu bertumbuh; kedua, kita mau melihat seperti apa fase-fase dalam pertumbuhan Kristen.

BAGIAN PERTAMA. Saya ingin mengajak kita untuk menyadari, mengakui, menghadapi fakta, bahwa semua dari kita perlu bertumbuh; bahwa Alkitab jelas sekali melihat Kekristenan sebagai satu proses; dan apa implikasinya bagi kita. Jelas sekali dalam ayat-ayat yang kita baca --dan ini muncul dari empat penulis berbeda-beda—tentang adanya ide bahwa Kekristenan adalah sebuah proses pertumbuhan rohani. Proses pertumbuhan ini bukan cuma ada, tapi juga diparalelkan dengan pertumbuhan secara tubuh dan mental (pertumbuhan secara bilogis). Yohanes mengatakan dia menulis kepada 3 kategori orang, yaitu kepada anak-anak, kepada orang-orang muda, lalu kepada para bapak. Banyak komentator mengatakan, ini maksudnya bukan kepada 3 kategori umur tertentu dalam jemaatnya Yohanes, tapi Yohanes mau mengatakan bahwa ada 3 tingkat pertumbuhan rohani dalam jemaat Tuhan --ada orang Kristen anak-anak, ada orang Kristen yang sudah mencapai level pemuda, dan ada orang Kristen yang sudah mencapai level dewasa. Jadi dasar Alkitabnya jelas, kita perlu mengenali bahwa hidup Kristen adalah sebuah perjalanan, sebuah proses, bukan cuma sebuah status. Bukan suatu status bahwa kita sudah mendapat penghargaan, lalu ke mana-mana kita boleh bilang bahwa kita sudah dapat penghargaan; hidup Kristen adalah sebuah proses, dan kita perlu bertumbuh. Kita akan menjelajahi gambaran ini, dan merenungkan apa implikasinya untuk hidup kita.

Kalau kita menyadari harus bertumbuh, implikasi yang pertama adalah kita akan menyadari bahwa yang namanya pertumbuhan Kristen itu sesuatu yang menakutkan. Banyak dari kita mungkin pernah berimajinasi seandainya bisa balik jadi anak kecil lagi, maka ada hal-hal yang akan kita lakukan secara berbeda. Tapi, kalau kita sungguh-sungguh memikirkan apa artinya jadi anak kecil, kita mungkin baru sadar kita tidak ingin hal itu. Mengapa? Karena perjalanan bertumbuh dari bayi, lalu jadi anak kecil, remaja, dan kemudian dewasa seperti hari ini, adalah perjalanan yang panjang dan melelahkan. Siapa di antara kita yang beneran mau mengulangi semua itu lagi dari nol?? Kalau kita menulis paper sudah 9 halaman lalu lampu mati dan kita lupa save, sudah bagus kalau komputernya tidak kita banting ke tembok! Itu baru tentang paper 9 halaman, apalagi kalau harus mengulang segala sesuatu dari nol, tidak akan ada yang mau. Tapi inilah realita kehidupan Kristen.

Ketika kita menjadi orang Kristen, perjalanan pertumbuhan secara biologis yang sudah kita alami itu, kita harus mengulangnya kembali secara rohani. Siapapun kita di dunia ini, seberapapun kita sukses dan bertalenta, semua dari kita harus menghadapi fakta ini: ketika kita masuk ke dalam Kekristenan, kita kembali menjadi bayi. Banyak dari kita baru saja mencapai kemandirian secara finansial, kemandirian dari orangtua, lalu sekarang waktu masuk ke dalam Kekristenan kita harus melihat diri kita kembali sebagai anak-anak, yang harus bergantung kepada orang lain, yang harus menurut dan tunduk kepada orang lain. Ini satu hal yang menakutkan.

Berani menghadapi fakta pertumbuhan Kristen berarti berani mengakui diri mulai dari nol, sebagai anak-anak yang tidak mengerti diri mereka sendiri. Kalau Saudara melihat hukum tentang perlindungan anak-anak, Saudara akan mengerti hal ini. Hukum Perlindungan Anak-anak melarang yang disebut “child neglect” (pembiaran/ penelantaran anak-anak). Apa sebenarnya yang dilarang dalam hukum mengenai child neglect ini? Tentu saja hal-hal seperti tidak memberi anak makan, tidak memberi anak pakaian. Tapi ada satu hal yang juga dilarang karena dianggap child neglect, yaitu tidak memberikan pengawasan/ supervisi. Tidak membatasi anak, dan membiarkan anak tersebut melakukan segala sesuatu yang mereka inginkan, itu dilarang oleh hukum, karena dianggap child neglect. Mengapa ada hukum seperti ini? Karena anak-anak itu bodoh –bodoh, bukan idiot. Anak-anak itu tidak mengerti diri mereka sendiri, keinginan ataupun perasaan mereka sendiri. Ini paling jelas ketika kita melihat iklan-iklan yang ditujukan bagi anak-anak. McD sudah berpuluh tahun menjual happy meal dengan mainan, padahal apa hubungannya makanan dengan mainan? Tapi semua orang dewasa tahu, ini produk yang ditujukan kepada anak-anak, karena selain anak-anak, tidak ada manusia yang sebodoh itu, yang bisa “diumpan” untuk beli makanan tertentu karena dapat mainan. Menjadi seorang anak Tuhan yang bertumbuh dalam keselamatan, berarti kita harus melihat diri kita dalam situasi yang sama seperti itu. Ini yang menakutkan dalam pertumbuhan Kristen, tapi ini pengajaran Alkitab. Ketika kita menjadi orang Kristen, akan ada banyak hal yang terjadi pada diri kita, yang kita tidak mengerti, tapi kita rasa mengerti, kita sok tahu mengatakan ‘saya ngerti’;  ada hal-hal yang terjadi di dunia di luar kita, yang kita tidak tahu, tapi kita sok mengatakan ‘saya tahu’. Menjadi anak-anak berarti perlu pertolongan orang-orang lain yang sudah lebih maju dalam iman –dan sebagai anak-anak, kita tidak mau itu.

Kita tidak bisa  mengerti segala sesuatu menurut mata kita --itu namanya menjadi anak-anak-- dengan kata lain, kita perlu bergantung kepada Gereja, kepada firman Tuhan, tapi kita tidak mau mengerti hal itu. Inilah susahnya. Mungkin Saudara mengatakan, “O, itu ‘gak susah koq, saya kepingin koq di-supervisi, saya kepingin digembalakan, tapi masalahnya gereja ‘gak kasih itu”. Tapi sebenarnya tidak begitu; Saudara sebenarnya kepingin di-supervisi berdasarkan konsep Saudara sendiri mengenai supervisi, Saudara kepingin digembalakan menurut konsep Saudara sendiri mengenai penggembalaan. Dan itulah justru anak-anak, yang melihat segala sesuatu dengan memaksakan matanya sendiri, padahal dia tidak mengerti apa-apa. Inilah yang mengerikan; kalau kita mau melihat diri kita sebagai anak-anak, kita harus mengasumsikan diri kita tidak tahu apa-apa. Anak-anak selalu bersikap ‘saya tidak suka yang ini, saya mau yang itu’. Anak-anak rohani pun sama;  saya ‘gak senang gereja yang katak gini, saya maunya gereja yang kayak gitu; saya ‘gak suka orang Kristen tipe kayak gini, saya sukanya tipe kayak gitu. Tapi penilaian seperti ini tidak ada artinya, kalau yang menilai adalah anak-anak.

Itu sebabnya ayat Alkitab dalam Surat Petrus tadi terdengar seperti begitu lembut, “jadilah seperti bayi yang baru lahir”, tapi gambaran tersebut salah sama sekali, karena ayat tersebut pada dasarnya justru gebrakan. Petrus sedang mengatakan: “Bangun! Sadar! Kenali diri kalian itu siapa, jadilah seperti anak-anak yang mau bertumbuh” --kalian tidak mengerti apa yang terjadi, kalian tidak mengerti dirimu sendiri, dan kalian perlu dibimbing. Inilah theological realism, bahwa kita perlu mengakui, melihat, dan menyadari realita kehidupan Kristen adalah pertumbuhan; dan itu berarti tidak peduli seberapa tinggi status kita sebelum masuk jadi Kristen, tidak peduli sesukses apa kita sebelum masuk jadi Kristen, kita semua mulai dari nol. Istilah “kelahiran baru” bukanlah istilah sembarangan.

Ada satu ilustrasi untuk menutup bagian yang pertama dan membuat Saudara lebih yakin dengan realita ini. N. T. Wright, atau juga dikenal dengan Tom Wright, adalah seorang teolog yang pikirannya kompleks sekali. Tidak mudah untuk mengerti pikiran dia; dan dia sendiri mengakuinya. Lalu ada orang pernah mengatakan kepada dia, “Coba tolong beritahukan kepada kami pemikiranmu secara simpel, supaya orang-orang simpel, orang-orang yang sederhana bisa mengerti”. Jawaban dia kira-kira seperti ini: “Kalau Saudara tanya bagaimana caranya ke Bogor dan minta jawaban yang simpel, maka saya akan mengatakan begini: ‘Ini Jakarta, dan Bogor ada di sebelah selatan; jadi kamu cari saja arah selatan lalu jalan terus ke sana, nanti sampai’. Jawaban yang simpel. Tapi apa Saudara mau dikasih arahan seperti itu? Tentu tidak mau. Itu sebabnya supaya Saudara sampai ke Bogor secepat mungkin dan senyaman mungkin, saya harus membuat hidup Saudara jadi lebih kompleks. Saya harus kasih tahu beberapa opsi untuk sampai ke Bogor, bisa pakai Grab, bisa pakai kereta api, bisa pakai bus, bahkan bisa pakai helikopter kalau perlu. Saya juga perlu tahu kamu bujetnya berapa, dan kamu mau sampai secepat apa. Katakanlah kamu mau pakai kereta api, tetap saja naik kereta pun ada beberapa pilihan; saya perlu kasih tahu beli tiketnya di mana, tiketnya mau yang mana, dan kamu harus tahu stasiunnya yang mana, ganti kereta di stasiun mana dengan segala plus-minusnya. Semuanya jadi lebih kompleks, namun kompleksitas ini adalah kompleksitas yang tujuannya bukan untuk menyiksa, sebaliknya demi Saudara bisa sampai ke tujuan secepat mungkin dan senyaman mungkin”. Tapi hari ini kita tidak mau yang seperti ini; kita maunya segala sesuatu dibikin simpel. Menurut kita, yang ideal itu simpel, jadi kalau ada yang kurang simpel, berarti kurang ideal. Dan yang selalu muncul adalah: “Coba dong, tolong kasih kita hal-hal yang simpel”.

Saudara, mungkin hari ini yang dunia butuhkan justru kompleksitas, untuk menyadari realita bahwa dunia itu kompleks, Tuhan itu kompleks, Alkitab dan Kekristenan itu kompleks. Waktu saya bicara dengan Vik. Aan, dia mengatakan satu kalimat yang bagus sekali: “Tuhan itu kompleks, itu sebabnya Tuhan pakai anugerah”. Kalau Tuhan itu simpel, maka tidak ada anugerah --kalau berdosa maka binasa, bersalah maka dihukum—itu saja, tidak usah ada anugerah. Itulah artinya simpel. Tetapi Tuhan kita tidak simpel. Tuhan itu kompleks; Dia pakai anugerah, yang sampai hari ini bikin orang bingung setengah mati. Ironisnya, umat-Nya tidak mau kompleksitas seperti ini --“kasih tahu saja, Pak, arahnya harus ke kiri atau ke kanan”-- dan lebih kompleks daripada itu, sudah tidak mau terima. Ini tanda apa? Sifat kekanak-kanakan, tidak mau bertumbuh.
BAGIAN KEDUA. Untuk lebih yakin akan hal ini, kita masuk ke bagian kedua dan coba melihat apa yang Yohanes tulis mengenai fase-fase pertumbuhan orang Kristen, yaitu fase bayi/anak-anak, fase orang muda, dan fase orang dewasa. Kita akan melihat dan merenungkan bagaimana karakteristik dalam fase-fase ini juga merupakan karakteristik banyak orang Kristen.

Tahap yang pertama, tahap anak kecil. Anak kecil itu tidak stabil. Anak kecil bisa menangis ‘gak karuan, tapi begitu ditanya “kamu mau es krim?”, langsung air matanya hilang entah terserap ke mana. Mengapa bisa begitu? Karena anak kecil itu dangkal –ini theological realism. Air mata mereka gampang keluar dan juga gampang hilang, karena dukacita mereka dangkal. Sukacita mereka pun sama; mereka bisa senang di satu momen, lalu nangis-nangis di momen berikutnya. Tidak stabil –itulah anak-anak. Sekarang lihat hidup kita atau hidup orang Kristen secara umum di Gereja, apa yang kita temukan? Ketika segala sesuatu berjalan lancar, kita mengatakan apa? Lalu waktu mulai ada halangan dan kesulitan, nada kita berubah atau tidak? Coba simak Mazmur 73 –nyanyian umat Tuhan. Di situ ada kalimat dari Asaf: “Sia-sia sama sekali aku mempertahankan hati yang bersih, dan membasuh tanganku, tanda tak bersalah. Namun sepanjang hari aku kena tulah, dan kena hukum setiap pagi” (ayat 13-14). Banyak orang mengatakan seperti ini: “Setahun saya jadi Kristen, dan sekarang saya secara ekonomi lebih lemah, kenapa terjadi kayak begini??” Kita mungkin tidak bicara seperti itu, bukan karena kita stabil tapi semata-mata karena secara ekonomi kita stabil; lalu begitu ekonomi kita turun, entah apa yang kita katakan.

Hal yang kedua, anak kecil itu berpusat pada diri (self-centered). Anak kecil biasanya perlu diajar untuk tidak menyela (interupsi). Kalau semua orang sedang bicara sesuatu, lalu anak kecil masuk, dia langsung minta perhatian dan perhatian harus datang. Sangat sulit membuat anak kecil bisa konsentrasi pada sesuatu yang bukan dirinya. Berbicara dengan anak kecil, yang bukan tentang diri mereka, paling bisa bertahan 30-40 detik, lalu setelah itu topik langsung berubah mengenai diri mereka.

Seperti apa diri kita hari ini? Saudara lebih sering menyesuaikan diri bagi orang lain, atau sebaliknya mengharapkan orang lain yang menyesuaikan diri dengan Saudara? Anak-anak mengharapkan semua orang berubah demi diri mereka. Anak-anak tidak bisa mengerti mengapa orangtuanya tidak menggerakkan langit dan bumi demi memenuhi kebutuhan mereka, lalu dia mengatakan “ini berarti mereka tidak cinta saya”. Gereja dipenuhi orang-orang seperti ini, orang-orang yang selalu merasa dirinya disakiti oleh orang lain, yang selalu merasa kebutuhannya tidak terpenuhi. Dan paling celaka, mereka mengharapkan Gereja harusnya menggerakkan langit dan bumi demi memenuhi kebutuhan mereka. Ini paling jelas dalam pelayanan. Saya mau melayani, tapi ada syaratnya; saya mau melayani, asal saya diterima apa adanya; dikritik boleh tapi harus dengan lembut sekali, tidak boleh cara begini, harus cara begitu.

Alkitab tidak masalah kalau kita semua ini bayi-bayi, karena semua orang mulai dari level itu. Tidak masalah menjadi bayi; yang problem adalah kalau kita tidak mengenali siapa diri kita, dan dengan demikian tidak sadar bahwa kita harus bertumbuh. Ini sinkron dengan bagian yang Yohanes tulis kepada anak-anak: “Aku menulis kepada kamu, hai anak-anak, sebab dosamu telah diampuni oleh karena nama-Nya.” Mengapa Yohanes menulis tentang dosa telah diampuni kepada anak-anak? Saya rasa, karena ini pelajaran yang paling awal dalam kehidupan Kristen. Kalau kita tidak mengerti hal ini, maka kita tidak akan pernah keluar dari tahap anak-anak. Banyak dari umat Tuhan yang kekanak-kanakan secara spiritual dan tidak masuk ke tahap berikutnya, karena mereka tidak mengerti bahwa dosa mereka telah diampuni oleh Tuhan. Mungkin Saudara bertanya-tanya, apa susahnya pelajaran ini sehingga banyak orang mandek di sini? Bukannya semua orang tahu Tuhan mengasihi mereka, mengampuni dosa mereka dengan mengutus Anak-Nya yang tunggal untuk mati di kayu salib, dst.?? Tapi kenyataannya tidak begitu. Kalau ini pelajaran yang sebegitu gampangnya diterima, maka Gereja tidak akan dipenuhi dengan orang-orang yang sangat mudah sakit hati.
Presiden Donald Trump pernah mengatakan “I am intelligent” (“Saya orang pintar”), lalu banyak orang berkomentar, dan salah satunya mengatakan “orang yang pintar, tidak akan pernah mengumumkan dirinya pintar”. Benar juga. Kalau Saudara tinggi, Saudara tidak akan mengatakan kepada orang lain bahwa Saudara tinggi –tidak perlu. Tapi kalau berulang-ulang Saudara mengatakan “saya ini tinggi, saya ini tinggi”, berarti Saudara tidak yakin dengan ke-tinggi-an Saudara, Saudara justru merasa pendek. Jadi bagaimana caranya untuk bisa yakin kalau diri kita benar-benar pintar? Bukan dengan ngaca lalu bilang “saya pintar, saya pintar”; caranya adalah dengan menemukan orang yang Saudara anggap pintar, lalu dia mengatakan kepada Saudara “kamu itu pintar”. Itu baru sangat meyakinkan; Saudara tahu, diri Saudara pintar. Kalau setelah itu Saudara ketemu begundal di jalanan yang mengatakan “bego lu!”, apa respons Saudara? Kalau Saudara berespons ‘dia itu sesama saya, saya sudah dapat pengakuan dari orang yang lebih di atas bahwa saya ini pintar, jadi kalau dia bilang saya bodoh, itu tidak ada artinya sama sekali, saya tidak perlu marah, saya sudah dapat pengakuan yang di atas’, berarti Saudara orang yang secure. Tapi kalau Saudara balik mengatakan “kurang ajar! tahu ‘gak, gua ini sudah diakui sama orang yang pintar sekali itu bahwa gua ini pintar!” berarti sebenarnya Saudara tidak secure, Saudara tidak merasa diri pintar.

Hal yang sama, juga terjadi dalam Gereja. Kita bisa menarik paralel antara pertumbuhan biologis (tubuh dan mental) dengan pertumbuhan rohani. Kalau ini adalah pelajaran yang begitu gampang diterima –yaitu bahwa kita dicintai oleh Tuhan, diampuni oleh Tuhan, bahwa Tuhan menganggap kita sama dengan Anak-Nya ketika kita disatukan dengan Kristus, yang berarti kalimat dari Allah Bapa kepada Kristus “kepada-Nya aku berkenan” adalah kalimat yang juga dikatakan-Nya kepada kita-- kalau kita punya semua itu, kalau kita benar-benar sadar dan menghidupi hal ini, maka kita sama sekali tidak merasa perlu marah ketika dikritik orang, kita tidak perlu tersinggung ketika orang menyinggung kita. Kita sudah mendapat pengakuan dari Raja alam semesta, sehingga kalau orang yang dibawah ngomong, apalah artinya. Jadi, kalau di dalam Gereja kita menemukan orang-orang yang begitu mudah tersinggung, saling menyakiti satu dengan yang lain, berarti kita masih anak-anak, tidak tahu dan tidak menghidupi bahwa Tuhan telah mengampuni kita lewat Anak-Nya.

Tahap yang kedua, tahap orang-orang muda. Yohanes menuliskan: “Aku menulis kepada kamu, hai orang-orang muda, karena kamu kuat dan firman Allah diam di dalam kamu dan kamu telah mengalahkan yang jahat”. Kembali kita bisa menarik paralel antara pertumbuhan spiritual dengan pertumbuhan biologis. Terhadap anak-anak kecil, kita tidak akan kasih mereka menyeberang jalan sendirian. Anak umur 4 tahun tidak akan Saudara kasih tiket pesawat lalu suruh mereka pergi ke bandara. Saudara akan pegang tangan mereka, sehingga mereka selalu merasakan kehadiran Saudara. Tetapi cepat atau lambat, hal ini tidak bisa Saudara lakukan lagi ketika mereka mulai berumur belasan, jadi remaja; dan sudah pasti Saudara tidak boleh lakukan lagi ketika umur mereka sudah kepala 2. Proses pertumbuhan dari anak-anak ke pemuda, berarti ada satu titik ketika kita harus membiarkan mereka menyeberang jalan tanpa kita. Inilah mungkin paralelnya dengan pertumbuhan spiritual; tanda bahwa kita sedang diajak bertumbuh dari fase anak-anak menuju fase orang muda, adalah ketika Tuhan memanggil kita untuk mulai menghadapi hal-hal dalam hidup ini tanpa merasakan kehadiran-Nya (sense of God’s presence).  Ironisnya, orang Kristen seringkali tidak mau yang seperti ini. Menghadapi banyak hal, kita seringkali mengatakan “kalau saja saya punya kekuatan dari Tuhan, kalau saja saya merasakan kehadiran Tuhan”, padahal Tuhan sedang mengatakan “inilah saatnya kamu harus menyeberang jalan sendiri”.

John Newton ketika menafsir bagian ini, mengatakan bahwa fase anak-anak ditandai dengan perasaan yang tinggi tapi pengetahuannya rendah, sebaliknya fase pemuda perasaanya mulai menurun tapi pengetahuan bertumbuh. Ini sinkron dengan yang Yohanes tulis, “hai orang muda, kamu harus tahu, kamu itu kuat, firman Allah diam di dalam kamu”. Dia mengatakan ini, karena banyak orang yang sedang bertumbuh ke arah orang muda tapi tidak mau menyadari dirinya kuat, maunya kembali ke kenyamanan dan keamanan bimbingan orangtua. Wah, waktu pertama kali jadi Kristen, rasanya Tuhan itu riil banget, setiap ke gereja rasa ‘wah’, setiap dengar kotbah rasa ‘wow’, dalam kehidupan sehari-hari selalu rasa Dia memegang tanganku. Sekarang, entah kenapa itu tidak selau muncul; saat teduh ‘gak selalu nendang. Inilah justru tanda pertumbuhan.

Tuhan sedang mengajar dan mendidik kita untuk melakukan banyak hal bukan cuma karena kita dipegang tangannya, melainkan karena kita mulai merasakan dan mengerti hati serta pikiran Tuhan. Itulah justru the real presence of God. Itu justru kehadiran Allah yang sejati. John Newton mengatakan inilah fase orang justru benar-benar belajar bergantung kepada Tuhan. Mungkin kita berpikir, bukannya terbalik? Bukannya menyeberang jalan sendiri artinya belajar independen dari Tuhan?? Tidak. Itu justru lebih bergantung. Bagaimana bisa? Karena inilah saatnya Saudara benar-benar bergantung kepada perkataan Tuhan, firman Tuhan, pengajaran Tuhan, dan bukan lagi pada perasaan mengenai Tuhan –ini dua hal yang berbeda. Contoh sederhana, ketika anak kecil mulai bisa melakukan hal-hal sendirian, mereka sebenarnya tidak benar-benar melakukannya sendiri. Waktu seorang anak mulai memegang dan memakai sendok sendiri, itu bukan berarti dia sudah menemukan cara yang orisinal dari dirinya sendiri mengenai memegang sendok. Cara dia memegang sendok sama persis dengan orangtuanya, jadi sebenarnya dia bisa melakukannya sendiri karena sudah cukup banyak diri orangtuanya –setidaknya soal pegang sendok-- yang masuk ke dalam dirinya –atau pakai bahasa Yohanes “diam di dalam dirinya”. Orangtuanya sudah berhasil menurunkan bagian dari hidup mereka –dalam urusan pegang sendok—kepada anaknya, sehingga anaknya bisa meresapi pengetahuan itu dan melakukannya sendiri. Tapi itu bukan berarti melakukan sendiri, itu adalah bergantung penuh. Kita melakukannya secara otomatis, justru karena hal itu sudah menjadi natur kedua dan bukan lagi sesuatu yang perlu dipencet tombol on/off-nya.

Bayi selalu butuh perasaan tinggi, mereka butuh ayah ibunya selalu memegang tangannya. Ini sebenarnya bukan berarti bergantung pada orangtua; ini berarti bergantung pada perasaan mereka dipegang orangtua –bukan kepada orangtuanya. Kalau kita ajak anak-anak nonton film, kita berharap filmnya penuh dengan action sehingga anak-anak terpaku perhatiannya ke depan. Tapi kalau filmnya mulai masuk momen-momen yang sepi, percakapan antara 2 karakter, dsb., anak-anak kecil itu mulai kehilangan action di layar depan lalu mulai mengisi kebolongan itu dengan bikin action sendiri, mulai bicara, mulai lompat-lompat, mulai menangis. Mengapa? Karena mereka harus merasa. Itu sebabnya waktu kita bicara dengan anak-anak, secara otomatis nadanya lain; “Halooo…. Selamat Natal….” –langsung ganti mode. Mengapa begitu? Karena anak-anak memang seperti itu; kita tidak bisa mempertahankan perhatian mereka kalau kita bicara dengan nada natural dan normal kepada mereka.

Inilah yang Paulus katakan kepada jemaat Korintus, “kamu ini Gereja yang isinya bayi”; mengapa? Karena mereka maunya mujizat, jawaban singkat, nendang, afdol, kotbah yang ‘wow’, ibadah yang ‘wah’, yang dramatis, jelas, berdampak. Mereka tidak suka rutinitas, tidak suka liturgi, tidak tahan berdoa, tidak tahan mempelajari Alkitab. Kalau orang bertumbuh dewasa secara rohani, penekanannya berubah; penekanannya sekarang kepada karakter, disiplin, pengajaran, kebenaran. Mereka tidak puas dengan kebenaran-kebenaran yang simpel, mereka mau belajar lebih dalam. Mereka bisa menunggu lebih lama. Mereka ‘gak segitunya mengandalkan perasaannya sendiri. Saudara sendiri orang yang seperti apa? Tidak masalah jika kita anak-anak; semua mulai dari sana. Seorang jemaat tadi mengatakan satu poin yang bagus, bahwa Tuhan tidak mengusir anak-anak, Tuhan mengatakan “biarkanlah  anak-anak itu datang kepada-Ku”. Jadi tidak masalah sama sekali jadi anak-anak, kita semua mulai dari sana; problemnya terjadi ketika kita tidak mengenali bahwa diri kita anak-anak, dan dengan demikian tidak merasa perlu bertumbuh.

Tahap yang ketiga, tahap para bapak. Yohanes mengatakan: “Aku menulis kepada kamu, hai bapa-bapa, karena kamu mengenal Dia, yang ada dari mulanya.” Tahap yang paling akhir, paling advanced dalam Kekristenan adalah bahwa mereka mengenal Dia yang ada dari mulanya. Umat Tuhan yang paling dewasa adalah mereka yang bersekutu dengan Tuhan, yang mengenal dan punya relasi mendalam dengan Tuhan, yang dibentuk dalam waktu lama. Sekali lagi kita bisa menarik paralel antara kedewasaan spiritual dengan kedewasaan biologis. Dalam bahasa Inggris ada satu istilah untuk orang yang sudah dewasa, yaitu ‘seasoned’. Kata ‘seasoned’ ini bukan dari ‘season’ dalam arti bumbu --jadi orang yang sudah dibumbui, seperti istilah bahasa Indonesia untuk orang seperti itu adalah ‘sudah makan garam’-- seasoned di sini artinya sudah melewati/mengalami musim-musim. Ini berarti, orang-orang yang dewasa sudah tahu bahwa ada musimnya pohon berbuah banyak dan bunga-bunga bermekaran, tapi dia juga tahu ada musimnya badai datang dan salju turun.

Saya kali ini kaget banget rumah saya kebanjiran, karena selama 15 tahun tempat saya sama sekali tidak pernah banjir. Akhirnya saya tidak siap sama sekali, tidak ada pertahanan. Saya bersama istri berusaha membendung air di pintu depan rumah, tapi ternyata air datang dari lubang toilet di dalam rumah. Itulah namanya tidak seasoned. Sedangkan orang yang dewasa, dia sudah mengerti musim, dia bisa membaca musim. Mereka tidak dikejutkan ketika datang salju, hujan badai, dan banjir. Mereka sudah tahu musimnya. Ketika banjir, bagi mereka, ya, iyalah, sudah Januari koq. Bukan berarti kita tidak perlu mengusahakan supaya banjir teratasi --ini bukan sedang diskusi polotik—tapi bagi orang-orang yang seasoned, itu sudah lumrah, memang musim hujan. Orang yang dewasa secara rohani juga demikian. Mereka mengenal Tuhan; ketika Tuhan mengirim badai dan salju, ketika Tuhan menarik kembali bunga dan buah, mereka tidak kaget. Mereka tidak marah-marah, “Kenapa Tuhan kirim salju sekarang?!” mereka cukup lihat kalender dan mengenali bahwa ini semua adalah bagian dari cara Tuhan membawa pertumbuhan dan memberi kehidupan. Mereka mengenali bahwa ada waktu untuk mekar, ada waktu untuk berbuah, dan ada waktu untuk musim dingin.

Itulah tiga tahap pertumbuhan dalam tulisan Yohanes. Dan Saudara perhatikan, pembahasan ini pakai waktu paling banyak untuk tahap anak-anak, lalu lebih sedikit di tahap orang muda, dan paling sedikti di tahap orang dewasa; mengapa? Karena data kita mengenai orang-orang yang makin dewasa itu makin sedikit. Gereja dipenuhi orang-orang yang seumur hidupnya bayi rohani; dan sangat sedikit dari kita yang akhirnya bertumbuh keluar dari fase ini. Pertanyaannya, apakah Saudara bisa mengenali dirimu sendiri atau tidak? Apakah Saudara bisa melihat pertumbuhan dalam dirimu selama ini? Atau, Saudara justru mandek dalam fase tertentu karena Saudara terus-menerus gagal mengerti pelajaran apa yang harus ditangkap?
Inti kotbah hari ini adalah saya ingin kita sebagai Gereja, memulai tahun yang baru ini dengan sikap rendah hati. Kerendahan hati dalam Kekristenan bukanlah sikap merendah; kerendahan hati datang melalui tahu diri. Pendeta Ivan Kristiono pernah mengatakan, kerendahan hati orang Kristen mulainya dari halaman pertama Alkitab, karena dari situ kita langsung tahu siapa diri kita. Kita ini debu tanah –bukan tanah, melainkan debunya tanah. Itulah kita. Jadi tidak ada kemungkinan untuk orang Kristen tidak rendah hati; kalau tahu diri, pasti rendah hati. Itu sebabnya, kenalilah siapa diri Saudara, kenalilah bahwa semua dari kita tidak ada yang mau mengakui kebayian dan kekanak-kanakan kita. Akuilah, sadarilah, dan hadapilah realita, bahwa memang menakutkan bagi kita yang sudah dewasa secara biologis untuk mau mengulangi kembali perjalanan pertumbuhan ini secara spiritual. Dan, kalau kita mau mengulangi perjalanan itu, itulah yang namanya jadi seperti anak-anak (childlike) tanpa menjadi kekanak-kanakan (childish). Alkitab memanggil kita untuk menjadi seperti anak-anak, mengakui kebayian kita, keterbatasan kita, kekecilan kita, tanpa menjadi kekanak-kanakan. Bedanya apa? Bedanya, yang kekanak-kanakan itu tidak bertumbuh, sedangkan yang seperti anak-anak, dia bertumbuh.

Kalau Saudara masih kesulitan untuk mengulang perjalanan pertumbuhan ini secara spiritual, Saudara perlu melihat pada diri Yesus Kristus. Kita yang sudah dewasa biologis, kadang tidak rela datang kembali jadi anak-anak secara spiritual; tapi Kristus, yang adalah Allah, yang Alkitab katakan adalah rekan kerja Bapa menciptakan langit dan bumi, Dia turun ke bumi dan menjadi anak. Bukan hanya di halaman-halaman pertama Injil, Saudara melihat ini sepanjang hidup Tuhan. Kalau Saudara mau melihat childlikeness yang sempurna, dan bukan childishness, lihatlah kepada Kristus. Seumur hidup Dia mengasihi Bapa-Nya, bergantung kepada Bapa-Nya, tidak bergerak kalau Bapa-Nya tidak suruh. Dia melakukan ini demi Saudara dan saya boleh menjadi children of God; kembali diperanakkan dalam Tuhan, menjadi anak-anak Allah, lahir baru, dan bertumbuh dalam kedewasaan rohani.

Kiranya kebaktian pertama di GRII Kelapa Gading Tahun 2020 ini Saudara boleh melihat ke depan, menyadari panggilan pertumbuhan Kristen yang Tuhan berikan untuk kita jalani. “Blessed new year”.

Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah (MS)

Gereja Reformed Injili Indonesia Kelapa Gading

Download Ringkasan