Bersukacita dalam Kuasa Tuhan (KU3)

Menurut pengelompokannya, Mazmur 21 ini termasuk yang disebut “mazmur raja”. Mazmur 21 ini memang bukan satu-satunya “mazmur raja”, namun kita bisa belajar di dalamnya satu keunikan posisi raja dalam kaitannya dengan Yahweh.

Belakangan di kitab Kejadian, ataupun juga sebagaimana dalam Mazmur 8, ada konsep bahwa seluruh umat manusia adalah raja; dalam hal ini kita bicara universal kinghood, yang bukan cuma bagi orang percaya tetapi semua manusia. Tetapi sebelum merenungkan hal itu, kita mau melihat keunikan posisi “raja” itu sendiri; dan ini bukan cuma ada dalam kepercayaan Israel, melainkan juga dalam ideologi bangsa-bangsa lain. Ada keunikan relasi antara Yahweh/Tuhan dengan raja; raja memiliki akses khusus kepada Yahweh. Namun kita juga bisa melihat, bahwa ini sekaligus me-relativisasi posisi raja, bahwa raja juga bergantung kepada Yahweh; tanpa kuasa dari Yahweh/Tuhan, raja sebetulnya bukan apa-apa. Dengan demikian, dalam bagian ini kita dilarang mengidolakan raja atau pemimpin bangsa --karena seorang raja tunduk di bawah Tuhan.

Dalam kehidupan ini ada banyak ekstrim, dan bisa jadi kita menghidupi ekstrim-ekstrim yang keliru. Ekstrim yang satu, mengidolakan raja atau pemimpin negara, seakan-akan dia tidak mungkin ada salahnya. Ekstrim yang lain, melihat raja semata-mata sebagai musuh Tuhan, sehingga seolah-olah pemerintahan tidak ditetapkan atau dikontrol oleh Allah. Kita tahu, memang tidak semua raja/pemimpin negara takut akan Allah; dan hal ini agaknya bukan sesuatu yang baru, karena di zaman Alkitab, raja-raja Israel pun tidak semuanya takut akan Allah. Ada raja-raja yang jahat, ada raja-raja yang tidak peduli kepada Tuhan, tapi ada juga raja-raja yang mengasihi dan dikasihi oleh Tuhan. Dalam hal ini, kita jelas melihat raja Daud meskipun ada kelemahan, dia seorang yang dikasihi Tuhan dan mengasihi Tuhan. Ini satu gambaran yang positif tentang raja, yang di dalamnya rakyat juga bisa ikut bersorak-sorai dalam sukacita raja. Di ayat 2 Mazmur ini, waktu dikatakan “raja bersukacita”, adalah “karena kuasa Tuhan” (“TUHAN, karena kuasa-Mulah raja bersukacita”). Kegirangan raja --yang kita percaya juga kegirangan bangsa Israel-- adalah kegirangan karena kemenangan; dan kemenangan itu dari Tuhan.

Dalam kotbah hari ini, yang mau kita tekankan terutama adalah mulai dari ayat 3 dan seterusnya, bahwa di dalam pemahaman Israel –dan juga bangsa-bangsa lain—seorang raja memiliki semacam hak istimewa (privilege) untuk berdoa, dalam satu cara yang sangat khusus. Relasi raja dengan Allah adalah relasi anak dengan Bapa, sehingga dia disebut “son of God” (anak Allah) --ini ada kemiripan dengan budaya Tiongkok, yang menyebut kaisar sebagai  “anak langit” – maka ada satu hak istimewa yang sangat khusus, terutama dalam doa atau keinginan hatinya, yang didengarkan oleh Tuhan. Meski demikian kalau Saudara baca, bukan cuma di pasal ini tapi juga dalam Perjanjian Lama, yang dikehendaki Tuhan adalah bahwa raja punya hak istimewa itu, dan dia musti  menggunakan hak istimewanya.

Berkat Tuhan itu tidak datang secara mekanis dan otomatis, tidak peduli kita minta atau tidak minta pokoknya berkat jalan terus –bukan seperti itu konsepnya. Memang seperti dikatakan di ayat 3 “keinginan hatinya telah Kaukaruniakan kepadanya, permintaan bibirnya tidak Kautolak, dst.”, ini merupakan hak istimewa yang sangat khusus (very special privilege), tetapi bukan berarti berkat Tuhan itu sesuatu yang dengan sendirinya melekat pada dirinya mentang-mentang dia raja dan secara otomatis akan begitu terus, dalam hal ini dia tetap musti minta. Dari sisi Tuhan, Tuhan siap memberkati; dari sisi raja, dia diminta untuk belajar meminta kepada Tuhan.

Kita dalam spiritualitas Reformed mungkin agak jarang membahas teologi doa dengan penekanan minta, minta, dan minta; orang Reformed biasanya sungkan minta, lalu saking sungkannya waktu datang kepada Tuhan biasanya kita bersyukur, doksologi, berserah, dsb., seakan-akan meminta itu berbau kedagingan. Tapi kalau kita baca di dalam Alkitab, gambarannya bukan seperti itu. Dalam Yohanes 16, Yesus mengatakan: “Sampai sekarang kamu belum meminta sesuatupun dalam nama-Ku. Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu” (ayat 24). Tuhan  sendiri mendorong kita untuk meminta kepada Tuhan. Ini bukan berarti Tuhan tidak sanggup memberikan anugerah-Nya tanpa kita meminta; kita tahu, dalam kehidupan ini banyak hal yang kita tidak minta dan Tuhan memberikan juga. Namun, seperti yang kita pelajari dari Yohanes 16, Yesus bilang bahwa ada perbedaannya; orang yang minta, waktu menerima maka dia bersukacita, sedangkan yang tidak bergumul dengan minta, mungkin bisa menerima/mendapatkan juga, tapi sukacitanya jadi tidak terlalu penuh.

Kadang-kadang orang Reformed saking sungkannya kepada Tuhan, jadi tidak berani minta, tidak berani punya keinginan. Waktu sakit, kita tidak berani minta sembuh; kita mengatakan “kalau berkenan kepada-Mu, kalau Tuhan mau, tolong sembuhkan, tapi kalau bukan kehendak-Mu, ya, sudahlah, apa boleh buat” –kira-kira begitu. Orang biasanya mendasarkan doa yang seperti ini pada kisah Sadrakh, Mesakh, Abednego di dapur api. Padahal, cerita itu  sebenarnya konteksnya lain; waktu Sadrakh, Mesakh, Abednego ditaruh di dapur api oleh Nebukadnezar, mereka bicara begini: “Tuanku, raja, kamu musti tahu, Tuhan kita itu sanggup membebaskan kami dari dapur api, tetapi Tuanku raja juga musti tahu, seandainya kami tidak dibebaskan, maka kami tetap tidak akan menyembah engkau, kami tetap setia kepada Yahweh”, itulah yang mereka katakan, tapi mereka mengatakan ini kepada raja Nebukadnezar, bukan kepada Tuhan!

Kita sebagai orangtua yang punya anak, kalau anak Saudara bilang, “Pa, kalau seandainya seturut dengan kehendakmu, saya kepingin es krim hari ini; tapi kalau bukan kehendakmu, ya, sudahlah, apa boleh buat”, bukankah jadi aneh?? Kita jadi merasa anak ini spiritual prodigy, atau terlalu cepat matang, atau terlalu cepat berserah, atau bagaimana?? Kita malah jadi takut. Dan yang lebih menakutkan, Saudara akan merasa ini bukan hubungan antara orangtua dengan anak, tapi lebih mirip tuan dengan hamba, karena kalau anak bicara kepada orangtuanya, ya, bicara saja, lalu kalau ternyata tidak dikabulkan, ya, sudah, belajar terima. Kalau Saudara sebagai anak, mau minta kepada orangtua, ya, minta saja; lalu kalau ternyata papanya punya pikiran yang lebih baik, ya, sudah, terima saja –ini baru yang namanya matang. Sebaliknya, terlalu takut minta, terlalu hati-hati, terlalu theologically correct sampai tidak berani mengatakan keinginan, takut salah, dsb., itu bukanlah spiritualitas Reformed.

Kadang-kadang, waktu kita mau berdoa untuk orang sakit, kita lihat-lihat dulu apa penyakitnya. Kalau dia sakit flu, kita berdoa “Tuhan, sembuhkan dia!” –karena cuma sakit flu, masakan orang mati gara-gara flu?? Sakit panu, kadas, kurap, flu, ya, harusnya sembuhlah, masakan tidak sembuh kalau cuma sakit begitu?? Tapi waktu orang sakit itu kena kanker stadium 4, kita tidak berdoa “Tuhan, sembuhkan dia!”, kita bilang, “Tuhan, terjadilah kehendak-Mu, kalau memang begini dan begitu, ya, sudahlah, apa boleh buat” –jadi lain doanya, jadi tidak ada confidence. Kalau begini, dasar kepercayaan kita sebetulnya apa pondasinya? Jangan-jangan naturalisme! Di balik doa seperti itu, maksudnya adalah “kalau penyakit ringan, ya, bisa sembuh; kalau penyakit berat, ya, tidak mungkin sembuh”. Dan itulah yang mengendalikan isi doa kita, lalu kita mengatakan itu “kedaulatan Allah”, padahal kepercayaannya naturalisme.

Khotbah ini bukan maksudnya mendorong Saudara untuk percaya kuasa mujizat dst.; saya bukan mau ke sana arahnya, meski memang betul kita percaya mujizat Tuhan. Di dalam khotbah ini, kita mau menekankan keberanian seorang anak untuk minta kepada Bapanya. Hubungan anak dengan bapa, salah satunya ditandai dengan hubungan minta. Anak yang tidak berani minta kepada orangtuanya, sebenarnya relasinya tidak terlalu baik. Tuhan itu senang waktu kita minta kepada-Nya; bukan karena Dia tergantung kita minta dulu baru Dia kasih, seakan-akan  hitung-hitungan sekali. Saudara baca dalam Injil, ada kalimat-kalimat Yesus yang bertanya “apakah yang kau kehendaki Aku perbuat kepadamu?” Di situ yang ditanya misalnya orang buta. Mungkin terdengar seperti konyol, sudah tahu buta, ya, pasti kepingin melihat-lah, masakan kepingin play station?? Tetapi mengapa ada “pertanyaan konyol” seperti ini? Karena Tuhan memang suka mendengar permintaannya manusia. Dalam Mazmur ini, ada hubungan yang sangat khusus antara raja dengan Yahweh; raja punya hak istimewa ‘boleh meminta kepada Yahweh’, lebih daripada orang-orang lain yang bukan raja.
Jadi, kita memang boleh minta kepada Tuhan; tapi pertanyaannya sekarang: minta apa? Saya percaya Saudara familiar dengan cerita Raja Salomo yang diberi kesempatan untuk meminta (1 Raja-raja 3: 3-15). Di situ kita membaca Salomo diberikan kesempatan sebagai raja yang punya privilege, untuk minta kepada Yahweh. Apa yang diminta Salomo? Hikmat. Saudara perhatikan, Salomo minta hikmat, supaya dia bisa memerintah dengan adil rakyatnya, yaitu umat yang dikasihi Tuhan. Itulah yang diminta Salomo. Salomo boleh saja minta yang lain  --kekayaan, kesehatan, umur panjang—tetapi Salomo tidak minta hal-hal itu; dia pergunakan kesempatan ini untuk minta hikmat. Itu sebabnya, bicara tentang teologi doa tidak bisa dipisahkan dari konsep kita tentang nilai. Yang Saudara minta itu apa?

Ibaratnya doa itu voucher –ini ilustrasi yang kurang cocok-- ada orang yang suka membelanjakan voucher untuk hal-hal remeh-temeh sampai voucher-nya habis; maksudnya, kalau kita berdoa untuk hal-hal remeh-temeh, yang tidak seharusnya dipakai untuk itu, sampai akhirnya kita sendiri kehilangan kekuatan untuk berdoa lagi, karena untuk berdoa pun orang ada batasnya. Satu contoh lagi –yang kurang anggun—seandainya orang ketemu lampu Aladin, digosok-gosok, lalu jin yang keluar dari lampu bilang “you may have one wish only”, dan ternyata orang itu cuma minta 1 kelereng, betapa sayangnya! Satu permintaan dihabiskan cuma untuk itu; ini orang yang menyia-nyiakan kesempatan meminta dengan hal yang remeh-temeh dalam kehidupan ini. Kalau kita melihat kehidupan doanya Salomo, begitu dia diberi kesempatan untuk meminta, dia minta, dan permintaannya itu hal yang sangat penting.

Dalam satu kelas pre-marital, ada orang yang bertanya –saya percaya dia tanya dengan jujur, tanya  dari pergumulannya, yang juga mencerminkan pergumulan banyak orang; dan saya bukan sedang mempermalukan orang itu dengan pertanyaannya—dia bilang: “Bolehkah kita berdoa supaya anak kita lahir sehat (tidak cacat)?” Kalau bicara boleh atau tidak boleh, jawaban sederhananya tentu saja boleh, masakan minta kayak begitu saja tidak boleh. Tetapi saya mau ajak dia berpikir, di balik permintaan seperti itu, sebetulnya apa? Saya percaya, di seluruh dunia ini  tidak ada satu orangtua pun yang lebih kepingin anaknya cacat daripada sehat. Dan dari seluruh pasangan muda yang lebih kepingin anaknya sehat daripada cacat, kira-kira Tuhan tahu atau tidak? Sudah pasti tahu. Tuhan tidak mungkin terheran-heran, “O, jadi gitu, ya, lebih mau anak sehat daripada cacat, ya?” Tentu tidak mungkin seperti itu karena Dia Tuhan. Tuhan tahu kita semua seperti itu; seakan-akan ada semacam konsensus dalam hal ini. Saya kemudian menjawab pertanyaan itu dengan perkataannya Pendeta Stephen Tong –yang memang bukan mutlak seperti Firman Tuhan, tapi Saudara bisa belajar bijaksananya-- beliau beberapa kali mengatakan begini: “Kalau naik pesawat terbang, saya tidak pernah doa supaya selamat, dsb., saya juga tidak berdoa supaya sehat, dsb., itu bagian yang saya sudah serahkan di dalam tangan Tuhan, saya berdoa untuk hal yang lain saja”. Tentu bukan dosa kalau di pesawat terbang Saudara berdoa (bahkan di Indonesia Saudara didorong untuk berdoa, dan dalam pesawat terbang disediakan teks doanya dalam berbagai kepercayaan), tidak salah Saudara berdoa, tapi coba Saudara pelajari perkataan Pendeta Stephen Tong tadi, ada bijaksana apa di situ. Ada hal-hal yang sebetulnya kita serahkan saja di dalam tangan Tuhan. Kita tidak perlu berdoa untuk hal-hal yang kecil-kecil. “Tuhan, saya mau tidur, tolong kalau bangun besok, tangan saya tetap 5 jarinya, jangan ada orang yang memancung di tengah-tengah saya tidur”, dsb., jadi paranoia sekali, doa dipakai untuk urusan jari, urusan kuku, urusan kegendutan, dsb. Apa betul doa untuk itu? Di sini kita memang pakai satu contoh ekstrim yang annoying (maksudnya, Tuhan yang annoyed); dan mungkin doa-doa yang kita anggap tidak annoying, sebenarnya cukup annoying, karena berdoa hal yang sama, yang itu dan itu lagi, seperti orang yang parno dan tidak beres-beres dengan pergumulan itu.

Salomo, begitu diberi kesempatan untuk meminta, dia langsung meminta “datanglah Kerajaan-Mu”; waktu dia bilang minta hikmat supaya bisa memerintah umat Tuhan dengan adil, itu sebenarnya bicara tentang Kerajaan Tuhan.  Ini berarti yang diminta Salomo adalah biblical kingship according to the will of God, supaya dirinya bisa memerintah dengan righteously. Dia mempergunakan kesempatan doa untuk meminta hal yang sangat penting. Alkitab sendiri memuji permintaan Salomo, “karena engkau tidak minta kekayaan, tidak minta umur panjang, tapi minta hikmat,” maka Tuhan juga memberikan yang lain kepada Salomo. Tuhan tidak lupa koq, dengan kebutuhan kita yang kecil-kecil. Ada ayat yang mengatakan: “Carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya, segala sesuatu  akan ditambahkan kepadamu”; yang detail-detail, yang kecil-kecil, nanti akan ditambahkan, tapi carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya.

Gambaran yang lain, ternyata raja tidak selalu mempergunakan hak untuk meminta. Kita membaca cerita yang lain, yaitu cerita tentang Raja Ahas, dan juga cerita raja Israel (Yesaya 7: 1-17). Ayat 10-13, TUHAN melanjutkan firman-Nya kepada Ahas, kata-Nya: "Mintalah suatu pertanda dari TUHAN, Allahmu, biarlah itu sesuatu dari dunia orang mati yang paling bawah atau sesuatu dari tempat tertinggi yang di atas." Tetapi Ahas menjawab: "Aku tidak mau meminta, aku tidak mau mencobai TUHAN." Lalu berkatalah nabi Yesaya: "Baiklah dengarkan, hai keluarga Daud! Belum cukupkah kamu melelahkan orang, sehingga kamu melelahkan Allahku juga?” Di sini Ahas, raja Yehuda, diberi kesempatan untuk meminta, “silakan minta”. Ini hak istimewa seorang raja untuk minta kepada Yahweh, Bapanya, karena dia anak Allah. Tetapi dia tidak meminta, malah memakai kalimat teologis “saya tidak mau minta, nanti mencobai Tuhan”. Ini mirip orang Reformed yang bicara kedaulatan Allah, “lebih baik tidak minta, nanti saya salah, lebih baik saya berserah” --dan akhirnya tidak minta. Yang kita baca dalam kisah Ahas ini, tidak meminta akhirnya bisa jadi kecelakaan. Itu jadi seperti satu penghinaan terhadap Tuhan; Tuhan kasih hak istimewa, tapi dia bilang “Enggak deh, saya ‘gak mau pakai itu”.

Saya percaya, kekendoran di dalam Kekristenan adalah karena kita kurang berdoa, kurang minta. Kita tidak bergumul untuk kebangunan rohani, kita tidak bergumul untuk kehidupan yang vibrant, kita tidak bergumul untuk Kerajaan Allah –sederhananya, kita tidak minta. Di dalam Perjanjian Lama, ada cerita yang lain lagi; waktu seorang raja yang mau berperang, dia harusnya mengetuk-ngetukan sampai 3 kali, tapi dia cuma mengetuk kurang dari 3 kali., sampai nabinya jadi gusar, “Mengapa kamu ketuk cuma segitu, mustinya kamu ketuk sekali lagi dan kamu akan menang; tapi karena kamu cuma segitu, maka Tuhan cuma menyerahkan beberapa bangsa saja”. Sekali lagi, bukan Tuhan tidak bisa memberkati kita, tapi waktu Tuhan memberkati kita, Dia mau melalui permintaan kita.

Tadi saya mengatakan, yang disebut “raja” bukan cuma Daud, tapi seluruh umat manusia –apalagi orang percaya—semuanya raja. Jadi, hak istimewa ini sekarang dibuka, kita disebut anak-anak Allah, yang tadinya cuma untuk kaisar dalam kebudayaan-kebudayaan lain, atau cuma untuk raja-raja Israel. Yesus bilang, “Mintalah kepada Bapa di dalam nama-Ku, kamu akan penuh sukacitanya”. Jangan kita tidak meminta seperti Ahas, tapi kita belajar seperti Salomo, mempergunakan kesempatan itu dengan baik. Salomo sendiri sebenarnya tipologi Kristus; Kristus, Sang Anak Allah, The Only Begotten Son of God (Yang Diperanakkan di dalam Kekekalan), doa-Nya juga dijawab oleh Bapa-Nya.

Apakah doa Kristus yang dijawab oleh Bapa-Nya itu? Bukan tentang fasilitas hidup; kalau tentang fasilitas hidup, maka Dia tidak lahir di kandang. Juga bukan tentang jodoh: Yesus tidak menikah. Juga bukan tentang kesehatan yang tidak kena virus; tidak ada urusan virus dalam keempat Injil. Lalu doa apa yang diminta Yesus, doa apa yang dijawab? Yaitu doa tentang bagaimana Dia menggenapkan rencana keselamatan, menang atas dosa, menang atas kematian. Ini visinya Kristus, ini permintaan Kristus. Saudara diundang untuk masuk ke adalam visi besar seperti ini, bukan visi kecil-kecil dan kecil-kecil yang adalah permintaan remeh-temeh tadi, melainkan sama seperti Salomo minta yang terpenting, dan di sini menunjuk kepada Yesus Kristus sendiri. Kita berdoa supaya doa kita juga bisa seperti doanya Kristus. Bukan maksudnya mengarahkan Saudara jadi orang Kristen yang mengawang-awang, yang berdoa Kerajaan Allah tapi kehidupannya ternyata berantakan. Bukan itu. Karena menurut Firman Tuhan, mereka yang terlebih dahulu mencari Kerajaan Allah dan kebenarannya, Tuhan berjanji segala sesuatu akan ditambahkan kepadanya. Kiranya Tuhan menolong kita.

Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah (MS)

Gereja Reformed Injili Indonesia Kelapa Gading

Download Ringkasan