Ibadah menurut Yohanes Calvin

Hari ini kita akan merenungkan konsep tentang Ibadah dari pemikiran Yohanes Calvin. Meskipun temanya “Ibadah Menurut Calvin”, Saudara jangan pikir kita mulai bergeser, tidak mengotbahkan Firman Tuhan lagi, lalu mulai mengotbahkan pikiran manusia seperti Calvin, dsb., karena yang dikotbahkan di sini tetap prinsip Firman Tuhan. Calvin itu seorang teolog yang tidak tertarik untuk menjadi otentik, orisinal, dsb., seperti banyak teolog di dalam zaman kita, yang seakan-akan ada tekanan besar sekali untuk menjadi orisinal. Calvin pernah mengatakan, “Kalau di bagian-bagian tertentu Agustinus sudah menulis dengan baik, saya tidak perlu tulis lagi; Agustinus sudah cukup”. Dia seorang teolog Agustinian, sangat mirip Martin Luther, dan yang dia lakukan adalah kontekstualisasi pemikiran Agustinus di zamannya (zaman Reformasi). Dan, waktu membaca tulisan-tulisannya, kita tahu bahwa dia mengajak kita untuk melihat Alkitab, bukan melihat kompleksitas pikirannya sendiri. Dia menunjuk kepada Kristus, kepada kekayaan Alkitab. Dia seperti Yohanes Pembaptis, yang bukan membawa orang kepada dirinya sendiri, melainkan kepada kelimpahan yang ada pada Kristus. Itu sebabnya, ketika membahas tema seperti ini, yang kita bicarakan sebetulnya pandangan Firman Tuhan, sebagaimana dimengerti oleh Calvin, dalam konsep tentang Ibadah.

Calvin banyak menggunakan gambaran-gambaran (images) atau metafor untuk menjelaskan Ibadah. Ini menarik, apalagi di dalam zaman kita, zaman Postmodern; sedangkan pada zaman Modern, orang melakukan penjelasan dengan memakai definisi, proposisional, dijelaskan substansinya apa. Ada kelebihan dalam penjelasan menggunakan metafor; penggunaan metafor mungkin tidak sejelas atau setepat kalimat-kalimat proposisional dalam penjelasan secara definisi, namun gambaran-gambaran yang dipakai memiliki kekayaan faset pengertian. Misalnya, kalau dikatakan “Herodes itu serigala”, Saudara tentu tahu arahnya mau ke mana; yang pasti bukan berarti badannya berbulu –hal itu tidak terlalu penting dalam pengertian “serigala”—melainkan tentang kelicikannya, kekejamannya, dsb. Saudara bisa ada imajinasi waktu digunakan metafor seperti itu. Dalam Alkitab sendiri ada banyak penggunaan metafor. Waktu Calvin menjelaskan tentang Ibadah, dia juga menggunakan metafor, sehingga ini bisa memperkaya pengertian kita.

Dalam hal ini ada 8 metafor yang akan kita bicarakan; ini bukan satu daftar yang komprehensif mencakup semuanya, tapi paling tidak sudah cukup kaya pengertiannya. Kita tidak bisa cuma pakai 1 – 2 metafor saja, karena itu tidak cukup untuk menjelaskan kekayaan pengertian mengenai Ibadah.

Yang pertama: gambaran anak tangga (ladder); Ibadah itu seperti anak tangga. Berbicara mengenai anak tangga, sepertinya tidak terlalu ada yang unik, karena agama mana sih yang tidak bicara anak tangga. Dalam Kekristenan pun penggunaan istilah “anak tangga” cukup umum, dalam arti orang yang beribadah adalah seperti sedang naik ke atas menghampiri Tuhan. Jadi, jangankan dalam Kekristenan, dalam agama lain pun gambaran anak tangga bisa cocok-cocok saja. Tetapi bedanya, dalam perspektif Kekristenan ini maksudnya bukan kita yang naik ke atas dengan kekuatan kita sendiri –karena tidak ada tangga yang bisa sampai ke surga—tangga itu sendiri sebetulnya Kristus. Inilah juga yang ditekankan oleh Calvin. Kristus yang membawa kita ke atas. Tanpa Kristus, manusia tidak bisa ke atas, tidak mungkin bisa Ibadah, yang ada cuma datang ke gereja saja. Waktu datang ke gereja, apakah dia betul-betul diangkat dan berjumpa dengan Tuhan serta mengalami mystic union in Christ through Christ, itu pertanyaan.

Dalam suatu ujian pendeta, Pendeta David Tong memberikan pertanyaan: “Jelaskan kaitan Perjamuan Kudus dengan kedaulatan Allah”. Kita –bersama dengan Calvin—percaya bahwa dalam Perjamuan Kudus terjadi mystical elevation; orang diangkat ke surga waktu Perjamuan Kudus, bukan tanpa iman dan bukan tanpa kedaulatan Tuhan. Siapa sajakah yang diangkat ke surga, itu ada dalam kedaulatan Tuhan; ada yang diangkat, ada yang tidak diangkat. Yang tidak beriman, yang tidak peduli, yang naturalis, yang materialis, yang fisikalis, ya, tetap di bawah, cuma kebaktian di Kelapa Gading, tidak ada koneksi dengan yang di atas; mengapa? Ya, karena tidak ada Kristus di situ, karena dia tidak tertarik, bagi dia itu cuma makan roti dan minum anggur –urusan natural saja. Tetapi kalau kita mengerti Ibadah sebagai anak tangga ke atas, kita betul-betul diangkat di dalam/melalui Kristus. Kita tidak bisa naik sendiri kecuali Kristus yang membawa kita kepada Bapa. Dia satu-satunya jalan; dan di dalam/melalui Kristus itulah kita berjumpa dengan Bapa.
Berbicara mengenai “tangga”, kita juga ingat cerita Yakub yang diberikan visi; waktu tertidur, dia melihat seperti suatu anak tangga yang ujungnya sampai di langit (Kej. 28:12). Kalimat ini dikutip dalam Yohanes pasal 1, Yesus mengatakan: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia." Jadi, gambaran yang ada dalam Kejadian 28:12, anak tangga itu sebetulnya Kristus; menyatakan bahwa manusia perlu mediasi untuk bisa berjumpa dengan Tuhan, dan mediatornya adalah Kristus, tidak ada mediator yang lain.

Dalam implikasi praktisnya, gambaran anak tangga ini juga berarti bahwa dalam Ibadah perlu ada klimaks, karena di dalam gambaran anak tangga ada gerakan naik. Mungkin masih debatable apakah itu satu klimaks atau 2 klimaks, singular atau plural, tapi intinya di dalam Kebaktian tidak bisa seluruhnya berjalan datar; itu konsep yang kurang bagus, karena seperti tidak ada dinamika dalam Ibadah. Kita musti punya kepekaan –di dalam anugerah Tuhan, di dalam kedaulatan Tuhan dan di dalam gerakan yang Tuhan kerjakan—untuk membawa Ibadah kepada titik klimaks, ada telos.

Saya beberapa hari lalu dalam ibadah pagi di STT membahas pentingnya doksologi, atau awe and wonder, di dalam kehidupan studi. Di dalam Surat Roma, Paulus di pasal 1-11 menulis risalah teologis yang cukup rumit/kompleks, lalu diakhiri dengan doksologi. Di pasal 11 akhir, Paulus berhenti, dia refleksi, dia terharu, dan dalam awe and wonder dia menaikkan doksologi. Jadi ada satu kekaguman di dalam orang berteologi. Ini bukan suatu pekerjaan menyelidiki ke bawah saja, yang diselidiki secara objektif, analitik, dsb., melainkan berteologi yang dilakukan dalam spirit praising God, mengagumi Tuhan, worship. Itu sebabnya di bagian akhir risalah teologisnya, Paulus mengakhiri dengan doksologi. Meskipun bagian doksologi tersebut bisa dikatakan klimaks, tapi ternyata tidak berhenti di situ, masih ada lanjutannya. Lalu apakah lanjutannya itu jadi antiklimaks? Tidak juga. Kalau kita menggali struktur-struktur seperti ini di dalam Kitab Suci, kita akan mendapati banyak prinsip yang tidak seperti biasanya kita pikirkan. Maksudnya, dalam hal Ibadah, setelah doksologi dan doa berkat sepertinya tugas kita selesai; tetapi Paulus tidak melihatnya seperti itu dalam Surat Roma. Bagi Paulus, doksologi bukan berarti terakhirnya yang paling akhir dan setelah itu tidak boleh bicara lagi, melainkan justru dari doksologi itu dia melanjutkan pembahasan ke pasal 12, 13, 14, dst.
Demikian juga, kita bisa menutup Ibadah dengan doksologi –dan boleh saja doksologi menjadi klimaks—tapi doksologi bukan berarti selesai meskipun bisa dikatakan tujuannya (telos), karena setelah itu kita diutus keluar, kembali ke tengah-tengah dunia. Dan ini bukan tanpa kita mengagumi kemuliaan Tuhan (awe and wonder) di dalam Kebaktian dari awal sampai akhir --khususnya klimaks dalam doksologi-- bukan tanpa doa berkat (benediction), bukan tanpa doa pengutusan. Jadi, dalam gambaran anak tangga itu, setelah kita naik ke atas dan mengalami mystic union with God, bukan kemudian tidak kembali-kembali lagi karena sudah di atas terus.

Pembahasan seperti ini muncul dalam tulisan Bernard de Clairvaux. Dia diminta membahas mengenai anak tangga (steps) menuju kerendahan hati, tapi dia bilang tidak mampu; sebaliknya dia mengusulkan untuk membahas anak tangga (steps) menuju kecongkakan (pride) saja karena yang terjadi dalam kehidupan kita seringkali justru anak tangga menuju kecongkakan daripada menuju kerendahan hati. Dia mengatakan ada 12 anak tangga menuju kecongkakan, dan ini sebetulnya gerakan yang sama tapi dalam arah yang lain dari kerendahan hati, jadi dengan bicara 12 anak tangga menuju kecongkakan, tinggal direfleksikan saja maka lawan katanya yaitu kerendahan hati. Dalam tulisannya yang lain, “On loving God” (Latin: “De diligendo Dei”), dia juga membahas tentang anak tangga; waktu seseorang mengasihi Tuhan, ada step-stepnya sampai ke atas. Yang menarik, di satu bagian dia mengatakan, ketika seseorang mengalami mystical union with God, dia musti turun lagi. Mengapa? Karena cinta kasih kepada saudara-saudara mengharuskan dia untuk turun. Ini sangat mirip dengan perkataannya Paulus: “Kalau dari saya, saya sebetulnya kepingin bersama-sama dengan Tuhan, saya kepingin kembali kepada Tuhan, itu pasti yang paling bahagia. Tetapi adalah lebih baik kalau saya tetap tinggal bersama dengan kamu”. Dan dalam tegangan antara 2 pilihan ini, akhirnya Paulus memilih untuk tetap tinggal bersama dengan jemaat –sangat mirip dengan yang dikatakan Bernard de Calirvaux. Poin yang saya mau katakan adalah: waktu kita naik ke atas, bukan berarti ke atas dan ke atas terus lalu hilang lenyap. Memang betul dalam Perjamuan Kudus kita diangkat ke atas, kita memandang wajah Kristus yang ada di surga, Kristus yang sedang berbicara dengan kita, tapi setelah itu Ibadah diakhiri dengan pengutusan, sehingga berarti kita turun kembali ke dalam dunia. Dalam hal ini, gambaran “anak tangga” mengakomodasi konsep-konsep seperti ini.

Yang kedua: gambaran pohon yang banyak buahnya (fruit tree). Ibadah seharusnya menyuguhkan all kind of spiritual delicacies; ibadah yang tidak bisa dinikmati, yang membosankan, yang menyuguhkan makanan basi, dst., itu tidak mewakili kemuliaan Kristus. Bagaimana mungkin orang datang ke Ibadah yang seperti itu, yang menunya itu dan itu lagi, yang dibicarakan itu dan itu lagi terus-menerus, klise. Bicara seperti ini, memang terutama yang perlu mawas diri adalah para pelayan Ibadah, termasuk Hamba Tuhan; apakah kita menghidangkan makanan lezat atau makanan sisa-sisa yang sudah 3 hari di dalam freezer, dsb.
Ada satu kutipan dari Luther yang menarik, berkaitan dengan bagian ini: “If the Bible were a mighty tree, … and all the words the branches, I knocked them all out and wanted to know what was in them and what they were carrying. And I always knocked down a few apples or pears”. Luther punya ambisi bahwa Firman Tuhan haruslah terus digali, seperti pohon yang ada buahnya dan semua  buahnya kita petik, kita ambil dan makan. Tidak heran dalam pengajarannya sangat limpah dengan pengertian Firman Tuhan, karena dia sendiri punya spiritual appetite untuk terus menggali Alkitab. Dalam Mazmur 1 pemazmur mengatakan “Orang yang kesukaannya adalah Firman (taurat Tuhan), dia seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air, dia tidak pernah gagal berbuah”. Kita seringkali gagal berbuah karena kita tidak terlalu tertarik menggali Firman Tuhan. Kita tidak seperti Luther yang dengan “serakah” mau makan semua yang ada di sana. Kita kurang ada spiritual appetite, akhirnya kita sulit bertumbuh.

Kembali ke gambaran pohon yang berbuah, Gereja diundang untuk menghadirkan spiritual delicacy karena di dalam dunia hal itu tidak ada. Di dalam dunia yang ada cuma material delicacies, sedangkan spiritual delicacies sulit sekali didapat. Di negara-negara Barat yang sekarang sangat sekuler, orang mulai mencari spiritual delicacies, mereka mulai mencari jawaban-jawabannya termasuk dari dalam kultur Timur; tetapi tetap saja bukan di sana jawabannya. Saya pernah menghadiri satu kuliah dari seorang profesor terkenal di Heidelberg, seorang liberal. Dalam satu kesempatan, ada seorang mahasiswa yang menceritakan tenatng hal-hal supra natural, kuasa gaib, dsb., lalu murid-murid lain seperti menertawakan, dan dia kelihatan agak jengkel. Dalam keadaan tegang seperti itu, sang profesor mengatakan: “Jujur saja, cerita-cerita seperti ini bagi saya yang mengajar di Heidelberg, sulit untuk terima. Tetapi poinnya, carilah di dalam kulturmu sendiri, tidak usah cari-cari di kebudayaan Timur dsb.” (baik sang profesor maupun mahasiswa tadi sama-sama orang Jerman). Jadi, di satu sisi ada orang yang berusaha mencari-cari spiritual delicacies di dalam kultur Timur dan akhirnya tidak mendapatkan juga, lalu di sisi lain ada orang-orang yang mengajarkan untuk cari di dalam kulturnya sendiri. Tetapi, mau cari spiritual delicacy apa di situ sementara kulturnya sendiri itu sangat sekuler??

Bulan Desember lalu waktu melayani Natal di Jerman, saya pergi ke satu toko buku. Di situ ada satu bagian rak yang isinya buku-buku best seller, baik fiksi maupun non fiksi. Saya selalu tertarik untuk tahu buku-buku non fiksi apa yang jadi best seller; dan di situ ada buku-buku yang ditulis psikolog yang sangat mungkin bukan Kristen. Dalam buku itu digambarkan pertanyaan-pertanyaan tentang kehidupan manusia, dan dijawab dengan pernyataan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan Alkitab. Ini berarti kebutuhan untuk mencari memang ada, tapi Gereja tidak memberikan jawaban. Akhirnya yang memberikan jawaban adalah psikolog-psikolog, yang dasarnya juga tidak Kristen. Contohnya, di situ ada ajaran tentang “happy relationship through dis-believe”; tentang bagaimana mendapatkan hubungan-hubungan yang dipenuhi kebahagiaan, lalu jawabannya adalah “melalui ketidakpercayaan”. Persoalan bahwa kamu tidak bahagia adalah karena kamu terlalu percaya; semakin kamu penuh kecurigaan, maka semakin kamu akan terlindung dari ketidakbahagiaan, semakin kamu bisa masuk ke dalam kebahagiaan. Jadi bagaimana? Jadilah orang yang curiga! Betapa persis terbalik dari yang diajarkan Alkitab; dan buku seperti ini jadi best seller! Sedih sekali baca buku seperti itu. Lalu waktu saya menceritakan ini kepada mantan supervisor saya, dia mengatakan akan menulis tentang bagian itu di bukunya. Memang harus ada teolog yang menjawab hal-hal seperti ini, karena jika tidak, akan didominasi dengan jawaban-jawaban sekuler seperti tadi. Indonesia bukan negara sekuler, tapi yang namanya sekuler bukan cuma spesialisasinya Barat; dalam hal penolakan terhadap Kristus, penolakan terhadap Tuhan, Indonesia pasti tidak kebal juga. Waktu orang lebih menekankan delicacies dalam dunia yang kelihatan daripada spiritual delicacies, sebetulnya itu sudah terjerat di dalam sekularisme.

Calvin mengingatkan, di dalam Ibadah kita melihatnya seperti suatu pesta, dan kita diundang. Itu ibarat sebuah taman, penuh dengan pohon-pohon yang ada buahnya, dan kita boleh memetik. Ini seperti keadaan ketika manusia pertama kali diciptakan, di dalam dunia ada begitu banyak jenis buah, tapi sangat disayangkan yang dipilih Adam –yang adalah cerminan diri kita—justru buah yang dilarang. Betapa manusia begitu tidak bisa dimengerti, keanehannya, keras kepalanya, isengnya, tapi akhirnya membuat seluruh dunia jatuh. Maka, dalam hal ini Ibadah adalah penebusannya (redemption), seakan merupakan tombol pembalikannya (reversal); bahkan lebih dari sekedar pembalikan saja, karena akan melampaui Taman Eden. Maksudnya, Saudara diundang kembali untuk menikmati spiritual delicacies, lalu pelan-pelan kita jadi terelativisasi, tidak terlalu tertarik lagi dengan buah-buah yang terlarang itu. Waktu kita di dalam dosa, kita cenderung mencari buah yang terlarang, tidak peduli dengan spiritual delicacies. Tetapi ketika kita beribadah, seharusnya terjadi penebusan dan pembalikan ini, kita mulai tidak tertarik dengan hal-hal yang bukan-bukan yang sebetulnya lebih menghancurkan ketimbang mempertumbuhkan diri kita, dan kita mempunyai selera rohani (spiritual appetite).

Yang ketiga: komunikasi (conversation); Ibadah adalah suatu konversasi/komunikasi. Maksudnya, Tuhan berbicara kepada kita, dan kita berbicara kepada Tuhan; ini dua arah, bukan satu arah. Ibadah yang cuma satu arah, bukanlah ibadah yang baik –dalam arah mana pun; baik itu cuma kita yang bicara kepada Tuhan, ataupun cuma Tuhan yang berbicara kepada kita dan kita tidak bicara apa-apa, tidak ada respons. Atau, selalu kita yang mau didengarkan oleh Tuhan, sedangkan giliran Tuhan yang berbicara kita tidak tertarik, Tuhan cuma dijadikan a shoulder to cry on, setelah itu selesai –ini ibadah yang satu arah.

Di gereja-gereja tertentu mungkin pujiannya panjang, doanya panjang, sedangkan orang tidak terlalu tertarik dengan kotbah sehingga 20 menit saja cukup. Ini seperti manusia cuma ingin didengar Tuhan, sedangkan giliran Tuhan bicara, ya, cepat-cepat sajalah, kita kayaknya juga sudah tahu Tuhan mau ngomong apa, itu lagi, itu lagi. Tetapi, mungkin yang jadi persoalan di gereja kita adalah sebaliknya; giliran Tuhan bicara kita mau dengar baik-baik, tapi setelah itu responsnya apa, pertumbuhannya di mana? Saya kuatir dengan jemaat Reformed yang cuma tertarik dengan kotbah, bahkan bilang “kotbahnya bagus, mencerahkan”, dsb., tapi setelah itu responsnya apa?? Cuma masuk ke dalam kekaguman-kekaguman seperti kalau Saudara pergi ke museum cuma menikmati saja, setelah itu, ya, sudah. Atau seperti orang yang mendengarkan musik di concert hall, lalu setelah itu apakah dia belajar? Tidak juga. Dia tetap jadi penonton, tetap jadi konsumen, tetap jadi penikmat saja. Tidak ada perubahan apa-apa. Lain kali datang lagi dan begitu lagi, begitu lagi. Jadi tidak ada komunikasi di dalam Ibadah, tidak ada two ways traffic, yang ada cuma satu arah saja, entah itu dari atas ke bawah atau dari bawah ke atas.

Kalau kita belajar dari Calvin, dalam Ibadah harus ada konversasi. Waktu saya bicara di sini seperti ini, saya tidak bisa cuma bicara saja tanpa peduli apa respon Saudara. Saya musti ada kepekaan Saudara berespons apa di sini; mungkin ada kalimat-kalimat yang tidak penting dan tidak cocok di Kelapa Gading, maka jangan dikatakan. Berkotbah sebetulnya bukan monolog, tapi ada dialog; bukan cuma Saudara yang sedang membaca saya, saya juga sedang membaca Saudara, tapi terutama Tuhan yang sedang membaca kita. Di dalam konversasi perlu kepekaan. Ada orang yang tidak peka; dia terus bicara tentang dirinya sendiri, keluarganya sendiri, dsb., lalu waktu orang lain mulai bicara, dia timpali dan balik lagi bicara tentang dirinya sendiri. Ada orang bicara tentang dirinya sendiri bisa berjam-jam, tapi mendengarkan pembicaraan orang lain cuma tahan 5 menit. Ini orang egois yang cuma mau didengarkan saja. Ibadah menolong kita untuk tidak jadi orang-orang egois seperti itu, yang cuma satu arah.

Yang keempat: gambaran cermin (mirror). Saya mengulang hal yang sudah dikotbahkan Pendeta Jethro dalam pembahasan tentang Yunus bahwa orang cenderung mau tahu Yunus itu siapa, apakah kisahnya historis atau tidak historis; mata kita tertuju untuk mengenal Yunus-nya --ini namanya perspektif “jendela”. Kita di dalam dunia seringkali mengenal segala sesuatu dari perspektif jendela. Maksudnya, kita mau menyelidiki, kita mau menganalisa, kita mau tahu hal-hal yang di luar diri kita. Waktu kita berhadapan dengan diri Tuhan, memang Tuhan itu juga extra nos, Dia di luar diri kita, namun tidak bisa tidak kita akan melihat diri kita sendiri –ini artinya “cermin”. Bedanya cermin dengan jendela, kalau “jendela” artinya Saudara melihatnya ke luar, sedangkan “cermin” berarti Saudara melihat diri sendiri. Dalam pemahaman Calvin, Ibadah harus jadi cermin.

Kalau Saudara beribadah tapi tidak bercermin, tidak melihat diri Saudara di dalam terang Firman Tuhan dan di dalam perspektif kemuliaan Tuhan, maka tidak mungkin bertumbuh. Kalau Ibadah menjadi Ibadah yang reflektif, Saudara melihat bayang-bayang Saudara sendiri di dalam cerita itu –bukan dalam pengertian narsisisme tapi pengertian yang positif—bahwa yang dibicarakan adalah diri saya, keluarga saya, gereja saya dan bukan gerejanya orang lain, berarti ada cermin di dalam Ibadah. Tapi kalau kita terus melihatnya yang di luar, di sini, di sana, di belakang, bahwa kotbahnya untuk dia, dsb., berarti tidak ada cermin di situ, yang ada cuma jendela-jendela yang kita bisa melihat ke luar.

Waktu kita berhadapan dengan Tuhan, selain kita mengenal Dia, Dia juga akan membawa kita untuk melihat diri kita. Bukan melihat diri dari perspektifnya kita sendiri, tapi melihat diri sebagaimana Tuhan melihat kita. Waktu kita mengenal Tuhan, maka termasuk di dalam pengenalan itu kita lebih mengerti pikiran-Nya. Apa yang ada dalam pikiran Tuhan? Yang ada dalam pikiran Tuhan adalah bagaimana Dia mengetahui diri kita. Jadi, kalau kita bertumbuh di dalam pengenalan kita akan Tuhan, maka termasuk dalam pengenalan kita akan Tuhan itu adalah pengenalannya Tuhan atas diri kita. Hal itu ada dalam pikirannya Tuhan, dan di-share kepada kita, sehingga kita bisa melihat diri kita sendiri bukan dengan penilaian pribadi, melainkan sebagaimana Tuhan melihat kita. Ini berarti ada cermin di dalam Ibadah.
Yang kelima: gambaran pesta (fiest). Di sini kita ingat perkataan-perkataan yang terkenal, seperti dikatakan Zwingli “the truth wears a happy face”,  “Christianity is a happy program”; juga konsep sebagaimana yang dibicarakan oleh John Piper, “Christian hedonism”, bahwa ini agama yang penuh dengan enjoyment, satisfaction, jauh dari kebosanan, jauh dari penyiksaan. Gambaran Kekristenan sebagai suatu pesta, penting sekali; Ibadah adalah suatu pesta.

Waktu kita berbagian dalam Perjamuan Kudus, kita makan dan minum, berarti Perjamuan Kudus itu pesta. Dalam Perjamuan Kudus ada dimensi pesta, karena ini adalah antisipasi dari pesta besar itu (the great banquette) bersama dengan Sang Anak Domba Allah, bersama dengan semua orang pilihan sepanjang segala zaman. Gambaran pesta ini penting, karena dalam metafor pesta, Saudara tidak memaksa orang datang melainkan  mengundang. Tidak ada orang memerintahkan datang ke pesta; pesta tidak cocok untuk dipahami secara kemiliteran. Bukan berarti dalam Kekristenan tidak ada aspek kemiliteran (military aspect), Zwingli mengatakan “Kristus itu Jendral kita, kita ini prajurit Kristus”; tetapi dimensi militer saja tidak cukup, masih ada dimensi pesta. Dalam dimensi pesta, Saudara tidak bicara “otoritas”. Bukan berarti saya anti otoritas, yang mau kita katakan adalah: ketika kita memiliki dimensi pesta, maka waktu mengundang orang kita sangat persuasif, tidak memaksa. Kategori “harus” tidak cocok dengan pesta. Mengatakan “kamu harus datang ke pesta ulang tahun saya” itu tidak cocok; yang lebih tepat adalah “kamu boleh datang, silakan datang, kamu diundang”. Lalu bagaimana kalau dia tidak datang? Sayang ya, padahal saya mau berbagi kebahagiaan, berbagi sukacita, berbagi hal-hal yang menyenangkan, tapi dia tidak mau datang, kasihan dia tidak bisa berbagian –ada kesedihan, dan bukan marah-marah.

Kalau kita tidak punya dimensi pesta di dalam Ibadah, kita bawaannya marah-marah melulu, karena tidak ada kalimat udangan, cuma perintah dan perintah, lalu kalau perintah tidak ditaati, ya, marah! Tetapi kalau kita mengundang orang lalu orang tidak datang, masakan kita marah? Kita sedih. Sedih dan marah itu dua ekspresi yang berbeda, kita perlu dua ekspresi itu. Kita tidak bisa cuma marah dan marah terus tapi tidak ada kesedihan yang kudus –itu pasti bukan kemarahan yang suci. Kemarahan yang suci perlu ada aspek holy grief. Yesus pernah marah, dan sangat marah, waktu Dia menyucikan Bait Allah, tetapi Yesus yang sama adalah Yesus yang mencucurkan air mata waktu Dia masuk ke Yerusalem; ada kesedihan yang suci (holy grief) dan ada kemarahan yang suci (holy anger). Tetapi kemarahan yang tidak ada kesedihannya sama sekali, itu pasti bukan holy anger, itu api yang lain, yang merusak dan tidak konstruktif dalam spiritualitas.

Gambaran pesta, itu mengundang orang untuk menikmati apa yang lebih dahulu kita nikmati dari Tuhan. Kita diundang di taman yang penuh pohon berbuah, suatu pesta taman, lalu kita bisa memetik buah apa saja yang banyak sekali variasinya (gambaran yang tadi tentang pohon yang berbuah, spiritual delicacies), lalu kita yang mengerti kenikmatan itu, mengundang orang lain untuk datang. Saya sedih kalau memikirkan hal ini, penginjilan seringkali tidak jalan karena kita sendiri tidak bisa menikmati spiritual delicacies itu. Ini sebabnya kita juga tidak ada kekuatan untuk mengundang. Kita tidak luber, kenikmatan spiritual delicacies yang diberikan Tuhan dalam kehidupan kita tidak terjadi, lalu bagaimana mungkin kita mengudang orang. Kalau saya sendiri rasa tidak ada yang enak dalam pesta ini, kalau saya rasa pesta ini membosankan, ngapain saya musti mengundang orang lain?? Kalau saya tidak bisa menikmati Ibadah, kalau Ibadah bagi saya cuma buang-buang waktu, orang ini kapan selesainya dari tadi ngomong terus, untuk apa juga saya musti mengundang orang?? Itu tidak mungkin. Kecuali saya jahat, saya merasa Ibadah bikin tersiksa, saya tidak mau tersiksa sendirian, jadi saya undang orang lain juga –penginjilan—supaya ada teman ketersiksaan. Tapi tentu kita tidak pikir sejauh itu, kita pikir yang wajar saja. Manusia yang wajar, waktu dia tidak bisa menikmati Tuhan dalam kehidupannya, maka apa yang mau di-share? Tidak ada. Karena dia sendiri tidak ada pengalaman itu, atau sangat miskin dalam pengalaman itu, dan tidak ada aspek festive pada akhirnya. Yang dikatakan Zwingli, “the truth wears a happy face”, akhirnya juga tidak ada karena orang Kristen kayaknya tidak wears a happy face, sebaliknya a gloomy face. Gambaran pesta ini sangat penting; ketika tidak ada Perjamuan Kudus pun, Ibadah tetap suatu pesta.

Yang keenam: pengorbanan (sacrifice). Hal ini in dialectical tension, but creative tension; mungkin kedengaran seperti kontradiktif, di satu sisi pesta, di sisi lain pengorbanan. Bicara pengurbanan, berarti ada darah, ada yang disembelih, ada yang diserahkan --suatu gambaran yang seperti antitesis-nya pesta. Perjamuan Kudus dengan begitu indah menyatakan kedua aspek tersebut.

Perjamuan Kudus adalah mengingat pengorbanan Kristus yang sudah diberikan kepada kita oleh Bapa, Kristus yang mempersembahkan diri-Nya sendiri, dan kita merenungkannya dengan penuh dukacita; dalam Perjamuan Kudus kita juga mengantisipasi Perjamuan Besar itu (The Great Banquette), ini adalah suatu pesta. Bagaimana bisa di dalam satu pesta sekaligus adalah perenungan dukacita? Perjamuan Kudus bisa menampung tension tersebut. Ini sulit dimengerti, karena Salomo mengatakan dalam Pengkotbah 3, “Segala sesuatu ada waktunya, ada waktu untuk tertawa, ada waktu untuk menangis” sehingga kalau boleh saya terjemahkan dalam hal ini, “ada waktu untuk sukacita, ada waktu untuk dukacita; ada waktu untuk pesta, ada waktu untuk berkabung”. Tetapi, di dalam Perjamuan Kudus Saudara melihat bahwa ini adalah pesta sekaligus perenungan dukacita. Ini adalah pengorbanan (sacrifice), yang memberikan kepada kita bahagia. Penderitaan itu dialami oleh Kristus, sehingga ketika merenungkannya, kita berdukacita karena Dia menderita seperti itu mati di atas kayu salib oleh sebab dosa-dosa kita. Namun ini bukan suatu dukacita yang menghancurkan, yang akhirnya membuat kita bunuh diri karena terlalu sedih, melainkan dukacita yang kemudian menjadi penghiburan bagi kita, bahkan juga sukacita dan kebahagiaan.

Ibadah perlu ada dimensi pengorbanan ini. Dalam pengertian Reformed Injili, bukan kita yang terlebih dahulu berkorban melainkan Tuhanlah yang sudah mempersembahkan diri-Nya terlebih dahulu. Kita musti melihat pengorbanan Kristus –ini yang pertama. Orang yang mengerti pengorbanan Kristus, dia akan terus-menerus mempersembahkan dirinya sebagai korban yang hidup. Ibadah harusnya mengajak orang untuk mepersembahkan dirinya lagi, lagi, dan lagi. Itu suatu undangan kebahagiaan. Kembali ke aspek pesta tadi, ini bukan suatu pengorbanan yang setelah Saudara mengorbankan diri lalu Allah dengan begitu kejam akan menghancurkan kehidupan Saudara; undangan untuk mempersembahkan diri itu sendiri adalah juga undangan pesta, undangan kebahagiaan. Kalau kita tidak mau mempersembahkan diri sepenuhnya di dalam tangan Tuhan, kita mengalami berbagai macam ke-celaka-an; ini jangan ditukar.

Orang yang tidak mau mempersembahkan kehidupannya sepenuhnya di dalam tangan Tuhan, dia akan mengalami berbagai macam dukacita seperti yang dialami dunia ini. Barangsiapa yang mengikut Tuhan, mempersembahkan seluruh hidupnya bagi Tuhan, dialah yang mengalami bahagia sejati, mengalami pesta rohani. Tetapi dunia membalik-balik cerita injil ini, dunia bilang “ikut Tuhan itu susah, banyak penderitaannya”. Memang betul ada penderitaannya, banyak pergumulannya, tapi di sini dunia mau mengatakan “ikut saya saja, maka hidupmu lebih berbahagia”. Seseorang pernah datang kepada Charles Spurgeon setelah dia selesai berkotbah karena merasa tergerak mendengar kotbahnya, dan dia mengatakan: “Yang kamu katakan itu saya tertarik sekali, saya kepingin jadi Kristen, tapi bagaimana ya, saya masih ingin menikmati kehidupan ini sedikit saja lagi, setelah saya puas, saya bisa jadi Kristen”. Spurgeon menjawab: “Menikmati sedikit saja lagi? Kamu mau enjoy your life a little bit? Saya sih tidak mau enjoy a little bit, saya mau menikmati hidup saya sampai sepenuh-penuhnya, dan itu cuma ada di dalam Kristus”. Kenikmatan hidup yang paling tinggi cuma ada di dalam Kristus, dan bukan waktu kita tidak mempersembahkan diri lalu bisa ada me time, menikmati diri sendiri, dsb., yang adalah konsep ngawur, bukan konsep dari Alkitab. Itu undangannya dunia, injilnya dunia, kabar baiknya dunia, yang sebenarnya bukan kabar baik melainkan kabar buruk.

Kalau kita mempersembahkan diri, berarti kita mengerti artinya Kristus yang sudah mempersembahkan diri-Nya. Ketika Katekismus Heidelberg membicarakan tentang fungsi imam dalam kehidupan orang Kristen, dia juga memberikan prinsip yang sama. Yesus itu Nabi, Imam, Raja. Dia punya jabatan Imam, Dia mempersembahkan diri-Nya sebagai Korban Hidup, Dia mati di atas kayu salib. Kita ini disebut Christ-ian, dari kata Christ (Kristus) artinya Yang Diurapi. Dia adalah Mesias, Yang Diurapi, berarti Nabi, Imam, Raja. Jadi ketika kita disebut Christian (orang Kristen), maksudnya adalah kita berbagian dalam pengurapan Kristus, berarti kita juga punya fungsi nabi, imam, raja. Lalu ketika Katekismus Heidelberg membicarakan tentang fungsi imam, dikatakan: kalau kita berfungsi sebagai imam, pertama-tama, itu berarti kita mempersembahkan diri sebagai korban hidup, seperti Kristus; yang kedua, kita menjadi pendoa-pendoa syafaat.

Gereja yang menjalankan fungsi imam, dia berdoa syafaat; bukan berdoa untuk dirinya sendiri tapi berdoa untuk gereja yang lain, untuk masyarakat, untuk dunia ini. Gereja yang terus mendoakan dirinya sendiri, keluarganya sendiri, berarti tidak ada fungsi imam. Memang boleh juga dikatakan fungsi imam secara pribadi, dalam arti saya sebagai ayah mendoakan anak, istri, dsb., tapi fungsi imam juga bisa dihayati dalam level yang lain. Bukan cuma dalam level individu tapi juga dalam level keluarga dengan mendoakan keluarga yang lain, dalam level gereja dengan mendoakan gereja yang lain. Kristus tidak berdoa untuk diri-Nya sendiri, Dia berdoa untuk Saudara dan saya; itu namanya Imam.

Yang ketujuh: ratification of covenant (ratifikasi/pembenahan perjanjian). Dalam teologi Reformed, konsep kovenan (perjanjian) penting sekali. Tetapi waktu dikatakan ratifikasi perjanjian, maksudnya pembenahan/restorasi perjanjian, berarti diasumsikan di dalamnya adalah bahwa kovenan tersebut sudah diingkari, maka perlu ratifikasi. Ketika kita datang kepada Tuhan, kita musti sadar bahwa kita ini orang-orang yang mengingkari perjanjian dengan Tuhan (covenant breaker), kita bukan orang-orang religius yang menjaga kovenan dengan Tuhan itu, kita tidak betul-betul hidup sebagai orang yang sungguh-sungguh dimiliki oleh Tuhan. Mungkin kita juga kurang menikmati Tuhan sebagai milik kita –yang adalah arti dari kovenan itu sendiri, bahwa Tuhan milik saya, saya milik Tuhan. Sebagai covenant breaker, saya gagal menikmati Tuhan sebagai milik yang paling penting di dalam kehidupan ini, saya juga gagal memberikan diri saya untuk dimiliki sepenuhnya dan dinikmati oleh Tuhan. Dalam gambaran seperti ini, waktu kita beribadah, ada ratifikasi kovenan, maksudnya ada berita pengampunan dosa. Ini penting.

Di dalam teologi Reformed sendiri, kalau tidak berhati-hati, kita gampang sekali masuk ke dalam yang disebut dengan higher life preaching atau higher life movement. Kita mengajak orang untuk betul-betul mengasihi Tuhan, mendedikasikan hidup, dsb., tapi semuanya terdengar seakan sebuah “tarurat baru”, tidak ada pemberitaan kasih karunia. Saudara seakan terus didorong jadi orang-orang yang high achiever, great achiever --orang-orang sukses-- termasuk dalam hal-hal rohani. Saudara adalah orang yang doanya lama, Saudara selalu penginjilan, Saudara datang di ini dan itu, Saudara sangat sinkron, dst., lalu akhirnya bergeser jadi high life movement. Ini jadi seperti membebani orang tapi tidak bicara tentang kabar baik. Ini tidak mengundang orang-orang yang gagal. Seakan tidak ada tempat untuk orang-orang yang bukan great achiever, yang biasa-biasa saja, karena apa? Ya, karena tidak ada Injil, karena tidak ada berita pengampunan di situ. Yang diberitakan jadi bukan Injil tapi “kamu achieve, maka Tuhan terima”. Ini berarti pelagian, bukan Injil. “Kamu melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, maka Tuhan berkenan kepadamu”; yang seperti itu, kalau bukan pelagian lalu apa??

Itu bukanlah pengajaran dalam teologi Reformed, tapi ironisnya, Reformed kalau tidak hati-hati gampang sekali bergeser ke sana. Mengapa ini bisa terjadi? Karena di dalam teologi Reformed ada konsep “penggunaan hukum Taurat yang ketiga” (“third use of the law”) bagi orang-orang percaya. Kalau Luther, penekanannya adalah: Taurat menolong kita untuk mengetahui bahwa diri kita orang berdosa, dan karena itu kita perlu Injil; waktu berhadapan dengan Taurat, saya tahu bahwa saya tidak bisa mengasihi Tuhan sepenuhnya, karena itu saya perlu belas kasihan Tuhan. Itu adalah “the spiritual use of the law” menurut Paulus, dan juga Luther. Calvin juga pasti percaya ini; tetapi lebih daripada orang-orang Lutheran, orang Reformed menekankan bahwa setelah manusia diselamatkan, dia sebetulnya dikembalikan lagi kepada Taurat. Ini bicara tentang the educational use of Torah. Jadi kita sekarang justru diundang untuk bisa menaati Taurat dengan bebas, dengan sukacita, bukan sebagai beban yang berat, melainkan seperti yang Yesus katakan “ini adalah beban yang ringan”, karena hati kita sudah diubah. Itu bukan suatu perintah yang membebani Saudara, musti Ibadah lagi, musti bangun pagi lagi, sebaliknya Saudara dengan senang hati datang beribadah karena ini pesta. Jika seperti ini, berarti Saudara mengerti the third use of the law. Namun, selama kita masih di dalam dunia, kita masih bergumul dengan kuasa dosa, sekalipun Yesus sudah sepenuhnya menebus kita; dan kuasa dosa ini menjadikan hal yang ringan itu jadi berat, sehingga kalau kita tidak cukup merenungkan anugerah Tuhan, akhirnya undangan-undangan yang menyenangkan itu malah jadi beban, jadi sesuatu yang sifatnya menekan daripada membebaskan kita. Itu sebabnya berita pengampunan dosa penting sekali.

Kita boleh menantang orang untuk lebih mencintai Tuhan, untuk menjadi saksi Tuhan, untuk menginjili, dsb., tapi kita tidak boleh lupa bahwa Tuhan itu menerima orang-orang yang berdosa. Tuhan bukan menerima orang-orang yang rohani, Tuhan menerima orang-orang yang berdosa. Di sinilah artinya ada ratifikasi kovenan, ada berita pengampunan. Namun, mirip seperti poin yang sebelumnya, bukan cuma berita pengampunan saja, tapi juga ada undangan untuk hidup dikuduskan, undangan untuk mengikut Tuhan. Ini juga termasuk dalam ratification of covenant; kalau bagian ini tidak ada, kita masuk ke dalam konsep “anugerah murahan” (cheap grace), yang terus-menerus pemberitaan anugerah dan anugerah.

Pendeta Stephen Tong pernah komentar tentang doa pengakuan dosa yang dibawakan secara keliru, yang kalau tidak hati-hati jadi semacam excuse setiap Minggu; “Tuhan, kami datang kepadamu, kami berdosa lagi, seperti biasa kami berdosa lagi, tapi kami percaya pada pengampunan Tuhan”. Lalu minggu depan bicara begitu lagi. Setiap Minggu bicara begitu, setiap kali malah jadi seperti dorongan, ya, sudah, berdosa terus tidak apa, nanti ada pengampunan Tuhan. Tapi yang dimaksud Pendeta Stephen Tong tentu saja bukan tidak boleh ada doa pengakuan dosa di dalam liturgi --betapa self-righteous-nya kita kalau berani tidak mengaku dosa—melainkan dalam pengertian jangan lupa waktu kita berdoa pengakuan dosa, itu sekaligus juga ada tekad untuk memperbaharui kehidupan, tekad untuk hidup kudus, minta anugerah Tuhan supaya kita bisa hidup lebih menyenangkan Tuhan; bukan cuma bilang “Tuhan, saya gagal lagi, tolong terima saya”, lalu minggu depannya “Tuhan, seperti minggu lalu, masih gagal juga, tolong terima saya” --betapa menyebalkan. Orang seperti ini tidak ada pertobatan tapi suka bicara tentang pengampunan dan belas kasihan Tuhan.

Kadang-kadang dalam konseling ada orang yang suka bicara anugerah Tuhan, belas kasihan Tuhan, pengampunan Tuhan, tapi kita tidak melihat tanda-tanda pertobatan yang sejati. Dia membuat anugerah Tuhan jadi sesuatu yang sangat murah. Kalau kita mengikuti struktur Injil Lukas, pertobatan itu mendahului pengampuan dosa; pertobatan lebih dahulu, baru ada pengampunan dosa. Tapi kita sekarang cenderung membalik, pengampunan dosa dulu, Tuhan menerima saya dulu, baru setelah itu bertobat; masalahnya, setelah itu tetap tidak bertobat! Kalau orang tidak rasa dirinya salah, tidak menyesal, tidak betul-betul bertobat, lalu apanya yang musti diampuni?? Itu terbalik. Konsep yang sama juga ada dalam tulisan Calvin, bahwa pertobatan (repentance) mendahului pengampunan dosa (forgiveness of sin), meskipun bukan berarti pertobatan itulah yang menjadi pondasi dari our deserving pardon (kelayakan kita untuk diampuni). Kita diampuni karena Kristus, karena kesempurnaan korban Kristus di atas kayu salib, bukan karena kita bertobatnya sempurna. Tetapi, Calvin tetap mengatakan, bahwa bagaimanapun juga pertobatan itu mendahului pengampunan dosa. Saya kuatir dengan Gereja yang cuma bicara pengampunan dosa, tapi tidak menantang orang untuk pertobatan. Tidak ada ratification of covenant di sini.

Yang terakhir: ibadah adalah suatu testimoni/kesaksian (testimony/witness), ada natur pengakuan (confessional nature) waktu kita beribadah. Kita sudah sering mengatakan bahwa kita masih memakai istilah-istilah yang sama dengan orang dalam Gereja mula-mula, tapi bedanya, kalau mereka mengatakan kalimat itu, bisa dipenggal kepalanya, sedangkan kalau kita mengatakannya tidak ada yang tersinggung. Contohnya, mengatakan “Yesus Juruselamat”, kita tidak akan kenapa-kenapa, tidak ada orang yang tersinggung atau marah, tidak akan dibunuh, dsb. Tetapi ketika orang dalam zaman Gereja mula-mula mengatakan Yesus itu soter (juruselamat), itu sangat bahaya, karena yang disebut “soter” pada waktu itu adalah Kaisar. Kaisar itu juruselamat, dia itu soter, dan dia datang membawa eungalion (injil/kabar baik), tetapi Markus bilang “Bukan, ini Injil Yesus Kristus, injilnya Kaisar itu palsu, kabar baik abal-abal; ini kabar baik yang sejati, datang dari Kristus, Dialah pembawa damai yang sesungguhnya, Dia Juruselamat” –highly polemical.

Sekarang ini Gereja banyak kehilangan aspek pengakuan (confession) yang berani seperti ini, lalu kita menjadi Gereja yang cenderung banyak gulanya (candy-coat), yang lunak, yang tidak menyinggung siapa-siapa. Pantas saja dunia tidak membenci kita, karena memang tidak ada confession. Di zaman Hitler, banyak Gereja tunduk kepada ideologinya Nazi karena ketakutan; “yah, kita menyesuaikanlah, memang bangsa pilihan itu kita, orang Jerman, kita ini ras tertinggi”, dst. –diganti-ganti teologinya untuk mendukung ideologi Nazi. Tapi ada satu kelompok kecil orang-orang Kristen yang dipimpin oleh Karl Barth, mereka mengeluarkan sebuah pengakuan, “Deklarasi Barmen”, tahun 1934, mengkritik dan menegur Gereja-gereja yang tunduk kepada Hitler. Salah satu kutipan tesisnya berbunyi demikian: “Jesus Christ, as he is attested for us in Holy Scripture, is the one Word of God which we have to hear, and which we have to trust and obey in life and in death. We reject the false doctrine as though the Church could and would have to acknowledge as a source of its proclamation, apart from and besides this one Word of God, still other events and powers, figures and truths as God's revelation”. Kalimat-kalimat seperti ini kalau kita baca bersama-sama sekarang, ya, ‘gak kenapa-kenapa, tidak menyinggung siapa-siapa. Tapi waktu ini dibaca pada zamannya Hitler, bahwa the One Word of God, yaitu Yesus Kristus, adalah satu-satunya yang kita harus dengarkan, satu-satunya yang kita harus percaya kepada-Nya, satu-satunya yang kita harus taati, itu maksudnya bukan Hitler, bukan Hitler, bukan Hitler. Bahaya sekali kalimat seperti ini. Dan betul saja, Karl Barth langsung dipecat, tidak boleh lagi mengajar di Bonn, dia musti pergi ke Basel, mengajar di sana. Memang dia orang Swiss, tapi kalau orang Jerman sendiri dimasukkan ke kamp konsentrasi seperti Bonhoeffer dan teman-teman yang lain.

Kalau Gereja ada confessional nature, ada witness, ada testimony, kita akan melihat Gereja dengan berani bersaksi di tengah-tengah dunia; Saudara dan saya di tengah-tengah dunia ada keberanian untuk menyaksikan kebenaran –dan itu pasti ada resikonya. Tetapi garam tidak pernah memberikan rasa kalau tidak larut; ada garam yang mau terus utuh, ya, sudah, dia tidak bisa memberikan rasa asin, tidak bisa mencegah kebusukan. Garam yang tidak berfungsi, Yesus bilang tidak ada gunanya selain diinjak-injak. Itu sebabnya yang ditekankan oleh Calvin di bagian ini penting sekali, bahwa Ibadah adalah kesaksian/testimoni.

Ada perbedaan antara “pengakuan iman” (confession of faith) dengan “katekismus” (catechism). Ada yang disebut Belgic Confession, Westminster Confession, Second Helvetic Confession, dsb. –ini pengakuan iman (confession). Namun ada juga yang namanya Heidelberg Catechism, Westminster Shorter Catechism, Westminster Larger Catechism, Small Catechism dari Luther, Geneva Catechism dari Calvin, dsb. –ini katekismus. Katekismus dan pengakuan iman mirip tapi ada bedanya. Katekismus penekanannya lebih ke pengajaran, mengajarkan kepada jemaat. Sedangkan pengakuan iman, secara alami harusnya bersifat polemik (polemical), karena confession berarti kita membuat satu statement, yang seringkali tidak enak didengar dunia. Dalam confession ada aspek menegur, ada keberanian menyatakan iman secara apa adanya, dan ini seringkali berbenturan dengan pengajaran-pengajaran sesat, dengan apa yang disembah di dalam dunia. Waktu Yesus berada di dunia, Dia confess sebagai The True Son of God. Waktu rasul-rasul percaya Yesus sebagai Anak Allah –maksudnya bukan Kaisar, dsb. –itu adalah confession.

Saudara dan saya diundang untuk bersaksi akan hal ini, baik di dalam Ibadah kita sebagai sebuah pengakuan iman, tapi juga di dalam keseharian kita, karena keseharian kita juga adalah ibadah di hadapan Tuhan. Hati-hati, kalau kita kehilangan natur pengakuan ini, kita akan gampang sekali tunduk kepada dunia dan akhirnya kita tidak bisa dibedakan dari dunia. Kiranya Tuhan mengampuni kita, kiranya Tuhan menolong kita untuk bisa kembali mengoreksi dan memperbaiki apa yang Tuhan mau terjadi dalam kehidupan kita.

Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah (MS)

Gereja Reformed Injili Indonesia Kelapa Gading

Download Ringkasan